Senin, 12 Maret 2018

Ultah ke-486 DKI Jakarta, Muslimat DKI Sorot Keamanan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pada hari ulang tahun ke-486 kota DKI Jakarta, PW Muslimat NU DKI Jakarta menyoroti masalah keamanan. Keamanan merupakan satu masalah serius kota Jakarta. Warga Jakarta perlu bersama menjaga keamanan kota Jakarta. 

Ultah ke-486 DKI Jakarta, Muslimat DKI Sorot Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ultah ke-486 DKI Jakarta, Muslimat DKI Sorot Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ultah ke-486 DKI Jakarta, Muslimat DKI Sorot Keamanan

Perihal ini disampaikan Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta Hj Hizbiyah Rochim saat dihubungi Ribath Nurul Hidayah, Ahad (23/6) siang.

“Warga Jakarta perlu berperan aktif dalam menjaga keamanan di lingkungan masing-masing,” tegas Hj. Hizbiyah Rochim.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Hj Hizbiyah, masalah keamanan di kawasan Jakarta merupakan tanggung jawab Pemda DKI. Aparat keamanan mesti bersikap tegas terhadap ancaman keamanan DKI Jakarta. Namun, warganya tidak bisa lepas tangan dari keamanan di lingkungannya.

Ribath Nurul Hidayah

Keamanan di Jakarta perlu diperketat terutama menjelang puasa Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan menjelang pemilu tahun depan. Pada momen-momen itu, sambung Hj Hizbiyah, warga Jakarta menghadapi masalah keamanan.

Masalah keamanan meliputi pencurian, gerakan terorisme, kekerasan fisik seperti tawuran antarpelajar, antarkampung, bentrokan antarormas, dan lainnya, tambah Hj Hizbiyah.

Kewaspadaan ini perlu disadari warganya. Kewaspadaan menjadi bagian dari antisipasi awal atas masalah keamanan lingkungan DKI Jakarta. Antisipasi keamanan perlu dimulai agar masalah keamanan diselesaikan dengan jalan pintas; kekerasan, tutup Hj Hizbiyah.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Fragmen, AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 11 Maret 2018

Ratusan Santri Demo Penuntasan Kasus Korupsi

Brebes, Ribath Nurul Hidayah

Sebagai bentuk dukungan pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas berbagai tindak Korupsi yang dilakukan para Pejabat Brebes, ratusan Santri dari berbagai pondok pesantren di wilayah Brebes bagian selatan melakukan demonstrasi.



Ratusan Santri Demo Penuntasan Kasus Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Demo Penuntasan Kasus Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Demo Penuntasan Kasus Korupsi

Mereka menuntut KPK agar tidak mandeg dalam menuntaskan kasus-kasus korupsi di Kabupaten Brebes.  Pasca ditetapkannya Bupati Brebes H Indra Kusuma S Sos sebagai tersangka mark up pembelian tanah, kelihatannya malah sepi-sepi saja. Bupati masih terlihat aktivitasnya seperti biasa sebagai Bupati. Tidak ada beban moral sedikitpun.

"Pentetapan satu tersangka bukanlah akhir, tapi awal pembongkaran kasus-kasus korupsi di Brebes. Seret semua pelaku korupsi di Brebes, siapapun yang terlibat harus bertanggungjawab," teriak Koordinator Aksi Darwanto disela-sela Demo Bada Jumat (8/1), dengan lantang.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, sebagai kekuatan moral, santri turun ke jalan untuk menyatakan dukungan pada KPK untuk penuntasan kasus korupsi di Brebes. Hal ini sangat penting, mengingat sejak kasus korupsi di Brebes yang dilaporkan pada tahun 2005 lalu, baru ada satu kasus korupsi yang mulai ditangani. Yaitu kasus mark up tanah dan juga baru satu orang yang ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka.

Ratusan santri, menggelar aksi demo di Ibu Kota Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah mulai pukul 14.30 hingga pukul 16.30.  Dengan jalan kaki, demo diawali dari Taman Makam Pahlawan (TMP) hingga Masjid Agung Baeturrohim Bumiayu.

Ribath Nurul Hidayah

Meski sempat diguyur hujan deras, mereka tetap bersemangat. Sehingga arus lalulintas jurusan Tegal-Purwokerto pun tersendat. Dalam demonya, mereka mengusung beberapa spanduk dan karton yang bertuliskan kecaman pada pelaku koruptor. Diantaranya Koruptor adalah Musuh Rakyat, Tangkap Semua Pelaku Korupsi,  dan Tangkap pelaku Lain yang Terlibat..!

Di depan halaman Masjid, satu persatu para aktivis berorasi. Dalam orasinya mencuatkan Kasus Korupsi yang sudah dilaporkan ke KPK, antara Korupsi pengadaan tanah yang merugikan uang negara sebesar Rp 11 milyar, pengadaan buku ajar Balai Pustaka (BP) senilai Rp 20 milyar dan merugikan negara sebesar Rp 8 milyar, kasus pengadaan alat kesehatan 664 juta, kasus dugaan korupsi APBD 2003-2004 serta kasus-kasus lainnya. "Kasus-kasus korupsi di Brebes itu melibatkan banyak pihak, eksekutif, legislatif dan juga pengusaha di Brebes," katanya.

Aksi demo di jalan protokol Bumiayu itu sempat mengundang perhatian warga. Banyak warga pula yang memberikan tanda tangan di atas kain putih. Tanda tangan pada kain tersebut selanjutnya akan dikirimkan ke KPK di Jakarta. "Tandatangan akan kami kirimkan ke KPK sebagai bukti dukungan pada warga Brebes," kata Darwanto yang juga kordinator aksi.

Setelah melakukan aksi demonstrasi, para pendemo yang didukung  Forum Ulama Anti Koriupsi (FUAK), LSM Pampera, Pusaka, Gugat, Serikta Guru Brebes (SGB), Gerakan Berantas Korupsi (Gebrak), Ikatan Mahasiswa Brebes Selatan (IMBS), Forum Masyarakat Brebes Selatan (Formabes) dan Universitas Terminal Jalan (UTJ) melakukan doa bersama untuk almarhum KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) di Masjid Baeturrohim Bumiayu.

Meskipun berjalan aman dan tertib, tetap mendapatkan pengamanan yang cukup ketat oleh petugas dari Polres Brebes. Tidak kurang dari tiga peleton personil keamanan yang diterjunkan untuk mengamankan aksi tersebut. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Nahdlatul, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Jurnal Mlangi Diskusikan Pesantren dan Gerakan Politik

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Selama rezim Orde Baru berlangsung, Presiden Suharto melakukan deconfessionalization of politics, di mana simbol-simbol yang menunjukkan identitas keagamaan, khususnya Islam, dilarang muncul dalam ranah politik.

Jurnal Mlangi Diskusikan Pesantren dan Gerakan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Mlangi Diskusikan Pesantren dan Gerakan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Mlangi Diskusikan Pesantren dan Gerakan Politik

Sebagai contoh adalah lambang Ka’bah? yang tadinya menjadi bagian identitas Partai Persatuan Pembangunan (PPP) diganti menjadi lambang bintang. Asas Islam bagi sebuah partai politik juga dilarang. Sebagai gantinya adalah asas Pancasila sebagai asas tunggal bagi partai politik.

Penerapan deconfessionalization of politics ini tidak terlepas dari kekhawatiran akan munculnya kelompok Islam yang dapat mengancam keberadaan negara.

Ribath Nurul Hidayah

Hal tersebut disampaikan alumnus Temple University USA Ahmad Munjid, Ph.D., dalam Diskusi Serial Pesantren dan Filsafat Politik yang diselenggarakan Jurnal Mlangi bekerja sama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies) di Yogyakarta, Kamis (10/7).

Munjid juga menyampaikan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi kelompok berbahaya dalam Islam yang dapat mengancam keberadaan negara. Pada saat yang bersamaan, ada beberapa kelompok yang memperjuangkan formalisasi Islam di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam konteks Pilpres 2014 yang baru saja berlangsung, beberapa kelompok Islam mengangkat Prabowo Subianto sebagai panglima bagi kaum Muslim. Mengapa bisa demikian? Kelompok ini menganggap bahwa Prabowo dapat didorong untuk mendukung dakwah Islam.

Lebih lanjut, Munjid menjelaskan bahwa dalam rentang sejarah Indonesia, politik Islam tidak pernah berhasil mewujudkan cita-cita mendirikan negara Islam di Indonesia. Dalam konteks inilah sebenarnya deconfessionalization of politics dapat menjadi sumbangan kalangan pesantren, di mana kalangan pesantren dapat mempromosikan nilai-nilai Islam tanpa perlu mewujudkan formalisasi Islam.

"Di sini, keberadaan negara Islam sudah tidak penting lagi karena yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Islam tersebut dapat berkembang dan dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia," ungkap pengajar di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Pembicara yang lain adalah pengajar FISPOL UGM Abdul Gaffar Karim. Dalam presentasinya, Gaffar menyampaikan bahwa dalam konteks Pilpres 2014, pesantren sedang dalam masa “gelap” di mana sesama pesantren saling serang untuk mendukung kedua capres yang berbeda yang sebenarnya bukan dari kalangan pesantren.

"Ini menunjukkan bahwa Islam masih relevan sebagai sumber legitimasi dalam merebut kekuasaan, namun belum tentu relevan dalam pembagian sumber daya", pungkas Gaffar. (M Chozin Amirullah/Mahbib)

?

Foto: Ahmad Munjid saat menjadi narasumber



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Maret 2018

1524 Penulis Artikel Pecahkan Rekor Muri

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Sebanyak 1524 mahasiswa dari 13 perguruan tinggi ternama di Indonesia yang tergabung dalam Community Santri of Schoolar Ministry of Religius Affairs (CSS Mora) berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penulis artikel terbanyak.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian Festival Nasional Santri Nusantara; Gerakan Nasional Santri Indonesia Menulis yang diselenggarakan Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI di pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jum’at-Ahad (30/11-2/12). 

1524 Penulis Artikel Pecahkan Rekor Muri (Sumber Gambar : Nu Online)
1524 Penulis Artikel Pecahkan Rekor Muri (Sumber Gambar : Nu Online)

1524 Penulis Artikel Pecahkan Rekor Muri

Rekor penulisan artikel terbanyak dilaksanakan hari Ahad (2/12) mulai pukul 08.00-10.00 WIB bertempat GOR Pesantren Tambakberas. Menurut perwakilan Muri yang mewakili ketua umum Jaya Suprana, pihaknya mencatat kegiatan 1524 penulis artikel masuk dalam rekor muri No.5721.

Ribath Nurul Hidayah

Di Jombang masih menurut perwakilan Muri pernah juga mencacat rekor Muri semisal Khataman Al-Qur’an Terbanyak (2010), Penulisan Gurindam Terbanyak (2012) dan masih banyak lagi.  

Ribath Nurul Hidayah

Kasubdit Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Drs. H. Imam Syafii, M.Pd mengungkapkan pihaknya baru kali pertama terlibat dalam program yang monumental yakni rekor penulis artikel terbanyak. 

Imam menegaskan Islam masih eksis hingga saat ini didukung oleh para ulama-ulama terdahulu dengan karya tulisnya. “Dengan menulis mereka dikenang sepanjang masa,” paparnya Imam saat menyampaikan sambutan. 

Pihak Muri memberikan 2 piagam, kepada Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI dan kepada Imam Syafii. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal Ribath Nurul Hidayah

Sepenggal Cerita NU Membela Tokoh Muhammadiyah

Tahun 1960-an dapat disebut sebagai tahun panas, penuh pergolakan politik. Bahkan bidang sastra pun tak luput dari hal tersebut. Salah satu peristiwa yang mencuat di dunia sastra kala itu, ketika seorang tokoh Muhammadiyah, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) ‘didakwa’ atas tuduhan plagiarisme.

Polemik ini berawal ketika seorang yang bernama Abdullah Said Patmadji (Abdullah Sp) mengirimkan beberapa resensi yang dimuat secara berkala di rubrik kebudayaan “Lentera” harian Bintang Timur milik Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sepenggal Cerita NU Membela Tokoh Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepenggal Cerita NU Membela Tokoh Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepenggal Cerita NU Membela Tokoh Muhammadiyah

Dalam salah satu tulisannya yang berjudul Aku mendakwa Hamka Plagiat (Bintang Timur, 5 dan 7 Oktober 1962), Abdullah Sp, menuduh buku novel Tenggelamnja Kapal van der Wijck karya Hamka merupakan plagiasi dari novel Magdalena, karya seorang sastrawan Mesir, Mustafa Al-Manfaluthi.

Sontak hal tersebut memunculkan pro-kontra dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan Nahdliyyin. Duta Masjarakat, salah satu koran harian milik Nahdlatul Ulama (NU) menuliskan dua artikel yang berjudul Hamka membantah hasil karjanja djiplakan dan Pembitjaraan akhir seorang sastrawan. Isi keduanya cenderung memberikan pembelaan kepada Hamka.

Ribath Nurul Hidayah

Berikutnya pada 7 Maret 1963, Duta Masjarakat memuat tulisan A.S. Alatas. Menurut pendapat Lektor Kepala Luar Biasa Bahasa Arab di Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu, tokoh wanita dalam Magdalena, tidaklah mirip dengan tokoh Hajati dalam novel Hamka.

Ribath Nurul Hidayah

Sedangkan Usmar Ismail, seorang pegiat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) milik NU, memilih sikap hati-hati dalam mengutarakan pendapat. Menurut Usmar, seorang seniman sedikit banyak akan mendapatkan pengaruh dari karya-karya dari orang lain.

Dan saja sebagai pengarang sangat terpengaruh pada Ibsen dan Steinbeck dan itu djelas kelihatan pada lakon-lakon karja saja “Api”. Terlebih-lebih pengarang muda, maka sulit untuk menolak pengaruh dari pengarang lain baik luar maupun dalam negeri.

Tapi bagi saja plagiat adalah bukan soal pengaruh, dia adalah persamaan tema, plot, problem dan seluruhnja sama tanpa ada keakuan sipengarang dan soal ini tidak demikian pada karja Hamka tersebut. (Bintang Timur, 21 Oktober 1962)

Dalam buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat, Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 (Muhidin M Dahlan, 2011), dijelaskan bahwa tema serupa menjadi perdebatan yang berlangsung cukup lama, yakni kisaran tiga tahun. Muhidin M Dahlan mengungkapkan, kala itu ‘dakwaan plagiarisme Hamka’ tak menjadi sekedar isu sastra semata, tapi juga sentimen ideologi politik. Di mana hubungan politik Islam dan ideologi politik yang dominan (Sukarno, PKI, Tentara) memburuk saat Masyumi dinyatakan sebagai partai terlarang. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Khutbah, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 07 Maret 2018

Kembangkan Kreativitas Lewat Porseni IPNU-IPPNU

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dalam rangka mengembangkan kreativitas pelajar NU menyelenggarakan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di gedung MWCNU Bangsri, Senin-Rabu (23-25/12).

Kembangkan Kreativitas Lewat Porseni IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Kreativitas Lewat Porseni IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Kreativitas Lewat Porseni IPNU-IPPNU

Kegiatan yang berlangsung tiga hari tersebut diikuti 34 delegasi dari Pimpinan Ranting (PR), Pimpinan Komisariat (PK) pesantren, MTs/ SMP, MA, SMA dan SMK se-kecamatan Bangsri.  

Adapun cabang-cabang yang dilombakan, antara lain administrasi, kaligrafi, cerkas, MTQ, lagu Indonesia Raya dan Mars IPNU-IPPNU, catur, bulu tangkis, karnaval, pidato bahasa Indonesia, pidato bahasa Arab (MTs/ SMP), pidato bahasa Inggris (MA/ SMA/ SMK), pidato bahasa Jawa (ranting dan pesantren), LBB Senam Lantas (MTs/ MA), pembuatan logo (ranting dan pesantren) dan rebana untuk umum.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua panitia, Muzayyin Irfan didampingi ketua IPNU, Ahmad Zubaidi dan ketua IPPNU Nur Maunah mengatakan, kegiatan bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas pelajar NU. Porseni menurutnya tidak hanya sebagai ajang bersenang-senang. Tetapi dikatakannya juga sebagai media syiar NU kepada khalayak umum.

Ribath Nurul Hidayah

Disamping itu juga sebagai media pengkaderan. “Dari kegiatan ini juga harapan kami muncul bibit-bibit kader yang akan meneruskan perjuangan IPNU-IPPNU di kecamatan Bangsri,” tambah Muzayyin.

KH Ahmad Jazuli, selaku Ketua MWCNU Bangsri menyatakan sepakat dengan tema yang diangkat “Media Pengembangan Kreativitas Pelajar dan Santri untuk Bangsa”. Menurut Kiai Jazuli, dari hal terkecil pelajar NU bisa berkiprah untuk bangsa.

“Saya sepakat dengan tema yang diangkat. Melalui kegiatan semisal porseni juga merupakan bentuk kontribusi untuk bangsa karena IPNU-IPPNU masih dalam lingkup pelajar,” ungkapnya.

    

Pada fase berikutnya, kiprah untuk bangsa seperti yang dilakukan KH Hasyim Asyari merebut kemerdekaan Indonesia. “Jadi memaknai suatu hal itu jangan hanya dipandang sebelah mata. Tetapi harus dicerna dengan baik agar tidak salah mengartikannya,” imbuhnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Senin, 05 Maret 2018

Datang ke Sumbar, Ketum PBNU Kunjungi Pesantren-pesantren

Padang Pariaman, Ribath Nurul Hidayah. Kunjungan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ke Sumatera Barat, Sabtu (9/1), mendapat sambutan meriah dari warga NU setempat. Ia dikawal oleh para anggota Barisan Ansor Serbaguna Kabupaten Padang Pariaman sejak mendarat dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Kabupaten Lima Puluh? Kota.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Padang Pariaman Zeki Aliwardana mengatakan, di Kabupaten Lima Puluh? Kota, Kiai Said menghadiri kegiatan peringatan Peristiwa Situjuah. Selanjutnya menuju Pondok Pesantren Maarif As Saadiyah, Batu Nan Limo, Koto Tangah Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Datang ke Sumbar, Ketum PBNU Kunjungi Pesantren-pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Datang ke Sumbar, Ketum PBNU Kunjungi Pesantren-pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Datang ke Sumbar, Ketum PBNU Kunjungi Pesantren-pesantren

Di pesantren yang dipimpin oleh Sudirman Syair Datuak Simulo Nan Balopiah itu Ketum PBNU dan rombongan berdialog dengan pengasuh Pesantren, PWNU Sumatera Barat, dan pengurus NU lainnya di Kabupaten Lima Puluh? Kota.

Ribath Nurul Hidayah

Dari sana? Kiai Said menuju Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan di Kabupaten Padang Pariaman. Di sini ia juga disambut setidaknya lima puluh kader GP Ansor berseragam lengkap.

Menurut Zeki Aliwardana, pengawalan oleh Banser ini langsung dikomandoi H Candra dari Satkorcab Banser Padang Pariaman dan merupakan? pertama dilakukan Pimpinan Cabang Ansor Padang Pariaman terhadap kunjungan Ketum PBNU ke Sumatera Barat.

Ribath Nurul Hidayah

"Karena beliau mendarat di Kabupaten Padang Pariaman dan salah satu acaranya di Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Padang Pariaman, maka pengawalan dilakukan sejak kedatangan hingga ke berangkatan kembali ke Jakarta di BIM," kata Zeki Aliwardana, mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Kiai Said mengapresiasi kiprah GP Ansor Padang Pariaman. Ia juga memberikan semangat dan nasihat kepada organisasi pemuda NU ini agar istiqamah dalam berperan di tengah masyarakat.

"Walaupun singkat, tapi sebagai kader Ansor bersama Ketum PBNU seharian dalam mengiringi kegiatannya memiliki kesan sendiri. Mudah-mudahan mampu menambah spirit kader Ansor di Padang Pariaman untuk lebih meningkatkan perannya dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan berbangsa," tambah Zeki Aliwardana. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah