Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Pameran Media NU di Arena Munas

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Para peserta Munas-Konbes di Kempek-Cirebon pertengahan September mendatang akan disuguhi karya-karya para penulis NU berupa media-media yang pernah terbit dan masih diterbit. Dari mulai Soeloeh Nadlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama, Duta Masyarakat, hingga Ribath Nurul Hidayah.

"Sekarang kami masih koordinasi dengan para pengelola media dan para pemegang dokumen media yang ada," kata inisiator pameran media NU, Hakim Jayli yang dihubungi Ribath Nurul Hidayah melalui telepon, tadi malam, Rabu (5/9).

Pameran Media NU di Arena Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pameran Media NU di Arena Munas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pameran Media NU di Arena Munas

Dia mengatakan, saat ini sekurang-kurangnya ada enam media cetak yang terbit di lingkungan NU dan dikelola oleh organanisasi di lingkungan NU.

Ribath Nurul Hidayah

"Tashwirul Afkar diterbitkan PP Lakpesdam NU, majalah Aula yang diterbitkan PWNU Jawa Timur, Risalah NU yang diterbitan PBNU, Duta Masyarakat, tabloid Suara NU oleh PWNU Jawa Tengah, buletin Jumat oleh LDNU," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Untuk media elektronik ada TV9 di Surabaya dan Ribath Nurul Hidayah di Jakarta. Sebetulnya ada banyak radio dan website, tapi kalau dikumpulin semua tidak muat tempatnya," tambah Hakim yang juga direktur TV9.

Hakim berharap, dengan dipamerkannya media-media itu, warga NU bisa terlibat aktif untuk menghidupkan media di lingkungannya. 

"NU ini punya kekuatan yang dahsyat di dunia kepenulisan, sejarahnya juga panjang. Jurnal Afkar itu jurnal langka di negeri ini. Hayo mana ada jurnal keislaman yang terbit nasional. Afkar itu sudah lebih dari 12 tahun eksis. Majalah Aula itu sudah terbit sejak tahun 86, sekarang masih terbit. Apa tidak hebat?" ungkap Hakim.

Hanya saja Hakim mengingatkan, dunia penerbitan ini cenderung menurun, NU harus mengantisipasi. "Tapi jangan semua terjun ke online. Kasihan yang tidak bisa akses internet, karena jumlahnya lebih banyak, apalagi warga NU, kebanyakan di desa. Untuk itu kami akan membicarakannya di arena Munas nanti. Media harus menjadi perhatian bersama. Kita mesti berjamaah agar terus terbit," jelasnya.

Selain memamerkan media-media yang masih terbit, pameran juga akan menyuguhkan media-media lama, seperti Soeloeh NO, Chazanah, Berita NO, Warta NO, LINO, Risalah Islamiyah, Oetoesan NO, Berkala Sarbumusi, dan sebagainya.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 01 Februari 2018

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Semua hal selain Allah adalah kepalsuan. Tak setiap manusia menyadarinya. Inilah tugas berat para penempuh jalan tasawuf. Hati mereka dituntut bersih dari rasa bangga tak hanya atas kekayaan dan kedudukan tapi juga prestasi keagamaan.

Pesan ini muncul dalam pengajian rutin tasawuf yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di ruang Ketua Umum PBNU sekaligus pengasuh pengajian KH Said Aqil Siraj, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (14/1) malam.

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Kang Said menjelaskan, Syaikh Ma’ruf al-Kurkhi mendefinisikan tasawuf sebagai penggapaian Kebenaran Sejati dan keberpalingan diri dari semua bentuk kepalsuan. Namun, tak sedikit penghuni dunia ini cenderung berlaku sebaliknya, menduakan Tuhan dan asyik berkubang dalam ketidaksejatian.

Ribath Nurul Hidayah

”Padahal di dunia ini 99,9% palsu semua. Kepalsuan kita ada yang dibungkus dengan jas dan dasi; ini masih mending karena terlihat terang dan jelas. Ada yang dibungkus pakai sorban dan jenggot; ini yang paling sulit, karena tidak terasa,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Doktor Universias Umml Qura Mekah ini juga mendasarkan pendapat tersebut pada surat Luqman ayat (33) yang memperingatkan manusia untuk tidak tertipu oleh kehidupan dunia dan ketaatan beribadah. Kepalsuan, menurut Kang Said, meliputi banyak hal.

”Ada kepalsuan yang ditutupi dengan ilmu. Ada yang ditutup dengan kedudukan, jadi ketua umum PBNU. Ada yang ditutup dengan ibadah, jidatnya item. Ada yang ditutup dengan keturunan, jadi habib atau gus/lora (putra kiai). Ada juga yang ditutup dengan hafidz Qur’an dan hafidz hadits,” tambahnya.

Menurut Kang Said, para penempuh jalan tasawuf mempunyai kepribadian merdeka, karena hatinya senantiasa dipenuhi kesadaran akan Allah. Dengan kondisi jiwa semacam ini, mereka sanggup melepas berbagai gejala emosional, seperti rasa takut, marah, dan bangga.

Dalam kali kedua pengajian tasawuf PBNU dengan materi disertasi doktoralnya ini, Kang Said mengulas ragam definisi tasawuf menurut kaum sufi, seperti Ma’ruf al-Kurkhi, Dzun Nun al-Mishri, Abu Yazid al-Bushtami, Sahl al-Tustari, dan sejumlah sufi lainnya. Menurut jadwal, pengajian akan digelar secara berkala setiap senin malam.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, AlaNu, Kajian Ribath Nurul Hidayah

Senin, 29 Januari 2018

Kiai Ma’ruf Amin Berkisah Tentang Sejarah Bahtsul Masail

Purwakarta, Ribath Nurul Hidayah. Problematika hukum Islam yang berkembang di tengah masyarakat semakin kompleks. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaan terus berupaya memberikan solusi terhadap problematika tersebut dengan memperkuat forum Bahtsul Masail.

Kiai Ma’ruf Amin Berkisah Tentang Sejarah Bahtsul Masail (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ma’ruf Amin Berkisah Tentang Sejarah Bahtsul Masail (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ma’ruf Amin Berkisah Tentang Sejarah Bahtsul Masail

Terkait keberadaan Bahtsul Masail, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menceritakan pertama kali tradisi akademik dalam pengambilan hukum di lingkungan NU itu terbentuk sebagai lembaga.

“Dulu bernama lajnah bahtsul masail, jadi kalau ada perlu-perlu, kita bahtsul masail. Tapi karena banyaknya masalah yang terhimpun, akhirnya Bahtsul Masail itu dilembagakan, resmi dilembagakan menjadi Lembaga Bahtsul Masail,” ujar Kiai Ma’ruf, Jumat (10/11).

Hal itu dia sampaikan ketika memberikan pengarahan dan taushiyah kepada para peserta Bahtsul Masail Pra-Munas dan Konbes NU 2017 di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Jawa Barat.

Ketika Munas NU di Lampung tahun 1992, Kiai Ma’ruf sebagai Katib Aam menyampaikan kepada KH Ali Maksum terkait banyak persoalan yang mengalami tawaquf (tertunda, penundaan) karena belum ketemu qaul-nya.

Ribath Nurul Hidayah

“Kiai Ali maksum meminta coba carikan jalannya, waktu Munas Lampung, kita memulai pembahasan itu tidak hanya pembahasan waqi’iyah, tetapi juga maudluiyah. Salah satu pembahasan maudluiyah waktu tentang sistem pengambilan keputusan di lingkungan NU,” terang Ketua Umum MUI Pusat ini.

Menurutnya, langkah tersebut bukan hal baru, tetapi justru mengembalikan yang ada di dalam NU, artinya manhaj dalam rangka mengembalikam model di NU yang tadinya hanya sebatas bermadzhab secara qauli, tetapi juga manhaji.

“Sehingga lahirlah fiqih manhaji,” terang Kiai Ma’ruf. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh, Sejarah, Kajian Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 11 Januari 2018

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Momen yang ditunggu-tunggu para santri akhirnya datang juga. KH Raden Asad Syamsul Arifin (1890-1990 M) Asembagus Situbondo, Jawa Timur ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Pemberian anugerah Pahlawan Nasional tersebut berlangsung di Istana Negara Jakarta, Rabu (9/11) oleh Presiden RI Joko Widodo.

“Kami, para santri beliau ikut senang dan bangga dengan penganugerahan ini,” ujar KH Abdul Moqsith Ghazali, salah seorang santri Kiai As’ad lewat keterangan tertulisnya kepada Ribath Nurul Hidayah, Rabu (9/11).

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

Menurutnya, Kiai Asad memang pantas mendapatkan gelar ini. Beliau berperang mengusir para penjajah dari tanah air. Memimpin pasukan, keluar masuk hutan, membangun kekuatan melawan para penjajah. Para penjajah yang menguasai daerah eks keresidenan Besuki seperti Jember, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo akhirnya bisa dipukul mundur.

“Namun, pada hemat saya, Kiai Asad layak mendapatkan gelar pahlawan bukan hanya karena ikut berperang merebut kemerdekaan, tetapi ia juga berjuang melalui pendidikan. Pesantren yang didirikan bersama ayahandanya sejak tahun 1914 telah lama menjadi lembaga pendidikan murah bahkan gratis buat masyarakat tidak mampu,” urai Kiai Moqsith yang juga Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

Ribath Nurul Hidayah

Kini di pesantrennya tak kurang dari lima belas ribu santri yang belajar di sana, dari paling bawah seperti TK hingga perguruan tinggi. Para santri tak hanya belajar ilmu-ilmu keislaman tradisional melainkan juga ilmu-ilmu umum seperti kelautan, informatika, dan pertanian.

Tak hanya itu, lanjut Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini, ketika banyak ulama ragu-ragu untuk menerima Pancasila, bersama sejumlah ulama lain Kiai Asad menegaskan pentingnya merujuk Pancasila terutama untuk mengatasi soal-soal kebangsaan dan kenegaraan.

“Suatu waktu Kiai Asad bercerita bahwa dirinya menerima surat kaleng dari orang-orang yang anti Pancasila. Tapi, Kiai Asad tak menghiraukannya. Bagi Kiai Asad, Pancasila tak bertentangan dengan Islam. Bahkan, menurutnya, sila pertama Pancasila merupakan cerminan dari ajaran tauhid dalam Islam,” ungkapnya.

Semangat berjuang membela negara dan memperbaiki pendidikan umat itu terus diinjeksikan pada para santrinya. Empat tahun menjadi santrinya, Moqsith sering mendengar ceramah-ceramahnya terkait kebangsaan dan kenegaraan, di samping soal keislaman.

Mendengar ceramah-ceramah Kiai Asad seperti membaca buku-buku sejarah. Ini karena beliau salah seorang pelaku sejarah. Namun, di ujungnya pidatonya, Kiai Asad biasanya berpesan agar kisah perjuangannya tak dituliskan.?

Ribath Nurul Hidayah

“Bahkan, ketika salah seorang intelektual NU menawarkan diri untuk menulis biografinya, Kiai Asad marah. Ia merasa, perjuangannya tak pantas untuk dicatat,” terang kiai yang juga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia menandaskan, tentu gelar kepahlawanan ini bukanlah cita-citanya. Semua gerak langkahnya hanya diniatkan untuk memperoleh Ridha Allah SWT, bukan untuk memperoleh anugerah duniawi seperti ini. Tapi, seperti dikatakan banyak orang, negara besar adalah negara yang pandai menghargai para pejuangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Kajian, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia

Oleh Fathoni Ahmad

Dewasa ini tidak bisa dipungkiri bahwa dunia maya, era di mana interaksi sosial terjadi melalui koneksi internet melekat kepada dua generasi sekaligus, yakni Digital Native dan Digital Immigrant. Peran dua generasi tersebut saling melengkapi ketika generasi sekarang (Digital Native) mengisi dunia maya dengan berbagai ekspresi kekinian yang kerap kali disebut alay, kemudian dinetralkan oleh generasi tua yang baru beralih ke dunia internet (Digital Immigrant) dengan postingan yang berupaya menginternalisasi nilai-nilai luhur zaman dulu, terutama melalui media sosial.

Media sosial dalam berbagai bentuk atau channel, baik Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, WhatsApp, Google Plus, Youtube, dan lain sebagainya digunakan oleh Netizen (masyarakat dunia maya) untuk melakukan interaksi sosial, baik berbagi informasi atau sekadar menyampaikan keluh kesah dan kegalauan. Proses interaksi sosial lewat dunia maya ini terjadi setiap detik. Bahkan salah satu analis media sosial mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan interaksi sosial tertinggi di dunia per detik dalam penggunaan dunia maya khususnya media sosial.

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia

Lalu konten materi apa yang sering menjadi lalu lintas terpadat di dunia maya? Penulis mencatat bahwa mayoritas Netizen menyukai tulisan inspiratif dan konten keagamaan. Kurangnya pengetahuan agama dan keagamaan kerap kali membuat masyarakat dunia maya terjebak sehingga tidak jarang berdampak pada watak keras, sikap radikal, mudah menyalahkan, membatasi diri dari kehidupan sosial hingga pada titik kulminasi melalukan tindak kekerasan atas nama agama.?

Terkait dengan konten keagamaan yang terus menjadi primadona dalam kehidupan media sosial, momen Ramadhan atau bulan puasa juga dijadikan instrumen menyebarkan berbagai inspirasi keagamaan hingga wacana kontroversi berbagai hal yang berkaitan dengan puasa. Level dunia maya yang tadinya lekat (inheren) dengan religiusitas naik intensitasnya menjadi lebih religius.?

Namun demikian, kondisi inheren ini tidak dibarengi dengan koherensi, yakni usaha mewujudkan keseimbangan sosial dengan sikap saling menghormati. Seakan pemahaman agama seseorang berdiri sendiri sehingga seolah berhak melakukan tindakan semena-mena dengan dalih menghormati bulan Ramadhan seperti aksi sweeping, melarang orang berjualan di siang hari yang dapat mengganggu kekhusyuan puasa umat muslim, dan tindakan-tindakan serupa. Materi ini yang menjadi salah satu menu di dunia maya tiap momen Ramadhan tiba. Selain dialektika penetapan awal puasa dengan metode rukyat maupun hisab.

Soal warung buka di siang hari yang dianggap bisa membuat orang tergoda, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memberi wejangan bahwa “jika kita merasa Muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.” Puasa maupun tidak puasa merupakan pilihan setiap individu karena urusannya langsung kepada Allah. Namun, Gus Dur juga menekankan kepada setiap muslim agar tetap menyampaikan dakwah yang baik, artinya dakwah yang mengajak, bukan mengejek apalagi menginjak. Hal ini justru dapat memberikan refleksi penyadaran diri kepada setiap individu bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang terkena kewajiban berpuasa.

Ribath Nurul Hidayah

Kewajiban puasa merupakan ranah agama yang dibebankan kepada setiap individu yang sudah mukallaf. Mukallaf ini bukan tidak tahu hukum jika tidak melakukan puasa, tetapi dia memilih untuk tidak berpuasa tentu dengan menanggung kewajiban tersebut. Sebab itu, harus dihormati oleh individu lain sebagai sebuah pilihan karena tanggungan orang yang tidak melakukan puasa langsung berkaitan dengan Allah. Jadi jika ada warung yang buka di siang hari, lalu dirazia oleh pemerintah dalam hal ini Satpol PP, tentu langkah seperti ini justru di luar koridor pemerintah.?

Jika berjualan di siang hari dapat menuai kesejahteraan bagi si penjual, pemerintah wajib mendukung jika mempunyai misi mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan malah merazia karena alasan mengganggu orang yang sedang berpuasa. Perlu dicatat, seseorang yang sungguh-sungguh berniat puasa, tidak akan tergoda sedikitpun meski warung atau restoran ramai-ramai memamerkan menu makanannya tanpa ditutup tirai.

Media sosial dan kebaikan puasa?

Ribath Nurul Hidayah

Kembali ke dunia maya, momen bulan puasa tetap harus menjadi renungan bersama terkait aktivitas di media sosial atau di berbagai channel dunia maya secara keseluruhan. Hal ini tentu mempunyai korelasi bahwa kehidupan media sosial yang mempunyai karakter liar dan anarkis karena faktor interaksi sosial tidak langsung (indirect social interaction). Interaksi jenis ini kerap menimbulkan konflik horisontal yang berdampak pada kehidupan nyata karena media sosial juga dapat menciptakan kondisi nyata dalam kehidupan setiap individu maupun kelompok.

Netizen sebagai warga dunia maya juga mempunyai peran menciptakan kondisi yang baik dan tenang di bulan puasa. Perspektif dunia maya yang dapat menciptakan inspirasi dan gerakan di dunia nyata ini dapat dijadikan ladang dakwah oleh setiap individu untuk menciptakan ketenteraman di bulan puasa. Media sosial dan dunia maya tidak sepatut dan selayaknya didominasi oleh informasi dan berbagai konten negatif secara tekstual maupun verbal. Hal ini tentu harus diwujudkan setiap hari tidak hanya pada momen bulan puasa sehingga dapat menciptakan keseimbangan sosial (social equilibrium).

Untuk dapat meniciptakan kondisi tersebut, harus ada upaya dari setiap individu sebagai subjek dunia maya untuk setia pada informasi-informasi positif. Misal dengan mengakses berbagai channel dan portal dari berbagai media, baik cetak, online, visual, dan audio visual yang menyediakan konten-konten positif untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut. Paradigma ini persis seperti ngaji pasaran yang dilakukan di berbagai pesantren, madrasah, majelis taklim, masjid, dan mushola. Bedanya pengakses media sosial bisa langsung membagikan informasi positif tersebut ke sesama pengguna secara viral.

Jangan dikira menciptakan kebaikan di media sosial tidak diganjar pahala, karena terbukti interkasi di dunia maya dapat menciptakan kondisi di dunia nyata. Di titik inilah kebaikan bulan puasa dapat kita wujudkan secara menyeluruh (komprehensif) di berbagai media kehidupan, termasuk di media sosial agar ibadah puasa tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga mampu menciptakan dampak (impact) positif di tengah kehidupan digital maupun natural (nyata).***

Penulis adalah Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, PonPes, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 22 Desember 2017

Inilah Lima Cara Muliakan Orang Tua yang Telah Wafat

Bantul, Ribath Nurul Hidayah. Peringatan haul merupakan bukti penghormatan anak kepada kedua orang tua yang telah meninggal dunia. Demikian penegasan KH Asyhari Abta, rais syuriyah PWNU Yogyakarta saat pengajian umum dalam rangka haul KH Muhammad Machin ke-16 di Ngoto Jalan Imogiri Barat Km 6, Bangunharjo Sewon Bantul, baru-baru ini.

Ia mengisahkan, ada seorang sahabat yang mendatangi Nabi SAW. Sahabat tadi bertanya bagaimana caranya berbakti kepada orang tua yang telah meninggal? “Rasulullah menjawab ada dengan 5 cara,” kata KH Asyhari Abta. Pertama, mendoakan kedua orang. Sayangnya, menurut KH Asyhari, ada kalangan yang mengatakan tidak boleh. “Padahal sangat dianjurkan sekali,” tegasnya.

Inilah Lima Cara Muliakan Orang Tua yang Telah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Lima Cara Muliakan Orang Tua yang Telah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Lima Cara Muliakan Orang Tua yang Telah Wafat

Ketika melewati kuburan misalnya, umat Islam disunnahkan untuk mendoakan mereka yang telah dimakamkan. “Sebenarnya para ahli kubur juga menjawab, hanya kita tak mendengarnya,” tukasnya lagi. KH Asyhari menyebut, seandainya mendengar juga pasti lari ketakutan. Santri KH Ali Maksum ini juga mengilustrasikan kehidupan dunia dengan alam barzah ibarat tayangan televisi.?

Ribath Nurul Hidayah

“Kita dapat menonton gerak-gerik Pak Jokowi, sedang Pak Jokowi tidak tahu kalau kita melihatnya,” terangnya lagi. Begitu pula yang terjadi saat ini. “Kita sebenarnya yang justru sedang ditonton oleh mereka yang telah sumare,” imbuh KH Asyhari.

Ribath Nurul Hidayah

Cara yang kedua, mintakan ampunan. “Mintakan ampunan untuk kedua orang tua kita yang telah meninggal,” kata KH Asyhari. Ketiga, melestarikan kebaikan kedua orang tua. “Dulu kalau bapak kita senang sowan kiai, maka sekarang kita juga harus senang sowan kiai,” paparnya. Keempat, yang dapat dilakukan anak sebagai bukti berbakti adalah melestarikan silaturahmi kekerabatan. Dan terakhir, kelima, muliakan teman kedua orang tua.?

“Jika silaturahmi tetap terjaga, maka insyaallah kita dijamin rahmat Allah SWT,” pungkas KH Asyhari Abta. (abu naja/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Kajian, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 19 Desember 2017

Kirab Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang bersama Pemerintah Kota Semarang akan memeriahkan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017 dengan berbagai macam kegiatan. Puncak kegiatan HSN dipusatkan di Lapangan Pancasila Simpang Lima pada Ahad (22/10) pukul 06.00 sampai 11.00 WIB.

"Sebelum berkumpul di Simpang Lima, ribuan santri akan mengadakan tahlil di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dan dilanjutkan Kirab Santri menuju Simpang Lima" kata Ketua Tanfidziyah PCNU KH Anasom dalam rilisnya (17/10).

Kirab Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor

Tahlil kebangsaan akan dipimpin oleh Habib Umar Muthohar dan akan dihadiri oleh seluruh ulama, umaro dan masyarakat Semarang. "Kita akan berdoa bersama untuk kemakmuran bangsa Indonesia dan kesejahteraan masyarakat Semarang dengan tetap hidup damai dan rukun," ungkap Anasom.

Pondok pesantren, sekolah, kampus, santri, tokoh lintas agama dan masyarakat umum sangat antusias untuk mengikuti Kirab Santri ini. Pesan dari kirab santri ini adalah mengawal 99 bendera merah putih sebagai lambang kebulatan tekad menjaga keutuhan NKRI dari rongrongan disintegrasai bangsa.

Ribath Nurul Hidayah

Di tengah lapangan Simpang Lima yang menjadi kebanggaan Jawa Tengah, para santri akan memekikkan cinta tanah air dan kejayaan Pancasila. "Negeri ini sudah besar dan damai, maka harus dijaga secara bersama-sama jangan sampai hancur," tegas dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini.

Kirab santri ini juga akan dimeriahkan dengan parade budaya Nusantara, barongsai, drum band, rebana, dan atraksi pencak silat Pagar Nusa. "Bagi peserta kirab disediakan ratusan hadiah yang berasal dari infaq para donatur yang berasal dari Pemerintah, DPR, pengusaha dan masyarakat" jelasnya. Ada hadiah utama berupa tiket umroh dari PT Kaisa Lil Haj dan sepeda motor dari Walikota Semarang.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti Kirab Santri dapat segera mendaftar ke nomer WA Puji 081226461146 atau WA Olla 08993010930. Kupon undian hadiah akan dibagikan di Taman Makam Pahlawan pada 22 Oktober 2017 pukul 06.00 WIB. (M Rikza Chamami/Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Habib Ribath Nurul Hidayah

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014

Khartoum, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Khartoum Sudan hasil Konfercab XII PCINU Sudan yang lalu telah resmi dilantik oleh salah satu Mustasyar PCINU Sudan Dr Syekh Muhammad Al Fatih Ali Hasanain di Wisma NU Sudan.

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014

Para pengurus PCINU Sudan masa kidmat 2013-2014 yang dilantik Jum’at (3/5) kemarin merupakan hasil keputusan rapat tim formatur sebanyak tiga kali pertemuan. Dalam kepengurusan periode ini lebih didominasi oleh “generasi baru” yang dinilai mempunyai komitmen dan loyalitas terhadap PCINU Sudan.

Hadir dalam pelantikan tersebut beberapa tokoh dari organisasi masyarakat dan mahasiswa dari berbagai negara, serta perwakilan dari KBRI Sudan. Diantaranya, Ketua dan Sekretaris PPMI Sudan, Ketua dan Sekretaris Ikatan Keluarga Aceh (KMA), Ketua dan Sekretaris Persatuan Mahasiswa Malaysia dan Thailand.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua panitia, Budi Sutardi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya pelantikan. Sedangkan Rais Syuriah terpilih Auza’i Mahfudz Asirun dalam sambutannya menginstruksikan kepada para pengurus yang terpilih agar menjalankan tugas kepengurusan  dengan sungguh-sungguh dan ikhlas dalam berkhidmah.

Selain itu, Syekh Fatih selaku mustasyar menyampaikan dalam tausiahnya: “Aksi secara berjama’ah itu lebih utama dari pada aksi secara individual sebagaimana sholat berjama’ah lebih utama 27 derajat dari pada sholat sendirian”. 

Ribath Nurul Hidayah

Ia mendorong kepada generasi muda NU untuk meneruskan risalah yang telah dikembangkan oleh organisasi para ulama nusantara ini sebagai warisatul anbiya’, pewaris para nabi. Beliau mengutip hadist Nabi Muhammad SAW: Sampaikanlah (ajaran) dariku walau satu ayat.

Acara ini disampaikan dalam tiga bahasa, bahasa Indonesia, Inggris dan Arab dengan tujuan agar para audien bisa mengikuti seluruh rangkaian acara.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 05 Desember 2017

Sembahyang Gerhana Bulan dan Keadilan Sosial

Apa hubungan gerhana bulan (khusuf) dan keadilan sosial? Gerhana merupakan peristiwa alam, salah satu bentuk kuasa Allah. Tetapi Rasulullah SAW sendiri mengaitkan kenyataan alam dan perubahan sosial. Beliau menganjurkan umatnya sembahyang sunah muakkad dua rekaat ketika terjadi gerhana. Setelah sembahyang, imam disunahkan berkhotbah yang mengajak jamaah untuk bertobat kepada Allah dan menegakkan keadilan di tengah masyarakat.

Sembahyang gerhana bulan dikerjakan sebanyak dua rekaat. Setiap rekaat terdapat dua kali ruku’. Ruku’ kedua lebih sebentar dari ruku’ pertama. Ingat, jangan dibalik seperti lazimnya dikerjakan banyak orang awam.

Sembahyang Gerhana Bulan dan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembahyang Gerhana Bulan dan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembahyang Gerhana Bulan dan Keadilan Sosial

Karena dua kali ruku’, otomatis ada dua i’tidal. Demikian juga dengan surat Al-Fatihah. Surat ini dibaca dua kali dalam satu rekaat.

Tetapi ingat, sujud tidak perlu ditambahkan. Pada satu rekaat ini, sujud tetap dua, bukan empat.

Ribath Nurul Hidayah

Tersebut dalam kitab Qutul Habibil Ghorib, Tausyih ala Fathil Qoribil Mujib karya Syekh M Nawawi Banten dalam 

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, setiap rekaatnya dua kali berdiri dengan memperlama bacaan surat pada keduanya. Setiap rekaat ada dua ruku’. Tasbih diperbanyak cukup saat ruku’. Saat sujud, tasbih tidak perlu diperbanyak. Setelah itu imam berkhutbah dua kali.

Kalau mau khutbah sekali, juga tidak menjadi soal, kata Syekh Nawawi masih dalam kitab yang sama. Yang mesti diingat, khotib mesti memanfaatkan khutbahnya untuk mengajak jamaah kembali kepada Allah dan mendorong partisipasi jamaah dalam memberantas kezaliman seperti kejahatan korupsi, tindakan teror, menyebarkan hasut yang mengotori nama baik seseorang, monopoli pasar, dominasi atau bentuk kezaliman lainnya.

Demikian disebutkan Syekh Abdullah Syarqowi dalam karyanya, Hasyiyatus Syarqowi ala Tuhfatit Thullab

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khotib mesti mengajak jamaah untuk keluar dari maksiat, meloloskan diri dari jeratan segala bentuk kemaksiatan. Kemaksiatan ini mencakup memberantas kezaliman (terhadap jiwa atau harta orang) termasuk kezaliman terhadap kedaulatan prestis seseorang. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Ribath Nurul Hidayah

Berita Asusila Sama dengan Fiksi Dewasa?

Bandar Lampung, Ribath Nurul Hidayah -

Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama Lampung, Khalida, di Bandar Lampung, Kamis (28/12) meminta media massa untuk bijak dan berpegang pada kode etik jurnalistik dalam memberitakan kasus asusila dengan tidak membuatnya menjadi fiksi bagi orang dewasa.

Berita Asusila Sama dengan Fiksi Dewasa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berita Asusila Sama dengan Fiksi Dewasa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berita Asusila Sama dengan Fiksi Dewasa?

"Kita harus menyadari, media massa hari ini dengan mudah diakses oleh siapa pun, lintas usia, kelamin, suku, bangsa. Kekhawatiran terdalam saya pada lintas usia ini, siapa pun bisa membaca dan mengetahui. Bagaimana jika pembaca belum adalah anak-anak belum cukup umur?" ujarnya.

Lembaga Advokasi Perempuan (Damar) Lampung pada 2015 mencatat 1.018 kasus angka kekerasan terhadap perempuan yang dihimpun dari beberapa sumber. Dari angka tersebut, menunjukkan di Lampung setiap bulan terjadi 75 kasus kekerasan terhadap perempuan, atau dalam setiap minggu terjadi lebih dari 19 kasus kekerasan terhadap perempuan, atau dalam setiap hari terjadi 3 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan beragam bentuk.

"Jenis-jenis kekerasan terhadap perempuan antara lain kekerasan secara fisik, nonfisik, seksual, ekonomi dan sebagainya. Kekerasan non fisik melalui perkataan, tulisan, sikap dan lain-lain justru sebenarya lebih menyakitkan bagi perempuan. Pertanyaannya, apakah media secara sadar atau tidak menyadari telah melakukan kekerasan terhadap perempuan dengan berita-berita vulgar?" kata dia lagi.

Berdasarkan riset oleh Gusdurian Lampung, menjelang akhir 2016 di Lampung dan sejumlah wilayah di Indonesia, kronologi kejadian tindakan asusila masih muncul dalam pemberitaan dan seolah menjadi petunjuk bagaimana melakukan pelecehan seksual.

Ribath Nurul Hidayah

"Etika penulisan yang tetap menjaga kesopanan dan penghalusan bahasa jangan dilupakan sehingga berita yang dipublikasikan tidak vulgar atau menjurus pornografi. Berita asusila bukan cerita fiksi orang dewasa. Kronologi cerita korban seringkali ditulis vulgar sehingga korban menjadi korban media," paparnya.

Ribath Nurul Hidayah

Khalida berharap, media massa berpegang pada kode etik jurnalistik terkait pemberitaan kasus asusila. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 30 November 2017

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara!

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Mustasyar PCNU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta segenap umat muslim, utamanya warga NU untuk mengerjakan segala amalan di bulan suci Ramadhan dengan khusyu. Terlebih dengan pelaksanaan sholat tarawih.

“Selama ini terkesan sholat Tarawih dikerjakan dengan cepat dan seolah-olah balapan antara tempat yang satu dengan yang lain. Hal ini tentunya dikhawatirkan akan mengurangi kekhusyuan,” katanya, Senin (6/6).

Menurut Hasan, biasanya sholat tarawih ini dilakukan dengan cepat karena ingin cepat selesai. Apalagi jika mendengar tempat sebelahnya sudah sholat witir, pasti akan tambah cepat. Terlebih jika makmumnya adalah para anak-anak muda.

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara!

“Setelah saya amati dengan seksama, ternyata hal itu dikarenakan adanya speker (pengeras suara). Jika tempat sebelahnya terdengar sudah witir, maka imam pastinya agak cepat baca suratnya. Solusi yang ingin saya tawarkan, saat sholat taraweh matikan dulu spekernya. Nanti nyalakan lagi setelah mau tadarus Al-Qur’an,” jelasnya.

Hasan menyampaikan bahwa sholat taraweh ini harus dilakukan dengan tuma’ninah dan khusyu. Meskipun agak cepat, tetapi imam dan makmum tidak boleh melupakan tuma’ninah. “Terkadang saat imam selesai baca Al-Fatihah makmum menjawab Amin dengan keras seperti dibentak,” terangnya.?

Oleh karena itu Hasan meminta kepada segenap imam masjid dan mushola untuk memberikan proses pembelajaran kepada anak muda bagaimana menunaikan sholat dengan khusyu. “Marilah berikan contoh yang baik bagi anak muda,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut Hasan mengharapkan agar umat muslim, terutama di Kabupaten Probolinggo bisa mengisi bulan suci Ramadhan ini dengan kegiatan-kegiatan ibadah. “Inilah bulan suci yang penuh dengan berkah dan ampunan. Semoga kita mampu mengisi bulan penuh rahmat ini dengan sebaik-baiknya dan kembali fitrah saat hari raya Idul Fitri,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Kajian, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 10 November 2017

LAZISNU Klaten: Potensi Jumlah Zakat di Daerah Belum Optimal

Klaten, Ribath Nurul Hidayah - Indonesia, sebagai salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, menyimpan potensi zakat yang luar biasa. Namun, data dari para pengelola badan zakat di lapangan menunjukkan, potensi tersebut belum dapat dikeluarkan secara optimal.

“Potensi zakat dan sedekah di Indonesia sebetulnya sangat besar mengingat jumlah penduduk yang beragama Islam yang sangat besar, termasuk di Kabupaten Klaten ini,” ungkap Ketua Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU) Klaten Muhammad Cahyanto, Ahad (3/7).

LAZISNU Klaten: Potensi Jumlah Zakat di Daerah Belum Optimal (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Klaten: Potensi Jumlah Zakat di Daerah Belum Optimal (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Klaten: Potensi Jumlah Zakat di Daerah Belum Optimal

Menurut Cahyanto, kesadaran masyarakat akan kewajiban zakat belumlah seperti kesadaran akan kewajiban lain, seperti shalat. “Kesadaran masyarakat untuk membayar zakat belum seperti kesadaran masyarakat akan sholat, khususnya menyangkut zakat mal,” kata dia.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk itu, pihaknya secara intensif tengah menggalakkan sosialisasi ke berbagai pemangku kepentingan terkait zakat, juga infak dan sedekah. “Saat ini, LAZISNU mengusung jargon ‘tunaikan zakat sebagaimana mendirikan shalat’, harapannya ya biar masyarakat lebih sadar akan kewajiban zakat,” terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Tak hanya itu, LAZISNU Klaten juga memberi pemahaman terkait regulasi pengelolaan zakat, infak, dan shodaqoh. “Terkait dengan perubahan regulasi, beberapa waktu lalu Menteri Agama sudah mengeluarkan aturan baru,” ungkapnya.

Peraturan baru tersebut, yaitu badan amil? zakat, infak dan sedekah mesti mendapat izin dari pemerintah. LAZISNU sendiri sudah mendapat izin tersebut, dengan SK Menteri Agama RI Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pengukuhan Lembaga Amil Zakat, Infaq, Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) sebagai lembaga zakat nasional.

“Maka, kita mengajak kepada warga Nahdliyin untuk menyalurkan zakat, infaq, shodaqoh kepada LAZISNU setempat,” pungkas dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Warta Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 30 Juli 2017

Anak Muda NU Minta Muktamar Terapkan Ahwa

Sleman, Ribath Nurul Hidayah. Anak muda NU meminta konsep Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) diterapkan dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang Agustus mendatang. Ahwa dianggap sebagai konsep ideal untuk mengembalikan marwah ulama dan menjaga Muktamar dalam rel yang lurus sesuai khittah NU.

Anak Muda NU Minta Muktamar Terapkan Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Muda NU Minta Muktamar Terapkan Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Muda NU Minta Muktamar Terapkan Ahwa

Agar tidak ada lagi kesan kiai “diadu” dengan kiai lain dan membawa resiko konflik laten maupun terbuka seusai Muktamar. Terlebih jika terjadi mobilisasi dukungan dengan segala cara.

Hal tesebut dinyatakan oleh anak muda NU yang menggelar Musyawaroh Kubro 2015 “Merembug  Jam’iyyah, Bangsa, Dunia”  di Masjid Pathok Negara, Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, Jumat-Sabtu (22-23/5).

Ribath Nurul Hidayah

Salah satu penggagas acara, Nur Khalik Ridwan mengatakan, konsep Ahwa yang telah dibahas matang dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Cirebon tahun 2012 dan di Jakarta tahun 2014, harus diterapkan dalam Muktamar 2015.

Ribath Nurul Hidayah

Sebab, menurutnya, Ahwa adalah model ideal untuk menata organisasi NU. Apalagi, Ahwa telah dipraktikkan di muktamar-muktamar NU di masa awal perkembangannya.

“Konsep Ahwa harus diterapkan lagi di NU. Harus dimulai dari Muktamar 2015 ini,” ujar pegiat Jamaah Nahdliyin Yogyakarta (JNY) ini.  

Ia memohon seluruh kiai struktural maupun mendorong penerapan konsep yang mendorong supremasi ulama tersebut. Dukungan atas pemakaian Ahwa, sambungnya, harus menjadi suara bulat seluruh ulama dan warga NU.

“Penerapan Ahwa dalam muktamar harus kita dorong menjadi suara bulat. Harus menjadi kesadaran bersama seluruh kiai maupun warga Nahdlatul Ulama,” tandasnya.

Peserta Musyawaroh Kubro Anak Muda NU 2015 asal Depok, Jawa Barat, Imam Malik mengaku risih mendengar ada sebagian pengurus NU di suatu daerah menyatakan menolak penerapan konsep Ahwa dalam Muktamar 2015.

Anak muda NU, kata dia, akan melakukan segala upaya agar konsep ideal tersebut tidak dibegal di tengah jalan. Apabila ada yang menolak penerapan Ahwa, maka pihak yang menolak tersebut perlu diberi sanksi sosial maupun sanksi organisasi.

“Saya risih ada oknum pengurus NU di suatu daerah di Indonesia menyatakan menolak konsep Ahwa. Itu sungguh menyedihkan. Kami merekomendasikan agar pelaku penolakan itu diberi sanski sosial atau dita’zir secara organisasi,” ujarnya.

Ia merasa lelah melihat suasana perebutan kepemimpinan NU di setiap Muktamar. Maka sekarang saatnya kembali ke model musyawarah mufakat.

“Marwah ulama harus dijaga. Jangan terus-menerus memakai model pemungutan suara,” ujarnya.

Voting, lanjut Imam Malik, diharapkan jangan terjadi dalam pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, apalagi dalam pemilihan Rais Am Syuriyah.

“Kami sudah menyepakati dalam beberapa pertemuan, Muktamar NU besok perlu diupayakan tidak ada voting. Terlebih untuk Rais Am Syuriyah, harus haram memakai voting,” tegas dia.

Hal senada disampaikan  Ahmad Majidun. Aktivis Gerakan Pemuda Ansor asal Kabupaten Magelang ini mengusulkan satu pasal dalam peraturan tata tertib Muktamar.

Yaitu pasal yang mengatur siapapun yang terbukti memakai politik uang dalam Muktamar NU didiskualifikasi apabila terpilih.

“Di Muktamar NU 2015 harus ada aturan yang tegas. Siapapun yang terbukti memakai politik uang dalam pemilihan, dinyatakan batal alias tidak sah,” usulnya.

Musyawaroh Kubro ini difasilitasi oleh Jamaah Nahdliyin Yogyakarta –JNY. Peserta adalah kaum muda nahdliyin dari pelbagai daerah di Indonesia, yang mayoritas pernah menimba ilmu di Yogyakarta. Dihadiri tak kurang 80-an orang. Termasuk Ketua PBNU M Imam Aziz dan putri almarhum Gus Dur Alissa Qotrunnada Munawwaroh Wahid. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 19 Juli 2017

Spirit Hari Santri untuk Pendidikan Madrasah yang Lebih Baik

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Momen Hari Santri Nasional akan dijadikan sebagai momentum langkah awal untuk menata pendidikan madrasah menjadi lebih baik lagi. Demikian disampaikan Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI, Prof Dr Nurkholis Setiawan di depan Para Guru Madrasah Aliyah Negeri di Pusdiklat Kemenag Jakarta, Jumat (23/10).

Spirit Hari Santri untuk Pendidikan Madrasah yang Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Hari Santri untuk Pendidikan Madrasah yang Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Hari Santri untuk Pendidikan Madrasah yang Lebih Baik

Prof Nurkholis mengatakan, bahwa dalam pengelolaan pendidikan Islam khususnya madrasah, bukan persoalan mengenai budget anggaran semata, namun yang lebih penting menurutnya adalah komitmen dari semua pihak untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Salah satu komitmen dalam penataan Madrasah adalah peningkatan kualitas guru dalam mencetak generasi yang percaya diri dan berkualitas. "Guru harus menciptakan generasi yang percaya diri. Dan semua itu harus diawali dari kepercayaan diri Gurunya," tegas pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah ini.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menambahkan, berbagai macam terobosan lain dalam pengembangan Madrasah adalah program diversifikasi madrasah yang telah digulirkan Kementerian Agama. "Salah satu contoh program ini adalah mendirikan Madrasah Aliyah Kejuruan diberbagai Provinsi," terang Guru Besar UIN Yogyakarta ini.

Dalam hal pendirian Madrasah ini, menurutnya berbagai negara sudah mengajukan permintaan untuk dapat medirikan Madrasah di Indonesia. Namun menurut Guru Besar Tafsir kelahiran 1971 ini, diperlukan kehati-hatian dan pendalaman secara komprehensif dalam menjawab permintaan tersebut terkhusus dalam hal pemahaman.?

Ribath Nurul Hidayah

"Kita sudah sepakat dengan konsep Islam Nusantara. Madrasah yang diusulkan harus jelas, dan tidak membawa serta menyebarkan paham-paham radikal di Indonesia," tegasnya. Oleh karena itu, ia mengajak semua elemen masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan madrasah secara kolektif. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Ribath Nurul Hidayah

Senin, 26 Juni 2017

Usai DIlantik, PCNU Kota Malang Rumuskan Program Kerja

Malang, Ribath Nurul Hidayah - Setelah sehari sebelumnya, Sabtu (18/2), mengadakan pelantikan yang dihadiri oleh Rais Aam PBNU Dr KH Maruf Amin dan Ketua PWNU Jawa Timur KH M Hasan Mutawakkil Alallah, Pengurus Cabang NU Kota Malang melaksanakan Musyawarah Kerja (Musker) di Gedung DPRD Kota Malang, Ahad (19/2).

Acara ini dibuka oleh Ketua DPRD Kota Malang Arif Wicaksono. Arif menyampaikan, "NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia telah menempatkan kader-kadernya di semua posisi struktural baik di legislatif, eksekutif, yudikatif, dan jajaran TNI dan Polri. Karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi DPRD untuk membuka selebar-lebarnya ruang untuk bagi ormas-ormas."

Usai DIlantik, PCNU Kota Malang Rumuskan Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai DIlantik, PCNU Kota Malang Rumuskan Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai DIlantik, PCNU Kota Malang Rumuskan Program Kerja

Ia berharap, kehadiran para kiai-kiai di gedung DPRD akan menjadikan gedung ini sejuk dan menyejukkan. "Gedung ini sering panas (rapat gaduh, red). Semoga kehadiran kiai-kiai membawa berkah untuk semua wakil rakyat yang ada di sini agar semakin bersih," imbuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Ketua PCNU Kota Malang KH Isroqun Najah (Gus Is) mengatakan, rangkaian pelantikan dan musyawarah kerja PCNU Kota Malang ini difasilitasi oleh Ketua DPRD.

"Karena NU Kota Malang tahun ini mengusung agenda ketahanan umat. Begitu juga struktur yang disediakan juga menyesuaikan dengan agenda-agenda penting kenegaraan seperti pembinaan spiritual, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan sumberdaya," kata Gus Is.

Dalam musyawarah kerja pertama (Musker I) ini, beberapa agenda yang akan dibahas di antaranya adalah konsolidasi organisasi, penyiapan kerangka dasar manajemen dalam pengelolaan potensi dan program, membangun jaringan internal dan eksternal, strategi dakwah dunia maya, serta penguatan ekonomi dan usaha kelambagaan NU Kota. (Moh Fauzan/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Halaqoh, Kajian Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 02 Juni 2017

SMP dan SMA Ma’arif 1 Pamekasan Diwisuda

Pamekasan, Ribath Nurul Hidayah?

SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan menggelar wisuda siswa dan siswi yang lulus dari sekolah itu, Kamis (29/6) malam. Ketua PC LP Maarif NU Pamekasan Asir mengatakan, pelaksanaan wisuda sangat istimewa, acara demi acara sampai pemberian hadiah kepada lulusan terbaik, didesain sebaik mungkin.

SMP dan SMA Ma’arif 1 Pamekasan Diwisuda (Sumber Gambar : Nu Online)
SMP dan SMA Ma’arif 1 Pamekasan Diwisuda (Sumber Gambar : Nu Online)

SMP dan SMA Ma’arif 1 Pamekasan Diwisuda

"Para guru putra pakai jas lengkap dan ibu gurunya pakai kebaya yang islami. Ini perlu ? terus dipelihara," tegas Rektor Universitas Islam Madura tersebut.

Sementara itu, sambutan atas nama wali siswa diwakili oleh Komite Sekolah SMP dan SMA Maarif 1 Pamekasan Busiri. Pihaknya mengucapkan terima kasih atas perjuangan para dewan guru yang telah mendidik selama 3 tahun. Ia memohon maaf atas segala kesalahan dari para siswa.

Prosesi wisuda tahun ini dipimpin Kepala SMP Maarif Makmun Abrori didampingi lima orang guru. Usai diwisuda, para siswa bermanaaf-maafan kepada semua dewan guru yang sudah siap berjejer di depan panggung.

Ribath Nurul Hidayah

Prosesi wisuda diawali dengan pawai obor. Itu sebagai simbol semangat dan agar keberadaan ? SMP dan SMA selalu menjadi penerang bagi masyarakat dan siswa juga bisa memancarkan syiar perjuangan NU di masa sekarang dan masa ? yang akan datang.

Acara tersebut dihadiri Rais Syuriyah PCNU Pamekasan KH Mannan Fudoli, Sekretaris PCNU ? Abdurahman Abbas, Wakil Ketua NU K Munafi dan perwakilan banom dan lembaga NU seperti Lesbumi, Pagar Nusa, Lakpesdam, LPNU dan lainnya.?

Dari kalangan pejabat, terlihat Ketua DPRD Halili, Ketua Komisi 1 DPRD Ismail, Ketua Komisi 4 Sahur Abadi, Kepala Disdik Pamekasan Ahmad Tarsun, Kacabdin Pamekasan Provinsi Jatim Slamet Goestiantoko dan para pejabat lain. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Internasional, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 31 Mei 2017

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Komandan Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Danstakorwil Banser) Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi menyayangkan bentrokan antara FPI dan GMBI meluas hingga ke daerah di Jabar. Pasalnya segala bentuk anarkisme tidak bisa dibenarkan oleh siapa pun dengan alasan apapun.

"Kami tak mau tanah Jawa Barat jadi arena peperangan. Urang Islam, urang Sunda mah teu kitu (orang Islam dan orang Sunda tidak seperti itu)," kata Yudi selepas menghadiri undangan Kapolda Jabar, Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Anton Carliyan, Jumat (13/1).

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah

Menurut Yudi, Banser Jabar juga mengkritik gaya yang dipakai FPI dalam mengawal Rizieq Shihab. Sebagai warga negara yang baik, tak perlu "abring-abringan" seperti itu karena siapa pun sama kedudukannya di mata hukum.

"Begitu juga ke GMBI. Serahkan saja kepada kepolisian kasus ini meski memang berdemonstrasi dijamin Undang-Undang," ujar Yudi yang menegaskan bahwa anarkisme kedua kelompok tersebut tidak dibenarkan.

Maka, tuturnya, kesan yang tersiar ke publik pemanggilan Rizieq Shihab sampai dikawal ribuan massa FPI seolah unjuk kekuatan sebagai intervensi hukum, dan adanya massa diluar FPI seolah menandingi gerakan FPI tadi.

Ribath Nurul Hidayah

"Ya jadi bentrok karena yang namanya kerumunan massa lebih dari dua orang akan menimbulkan keberanian yang tak akan terkendali. Coba kalau Rizieq Shihab datangnya biasa, dan massa GMBI juga menunggu respon kepolisian," ucapnya.

Atas insiden yang telah mencoreng Bumi Parahyangan ini, Banser Jabar mengintruksikan kepada Banser di Kota/Kabupaten se-Jabar untuk terus menjaga kenyamanan warga, terutama warga NU.

"Ada apa dibalik semua itu, kita harus jeli," kata Yudi.?

Sebelumnya buntut dari bentrokan di Jalan Soekarno Hatta Bandung, sejumlah Sekretariat GMBI diberbagai daerah seperti Bogor, Tasikmalaya, dan Ciamis dirusak massa. (Nurjani/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Kajian, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 05 Mei 2017

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 bertepatan 21 Januari 1973, penulis mendampingi Subchan ZE keliling balad Jeddah. Di dalam mobil, penulis dengan lugu bertanya: "Di koran pak Subchan diberitakan akan kawin. Dengan siapa, Pak?". "Betul, tapi yang mau kawin itu pikiran Subchan dengan pikiran Soeharto", jawabnya.

Lalu tanya penulis: "Bagaimana dengan isu miring bahwa Pak Subchan punya hobi ke dumang, dunia remang-remang, klub malam. Kan bapak seorang tokoh NU?"

Jawabnya: "Subchan ZE Wakil Ketua MPRS-RI itu selalu berada di tempat tidak jauh dari mobil B 4 parkir. Termasuk di night club itu betul tetapi ingat, sebagai Wakil Ketua MPRS, petinggi NU, dan seorang Muslim pada dasarnya adalah Muballigh, yang harus menyampaikan pesan Rasul walau hanya seayat. Coba siapa dari para kiai dan atau dai yang berani tanpa sembunyi-sembunyi nyambang tempat remang-remang untuk antarkan nasihat, nanting kembali ke jalan yang benar. Bukankah dakwah justru lebih dibutuhkan di tempat seperti itu daripada di mesjid dan surau?”

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

“Harus diingat,” sambungnya, “bahwa apapun yang kita lakukan, niat adalah hal pokok. Maka bulatkan tekad bahwa segalanya diniatkan untuk ibadah pada Allah dalam berkhidmah melayani kepentingan umat. Serahkan diri artinya niatkan semuanya hanya untuk memperoleh ridlo Allah sehingga kelak bisa menemuiNya dengan hati yang damai.”

Ia lantas mengutip ayat ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? laa yanfau maalun wa laa banuuna illaa man ata-Llaaha bi-qalbin saliim, yakni: tidak akan berguna harta dan anak keturunan kecuali siapa yang datang menemui Allah dengan hati yang damai. Dan menyampaikan petikan hadits ? ? Ad-Diinu nashiihah. Agama adalah nasihat.

“Maka nasihatku, jika nanti kamu berniat terjun kiprah di politik, tebalkan terlebih dahulu bantalanmu. Jangan heran dan jangan gamang, jika datang menerpamu isu masuk partai untuk memperkaya diri. Lihatlah nanti setelah saya istirahat panjang, apakah saya masuk NU untuk memperkaya diri ataukah benar untuk berkhidmat bagi kepentingan umat? Kini saatnya, kuingin bangun hotel di Mekkah. Kumau istirahat panjang."

Subhanallah, Pak Subchan ZE ternyata bukan hanya politikus ulung, tetapi juga kiai yang mumpuni. Ketika ditanya, "Kenapa Pak Subchan tidak membalas balik serangan pihak yang mendiskreditkan?" Jawabnya: "Man satara musliman satarahulLaahu fid-dunyaa wal-aakhiroh. Siapa menutupi (cela/aib/keburukan) seseorang Muslim maka Allah menutupi (cela/aib/keburukan)-nya di dunia dan akhirat.”

Ribath Nurul Hidayah

Dari sejak pagi perjumpaan hari itu, penulis sudah menyampaikan keinginan teman-teman agar Pak Subchan berkenan singgah di gubuk kami di Baghdadiyah Jeddah, dekat Hotel AlAttas. Maka adalah sebuah "barokah", kebetulan ketika itu tak satu pun kamar hotel di Jeddah yang kosong, maka Pak Subchan tidak memiliki alasan untuk tidak singgah ke gubuk tempat kami para kerabat mahasiswa/alumni Timur Tengah kumpul-kumpul.

Selanjutnya, setelah qailuulah atau tidur siang sejenak, kemudian mandi sore dan shalat, seraya mengikat tali sepatu beliau bersenandung, "Yang hilang tak kan kembali..." Serta merta penulis bilang: "Wah, Pak Subchan, bisa-bisa ngalahin Bob Tutupoli!"Sambil tersenyum lebar beliau merespon: "Oh ya? Tapi janganlah.. Kasihan nanti para penyanyi bisa kehilangan job."

Kemudian beliau berpamitan untuk ke Mekkah dan Medinah menggunakan mobil Mercides warna putih milik Pak Abdullah Sumbawa, didampingi Pak Faisal Rochlan (adik beliau) dan Pak Nur (pemilik Percetakan Menara Kudus). Penulis ingat persis, hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 atau tanggal 21 Januari 1973, sudah berselang empat dasawarsa lebih, tapi rasanya seakan baru saja kemarin beliau tiga kali menoleh ke penulis dan teman-teman seraya berucap: "Selamat tinggal... Fii AmaanilLaah!"

Ribath Nurul Hidayah

Usai maghrib, ketika itu bersama keluarga Cak Bakrin Kafi, penulis sedang menjamu Kepala Inkopad, Pak Brigjen Djoko Basoeki sekeluarga, datanglah sahabat penulis bernama Yazid Ramli dari Mekkah membawa berita dukacita. Di luar pintu Yazid Ramli memeluk lunglai penulis yang dengan suara lirih bertanya: "Kenapa? Pak Subchan?!" Berbareng kami mengucap lirih: "Innaa lilLaahi wa innaa ilaiHi roojiuun".

Malam itu Cak Bakrin Kafi dan penulis tidak sampai hati untuk menginformasikan berita duka cita itu ke Pak Brigjen Djoko Basoeki, yang pamitan mau terbang ke Amerika untuk suatu tugas, dan keluarga terbang pulang ke Jakarta.

Musim haji tahun 1392/1973 itu Amiirul-Haj Indonesia adalah Pak Jenderal Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri RI, Ketua Umum Golkar. Maka tentunya dapat dibayangkan, isu politik seperti apa yang sangat mungkin serta merta dapat mencuat menjelma menjadi malapetaka amat dahsyat di Indonesia. Khususnya di Jawa Timur, belahan Nusantara basis kaum santri dan Nahdliyiin. Karena itu, penulis segera mencoba-yakinkan Cak Bakrin Kafi, putra Kiai Cholil Bangkalan Madura, untuk melakukan tindakan darurat demi keamanan situasi negeri tercinta dengan menangkal kemungkinan hembusan fitnah. 

Alhamdulillah Cak Bakrin tanggap, maka malam itu juga bersama penulis ke Telkom Jeddah (musim haji buka 24 jam) mengirim dua telegram (isi berita sama, yaitu: "kilat":

"Innaa lilLaahi wa innaa ilaihi raajiuun, telah berpulang ke rahmatulah SWT almarhum haji Subchan ZE karena kecelakaan murni, ulangi karena kecelakaan murni, di Wadi Fatmah dalam perjalanan darat dari Mekkah ke Medinah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya serta mengampuni segala dosanya dan membangunkan tempat mulia di taman surgaNya, sementara ahli keluarga dan kita yang ditinggalkan tetap tabah, tawakkal dan tulus ikhlash mendoakannya disertai membaca al-faatihah. Demikian, Bakrin Kafi dan Muzammil Basyuni) masing-masing dialamatkan ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya - Jakarta Pusat; dan

Keluarga Bapak Subchan ZE. AlMarhum, Jl. Banyumas No.4, Menteng, Jakarta Pusat.

Sopir Pak Subchan ZE, yaitu Syauqi Thohir Rochili, putra Pengasuh Ponpes AtTahiriyah  Kampung Melayu, Jatinegara, sempat ditahan di penjara, lalu dibebaskan atas permohonan keluarga AlMarhum. 

Subhanallah, Maha Suci Allah. Waktu itu dua sesepuh: Al-Mukarram KH. Bisri Syamsuri, Rais Aam NU (yang mengskors Pak Subchan ZE dalam kepengurusan struktural PBNU); dan Al-Mukarram KH Ali Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogya, guru besar penulis, juga menunaikan haji bersama keluarga.

Sungguh amat mengharukan ketika di acara Tahlil di Bait Indonesia Jiyad Mekkah, Al-Mukarram Rais Aam NU meminta kesaksian para hadirin atas pernyataan beliau merehabilitasi nama harum Pak Subchan ZE rahimahullaah, dan secara eksplisit juga menyatakan mencabut keputusan skorsnya tersebut di atas. 

Dan penulis bersyukur bahwa pada malam itu Al-Mukarram KH Ali Maksum telah berkenan untuk melakukan Talqiin keesokan harinya bakda dluhur, pada acara pemakaman Almarhum di Mala Mekkah.

Allah Maha Besar lagi Maha Mendengar, Pak Subchan ZE telah memperoleh restuNya membangun "hotel"-nya di Mala Mekkah dan istirahat panjang.

 

                          ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. "Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah. Irjiii ilaa Rabbiki râdliyatan mardliyyah.. fadkhul fî ibâdî wadkhulî jannatî."

 

 

Muzammil Basyuni. Dubes RI untuk Rep. Arab Suriah 2006-2010.

Arinda, 21 Januari 2011.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 13 Januari 2017

Ribuan Pelajar NU Brebes Kirab Estafet Tunas Aswaja

Brebes,Ribath Nurul Hidayah. Ribuan anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah melakukan kirab Estafet Tunas Aswaja (ETA) tingkat Kabupaten Brebes. Kirab tersebut dilakukan untuk memperkenalkan organisasi pelajar NU kepada masyarakat.

ETA dimulai dari depan MA Plus Al Bukhori Sengon Tanjung pada pukul 09.00 WIB Sabtu (12/3/16). Selanjutnya, pasukan yang terdiri dari 62 bendera merah putih dan panji-panji NU bergerak menuju Kecamatan Kersana, Ketanggungan dan Larangan.

Ribuan Pelajar NU Brebes Kirab Estafet Tunas Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Pelajar NU Brebes Kirab Estafet Tunas Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Pelajar NU Brebes Kirab Estafet Tunas Aswaja

Sesampainya di Kecamatan Larangan, panji-panji disemayamkan di MTs Assalafiyah Sitanggal Larangan. Selanjutnya diberangkatkan kembali pukul 09.00 WIB dari halaman sekolah milik yayasan NU itu ke wilayah Kecamatan Wanasari, Songgom dan finish di Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Jatibarang Brebes, Ahad (13/3/16) pukul 17.00 WIB.

Ribath Nurul Hidayah

Pada ETA terakhir, bendera Merah Putih diserahkan ke Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam KH Syeh Soleh Basalamah, Bendera NU kepada Wakil Ketua PC NU Brebes KH Asmuni, bendera IPNU ke Ketua PC IPNU Ferial Farhan IA dan bendera IPPNU kepada ketua PC IPPNU Ade Melly Selfiana.

Ribath Nurul Hidayah

Pada malam harinya diadakan pengajian dengan penceramah Habib Luthfi bin Ali Yahya dari Pekalongan, KH Abbas Fuad Hasyim dari Cirebon, Rais Syuriyah PB NU KH Subekhan Makmun dan KH Syeh Sholeh Basalamah.

Dalam kesempatan tersebut, juga digelar lomba foto selfi yang harus diunggah di Facebook milik IPNU-IPPNU. Foto terbaik harus diunggah maksimal sampai pukul 23.00 WIB dan akan mendapatkan hadiah berupa kaos cantik dari panitia.

Selain Kirab ETA, kegiatan peringatan Harlah IPNU-IPPNU tingkat Kabupaten Brebes antara lain Pelatihan Jurnalistik dan Sekolah Aswaja. (wasdiun/abdullah alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 19 November 2016

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Dari data yang diperoleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), angka kasus pelanggaran toleransi di Indonesia mengalami lonjakan dan penurunan. Tahun 2010 ada 34 peristiwa, tapi 2011 melonjak lima kali lipat hingga 174 kasus. Lalu tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 117 kasus, sementara tahun 2013 terdapat 118 kasus, dan 116 kasus di tahun 2014.

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Fenomena ini menunjukkan persoalan toleransi beragama bukanlah persoalan yang timbul tahap demi tahap, tapi persoalan yang awalnya adem, damai, tenang, tiba-tiba terbakar begitu saja. Ada hal yang perlu diperhatikan untuk melihat lonjakan drastis tentang perubahan apa yang terjadi di negeri ini sehingga menimbulkan permasalahan toleransi beragama yang terjadi hingga saat ini.

Demikian disampaikan Satrio Wiratanu, Divisi Hak Sipil dan Politik Kontras, sebagai pemateri dalam acara Diskusi Publik bertajuk "Masalah dan Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia" yang berlangsung di aula fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat siang (13/3).

Ribath Nurul Hidayah

Satrio menjelaskan, pelanggaran toleransi beragama pada tahun 2011 motifnya cenderung berbentuk kekerasan, penganiayaan, pengrusakan harta benda, penutupan hingga pembekaran tempat ibadah, bahkan sampai pembunuhan terhadap kelompok-kelompok minoritas.

Ribath Nurul Hidayah

"Setelah tahun 2011, pelanggaran lebih cenderung pada bentuk ucapan atau seruan penyesatan yang secara akademis dinamakan hate speech (syiar kebencian). Misalnya memvonis kafir atau sesat yang disertai dengan pernyataan (fatwa) layak dibunuh atau halal darahnya," sambungnya dalam acara yang bekerja sama dengan PC PMII Kota Bandung itu.

Dalam konteks internasional, mengutip data yang diperoleh Kontras, Satrio mengungkapkan hasil penelitian tentang kadar konflik keagamaan di suatu Negara. Dari 198 negara pada tahun 2012, Indonesia menempati posisi kesepuluh dalam hal konflik keagamaan. Sedangkan Pakistan berada di posisi pertama, disusul Afghanistan dan India di tempat kedua dan ketiga. Sementara tahun 2013, Indonesia turun pada posisi ketiga belas.

Sedangkan dalam hal pembatasan praktik keagamaan yang dilakukan Pemerintah, tahun 2012 Indonesia tercatat posisi kelima, di bawah Mesir, China, Iran dan Saudi Arabia. Namun Indonesia naik di peringkat kedua pada tahun 2013, dan China menduduki posisi pertama.

“Tapi saya ragu, misalkan (posisi) kita akan turun pada tahun-tahun setelahnya. Karena melihat pada tahun 2014, banyak bermunculan peraturan-peraturan syariah yang sifatnya banyak membatasi praktik-praktik atau hak-hak keagamaan. Dalam posisi kita, bagaimana cara memperbaikinya?” ujarnya di hadapan puluhan mahasiswa yang memenuhi diskusi tersebut.

Usai pemateri menyampaikan paparannya, peserta diskusi publik yang didominasi kader-kader PMII Kota Bandung itu menanyakan berbagai hal terkait fenomena inteloransi beragama, cara menangani konflik keagaman, maupun soal pengalaman Kontras dalam mengadvokasi kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah