Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Januari 2018

Ada Raksasa Ijo Ajak Masyarakat Mengaji di Bekasi

Bekasi, Ribath Nurul Hidayah

Warga kampung Bulaktemu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dikejutkan dengan hadirnya raksasa ijo pembawa Iqro’. Raksasa yang kerap menjadi simbol sosok jahat pembawa keresahan itu hadir dengan lembut dan akrab.

Ada Raksasa Ijo Ajak Masyarakat Mengaji di Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Raksasa Ijo Ajak Masyarakat Mengaji di Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Raksasa Ijo Ajak Masyarakat Mengaji di Bekasi

Para pemuda masjid kampung Bulaktemu dan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menghadirkan boneka berukuran besar tersebut untuk menggerakkan masyarakat agar gemar mengaji.

“Ini hal pertama kali kita lakukan di kampung kita, mengajak pemuda khususnya, serta masyarakat untuk mengaji,” ujar Daud, pemuda kampung Bulaktemu.

Ribath Nurul Hidayah

Raksasa ijo (raksasa hijau) dibuat dari bambu setinggi tiga meter yang dilapisi kertas. Karya para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAINU Jakarta ini berjalan mengelilingi kampung, Senin (11/4), dan diikuti lebih dari 400 anak serta warga Bulaktemu dengan membawa bendera.

Ribath Nurul Hidayah

Pawai ini dibuka kepala Desa Sukabudi Iimudin Suparna serta tokoh masyarakat dan perangkat desa kampung Bulaktemu. Pembukaan ditandai dengan pemotongan pita di tugu depan kantor kepala desa setempat, pukul tujuh pagi. Suara petasan dan sorak-sorak sorai dari anak-anak dan warga menambah kemeriahan.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Camat Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Agung Suganda beserta jajaran pegawai kecamatan setempat. Ketua Bidang Kemahasiswaan STAINU Jakarta Akhmad Nurul Huda yang menjadi dosen pembimbing KKN juga menyamput positif aksi kreatif para mahasiswa. (Moch. Muhdi Khorip/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Tegal Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan

KH Dimyathi bin KH Muslim adalah salah satu ulama lahir sekitar tahun 1880 di Rembang, Jawa Tengah, dari keluarga sederhana namun tegas dalam hal agama. Tak diketahui secara pasti kapan persisnya Mbah Dimyathi, sapaan akrabnya, dilahirkan. Putra pertama dari KH Muslim dan Mbah Siti Jiddah ini memiliki satu saudara kandung bernama KH Mashum.

Sejak kecil kedua orang tuanya begitu keras dalam mendidik agama. Terbukti dengan riwayat pendidikan yang dijalani Mbah Dimyathi di beberapa pesantren ternama, di antaranya pesantren Sarang, Jombang dan juga pernah belajar di Makkah.

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan

Di sisi lain, ulama alim yang satu ini juga memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beliau sering melakukan perjalanan ke desa-desa untuk memberikan nasihat dan syiar agama Islam. Masyarakat yang didatangi beliau pun terkagum-kagum karena enaknya bahasa beliau yang digunakan dalam penyampaian nasihat tersebut. Saat melakukan perjalanan beliau menggunakan dokar (delman) sebagai kendaraannya.

Di Desa Gandrirojo dulu terkenal dengan budaya joget (tarian Melayu tradisional), kelompok pemain joget pun berdatangan untuk menghibur masyarakat pada saat itu. Dan pada suatu hari di jalan perempatan desa setempat ada kelompok joget yang datang, kemudian Mbah Dimyathi menghampiri, dan kemudian gendang/kendang (instrumen dalam gamelan) ditendang oleh beliau sambil berkata "Lereni nang mire!" (berhenti dan bubar). Spontan penonton bubar dan pemain joget bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut tanpa terucap satu kata pun.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam sebuah cerita menyebutkan, bahwa Mbah Dimyathi merupakan orang yang gampangan (mudah) jika dibutuhkan oleh masyarakat. Bukan hanya di Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan saja yang merasakan jasa beliau, melainkan juga masyarakat luar daerah.

Beberapa peninggalan yang masih dapat diketahui hingga saat ini adalah Masjid Jami Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Masjid yang berada di tengah desa tersebut berdiri begitu kokoh dengan arsitek kuno yang begitu mencolok.

Ribath Nurul Hidayah



Menuntut Ilmu hingga ke Makkah


Ulama yang satu ini memiliki segudang ilmu dengan sejarah nyantri yang cukup panjang. Di Pondok Pesantren Sarang, Kabupaten Rembang, beliau mengaji hingga 10 tahun lamanya. Dilanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, selama 3 tahun. Setelah 13 tahun di Pulau Jawa, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Di Makkah beliau menuntut ilmu selama 6 tahun.

Di sela-sela senggang waktu mengaji, ia memanfaatkan waktunya untuk nderes (membaca kitab berulang-ulang). Selain itu, sesekali beliau juga membacakan kitab kepada beberapa santri yang ada di sana. Salah satu santri Mbah Dimyathi adalah Sayyid Hamzah Asy-Syatho (yang makamnya sekarang berada di Desa? Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang).

Enam tahun telah dilalui beliau untuk belajar ilmu agama di Makkah, sekembalinya dari Makkah Mbah Dimyathi mendirikan sebuah masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung sebagai tempat mengaji bersama santri-santrinya di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.

Beberapa tahun kemudian, Sayyid Hamzah Asy-Syatho yang merupakan salah satu santri beliau saat di Makkah datang ke tanah Jawa. Sayyid Hamzah Asy-Syatho hendak menengok keadaan sang guru, dan ingin mengetahui keadaan kediaman beliau. Sesampainya Sayyid Hamzah Asy-Syatho di Desa Gandrirojo, maka bertemulah dengan sang guru. Saat melihat keadaan masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung (Joglo) tersebut, Sayyid Hamzah Asy-Syatho tidak rela akan hal itu, karena Sayyid Hamzah Asy-Syatho mengaggap bahwa Mbah Dimyathi adalah sosok ulama yang mempunyai ilmu besar dan mampu untuk menjadi panutan. Ia pun minta izin kepada Mbah Dimyathi untuk mendirikan Masjid yang lebih besar lagi.

Dengan upaya dan jerih payah Sayyid Hamzah Asy-Syatho dalam mewujudkan keinginannya tersebut, terwujudlah bangunan masjid yang megah dan berdiri kokoh hingga saat ini, yaitu Masjid Desa Gandrirojo yang posisinya diapit oleh dua pondok, pondok yang diasuh oleh KH Sahlan M Nur (sebelah selatan) dan pondok yang diasuh oleh KH Fahrurrozi Almarhum (sebalah utara).



Punya Santri dari Kalangan Jin


Sepulang dari Makkah, Mbah Dimyathi mengajarkan ilmu agama kepada beberapa santri yang ada di pesantrennya. Kitab-kitab yang diajarkan terdiri dari semua aspek ilmu agama, mulai dari ilmu fiqih, tasawuf, hingga tauhid.

Di antara santri-santri beliau yang telah menunjukkan kiprahnya di antaranya KH Mawardi Gandrirojo, KH Ghozali Gandrirojo, KH Dahlan Blora (Syuriah PCNU Blora), Mbah Basyir Kajen, KH Tamlihan Pamotan, Kiai Syuaib Plawangan, KH Sidiq Narukan, KH Marzuki Sendangwaru, Kiai Syamsuri Sendangmulyo, Kiai Mashum Kopek, Kiai Suhini Menoro, KH Suyuti Menoro, KH Maskur Jambeyan, Kiai Abdul Rohim Kumbo, KH Darkum Gambiran, KH Maskur Galengan, KH Shodiq Ngroto, KH Mastur Lemahputih, Kiai Nuh Dadapan, Kiai Mawardi Macanireng, Kiai Barhud Bonang, KH Joned Bonang, KH Sendang Agung Pamotan, dan lain sebagainya.

Pada masa puncak keemasannya, Mbah Dimyathi memiliki 1000 santri dari berbagai penjuru, sehingga rumah beliau dibuat sekat-sekat kamar untuk menginap santri-santrinya. Ada yang menceritakan, Mbah Dimyathi juga memiliki santri dari kalangan jin. Jin tersebut merupakan bekas penghuni tanah yang kini menjadi lokasi masjid. Beberapa jin yang menolak ajakan beliau untuk masuk Islam pergi dari tempat tersebut, dan sebagian lagi mengikuti ajakan beliau.



Pendiri NU di Wilayah Rembang Timur


Menguak kealiman dan kesohoran ilmu beliau tidak akan pernah luput dari proses belajar beliau di beberapa pesantren ternama di Pulau Jawa, di antaranya Pesantren Tebuireng Jombang. Di sanalah Mbah Dimyathi mendalami pendidikan ilmu agama kepada ulama besar Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari.

KH Hasyim Asyari yang merupakan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Nusantara juga turut menularkan loyalitas beliau dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Pernah dua kali KH Hasyim Asyari berkunjung ke rumah Mbah Dimyathi di Desa Gandrirojo, yang pertama karena rasa penasaran beliau tentang sosok karismatik dan alimnya Mbah Dimyathi. Kemudian kunjungan yang kedua oleh KH Hasyim Asyari adalah saat akan dilaksanakannya seuah pertemuan di Blora kira-kira tahun 1927/1928 M. Mbah Hasyim mengajak sang murid untuk mengikuti acara tersebut. Maka berangkatlah mereka berdua dengan ditemani adik kandung Mbah Dimyathi, yakni Mbah Mashum.

Mbah Dimyathi termasuk salah satu pendiri NU di wilayah Rembang Timur. Ia? bersama dengan adiknya (Mbah Mashum) juga pernah dipercaya untuk mengemban amanah sebagai kepala bidang ekonomi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat itu. (Aan Ainun Najib)

Sumber :

1. Catatan KH Sahlan M Nur, hasil cerita dari KH Mawardi Alm (menantu Mbah Dimyathi)

2. Wawancara KH Sahlan M Nur (27 Januari 2016)

3. Wawancara KH Muhdi Mawardi, cucu Mbah Dimyathi (27 Agustus 2016)

4. Wawancara KH Saefuddin (27 Agustus 2016)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 12 Januari 2018

Dilantik, Pagar Nusa Sidoarjo Tegaskan Lawan Ekstremisme

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Sidoarjo, Jawa Timur, menyatakan siap berada di garis depan untuk menghadapi ekstremisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama.

Ketua PC PSNU Pagar Nusa Sidoarjo Abdur Rosyad yang barusan dilantik mengatakan, sebagai salah satu badan otonom NU berkewajiban untuk bergerak dan bersikap sesuai ajaran dan tuntunan para ulama NU.

Dilantik, Pagar Nusa Sidoarjo Tegaskan Lawan Ekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pagar Nusa Sidoarjo Tegaskan Lawan Ekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pagar Nusa Sidoarjo Tegaskan Lawan Ekstremisme

"Untuk mengantisipasi kelompok atau organisasi yang tidak menghendaki Pancasila dan mengoyak persatuan Indonesia, Pagar Nusa Sidoarjo dalam mengambil sikap tetap akan berkoordinasi aktif dengan pihak keamanan baik Kepolisian maupun TNI," papar Abdur Rosyad, Ahad (19/4) malam.

Ribath Nurul Hidayah

Acara pelantikan Pengurus Cabang PSNU Pagar Nusa Sidoarjo yang digelar di halaman kantor Cabang NU Sidoarjo itu dimeriahkan berbagai macam atraksi pencak silat mulai dari memegang petasan dan atraksi pencak silat lainnya.

Lebih jauh Abdur Rosyad mengatakan, dalam menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada) di Sidoarjo yang akan digelar tahun 2015 ini, Pagar Nusa Sidoarjo berkomitmen atas nama para ulama siap  menjaga stabilitas keamanan dan kesuksesan acara tersebut. (Moh Kholidun/Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 09 Januari 2018

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengajak warga NU untuk menengok dan mengingat kembali sejarah awal dibentuknya NU sesuai yang tertera dalam Anggaran Dasar Aggaran Rumah Tangga AD/ART NU.

Menurutnya, NU satu kesatun dengan bangsa Indonesia, dan tak terpisahkan. “NU didirikan itu salah satu tujuannya menciptakan tatanan masyarakat Indonesia yang rahmatan lil alamin demi terwujudnya bangsa Indonesia. Mari kita lihat AD/RT NU, maka dari itu, NU tidak bisa pisah dari bangsa Indonesia,” katanya di hadapan ribuan Muslimat NU di alun-alun Masjid Agung Demak pada Ahad (2 /4) pada puncak Harlah NU ke 91, Harlah Muslimat NU ke 71 dan Hari Jadi Demak ke 514.

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Gus Yahya begitu dia akrab dipanggil, menegaskan, selaku salah satu elemen pendiri bangsa Indonesia, NU secara otomatis ? mempunyai ? kewajiban menjaga bangsanya dari orang maupun kelompok pengacau, pengganggu, merongrong kewibawaan bangsa serta mengganggu keutuhan Negara Kesatua Republilk Indonesia.

“Setiap pengacau yang mengganggu Indonesia, maka akan berhadapan dengan NU. Bagi NU, NKRI harga mati yang tak hisadi tawar lagi,” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Muslimat NU Demak Hj Utami Musadad mengatakan,kegiatan tersebut dimuli dengan bacaan Al-Qur’an bil ghoib (hafalan) sebanyak 500 kali, membaca Al-Qur’an bi nadhor sbanyak 500 kali, manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani 400 kali, istighotsah, maulidurrasul serta pengajian,

“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan khidmat, khataman Al-Qur’an baik bil ghoib maupun bi nadhor, manaqib semua khatam,” tutur Hj Utami Sadad.

Puncak acara harlah, selain dihadiri warga Muslimat, juga dihadiri Bupati Demak H M Natsir, Waub Joko Sutanto, ketua DPRD H Nurul Muttaqin, Kapolres, Dandim, Kajari, Kepala Pengadilan Negeri Demak Wakil ketua PW Muslimat Jateng yang ? juga anggota FKB DPRD Jateng Hj Ida Nurs Sa’adah, Katib ‘Aam Jatman KH Zaini Mawardi, pengurus NU dari Cabang sampai Ranting. (A.Shiddiq Sugirto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Ubudiyah, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 03 Januari 2018

Ansor Bandung Rumuskan Program Sentuh Masyarakat

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung merumuskan program kerja yang dirasakan masyarakat, berlangsung di lantai 2 aula gedung PC NU Kota Bandung, pada Ahad, (10/3).

Ansor Bandung Rumuskan Program Sentuh Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Bandung Rumuskan Program Sentuh Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Bandung Rumuskan Program Sentuh Masyarakat

Ditegaskan dalam sambutan Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Bandung, Aa Abdul Rozak, bahwa Ansor akan melahirkan program kerja yang menyentuh langsung kebutuhan grassroot pemuda NU dan masyarakat.

Ia menambahkan Ansor juga harus mampu memberikan solusi terkait problematika yang komplek di kota Bandung, “Kota Bandung adalah ibu kota Jawa Barat, yang merupakanh provinsi penopang ibu kota NKRI,” katanya sesuai pers rilis yang dikirim ke Ribath Nurul Hidayah, Ahad (10/3).

Ribath Nurul Hidayah

Maka, sambung ketua yang belum lama menggondol gelar magister, sebuah keniscayaan bagi para pemuda NU kota Bandung untuk turut serta menyelesaikannya. Untuk semua itu, butuh manajemen. “Butuh manajemen organisasi yang berbasis kerja,” tambahnya.

Rozak mengajak kepada seluruh kader Ansor untuk senantiasa peka terhadap realitas yang ada di depan mata dan senantiasa setias mengawal ajaran Islam Ahlu Sunnah wal-Jamaah, menjadi benteng ulama NU dan benteng NKRI.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara sebelumnya, Ketua Pelaksana Rakercab, Ali Yusa mengatakan bahwa acara ini sengaja dilakukan di aula gedung PCNU untuk meramaikan kembali kantor tersebut dengan acara keorganisasian Banom. “Sudah hampir 12 tahun Ansor di Kota Bandung tidak menunjukan batang hidungnya secara organisasi,” katanya.

Ia malanjutkan, dan sengaja pula acara ini yang diundng hanya lingkungan internal NU dikarenakan masih dalam tahap konsolidasi internal yang massif.

Rakercab yang dibuka Wakil Ketua Bidang Kebanoman NU Kota Bandung, DR H. Nurhidayat tersebut, dihadiri seluruh pengurus harian cabang dan PAC Ansor se-Kota Bandung. Hadir pula pengurus-pengurus Banom lain, serta Sekertaris Dewan Penasihat Ansor Kota Bandung Kiai Wahyu Afif Al-Ghofiqi.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 02 Januari 2018

Dikunjungi Ahok-Djarot, Kiai Said: Kita Harus Terima Tamu dengan Baik

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, umat Islam harus menerima tamu yang datang kepadanya dengan baik.?

“Dulu kita juga menerima kunjungan Anies-Sandi,” katanya merespon kedatangan Ahok-Djarot ke Gedung PBNU di Jakarta, Senin (10/4) malam.

Dikunjungi Ahok-Djarot, Kiai Said: Kita Harus Terima Tamu dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikunjungi Ahok-Djarot, Kiai Said: Kita Harus Terima Tamu dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikunjungi Ahok-Djarot, Kiai Said: Kita Harus Terima Tamu dengan Baik

Ia menuturkan, maksud kedatangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tersebut ke PBNU adalah untuk meminta doa dan restu kepada kiai-kiai NU, bukan untuk meminta dukungan. Menurutnya, NU tidak bisa mendukung karena bukan partai politik.?

“Mudah-mudahan Pak Ahok dan Pak Djarot sehat walafiat, diberi kekuatan oleh Tuhan," kata Kiai Said.?

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Said berharap, semua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur agar bisa menjaga pilkada yang aman, lancar, dan tertib. “Semoga pilkada aman, lancar, dan tertib,” ucap Pengasuh Pesantren Al Tsaqofah itu.

Ia juga meminta Ahok untuk berhati-hati dalam bertutur kata agar tidak menimbulkan kekisruhan di tengah-tengah masyarakat. Serta berharap, Jakarta bisa menjadi contoh kepada daerah-daerah lain dalam hal penyelenggaraan pilkada.?

Wakil Gubernur DKI non-aktif Djarot Saiful Hidayat menegaskan maksud kunjungannya ke PBNU adalah untuk bersilaturahim dan meminta doa restu. “Kita berada di jalan PBNU; Pancasila, Bhinneka, Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945,” jelasnya disambut riuh tawa yang hadir.

Ahok dan Djarot datang ke PBNU didampingi oleh Ketua Umum PPP Djan Farid dan disambut oleh Ketua Umum dan Sekjen PBNU serta beberapa pengurus. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Jadwal Kajian, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 04 Desember 2017

Ali Maschan Moesa, Khilafah dan Sepakbola

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Bagi Ketua PWNU Jatim, KH Dr Ali Maschan Moesa, MSi, konsep khilafah atau kepemimpinan dalam negara Islam yang gencar dikampanyekan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan sepakbola, memiliki hubungan yang sangat erat.

Apa hubungannya? "Ibarat sepakbola, NU diserang terus dengan konsep khilafah dan formalisasi syariah yang gencar dikampanyekan HTI," kata Pria kelahiran Tulungagung, Jatim, 1 Januari 1956 itu.

Dosen IAIN Sunan Ampel yang beberapa bulan lalu memperolah gelar doktor politik dari Unair itu mengemukakan bahwa selama ini, NU sering bertahan dengan gencarnya kampanye khilafah hingga masuk ke kantong-kantong NU di tingkat bawah.

Ali Maschan Moesa, Khilafah dan Sepakbola (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Maschan Moesa, Khilafah dan Sepakbola (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Maschan Moesa, Khilafah dan Sepakbola

"Selama ini kami bertahan terus dan sekali-kali kan harus menyerang juga," kata pengasuh Pesantren Luhur "Al-Husna" Surabaya itu saat menjelaskan bahwa konsep khilafah akan menjadi bahasan dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jatim, 2 - 4 Nopember di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo.

Menurut kakak kandung politisi PKB Ali Masykur Moesa itu, meskipun kampanye HTI belum menjadi ancaman serius bagi NU yang memutuskan bahwa konsep NKRI sudah final, namun masalah itu tetap menjadi bahasan penting bagi ulama.

Ribath Nurul Hidayah

"Mereka menyebarkan selebaran mengenai konsep khilafah ke masjid-masjid NU dan banyak juga mushala serta masjid NU yang terpengaruh ajaran mereka," kata suami dari Mai Yetti yang aktivis Forum Lintas Agama (FLA) Jawa Timur itu.

Pada Konferwil nanti, kiai NU akan mencari landasan agar warga NU di tingkat bawah bisa berargumentasi saat berdialog mengenai konsep khilafah dengan NKRI. Dia mengaku bahwa warga NU di tingkat bawah saat ini tidak bisa beragumentasi untuk itu.

Ali Maschan melanjutkan bahwa seharusnya yang merespon masalah tersebut adalah negara, dalam hal ini pemerintah, DPR dan lembaga-lembaga lain. Namun karena pemerintah tidak pernah membicarakan masalah itu, maka NU sebagai komponen bangsa mencoba mencari solusi. (ant/eko)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Senin, 27 November 2017

Lebaran Tiga Bulan Lagi, tapi Tiket Mudik Sudah Ludes

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Lebaran masih tiga bulan lagi, tapi bagi para perantau yang tinggal di Jakarta, perjuangan untuk mendapatkan tiket kereta api agar bisa pulang sudah harus dilakukan hari-hari ini. Jika tidak bisa-bisa momen indah bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman bisa batal.

Lebaran Tiga Bulan Lagi, tapi Tiket Mudik Sudah Ludes (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebaran Tiga Bulan Lagi, tapi Tiket Mudik Sudah Ludes (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebaran Tiga Bulan Lagi, tapi Tiket Mudik Sudah Ludes

Tiket kereta api yang bisa dibeli tiga bulan sebelumnya menjadi banyak incaran calon pemudik. Ketepatan waktu dan harga yang relatif terjangkau menjadi alasan utama memilih moda transportasi ini. Untuk itu, calon pemudik harus rela begadang menunggu pukul 00.00 saat penjualan tiket kereta ke semua jurusan dimulai. Sayangnya, hanya dalam waktu tak lebih dari 10 menit, tiket-tiket tersebut sudah ludes.

Ribath Nurul Hidayah dalam tiga hari terakhir, 13, 14, dan 15 April yang mencoba ikut berburu tiket lebaran selalu gagal mendapatkan tiket impian. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 00.00 website PT KAI atau atau website milik mitra PT KAI yang melakukan penjualan online selalu gagal diakses karena terlalu banyak orang yang mencoba masuk dalam waktu yang bersamaan. Saat jam sudah menunjukkan pukul 00.10 website sudah mulai bisa diakses, tetapi sebagian besar tiket sudah ludes, tinggal tersisa beberapa tiket untuk kelas eksekutif yang harganya relatif mahal untuk kebanyakan orang.?

Ribath Nurul Hidayah

Begitu pula, mitra penjualan PT KAI seperti Indomart, Alfamart, dan Alfamidi yang beberapa malam terakhir ini selalu diantri calon pembeli tiket seringkali juga error pada jam-jam tersebut.?

Salah seorang calon pembeli tiket, Ahmad yang berburu tiket ke Yogyakarta mengeluh, pada Lebaran tahun lalu, Jakarta-Yogyakarta harus ditempuhnya dalam waktu dua hari. Karena itu, ia kapok naik bis dan berusaha mendapatkan tiket kereta. Untungnya, dua tiket yang diimpikannya berhasil dibeli buat di dan istrinya untuk keberangkatan tanggal 13 Juli 2015.

Ribath Nurul Hidayah

Di Alfamart jl Raden Saleh Jakarta Pusat yang buka 24 jam juga menjadi incaran calon pembeli tiket. Saat Ribath Nurul Hidayah berkunjung ke toko tersebut pada Rabu dini hari, 15 April, sudah terdapat sekitar 10 orang yang mengantri, tetapi mereka terpaksa bubar karena komputer di toko tersebut tidak dapat mengakses pusat data penjualan milik PT KAI. Hal yang sama juga terjadi di Alfamidi dan 7-Eleven di jl Kramat Raya, tak jauh dari gedung PBNU.?

Pelayanan kereta api di Indonesia belakangan ini mengalami perbaikan. Jika dulu orang harus berdesak-desakan saat naik kereta api. Kini penjualan tiket hanya dibatasi sesuai dengan kapasitas tempat duduk yang tersedia. Semua rangkaian kereta juga sudah diberi pendingin udara. Para pedagang asongan juga dilarang masuk ke stasiun. Kondisi inilah yang membuat minat masyarakat naik kereta api meningkat pesat, bukan hanya pada musim lebaran.?

Bagi yang menginginkan mudik gratis, PBNU dalam beberapa tahun ini secara rutin menyediakan mudik gratis dengan menggunakan bis. Informasi lengkap umumnya disediakan pada awal Ramadhan. (mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 20 November 2017

STISNU Nusantara “Road show” Aswaja NU ke Pesantren-Sekolah di Tangerang Raya

Tangerang, Ribath Nurul Hidayah. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang merealisasikan program pembinaan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) ke pesantren dan sekolah se-Tangerang Raya.

H Muhamad Qustulani, Wakil Ketua Bidang Akademik STISNU dalam rilis yang diterima Ribath Nurul Hidayah Senin (11/5) mengatakan, kegiatan itu merupakan bagian dari pengabdian mahasiwa semester VII untuk membumikan aswaja Nahdlatul Ulama di Tangerang.

STISNU Nusantara “Road show” Aswaja NU ke Pesantren-Sekolah di Tangerang Raya (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara “Road show” Aswaja NU ke Pesantren-Sekolah di Tangerang Raya (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara “Road show” Aswaja NU ke Pesantren-Sekolah di Tangerang Raya

Alumni STISNU Tangerang adalah pionir NU untuk menangkal gerakan gerakan yang mencoba merusak dan menyalahkan amaliyah dan tradisi sholeh ulama Nusantara. Lagi, menjaga generasi muda terkontaminasi dari ideologi radikal atasnama agama yang dapat merusak keutuhan NKRI.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga menambahkan, roadshow ini bertujuan memberikan pemahaman kepada para santri atau siswa yang akan lulus pesantren, atau sekolah setingkat Madrasah Aliyah bahwa NU adalah jalan soleh  yang real sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

“Banyak generasi muda yang masih mencari jati diri, salah mengambil tempat menaung. Ujung-ujungnya mereka menjadi bagian mereka yang membidahkan tradisi ulama salafus shalih, lebih lebih mengkafirkan ajaran para guru gurunya di pesantren,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

KH Mahrusillah, ketua pembina road show pembinaan Aswaja NU STISNU  menegaskan, santri hukumnya wajib NU dan mengamalkan tradisi NU, sebab itu kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman manhaj Aswaja NU, akan tetapi juga memberikan dalil dalil yang terkait dengan amaliyah nahdliyah di masyarakat.

Buku “Kontroversi Fiqh Tradisionalis” akan dibedah secara tuntas pada kegiatan ini. Ke depan, diharapkan tidak ada lagi kebingungan dalil bagi santri menangkal paham-paham yang bertentangan dengan ajaran shalih ulama.

Azib Andriyansah, ketua panitia roadshow STISNU berharap, para santri yang ingin melanjutkan studi keperguruan tinggi sudah mapan dan matang ideologi ke NU-anya, lebih lebih semua bisa bergabung melanjutkan studi perguruan tinggi di Kampus NU Tangerang, STISNU Nusantara.

“Kami berharap, ke depan, pemerintah daerah atau pusat turut mendukung kegiatan ini, mengingat manfaatnya untuk mencegah lahirnya radikalisme ideologi dan tindakan atasnama agama yang mengancam generasi muda Indonesia,” katanya.

“Lihat saja, mereka yang mengusung khilafah Islamiyah di bawah kebanyakan anak baru lulus yang tidak tahu subtansi beragama, berbangsa, dan beragama,” tambahnya.

Dalam acara roadshow, para peserta tidak hanya diberikan materi Aswaja tetapi juga dilengkapi dengan games dan lomba menghafal cepat Mars NU.

Kegiatan ini diluncurkan di Pondok Pesantren Al Kamil Kota Tangerang, dihadiri oleh 600 santri yang akan lulus. Selain itu, kegiatan ini direncanakan 3 bulan dengan target 20-30 pesantren dan sekolah se Tangerang Raya, di antaranya: Al-Mansyuriah, an-Nuqtoh, Darus Saadah, Al Mansuriyah, dan Al Hasaniyah. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Nasional, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 14 November 2017

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

Bandung, Ribath Nurul Hidayah 



Saat memasuki waktu Shalat Maghrib hari ini, Ahad (29/10), di stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, akan lain dari biasanya. Di stadion, azan akan berkumandang, kemudian para penonton, pemain sepak bola Liga Santri Nusantara akan shalat berjamaah.  

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

Menurut Ketua RMINU KH Abdul Ghofarrozin, shalat berjamaah itu memang direncanakan sejak jauh-jauh hari pada partai puncak atau grand final Liga Santri Nusantara. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pesepak-pesepak bola asal pesantren tidak meninggalkan kewajiban pokok ketika berkecimpung di dunia olahraga.  

“Kita akan shalat berjamaah terlebih dahulu sebelum bermain sepak bola dan menontonnya,” katanya di Media Center Liga Santri Nusantara, Bandung.  

Sekretaris RMINU Habib Soleh, diperkirakan warga yang akan mengikuti shalat berjamaah itu sekitar 20-25 ribu orang. Bagi penonton yang belum memiliki wudlu, panitia LSN bekerja sama dengan PDAM menyediakannya di luar lapangan. 

Ribath Nurul Hidayah

Partai final Liga Santri Nusantara mempertemukan kesebelasan Darul Huda Ponorogo (Jawa Timur) dan Darul Hikmah Cirebon, Jawa Barat. Mereka akan bertanding pada pukul 19.00. (Abdullah Alawi)

 

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, Ubudiyah, Tegal Ribath Nurul Hidayah

Senin, 06 November 2017

NU Aceh: Pilihlah Sesuai dengan Hati Nurani

Calang, Ribath Nurul Hidayah. Ketua PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali juga mengimbau warga Nahdliyin untuk tidak pecah belah dalam pilpres tahun ini, dan juga tidak melakukan kampanye hitam, tetapi dengan cara-cara yang elegan, sportif, dan beradab.  

“Saya mengimbau warga Nahdliyin yang ada di Aceh Jaya secara khusus dan juga yang ada di Aceh secara umum, agar tidak saling menjelek-jelekkan dan berpisah, pilihlah salah satunya dengan, damai, merdeka dan santai tanpa bersitegang dan saling menyerang,” katanya ketika memberi sambutan dalam Konferensi Cabang PCNU Aceh Jaya, Sabtu (24/5). 

NU Aceh: Pilihlah Sesuai dengan Hati Nurani (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Aceh: Pilihlah Sesuai dengan Hati Nurani (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Aceh: Pilihlah Sesuai dengan Hati Nurani

Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah ini juga menambahkan,  walaupun dari kedua calon capres dan cawapres tersebut ada pengurus Mustasyar PBNU yaitu H Jusuf Kalla. Namun masih sejauh ini PWNU Aceh belum memutuskan sikap atau pilihan dari kedua capres dan cawapres tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Di ujung kata sambutannya, ia mengatakan, mudah-mudahan Allah yang berkuasa mengangkat siapa saja yang Ia kehendaki  memilihkan yang terbaik.

Ketua PWNU Aceh didampingi oleh Sekretaris Tanfidziyah PWNU Aceh Asnawi M. Amin, S.Ag dan pengurus Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Aceh Ismi Amran, serta Sekretaris Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar NU (IPNU) Aceh Indra Kariadi. (Indra/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Warta, News, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 September 2017

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pondok Pesantren Luhur Al Tsaqafah, Ciganjur Jakarta selatan menggelar seleksi untuk calon santri baru. Seleksi gelombang pertama ini diikuti puluhan calon santri, Ahad, (26/2/2017).

"Gelombang pertama ini kebanyakan diikuti calon santri dari Jakarta, sedangkan selksi gelombang ke dua pada Maret banyak dari daerah," kata panitia seleksi Irfan.

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru

Pesantren asuhan Ketua Umum PBNU Kiai Said Siroj ini memiliki visi menjadi lembaga pendidikan pesantren yang unggul dan terkemuka di tingkat nasional dan internasional dalam pengintegrasian dan pengembangan studi keislaman dan peradaban.

Kepala MTS M Sofwan Yahya yang akrab disapa Gus Sofwan mengatakan, "pesantren ini memiliki visi untuk menjadi pesantren yang unggul di tingkat nasional dan internasional. Salah satu misi kami mengembangkan wawasan keislaman dan keilmuan yang tawassuth, tawazun, tasamuh dan itidal," paparnya

Ribath Nurul Hidayah

Dalam berbagai ajang perlombaan, Pesantren Al Tsaqafah ini sering menyabet juara "Alhamdulillah lomba kitab kuning juara II, pidato juara I, pidato bahasa Arab dan Inggris semuanya di tingkat provinsi, dan sains juara I tingkat provinsi se-Jabodetabek," kata Gus Sofwan

"Tiga santri kita juga mendapatkan beasiswa sekolah ke Maroko, semoga tahun ini ada yang mengikuti," pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 21 Agustus 2017

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Mustasyar PBNU KH Hafidz Usman yang meninggal Senin (20/10) pagi di Bandung dimakamkan di makam keluarga di Menes, Banten. Jenazah tiba di masjid yang terletak tidak jauh dari rumah singgah keluarga Menes pada sekitar pukul 00.10 dini hari dan langsung disambut ratusan jamaah yang memenuhi masjid.

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Shalat jenazah dipimpin oleh Rais Syuriyah PWNU Banten, KH Tubagus Abdul Hakim. Sambutan atas nama keluarga disampaikan oleh KH Suhri Usman, adik dari almarhum.

Atas permintaan keluarga, jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga Menes Banten, tepatnya di makam keluarga dari istri Kiai Hafidz yang juga saudara dari istri KH Ma’ani Rusydi.

Ribath Nurul Hidayah

Sejumlah pengurus NU hadir mengikuti pemakaman mewakili PBNU, antara lain Katib Syuriyah KH Mujib Qulyubi, Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU H Sarmidi Husna dan H Mahbub Ma’afi Ramdlan, Ketua Lembaga Wakaf PBNU H Mardini. Terlihat juga mantan politisi PPP Endin Sofihara, dan mantan Ketua PBNU Andi Jamaro.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Mahbub Ma’afi, Kiai Hafidz meniggal sehari setelah pulang dari haji. Ia datang ke kediamannya di Bandung pada Ahad (19/10). Keesokan harinya Kiai Hafidz tiba-tiba dikabarkan meninggal, tanpa didahului sakit sedikitpun.

“Jadi beliau berangkat haji itu seolah-olah berpamitan. Apalagi tahun ini bertepatan dengan haji akbar. Bahkan sebelum berangkat haji pun beliau belum sempat pulang ke rumah sehabis berkeliling Sumatera dan Sulawesi dalam rangka menjalankan tugas BWI (Badan Wakaf Indonesia),” kata Mahbub.

Pengurus Lembaga Bahtsul Masai PBNU itu menceritakan pengalamannya bersama KH Hafidz Usman terutama saat mendampingi almarhum dalam menyelesaiakan pembukuan hasil bahtsul masail NU sejak Muktamar pertama NU tahun 1926.

“Beliau memimpin tim menyocokkan referensi dari semua keputusan bahtsul masail. Kalau ada kitab yang menjadi referensi tidak ada di PBNU, beliau pesen itu kitab ke Mesir. Beliau salah satu Kiai NU yang ensikopedis, tahu banyak hal. Beliau mempunyai semua kitab yang menjadi rujukan bahtsul masail NU,” katanya.

Sebagai kiai senior, KH Hafidz Usman cukup menghargai pendapat kiai-kiai muda di lingkungan lembaga bahtsul masail. “Beliau tidak pernah marah. Kalau kami membantah atau mendebat beliau, secara etika kan tidak bener, tapi beliau tidak marah,” katanya.

KH Hafidz Usman meninggal pada usia 74 tahun. Aktivitasnya di NU dimulai sejak usia muda, sampai menjadi ketua PWNU Jawa Barat. Di PBNU, Jakarta, pertama-tama Kiai Hafidz diminta oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi salah satu Ketua PBNU. Pada periode berikutnya ia mendapatkan amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 19 Juli 2017

Habib Lutfi: Contohlah Laut

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Manusia di dunia, kadang lupa diri ketika diberi kelebihan oleh Allah SWT. Sehingga kadang berbuat diluar nalar dan lebih membanggakan diri sendiri tanpa memperhatikan kekuatan yang lebih dasyat. Bahkan dibandingkan dengan alam sekitarnya pun, manusia kadang kalah.



Habib Lutfi: Contohlah Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Lutfi: Contohlah Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Lutfi: Contohlah Laut

Seperti yang dicontohkan laut. Bagaimanapun banyaknya anak sungai yang airnya mengalir kelaut namun air laut tak akan kehilangan asinnya.

“Artinya kita selaku manusia meskipun banyak sekali ilmu pengetahuan maupu segala sesuatu yang dapat kita serap namun kita jangan sampai kehilangan jati diri,” pinta KH Habib Lutfi bin Ali Yahya pada saat menyampaikan tausiyah Maulid Nabi dan Haul Muassis ke-24 di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes Senin (22/2).

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Habib, bila para alim memiliki jatidiri, maka akan selalu berada di dijalan yang benar sesuai dengan ajaran Islam. “Era sekarang, pencemaran laut terus mendera, tapi tetap saja terasa asin,” ucapnya mantap.

Tak terkecuali manusia, setiap hari diterpa pencemaran. Baik itu berupa harta, tahta maupun wanita yang sangat menggiurkan. Tapi bila tetap berpegang pada jatidiri yang hakiki, tidak akan tergoyahkan.

Ribath Nurul Hidayah

Hadir pada acara tersebut wakil Bupati Brebes H. Agung Widiyantoro, SH MSi, Walikota tegal H. Ikmal Jaya, Kapolres dan wakapolres Brebes, Muspida dan muspika, kepala SKPD, ki dalang Entus dan ratusan Santri dan santriwati serta masyarakat umum lainnya.

Sebelumnya panitia juga mendaulat dalang kondang asal tegal Ki Entus Susmono untuk memberikan sedikit sambutan. Dengan gaya bahasanya yang blak-blakan, jamaah yang hadir dibuat ketawa lepas. Karuan saja, suasana mendadak ramai dan meriah. 

Wakil Bupati Brebes H. Agung Widyantoro, SH MSi yang membacakan sambutan Bupati, mengucapkan terima kasih atas kedatangan habib lutfi di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh pondok pesantren assalafiah desa Luwungragi.

Lebih lanjut dikatakan, pemerintah kabupaten Brebes setiap tahunya telah memperhatikan kebutuhan beragama mulai dari Pondok pesantren, madrasah dan lainya, hal tersebut dilakukan sebagai upaya agar pendidikan agama tetap ditanamkan sejak dini. Selanjutnya bupati berpesan kepada yang hadir pada acara tersebut agar dapat menjaga kerukunan antar sesama terutama kerukunan antar umat beragama, mengingat kabupaten brebes memiliki wilayah yang cukup luas. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 04 Juli 2017

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam akan merevitalisasi keberadaan Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus atau yang selama ini dikenal sebagai MAN PK. Kepastian revitaslisasi MAN PK ini diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan di Jakarta, Rabu (24/02).

“MAN PK-MAN PK yang ada akan kita revitalisasi,” tegas M. Nur Kholis Setiawan sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi

Ditegaskan pria yang juga tercatat sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, Program revitalisasi ini merupakan implementasi dari kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 60 Tahun 2015 tentang perubahan atas PMA Nomor 90 Tahun 2013. Dalam perubahan tersebut, ditetapkan tentang penganekaragaman madrasah menjadi tiga tipologi, yaitu: akademik, keterampilan/kejuruan, dan keagamaan.

“Revitalisasi ini menjadi upaya dan kontribusi Kemenag dalam mengatasi langkanya kader ulama. Ditpenma mengambil peran aktif dalam menyiapkan kader ulama sejak jenjang pendidikan menengah,” tambahnya.

Pada akhir tahun 1987, Menteri Agama Munawir Sjadzali memprakarsai proyek penyelenggaraan Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK). Madrasah Aliyah ini didesain dengan kurikulum keagamaan yang padat serta penekanan pada penguasaan Bahasa ? Arab dan Inggris. Dibuka pertama kali pada lima daerah, yaitu: Ujung Pandang, Jember, Yogyakarta, Ciamis, dan Padang Panjang, MAPK dinilai berhasil menyiapkan lulusan yang berwawasan ke-Islaman, ke-Indonesiaan, dan kemodernan yang baik.

Ribath Nurul Hidayah

Kehadiran MAPK disambut masyarakat hingga keluar Keputusan Menteri Agama (KMA) No 371 tahun 1993 yang mengubah MAPK menjadi Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Dengan KMA ini, Kanwil Kementerian Agama (Depag waktu itu) diperbolehkan membuka MAK sesuai kebutuhan, tidak hanya negeri tetapi juga swasta.

Jumlah MAK pun semakin banyak. Sayang, peningkatan kuantitas ini tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sehingga minat masyarakat juga berkurang. Munculnya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga tidak mengatur secara jelas tentang apa, bagaimana, dan di mana status hukum dan legalitas MAK. Ditjen Pendidikan Islam mengeluarkan surat edaran yang mengatur bahwa mulai tahun 2007 MAK tidak lagi diizinkan menerima siswa baru.

Namun demikian, menurut M Nur Kholis mengatakan bahwa proses revitalisasinya bukan berarti mengembalikan MAN PK di era awal. Proses revitalisasi dilakukan menyesuaikan dengan peraturan perundangan yang ada. Modelnya tidak akan sama persis dengan MAN PK di tahun 87-an atau 90-an.

Ribath Nurul Hidayah

“Bentuk revitalisasinya adalah melalui penguatan kurikulum asramanya. Aspek tafaqquh fiddinnya ada di asrama. Jadi hampir mirip dengan pesantren,” terang M. Nur Kholis Setiawan.

“Jadi misalnya di Madrasah Aliyah peminatan keagamaan ada mapel Tafsir, maka pendalaman mapel Tafsir itu dilakukan di asrama dengan, misalnya tambahan kajian terhadap kitab-kitab Tafsir. Begitu juga dengan Fikih-Usul Fikih dan Hadis-Ilmu Hadis,” tambahnya.

Revitalisasi MAN PK tahun ini menurut M Nur Kholis akan dilaksanakan di 10 madrasah, antara lain di Jember, Jombang, Surakarta, Jogjakarta, Ciamis, dan Padang Panjang. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Cerita, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 01 Juli 2017

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera

Padang Pariaman, Ribath Nurul Hidayah. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih di halaman rumah, perkantoran dan gedung lainnya dalam peringatan HUT Kemerdekaan ke-72 tahun 2017 membuat pejuang kemerdekaan RI prihatin. Kami berjuang mengusir bangsa penjajah Belanda dengan tetesan darah berwarna merah. Ribuan pejuang bercucuran darah hingga tewas akibat serangan tentara Belanda.

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera

Demikian diungkapkan salah seorang pejuang Kemerdekaan RI 1945 di Kabupaten Padang Pariaman, Labai Burhan, Jumat (18/8) di kediamannya kepada Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana yang mengunjunginya dalam suasana peringatan HUT RI ke-72.?

Burhan yang ditemani isterinya, Rabaani, kini tinggal di Korong Badinah, Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Menurut Burhan, betapa sedihnya menyaksikan generasi sekarang yang seakan tidak menghargai apa yang sudah dilakukan para pejuang kemerdekaan terdahulu. Mereka harus berhadapan dengan bedil, senjata mortir dan tank tentara Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali.?

Ribath Nurul Hidayah

"Nyawa mereka dipertaruhkan. Tapi hari ini dengan memasang bendera merah putih sebagai simbol ? bangsa Indonesia di hari peringatan kemerdekaan tersebut, terlihat banyak yang tidak memasang. Hendaknya ini perlu menjadi perhatian para pemimpin di masyarakat," kata Burhan.

Burhan juga menceritakan perjuangannya pada perang kemerdekaan. Suatu hari Komandan Pleton Abdulllah PO di Pakandangan menyuruhkannya menjeput peluru ke Sicincin. Dengan seorang teman, berangkat ke Sicincin. Dalam perjalanan bertemu dengan 12 orang pasukan Belanda.?

“Kami sangat kuatir jika tentara Belanda menghunuskan senapan, pasti tewas. Agar tidak menarik perhatian tentara, tetap berjalan tanpa menunjukkan akan melakukan perlawanan. Nasib baik, tentara Belanda tidak melakukan penempakan," kata Burhan yang kini sudah berumur 100 tahun. Karena alasan naik haji tahun 2007, tahun kelahirannya terpaksa ? dimajukan menjadi 15 April 1929 di KTP.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Burhan, meski turut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan RI, dirinya tidak pernah menerima pensiun sebagai veteran. Dulu memang ada yang mau mengurusnya. Namun hingga kini tidak ada hasilnya. Sedangkan teman-teman dan anggota sesama pejuang di pleton 142 sudah lama wafat.?

"Komandan Pleton Datuak Borong dan Wakilnya Buyung Gili, keduanya dari nagari Lubuk Pandan. Bahkan ada pula yang mau mengurus status veterannya, tapi dimintai sejumlah emas sebagai imbalannya. Akhirnya hingga kini tak jelas," kata Burhan yang memiliki 4 isteri dan 18 orang anak. Meski memiliki empat isteri, tapi tidak pernah isterinya di madu.

Sementara itu, ? Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana mengakui, rendahnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih menunjukan rendahnya pemahaman nilai-nilai nasionalisme dan perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Generasi muda semakin tidak akrab dengan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan.

"Apalagi derasnya arus melalui media sosial, televisi dan media internet yang tidak sebanding dengan penyebaran nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut. Sinetron atau tayangan di televisi yang banyak digandrung masyarakat, terlihat lebih ? banyak tidak menumbuhkan nilai-nilai semangat nasionalisme dan kebangsaan tersebut," kata Zeki yang didampingi Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser Padang Pariaman Muhammad Zulfadli.

Menurut Zeki, harus ditanamkan sejak dini nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan kepada anak-anak bangsa. Sekolah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut, kata Zeki yang juga ? mantan Sekretaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman ini. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 27 Juni 2017

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur bertekad “melawan” narkoba yang telah menjangkiti anak-anak muda. Untuk itu, GP Ansor? akan mengadakan penyuluhan antinarkoba kepada anak-anak muda dan deklarasi Badan Ansor Antinarkoba (Baanar), kemudian ikrar pemuda santri berprestasi Bondowoso antinarkoba.

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)
Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada akhir pekan ini yaitu, Jumat- Sabtu (26-27/8) di Ijen View Hotel. Kegiatan tersebut rencananya diikuti 65 peserta; dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat NU, santri dan para Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Bondowoso.

“Narasumber penyuluhan ini didatangkan dari Kementerian Sosial dan Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor," kata Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil saat ditemui Ribath Nurul Hidayah di Kantor Markar Besar GP Ansor Bondowoso Selasa malam (23/8).

Ribath Nurul Hidayah

Lebih rinci Muzammil menjelaskan, pada 27 Agustus, akan diadalan Deklarasi Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) dan Ikrar Pemuda-Santri Bondowoso Anti Narkoba di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Desa Tangsil Wetan, Kecamatan Wonosari. Kegiatan tersebut akan diikuti sekitar1500 orang dari unsur pemuda dan santri dan dihadiri Menteri Sosial RI Hj. Khafifah Indar Parawansa.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Muzammil kegiatan tersebut diadakan kerana akhir-akhir ini peredaran Narkoba sudah merambah ke pelosok-pelosok desa dan tentunya harus diantisipasi sejak dini.

GP Ansor, katanya, akan selalu memberikan penyadaran dan penyuluhan secara intensif kepada kader-kader Ansor agar tidak terpengaruh oleh benda-benda haram tersebut.

Ia juga berharap dengan diadakannya kegiatan terrsebut, ada antisipasi sejak dini yang dilakukan oleh semua pihak terutama pemangku kebijakan yang tergabung dalam Forpimda Kabupaten Bondowoso.

“Semua pihak harus terus memberikan support terhadap pemuda dan santri agar terhindar dari pengaruh benda haram (narkoba),” pungkasnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 19 Juni 2017

KMNU di UII Yogyakarta Siap Syiarkan Amaliyah NU di Kampus

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Islam Indonesia (KMNU UII) masa khidmat 2015/2016 resmi dilantik di aula pesantren Ki Ageng Giring, Ngaglik, Sleman, Ahad (31/5). Diawali dengan khotmil quran, tahlil, dan doa, pengurus baru mengikrarkan janji setia KMNU untuk mensyiarkan amaliyah NU di kampus.

Pelantikan ini dipimpin perwakilan presidium nasional (presnas) 4 KMNU Syamsuddin. Tampak hadir Ketua BPH Regional 2 KMNU M Dliyaudin, perwakilan KMNU UNY, perwakilan KMNU UGM, dan perwakilan dari civitas UII.

KMNU di UII Yogyakarta Siap Syiarkan Amaliyah NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU di UII Yogyakarta Siap Syiarkan Amaliyah NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU di UII Yogyakarta Siap Syiarkan Amaliyah NU di Kampus

Ketua KMNU UII Mazdan mengatakan, pelantikan pengurus KMNU UII ini meningkatkan semangat masing-masing pengurus untuk berdakwah ala Aswaja NU di kampus UII.

Ribath Nurul Hidayah

“Karena adanya KMNU UII ini diharapkan dapat memfasilitasi mahasiswa asal pesantren atau masih mambu santri untuk bisa meneruskan kebiasaan santri seperti kajian dan amaliyah lainnya.”

Syamsuddin mengapresiasi KMNU UII yang awal berdirinya hanya dirintis oleh tiga orang. “Alhamdulillah sekarang tiga orang ini dapat menjaring teman-teman lainnya untuk memantapkan diri menjadi bagian KMNU dan mengabdi kepada NU.”

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Syam, di usia muda KMNU UII pengurusnya tidak perlu bernafsu untuk menjadi besar. Untuk menjadi besar itu perlu proses yang tidak mudah dan panjang. Syam mengimbau pengurus baru ini untuk memperkuat internal terlebih dahulu sebagai proses awal menuju lebih baik. (Ulinnuha/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Berita, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Senin, 24 April 2017

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman

Oleh KH Zakky Mubarak

Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. adalah peristiwa yang sangat agung, dari peristiwa tersebut Nabi memperoleh berbagai macam pengalaman dan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kelengkapan dirinya, untuk mengemban tugas yang berat sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Pengetahuan dan pengalaman yang paling beharga dalam peristiwa tersebut adalah berkaitan dengan memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT., baik kebesaran yang ada di alam raya ini yang dapat ditangkap oleh panca indera ataupun dalam alam ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia.

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman

Isra, pengertiannya menurut bahasa adalah perjalanan di malam hari, sedangkan mi’raj adalah tangga untuk naik ke atas. Karena itu pengertian Isra yang dimaksudkan adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mi’raj adalah perjalanan beliau dari masjid al-Aqsa ke Sidrah al-Muntaha. Sidrah al-Muntaha adalah tempat di langit yang bersifat ghaib, tidak mungkin dijangkau oleh panca indera manusia, bahkan tidak dapat dijangkau oleh akal? fikiran.

Di antara tujuan diisrakannya Nabi Muhammad SAW, adalah agar beliau mengetahui secara mendalam tanda-tanda keagungan Tuhan, kekuasaan dan kasih sayang-Nya terhadap semua makhluk, peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur’an:

Ribath Nurul Hidayah

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. al-Isra, 1).

Ribath Nurul Hidayah

Dalam peristiwa Isra Mi’raj, sebagaimana disebutkan berbagai kitab tarikh dan kitab hadits, Nabi Muhammad dan umatnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari-semalam. (Nur al Yakin, hal. 67 dan Nabi al-Rahmah, 54). Peristiwa Isra Mi’raj menurut para ahli sejarah, selain disebutkan dalam kitab al-Hadits juga diisyaratkan Al-Qur’an pada awal surat an-Najm:

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauannya sendiri melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Yang diwahyukan kepadanya oleh Jibril yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cedas dan Jibril itu menampakkan diri dalam bentuk yang asli, sedang ia berada di ufuk yang tinggi. Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya? (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”. (Q.S. an-Najm, 1 – 7 dan 10).

Dengan diperintahkannya shalat lima waktu bagi Nabi Muhammad dan umatnya pada malam Isra Mi’raj tersebut, dirasakan betapa pentingnya ibadah shalat harus ditegakkan oleh setiap pribadi Muslim. Dalam Al-Qur’an banyak disebutkan perintah agar menegakkan shalat, perintah itu diulang berkali-kali sampai lebih dari delapan puluh kali. Di dalam hadits juga banyak disebutkan agar setiap Muslim mengerjakan shalat dengan baik, dimana saja mereka berada.

Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan sangat menentukan kualitas keimanan seorang Muslim, apakah kuat atau lemah. Kalau kita rajin mengkaji ayat demi ayat dari Al-Qur’an dan al-Hadits maka akan dijumpai berbagai pengarahan agar manusia Muslim dapat mengerjakan dan menegakkan shalat dengan baik. Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang dikerjakan dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta ketentuan-ketentuan lainnya, diikuti dengan gerakan kejiwaan dan disertai rasa khusu’ dan keikhlasan yang mendalam.

Pengertian shalat menurut etimologi adalah doa dan pujian, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya memuji Nabi, wahai orang-orang yang beriman, berdo’alah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kehormatan kepadanya”. (Q.S. al-Ahzab, 56).

Pengertian shalat menurut terminologi adalah “Beberapa ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat rukun tertentu”. Pengertian di atas, baru menggambarkan bentuk shalat secara lahiriyah. Agar melengkapi semua itu, kita ikuti definisi shalat dari segi hakikatnya yaitu: “Menghadapkan hati kepada Allah sehingga dapat mendatangkan rasa takut kepada-Nya dan menanamkan dalam jiwa rasa keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya”.

Shalat sempurna adalah shalat dengan kriteria di atas, shalat yang dilakukan dengan memenuhi syarat, rukun dan ketentuan lain serta diikuti dengan gerakan kejiwaan. Dengan demikian ibadah shalat itu akan berdampak pada sikap mental kita dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang telah melakukan shalat dengan baik dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar.

Dengan ketentuan-ketentuan shalat yang disebutkan di atas, Insyaallah kita akan terhindar dari segolongan orang yang mengerjakan shalat, tetapi pada hakikatnya mereka tidak shalat. Nabi SAW mensitir kelompok ini dalam salah satu haditnya:? “Akan datang suatu masa menimpa umatku mereka yang melakukan shalat, padahal sebenarnya mereka tidak shalat”. (H.R. Ahmad).

Dengan memperingati Isra Mi’raj ini, semoga kita dapat meningkatkan shalat kita sebaik mungkin, sehingga dapat meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Amiin...

*Penulis adalah Rais Syuriah PBNU, Dosen Pascasarjana UI



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Nahdlatul, Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 13 April 2017

GP Ansor Kampar: Tak Ada Tempat Buat ISIS

Kampar, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kampar Provinsi Riau menggelar halal bihalal bersama tokoh masyarakat se-kecamatan Perhentian Raja, di Aula Desa Hangtuah, Ahad (24/8). Acara yang dihadiri mahasiswa, pengurus MWC NU dan para tokoh masaraykat itu diisi dengan sosialisasi bahaya Gerakan Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) bagi NKRI.

GP Ansor Kampar: Tak Ada Tempat Buat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kampar: Tak Ada Tempat Buat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kampar: Tak Ada Tempat Buat ISIS

Penggerak GP Ansor Riau yang juga tokoh muda Kabupaten Kampar, Purwaji yang hadir pada kesempatan itu mengingatkan bahwa Indonesia tidak memberi tempat bagi ISIS. "Tidak ada tempat bagi gerakan ISIS di Indonesia, karena NKRI sudah menjadi konsensus seluruh rakyat dan pendiri bangsa yang mana di dalamnya adalah para kiai Nahdlatul Ulama," kata Purwaji, tegas.

Konsep negara NKRI yang berasaskan Pancasila menurut anggota DPRD Kampar 2009-2014 itu sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pancasila sila pertama "Ketuhanan yang maha esa" adalah bermakna bahwa NKRI adalah negara yang berdasarkan Tauhid.

Ribath Nurul Hidayah

"Jadi model NKRI sudah final dan tidak perlu diotak atik lagi. Kalau ada yang mengotak atik berarti tidak cinta tanah air dan tidak paham sejarah panjang perjuangan bangsa," tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Purwaji yang lulusan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) GP Ansor angkatan ke IV Kediri itu mengimbau semua kader Ansor dan penggerak NU di daerah untuk bersama sama memantau gerakan Islam fundamentalis, salah satunya faham ISIS di daerah.

"Jangan sampai mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan kita, warga NU dan Ansor harus tegas menolak mereka karena bisa mengancam kedamaian dan keutuhan NKRI," tandasnya.

Kegiatan itu diakhiri dengan pemutaran Film "Sejarah NU dan Kebangsaan" dan makan siang bersama. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Ubudiyah, Cerita Ribath Nurul Hidayah