Sabtu, 11 November 2017

Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo, Pencetak Ulama-ulama Pendiri NU

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Selain menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo Jawa Timur itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri NU di negeri ini.

Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo, Pencetak Ulama-ulama Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo, Pencetak Ulama-ulama Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo, Pencetak Ulama-ulama Pendiri NU

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH M Hasyim Asyari, KH AsyAd Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, dan lain-lain," kata Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah, M Hasyim Fahrurozi (36), Kamis (25/6).

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri Pasuruan. Pesantren yang didirikan tepatnya pada tahun 1787 M itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

Ribath Nurul Hidayah

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asyari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar 5 tahun lamanya," ulas Gus Hasyim sapaan akrab M Hasyim Fahrurozi. 

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar KH Hasyim Asyari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim. 

Ribath Nurul Hidayah

Tidak hanya menjadi santri, lanjut Gus Hasyim, bahkan KH Hasyim Asyari juga pernah diangkat menjadi menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren waktu itu.

"Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena nyai Khodijah, istri KH Hasyim Asyari wafat lebih dahulu di Makkah, saat tengah mengandung, dan jenazah nyai Khodijah disemayamkan di Makkah," tukas Gus Hasyim. (Moh Kholidun/Fathoni)

Keterangan foto: M Hasyim Fahrurozi menunjukkan lokasi kamar Hadlratussyaikh KH Hasyim Asyari di Pesantren al-Hamdaniyah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Lomba, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar