Jumat, 30 Juni 2017

IPNU Juara 1 OKP Berprestasi 2014

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) sebagai Juara 1 Organisasi Kepemudaan Berprestasi Nasional tahun 2014.

Penghargaan diberikan dalam kepemudaan di Hotel Petagiri Palmerah Jakarta, Kamis (18/12) tadi malam.

IPNU Juara 1 OKP Berprestasi 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Juara 1 OKP Berprestasi 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Juara 1 OKP Berprestasi 2014

Khairul Anam Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU yang juga putra daerah Sulawesi Selatan mengatakan, pernghargaan diterima oleh IPNU setelah melalui proses seleksi yang panjang dan ketat.

Ribath Nurul Hidayah

“Mewakili rekan-rekan pengurus tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para anggota Majelis Pembina, Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, Anak Cabang, Ranting, Komisariat dan seluruh kader IPNU se Indonesia yang telah mendukung semua program PP IPNU dan tentunya penghargaan ini kita jadikan cambuk bagi rekan-rekan pengurus IPNU di daerah untuk semakin semangat dan konsisten mengawal pelajar Indonesia yang berprestasi,” ujarnya. (Andy Muhammad Idris/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Fifi, Ketua IPPNU yang Siap Kontes Da’i

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Pengurus Anak Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPPNU) Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas Afifatur Rohmania bersama rekan-rekannya dari IPNU-IPPNU mengunjungi kantor redaksi Ribath Nurul Hidayah, Senin (9/6) siang.

Fifi, Ketua IPPNU yang Siap Kontes Da’i (Sumber Gambar : Nu Online)
Fifi, Ketua IPPNU yang Siap Kontes Da’i (Sumber Gambar : Nu Online)

Fifi, Ketua IPPNU yang Siap Kontes Da’i

Kunjungan ini dalam rangka silaturrahim sekaligus mohon doa restu bagi Fifi yang akan mengikuti kontes Akademi Sahur Indonesia (AKSI) yang segera tayang di sebuah stasiun televisi nasional.

Fifi (17), panggilan akrabnya, akan turut memeriahkan program yang dihelat tiap tahun sekali ini. Gadis yang baru lima bulan dilantik sebagai Ketua PAC IPPNU Kecamatan Kalibagor periode 2014-2016 ini merasa terpanggil untuk turut serta dalam kontes da’i tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

“Motivasi saya ingin mensyiarkan agama melalui mimbar ceramah yang tayang di TV. Kegiatan AKSI periode II ini akan tayang tanggal 15 Juni live di Indosiar,” ujar Fifi.

Dua tahun silam, Fifi pernah tercatat sebagai Dai Pilihan di ANTV. Namun, karena baru berumur 15 tahun, dirinya disarankan untuk mengikuti kembali. “Akhirnya, saya dapat golden tiket untuk ikut kontes lagi. Saya pun langsung datang ke Jakarta untuk mendaftar,” terang Fifi.

Ribath Nurul Hidayah

Selain diantar keluarga, kedatangan Fifi di kantor PBNU untuk menghadap Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj didampingi Wakil Ketua PAC Anshor Sokaraja Asyik Gesang Sugiarto (40) yang juga menjabat Kepala Desa Sokaraja Tengah Kecamatan Sokaraja, Banyumas.

Fifi menceritakan, suatu ketika di desanya digelar pengajian dalam rangka halal bi halal.? Fifi, naik mimbar gara-gara pembicara asal Kebumen yang sedianya diminta berceramah di forum itu terlambat lama hingga membuat gusar para jamaah. Fifi masih ingat waktu itu dia kelas III SD pada tahun 2003.

“Saya gemes karena lama banget nunggu kiainya. Lalu saya nekat naik mimbar untuk menggantikannya ceramah. Saya sejak kecil memang mengidolakan Kiai Ma’ruf Islamudin. Saya bahkan hafal materi-materi ceramahnya. Dengan bekal tersebut saya lalu berceramah,” ujarnya bangga.

Ia menambahkan, dewan juri pada AKSI periode dua besok, lanjutnya, antara lain Mama Dedeh, Ustadz Wijayanto, Ustadz Maulana, dan Ustadz Ahmad al-Habsy. “Mohon doanya bagi seluruh kaum Nahdliyin, semoga kader muda NU ini memenangi kontes da’i besok,” harapnya. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Biasakan Murid Sowan Guru dengan Tugas Sekolah

Bojonegoro, Ribath Nurul Hidayah

Sudah menjadi tradisi setiap Lebaran murid bersilaturahim ke rumah gurunya masing-masing, namun itu harus dilatih agar tidak menjadi beban. Seperti yang dilakukan Yayasan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin (YPPRT) Balen Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang melatih membiasakan muridnya melaksanaan tradisi itu dengan memberikan tugas saat momen Lebaran.

Biasakan Murid Sowan Guru dengan Tugas Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Biasakan Murid Sowan Guru dengan Tugas Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Biasakan Murid Sowan Guru dengan Tugas Sekolah

Setiap siswa dari MTs Islamiyah, MA Islamiyah, dan SMK Taruna Balen diharuskan mengumpulkan tanda tangan sebanyak sekitar 25 dari guru-gurunya. Hal itu sudah dilakukan bertahun-tahun, supaya siswa terbiasa sowan ke guru saat sekolah dan sampai lulus sekolah nanti.

"Silaturahim ke guru setiap Lebaran keempat, sudah berlangsung bertahun-tahun. Sebelum tahun 2008 sudah dilakukan," kata salah seorang guru, Mahin Hasan sambil menerima murid-muridnya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain menjalin silaturahim antarsiswa dan guru, juga memberikan pembelajaran bagi siswa. Sehingga para siswa akan terbiasa setelah lulus akan sering bersilaturahim tidak hanya kepada guru, tetapi kepada sesama yang lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal senada juga diungkapkan kepala MTs Islamiyah Balen, Hizbullah, terkait kegiatan silaturahim siswa pada gurunya. "Semuanya diwajibkan datang ke guru, setiap Lebaran," ungkap Pak Bul, panggilan akrabnya.

Namun karena sekarang ini siswa kelas IX MTs dan kelas XII MA Islamiyah serta SMK Taruna sudah lulus, silaturahim hanya diwajibkan bagi kelas VII, VIII, X, serta kelas XI. "Kalau semua lebih banyak lagi. Sekarang ini lebih sedikit, karen kelas tiga sudah lulus," pungkas guru agama lulusan IAIN Sunan Ampel itu. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 28 Juni 2017

Gerakan Muslimat NU Dikagumi di Timur Tengah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan perempuan NU yang tergabung dalam Muslimat NU mendapat apresiasi dan kekaguman dari kalangan perempuan di Timur Tengah yang selama ini aktivitasnya terkekang di dalam rumah.

“Mereka keheranan, kok bisa perempuan Indonesia membuat berbagai kegiatan dan semuanya dilaksanakan sendiri. Semua yang datang bertemu Muslimat NU selalu mengakui seperti itu, baik dari Yordania, Palestina, Yaman dan lainnya,“ kata Hj Nurhayati Said Aqil, Kamis (1/3) di gedung PBNU.

Gerakan Muslimat NU Dikagumi di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Muslimat NU Dikagumi di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Muslimat NU Dikagumi di Timur Tengah

Hari ini, Muslimat NU menerima kunjungan dari delegasi Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN-nya) Yordania dalam rangka belajar mengenai program KB ke Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Nurhayati pernah mengalami sendiri kehidupan perempuan di Arab Saudi selama 12 tahun ketika menemani suaminya, KH Said Aqil Siroj ketika belajar di Makkah.

“Perempuan tidak boleh kemana-mana, sholat di masjid saja tidak boleh, kecuali di masjidil haram. Makanya Mereka ingin membuat organisasi seperti Muslimat di negaranya,“ kata Nurhayati.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menyatakan, kunjungan ini akan ditindaklanjuti dengan kerjasama kedua belah fihak agar bisa saling memanfaatkan kelebihan masing-masing.

Mewakili delagasi Yordania Nawal Faouri, senator, Jordan Helath, communication partnership dan Edson E Whitney, dari Johns Hopkin Bloomberg School of Public Health. Mewakili Muslimat NU Nurhayati Said Aqil, Mahsanah Asnawi, Sri Mulyati, Yenny Wahid dan sejumlah pengurus lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, terjadi dialog yang cukup interaktif. Delegasi Yordania sangat penasaran, bagaimana Muslimat NU mampu melaksanakan program sampai ke tingkat grassroot.

Mahsanah Asnawi menjelaskan, Muslimat NU memiliki struktur organisasi dari tingkat pusat sampai ke desa-desa. Saat ini jumlah anggotanya sudah mencapai 12 juta. Melalui jaringan organisasi inilah, berbagai program didisseminasikan ke berbagai daerah.

Selain itu, Muslimat NU yang merupakan badan otonom NU bekerjasama dengan lembaga dan badan otonom lain untuk menjalankan program tersebut, seperti dengan Lembaga Pendidikan Maarif NU, Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU, Lembaga Kesehatan NU, Ansor dan lainnya.

Sementara itu, Sri Mulyati, menjelaskan program KB Muslimat NU telah dimulai sejak tahun 1969 dan terus berkembang sampai saat ini. Keterlibatan NU dan Muslimat menjadi salah satu factor keberhasilan Indonesia dalam mengurangi angka kelahiran.

Muslimat NU menjelaskan pentingnya mengikuti KB dari sudut pandang keagamaan, seperti berdasarkan prinsip kulliyatul qomsah, yaitu hal-hal yang harus dijaga, yang salah satunya adalah menjaga keturunan tetap baik.

“Disinilah pentingnya menjaga jarak kelahiran dan jumlah anak yang dilahirkan agar menghasilkan generasi yang berkualitas,” paparnya.

Namun demikian, ia menegaskan, para ulama NU mengharamkan adanya alat kontrasepsi yang menghilangkan kemampuan melakukan reproduksi. Yang diizinkan adalah membatasinya.

Sri Mulyati menjelaskan, saat ini masih banyak tantangan untuk meningkatkan dan menjaga kesinambungan program kesehatan bagi perempuan dan KB ini, seperti akses geografi yang sulit, pendanaan, pengetahuan, budaya dan lain.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Kapan Nyusul?

Saat itu Bakar yang berumur 35 tahun sedang hadir dalam pernikahan tetangganya, ia hadir sebagai perwakilan pramusaji dari karang taruna.

Ketika menyajikan makanan, ia bertemu dengan tetangganya Mbah Wiro dan bertanya, “Kar kapan nyusul nikah?”

Bakar menjawab, “Segera mbah”.

Keesokan harinya Bakar mendapat undangan pernikahan di tetangga kampungnya, dan saat ia hadir lagi-lagi bertemu Mbah Wiro dan bertanya, “Kapan nyusul?”

Kapan Nyusul? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapan Nyusul? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapan Nyusul?

Bakar  menjawab, “Besok mbah.”

Usai pulang dari hajatan, Bakar pun pergi ke masjid dan bertemu teman-temannya yang sudah punya anak istri semua. Usai sholat Ashar, ia pun sejenak melepas lelah dan berkelakar dengan temannya, salah satu temannya bilang kalau adiknya yang masih SMA hendak menikah, tiba-tiba mbah Wiro datang dan menyeletuk, “Kapan nyusul Kar”?

Bakar pun hanya tersenyum sinis sembari mengambil sandal dan berjalan pulang dengan hati kesal.

Ribath Nurul Hidayah

Tak beberapa lama, ada kabar duka bahwa Mbah Suryo tetangganya meninggal dunia, Bakar pun takziyah dan duduk disamping Mbah Wiro.

Bakar  yang kala itu masih kesal dengan Mbah Wiro berbisik pelan dan bertanya pada Mbah Wiro, “Mbah kapan nyusul?” (Ahmad Rosidi)

Ribath Nurul Hidayah

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 27 Juni 2017

Kemenag Brebes Santuni Yatim Piatu

Brebes,Ribath Nurul Hidayah. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Brebes memberikan santunan kepada ratusan anak yatim piatu penghuni panti asuhan. Pemberian santunan sebagai bentuk kepedulian kepada anak-anak yatim.

Kemenag Brebes Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Brebes Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Brebes Santuni Yatim Piatu

“Kami ingin saling berbagai dan ingin meminta doa dari anak yatim,” tutur Kepala Kemenag Kab Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI di sela pemberian santunan, di aula Kantor Kemenag Brebes, Selasa (15/7/14).

Menurut Imam, doa anak yatim sangat makbul. Untuk itu, dia berharap dari mereka agar segenap keluarga besar Kemenag Brebes mendapatkan perlindungan dari Allah SWT, bisa bekerja dengan baik dan benar, mendapatkan rezeki yang melimpah dan halal. “Kami hanya berharap doa dari anak-anak yatim ini,” kata Imam.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, para anak yatim diajak berbuka puasa bersama dan shalat maghrib berjamaah, mereka juga diajak berdiskusi dan menyampaikan taushiyah Ramadhan serta menjawab berbagai pertanyaan dari Kepala Kemenag, Kasubag TU dan para Kepala Seksi. “Bagi yang bertanya dan berani tampil kami beri hadiah,” tutur H Makmur MPdI selaku panitia penyelenggara.

Ribath Nurul Hidayah

Santunan diberikan kepada 100 anak yatim menghuni panti asuhan Putra Muslimat Kauman Brebes, panti asuhan Muhammadiyah Pasarbatang dan panti asuhan Darul Nadlonal Gamprit Brebes. “Meskipun besarnya santunan kecil, tapi mudah-mudahan bernilai tinggi sebagai bentuk kepedulian kami,” tambah Makmur.

Ahmad, salah seorang penghuni panti merasa gembira mendapatkan santunan dari Kemenag. Karena perhatian dari instansi menjelang hari raya dan tahun pelajaran baru sangat meringankan beban dirinya. “Ya, Alhamdulillah bisa buat beli buku baru,” tuturnya.

Selain pemberian santunan, Kemenag juga memberikan bantuan Al-Qur’an, ruku, sarung, mukena untuk 34 masjid di 17 kecamatan se-Kabupaten Brebes. Pemberian bantuan diserahkan pada saat Safari Ramadhan bersama Bupati Brebes dan Forkompinda. “Minimal, di masjid tersebut tersedia Al-Qur’an, sarung dan mukena untuk memfasilitasi para musafir yang hendak beribadah shalat,” terangnya. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur bertekad “melawan” narkoba yang telah menjangkiti anak-anak muda. Untuk itu, GP Ansor? akan mengadakan penyuluhan antinarkoba kepada anak-anak muda dan deklarasi Badan Ansor Antinarkoba (Baanar), kemudian ikrar pemuda santri berprestasi Bondowoso antinarkoba.

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)
Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada akhir pekan ini yaitu, Jumat- Sabtu (26-27/8) di Ijen View Hotel. Kegiatan tersebut rencananya diikuti 65 peserta; dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat NU, santri dan para Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Bondowoso.

“Narasumber penyuluhan ini didatangkan dari Kementerian Sosial dan Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor," kata Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil saat ditemui Ribath Nurul Hidayah di Kantor Markar Besar GP Ansor Bondowoso Selasa malam (23/8).

Ribath Nurul Hidayah

Lebih rinci Muzammil menjelaskan, pada 27 Agustus, akan diadalan Deklarasi Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) dan Ikrar Pemuda-Santri Bondowoso Anti Narkoba di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Desa Tangsil Wetan, Kecamatan Wonosari. Kegiatan tersebut akan diikuti sekitar1500 orang dari unsur pemuda dan santri dan dihadiri Menteri Sosial RI Hj. Khafifah Indar Parawansa.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Muzammil kegiatan tersebut diadakan kerana akhir-akhir ini peredaran Narkoba sudah merambah ke pelosok-pelosok desa dan tentunya harus diantisipasi sejak dini.

GP Ansor, katanya, akan selalu memberikan penyadaran dan penyuluhan secara intensif kepada kader-kader Ansor agar tidak terpengaruh oleh benda-benda haram tersebut.

Ia juga berharap dengan diadakannya kegiatan terrsebut, ada antisipasi sejak dini yang dilakukan oleh semua pihak terutama pemangku kebijakan yang tergabung dalam Forpimda Kabupaten Bondowoso.

“Semua pihak harus terus memberikan support terhadap pemuda dan santri agar terhindar dari pengaruh benda haram (narkoba),” pungkasnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (I)

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Berat badan Hakam Mabruri cuma 45 kg dan tinggi badannya 160 cm. Sementara Rofingatul Islamiah 45 kg dengan tinggi 155 cm. Namun, berat dan tinggi badan bukan patokan besar dan tidaknya nyali. Pasangan suami istri itu bernyali besar. Mereka hendak berkeliling dunia tanpa uang sepeser pun dengan mengendarai sepeda.?

Mereka akan bersepeda melewati beberapa negara, mulai Singapura, Malaysia, Thailand, Neval, India, Yordania, Israel, Mesir, Sudan, Arab Saudi. Di negara terakhir tersebut, Hakam masih berpikir untuk mengunjungi beberapa negara tetangga Arab. Atau langsung pulang kembali ke tanah air. Kepulangan tersebut pun masih belum ditentukan caranya apakah kembali dengan sepeda atau naik pesawat.?

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (I)

Hakam dan istrinya telah bersepeda dari kampung halamannya, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Sabtu 17 Desember 2016. Sampai di Jakarta pada Selasa 10 Januari 2017. Selama beberapa bulan misinya terhenti karena mengurusi visa dan bekal selama di perjalanan.?

Setelah itu selesai, pada 21 Maret 2017, pasangan tersebut berangkat kembali. Mereka dilepas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dari kantor PBNU, Jakarta. Kiai Said mendoakan pasangan Gerakan Pemuda Ansor dan Fatayat NU asal Malang, Jawa Timur itu. Perjalanan kali ini mereka menumpangi kapal laut menjelajahi daerah-daerah di Sumatera untuk selanjutnya bersepeda ke negara tetangga sesuai rute yang telah disusun.

Selepas mghrib kedua pasangan itu kemudian bertolak ke Tanjung Priok. “Malam itu juga kami membeli tiket kapal laut KM Salvia yang dibantu oleh teman-teman Fedtruk, Komunitas Sepeda Federal Tanjung Priok. Suasana hujan mengiringi kami dari basecamp Fedtruk,” kata Hakam yang saat ini sedang berada di Bangka Belitung.?

Ribath Nurul Hidayah

“Jam 12 tertulis di tiket, tapi pada prakteknya, kami harus ngantre sampai menjelang pagi. Kisaran jam 2:30 WIB, kami baru masuk dan kapal pun berangkat jam 05:50 Wib. Perjalanan dalam via kapal kita lakukan selama kurang lebih 21 jam. Menjelang subuh tanggal 23 Maret kapal kami sandar di Pangkal Balam. Setelah kami turun kami pun langsung mencari masjid terdekat dan melakukan solat subuh sebelum mengatur rute awal kami selama di pulau bangka,” katanya.?

Kemudian pukul 07:30 WIB kami mencari sarapan sekadar mengganjal perut sambil mengontak teman-teman dari komunitas sepeda di Pangkal Pinang. Akhirnya, setelah kontak per telepon, kami pun ditawari mampir di toko teman itu. Kami pun akhirnya mampir di toko sepeda itu. Tapi karena brand merk sepeda kami besebrangan, mereka tidak bisa membantu kami lebih. Kami pun menyadari semua itu. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan ke arah Koba, Kabupaten Bangka Tengah.?

Siang hari, kami mampir di sebuah wrung untuk makan siang. Kami pun mulai sosialisai pada pengunjung warung, kami dari pulau Jawa untuk mengemban misi menyebarkan perdamaian antarumat beragama. Ternyata di pulau Bangka ini mereka menceritakan sangat toleran dalam beragama, pembauran sangat kental antaretnis dan mereka pun sangat menyambut gembira mendengar pihak PBNU mau memberangkatkan kami. Di setiap kami istirahat, kami selalu mengobrol dengan penduduk lokal yang sangat menjunjung tinggi asas ke kebhinekaan. Bersambung…(Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah News, RMI NU, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Mesir Tempat Terburuk Bagi Perempuan di Arab

Kairo, Ribath Nurul Hidayah. Mesir kini menjadi negara terburuk untuk hak-hak perempuan di dunia Arab, menurut sebuah jajak pendapat yang melibatkan pakar-pakar kesetaraan gender.

Mesir Tempat Terburuk Bagi Perempuan di Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
Mesir Tempat Terburuk Bagi Perempuan di Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

Mesir Tempat Terburuk Bagi Perempuan di Arab

Studi itu menemukan bahwa pelecehan seksual, tingginya tingkat praktik sunat pada perempuan dan pertumbuhan kelompok-kelompok Islam konservatif berkontribusi pada rendahnya ranking Mesir, seperti dilaporkan oleh BBC Indonesia.

Kepulauan Comoro memuncaki tangga survei yang dilakukan oleh Thomson Reuters Foundation itu.

Ribath Nurul Hidayah

Jajak pendapat itu melibatkan 330 pakar kesetaraan gender di 21 negara Liga Arab dan juga Suriah.

Ini adalah studi ketiga yayasan itu yang berkonsentrasi pada hak-hak perempuan sejak revolusi Arab di tahun 2011.

Ribath Nurul Hidayah

Pelecehan harian

Irak menempati posisi kedua terburuk setelah Mesir, disusul Arab Saudi, Suriah dan Yaman.

Kepulauan Comoro, dimana perempuan menempati 20% posisi kementerian, diikuti oleh Oman, Kuwait, Yordania dan Qatar.

Jajak pendapat itu meminta pakar untuk menilai faktor-faktor seperti kekerasan terhadap perempuan, hak-hak reproduksi, perlakukan terhadap perempuan di keluarga dan peran perempuan di politik serta ekonomi.

Hukum diskriminasi dan naiknya angka perdagangan manusia berkontribusi terhadap Klik posisi Mesir di dasar ranking 22 negara Arab, kata survei tersebut.

"Ada desa-desa di luar Kairo dan di tempat lain dengan aktivitas ekonomi utama perdagangan perempuan dan kawin paksa," kata Zahra Radwan dari LSM Global Fund for Women yang berbasis di AS.

Namun, pelecehan seksual disebut sebagai faktor utama.

Sebuah laporan PBB pada April mengatakan 99,3% perempuan dan anak perempuan di Mesir menjadi korban pelecehan seksual.

"Penerimaan sosial akan pelecehan seksual harian berdampak pada semua perempuan di Mesir, terlepas dari usia, profesi atau latar belakang sosial ekonomi, status pernikahan, pakaian atau perlakuan," kata Noora Flinkman dari kelompok kampanye Mesir HarrassMap.

Sementara itu, survei juga mengatakan Irak kini menjadi lebih berbahaya bagi perempuan dibandingkan dengan masa kekuasaan Saddam Hussein.

Klik Arab Saudi juga dinilai buruk dalam melibatkan partisipasi perempuan di politik, diskriminasi tempat kerja, kebebasan bergerak dan hak-hak properti.

Tapi negara konservatif mendapat nilai lebih baik dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya menyangkut akses pendidikan dan kesehatan, hak reproduksi atau kekerasan gender. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, News Ribath Nurul Hidayah

Senin, 26 Juni 2017

Usai DIlantik, PCNU Kota Malang Rumuskan Program Kerja

Malang, Ribath Nurul Hidayah - Setelah sehari sebelumnya, Sabtu (18/2), mengadakan pelantikan yang dihadiri oleh Rais Aam PBNU Dr KH Maruf Amin dan Ketua PWNU Jawa Timur KH M Hasan Mutawakkil Alallah, Pengurus Cabang NU Kota Malang melaksanakan Musyawarah Kerja (Musker) di Gedung DPRD Kota Malang, Ahad (19/2).

Acara ini dibuka oleh Ketua DPRD Kota Malang Arif Wicaksono. Arif menyampaikan, "NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia telah menempatkan kader-kadernya di semua posisi struktural baik di legislatif, eksekutif, yudikatif, dan jajaran TNI dan Polri. Karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi DPRD untuk membuka selebar-lebarnya ruang untuk bagi ormas-ormas."

Usai DIlantik, PCNU Kota Malang Rumuskan Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai DIlantik, PCNU Kota Malang Rumuskan Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai DIlantik, PCNU Kota Malang Rumuskan Program Kerja

Ia berharap, kehadiran para kiai-kiai di gedung DPRD akan menjadikan gedung ini sejuk dan menyejukkan. "Gedung ini sering panas (rapat gaduh, red). Semoga kehadiran kiai-kiai membawa berkah untuk semua wakil rakyat yang ada di sini agar semakin bersih," imbuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Ketua PCNU Kota Malang KH Isroqun Najah (Gus Is) mengatakan, rangkaian pelantikan dan musyawarah kerja PCNU Kota Malang ini difasilitasi oleh Ketua DPRD.

"Karena NU Kota Malang tahun ini mengusung agenda ketahanan umat. Begitu juga struktur yang disediakan juga menyesuaikan dengan agenda-agenda penting kenegaraan seperti pembinaan spiritual, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan sumberdaya," kata Gus Is.

Dalam musyawarah kerja pertama (Musker I) ini, beberapa agenda yang akan dibahas di antaranya adalah konsolidasi organisasi, penyiapan kerangka dasar manajemen dalam pengelolaan potensi dan program, membangun jaringan internal dan eksternal, strategi dakwah dunia maya, serta penguatan ekonomi dan usaha kelambagaan NU Kota. (Moh Fauzan/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Halaqoh, Kajian Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 25 Juni 2017

Kisruh Ansor, Perlu Pengembalian Mekanisme Tata Tertib

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah
Ricuhnya kongres GP Ansor ke-13 yang usai ditutup hari ini, senin (4/4) bisa di selesaikan dengan jalan mengembalikan mekanisme pemilihan sesuai dengan tata tertib yang di sepakati ketika sidang paripurna di gelar. "Ini harus dilakukan untuk menjaga kredibilitas organisasi, apalagi Ansor merupakan aset NU yang mestinya mengedepankan mekanisme demokrasi dalam setiap keputusannya," demikian diungkapkan Wakil Sekjen PBNU, Saeful Bahri Ansori kepada Ribath Nurul Hidayah di kantor PBNU, Senin (4/4).

Menurutnya, jika menggunakan logika organisasi yang benar pengembalian mekanisme itu perlu, karena menyangkut keabsahan keputusan tertinggi dalam sebuah rapat organisasi. "Bagaimana mungkin keputusan rapat paripurna bisa dikalahkan derajatnya oleh sebuah keputusan yang lebih rendah, dan parahnya keputusan itu keluar dari tata tertib yang telah disepakati sebelumnya. Jadi saya mengangap sekarang ini tidak ketua umum Ansor karena mekanisme pemilihannya tidak sah," ungkap Saeful seraya mengatakan, Kongres XIII Ansor ini merupakan kongres terburuk dalam sejarah kongres organisasi kepemudaan NU tersebut.

Karena itu, lanjut mantan ketua umum PB PMII ini, untuk menghindari berlarut-larutnya konflik di tubuh Ansor, PBNU selaku stake holder perlu turun tangan untuk menghindari pecahnya salah satu aset besar NU ini. "Meskipun Ansor sebagai badan otonom memiliki hak untuk menyelenggarakan urusan internalnya, tetapi jika terjadi konflik, PBNU memiliki tanggung jawab moral selaku "bapak" terhadap "anaknya", apalagi ada ketentuan AD/ ART PBNU yang mengatur itu," tandas alumnus IAIN Djogjakarta ini.

Ditambahkan Saeful, ricuhnya pelaksanaan kongres kali ini harus bisa dijadikan tantangan bagi kader Ansor ke depan untuk mengembalikan organisasi ini sesuai dengan semangat kesejarahan yang di dirikannya yakni membentuk dan mengembangkan generasi muda Indonesia sebagai kader bangsa yang tangguh, memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, berkepribadian luhur, berakhlak mulia, sehat, terampil, patriotik, ikhlas, dan beramal saleh.

"Inilah tantangan yang harus di jawab secara serius oleh kader-kadernya sesuai trilogi tujuan GP Ansor, yaitu kaderisasi, ideologisasi, dan aksi nyata,  yang ditpoang melalui wacana intelektual agar tidak terjebak pada "paradigma kekuasaan" dan pragmatisme," imbuh Saeful yang mengaku mengikuti beberapa kali penyelenggaraan Kongres Ansor ini. (cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Warta, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Kisruh Ansor, Perlu Pengembalian Mekanisme Tata Tertib (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisruh Ansor, Perlu Pengembalian Mekanisme Tata Tertib (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisruh Ansor, Perlu Pengembalian Mekanisme Tata Tertib

Sabtu, 24 Juni 2017

Yudi Latif: KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan Penjaga Kearifan Lokal

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia) Yudi Latif menyampaikan tentang sikap toleransi KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) dan KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muahmmadiyah) terhadap kearifan-kearifan lokal Nusantara.

Menurutnya, kepulangan keduanya dari Haramain (pusat Salafi-Wahabi) ke tanah Jawa, tidak membuatnya secara otomatis mengajarkan ajaran Salafi-Wahabi, karena mereka berdua tidak ingin ajaran Islam datang ? membunuh kearifan-kearifan lokal yang sudah ada.

Yudi Latif: KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan Penjaga Kearifan Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Yudi Latif: KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan Penjaga Kearifan Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Yudi Latif: KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan Penjaga Kearifan Lokal

“Mereka (KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan) percaya, Islam itu datang tidak untuk menyalahkan kebenaran yang ada terlebih dahulu. Islam datang justru untuk membenarkan kebenaran-kebenaran yang sebelumnya sudah ada,” kata Yudi Latif saat mengisi acara Refleksi Kebangsaan 71 tahun Muslimat NU di Hotel Crowne Plaza, Jakarta Pusat, Senin (27/3) lalu.

Pada acara yang bertemakan Pancasila, Agama dan Negara ini, ia mengatakan, jauh sebelum Islam datang ke Nusantara dengan konsep Rahmatan lil Alamin, sudah banyak ajaran-ajaran lokal yang telah berbicara konsep tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

“Kalau kita mengatakan Islam menjadi rahmat bagi seluruh sekalian alam, maka jauh sebelum Islam datang (ke Nusantara), sebenarnya ajaran-ajaran kearifan Nusantara juga sudah bicara itu,” ujar penulis buku Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila ini .

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia ini mencontohkan, kalau di dalam ajaran sunda, rahmatan lil alamin itu silih asih, silih asah, dan silih asuh, yaitu saling mengasihi, saling mengasah, saling mengasuh.

Begitu pun di Jawa dan Maluku, katanya, di Jawa ada ajaran memayu hayuning bawana, yaitu memperindah keindahan dunia, sedangkan di Maluku ada ajaran basudara, bersaudara, artinya orang boleh beda agama, boleh berbeda ras, sejauh kita menghirup udara yang sama.

Selain Yudi Latif, juga hadir 2 pembicara lainnya, yaitu Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Solahuddin Wahid, Ketua MPR Zulkifli Hasan. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, News Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 21 Juni 2017

Ishari, Ikatan Seni Hadrah Harus Berinovasi

Jember, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Seni Hadrah Indonesia atau Ishari harus mengembangkan diri dan mencari terobosan baru agar organisasi seni hadrah milik NU tersebut bisa eksis dan tetap diterima masyarakat.

Ishari, Ikatan Seni Hadrah Harus Berinovasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ishari, Ikatan Seni Hadrah Harus Berinovasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ishari, Ikatan Seni Hadrah Harus Berinovasi

Demikian disampaikan Ketua PCNU Jember KH. Abdullah Syamsul Arifin saat memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Cabang Ishari ke-VI di aula kantor PCNU Jember, Ahad (27/10).

Kiai yang akrab disapa Gus A’ab  menilai, dewasa ini, perkembangan seni hadrah cukup pesat. Salah satunya kemunculan seni hadrah al-Banjari. “Sekarang al-Banjari cukup mendominasi dan itu harus disikapi oleh Ishari,” uajrnya.

Ribath Nurul Hidayah

Gus A’ab mengakui, saat ini eksistensi Ishari mulai meredup seiring dengan munculnya kelompok-kelompok seni hadrah yang lain. Meredup dalam arti tidak banyak event-event yang di dalamnya ditampilkan seni hadrah Ishari.

“Sebetulnya, al-Banjari bukan saingan, karena intinya sama-sama membaca shalawat. Tapi Ishari ini ‘kan milik NU sehingga harus tetap eksis,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh karena itu, Gus A’ab berharap agar Ishari mencari terbosan baru dan selalu mengikuti perkembangan seni hadrah yang ada agar Ishari tidak ketinggalan jaman sehingga tetap diminati masyarakat. Ishari harus kreatif, namun tetap menjaga jati diri aspek shalawat maupun aspek tradisionalnya (seni hadrah),” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PC Ishari Cabang Jember, H. Abdul Wahid menyatakan, selain akan memilih ketua baru, Muscab Ishari kali ini juga akan menyusun program baru, termasuk membentuk Anak Cabang Ishari di beberapa kecamatan yang belum terbentuk. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News Ribath Nurul Hidayah

Buruk Muka Regulasi Lima Hari Sekolah

Oleh R. Ferdian Andi R?

Polemik soal belajar delapan jam sehari atau full day school yang diformat dalam bentuk Lima Hari Sekolah masih terus muncul di tengah-tengah masyarakat. Ide yang diakomodasi melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 ini sejak bulan Juni lalu telah memantik perdebatan panjang di masyarakat.?

Sejumlah elemen masyarakat di antaranya Nahdlatul Ulama (NU) salah satu ormas yang paling getol menolak ide ini. Ekspresi penolakan atas ide ini juga muncul melalui demonstrasi di sejumlah wilayah seperti di Jawa Tengah dan ? Jawa Timur. Dua fraksi di DPR yakni Fraksi PPP dan Fraksi PKB juga paling getol menolak kebijakan ini. Seperti Fraksi PPP awal Agustus ini secara resmi membuka posko pengaduan masyarakat terkait implementasi full day school ini. Sedangkan Fraksi PKB terus menyuarakan penolakan terhadap kebijakan tersebut.?

Buruk Muka Regulasi Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Buruk Muka Regulasi Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Buruk Muka Regulasi Lima Hari Sekolah

Bagi kalangan penolak program pemerintah ini menilai, sekolah delapan jam sehari bakal mematikan Madrasah Diniyah (Madin) dan pendidikan nonformal yang telah tumbuh di tengah masyarakat sejak lama. Karena jika sekolah formal diselenggarakan hingga delapan jam, maka alokasi waktu anak-didik tersedot untuk pendidikan formal di sekolah. Padahal penyelenggaraan pendidikan nonformal seperti Madin dilakukan pada sore hari, usai anak sekolah pulang sekolah atau bahkan di saat sekolah berlangsung.?

Merespons penolakan di publik atas rencana program sekolah delapan jam, pertengahan bulan Juni lalu, pemerintah mengambil sikap Permendikbud 23 Tahun 2017 yang isinya soal aturan delapan jam sekolah itu tidak efektif hingga terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) yang mengakomodasi aspirasi dari masyarakat tentang delapan jam belajar atau lima hari seklah tersebut.?

Ribath Nurul Hidayah

Meski dalam praktiknya, sekolah delapan jam tetap efektif berjalan di sejumlah daerah yang dimulai sejak awal tahun ajaran baru tengah bulan Juli lalu. Padahal sebelumnya pemerintah memastikan full day school ini tidak efektif hingga turunnya Perpres, meski hingga saat ini Perpres yang dijanjikan pemerintah itu tak kunjung terbit.?

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas soal keunggulan dan kelemahan penerapan full day school sebagaimana diatur dalam Permendikbud 23 Tahun 2017 itu. Karut marut penerapan delapan jam belajar ini bermuara dari regulasi yang diterbitkan pemerintah. Karena persoalan serupa tidak hanya dalam perkara full day school saja, sebelumnya pada akhir tahun lalu soal kenaikan pengurusan STNK dan BPKB melalui PP No 60 tahun 2016 juga menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat.?

Partisipasi masyarakat dan penyebarluasan?

Ribath Nurul Hidayah

Landasan yuridis penerbitan Permendikbud No 23 Tahun 2017 mengacu kepada sejumlah regulasi seperti ? UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, UU No 5 Tahun 2014 tentang Apratur Sipil Negara, PP No 74 Tahun 2008 tentang Guru, PP No 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dan sejumlah regulasi lainnya.?

Namun sayangnya, Permendikbud No 23 Tahun 2017 itu mendapat respons miring dari publik. Sejumlah protes muncul dari masyarakat. Kondisi ini tidak akan terjadi, bila pemerintah berpegang secara konsisten prosedur pembentukan peraturan perundang-undangan, instrumen partisipasi masyarakat serta penyebarluasan peraturan perundang-undangan dapat menjadi jalan keluar atas persoalan yang kerap muncul dalam penyusunan peraturan perundang-undangan. ?

Karena, dalam setiap penyusunan peraturan perundang-undangan semua harus terprogram dan terencana mulai dari perencanaan, penyusunan hingga pengundangan. Penyusunan peraturan perundang-undangan tidak bisa dilakukan tanpa perencanaan.?

Di tingkat eksekutif terdapat Program Penyusunan Peraturan Pemerintah dan Peratruan Presiden yang disusun setiap awal tahun. Sedangkan di legislatif memiliki instrumen berupa Program Legislasi Nasional (Prolegnas) yang disepakati bersama antara DPR dan Pemerintah di setiap akhir tahun. ?

Seperti ketentuan di Pasal 183 ayat (2) Perpres No 87 Tahun 2014 disebutkan masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pendapatnya dalam penyusunan peraturan perundang-undangan melalui instrumen konsultasi publik. Ketentuan konsultasi publik merujuk ketetuan di pasal yang sama diwujudkan dengan peraturan menteri hukum dan HAM. Meski, hingga saat ini, Pemenkumham terkait dengan konsultasi publik tersebut tak kunjung disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM.?

Partisipasi masyarakat ini sejalan dengan gagasan demokrasi deliberatif yang digaungkan oleh Juergen Habermas dengan menekankan bahwa hukum dapat dipatuhi ? jika dihasilkan melalui diskursus praktis dalam proses penyusunan peraturan perundang-undangan yang berupa opini publik dan aspirasi politis (F. Budi Hardiman, 2009). Hal ini juga linier dengan posisi Indonesia yang sekaligus sebagai salah satu inisiator dalam open goverment partnership (OGP) yang menekankan transparansi dan partisipasi publik dalam penyusunan peraturan perundang-undangan.?

Hal lain yang juga memiliki peran penting dalam pembentukan peraturan perndang-undangan yakni berupa penyebarluasan peraturan perundangan-undangan. Dalam konteks ini, penyebarluasan program penyusunan peraturan pemerintah (PP) maupun peraturan presiden (Perpres), baik dalam tahap penyusunan, rancangan Peraturan Pemerintah dan rancangan Perpres termasuk juga menyebarluaskan PP dan Perpres yang telah diundangkan. (Pasal 180 Perpres No 87 Tahun 2014).?

Sayangnya, pemerintah tampak alpa terkait ketentuan tersebut. Alih-alih publik mengetahui proses program penyusunan Permendikbud 23 Tahun 2017, pubik jutsru baru mengetahui setelah regulasi tersebut diundangkan pada 12 Juni 2017 lalu. Signifikansi dari penyebarluasan tersebut tentu agar publik memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasinya terhadap produk hukum yang akan diundangkan.?

Analisis dampak penerapan peraturan?

Poin lainnya yang tak kalah penting dilakukan oleh pembuat peraturan perundangan-undangan yakni melakukan analisa dampak penerapan peraturan perundang-undangan atau regulatory impact assessment. Instrumen ini cukup penting dalam setiap merumuskan sebuah peratruan perundang-undangan.?

Kajian yang mendalam atas setiap peraturan yang akan diundangkan merupakan kunci atas efektif tidaknya sebuah peraturan perundang-undangan. Dengan cara ini diyakini setiap produk hukum yang dihasilkan oleh pembuat peraturan perundang-undangan dapat memotret secara obyektif terhadap obyek hukum yang bakal menjalankan ketentuan dalam peraturan tersebut.?

Dalam konteks Permendikbud No 23 Tahun 2017 ini, semestinya sejak awal pemerintah dapat mengetahui kondisi sosial masyarakat atas penerapan sekolah delapan jam. Masukan dan aspirasi yang muncul dari masyarakat dapat menjadi bahan penting bagi pemerintah dalam menyusun suatu peraturan perundang-undangan. Kondisi yang dipotret tentu bukan hanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan kota besar lainnya namun juga daerah-daerah yang jauh dari keramaian di pelosok nusantara.?

Setiap peraturan perundang-undangan harus memiliki spirit konstitusional yakni berupa perlindungan terhadap segenap warga negara tanpa terkecuali. Pertauran yang merugikan hak konstitusional warga negara tentu secara terang melanggar spirit konstitusi. Hal ini pula yang disuarakan oleh Ronald Drowkin (1986), membaca konstitusi tidak sekadar teks yang tertulis dalam kitab konstitusi, namun konteks dari norma konstitusi berupa moral (moral reading) dan etik tersebut juga harus dibaca.

Rencana pemerintah yang akan menerbitkan Perpres untuk mengakomodasi aspirasi yang muncul atas rencana penerpaan full day school juga bukanlah jalan keluar yang tepat. Gagasan tersebut jelas tanpa melalui perencanaan yang matang alias ide ujug-ujug yang tak terencana. Padahal, pemerintah setiap awal tahun telah membuat rencana kerja legislasi seperti Peraturan Pemerintah (PP) maupun Peraturan Presiden (Perpres). ?

Kondisi ini justru memukul mundur atas rencana reformasi legislasi yang digaungkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo sejak tahun lalu itu. Alih-alih hendak mereformasi legislasi, pemerintah justru menghadirkan wajah buram dalam legislasi. Permendikbud No 23 Tahun 2017 menjadi contoh nyata buruknya perencanaan dan pengkajian sebuah regulasi.?

Penulis adalah Pengajar Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta, Peneliti Hukum Konstitusi di Asosiasi Sarjana Hukum Tata Negara (ASHTN) Indonesia, Alumnus Pondok Pesantren Al-Multazam Balung, Jember.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Ahlussunnah, Doa Ribath Nurul Hidayah

Senin, 19 Juni 2017

Pandangan Imam Syafii Perihal Shalawat di Hari Jum’at

Memperbanyak shalawat termasuk bagian dari ekspresi kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Mengamalkan sunah Nabi dengan mencontoh pakaian dan bentuk fisiknya misalnya tidak cukup tanpa menghadiahkan shalawat kepada kanjeng Nabi. Semasa hidupnya, Nabi pernah mengatakan, “Orang pelit itu adalah orang yang disebut namaku tapi dia tidak mau bershalawat kepadaku,” (HR Ahmad).

? ? ? ? ? ? ? ?

Pandangan Imam Syafii Perihal Shalawat di Hari Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan Imam Syafii Perihal Shalawat di Hari Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan Imam Syafii Perihal Shalawat di Hari Jum’at

Artinya, “Orang bakhil adalah orang yang bila disebut namaku, dia tidak bershalawat kepadaku.”

Ribath Nurul Hidayah

Meskipun Nabi sudah tiada, kita tetap masih bisa menyampaikan salam kepada Beliau. Nabi pun akan mendengar setiap salam yang disampaikan umatnya. Bagaimana caranya? Tiada jalan lain kecuali dengan memperbanyak shalawat. Setiap shalawat yang dilantunkan umatnya didengar oleh Nabi SAW. Abdullah Ibnu Mas’ud pernah mendengar Nabi SAW bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Artinya, “Allah SWT memiliki malaikat yang berkunjung ke bumi, mereka senantiasa menyampaikan salam dari umatku,” (HR Ahmad).

Hadits ini dapat dipahami bahwa setiap shalawat yang kita lantunkan didengar oleh Nabi SAW melalui perantara malaikat. Membaca shalawat dianjurkan kapanpun dan di manapun. Namun memperbanyaknya sangat dianjurkan pada hari Jum’at, baik siang maupun malamnya.

Imam As-Syafi’i dalam Al-Umm mengatakan, “Saya suka memperbanyak shalawat kepada Nabi di setiap waktu, tapi pada hari Jum’at dan malamnya, saya membacanya lebih banyak karena ada kesunahan.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Saya suka membaca shalawat sebanyak-banyaknya kapanpun, tapi saya lebih banyak membacanya di hari Jum’at dan malamnya, karena disunahkan.”

Pendapat Imam As-Syafi’i ini diperkuat oleh hadits riwayat Aws Ibn Aws, seperti yang dikutip Abu Bakar Al-Maruzi dalam Al-Jum’ah wa Fadhluha bahwa Nabi bersabda.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jum’at merupakan hari yang paling mulia, sebab pada hari itu Nabi Adam diciptakan dan dicabut nyawanya, dan sangsakala Kiamat juga ditiup pada hari Jum’at. Karenanya, perbanyaklah shalawat kepadaku. Sejatinya shalawat kalian itu sampai kepadaku.”

Kami berkata, “Bagaimana bisa sampai kepadamu padahal Engkau telah tiada? Bukankah jasadmu telah hancur?” tambah sahabat lainnya. “Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bumi untuk menghancurkan tubuh para nabi,” jawab Nabi.

Berdasarkan hadits dapat dipahami bahwa jasad para nabi termasuk Nabi Muhammad SAW tidak hancur ditelan bumi. Mereka dapat mendengar shalawat yang kita lantunkan setiap saat. Karenanya perbanyaklah shalawat terutama pada hari Jum’at. Dalam Dalilul Falihin disebutkan, Ibnu Hajar Al-Haitami berpendapat bahwa Nabi SAW mendengar dengan kedua telinganya setiap shalawat yang dilantunkan umatnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara Ribath Nurul Hidayah

KMNU di UII Yogyakarta Siap Syiarkan Amaliyah NU di Kampus

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Islam Indonesia (KMNU UII) masa khidmat 2015/2016 resmi dilantik di aula pesantren Ki Ageng Giring, Ngaglik, Sleman, Ahad (31/5). Diawali dengan khotmil quran, tahlil, dan doa, pengurus baru mengikrarkan janji setia KMNU untuk mensyiarkan amaliyah NU di kampus.

Pelantikan ini dipimpin perwakilan presidium nasional (presnas) 4 KMNU Syamsuddin. Tampak hadir Ketua BPH Regional 2 KMNU M Dliyaudin, perwakilan KMNU UNY, perwakilan KMNU UGM, dan perwakilan dari civitas UII.

KMNU di UII Yogyakarta Siap Syiarkan Amaliyah NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU di UII Yogyakarta Siap Syiarkan Amaliyah NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU di UII Yogyakarta Siap Syiarkan Amaliyah NU di Kampus

Ketua KMNU UII Mazdan mengatakan, pelantikan pengurus KMNU UII ini meningkatkan semangat masing-masing pengurus untuk berdakwah ala Aswaja NU di kampus UII.

Ribath Nurul Hidayah

“Karena adanya KMNU UII ini diharapkan dapat memfasilitasi mahasiswa asal pesantren atau masih mambu santri untuk bisa meneruskan kebiasaan santri seperti kajian dan amaliyah lainnya.”

Syamsuddin mengapresiasi KMNU UII yang awal berdirinya hanya dirintis oleh tiga orang. “Alhamdulillah sekarang tiga orang ini dapat menjaring teman-teman lainnya untuk memantapkan diri menjadi bagian KMNU dan mengabdi kepada NU.”

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Syam, di usia muda KMNU UII pengurusnya tidak perlu bernafsu untuk menjadi besar. Untuk menjadi besar itu perlu proses yang tidak mudah dan panjang. Syam mengimbau pengurus baru ini untuk memperkuat internal terlebih dahulu sebagai proses awal menuju lebih baik. (Ulinnuha/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Berita, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 18 Juni 2017

Perwujudan Kalender Islam Terintegrasi melalui Hisab-Rukyat

Selama ini perhatian umat Islam tentang awal bulan kalender Islam lebih terfokus pada bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijah. Setiap tahun sering dikhawatirkan munculnya perbedaan dalam permulaan Ramadhan dan Idul Fitri. 

Perbedaan ini muncul sebetulnya bukan karena persoalan hisab dan rukyat semata. Tetapi ada persoalan fundamental yang tidak disadari oleh umat Islam, yaitu belum adanya ‘kalender Islam terintegrasi’. Oleh karena itu, perbedaan Lebaran akan senantiasa muncul. Sistem kalender Hijriah mengharuskan adanya kepastian (Muharram sampai Zulhijah) yang dikonstruksi dari hasil pemahaman terhadap nash dan sains dengan pendekatan interdisipliner. 

Perwujudan Kalender Islam Terintegrasi melalui Hisab-Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Perwujudan Kalender Islam Terintegrasi melalui Hisab-Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Perwujudan Kalender Islam Terintegrasi melalui Hisab-Rukyat

Buku ini menjelaskan mengenai penentuan awal bulan pada bulan Qamariah. Terdapat sembilan bab yang memiliki beberapa sub bab. Bab mengenai seluk beluk rukyat dan hisab. Diantaranya: hisab-rukyat menurut fukaha madzhab, ulama kontemporer dan ulama klasik. Buku ini juga membahas mengenai aspek astronomis penentuan awal bulan. Pada bab ini meliputi karakteristik hilal dan fase-fase bulan, data hisab Syawal 1428 H, kelemahan dan kelebihan dari rukyat, kelemahan dan kelebihan dari hisab. Selain itu, buku ini menjelaskan problematika hilal, meliputi terminologi hilal: hilal secara bahasa, hilal berdasarkan Al-Qur’an dan as-sunnah, hilal secara astronomi dan hilal dalam konteks negara. Hilal dalam konteks negara meliputi di berbagai negara, yaitu hilal Indonesia. Hilal di Indonesia memiliki tiga elemen, hilal NU, hilal Muhammadiyah, dan hilal pemerintah. Selain itu, dijelaskan juga hilal yang terdapat di Mesir, Arab Saudi, dan hilal di Libya. Tidak hanya sekedar menjelaskan teori, buku ini juga menjelaskan konsep dan metode hisab. 

Selain itu, terdapat bab yang membahas mengenai matlak, yaitu: definisi dari matlak, latar belakang munculnya istilah matlak, ukuran dan teritorial matlak, problem dan prospek penerapan matlak, dan matlak di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Pembahasan dalam buku ini berkisar tentang hisab-rukyat yang merupakan persoalan klasik umat Islam di Indonesia dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Pada buku ini penulis tidak menjustifikasi pilihan hisab atau rukyat, karena sejatinya keduanya ibarat dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya tidak bertentangan selama dipahami dan diposisikan secara benar. Rukyat sebagai observasi empirik adalah proses yang telah teruji dan dipraktikkan dari zaman ke zaman dan terbukti melahirkan berbagai teori-teori sains. Sains pun mencakup hisab, dengan tata kerja dan sifatnya terus berkembang dengan temuan-temuan terkininya hingga mencapai ketepatan presisi sehingga tidak mungkin diabaikan begitu saja.

Buku ini ditulis oleh Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar. Ia adalah alumni S-1 jurusan Syariah Universitas Islam Sumatera Utara (lulus tahun 2003), alumni S-2 dan S-3 “Institute of Arab Research and Studies” Cairo, Mesir  (S-2 lulus tahun 2009-, S-3 lulus tahun 2012).   Data buku

Judul buku : Problematika Penentuan Awal Bulan: Diskursus antara Hisab dan Rukyat

Penulis : Dr. H. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA. 

Penerbit : Madani

Tahun Terbit : 2014

Jumlah Halaman : 160 Hlm

ISBN : 978-602-14987-2-9

Peresensi :  Alvi Nurhayati, mahasiswa jurusan sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Halaqoh, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 15 Juni 2017

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah

Pati, Ribath Nurul Hidayah. Ratusan mahasiswa Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) dan santri dari berbagai pondok pesantren di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati berduyun-duyun mendonorkan darah di kampus setempat.

Aksi tersebut, baru kali pertama dan tidak biasa dilakukan dalam rangkaian peringatan Haul Syekh Ahmad Mutamakkin. Haul yang digelar setiap 10 Muharram itu, mengundang partisipasi banyak kalangan, terutama kalangan santri dan pelajar.

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah

Para peziarah dan pedagang dari berbagai daerah juga turut meramaikan haul tersebut. Bagi warga masyarakat, santri pondok pesantren dan lembaga pendidikan di Kajen, Haul Syekh Ahmad Mutamakkin menjadi momentum untuk bertemu dalam kegiatan positif. Sekaligus mengawali tahun dengan aktivitas yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

Aksi donor darah berlangsung Rabu (21/10). “Donor darah ini misalnya menjadi contoh kecil kegiatan positif di awal tahun hijriyah, sekaligus wujud solidaritas sesama insan melalui darah,” ujar Zaki Fuad panitia pelaksana donor darah di Fakultas Dakwah Progam Studi Pengembangan Masyarakat Islam.

Melalui PMI

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan itu, sedikitnya 170 Mahasiswa dan santri merelakan sebagian darahnya untuk disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Palang Merah Indonesia (PMI).

Jumlah penyumbang darah tersebut, di luar dugaan lantaran melebihi target yang ditetapkan, yakni 100 penyumbang darah.

“Mahasiswa dan santri sangat antusias sehingga jumlah penyumbang darah membeludak. Jumlah tersebut, sebenarnya bisa lebih banyak namun karena santri terkendala transportasi sehingga hanya 170 orang,” jelas Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah itu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, animo penyumbang darah yang besar menunjukkan, bahwa kepekaan sosial mahasiswa dan santri di Kajen dan sekitarnya cukup tinggi. Itu tidak terlepas dari pola pendidikan yang selama ini diterapkan, yakni memberi manfaat bagi masyarakat.

“Kedepan kegiatan seperti ini akan kami persiapkan lebih matang lagi, sehingga akan mengundang lebih banyak peserta yang terlibat tidak hanya dari kajen saja,” tandasnya.? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran

Batang, Ribath Nurul Hidayah. Menyikapi tingginya angka penganguran di Indonesia, Pemerintah melalui Direktorat Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Tenaga Kerja Sektor Informal Ditjen Binapenta dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI menyelenggarakan kegiatan Gerakan Penanggulangan Pengangguran dan Sosialisasi Tenaga Kerja Indonesia.

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran

Hadir dalam acara tersebut Dirjen Binapenta Kemenaker RI, Dinsonakertrans Provinsi Jawa Tengah, Wakil Bupati Batang, Kepala Dinsosnakertrans Batang, Anggota DPRD Kabupaten Batang, jajaran Muspika Kecamatan Limpung, tokoh agama dan tokoh masyarakat, kepala desa se-kecamatan limpung dan kepala SLTA se-Kab. Batang.

Kegiatan yang ini dilaksanakan di Desa Kepuh Kecamatan Limpung, 18-19 Oktober 2015, terselenggara atas kerja sama? Kemenaker RI, Dinsosnakertrans dan Pimpinan Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kabupaten Batang. Berbagai rangkaian kegiatan ikut memeriahkan kegiatan ini. Di antaranya adalah Pentas seni Marching Pring (bambu), Barongan dan Majlis Dzikir dan sholawat Rijalul Ansor se-Kabupaten Batang.

Ribath Nurul Hidayah

Pada puncak acara disemarakkan dengan kegiatan jalan sehat oleh Wakil Bupati Batang, Soetadi yang diikuti oleh 5000 peserta dengan total hadiah puluhan juta rupiah. Pengunjung juga dimanjakan dengan suguhan pameran berbagai produk lokal dan kerajinan dari 30 Stand UKM di Kabupaten Batang.

Dirjen dalam sambutanya menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu memberikan motivasi bagi seluruh masyarakat akan pentingnya berdikari dalam penguatan ekonomi. “Dengan mandiri, kita tidak akan selalu memiliki tergantungan kepada orang lain. Terlebih para generasi muda”. Tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Batang, Sugiatmo, memaparkan bahwa kegiatan GGP tidak hanya berhenti disini saja, tetapi harus ada pembinaan berkelanjutan terkait dengan perluasan kesempatan kerja, terutama bagi kalangan muda yang rentan terhadap meningkatnya angka pengangguran.

Acara dilanjutkan dengan kegiatan Sosialisasi TKI di Gedung MWC NU Kecamatan Limpung. Kegiatan ini diikuti oleh 300 peserta yang terdiri dari mantan TKI, Perusahaan Jasa TKI, tokoh agama dan tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan perwakilan kepala-kepala desa. Pemateri sosialisasi TKI dari Dinsosnakertrans Kabupaten Batang dan Kemenaker RI.

Budi, pemateri dari Kemenaker menyampaikan kepada calon TKI harus selektif dalam memilih PJTKI, negara tujuan dan status pekerja. “Jangan sampai kita jauh merantau, ternyata kita tertipu dan terjebak di negara orang lain, lantaran ilegal. Tidak hanya bapak/ibu yang repot, tetapi pemerintah juga ikut kerepotan,” katanya.? (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendoakan mereka yang masih lajang pada tahun ini agar mendapatkan jodoh pada 2017.

"Teman-teman semua selamat tahun baru, sukses semuanya. Yang belum ada jodoh mudah-mudahan cepat dapat jodoh," ujar Mensos di Jakarta, Sabtu.

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Doa Mensos tersebut disambut ucapan amin yang riuh dari awak media yang tengah meliput kunjungan Mensos menjenguk korban selamat dari peristiwa penyekapan Pulomas di RS Kartika Pulomas.

Mensos juga mendoakan bagi mereka yang belum mendapatkan keturunan agar segera mendapatkan anak.

Ribath Nurul Hidayah

"Pokoknya bahagia, sukses semua. Terima kasih," ucap Mensos.

Mensos direncanakan akan memberikan ceramah pada kegiatan Dzikir Nasional yang digelar harian Republika di Masjid At Tin, TMII, Jakarta Timur.

Kemudian, Mensos akan menghabiskan malam pergantian tahun di kampung halamannya di Jawa Timur. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Santri Ribath Nurul Hidayah

KH Maktum Djauhari, Pengasuh Pesantren Al-Amien Wafat

Sumenep, Ribath Nurul Hidayah. Warga muslim kembali kehilangan ulama sepuh. Kali ini Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, KH Maktum Djauhari wafat. Kiai pejuang antikorupsi tersebut mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Darmo Surabaya, Selasa (29/12).

Berita kewafatannya juga menyebar luas di media sosial. Kiai Maktum Djauhari dikabarkan meninggal dunia sekitar pukul 12.21 di Rumah Sakit Darmo Surabaya, Jawa Timur.

KH Maktum Djauhari, Pengasuh Pesantren Al-Amien Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maktum Djauhari, Pengasuh Pesantren Al-Amien Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maktum Djauhari, Pengasuh Pesantren Al-Amien Wafat

Selama hidupnya, Kiai Maktum dikenal getol menyuarakan perang besar terhadap korupsi yang menjangkiti negeri ini. Lewat taushiyah-taushiyahnya, almarhum menyatakan sangat prihatin atas maraknya kasus korupsi yang menimpa negeri ini.

Untuk itu, ia kerap menekankan kepada segenap lapisan masyarakat dan santri beserta alumni Pesantren Al-Amien supaya tidak mendekat-dekati korupsi.

Ribath Nurul Hidayah

Bahkan, menurutnya, status santri sejati tidak bisa diperoleh oleh mereka yang menimpa ilmu di pesantren manakala masih terjangkit penyakit korupsi.

"Anti korupsi adalah sebagian tanda bahwa santri telah mendapatkan ilmu yang nafi dari Allah subhanahu wataala," terang almarhum Kiai Maktum dalam suatu kesempatan menghadiri acara di Kabupaten Pamekasan beberapa waktu lalu. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 13 Juni 2017

Waspada Persaudaraan Retak karena Pilkada Serentak

Oleh Arul Elgete

Gong sudah dibunyikan. Masing-masing partai politik memunculkan nama-nama untuk dipilih masyarakat pada 27 Juni 2018 mendatang. Semua elit politik berbenah, mencari cara dan strategi untuk saling mengalahkan. Bahkan, menjatuhkan lawan main. Entahlah, apa yang sedang direncanakan para dalang di balik layar pertunjukkan.

Sebab yang pasti; dalam pemilihan kepala daerah dengan sistem elektoral; satu orang satu suara itu, masyarakat hanya dijadikan objek. Misal, kita tidak terlibat dalam menentukan siapa pasangan yang akan dijadikan pemimpin selanjutnya. Kita hanya punya hak untuk memilih pasangan yang sudah disajikan. Namun, tidak bisa turut serta dalam memunculkan nama untuk merekomendasikan seseorang, kecuali kalau kita kader partai.

Waspada Persaudaraan Retak karena Pilkada Serentak (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspada Persaudaraan Retak karena Pilkada Serentak (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspada Persaudaraan Retak karena Pilkada Serentak

Politik ala liberal memang seperti itu macamnya. Kita dipancing dengan iming-iming harga miring. Dipaksa untuk fanatik terhadap pasangan yang didukung. Sehingga, muncul percikkan api perselisihan.

Peninggalan Belanda kerap diulang dan terulang, yakni politik pecah-belah. Masyarakat, antar-warga, bahkan dengan saudara kandung sendiri, bisa saja melakukan baku hantam karena berbeda pandangan politik; fanatik. Seperti itukah yang diharapkan dari pemilukada? Mendukung, tapi dengan menghalalkan segala cara. Dan, akhirnya politik tak lagi sebagai salah satu bagian untuk dididik dan mendidik. Melainkan hanya kepentingan untuk mencapai kekuasaan.

Memangnya siapa yang akan kita pilih? Dia tetap orang lain. Dalam politik, yang fana adalah kawan dan lawan, sedangkan yang abadi adalah kepentingan. Maka itu, kita mesti mengurangi kadar fanatisme pada pemimpin yang dilahirkan dari rahim yang penuh intrik. Bukankah perbuatan yang berlebihan itu tidak disukai oleh Tuhan? Dan, ingat juga bahwa mengikutsertakan Tuhan secara berlebihan ke dalam kubang perpolitikan merupakan perbuatan yang sangat picik. 

Ribath Nurul Hidayah

Di era kekinian, untuk berkuasa di suatu wilayah sangat mudah. Pertama, mereka yang lebih dulu dikenal warga. Kedua, calon petahana akan mengungkit karya-karya yang telah diciptakan, tetapi menutup rapat-rapat kebobrokan yang kerap dilakukan. Alasannya, "Kami hanya manusia biasa yang tak lepas dari salah dan dosa. Kalau ada kurang, kami akan benahi. Karenanya, kami masih butuh waktu untuk membenahi daerah ini."

Ketiga, punya biaya yang banyak untuk membuat media online dan media sosial sebagai corong pemenangan. Kemudian membayar orang-orang yang lihai memproduksi konten untuk membangun citra yang baik di dunia maya. Biasanya orang-orang seperti ini disebut buzzer dengan iming-iming material atau jabatan.

Keempat, tentu mendatangi warga yang paling miskin di daerahnya. Menyantuni anak yatim, memberi bantuan kepada janda yang sudah lanjut usia, dan memberikan uang cuma-cuma kepada tukang becak di jalanan. Tidak lupa; santunan, bantuan, dan uang cuma-cuma itu sudah dibumbui oleh penyedap rasa berupa kata-kata. 

Kelima, melakukan kerja sama dengan institusi pendidikan. Kemudian, para tenaga pengajar memberikan tugas kepada anak didiknya untuk membuat karya; tulisan, video, audio-video, dan sebagainya; yang tujuan utamanya adalah meloloskan calon kepala daerah melenggang bebas hingga tiba di singgasana kekuasaan. Anak didik; baik pelajar maupun mahasiswa, tentu tidak tahu apa-apa. Sebab, yang mereka tahu adalah nilai yang mesti bagus agar terhindar dari ocehan ibu di rumah.

Ribath Nurul Hidayah

Keenam, blusukan ke pelosok kampung. Menemui tokoh masyarakat; seperti ajengan, kiai, dan orang yang punya pengikut banyak (opinion leader); untuk mengerahkan massanya. Tentu, tidak gratis. Sebab, di hadapan harga, semua orang punya kedudukan yang sama.

Terakhir, ketujuh, barangkali masih berkaitan dengan sebelumnya yakni, memainkan isu agama. Untuk yang satu ini, saya tidak perlu panjang lebar menjelaskan. Sebab, semuanya sudah jelas.

Dari poin-poin di atas itu, hanya sebagian kecil saja yang bisa dilakukan aktor politik di arena pertempuran. Masih ada ratusan bahkan miliaran cara untuk sampai pada titik kemenangan, dan berkuasa.

Agenda pertama usai terpilih sebagai kepala daerah adalah mencari cara untuk mengembalikan modal dan hutang. Agenda kedua, mencari keuntungan untuk orang-orang terdekat, kolega, keluarga, dan tim sukses yang selalu dibangga. Agenda kedelapan puluh sembilan, alias yang akan dilakukan di akhir masa jabatan adalah, membangun daerah kepemimpinannya menjadi baik; minimal secara fisik terlihat menarik.

Jadi, seperti itulah opini saya mengenai pemilukada zaman now ini. Semuanya bisa dilakukan, dengan cara bagaimana, melalui apapun, dan menggunakan apa saja. Intinya, seseorang sebagai pendukung dan pasangan calon yang didukungnya harus menang.

Terakhir waspada, karena persaudaraan (ukhuwah) bisa retak gara-gara pilkada serentak. Sebab, semua orang jadi galak kalau pilihannya dibilang tidak layak. Yang terpenting, esok atau lusa, ada citra baru yang dimunculkan di setiap lapak. Sementara segala keburukan mesti ditutup rapat-rapat agar tidak membelalak. Hati-hati ditabrak. Jangan sembarangan teriak, nanti dilabrak. Skak! Wallahu alam.

Penulis adalah mahasiswa semester akhir Ilmu Komunikasi Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan

Suara adzan menempati posisi istimewa dalam hati umat Islam. Bunyi yang dipantulkannya sangat berbeda dari suara-suara lainnya. Setiap orang memunyai ekspresi tersendiri ketika adzan dikumandangkan. Ada yang berdiri hingga adzan selesai. Orang yang tidur tiba-tiba langsung duduk ketika ? mendengar suara adzan. Orang yang sedang beraktivitas langsung berhenti dan terdiam sampai adzan selesai digemakan.

Ekspresi berdiri, duduk, dan lain-lain ini merupakan bentuk penghormatan seseorang akan suara adzan karena suara adzan terbilang sakral. Hal ini juga tidak hanya terjadi di zaman sekarang, sejak dulu masyarakat sudah terbiasa melakukan hal ini.

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan

Namun apakah ekspresi semisal ini merupakan kewajiban, kesunahan, atau bagaimana? Terkait masalah ini al-Suyuthi dalam Hawi al-Fatawa menjelaskan:

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Sebenarnya berita yang beredar tentang orang yang berdiri tidak boleh langsung duduk dan orang yang duduk harus tetap duduk ketika mendengar suara adzan, tidak ada landasan dalam hadits Nabi, baik hadits shahih maupun dhaif. Bahkan tidak seorang pun ulama fikih menyebutkan permasalahan ini. Maka orang yang mendengar suara adzan sementara ia dalam posisi berdiri diperbolehkan langsung duduk. Orang yang sedang duduk diperbolehkan untuk berbaring. Orang yang berbaring diperkenankan juga untuk tetap berbaring.

Ribath Nurul Hidayah

Pendapat as-Suyuthi ini paling tidak bisa dijadikan argumentasi bahwa berdiri ketika mendengar suara adzan bukanlah sebuah kewajiban. Begitu pula dengan orang yang duduk dan berbaring juga diperbolehkan melanjutkan posisinya, tanpa harus mengubah posisi ketika menyimak suara adzan.

Namun kita juga tidak boleh menyalahkan bila ada orang yang berdiri ketika mendengar suara adzan. Sebab bisa jadi itu bentuk dari penghormatannya dan ekpresinya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 11 Juni 2017

Haji untuk Persatuan Umat Islam

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dengan berkumpulnya seluruh umat Islam dari berbagai negara di dunia, haji memiliki potensi besar untuk mengetahui kondisi dan keadaan saudara muslim yang berada di negara lain.



Haji untuk Persatuan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji untuk Persatuan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji untuk Persatuan Umat Islam

Sayangnya, cita-cita tersebut belum tercapai, masing-masing negara muslim sibuk dengan urusannya sendiri tanpa peduli dengan urusan orang lain.

“Negara muslim kaya menikmati kekayaannya, membiarkan Palestina tertindas oleh Zionis Israel,” kata Ketua DPR RI Marzuki Ali ketika membuka Konferensi Internasional Haji dengan tema “Peran Haji dalam Memperkuat Kerjasama dan Persatuan Umat Islam” kerjasama PBNU dan Islamic Cultural Relations Organization (ICRO) Iran di Jakarta, 2-3 Oktober.

Ribath Nurul Hidayah

Marzuki menjelaskan, dalam berbagai pertemuan parlemen anggota OKI atau Asia, keprihatinan terhadap nasib Palestina selalu muncul. Sayangnya dukungan penuh dari negara di sekitar Pelestina belum terwujud.

Ribath Nurul Hidayah

“Bangsa yang seharusnya berada di lingkaran terdekat Palestina sulit menyatukan diri,” katanya. Indonesia, meskipun lokasinya jauh, secara konsisten dan kongkrit telah membela Palestina.

Haji, lanjutnya, mampu menyatukan seluruh umat manusia dibawah kebesaran tuhan, diluar upaya penyatuan dalam bentuk suku, bangsa, bahasa, negara dan lainnya yang berserakan di seluruh dunia. Sayangnya, potensi persatuan dunia ini belum bisa dimaksimalkan.

Dijelaskannya, sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia termasuk yang paling dominan dalam pengiriman jamaah haji karena memiliki proporsi sekitar 20 persen dari total jamaah haji. Pada masa lalu, jamaah haji Indonesia bahkan bisa mencapai 40 persen. Tak heran, bahasa melayu saat itu menjadi bahasa kedua setelah bahasa Arab karena banyaknya jamaaha haji dari nusantara.

Ia berharap agar makna haji baik bagi individu maupun sosial mampu diinternalisasi dalam diri jamaah haji. Jangan sampai haji sekedar wisata ke Makkah saja dan kehilangan makna ketika pulang kembali ke negaranya masing-masing.

Sementara itu Hujjatul Islam Qazi Asgar, wakil pemimpin tertinggi (Wali Fakih) dalam urussan haji Iran, berharap agar momentum haji dapat menjadi ajang pertemuan para ulama-ulama sedunia untuk membahas berbagai permasalahan yang melanda ummat.

Ia mencontohkan, ulama atau para amirul hajj dari seluruh dunia bisa membicarakan bagaimana membantu rakyat Pakistan yang saat ini baru saja terkena bencana banjir, atau bagaimana mensikapi pembakaran Al Qur’an yang terjadi di Amerika Serikat.

Terkait dengan hubungan antara Islam Indonesia dan Iran, ia menyatakan, muslim Indonesia menduduki tempat khusus bagi Iran karena terdapat kedekatan budaya diantara keduanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 10 Juni 2017

Ketua Ranting Ansor Dipercaya Jadi Kepala Desa

Tulungagung, Ribath Nurul Hidayah

Masyarakat Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memberi kepercayaan kepada Ketua Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Sodiq Heru Riyanto untuk memimpin kelurahan yang dikenal sebagai desa ikan, ikon Kabupaten Tulungagung.

Ketua Ranting Ansor Dipercaya Jadi Kepala Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Ranting Ansor Dipercaya Jadi Kepala Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Ranting Ansor Dipercaya Jadi Kepala Desa

Sodiq Heru Riyanto terpilih menjadi Kepala Desa Bendiljati Wetan dalam Musyawarah Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) pada Kamis (23/6). Ia mengisi mengisi jabatan yang kosong karena kapala desa sebelumnya meninggal pada Januari 2016.

Sodiq Heru akan memimpin Desa Bendiljati Wetan sampai tahun 2019. Kader Muda Ansor kelahiran Tulungagung 9 Juli 1984 ini dipercaya untuk memimpin desa ikan itu lebih maju serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai amanah Undang-Undang Desa No 6 Tahun 2016 untuk menuju kemandirian dan kesejahteraan desa.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam rilis yang diterima Ribath Nurul Hidayah, para kader GP Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Baser) di Kabupaten Tulungagung mendukung penuh dan bangga dengan capaian Sodiq Heru. Terpilihnya pria 31 tahun itu menjadi bukti nyata bahwa Ansor semakin dipercaya masyarakat. (Red: Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Juni 2017

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa

Oleh Suwendi



Pada 28 April 2017 yang lalu, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, mengeluarkan “Seruan Ceramah di Rumah Ibadah” yang terdiri atas 9 (sembilan) butir. Seruan Menteri Agama ini mengajak dan meminta kepada seluruh eleman bangsa bersama-sama mensyukuri dan merawat persatuan umat dan bangsa yang telah dibina selama ini. Persatuan hanya dapat direalisasikan pada saat kondisi kedamaian dan kerukunan umat beragama dan negara dapat berlangsung dengan baik. Tentu, seruan ini membuat kita menjadi tenteram dan damai.

Seruan Menteri Agama, dalam pandangan penulis, memiliki makna yang sangat strategis, terutama dalam beberapa hal berikut.

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa

Pertama, secara konteks sosial dan politik, bangsa Indonesia dihadapkan dengan semakin menjamurnya pemahaman keagamaan radikal, bukan hanya pada Islam saja tetapi juga di sebagian agama lainnya, yang justru atas nama agamanya mengajarkan kebencian dan merendahkan harkat martabat kemanusiaan. Ujaran kebencian dan saling mengkafir-bid’ahkan antarsesama umat beragama jamak terdengar dan terlihat di mimbar-mimbar keagamaan, hatta khutbah Jumat yang sakral pun tak luput dari umpatan kebencian ini.

Kepentingan untuk meraih target politik-pun sering terlihat dalam mimbar agama itu, apapun agamanya. Alih-alih untuk mencerdaskan dan membimbing umat ke kondisi yang damai, jamaah seringkali digiring pada penanaman benih kebencian dan caci-maki antar lawan politik. Jika dalam koteks pilkada DKI Jakarta saja sudah sedemikian dahsyatnya energi bangsa ini dalam menetralisasi persoalan politisasi agama, maka tidak ayal jika kekuatan politisasi agama ini pun akan semakin kembali mencuat terutama menjelang pilpres 2019, yang sebentar lagi akan dimulai. Oleh karenanya, menurut hemat penulis, seruan ini mendapatkan momentumnya yang sangat pas agar umat beragama dapat menggunakan fasilitas keagamaannya itu secara dewasa dan cerdas.

Kedua, seruan Menteri Agama itu mengingatkan kembali kepada seluruh anak bangsa terhadap hakikat dirinya, baik sebagai orang yang beragama maupun sebagai warga negara-bangsa Indonesia. Agama dan kebangsaan keduanya tidak dapat dilepaskan dalam diri anak negeri ini. Sebagai seorang yang beragama, ia harus mampu menjaga nama baik agamanya yang mengajarkan agar menghormati kepada umat agama selainnya, yang sama-sama mempercayai akan kebaikan-kebaikan dalam keyakinan agamanya. Sebagai warga negara Indonesia, ia menyadari betul bahwa Indonesia ini adalah gugusan kesatuan yang terdiri atas aneka ragam budaya, bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda. Keanekaragaman itu menjadi ciri khas Indonesia. Indonesia adalah Indonesia, bukanlah negara di belahan dunia lainnya, Timur atau Barat. Semua keaneragaman itu menjadi kekuatan yang dirakit dalam satu ideologi kebangsaan, yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karenanya, amatlah tepat bahwa ceramah agama harus mampu memberikan pencerahan tidak hanya spiritual, intelektual, dan emosional, tetapi juga multikultural.

Ribath Nurul Hidayah

Seruan Menteri Agama itu bukan hanya diserukan kepada salah satu agama saja, tetapi seluruh agama dan umatnya di Indonesia. Sebagai Menteri Agama, ia tidak hanya berkewajiban untuk mengelola salah satu agama tertentu saja, tetapi ia harus mampu menjalankan kewajibannya dalam memelihara agama-agama lainnya. Ia adalah menteri untuk semua agama. Dalam konteks itu, semua agama dalam ceramahnya diminta untuk tidak mempersoalkan atau menyajikan materi yang bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu: Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat konsensus bangsa Indonesia ini merupakan harga mati bagi semua orang yang ingin hidup di negeri Nusantara ini. Siapapun yang menggugat kembali atas empat pilar bangsa itu artinya ia berhadapan dengan seluruh eleman bangsa ini. ?

Ketiga, seruan Menteri Agama ini memberikan evaluasi bagi seluruh umat beragama bahwa ceramah agama mau tidak mau, suka dan tidak suka, harus disampaikan oleh penceramah yang memiliki pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama. Jika diibaratkan, penceramah agama itu sama halnya dengan dokter. Dokter baru bisa memiliki izin praktek dan mampu memberikan resep dan dosis obat ? yang tepat jika ia telah memiliki pengetahuan dan pendidikan yang memadai. Jika ada dokter yang tidak berkompeten, niscaya akan berakibat fatal pada pasiennya. Demikian halnya dengan penceramah agama, tanpa pengetahuan yang memadai maka dapat dipastikan umat yang ceramahinya akan mendapatkan wawasan keagamaan yang kurang tepat. Bukannya kedamaian yang diperoleh, tetapi kegelisahan dan persengketaan sosial yang didapat.?

Sebagai penceramah yang memiliki pengetahuan keagamaan yang baik, tentu ia akan memiliki bahan bacaan yang matang dan bersumber dari literatur-literatur keagamaan valid. Bukanlah penceramah agama yang handal jika ia hanya hafal ? satu-dua ayat berdasarkan pada pemahaman sepintas dari terjemahan, apalagi searching di google, dengan tanpa memiliki seperangkat metodologi ilmu keagamaan yang baik. Oleh karenanya, perlu saatnya untuk melakukan otokritik dari lembaga agama dan keagamaan dan desain yang disepakati untuk membangun penceramah agama yang mumpuni.

Seruan ini agaknya juga memberikan koreksi kepada seluruh penyelenggara dan pemangku kebijakan pendidikan, bahwa guru dan dosen yang mengajarkan mata-mata pelajaran agama harus diberikan oleh guru dan dosen-dosen yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang baik. Jika tidak demikian, niscaya yang terjadi adalah pendangkalan agama sehingga sangat mudah terbawa oleh pemikiran dan gerakan radikalisasi agama. ?

Ribath Nurul Hidayah

Keempat, sebagai Menteri yang bertanggung jawab di bidang agama, tentu ia tidak dapat melakukan peran-peran di luar batas kewenangannya. Sebagai Menteri Agama ia berkewajiban untuk menciptakan kondisi umat agama dan kerukunan umat beragama agar dapat berjalan dengan baik. Adapun persoalan hukum dan tindakan tegas yang berimplikasi secara hukum tentu itu menjadi domain dari lembaga penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan lembaga peradilan. Menteri Agama bukanlah menteri sapu jagat yang memiliki kekuatan super-power, apapun bisa dilakukannya. Namun demikian, Menteri Agama mendesak agar penceramah agama harus tunduk dan taat pada ketentuan hukum yang berlaku baik yang terkait dengan penyiaran keagamaan maupun penggunaan rumah ibadah, sebagaimana tercermin dalam seruan Menteri Agama itu. Sejumlah perangkat dan noram-norma hukum terkait dengan penceramah yang berlawanan secara hukum tentu dapat ditindaklanjuti dan diproses melalui mekanisme hukum yang berlaku. Dengan demikian, seruan ini memang tepat sesuai koridor dan batas kewenangan Menteri Agama.

‘Ala kulli hal, seruan Menteri Agama ini perlu untuk diamini dan dipedomani oleh semua pihak. Sebab, secara substantif, seruan ini mengajak kita semua untuk melakukan kedamaian melalui mimbar agama. ? Jadikanlah mimbar-mibar agama yang suci itu sesuai dengan tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, serta menjaga kelangsungan hidup dan peradamaian umat manusia, jangan dikotori dengan umpatan dan caci makian yang justeru menghilangkan kesucian mimbar dan hakikat agama itu sendiri. Semoga.

Penulis adalah doktor pendidikan islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, AlaSantri, Budaya Ribath Nurul Hidayah

GP Ansor Bondowoso Gelar Istighotsah untuk Korban Kekerasan Rohingya

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Bondowoso berdoa bersama untuk musibah korban kekerasan Rohingya di Myanmar. Istighotsah ini yang dilaksanakan cukup sederhana ini diikuti beberapa pimpinan ranting, anak cabang, lembaga majelis zikir dan shalawat Rijalul Ansor, Banser beserta pengurus harian cabang GP Ansor di Sekretariat GP Ansor Bondowoso Jalan KH Mas Mansur Nomor 09 Kelurahan Belindungan Kecamatan Bondowoso, Ahad (3/9) sore.

Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil mengatakan, kita melaksanakan doa bersama-sama dan istighotsah bersama untuk saudara kita yang sekarang membutuhkan bantuan kita yaitu di Myanmar.

GP Ansor Bondowoso Gelar Istighotsah untuk Korban Kekerasan Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bondowoso Gelar Istighotsah untuk Korban Kekerasan Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bondowoso Gelar Istighotsah untuk Korban Kekerasan Rohingya

Dimana kita sebagai saudara Muslim, saudara sesama manusia tentunya membutuhkan uluran tangan doa dan kita semua yang mana saat ini saudara kita etnis Rohingya di Myanmar itu betul-betul mengalami sebuah kekerasan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh sesama manusia yang terjadi di Myanmar.

"Alhamdulillah kegiatan ini bisa terlaksana, selain acara itu juga syukuran hari Kemerdekaan RI, istighotsah serta mendoakan saudara Muslim Rohingya di Myanmar," jelasnya sebelum acara di mulai pada waktu itu.

Ribath Nurul Hidayah

Doa dan istighotsah bersama tersebut dipimpin langsung oleh sekretaris lembaga majelis zikir dan shalawat Rijalul Ansor (RA) GP Ansor Bondowoso Abdul Salam dan ditutup doa oleh Ketua majelis zikir dan shalawat RA Bondowoso Ahmad Junaidi. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Quote, Santri Ribath Nurul Hidayah