Kamis, 27 April 2017

Peserta Khotmil Qur’an Pesantren Nurul Burhany Syaratkan Hapal Surat Pilihan

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Pondok Pesantren Nurul Burhany Mranggen Demak menyelenggarakan kegiatan Khotmil Qur’an, Rabu (13/5) malam yang terdiri dari peserta Khotmil Qur’an Juz ‘Amma Bil Hifdzi dan Khotmil Qur’an Bin Nadzri. 

Peserta Khotmil Qur’an Pesantren Nurul Burhany Syaratkan Hapal Surat Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Khotmil Qur’an Pesantren Nurul Burhany Syaratkan Hapal Surat Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Khotmil Qur’an Pesantren Nurul Burhany Syaratkan Hapal Surat Pilihan

Kegiatan Khotmil Qur’an merupakan agenda tahunan yang ada di Pesantren Nurul Burhany. Acara tersebut dilaksanakan di halaman Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, yang juga merupakan induk dari Nurul Burhany.

Menurut KH Helmi Wafa, pengasuh Pesantren Nurul Burhany, untuk menjadi peserta khotmil Qur’an para santri diharuskan untuk menghapal sura-surat pilihan. “Di antaranya surat Yasin, Al-Kahfi, Al-Waqi’ah, Ar-Rahman serta Surat Al-Mulk,” terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Disamping menghafal al-Qur’an, di pesantren ini juga diajarkan pegajian tafsirnya, dengan harapan santri tidak hanya hafal saja, tetapi juga harus paham maksud kandungan yang ada dalam ayat al-Qur’an tersebut. 

“Sebab al-Qur’an merupakan pedoman hidup, sangat disayangkan kalau kita punya sebuah pedoman, tetapi tidak tahu atau paham apa yang ada di dalamnya,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Helmi berharap setelah khatam al-Qur’an ini para santri dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam rutinitas bacaannya, maupun berinteraksi dengan beinteraksi ‘Ala al-Qur’an. (Abdus Shomad/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 25 April 2017

Begini Kampanye Unik Anti Narkoba Ansor Solo

Solo, Ribath Nurul Hidayah. "Kue keranjang lebih enak daripada narkoba." Begitu bunyi kalimat dalam stiker yang dibagikan sahabat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Solo bersama 400 kue keranjang kepada warga di sekitar Pasar Gede Solo, Rabu  (13/2) malam.

Kue keranjang yang identik dengan perayaan Imlek tersebut, dimanfaatkan sebagai alat untuk kampanye anti narkoba.

Begini Kampanye Unik Anti Narkoba Ansor Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Kampanye Unik Anti Narkoba Ansor Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Kampanye Unik Anti Narkoba Ansor Solo

“Kebetulan saja ini momentumnya imlek, jadi yang kita bagikan kue keranjang,” kata ketua Ansor, Muhammad Anwar.

Ribath Nurul Hidayah

“Bisa jadi, kalau pas acara hari besar Islam atau Ramadhan, yang kita bagikan kurma,” lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan tersebut diadakan Ansor Solo bersama dengan Forum Pemuda Lintas Agama Kota Surakarta (Forplas). Forum pemuda yang berdiri pada tahun 2012 lalu, terdiri dari Organisasi Kepemudaan (OKP) dari berbagai unsur keagamaan, diantaranya Ansor Solo.

Kasat Narkoba Polres Solo, Kompol I Nyoman Garjita, yang turut serta dalam acara tersebut mengatakan peredaran dan penggunaan narkoba di Kota Solo menduduki urutan pertama tingkat Jawa Tengah.

“Karena wilayah Solo sangat rawan peredaran narkoba, maka kami membentuk kampung anti narkoba. Dan kampung yang menjadi pilot projek adalah Semanggi,” terangnya.

Diharapkan dari acara ini, nantinya juga dapat membantu menurunkan peredaran dan penggunaan Narkoba di Solo.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Internasional, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Senin, 24 April 2017

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman

Oleh KH Zakky Mubarak

Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. adalah peristiwa yang sangat agung, dari peristiwa tersebut Nabi memperoleh berbagai macam pengalaman dan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kelengkapan dirinya, untuk mengemban tugas yang berat sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Pengetahuan dan pengalaman yang paling beharga dalam peristiwa tersebut adalah berkaitan dengan memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT., baik kebesaran yang ada di alam raya ini yang dapat ditangkap oleh panca indera ataupun dalam alam ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia.

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman

Isra, pengertiannya menurut bahasa adalah perjalanan di malam hari, sedangkan mi’raj adalah tangga untuk naik ke atas. Karena itu pengertian Isra yang dimaksudkan adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mi’raj adalah perjalanan beliau dari masjid al-Aqsa ke Sidrah al-Muntaha. Sidrah al-Muntaha adalah tempat di langit yang bersifat ghaib, tidak mungkin dijangkau oleh panca indera manusia, bahkan tidak dapat dijangkau oleh akal? fikiran.

Di antara tujuan diisrakannya Nabi Muhammad SAW, adalah agar beliau mengetahui secara mendalam tanda-tanda keagungan Tuhan, kekuasaan dan kasih sayang-Nya terhadap semua makhluk, peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur’an:

Ribath Nurul Hidayah

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. al-Isra, 1).

Ribath Nurul Hidayah

Dalam peristiwa Isra Mi’raj, sebagaimana disebutkan berbagai kitab tarikh dan kitab hadits, Nabi Muhammad dan umatnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari-semalam. (Nur al Yakin, hal. 67 dan Nabi al-Rahmah, 54). Peristiwa Isra Mi’raj menurut para ahli sejarah, selain disebutkan dalam kitab al-Hadits juga diisyaratkan Al-Qur’an pada awal surat an-Najm:

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauannya sendiri melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Yang diwahyukan kepadanya oleh Jibril yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cedas dan Jibril itu menampakkan diri dalam bentuk yang asli, sedang ia berada di ufuk yang tinggi. Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya? (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”. (Q.S. an-Najm, 1 – 7 dan 10).

Dengan diperintahkannya shalat lima waktu bagi Nabi Muhammad dan umatnya pada malam Isra Mi’raj tersebut, dirasakan betapa pentingnya ibadah shalat harus ditegakkan oleh setiap pribadi Muslim. Dalam Al-Qur’an banyak disebutkan perintah agar menegakkan shalat, perintah itu diulang berkali-kali sampai lebih dari delapan puluh kali. Di dalam hadits juga banyak disebutkan agar setiap Muslim mengerjakan shalat dengan baik, dimana saja mereka berada.

Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan sangat menentukan kualitas keimanan seorang Muslim, apakah kuat atau lemah. Kalau kita rajin mengkaji ayat demi ayat dari Al-Qur’an dan al-Hadits maka akan dijumpai berbagai pengarahan agar manusia Muslim dapat mengerjakan dan menegakkan shalat dengan baik. Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang dikerjakan dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta ketentuan-ketentuan lainnya, diikuti dengan gerakan kejiwaan dan disertai rasa khusu’ dan keikhlasan yang mendalam.

Pengertian shalat menurut etimologi adalah doa dan pujian, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya memuji Nabi, wahai orang-orang yang beriman, berdo’alah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kehormatan kepadanya”. (Q.S. al-Ahzab, 56).

Pengertian shalat menurut terminologi adalah “Beberapa ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat rukun tertentu”. Pengertian di atas, baru menggambarkan bentuk shalat secara lahiriyah. Agar melengkapi semua itu, kita ikuti definisi shalat dari segi hakikatnya yaitu: “Menghadapkan hati kepada Allah sehingga dapat mendatangkan rasa takut kepada-Nya dan menanamkan dalam jiwa rasa keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya”.

Shalat sempurna adalah shalat dengan kriteria di atas, shalat yang dilakukan dengan memenuhi syarat, rukun dan ketentuan lain serta diikuti dengan gerakan kejiwaan. Dengan demikian ibadah shalat itu akan berdampak pada sikap mental kita dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang telah melakukan shalat dengan baik dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar.

Dengan ketentuan-ketentuan shalat yang disebutkan di atas, Insyaallah kita akan terhindar dari segolongan orang yang mengerjakan shalat, tetapi pada hakikatnya mereka tidak shalat. Nabi SAW mensitir kelompok ini dalam salah satu haditnya:? “Akan datang suatu masa menimpa umatku mereka yang melakukan shalat, padahal sebenarnya mereka tidak shalat”. (H.R. Ahmad).

Dengan memperingati Isra Mi’raj ini, semoga kita dapat meningkatkan shalat kita sebaik mungkin, sehingga dapat meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Amiin...

*Penulis adalah Rais Syuriah PBNU, Dosen Pascasarjana UI



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Nahdlatul, Pesantren Ribath Nurul Hidayah

17 Muharram, Santri Tremas Peringati Haul KH Dimyathi Abdullah

Pacitan, Ribath Nurul Hidayah



Setiap tanggal 17 Muharram, keluarga besar Pesantren Tremas Pacitan memperingati haul salah satu pengasuhnya, KH Dimyathi Abdullah. Haul bertujuan mengenang kiprah, perjuangan, dan meneladani Kiai Dimyathi dalam mendidik para santri. Kiai Dimyathi yang wafat pada 1934 M bukan lain ialah adik dari ulama yang masyhur di bidang keilmuan, Syekh Mahfuzh Attarmasi.

17 Muharram, Santri Tremas Peringati Haul KH Dimyathi Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Muharram, Santri Tremas Peringati Haul KH Dimyathi Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Muharram, Santri Tremas Peringati Haul KH Dimyathi Abdullah

Seperti yang tampak pada Jumat malam (6/9) ribuan orang memadati kompleks Pesantren Tremas Pacitan, mereka yang terdiri dari masyarakat, santri dan alumni dari berbagai daerah dengan khidmat mengikuti peringatan haul ke-82 dengan membaca kalimat toyyibah tahlil yang dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Pacitan KH Abdullah Sadjad.

Rangkaian haul dimulai sejak Kamis malam (5/9). Diawali dengan semaan Al-Qur’an dan ziarah ke makam para sesepuh maqbaroh Gunung Lembu. Tampak hadir dalam acara haul ini, KH Fuad Habib, KH Luqman Harits, KH Burhanudin HB, Kiai Abdul Mukti, dan kiai lainya.

Kiai Dimyathi mengasuh Pesantren Tremas mulai tahun 1894 hingga 1934. Kiai Dimyathi memiliki peran yang sangat besar dalam membesarkan Pesantren Tremas hingga dapat berkembang seperti sekarang ini.

Kiai Dimyathi lahir pada Jumat Legi, 26 Shafar 1296 Hijriyyah bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1879 M di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan. Kiai Dimyathi adalah putra ke-4 dari pasangan KH Abdullah dan Nyai Aminah.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah belajar langsung kepada ayahnya, Kiai Dimyathi muda, bersama adiknya Kiai Abdurrazaq diajak ayahnya untuk menunaikan ibadah haji sambil melanjutkan studinya di Makkah, menyusul kakaknya Syaikh Mahfudz, yang sudah dulu bermukim dan menjadi guru besar disana.

KH Dimyathi tak kenal lelah dalam menimba ilmu. Usia remaja Kiai Dimyathi dihabiskan untuk belajar kepada para guru terbaik di masanya, khususnya di tanah arab hingga Asia Tengah. 

Waktu terus bergulir, hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Tidak terasa hampir 16 tahun Kiai Dimyathi bermukim di tanah Arab. Kesungguhanya dalam menuntut ilmu telah membuat tinggi pengetahuan agamanya. 

Setelah ayahnya, Kiai Abdullah, wafat di Makkah pada tahun 1894, dua tahun kemudian Kiai Dimyathi kembali ke tanah air. Kiai Dimyathi kembali ke Tremas untuk meneruskan kepemimpinan Pesantren Tremas, yang sejak keberangkatan Kiai Abdullah, Pondok Tremas diserahkan kepada menantunnya, Kiai Zaed bin Taslim Basyaiban dari Tirip, Purworejo.

Ribath Nurul Hidayah

Sekembalinya dari tanah suci, Kiai Dimyathi lalu menikah dengan Nyai Khatijah binti KH Abdur Rahman pada hari Kamis 7 Rajab 1323 H, atau 6 September 1905 M. Saat itu Kiai Dimyathi berusia  27 tahun sedangkan isterinya, Nyai Khadijah berusia 14 Tahun. Dari pernikahan ini, Kiai Dimyathi dikarunia 8 putra-putri. Berturut-turut: Nyai Hafshoh, Kiai Hamid, Nyai Hamnah, Nyai Halimah, Kiai Habib, Nyai Habibah, Kiai Hasir, dan Kiai Harits.

Kiai Dimyathi memiliki kepribadian yang luar biasa, bersahaja dan luhur ahlaknya. Pribadinya telah mencerminkan sosok yang alim, figur seorang kiai. Sehingga wajarlah bila saat itu, banyak santri dari Nusantara yang berguru kepadanya. 

Karena ketinggian dan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Kiai Dimyathi, oleh para santrinya Kiai Dimyathi lebih dikenal dengan panggilan “Mbah Guru”. Kiai Dimyathi dikenal sebagai seorang kiai yang sangat alim dalam berbagai disiplin ilmu. Di antarnya alim dalam bidang ilmu fiqih, ilmu faroid dan juga ahli Al-Qur’an

Di bawah kepemimpinan Kiai Dimyathi, Pesantren Tremas Pacitan  pernah mengalami masa keemasan dengan jumlah santri mencapai 2 ribuan. Karomah dan kealimannya dalam berbagai ilmu diakui oleh para ulama nusantara. Sentuhan Kiai Dimyathi melalui pendidikan pesantren melahirkan alumni yang mumpuni di bidangnya. antara lain: KH Ali Maksum Krapyak, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Muntaha Alhafidz Kaliibeber Wonosobo, KH Muslih Mranggen Demak, Prof Mukti Ali (Menteri Agama RI era presiden Soeharto),  dan para kiai serta tokoh lainya.

Seperti kakaknya, Syekh Mahfuzh, KH Dimyathi juga memiliki karangan kitab. Akan tetapi karya Kiai Dimyathi itu hingga saat ini belum ditemukan. Hal ini lantaran pada tahun 1966 terjadi banjir bandang yang melanda Tremas. Ketinggian air konon hingga sampai atap rumah. Sehingga banyak harta benda, dan tentunya kitab-kitab milik Kiai Dimyathi yang ikut hanyut dan tidak terselamatkan.

Kiai Dimyathi memimpin Pesantren Tremas kurang lebih 41 tahun. Kiai Dimyathi berhasil meneruskan tonggak sejarah yang telah diwariskan oleh kakeknya, KH Abdul Manan Dipomenggolo. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 23 April 2017

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, IPNU-IPPNU Demak Gelar Lakut

Demak, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Demak bertekad menyiapkan kader yang memiliki jiwa kepemimpinan yang berkarakter melalui Latihan Kader Utama (Lakut). Selama tiga hari sejak Jumat- Ahad (13-15/1) peserta yang terdiri atas utusan masing-masing anak cabang dididik dengan sejumlah materi penguat keorganisasian dan keaswajaan.

Pada Lakut kali ini panitia mengusung tema Ikhtiar Menuju Pemimpin Berkarakter untuk Agama, Bangsa dan Negara. Pendidikan ini berlangsung di Gedung PCNU Kabupaten Demak.

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, IPNU-IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kapasitas Pengurus, IPNU-IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, IPNU-IPPNU Demak Gelar Lakut

Ketua IPNU Demak Abdul Halim mengatakan, Lakut kali ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kepemipinan bagi kader yang nantinya akan menjadi tonggak penerus.

Ribath Nurul Hidayah

"Output dari Lakut kali ini harapannya mereka menjadi embrio pemimpin yang bisa diandalkan di masa mendatang," kata Halim.

Ketua IPPNU Demak Istiqomah mengatakan, Lakut merupakan investasi jangka panjang. Maksudnya, para kader yang dididik pada Lakut kali ini akan menjadi pemimpin yang berkarakter pada 20 tahun mendatang.

"Kami yakin, mereka mampu dan memiliki potensi yang sangat mumpuni untuk menjadi pemimpin yang berkarakter sesuai dengan manhaj Nahdlatul Ulama," kata Istiqomah.

Ribath Nurul Hidayah

Sterring Commite Lakut Dzawits Tsiqqoh menjelaskan, dipastikan para peserta merupakan kader terbaik yang direkomendasikan setiap pimpinan anak cabang.

Dalam penjaringan peserta, lanjut Dzawits, dilakukan proses screening baik secara administrasi maupun intelektual. "Karena untuk menyiapkan pemimpin itu tidak boleh sembarangan. Mereka secara intelektual harus siap," katanya. (A Shiddiq-Rifqi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 20 April 2017

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid

Pacitan, Ribath Nurul Hidayah. Ratusan jamaah dalam kegiatan Majelis Ratib dan Shalawat Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor  Arjosari, Pacitan, Jawa Timur membaca shalawat di Masjid Al-Mubarok Dusun Kulak, Desa Tremas, Arjosari, Sabtu Malam (19/3).

Jamaah yang terdiri dari Masyarakat, pengurus GP Ansor dan Anggota Banser ini dengan penuh khidmat melakukan pembacaan Ratib al Haddad karya Al-Habib Abdullah bin alwi bin muhammad Al-Haddad. Kegiatan ini digelar pertama kalinya oleh PAC GP Ansor Arjosari seusai terbentuk kepengurusan Rijalul Ansor pada awal bulan maret ini.

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid

Ketua GP Ansor Arjosari, H Hamka Hakim dalam sambutanya menyampaikan beberapa keutamaan bagi pengamal atau pembaca Ratib Al Haddad, di antaranya akan terhindar dari mara bahaya, memanjangkan umur dan mempermudah memperoleh rizqi. Ratib al Haddad, katanya, diamalkan sebagai salah satu cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ribath Nurul Hidayah

“Mari melalui kegiatan ini, kita niat ingsung (berniat), bismillah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan juga sebagai caranya kita nguri-uri (menjaga) ideologi Ahlussunnah wal-Jamaah. Karena tanpa kita yang peduli, terus siapa lagi yang akan peduli,” jelas lulusan univeritas Al Azhar Mesir itu.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, Hamka Hakim menyampaikan keperihatinanya atas kondisi masyarakat khususnya masyarakat pedesaan yang mulai meninggalkan masjid dan mushala sebagai pusat kegiatan keagamaan. Menurutnya, telah terjadi pergeseran nilai dan budaya yang diakibatkan oleh kemajuan zaman.

“Zaman dahulu para remaja tidur di masjid atau mushala adalah suatu kenikmatan. bagaimana kita dididik dan dibina tumbuh dalam lingkungan masjid dan mushalla.” kata dosen Staifa Kikil Pacitan itu.

Namun kondisi yang terjadi sekarang sangat memperihatinkan. Seusai waktu magrib, para remaja dan anak-anak mulai menjauh dari kegiatan keagamaan di masjid atu mushala. Mereka banyak yang tidak mau belajar mengaji, justru memilih dan mendatangi tempat-tempat seperti tempat tongkrongan dan tempat permainan lainya.

“Ini kehawatiran kita kalau imbas dari kemajuan zaman ini justru menggerus terhadap moral dan nilai yang baik dalam generasi muda kita,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, GP Ansor Arjosari hadir dengan sayapnya Rijalul Ansor untuk memberikan kontribusi dan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya kembali ke masjid sebagai tempat kegiatan keagamaan. Rijalul Ansor menggelorakan ajakan kembali ke masjid sebagai sarana membentengi generasi muda dari pengaruh zaman.

Sementara itu Pembina GP Ansor Arjosari, Ust Zafri Wicaksana meminta kegiatan Rutinan Rijalul Ansor semacam ini harus tetap berjalan, bagimanapun kondisinya. GP Ansor tidak boleh kalah semangat dengan Fatayat dan Muslimat NU yang telah lama berjalan dengan pengajian dan seaman Al-Qur’anya.

“Bukan maksud Ansor bersaing dengan Fatayat atau muslimat. Namun bagaimana caranya kita bersama-sama berjuang dan menguatkan ideologi Ahussunnah wal-Jamaah di tengah-tengah masyarakat pedesaan,” tandasnya.

Kegiatan Majelis Ratib dan Shalawat Rijalul Ansor ini akan digelar rutin sekali dalam satu bulan. Yakni tiap malam Sabtu Pon atau Ahad Wage. Rutinan akan digelar dari desa ke desa di seluruh kecamatan Arjosari dengan menggandeng takmir masjid dan pengurus karang taruna. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 16 April 2017

Rais Aam Tampil, Persidangan Tatib Tuntas

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus akhirnya hadir dan berbicara di hadapan peserta Muktamar Ke-33 NU yang sebelumnya diwarnai perdebatan tajam antamuktamirin. Ia datang di persidangan tata tertib Muktamar setelah bermusyawarah dengan para rais syuriah dan para kiai sepuh NU, Senin (3/8).

Rais Aam Tampil, Persidangan Tatib Tuntas (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam Tampil, Persidangan Tatib Tuntas (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam Tampil, Persidangan Tatib Tuntas

Gus Mus yang mengaku terus menyimak tiap persidangan mengungkapkan keprihatinannya atas citra yang begitu buruk sebagaimana digambarkan media massa. Padahal, menurutnya, NU bukan hanya ormas keagamaan yang ditunggu perannya di Indonesia tapi juga dunia.

"Saya malu kepada Allah, malu kepada Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asyari, kepada KH Abdul Wahab Chasbullah, kepada KH Bisri Syansuri, saya malu kepada KH Ramli Tamim, dan pendahulu-pendahulu kita," ujarnya dengan mata berkaca-kaca di forum yang digelar di alun-alun Jombang, Jawa Timur itu.

Ribath Nurul Hidayah

Gus Mus lalu menyampaikan hasil kesepakatan para kiai sepuh dan rais syuriyah yang bermusyawarah sejak siang. Poin yang disepakati adalah apabila ada pasal yang tidak disepakati muktamarin akan diselesaikan dengan pemungutan suara.

Persidangan langsung dilanjutkan begitu Gus Mus selesai memberikan pesan kepada muktamirin. Forum yang sebelumnya dihujani interupsi mendadak sangat tenang. Sidang yang dipimpin Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf itu berlangsung lancar tanpa disela pertanyaan dan interupsi apapun kecuali kata "setuju".

Ribath Nurul Hidayah

Pasal yang memuat tentang ahlul halli wal aqdi dihapus. Karena menyangkut pemilihan pemimpin baru yang diatur oleh AD/ART NU, maka pasal pemilihan rais aam dan ketua umum merujuk pada hasil sidang Komisi Organisasi yang digelar di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar.

Muktamirin serentak mengumandangkan shalawat begitu sidang ditutup oleh pimpinan sidang. Suasana haru menyelimuti arena muktamar.

Sebelumnya Gus Mus mengaku berat menanggung amanat sebagai pejabat rais aam yang sesungguhnya tidak ia kehendaki. Ia memohon maaf kepada muktamirin atas segala ketidaknyamanan yang terjadi.

Sore ini juga para peserta muktamar menuju ke empat pesantren, antara lain di Tebuireng, Denanyar, Peterongan, dan Tambakberas, untuk melangsungkan sidang-sidang komisi. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Departemen Agama (Depag) meminta tambahan anggaran Rp 46 miliar untuk pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan untuk keperluan musim haji tahun ini. Anggaran itu untuk melengkapi total anggaran yang direncanakan sebelumnya yakni Rp 106 Miliar.

"Setelah mendapat laporan dari Depkes, Depkes menyatakan dana itu (Rp 106 Miliar) masih kurang. Kami meminta persetujuan DPR untuk merevisi anggaran sebanyak Rp 46 miliar," pinta Menteri Agama Maftuh Basyuni, dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (17/5).

Angka itu, menurut Maftuh, akan dipergunakan untuk perbaikan pelayanan kesehatan, seperti halnya menyewa ambulans dan rujukan ke rumah sakit di embarkasi. Selain itu, juga untuk kegiatan pendukung operasional kesehatan di Tanah Air. "Kami ingin memberikan yang terbaik. Jika masih perlu kami harus meminta lagi," terangnya.

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)
Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007

Namun demikian, DPR tidak langsung mengangguk setuju. Anggota DPR Komisi VIII menyorot efektifitas penambahan anggaran itu.

"Anggaran itu kan sudah di Depkes. Itu sudah ada. Kenapa Depag juga ikut minta. Lagian, dari rincian kebutuhan kok nggak ada yang nyambung dengan kesehatan," seloroh pimpinan Komisi VIII DPR Farhan Hamid.

Dalam rancangan revisi itu, Menag menginventarisir kebutuhan di luar pos kesehatan, seperti yang disinyalir Farhan. Antara lain untuk penyusunan rancangan peraturan pemerintah sebagai pelaksana UU Haji, pengelolaan aset Ditjen Haji di pusat dan daerah, serta peningkatan SDM pengelola Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, tim khusus pencari penginapan bagi jamaah haji Indonesia terus bekerja. Hingga Rabu, 16 Mei 2007, tim bentukan Depag itu telah merampungkan 70 persen dari jumlah kebutuhan total 210.000 jamaah haji.

"Sampai tanggal 14 Mei, tim kami bekerja hingga 65 persen atau masih kurang 63.000 jamaah. Ini kami baru dapat laporan hingga hari ini, telah mencapai 70 persen atau kurang 60.000 jamaah lagi," kata Maftuh.

Ribuan pemondokan itu tersebar di berbagai wilayah seperti yang terbanyak di Misfalah (36.572 jamaah) dan Bahutmah. Keduanya berada di Mekah. Pemondokan itu diperlukan bagi jamaah haji Indonesia yang meningkat 5.000 jamaah dari tahun-tahun sebelumnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami harap tim dari Depag memperhatikan persoalan penginapan. Harus benar-benar yang terbaik, jangan jauh dari Masjidil Haram ataupun tidak memakai lift dan AC," ujar salah satu anggota DPR Zulkarnaen Jabar menanggapi pemaparan Menag. (rif/dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, News Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 15 April 2017

Menghidupkan NU Sama dengan Menghidupkan Agama Allah

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Menghidupkan Nahdlatul Ulama sama dengan menghidupkan agama. Begitu juga dengan menghidupkan banom NU semisal Gerakan Pemuda Ansor. Karena inti dari perjuangan di NU maupun GP Ansor sama dengan menegakkan Agama, bahkan sangat riil. NU menjadikan pedoman Islam Ahlusunah wal Jamaah karena merupakan amanat dari para ulama atau kiai, titipan para wali, dan wasiat dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Menghidupkan NU Sama dengan Menghidupkan Agama Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghidupkan NU Sama dengan Menghidupkan Agama Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghidupkan NU Sama dengan Menghidupkan Agama Allah

Demikian disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Nadlatul Ummah-Buntet-Cirebon DR KH Muhammad Abbas Billy Yachsi Fuad Hasyim saat mengisi Ansor Bershalawat PAC Ansor Ketanggungan, Selasa (28/3) lalu.

Pada taushiyahnya, Kang Babbas, sapaan akrabnya, berpesan agar para pengurus yang telah dilantik segera membangkitkan ranting-ranting. “Baiat bukanlah janji kosong, namun juga harus dipertanggungjawabkan kepada anggota dan Allah SWT untuk menegakkan Islam .

“Dengan menghidupkan Ansor, menghidupkan NU, kalian sama halnya menghidupkan agamanya Allah. Jangan ragu ikut NU. Jangan ragu berjuang membesarkan NU," ajak Kang Babbas dengan lantang.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Panitia Ahmad Fauzan El Azizi mengatakan, Ansor Bersholawat merupakan agar Ansor makin dikenal masyarakat dan dicintai masyarakat. Di Brebes, pada umumnya Nahdliyin kultural secara amaliyah, namun kurang paham apa itu Ansor dan Banser. Untuk itu, Ansor harus merangkul masyarakat dalam berbagai kegiatan, dan peduli pada masyarakat.

Ansor Bersholawat yang dimeriahkan group hadrah Al-Munsyidin dari Kota Pekalongan itu sekaligus pelantikan Pengurus PAC GP Ansor Ketanggungan masa khidmah 2017-2019, pelantikan Pengurus Pimpinan Ranting Fatayat NU Desa Kubangsari dan peresmian mushala Babussalam Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan Brebes.

Pelantikan Pengurus PAC Ansor Ketanggungan dilakukan Ketua PC Ansor Brebes Ahmad Munsip Maksudi. Mereka yang dilantik antara lain Ketua Arif Rahman, Slamet dan Bendahara Misbahudin.

Ahmad Munsip berpesan agar jajaran pengurus yang dilantik bisa mengemban amanah organisasi, mampu mengembangkan kader, dan jangan tunggu waktu untuk bergerak. “Bergeraklah, kalau bisa lari mengapa kita hanya terdiam,” pesannya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Kiai, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 14 April 2017

270 Pengurus Ranting NU Ikuti Workshop Managemen Organisasi

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Sedikitnya 270 orang pengurus ranting Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari empat kecamatan yaitu Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kraksaan, MWCNU Pajarakan, MWC NU Krejengan dan MWC NU Besuk, Senin (7/1) mengikuti kegiatan workshop managemen organisasi dan pemahaman tentang Aswaja di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) Kraksaan.

270 Pengurus Ranting NU Ikuti Workshop Managemen Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
270 Pengurus Ranting NU Ikuti Workshop Managemen Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

270 Pengurus Ranting NU Ikuti Workshop Managemen Organisasi

Kegiatan yang digagas oleh Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Kraksaan ini merupakan agenda rutin yang akan digelar di 13 MWC NU se PCNU Kraksaan selama bulan Januari 2013. Setiap Ahad, kegiatan ini diikuti oleh pengurus ranting NU dari 4 (empat ) MWC NU.

Dalam workshop ini, PC Lakpesdam NU Kraksaan mendatangkan dua orang pemateri. Mereka adalah Musafik selaku pengurus Aswaja Center Probolinggo dengan materi terkait keaswajaan dan Anas Naskhin yang menyampaikan materi terkait organisasi dan managemen ke-NU-an yakni mengupas seputar kontribusi NU dalam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ribath Nurul Hidayah

Hadir dalam workshop ini Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan H. Nasrullah Ahmad Suja’i beserta segenap pengurus dan Ketua PC Lakpesdam NU Kraksaan Drs. Bahar MM beserta segenap pengurus.

Ribath Nurul Hidayah

Koordinator Departemen Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) SDM pada PC Lakpesdam NU Kraksaan Muslimin Saba’ mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penguatan tentang managemen organisasi NU terutama terkait administrasi dan surat menyurat oleh pengurus NU baik yang berada di tingkat MWC maupun ranting.

“Selama ini penyusunan administrasi maupun surat menyurat yang dilakukan pengurus NU sudah sangat bagus. Namun semua itu masih perlu ditingkatkan lagi. Oleh karenanya kami mencoba melakukan penguatan dan pemantapan agar lebih baik,” ungkapnya.

Muslimin yang memimpin langsung proses pelaksanaan pelatihan juga memberikan buku panduan administrasi (surat-menyurat) yang menjadi rujukan adminitrasi pengurus NU. Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pemahaman tentang keaswajaan yang merupakan ruh dari perjuangan para ulama NU.

Peserta workshop terlihat sangat antusias dalam mengikuti acara tersebut. Hal ini dibuktikan dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan dengan sangat kritis kepada kedua pemateri.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Pertandingan, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 13 April 2017

GP Ansor Kampar: Tak Ada Tempat Buat ISIS

Kampar, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kampar Provinsi Riau menggelar halal bihalal bersama tokoh masyarakat se-kecamatan Perhentian Raja, di Aula Desa Hangtuah, Ahad (24/8). Acara yang dihadiri mahasiswa, pengurus MWC NU dan para tokoh masaraykat itu diisi dengan sosialisasi bahaya Gerakan Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) bagi NKRI.

GP Ansor Kampar: Tak Ada Tempat Buat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kampar: Tak Ada Tempat Buat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kampar: Tak Ada Tempat Buat ISIS

Penggerak GP Ansor Riau yang juga tokoh muda Kabupaten Kampar, Purwaji yang hadir pada kesempatan itu mengingatkan bahwa Indonesia tidak memberi tempat bagi ISIS. "Tidak ada tempat bagi gerakan ISIS di Indonesia, karena NKRI sudah menjadi konsensus seluruh rakyat dan pendiri bangsa yang mana di dalamnya adalah para kiai Nahdlatul Ulama," kata Purwaji, tegas.

Konsep negara NKRI yang berasaskan Pancasila menurut anggota DPRD Kampar 2009-2014 itu sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pancasila sila pertama "Ketuhanan yang maha esa" adalah bermakna bahwa NKRI adalah negara yang berdasarkan Tauhid.

Ribath Nurul Hidayah

"Jadi model NKRI sudah final dan tidak perlu diotak atik lagi. Kalau ada yang mengotak atik berarti tidak cinta tanah air dan tidak paham sejarah panjang perjuangan bangsa," tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Purwaji yang lulusan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) GP Ansor angkatan ke IV Kediri itu mengimbau semua kader Ansor dan penggerak NU di daerah untuk bersama sama memantau gerakan Islam fundamentalis, salah satunya faham ISIS di daerah.

"Jangan sampai mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan kita, warga NU dan Ansor harus tegas menolak mereka karena bisa mengancam kedamaian dan keutuhan NKRI," tandasnya.

Kegiatan itu diakhiri dengan pemutaran Film "Sejarah NU dan Kebangsaan" dan makan siang bersama. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Ubudiyah, Cerita Ribath Nurul Hidayah

MUI Lampung Komit Gencar Kampanye Antiekstremisme

Bandarlampung, Ribath Nurul Hidayah

Ditemui di kediamannya, Ahad (10/7), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung KH Khaerudin Tahmid mengatakan bahwa MUI Provinsi Lampung bertekad dengan berkiprah untuk mengemban misi menebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Salah satu langkah yang ditempuh oleh MUI Provinsi Lampung adalah penguatan gagasan melalui berbagai tulisan serta pemberitaan di berbagai media yang di dalamnya mengajak kepada seluruh umat Islam untuk menjunjung tinggi perdamaian.

MUI Lampung Komit Gencar Kampanye Antiekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Lampung Komit Gencar Kampanye Antiekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Lampung Komit Gencar Kampanye Antiekstremisme

"Melalui Komisi Dakwah kita akan perkuat sosialisasi kepada masyarakat melalui buletin atau sejenisnya yang di dalamnya memuat gagasan atau pemikiran untuk menolak radikalisme dan ekstremisme," kata Kiai Khairuddin yang juga seorang doktor dan dosen Pascasarjana IAIN Raden Intan Bandarlampung ini.

Ribath Nurul Hidayah

Kampanye antiradikalisme dengan menebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin juga akan digaungkan oleh Komisi Infokom MUI Lampung melalui jalur dunia maya dengan media online berupa website yang sudah dimiliki oleh MUI Lampung.

"Melalui mui-lampung.or.id, MUI Lampung akan gencar memberikan pemahaman kepada seluruh dunia dan umat Islam di Lampung bahwa Islam adalah agama damai dan cinta perdamaian," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk mewujudkan hal ini dengan segera, ia mengatakan bahwa dalam waktu dekat, seluruh komisi yang ada di MUI Lampung akan merapatkan barisan guna menyusun strategi dan desain terbaik sehingga pesan-pesan ini akan sampai kepada masyarakat dengan efektif.

"Dalam waktu dekat, berbarengan dengan Pelantikan Kepengurusan Baru Periode 2016-2021, seluruh Pengurus Harian dan Komisi MUI Lampung akan berkumpul dan mendapatkan orientasi tentang beberapa program yang harus segera ditindak lanjuti," kata Kiai yang juga Mustasyar PWNU Provinsi Lampung ini.

Menurutnya, dengan kesamaan visi kedepan dalam kiprah di MUI ini, mudah-mudahan seluruh pengurus MUI Provinsi Lampung akan benar-benar menjadi pioner terwujudnya Islam rahmatan lil alamin khususnya di Bumi Ruwai Jurai ini. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 10 April 2017

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan

Way Kanan, Ribath Nurul Hidayah - Tanggal 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia (World Water Day). Bertempat di Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Way Kanan Lampung, GP Ansor mengajak sejumlah organisasi kepemudaan menyaksikan film dokumenter Samin vs Semen karya Dhandy Dwi Laksono dan Suparta AZ (Ucok Patra).

"Terima kasih kepada Ansor yang mengajak kita nonton film sambil bincang-bincang santai. Kita berharap dengan adanya pemutaran film ini, kita bisa mengajak orang-orang terdekat kita untuk tidak menyia-siakan air, bagaimana berwudhu dengan tidak boros air salah satunya. Perilaku kita menghargai air perlu terus dikampanyekan," kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian (Kasi Wasdal) Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Way Kanan Arif Radigusman, di Blambangan Umpu, Selasa (22/3).

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan

Film Samin vs Semen produksi Watchdoc berdurasi 39 menit 25 detik. Film ini bercerita gerakan perlawanan kelompok masyarakat di kawasan bukit kapur Rembang dan Pati atas rencana pembangunan pabrik semen guna menjaga mata air yang harus dijaga untuk kehidupan mereka.

Ribath Nurul Hidayah

"Ada tujuh sungai besar di Way Kanan, dan kualitas airnya harus kita jaga bersama. Apalagi nama Way Kanan berasal dari nama satu sungai yang ada. Kalau sungai kotor, tercemar, jelas ada pengingkaran," ujar Arif lagi.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Munawar melanjutkan, air saat kemarau di Way Kanan sangat dibutuhkan. "Survei kami harga air bersih 1.000 liter kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Kondisi semacam ini juga menjadi persoalan karena itu perlu ada solusi bersama. Apalagi sejumlah sungai kualitasnya sudah tidak memadai untuk kebutuhan rumah tangga seperti dipaparkan pihak KLH," tuturnya.

Misat, warga Kelurahan Blambangan Umpu menyatakan, beberapa tahun terakhir ini masyarakat sudah tidak bisa mandi di sungai Way Umpu. Kondisi tersebut berbeda dengan tahun 1980.

Ribath Nurul Hidayah

"Dulu saat kemarau, warga bisa mandi di sungai Way Umpu, sekarang tidak ada lagi yang mau. Air sungai Way Umpu yang tadinya bisa digunakan masyarakat melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sekarang tidak bisa lagi. Jika warga harus membeli 1.000 liter air sungai Way Umpu Rp10 ribu pun saat kemarau, tentu tidak akan mau," kata Misat lagi.

Sungai Way Umpu menurut KLH sudah tercemar, dari kualitas satu menjadi kualitas tiga, yang artinya dari layak konsumsi menjadi tidak lagi layak konsumsi akibat adanya pencemaran diakibatkan penambangan emas ilegal.

"Kita telah menyaksikan bersama film tadi, bagaimana masyarakat Samin berupaya mati-matian menjaga mata air yang bermanfaat bagi pertanian, bagi kehidupan, bagi masa depan. Pernyataan sahabat-sahabat tadi menegaskan jika kualitas air yang baik sangat dibutuhkan bagi keberlangsungan hidup hari ini dan esok. Siapa yang bertanggung jawab? Tentu bukan hanya Ansor, bukan KLH, bukan Pemuda Muhammadiyah, tapi tanggung jawab bersama untuk menjaganya," ujar Ketua GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto yang menjadi moderator diskusi santai tersebut. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 April 2017

Bagi-Bagi Buku, Komunitas Sajubu Dongkrak Minat Baca

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Komunitas 1 Juta Buku untuk Anak-Anak Indonesia (Sajubu) Jakarta, menyebarkan bacaan bermutu di Hotel Pandanaran, Semarang (17/2). Dengan buku-buku berbobot, Sajubu Jakarta bersama lembaga Sciena Madani Semarang mencoba mewarnai perpustakaan, taman baca dan komunitas buku.

Faisaldy Pratama dari Sajubu Jakarta mengatakan, melalui komunitas ini pihak Sajubu ingin berpartisipasi menyebarkan virus gerakan gemar membaca.

Bagi-Bagi Buku, Komunitas Sajubu Dongkrak Minat Baca (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi-Bagi Buku, Komunitas Sajubu Dongkrak Minat Baca (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi-Bagi Buku, Komunitas Sajubu Dongkrak Minat Baca

“Melalui tebar buku, kami hanya bisa berharap setiap aktivitas di manapun tempatnya baik di perpustakaan, taman baca, maupun tempat-tempat umum dijumpai banyak orang yang asyik menikmati buku bacaan,” lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Lukni Maulana dari Sciena Madani menyatakan pihaknya kecewa dengan sistem pendidikan. Pasalnya, minat baca masyarakat masih lemah oleh sebab sistem pembelajaran tidak menanamkan membaca sebagai bentuk kebutuhan.

Lukni menyayangkan anak-anak lebih suka bermain di dunia maya dan tempat hiburan, baik melalui TV, mall maupun fasilitas permainan gatget di rumah.

Ribath Nurul Hidayah

Seharusnya perkembangan teknologi membawa dampak pada peningkatan minat baca. Seperti program Kementerian Pendidikan yang berkeinginan mengeluarkan buku elektronik berupa E-Sabak. Namun, pemangku dunia pendidikan cenderung apatis. Masyarakat cenderung menjadi konsumen, hanya menjadi penikmat teknologi yang berkembang pada umumnya.?

“Kalau masyarakat ingin maju, membaca harus menjadi kebutuhan dan kebiasaan. Sebab, negara akan maju ketika masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi dan dilanjutkan dengan buah karya berupa tulisan dan hasil-hasil penelitian,” tuturnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Pasukan Jin dan Malaikat

Istilah tersebut yang sangat dikenal oleh kalangan pesantren dan NU. Pasukan yang siap didatangkan oleh beberapa paranormal yang berpromosi mampu mengamankan acara Rapat Akbar NU kepada Ketua Panitia almarhum Abu Hasan.

Tawaran dari paranormal itu mendorong Abu Hasan untuk menanyakan kepada Wakil Sekjen PBNU H. Ahmad Bagdja. Namun, Ahmad Bagdja tidak menolak ide tersebut, walaupun ia menyanggupi untuk mencari jalan yang lebih bagus.

Pasukan Jin dan Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasukan Jin dan Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasukan Jin dan Malaikat

Konon beberapa kiai memiliki santri yang terdiri dari para jin, bahkan di antaranya menjadi khadam (pelayan) kiai. Banyak kiai yang tidak mau berurusan dengan jin. Namun demikian, mereka mengenalnya dengan baik walau mereka belum pernah menyaksikannya.

Urusan pasukan jin yang ditawarkan oleh paranormal kemudian diserahkan kepada Ahmad Bagdja. Isu itu juga ramai diberitakan media massa. Pemerintah dan masyarakat terkejut mendengarnya. Baru pada saat itulah wacana tentang jin muncul dalam perbincangan politik di tengah publik.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Rapat Akbar rencananya bakal menghadirkan satu juta warga NU. Masyarakat terkejut mendengar rencana ini. Begitu juga aparat keamanan dan Menteri Dalam Negeri.

Polisi mengaku akan kesulitan mengamankan massa yang jumlahnya sangat besar. Sedangkan Menteri Dalam Negeri mengatakan bahwa secara teknis sulit mengatur, memberikan konsumsi, dan menyediakan toilet untuk peserta acara.

Pemerintah kemudian membujuk NU agar mengurungkan niatnya. Pemerintah tidak berani melarang secara tegas karena tujuan Rapat Akbar itu adalah doa bersama dan apel kesetiaan pada Pancasila. Dengan acara ini, NU sendiri tidak bisa lagi dituduh tidak setia atau anti-Pancasila .

Abu Hasan menyatakan bahwa Banser NU harus berkoordinasi dengan “pasukan besar” yang dipimpin Ahmad Bagdja. Di tengah rasa penasaran mengenai “pasukan besar” itu, Ahmad Bagdja hanya tersenyum. 

Namun, ia setidaknya mampu meyakinkan bahwa dengan adanya pasukan jin maka NU siap menghadapi tekanan pemerintah. Pasukan jin itu bisa menguatkan niat NU dan membuat grogi aparat yang akan mengganggu acara. Seperti halnya Ahmad Bagjda, KH Abdurrahman Wahid hanya tersenyum ketika ditanya mengenai adanya pasukan jin tersebut.

Turunnya dana pengamanan untuk pembiayaan pasukan jin justru membuat Ahmad Bagdja geli. Ia sama sekali tidak mengenal paranormal, apalagi jin.

Maka, setelah dibicarakan dengan beberapa tokoh NU, dana itu digunakan untuk melakukan doa di berbagai masjid dan surau di Jakarta. Tujuannya memohon keselamatan kepada Allah Swt. Dengan doa itu para pengurus NU yakin bahwa Allah akan menurunkan pasukan malaikat untuk melindungi mereka.

Panitia Rapat Akbar kemudian membeli ribuan tasbih dan mencetak ribuan eksemplar buku Surat Yasin dengan logo PBNU. Selama dua minggu, orang-orang di berbagai masjid dan surau melakukan doa bersama untuk kesuksesan dan keselamatan Rapat Akbar NU. 

Sejak Revolusi 1966, belum ada model mobilisasi massa yang berskala besar di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah dan aparat keamanan merasa kerepotan dengan pelaksanaan Rapat Akbar NU. 

Namun, doa bersama yang diinisiasi oleh panitia telah membuat NU semakin percaya diri. Gus Dur sendiri tidak mau mundur dari rencana tersebut. Padahal, pemerintah terus memberi tekanan untuk membatalkan acara. Para pengamat politik pun meremehkan acara tersebut dan menganggapnya sebagai show of force yang tak berarti.

Ketika Rapat Akbar NU akhirnya berlangsung di Lapangan Timur Senayan, Jakarta, pada 1 Maret 1992, banyak orang mengira acara itu dijaga pasukan jin. Sedangkan kalangan NU merasa berada di bawah lindungan Allah karena mereka selalu memanjatkan doa di sepanjang acara berlangsung. Namun demikian, Gus Dur masih kurang puas karena merasa beberapa peserta dari luar kota dihadang oleh aparat keamanan sehingga mereka tidak bisa menghadiri acara besar tersebut. (Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 06 April 2017

Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Penting Tanamkan Nilai Kebangsaan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kegiatan Pelatihan Penggerak Kader Aswaja yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta (PW Muslimat NU) di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Selasa (15/8) mendapatkan apresiasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Penting Tanamkan Nilai Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Penting Tanamkan Nilai Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Penting Tanamkan Nilai Kebangsaan

Menurut Direktur Pencegahan BNPT Hamli, kegiatan semacam ini bisa memperkuat internal NU dan Muslimat yang menjadi pilar dalam menyebarkan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, dan moderatisme.?

Kegiatan ini, lanjutnya, sangat penting, baik secara internal untuk NU dan Muslimat, maupun secara eksternal untuk bangsa Indonesia.

“(Kegiatan ini) Baik dalam ke-NU-an itu penting, dalam konteks keindonesiaan itu menjadi sangat penting,” katanya.

Hal itu, katanya, melihat situasi sekarang dengan munculnya gerakan transnasioanl dan pengaruh paham-paham radikal kepada masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh karena itu, menurutnya, peran PW Muslimat NU yang merupakan kumpulan ibu-ibu sangat penting dalam menjaga anak-anaknya yang kelak menjadi generasi penerus bangsa Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Ia melanjutkan, melalui pelatihan ini, PW Muslimat NU diharapkan dapat menyebarkan ilmu, pengetahuan dan paham ke-Aswaja-annya kepada masyarakat.

Ia berharap, kegiatan pelatihan kader penggerak Aswaja yang dislenggarakan PW Muslimat NU DKI Jakarta ini juga bisa diselenggarakan di semua daerah supaya menjadi gerakan nasional.?

Menurut ? Sekretaris PW Muslimat NU DKI Jakarta Yayah Ruchiyati, acara yang diselenggarakan selama dua hari (14-15/8) ini sedikitnya diikuti 150 orang.?

Mereka terdiri dari perwakilan PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, PWNU DKI Jakarta, PC Muslimat NU se-DKI Jakarta, IPNU, IPPNU, Fatayat, GP Ansor dan PW Muslimat NU Lampung. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 05 April 2017

GP Ansor Inisiasi Gerakan Setia Pancasila di Kabupaten Temanggung

Temanggung, Ribath Nurul Hidayah

Walau siang itu di tengah-tengah pelaksanaan Apel Kesetiaan Pancasila dan NKRI yang berlangsung di alun-alun Temanggung Jawa Tengah diguyur hujan dan berkali-kali pula petir menggelegar, tapi tidak membuat sekitar 2000 peserta apel dari berbagai Banom NU Temanggung ini goyah dari berdiri tegapnya.

GP Ansor Temanggung bersama Banser serta beberapa banom NU lainnya memperingati hari lahir Pancasila, Rabu (1/6) dengan menggelar Apel Kesetiaan Pancasila dan NKRI bertempat di alun-alun Temanggung. Apel yang dihadiri seluruh banom NU tersebut dihadiri tidak kurang dari 2000 peserta utamanya anggota Ansor-Banser aktif.

GP Ansor Inisiasi Gerakan Setia Pancasila di Kabupaten Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Inisiasi Gerakan Setia Pancasila di Kabupaten Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Inisiasi Gerakan Setia Pancasila di Kabupaten Temanggung

Sukron Wahid, Ketua GP Ansor Temanggung, menyampaikan bahwa NKRI dihadapkan oleh banyak pihak yang tidak sepakat dengan falsafah Pancasila. Dari sisi kanan dihadapkan oleh Islam radikal yang gemar mengafirkan Islam yang lain, dari sisi kiri diancam oleh Neo Komunis. Maka dari itu dia mengajak kader NU senantiasa harus siap mengawal eksistensi Pancasila di negri ini.

"Bahwa tidak ada satupun sila dalam Pancasila yang bertentangan dengan ajaran Islam, bagi kita Pancasila merupakan implementasi cara berkehidupan dalam berbangsa dan bernegara, bagi NU Pancasila adalah final,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagai bentuk formal dukungan, Ansor Temanggung menggelar dukungan dengan membubuhkan tanda tangan pernyataan kesetiaan Pancasila dan NKRI. Selain dari seluruh peserta apel, bubuhan tanda tangan juga dilakukan oleh FKPD (Forum Komunikasi Pemerintah Daerah) Kabupaten Temanggung beserta Bupati turut pula menggalang dukungan.

Bupati Temanggung, Bambang Soekarno, mengimbau kepada Ansor-Banser untuk menjadi garda terdepan menjaga eksistensi Pancasila. Bupati Bambang juga menambahkan untuk senantiasa merapatkan barisan bersama seluruh stakeholder Pemerintah Daerah untuk menjaga turut keamanan dan ketentraman wilayah Temanggung dari berbagai ancaman.

Sementara komandan kodim 0706 Temanggung, Letkol Kav Zubaedi menyatakan bahwa Barisan Ansor Serbaguna harus senantiasa bisa bekerja sama dengan pihak berwajib dalam memberantas penyakit masyarakat. Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan Islam sebagaimana dijelaskan dalam deklarasi hubungan pancasila dan Islam dari hasil munas Alim ulama Nahdlotul ulama tahun 1983 di Situbondo. (M. Haromain/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 03 April 2017

Ziarah Kubur, PP IPPNU Lunasi Janji

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dengan berziarah pada dua kubur, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama menepati janji untuk berziarah kubur dan istighotsah dalam memperingati hari lahir ke-58 IPPNU, Jumat (1/3) malam.

Jajaran pengurus PP IPPNU pada Jumat malam mengunjungi kubur Luar Batang kel. Penjaringan, kec. Kota, Jakarta Utara dan kubur Pengeran Jayakarta, kel. Jatinegara Kaum, kec. Pulogadung, Jakarta Timur.

Ziarah Kubur, PP IPPNU Lunasi Janji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarah Kubur, PP IPPNU Lunasi Janji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarah Kubur, PP IPPNU Lunasi Janji

Demikian dikatakan oleh Sekretaris VIII PP IPPNU Riend Zumaroh kepada Ribath Nurul Hidayah per telepon, Ahad (3/3) siang. PP IPPNU memilih kubur keduanya sebagai penanda penting bagi sejarah Jakarta dan pengembangan Islam di Jakarta.

“Dalam ziarah pada dua kubur itu, kita pengurus PP IPPNU seperti lazimnya ziarah membacakan surah Yasin, rangkaian zikir, dan tahlil. Kita juga menyertakan nama pendiri IPPNU alm. Umroh Mahfudzoh dalam doa kami,” kata Riend Zumaroh.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Riend Zumaroh, ziarah kubur dan tahlil dilakukan oleh PP IPPNU dalam rangka menepati instruksinya beberapa hari lalu kepada jajaran pengurus IPPNU mulai dari tingkat ranting hingga pimpinan pusat untuk melakukan tahlilan dan istighotsah.

Hari lahir IPPNU tidak mesti diperingati dengan gegap gempita dan upacara-upacara tertentu. Hari lahir IPPNU perlu juga diperingati dengan acara ziarah kubur, zikir, doa, selawatan, dan kirim surah Al-Fatihah untuk para pendahulu IPPNU, tambah Riend.

Kalau di jajaran PP IPPNU sudah mematuhi instruksi yang ditujukan termasuk kepada dirinya, maka kita juga menunggu pengurus IPPNU baik di tingkat wilayah, cabang, anak cabang, ranting, juga komisariat untuk melakukan zikir, doa, tahlil, dan istighotsah, tegas Riend. 

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Sejarah, Warta Ribath Nurul Hidayah