Rabu, 24 Desember 2014

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar

Palembang, Ribath Nurul Hidayah. Ida Fauziah, Ketua Umum Fatayat NU mendesak IPPNU-IPPNU untuk menyediakan media ke-NU-an bagi para pelajar. Ketersediaan media NU bagi pelajar menurutnya menjadi satu kebutuhan mendasar bagi pelajar-pelajar NU saat ini.

Ida Fauziyah menyampaikan tuntutannya dalam sebuah seminar yang dihadiri peserta kongres IPPNU-IPNU di Gedung Serbaguna Asrama Haji, jalan Kolonel H. Barlian KM.9, Kota Palembang, Ahad, (2/12) petang.

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar

“Media seperti website yang memenuhi kebutuhan pelajar ini penting untuk digarap IPPNU dan IPNU. Kalau hal ini diabaikan, maka para pelajar akan beralih kepada website Islam radikal yang kini menjamur,” tutur Ida Fauziyah.

Ribath Nurul Hidayah

Para pelajar Indonesia saat ini, menurutnya, akan dengan mudah mengakses media online yang menyediakan kebutuhan mereka. Sayangnya, menurut Ida, media seperti digarap oleh gerakan-gerakan Islam fundamentalis.

Ribath Nurul Hidayah

“Keniscayaan itu sangat tinggi karena pelajar-pelajar itu tidak melihat adanya media Islam alternatif yang sesuai dengan visi pelajar NU,” tegas Ida di hadapan sedikitnya empat ratus peserta kongres yang menghadiri seminar.

Untuk memenuhi kebutuhan keagamaan, para pelajar hanya menemukan situs Islam garis keras di internet. Menurut Ida, IPPNU dan IPNU harus membidik sarana internet sebagai medan perjuangan visi NU.

Ida mengimbau IPPNU dan IPNU mendayagunakan media online untuk mengawal visi Islam yang rahmatan lil alamin. Kalau bukan IPPNU dan IPNU sebagai basis NU di kalangan pelajar yang memanfaatkan peluang dari teknologi-informasi, tidak mustahil para pelajar Indonesia akan terpengaruh oleh ajaran Islam garis keras yang bertebaran di internet, tegasnya.?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 19 Desember 2014

Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi

Tegal, Ribath Nurul Hidayah - Keputusan Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 terus menuai penolakan di berbagai daerah. Penolakan tersebut kali ini datang dari Kabupaten Tegal dengan menggelar aksi damai pada Jumat, (25/8) di Taman Rakyat Slawi Kabupaten Tegal.

Pada rangkaian kegiatan aksi, turut hadir Bupati Tegal Enthus Susmono yang juga ikut berorasi di depan puluhan ribu massa. Dalam orasinya, ia mengatakan tidak meminta mencopot Pak Menteri.



Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi

(Baca: Pengamat Pendidikan: Masalah FDS Tak Hanya Menimpa NU)


Ribath Nurul Hidayah

“Saya tidak meminta mencopot Pak Menteri. Itu hak panjenengan. Namun, Sampean bisa memberikan keputusan supaya semua nyaman dan aman,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengatakan siap menerima konsekuensi apa pun sebagai Bupati dalam menolak lima hari sekolah.

Ribath Nurul Hidayah

“Konsekuensi saya sebagai bupati, saya siap menerima apa pun ketika saya menolak lima hari sekolah. Jika dipecat sebagai Bupati, tidak masalah. Nyalon lagi,” ujarnya disertai gelak tawa dan tepuk tangan peserta aksi.

Di tengah-tengah orasi, ia memperagakan berdialog dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dengan menarik salah satu orang yang diibaratkan sebagai Jokowi. Hal itu, menurutnya, karena sebagai bangsa Jawa sudah terbiasa kontak dengan batin. Ia mengatakan bahwa keputusan untuk membatalkan Permendikbud adalah jalan tengah.

“Bapak Presiden, saya tidak bisa menghadap langsung dengan Panjenengan. Tetapi kami bangsa Jawa sudah terbiasa kontak dengan batin. Keputusan kami adalah jalan tengah, tawasuth. Supaya tidak terjadi keributan di bawah,” ungkapnya.



(Baca: Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah)


Di akhir orasinya, pria yang juga berprofesi sebagai dalang ini mengatakan bahwa ia siap “menyembah” Jokowi dengan memperagakan kepada orang yang diibaratkan sebagai Jokowi.

“Tetapi menyembah kaya Seni Ketoptak loh ya. Bukan menyembah kaya ke Allah,” tambahnya.

Bahkan, jika ia juga disuruh mencium kaki Presiden, akan ia lakukan.

“Tetapi kakinya diganti kaki ayam, kemudian diopor. Saya cium, lalu saya makan Pak,” pungkasnya.

Lelucon itu disambut gelak tawa oleh para peserta aksi yang berasal dari berbagai organisasi seperti Forum Komunikasi Diniyah Takbilitah, MWCNU se-Kabupaten Tegal, Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU. (M. Ilhamul Qolbi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Olahraga, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Desember 2014

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan

Kisah tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang berkeinginan untuk belajar kepada Nabi Khidir ‘alaihissalam begitu sering disampaikan oleh para guru, ustadz dan kiai di berbagai forum kajian ilmu. Dikisahkan, dalam sebuah perjalanan Nabi Musa sampai tiga kali mempertanyakan perbuatan Nabi Khidir yang dinilainya melanggar syariat Allah. Pada akhir perjalanannya, Nabi Khidir menjelaskan perihal perbuatannya tersebut.

Salah satu perbuatan yang dipertanyakan tersebut adalah mana kala Nabi Khidir membangun sebuah rumah yang hampir roboh di sebuah desa. Nabi Musa mengusulkan kepada Nabi Khidir untuk meminta upah kepada penduduk desa atas kesediaannya menegakkan kembali dinding rumah yang hampir roboh itu. Padahal sebelumnya ketika kedua nabi itu memasuki desa tersebut dan meminta makanan kepada penduduknya mereka menolak memberi makanan tersebut.

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan

Dalam hal ini Nabi Khidir menjelaskan sebagaimana direkam oleh Al-Qur’an dalam Surat al-Kahfi ayat 82:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

“Adapun tembok rumah yang hampir roboh itu adalah milik dua anak yatim di desa itu di mana di bawahnya terdapat simpanan harta bagi keduanya. Orang tua kedua anak itu adalah orang yang saleh. Maka Tuhanmu berkehendak keduanya mencapai dewasa dan akan mengeluarkan harta simpananya.”

Ribath Nurul Hidayah

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhim menjelaskan bahwa kedua anak yatim itu dijaga sebab kesalehan orang tuanya dan tidak disebutkan kesalehan kedua anak itu. Antara kedua anak yatim dan orang tua yang saleh itu ada selisih tujuh generasi leluhur. Jadi yang dimaksud “orang tua yang saleh” pada ayat tersebut adalah kakek pada generasi urutan ketujuh dari anak yatim tersebut, bukan orang tua yang melahirkan keduanya.

Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa seorang yang saleh akan dijaga keturunannya dan keberkahan ibadahnya akan meliputi mereka di dunia dan akhirat. Dengan syafaatnya di akherat kelak keturunannya akan diangkat derajatnya di surga hingga derajat tertinggi sehingga bisa menjadi kebanggaan bagi orang yang saleh tersebut.

Dalam hal ini Tajudin Naufal dalam Hadiqatul Auliya’-nya mengatakan, bila ketakwaan kakek yang ketujuh saja dapat memberikan kemanfaatan bagi keturunannya yang ke tujuh, lalu bagaimana pendapat kita dengan ketakwaan orang tua kandung? Tak dapat disangkal, pohon yang baik pasti berbuah baik. Orang yang memakannya tak akan berhenti dan tetap kekal kebaikannya dengan ijin Allah Ta’ala.

Dari inilah banyak para ulama yang menganjurkan kepada para orang tua untuk terus giat dan istiqamah dalam beribadah. Karena keberkahan ibadah itu tidak hanya akan dinikmati oleh diri sendiri tapi juga oleh anak-anak keturunannya baik di dunia maupun di akherat kelak. (Yazid Muttaqin)

Referensi:

Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhim, Imam Ibnu Katsir

Hadiqatul Auliya’, Syaikh Tajudin Naufal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah