Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Perkuat Silaturahim dan Toleransi, GP Ansor Kutai Timur Peringati Maulid Nabi

Kutai Timur,Ribath Nurul Hidayah ?

Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Kutai Timur bekerja sama dengan Masjid Baituttaslim dan Majelis Ta’lim Al-Ikhlas mengadakan Peringatan Maulid Nabi SAW di dusun Dusun Rindang Benua, Senin (9/1).

Acara ini dihadiri sekitar 500 jamaah yang terdiri dari Pengurus NU, pengurus Majelis Ulama Indonesia, pengurus dan anggota GP Ansor, Pengurus BAZNAS, para muallaf, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, serta para muslimin dan muslimat.

Perkuat Silaturahim dan Toleransi, GP Ansor Kutai Timur Peringati Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Silaturahim dan Toleransi, GP Ansor Kutai Timur Peringati Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Silaturahim dan Toleransi, GP Ansor Kutai Timur Peringati Maulid Nabi

Kegiatan bertema “Menjaga Pribadi Selangkah Lebih Maju dalam Toleransi Antarumat Beragama” diapresiasi Kepala Dusun Rindang Benua Sukimin. Ia mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk selalu membina dan membenahi generasi muda yang merupakan aset bangsa di masa depan.

Ribath Nurul Hidayah

“Kiprah masa muda di hari inilah yang akan memutuskan seperti apa masa depan dan saya mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor karena telah mengadakan kegiatan di Dusun Rindang Benua,” ucapnya.

Menurut Ketua PC GP Ansor Kutai Timur Zainul Arifin, peringatan maulid ini digelar sebagai ajang silaturahim antara GP Ansor dengan masyarakat. Juga sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai toleransi khususnya di daerah tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

“Kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab Ansor untuk ikut serta dalam menjaga silaturrahim dan khususnya untuk masyarakat karena di daerah tersbut banyak suku, etnis dan agama yang multikultural,” paparnya.

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi ini dilakukan sebagai penegasan sikap GP Ansor untuk berada di garis depan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari oknum-oknum yang berusaha merusak tatanan Bhinneka Tunggal Ika.

“Oleh karena itu, tentunya hari ini kita sebagai Golongan Pemuda di Nahdlatul Ulama harus siap menjadi benteng dari serangan yang diluncurkan oleh beberapa kelompok Islam dengan banyaknya berita-berita yang ingin mengadu domba,” ujarnya.

Sementara itu, dari pengurus NU, Harun Rasyid dalam sambutannya, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus memupuk jiwa dengan ajaran Islam yang luhur dan agung dan komitmen NU untuk selalu menjaga NKRI.

“Kita tanamkan akhlak yang mulia, dan kita sebarkan nilai-nilai kebajikan dan nilai-nilai kemanusiaan yang diteladankan oleh Nabi besar Muhammad SAW. Saya ingin menggarisbawahi yang menurut saya sangat penting. Di antaranya, pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan semangat kasih sayang kepada sesama,” paparnya.

Sementara Ustadz Robby Ar-Rosyid memberikan ceramah, tentang bagaimana cara terbaik hidup di masyarakat dengan banyaknya perbedaan suku, agama dan ras, sebagaimana Rasulullah SAW sebagaimana dicotohkannya.

Menurut dia, Nabi Muhammad amat gigih dan tegas? untuk melawan perilaku-perilaku yang merusak atau mendatangkan kerusakan. Baik itu kerusakan pada ajaran agama, maupun kerusakan pada kehidupan masarakat, bangsa dan negara, bahkan kerusakan terhadap alam semesta ciptaan Tuhan. (Nashir/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 22 Februari 2018

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo KH Moh. Zuhri mengatakan seorang santri tidak hanya dituntut tekun belajar saja, tapi lebih dari itu dituntut untuk mengaplikasikan ilmu yang dihasilkan ? sebagai bentuk pelatihan sebelum pulang ke masyarakat.

"Dibentuknya Forum Komunikasi Santri (FKS) adalah sebagai wadah para santri ketika libur pesantren dalam menerapkan ilmunya. Belajar berhikmad kepada masyarakat," katanya dalam acara peringatan Nuzulul Quran di Masjid Al-Ghozali Gambiran Lumajang (12/7).?

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat

FKS merupakan wadah pembelajaran santri aktif dalam berorganisasi berbasis kemasyarakatan. Karenanya tidak hanya mengadakan ? kegiatan keagamaan, akan tetapi bermacam-macam kegiatan pada umumnya seperti seminar, pondok Ramadhan, lomba-lomba dan lain sebagainya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga memberi penghargaan kepada Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ Lumajang) ? dan Ibu-ibu PKK Gambiran yang telah bersedia bekerjasama dengan FKS-L dan menjadi pembimbing para santri.

Acara yang dihadiri lebih tiga ratus jamaah meliputi santri aktif, alumni, dan masyarakat berlangsung cukup meriah.

? "Saya senang sekali sebagai alumni melihat santri-santri yang masih berproses di pondok, namun mampu mengadakan kegiatan semeriah ini," ungkap Amin, alumni sekaligus mantan ketua FKS-L masa ibadah 2008-2009.

Ribath Nurul Hidayah

Adapun acara peringatan Nuzulul Quran dimulai sejak pukul 07.00 WIB, dengan khotmil quran, istighosah, pengajian umum dan ditutup dengan buka bersama.? (Andika Dika/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 08 Februari 2018

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting

Wonosobo, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah menggenjot pemahaman Islam Ahlussunah wal-Jamaah di tingkat Ranting-ranting. Kegiatan tersebut akan digelar tiap dua minggu sekali secara bergiliran.

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wonosobo, Slamet Nurochman mengatakan, kegiatan rutin yang akan digelar tiap Jumat malam tersebut diformat dengan agenda mujahadah, kajian kitab kuning, dan diskusi.

Tujuannya, Slamet menerangkan, sebagai silaturahim antar-anggota dan pengurus, sehingga komunikasi lebih efektif dan up to date, “Dalam pertemuan itu, peserta bebas mengutarakan unek-unek, juga membicarakan program yang sedang dan akan dijalankan,” katanya kepada NU Online di kediamannya, Senin (13/5).

Ribath Nurul Hidayah

Salamet menambahkan, kegiatan tersebut akan dipusatkan di masjid sebagai tindak lanjut Rakornas GP Ansor yang mewajibkan pengkaderan digelar di tiap-tiap masjid, “Kegiatan ini adalah turba (turun ke bawah) yang akan dimulai minggu depan. Pengurus PAC siap diterjunkan secara bergiliran,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Upaya lain menggenjot Aswaja, sambung Slamet, dalam waktu dekat akan menggelar pelatihan kader NU. Kegiatan tersebut intinya adalah pemantapan pemahaman dan penanaman Aswaja An-Nahdhiyyah supaya melekat di hati kader, “Kita tak ingin kader sekadar cashing, tapi bisa berguna untuk kemajuan NU secara jamaah dan jamiyyah," pungkasnya.

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor? ? : Budi BH

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 01 Februari 2018

Indonesia Bisa Selesaikan Konflik Palestina-Israel

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr Masykuri Abdillah menilai, pada dasarnya Indonesia memiliki peluang yang cukup besar dalam upaya membantu penyelesaian konflik di Timur Tengah, terutama konflik antara Palestina dan Israel. Namun, hal itu mesti dilakukan lewat pihak-pihak selain pemerintah.

“Bisa dilakukan melalui gerakan grass root (akar rumput, Red) atau non-pemerintah. Misalnya, kekuatan ulama atau tokoh-tokoh agama kedua belah pihak,” terang Masykuri pada diskusi dan pertemuan Badan Ekesekutif Mahasiswa se-Jabodetabek di Hotel Gren Alia Cikini, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Selasa (27/3)

Indonesia Bisa Selesaikan Konflik Palestina-Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Bisa Selesaikan Konflik Palestina-Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Bisa Selesaikan Konflik Palestina-Israel

Dalam diskusi yang digelar Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia itu, Masykuri mengungkapkan, peluang tersebut salah satunya karena di antara Palestina dan Israel terdapat kelompok-kelompok yang tidak menginginkan adanya perang dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya.

Namun demikian, lanjutnya, upaya tersebut bukan berarti tanpa masalah. Jika pun telah tercapai perdamaian di antara kedua pihak, hal itu mesti diformalkan oleh masing-masing pemerintah. Tanpa itu tidak akan ada jaminan perdamaian tersebut akan berlangsung selamanya.

Kesulitan utama yang akan dihadapi Indonesia setelah melewati tahapan tersebut? adalah persoalan hubungan diplomatik. Indonesia, hingga saat ini belum memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sementara, katanya, salah satu syarat untuk membantu perdamaian kedua negara tersebut harus memiliki hubungan diplomatik.

Masykuri menambahkan, di lain pihak, upaya tersebut pasti akan ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh Palestina, Israel dan termasuk Indonesia. Syarat-syarat itu bisa berbentuk pengakuan Indonesia terhadap Israel sebagai sebuah negara berdaulat. “Ini yang sulit,” tandasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, menurutnya, Indonesia berada pada posisi yang sangat sulit. Pengakuan terhadap Israel sebagai sebuah negara bukanlah persoalan mudah. “Jelas, pemerintah akan banyak tentangan, terutama dari dalam negeri sendiri,” ujarnya.

“Saat pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), usulan untuk membuka hubungan dagang dengan Israel, banyak sekali yang menentang,” tambah Masykuri yang juga mantan Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 30 Januari 2018

Gus Dur: Bintang Kejora Itu Lambang Kultural

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, tidak menjadi persoalan jika bendera "Bintang Kejora" ingin dijadikan simbol kultural Papua.

"Bintang kejora bendera kultural. Kalau kita angggap sebagai bendera politik, salah kita sendiri," kata Gus Dur kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Jumat (6/7).

Gus Dur: Bintang Kejora Itu Lambang Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Bintang Kejora Itu Lambang Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Bintang Kejora Itu Lambang Kultural

Gus Dur, yang saat menjabat presiden mengabulkan permintaan masyarakat Irian Jaya (waktu itu) untuk menggunakan sebutan Papua, justru menuding polisi tidak berpikir mendalam ketika melarang pengibaran bendera "Bintang Kejora".

"Ketika polisi melarang, tidak dipikir mendalam. (tim) sepak bola saja punya bendera sendiri. Kita tak perlu ngotot sesuatu yang tak benar," katanya.

Menurut Gus Dur, kalau pengibaran bendera itu dianggap separatis, maka ujung-ujungnya adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menurut dia sudah tidak ada lagi.

Ribath Nurul Hidayah

"Kalau dianggap separatis harus dilanjutkan apa alasannya? Ujung-ujungnya kan OPM. Tapi sejak dua tahun lalu (OPM) sudah tinggalkan situ (Papua). Tak perlu kita curiga pada saudara sendiri," katanya.

Sebelumnya, sejumlah pihak meminta agar dihindari penggunaan bendera "Bintang Kejora" sebagai lambang kultural Papua karena bendera itu telanjur menjadi simbol gerakan separatis OPM.

Ketika ditanya soal diundangnya aktivis OPM oleh Senat Amerika Serikat beberapa waktu lalu, Gus Dur juga tidak terlalu mempermasalahkannya, walau Senat tidak mengundang pemerintah Indonesia untuk menjelaskan persoalan yang sama. "Pemerintah tidak diundang, wong pendiriannya sudah tahu," katanya.

Sementara, menyangkut penyusupan aktivis kelompok gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada acara yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ambon beberapa waktu lalu, Gus Dur menyebutnya sebagai keteledoran.

"Itu keteledoran, tak perlu dibenarkan, agar tahu ada yang teledor. Biarkan saja, tapi jangan sampai terulang di masa depan," katanya. (rif)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh

Bireuen, Ribath Nurul Hidayah. Sebagai wilayah pertama di Asia Tenggara yang menerima kehadiran Islam sejak abad pertama hijriyah, Aceh merupakan kawasan yang masyarakatnya memiliki karakteristik yang unik. Keunikan karakteristik ini disebabkan kuatnya pengaruh Islam dalam proses pembentukan rakyat Aceh. Bahkan, Islam menjadi asas pembinaan budaya itu sendiri.

“Benteng yang paling berjasa dalam proses pertahanan budaya masyarakat Aceh adalah lembaga pendidikan yang disebut Dayah,” ujar Teungku Haji Hasanoel Bashri HG, salah satu ulama kenamaan asal Samalanga Bireuen, saat ditemui belum lama ini.

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh

Menurut tokoh yang akrab disapa Abu MUDI ini, kata “Dayah” merupakan kutipan dari bahasa Arab “Zawiyah” yang berarti majelis pengajian. Kata itu kemudian berubah sesuai dengan dialek bahasa Aceh menjadi dayah. Dalam perkembangan selanjutnya, lanjut Abu MUDI, dayah dalam terminologi orang Aceh menjelma sebuah lembaga pendidikan Islam yang berperan aktif membina keteguhan keimanan, akhlak, dan keilmuan masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

“Selain sebagai pusat pendidikan Islam, Dayah juga tempat para ulama menetap, di mana dalam masyarakat aceh ulama merupakan tempat bertanya dan meminta kepastian hukum agama yang merupakan sendi-sendi kehidupan masyarakat,” ujar Abu MUDI.

Pengasuh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) ini bercerita, di masa kejayaan Kerajaan Islam Aceh Darussalam, saat kesultanan dijabat Sultan Iskandar Muda, dayah menjadi lembaga pendidikan resmi yang mencetak aparatur pemerintahan kerajaan. Fakta ini terus berlanjut hingga masa invasi kolonial Belanda.

Ribath Nurul Hidayah

“Ulama lalu menjadikan dayah sebagai basis perjuangan melancarkan gerakan jihad melawan penjajah. Pada masa itu, peran ulama meluas hingga ranah politik. Masa-masa kolonial Belanda di Aceh merupakan masa berperan penuhnya ulama terutama setelah tertawannya sultan. Ulama tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama, tapi juga pemimpin politik dan militer sekaligus,” tuturnya.

Setelah kemerdekaan, tambah Abu MUDI, peran dayah diganti oleh sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah sesuai dengan perkembangan masa dan kebutuhan. Dalam kondisi ini, dayah sebagai lembaga pendidikan tertua tetap mampu eksis di bawah asuhan ulama. “Sistem pendidikan dayah yang tidak memungut biaya pendidikan menjadikannya lebih akrab dengan masyarakat kelas bawah,” ujarnya bangga.

Kini, dayah dihadapkan kepada tantangan modernisasi dan globalisasi yang sejak zaman penjajahan hingga sekarang tidak dapat dihindari. Fenomena ini,  bagi Abu MUDI, telah mengikis budaya islami masyarakat, terutama generasi muda. “Di sinilah peran dayah terbukti mampu memberikan basis moral islami yang kuat bagi generasi muda sehingga mereka memiliki filter dalam menghadapi arus modernisasi,” ujarnya.

Abu MUDI menyebut, kesadaran masyarakat akan fakta tersebut telah menguatkan komitmen para ulama untuk terus melestarikan eksistensi lembaga dayah. Komitmen tersebut diikuti masyarakat dengan menitipkan anak mereka agar turut mengecap pendidikan dayah. “Saya yakin, dayah sebagai satu warisan kebudayaan Islam yang melegenda di masa silam, terus berkembang pada masa kini hingga yang akan datang,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Warta Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 10 Januari 2018

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Menteri Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah menyampaikan bahwa seorang Muslim yang tewas ketika menjaga gereja mendapat derajat syahid di sisi Allah. Menurutnya, partisipasi umat Islam dalam pengamanan peribadatan umat Kristiani tidak berbeda dengan pengamanan peribadatan dalam agama Islam itu sendiri.

Demikian disampaikan Menteri Wakaf dan Urusan Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Abbasi, Port Said, Mesir, Jumat (22/12) siang.

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

“Orang yang tewas ketika menjaga gereja maka ia terkategori syahid di jalan Allah,” kata Mukhtar Jum‘ah dalam khutbahnya seperti dirilis al-yaumus sabi‘ dengan link youm7.com pada 22 Desember 2017.

Ia mengingatkan jamaah Jumat bahwa kini umat manusia tengah berada di gerbang tahun baru Masehi. Ia menganjurkan jamaah masjid tersebut dan umat Islam pada umumnya untuk bahu-membahu menjaga keamanan gereja sebagaimana umat Islam menjaga masjid.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, partisipasi pengamanan gereja juga sangat sesuai dengan prinsip-prinsip kebangsaan. Dan ini, menurutnya, berdasar pada pemahaman yang sahih atas nilai-nilai Islam.

Ribath Nurul Hidayah

“Pemahaman yang benar atas ajaran agama yang menjadi prioritas utama kita saat ini adalah mencegah mereka yang tidak memiliki kualifikasi dan kapasitas ilmu agama yang memadai untuk mencederai nama baik Islam dan agama yang benar,” kata Mukhtar Jum‘ah.

Dalam khutbah Jumat akhir tahun ini, ia juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah dengan kutipan definisi muhasabah dari Imam Al-Mawardi. Ia mengajak jamaah untuk memeriksa perilaku keseharian masing-masing sesuai pertimbangan baik dan buruk menurut syariat Islam.

Menurutnya, mereka yang melakukan perbuatan terpuji patut bersyukur dan memuji Allah. Tetapi mereka yang melakukan perbuatan tercela menurut agama harus bertobat kepada Allah dan berusaha tidak akan mengulangi perbuatan buruknya karena segala sesuatu akan dimintakan pertanggungjawabannya di hari Kiamat kelak. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Anti Hoax, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 09 Januari 2018

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengajak warga NU untuk menengok dan mengingat kembali sejarah awal dibentuknya NU sesuai yang tertera dalam Anggaran Dasar Aggaran Rumah Tangga AD/ART NU.

Menurutnya, NU satu kesatun dengan bangsa Indonesia, dan tak terpisahkan. “NU didirikan itu salah satu tujuannya menciptakan tatanan masyarakat Indonesia yang rahmatan lil alamin demi terwujudnya bangsa Indonesia. Mari kita lihat AD/RT NU, maka dari itu, NU tidak bisa pisah dari bangsa Indonesia,” katanya di hadapan ribuan Muslimat NU di alun-alun Masjid Agung Demak pada Ahad (2 /4) pada puncak Harlah NU ke 91, Harlah Muslimat NU ke 71 dan Hari Jadi Demak ke 514.

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Gus Yahya begitu dia akrab dipanggil, menegaskan, selaku salah satu elemen pendiri bangsa Indonesia, NU secara otomatis ? mempunyai ? kewajiban menjaga bangsanya dari orang maupun kelompok pengacau, pengganggu, merongrong kewibawaan bangsa serta mengganggu keutuhan Negara Kesatua Republilk Indonesia.

“Setiap pengacau yang mengganggu Indonesia, maka akan berhadapan dengan NU. Bagi NU, NKRI harga mati yang tak hisadi tawar lagi,” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Muslimat NU Demak Hj Utami Musadad mengatakan,kegiatan tersebut dimuli dengan bacaan Al-Qur’an bil ghoib (hafalan) sebanyak 500 kali, membaca Al-Qur’an bi nadhor sbanyak 500 kali, manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani 400 kali, istighotsah, maulidurrasul serta pengajian,

“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan khidmat, khataman Al-Qur’an baik bil ghoib maupun bi nadhor, manaqib semua khatam,” tutur Hj Utami Sadad.

Puncak acara harlah, selain dihadiri warga Muslimat, juga dihadiri Bupati Demak H M Natsir, Waub Joko Sutanto, ketua DPRD H Nurul Muttaqin, Kapolres, Dandim, Kajari, Kepala Pengadilan Negeri Demak Wakil ketua PW Muslimat Jateng yang ? juga anggota FKB DPRD Jateng Hj Ida Nurs Sa’adah, Katib ‘Aam Jatman KH Zaini Mawardi, pengurus NU dari Cabang sampai Ranting. (A.Shiddiq Sugirto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Ubudiyah, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 28 Desember 2017

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), K.H Nuril Huda mengaku kecewa dengan sejumlah elite partai politik (Parpol) yang berupaya mengintervensi Kongres PMII ke XVIII, dengan praktik politik uang. Kongres PMII XVIII berlangsung di Asrama Haji Jambi, Jumat 30 Mei-Kamis 5 Juni.

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII

“Bangsa ini sedang krisis moral. Bukan krisis ekonomi. Kalau generasi mudanya dirusak juga sangat disayangkan. PMII ini anak-anak muda yang masih bersih, idealis. Kalau ada Parpol yang mengintervensi Kongres apalagi mengajari money politik, pertanggungjawabannya sampai akhirat,” tandas Kiai Nuril, Sabtu (31/5).

Keprihatinan pendiri PMII itu disampaikan saat mendengar adanya indikasi intervensi Parpol melalui calon tertentu dengan menghalalkan politik transaksional. Menurut Kiai Nuril, Parpol dan elite politik lain hanya boleh membantu pelaksanaan kongres, sebatas bantuan kepada panitia. Bantuan itu pun harus tanpa syarat.

Ribath Nurul Hidayah

Ia mengajak para alumni dan simpatisan PMII yang berada di lintas Parpol dan lintas profesi, untuk menyadari pentingnya regenerasi di tubuh organisasi Mahasiswa penggerak ahlu sunnah wal jam’ah (Aswaja) itu dan membantu pelaksanaan kongres, tanpa harus mengintervensi apalagi mengajarkan praktik money politik yang? bertentantang dengan prinsip Aswaja.

“Kalau sekedar membantu, tanpa syarat tak mengapa. Tapi kalau mengintervensi ini merusak.? PMII ini tempat latihan para calon pemimpin nasional. Ini satu-satunya organisasi Mahasiswa yang konsisten memperjuangkan nilai Aswaja, toleran, berkeadilan, moderat dan yang terpenting kejujuran. Jangan merusak idealism anak-anak muda ini,” paparnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Nuril mengungkapkan, selama ini ia bersama para kiai sepuh, pendiri PMII dan sejumlah alumni yang memilih melanjutkan perjuangan di ranah akademik dan pesantren,? selalu mendoakan PMII, lahir dan bathin.

“Lahir bathin kami selalu berdoa agar generasi muda Aswaja ini bisa melanjutkan estafet keulamaan, yang arif, bijaksana dan bermanfaat bagi ummat dan bangsa ini. Di manapun alumni PMII berkiprah harus berpikir untuk kemaslahatan ummat. Jangan malah melanggar nilai etis dan menghancurkan ummat,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar PMII, Addin Jauharuddin, menyerukan agar para peserta Kongres tidak terjebak pada politik transaksional dan melanggar nilai idealisme Aswaja.

“Kontestan calon ketua umum harus bersaing secara sportif dengan mengunggulkan prestasi, gagasan dan program kerja bagi seluruh kader PMII di berbagai kampus di Indonesia. Hilangkan praktik-praktik transaksional dan politik uang yang diback up oleh partai-partai politik tertentu, terutama partai politik yang selalu mengklaim mengatasnamakan pejuang ahlu sunnah wal jamaah," tandas Addin, seperti dikutip Fajar Online, Jumat (30/5).

Addin mengungkapkan, kader PMII tidak dibenarkan mendukung calon ketua umum PB PMII yang terindikasi terlibat praktik politik uang dan disokong oleh partai politik tertentu. Terutama partai politik yang mengklaim pejuang Islam ahlu sunnah wal jamaah.

Addin juga menyadari, pelaksanaan Kongres PMII kali ini berada dalam momentum yang cukup riskan, karena berlangsung beriringan di antara Pemilu dan Pilpres. Oleh karenanya, cukup banyak godaan serta intervensi pihak-pihak luar yang berkepentingan terhadap organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia ini.

"Namun kami mempunyai sikap yang jelas, bahwa kami merupakan organisasi mahasiswa yang independen. Kongres ke XVIII di Jambi, akan menghasilkan rekomendasi berupa gagasan, pemikiran terbaik mahasiswa yang akan kami tawarkan kepada capres-cawapres terbaik. Sebagai uji kelayakan dan kecakapan mereka sebagai calon pemimpin bangsa dan Negara Indonesia," tambahnya.

PMII menyerukan kepada kader-kadernya di seluruh Indonesia untuk tidak memilih capres-cawapres yang di dukung oleh politisi busuk dan terbukti melakukan intervensi dengan agenda-agenda politiknya pada kongres PMII XVIII di Provinsi Jambi.

Untuk menghindari berbagai intervensi tersebut, PMII akan menyiapkan langkah-langkah antisipatif serta respon gerakan terhadap setiap usaha intervensi agenda politik pihak-pihak luar, baik perseorangan maupun dari lembaga dan partai politik.

"Kepada semua pihak dan seluruh elemen bangsa Indonesia agar saling menghormati dan menjunjung etika dalam setiap proses berbangsa dan bernegara, khususnya dalam pilpres 2014," ujar Addin. (Abdel Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 24 Desember 2017

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Muslim Kamboja fokus memberdayakan umatnya melalui bidang pendidikan. Selain belajar di universitas dalam negeri, mereka mengirim anak mudanya untuk menimba ilmu di luar negeri seperti Malaysia dan Indonesia. 

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

Demikian disampakain Nos Sles, atau dalam bahasa Indonesia bisa dipanggil Nuh Saleh. Ia adalah Director of Deparatment of Education and Human Resources Departemen di lembaga umat Islam Kamboja yaitu Cambodian Muslim Development Foundation.

Ribath Nurul Hidayah

Nos Sles mengatakan, Muslim Kamboja sudah memiliki lima lembaga pendidikan. Satu didirikan Muslim kamboja sendiri, sisanya bantuan dari luar negeri.  

Ribath Nurul Hidayah

“Selama ini, yang banyak memberikan bantuan dalam pendidikan adalah Malaysia dan negara-negara Timur Tengah,” ucap Nos Sles, diungkapkan seorang penerjemah, di kantor redaksi Ribath Nurul Hidayah, gedung PBNU, Jakarta, Jumat, (5/10). 

Menurut Nos Sles, Indonesia adalah negara Muslim terbesar dan bertetangga dengan Kamboja, “Sangat mungkin bekerjasama dalam pendidikan.” 

Karena itulah, mewakili Muslim Kamboja, ia berkunjung ke beberapa lembaga pendidikan di Indonesia. Di antaranya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulllah Jakarta. 

Ia berharap, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia bisa memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Muslim Kamboja. 

Nos Sles mengaku baru pertama kali mewakili lembaganya berkeliling ke Indonesia, “Persoalannya adalah biaya perjalanan. Muslim Kamboja masih hidup di bawah garis kemiskinan. Rata-rata adalah petani, dan sebagian menjual kue kecil-kecilan,” jelasnya. 

Lebih jauh, Nos Sles menceritakan umat Muslim di Kamboja. “Kami minoritas, sekitar 4 persen dari 14 juta penduduk Kamboja. Tersebar di masing-masing provinsi, dan muslim terbesar di daerah Campa.”

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Tokoh, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 16 Desember 2017

Ini Cara Banser Lampung Tanggapi Tuduhan Miring

Bandar Lampung, Ribath Nurul Hidayah - Benarkah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) hanya kumpulan para pencari nasi bungkus dan rokok dengan cara menjaga gereja seperti digembar-gemborkan sejumlah pihak yang tidak menyukai badan semi otonom Gerakan Pemuda Ansor ini?

Menjawab tuduhan salah kaprah ini Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Lampung memilih menjawab dengan harakah, yakni menggelar sejumlah bakti sosial (baksos) penyembuhan alternatif ATS Metode bagi masyarakat membutuhkan.

Ini Cara Banser Lampung Tanggapi Tuduhan Miring (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Banser Lampung Tanggapi Tuduhan Miring (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Banser Lampung Tanggapi Tuduhan Miring

"Banyak kegiatan Banser tergabung dalam Banser Tanggap Bencana (Bagana) di sejumlah daerah di Indonesia saat membantu korban banjir, longsor hingga peduli sesama kurang terpublikasikan. Masyarakat hanya disuguhi pihak yang tendensius dengan kami dengan kegiatan yang secara fiqih sebenarnya tidak ada persoalan, yakni membantu pengamanan umat Kristiani saat perayaan Natal," ujar Kasatkorwil Banser Lampung Tatang Sumantri di Bandarlampung, Ahad (19/3).

Namun di luar itu, kata Tatang, Banser selalu ada di manapun tempat. Mereka insya Allah berbuat maslahat dan sesuai koridor seperti pengamanan pengajian.

Ribath Nurul Hidayah

"Saat terjadi banjir di Provinsi Lampung, baik Ansor dan Banser juga turun tangan, bukan urun angan. Apa pihak-pihak yang tendensius itu memviralkan kegiatan kami?" kata dia lagi.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam butir ke enam Nawa Prasetya Banser sudah jelas, Banser peduli terhadap nasib umat manusia tanpa memandang suku, bangsa, agama dan golongan.

"Para sahabat nabi yang dijamin masuk surga juga tidak melakukan perusakan tempat-tempat ibadah. Jika Banser menjaga gereja, yang dijaga itu sebenarnya bukan sekedar itu, tapi persatuan Indonesia," ujar Tatang.

Baksos penyembuhan alternatif ATS Metode akan digelar di GP Ansor Lampung Jalan Raden Gunawan II, Rajabasa, Bandar Lampung, pada Selasa 21 Maret 2017, pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.

Dalam satu kali baksos, pasien bisa ditangani kisaran 70 orang. Assinfokom Satkornas Banser Gatot Arifianto yang merupakan aktivis Gusdurian, motivator, praktisi Hypnosis, Kultivasi Energi Ilahi, Neo Neuro-Lingusistic Programing dan Aji Tapak Sesontengan akan berupaya menyembuhkan sejumlah penyakit seperti alergi dingin, mata minus dan plus, nyeri persendian, sakit pinggang, sakit gigi, migrain, vertigo, saraf kejepit, sakit tengkuk, lemah syahwat,? asam urat, asma, bronchitis hingga diabetes.

"Dalam dua jam penyembuhan, pasien bisa ditangani kisaran dua puluh lima orang. Karena itu, sembari menunggu jadwal penyembuhan kami ajak pasien untuk membaca Sholawat Nariyah yang memiliki manfaat untuk mempermudahkan rezeki hingga dijauhkan dari penyakit dan bahaya. Berdoa dan berzikir lebih baik daripada menebar berita tidak benar," paparnya.

Tatang menambahkan, upaya tersebut merupakan penegasan, bahwa Banser selalu berbuat maslahat bagi masyarakat dan sangat jauh dari tuduhan-tuduhan salah kaprah tidak bertanggung jawab.

Pada kegiatan baksos di Tanggamus dan Way Kanan, 90 persen pasien ditangani Gatot Arifianto merasa puas. Bahkan ada satu pasien sakit gigi, setelah disentuh dua menit langsung tertawa dan bercanda siap ditinju. Termasuk pasien mata minus dan plus, mengaku pandangan lebih jernih setelah disentuh.

Tingkat kepuasan pasien berdasarkan testimoni setelah ditangani alumni Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim II) PP GP Ansor? itu pada kegiatan baksos di Tanggamus dan Way Kanan rata-rata 80 hingga 90 persen.

Penderita sariawan tiga bulan juga mengaku sakit hilang setelah ditangani kurang dari lima menit, termasuk dada ngilu, sakit pinggang, asam urat hingga kaki sakit dan berat digunakan saat berjalan menjadi berkurang dalam hitungan menit. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 14 Desember 2017

Kirab Kebangsaan MWCNU Genuk Libatkan 4000 Orang

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Spanduk-spanduk bertuliskan NKRI Harga Mati, bendera merah putih, bendera-bendera NU, bendera banom-banom NU mewarnai jalanan. Selain itu, lagu-lagu nasional dengan iringan musik dari tim marching band, tak henti digemakan. Suasana ini terlihat di Kecamatan Genuk, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (21/9) pagi.

Kirab Kebangsaan MWCNU Genuk Libatkan 4000 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Kebangsaan MWCNU Genuk Libatkan 4000 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Kebangsaan MWCNU Genuk Libatkan 4000 Orang

Sejak pukul tujuh, tak kurang dari 4000 orang turut serta pada Kirab Kebangsaan 1000 Bendera: Meneguhkan Rasa Kebangsaan Mempererat Tali Persaudaraan. Kegiatan ini digagas Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Genuk, Semarang. 

“Ditargetkan hanya mencapai seribu bendera, tapi ada empat ribuan warga yang turut serta, ada empat ribu bendera yang ikut kirab,” kata Ketua Panitia, KH Ali Mas’adi.

Kirab 1000 Bendera merupakan pembuka dari rangkaiaan pelantikan Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Genuk yang diselenggarakan di lapangan Banget Ayu Wetan. Kirab Kebangsaan 1000 Bendera dipilih sebagai sarana untuk menunjukkan kecintaan warga NU Genuk kepada NKRI. 

“Terlebih beberapa waktu belakangan terlihat indikasi menguatnya ideologi anti-Pancasila dan anti-NKRI, serta ideologi trans-nasional, termasuk di Kecamatan Genuk,” lanjutnya. 

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PCNU Kota Semarang, H Anasom sesaat sebelum pelantikan menyebutkan kecintaan warga NU kepada NKRI begitu besar, tergambarkan dari kegiatan tersebut. (Nur Ahmad/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 Desember 2017

Benarkah Harlah NU 16 Rajab?

Oleh Ahmad Najib AR

Tulisan ini bukan hasil penelitian sejarah. Karena penelitian sejarah harus menggunakan kaidah ilmiah yang ketat, didukung dengan bukti dan fakta empirik, dan harus didasarkan pada teori-teori ilmu sejarah yang rumit. Ini hanya sebuah sebuah hasil perenungan yang sama sekali tidak berpretensi menggugat apalagi mendekonstruksi sejarah. Tulisan ini hanya mencoba mencermati sebuah kronik sosiologis yang melatari sejarah kelahiran NU yang selama ini mungkin luput dari perhatian kita.

Telah menjadi ijma’ bahwa NU didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H, bertepatan 31 Januari 1926 M melalui pertemuan Ulama yang dipimpin oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari di kediaman KH Abd. Wahab Chasbulloh Kawatan Bubutan Surabaya. Saya mencoba memeriksa kalender tahun 1926, ternyata memang tanggal 31 Januari tahun itu bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1344 H, tepatnya Hari Ahad Pon. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah pertemuan itu dilangsungkan pada siang atau malam hari. Mungkin pertanyaan ini mengada-ada. Namun jika Anda teruskan membaca, maka Anda akan paham ke mana arah pertanyaan itu.

Benarkah Harlah NU 16 Rajab? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Harlah NU 16 Rajab? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Harlah NU 16 Rajab?

Begini. Jika pertemuan itu berlangsung siang hari, maka berarti benar jika dikatakan hari lahir NU adalah 16 Rajab. Namun apabila ia digelar malam hari, atau pada hari Ahad malam Senin, maka semestinya Milad NU tanggal 17 Rajab. Hal ini mengingat hitungan hari dalam kalender Hijriyah dimulai dari saat terbenamnya matahari. Yang berarti pertemuan itu secara Hijriyah sudah masuk hari Senin tanggal 17. Sayangnya saya belum menemukan satu informasi pun dari literatur-literatur yang saya baca yang menyebutkan siang atau malamnya pertemuan ulama yang fenomenal tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Namun jika dianalisis dari sudut sosio-historis, maka logika yang paling kuat menurut saya adalah malam hari. Kenapa? Karena pada tahun-tahun itu Belanda sangat ketat dan represif mengawasi segala macam bentuk kegiatan dan pergerakan dari kelompok-kelompok pribumi. Hal ini dipicu oleh bangkitnya kesadaran dan keberanian bangsa Indonesia untuk merdeka sejak berdirinya gerakan Boedi Oetomo pada tahun 1908. Sehingga, dengan kondisi yang demikian genting, bisa dibayangkan terlalu berisiko jika pertemuan ulama tersebut dilakukan siang hari. Apalagi kediaman Mbah Wahab tersebut terletak di pusat Kota Surabaya yang berjarak sekian ratus meter dari markas tentara Belanda.

Ribath Nurul Hidayah

Hal lain yang juga menguatkan adalah tradisi ulama pesantren saat itu. Rata-rata para ulama yang hadir dalam pertemuan itu adalah pemangku pesantren dari berbagai daerah, mulai Jombang, Pasuruan, Kudus, Pati, Surabaya, dan lain-lain. Salah satu karakter para kiai pesantren kala itu adalah kuatnya istiqomah mereka. Mereka sangat jarang meninggalkan kewajiban dan rutinitas pesantren mereka, terutama dalam memimpin sholat berjamaah dan mengajar para santri. Sehingga untuk kegiatan dakwah dan sosial kemasyarakatan umumnya dilakukan di sela-sela kesibukan tersebut dan waktu yang paling longgar adalah malam hari. Tradisi ini juga masih kuat dipertahankan oleh para pengasuh pesantren hingga satu-dua dasawarsa yang lalu, bahkan hingga sekarang pun juga masih berlaku untuk beberapa pesantren tertentu. Sehingga untuk tugas dan kegiatan NU mereka lebih banyak melaksanakannya di malam hari.

16 atau 17 dalam Rumus Abajadun

Salah satu tradisi lain yang juga sangat kuat dilestarikan oleh para ulama pesantren zaman itu adalah rumus Abajadun. Abajadun merupakan suatu bidang keilmuan dalam kosmologi Islam yang merumuskan setiap huruf Hijaiyah dalam angka. Konon yang pertama kali mempopulerkannya adalah Syekh al-Buni dalam kitabnya “Syamsul Ma’arif” yang notabene cukup populer di pesantren-pesantren Salaf. Dalam metode tersebut setiap huruf memiliki nilai atau angka yang berbeda-beda, misal ? (alif)= 1, ? (ba’)= 2, ? (jim)=3, ? (dal)=4, dan seterusnya. Kata atau kalimat yang tersusun dari beberapa huruf akan dinilai dari hasil penjumlahan angka dari huruf-huruf yang merangkainya, misal ? (kitab) nilainya adalah 423, hasil penjumlahan dari kaf (20), ta’ (400), alif (1), dan ba’ (2).

Menurut al-Buni, setiap huruf menyimpan makna dan rahasia kosmik-spiritual tertentu. Jika masing-masingnya tersusun menjadi sebuah kata, maka kata itupun menyiratkan rahasia spiritual tertentu yang misterius. Huruf dan rangkaiannya diyakini menjadi simbol yang menghubungkan dunia nyata dan dunia tak-kasat mata yang diwujudkan melalui angka dan hitungannya. Bahkan ia diyakini juga menjadi isyarat mistis (mystical signifier) akan kejadian atau garis hidup seseorang. Karena itu rumusan ini juga sering digunakan untuk instrumen untuk menilai kecocokan dan keharmonisan calon pengantin.

Para kiai pesantren zaman dulu terbiasa menggunakan Abajadun untuk mengabadikan suatu peristiwa penting. Mereka sering menggubah syair arab yang huruf-hurufnya disusun sedemikian rupa sehingga kalau dihitung menggunakan metode ini akan menunjuk angka tertentu. Angka tersebut menjadi penanda suatu peristiwa dan waktu kejadiannya. Seperti al-Maghfurlah KH. Abd. Hamid Pasuruan sesaat setelah mendirikan madrasah di Pesantren Salafiyah yang diasuhnya, beliau menggubah syair yang berbunyi:

? ? ? # ? ? ? ? ?

“Telah berdiri sebuah madrasah untuk orang Islam pada bulan Muharram, kami mengharap ridlo dari Dzat yang Maha Terpercaya.”

Syair tersebut jika dihitung huruf-hurufnya menggunakan rumus Abajadun akan berjumlah 1392, sama dengan tahun berdirinya madrasah tersebut yakni tahun 1392 H.

Berdasarkan hal itu, maka saya berpikir bahwa bukan tidak mungkin para ulama pendiri NU juga menggunakan metode Abajadun dalam mengabadikan tahun kelahirannya. Saya pun kemudian mencoba menerapkan rumusan tersebut untuk kata ? ? ? (Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’). Ternyata jika dihitung masing-masing huruf dari tiga kata tersebut jumlahnya adalah 1566, dengan perincian: ? (3), ? (40), ? (70), ? (10), ? (10), ? (5), ? (50), ? (5), ? (800), ? (400), ? (1), ? (30), ? (70), ? (30), ? (40), ? (1) dan ? (1). Sampai di sini saya masih tidak yakin ada isyarat khusus dari kata Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ melalui metode ini, karena saya tidak menemukan korelasi apapun dari angka 1566 dengan NU dan sejarahnya.

Saya pun kemudian mencoba menghubungkannya dengan tanggal kelahiran NU. Saya mulai menghitung 16 ? 1344, dengan menjumlahkan 16 + ? (200) + ? (3) + ? (2) + 1344. Hasilnya cukup mengejutkan. Jumlahnya 1565, hanya selisih satu angka dengan hitungan ? ? ?. Dari sini kemudian saya berpikir seandainya tanggalnya diubah 17 ? 1344, maka hasilnya persis sama yakni 1566. Nah, 16 atau 17 yang lebih tepat?

Namun terlepas dari itu semua, yang jelas PBNU secara resmi telah menetapkan 16 Rajab 1344 H sebagai tanggal kelahiran NU yang harus diamini oleh seluruh nahdliyyin. Renungan dengan metode Abajadun di atas hanya ingin membuktikan bahwa betapa arif dan tingginya keilmuan para Masyayikh pendiri NU, hingga soal penamaan organisasi ini pun mereka sangat hati-hati dan detil menakar setiap hurufnya agar dapat mengandung kedalaman makna, sirr (rahasia), dan barokah bagi jama’ahnya. WaLlohu a’lam.

Selamat Hari Lahir NU ke-92!

*) Ahmad Najib AR, Ketua Lajnah Talif wan Nasyr NU (LTN NU) Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 Desember 2017

Kiai Said: NU Tidak Antikonglomerat

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan NU tidak anti dengan adanya konglomerat. Sebaliknya, ia mengatakan NU bersyukur dengan banyaknya konglomerat di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Kiai Said sebelum dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara NU dengan tiga kementerian yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, dan Kementerian Komunikasi dan Informasi, di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (23/2) sore.

Kiai Said: NU Tidak Antikonglomerat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: NU Tidak Antikonglomerat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: NU Tidak Antikonglomerat

“NU bersyukur dengan para konglomerat di Indonesia yang melakukan pemerataan ekonomi, menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia, termasuk warga NU,” kata Kiai Said.

Sementara dari pihak warga NU, lanjut Kiai Said, memiliki karakter mudah bersyukur dengan memiliki pekerjaan. Sehingga para pengusaha, pemerintah, dan BUMN dapat memberdayakan warga NU dalam pengembangan ekonomi.

Ribath Nurul Hidayah

Namun demikian, menurut Kiai Said, warga NU juga masih dihadapkan dengan beberapa persoalan perekonomian. Salah satu persoalan ekonomi yang dihadapi petani di Indonesia, yaitu bila musim panen, hasil panen mereka dibeli dengan harga yang murah. Selain itu, pemberian subsidi pupuk juga sering salah sasaran.

Dalam kewajiban pembayaran pajak, Kiai Said menilai warga NU sangat taat pajak. "Warga NU semuanya taat pajak. Sosialisasi tentang pajak paling gampang mengajak NU. Karena sudah biasa bayar zakat, infak, dan sedekah," tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Makam, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 30 November 2017

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara!

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Mustasyar PCNU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta segenap umat muslim, utamanya warga NU untuk mengerjakan segala amalan di bulan suci Ramadhan dengan khusyu. Terlebih dengan pelaksanaan sholat tarawih.

“Selama ini terkesan sholat Tarawih dikerjakan dengan cepat dan seolah-olah balapan antara tempat yang satu dengan yang lain. Hal ini tentunya dikhawatirkan akan mengurangi kekhusyuan,” katanya, Senin (6/6).

Menurut Hasan, biasanya sholat tarawih ini dilakukan dengan cepat karena ingin cepat selesai. Apalagi jika mendengar tempat sebelahnya sudah sholat witir, pasti akan tambah cepat. Terlebih jika makmumnya adalah para anak-anak muda.

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara!

“Setelah saya amati dengan seksama, ternyata hal itu dikarenakan adanya speker (pengeras suara). Jika tempat sebelahnya terdengar sudah witir, maka imam pastinya agak cepat baca suratnya. Solusi yang ingin saya tawarkan, saat sholat taraweh matikan dulu spekernya. Nanti nyalakan lagi setelah mau tadarus Al-Qur’an,” jelasnya.

Hasan menyampaikan bahwa sholat taraweh ini harus dilakukan dengan tuma’ninah dan khusyu. Meskipun agak cepat, tetapi imam dan makmum tidak boleh melupakan tuma’ninah. “Terkadang saat imam selesai baca Al-Fatihah makmum menjawab Amin dengan keras seperti dibentak,” terangnya.?

Oleh karena itu Hasan meminta kepada segenap imam masjid dan mushola untuk memberikan proses pembelajaran kepada anak muda bagaimana menunaikan sholat dengan khusyu. “Marilah berikan contoh yang baik bagi anak muda,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut Hasan mengharapkan agar umat muslim, terutama di Kabupaten Probolinggo bisa mengisi bulan suci Ramadhan ini dengan kegiatan-kegiatan ibadah. “Inilah bulan suci yang penuh dengan berkah dan ampunan. Semoga kita mampu mengisi bulan penuh rahmat ini dengan sebaik-baiknya dan kembali fitrah saat hari raya Idul Fitri,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Kajian, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 26 November 2017

KH Abdul Azim AS, Ulama Betawi yang Organisatoris

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

KH Abdul Azim Ahmad Suhaimi lahir di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada 1 Juli 1937. Ayahnya KH Ahmad Suhaimi adalah seorang ahli falak. Dan kakeknya Abdul Mughni bin Sanusi bin Ayub bin Qais adalah seorang ulama Betawi terkemuka pada masanya, yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Mughni.

KH Abdul Azim AS, Ulama Betawi yang Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdul Azim AS, Ulama Betawi yang Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdul Azim AS, Ulama Betawi yang Organisatoris

KH Abdul Azim AS menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat dan kemudian di Madrasah Raudhatul Muta’allimin Kuningan. Tahun 1956-1957 ia belajar di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.?

Tahun 1957 ia berangkat ke Kairo, Mesir. Pendidikan yang diambil di Kairo tidak langsung pendidikan tinggi, karena harus lebih dahulu menyelesaikan tingkat SMA-nya. Barulah setelah itu, ia meneruskannya dengan mengambil pendidikan sarjana.

Ia juga cukup aktif di dunia organisasi. Pada tahun 1955, ia menjadi anggota Pandu Ansor cabang Kramat Jati, Jakarta Timur. Ketika di Kairo ia pun aktif dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI).?

Ribath Nurul Hidayah

Setelah sekitar sembilan tahun tinggal dan belajar di Mesir, ia kembali ke Indonesia dan mulai aktif berdakwah. Karena keaktifannya, ia pun berhubungan dekat dengan banyak ulama besar. Salah satunya KH Fathullah Harun, ulama Betawi Matraman yang waktu itu menjadi imam dan guru besar di Malaysia. Oleh kiai dan sekaligus sahabatnya saat di Mesir itu, KH Abdul Azim sering diundang untuk mengasisteni dan mengadakan kunjungan dakwah ke berbagai tempat di Malaysia bahkan sampai ke Patani, Thailand.

Tahun 1974, KH Abdul Azim semakin fokus mengembangkan dakwah di Jakarta. Ia antara lain terlibat dalam memajukan Perguruan Islam Al Mughni yang dirintis kakeknya sejak tahun 1925. Perguruan Al-Mughni yang sempat mengalami gempuran tantangan atas nama pembangunan di DKI Jakarta, kini semakin maju. Lokasi perguruan yang dikepung bangunan perkantoran di Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan itu, berpacu dengan modernisasi Jakarta memiliki lembaga sekolah yang menyelenggarakan pendidikan dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

KH Abdul Azim adalah ayah dari empat anak yang banyak aktif di dunia pendidikan Islam. Salah satu anaknya, Ahmad Sidqi, adalah aktivis PCINU di Turki. Kepada generasi muda NU KH Abdul Adzim berpesan agar tidak melupakan sejarah dan peran para pendahulu. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 24 November 2017

Soal Pembagian Daging Kurban, Habib Syech Sentil Orang Kaya

Karanganyar, Ribath Nurul Hidayah. Salah satu fenomena yang sering kita jumpai pada saat Idul Adha yakni antrean orang untuk mendapatkan jatah daging kurban. Ironisnya, antrean tersebut terkadang memakan korban nyawa.

Soal Pembagian Daging Kurban, Habib Syech Sentil Orang Kaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Pembagian Daging Kurban, Habib Syech Sentil Orang Kaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Pembagian Daging Kurban, Habib Syech Sentil Orang Kaya

Hal ini mendapat perhatian dari pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf. “Kasihan umat Islam, mereka mungkin memang tidak mampu betul, akhirnya mereka memaksakan diri untuk datang mendapatkan itu, tetapi sampai sekarang malah mendapatkan sakit,” kata Habib Syech, di depan ribuan Jamaah Karanganyar Bersholawat, Selasa (30/9) malam.

Menurutnya, lebih baik apabila daging kurban diserahkan langsung kepada mereka yang berhak mendapatkan. Ia menerangkan bahwa zaman terbaik adalah zaman sewaktu orang-orang kaya berdiri di pintu kaum miskin. Maksudnya orang kaya memberi kepada yang miskin.

Ribath Nurul Hidayah

“Sebaliknya, zaman terjelek adalah zaman sewaktu orang-orang miskin berdiri di pintu rumah orang-orang kaya. Sekarang ini zamannya,” tegasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Tokoh, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 23 November 2017

LAZISNU Berikan Bantuan Pendidikan Siswa Kurang Mampu

Wonosobo, Ribath Nurul Hidayah. Untuk membantu meringankan beban bagi siswa-siswi miskin yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Wonosobo melalui program Nusmart memberikan bantuan kepada lima belas siswa-siswi di sekolah yang berada di Kabupaten Wonosobo.

LAZISNU Berikan Bantuan Pendidikan Siswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Berikan Bantuan Pendidikan Siswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Berikan Bantuan Pendidikan Siswa Kurang Mampu

“Menjelang tahun pelajaran baru, dalam program Nusmart kami memberikan bantuan beruapa uang kepada siswa-siswi yang kurang mampu di 15 Kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo. Bantuan itu sebagai upaya untuk meringankan beban  mereka ketika masuk sekolah,” terang Arif Alwashim Manager LAZISNU Wonosobo di kantornya, Selasa (23/7) lalu.

Agar panyalurannya benar-benar tepat sasaran, bantuan tersebut diberikan tidak kesembarangan siswa. Sebab siswa penerima bantuan mempunyai kriteria tertentu. “Kriteria penerima bantuan itu adalah siswa yang kurang mampu dan berprestasi. Karena dua kriteria itu bagi kami sangat penting. Sehingga mereka benar-benar merasakan akan manfaatnya,” terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Disebutkan, dari lima belas penerima bantuan dalam program numsart itu dibagi menjadi tiga. Untuk jumlah penerima SD ada lima siswa, Siswa SMP ada 5 siswa, kemudian untuk siswa SMA ada 5 siswa. Pembagian tersebut sudah dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Lazisnu.

“Nominal yang diberikan kepada siswa SD Rp. 200ribu, Siswa SMP Rp. 300ribu dan siswa SMA Rp. 400ribu. Jumlah itu sudah disesuaikan dengan kebututuhan siswa jelang masuk sekolah,” terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Wonosobo Arifin Shidiq mengatakan, ptogram nusmart tersebut merupakan layanan beasiswa yang diberikan oleh LAZISNU kepada siswa, santri dan mahasiswa yang tidak mampu. Nusmart itu untuk memaksimalkan bantuan kepada siswa yang kurang mampu di bidang pendidikan.

“Setidaknya dengan diberi uang santuanan maka dapat membantu membeli perlengkapan buku ketika masuk sekolah. Karena kebutuhan jelang masuk sekolah itu cukup banyak, dan bagi siswa yang kurang mampu sangat membantu,” jelasnya.

 Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Tokoh, Warta Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 17 November 2017

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah

Dalam rangka mempersiapkan mutu lulusan, Universitas NU (UNU) Sidoarjo telah memastikan diri dengan barbagai kegiatan di antaranya dengan mengikuti seleksi Proposal Hibah Pusat Karir di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada April 2016.

Irviandi Yudhotomo, dosen UNU Sidoarjo yang mengikuti seleksi tersebut menjelaskan, Hibah Pusat Karir merupakan program dari Kemenristekdikti untuk peningkatan kualitas lulusan di sebuah perguruan tinggi. Selain itu, program Pusat Karir dapat diikuti mahasiswa tanpa ada batasan semester dan jurusan.? ?

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir

Artinya, apapun jurusannya dan berapapun semesternya, bagi mahasiswa yang memiliki nilai tambah berupa bakat dan minat selain jurusan yang diambil dapat dimaksimalkan potensinya di Pusat Karir. Selain itu juga untuk pematangan dan pemetaan karir melalui program Karir Kompas yang dijalankan sebelum mereka lulus.

Ribath Nurul Hidayah

"Jadi mahasiswa yang memiliki potensi lain selain jurusan yang dia ambil bisa dimaksimalkan melalui program Pusat Karir," ujar dosen yang akrab disapa Pak Irviandi itu, Senin (9/5). ?

Ribath Nurul Hidayah

Ia menambahkan, dengan adanya hibah tersebut peluang mahasiswa UNU Sidoarjo dalam mengembangkan karir dapat dimulai sebelum mereka lulus. Selain itu, program tersebut juga membantu mahasiswa mengurangi masa tunggu masuk dunia kerja setelah lulus –permasalahan yang masih terjadi pada lulusan perguruan tinggi.

Berdasar pada Nota Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Bantuan Pengembangan Layanan Pusat Karir 2016 Nomor: 642.172/B3.4/KM/PK/2016 tertanggal 25 April 2016, UNU Sidoarjo bersama Kementerian Ristekdikti akan melakukan sederetan program pembinaan karir mahasiswa selama 6 bulan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 15 November 2017

IPNU-IPPNU Kota Tasikmalaya Meriahkan Kirab Santri

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Tasikmalaya turut meriahkan kirab santri pada Kamis (20/10) yang bertempat di Lapang Dadaha, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kegiatan ini langsung diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya dan disambut baik oleh anggota dan pengurus IPNU-IPPNU Kota Tasikmalaya. Acara yang dimulai pukul 08.00 sampai 11.00 WIB ini berlangsung penuh keceriaan dari kaum santri dan pelajar yang ada di Kota Tasikmalaya.

IPNU-IPPNU Kota Tasikmalaya Meriahkan Kirab Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kota Tasikmalaya Meriahkan Kirab Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kota Tasikmalaya Meriahkan Kirab Santri

Kirab diawali dengan jalan kaki dari Tugu Adipura (Depan Mesjid Agung Kota Tasikmalaya) lurus menuju Jalan KH Zenal Mustofa, kemudian lewat Tugu Asmaul Husna, belok Kiri ke jalan Tentara Pelajar, belok kanan ke Jalan Pengaduan Kuda dan Finish di Lapang Dadaha, dengan menempuh jarak tempuh kurang lebih 3,5 kilometer.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Ketua PC IPNU Kota Tasikmalaya Saepul Malik, anggota dan pengurus IPNU-IPPNU harus tetap berada dalam barisan santri. Karena santri itu ulama yang akan datang.

Ia juga menginstruksikan kepada semua pimpinan yang ada di Kota Tasik untuk ikut berpartisipasi dan memeriahkan kirab santri yang diadakan oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Ribath Nurul Hidayah

Jika ada anggota dan pengurus IPNU-IPPNU yang tidak diizinkan oleh pihak pesantren untuk ikut Kirab Hari Santri maka harus dipertanyakan status pesantren tersebut, ujar Saepul. (Agum Gumilar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah