Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Sepenggal Cerita NU Membela Tokoh Muhammadiyah

Tahun 1960-an dapat disebut sebagai tahun panas, penuh pergolakan politik. Bahkan bidang sastra pun tak luput dari hal tersebut. Salah satu peristiwa yang mencuat di dunia sastra kala itu, ketika seorang tokoh Muhammadiyah, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) ‘didakwa’ atas tuduhan plagiarisme.

Polemik ini berawal ketika seorang yang bernama Abdullah Said Patmadji (Abdullah Sp) mengirimkan beberapa resensi yang dimuat secara berkala di rubrik kebudayaan “Lentera” harian Bintang Timur milik Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sepenggal Cerita NU Membela Tokoh Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepenggal Cerita NU Membela Tokoh Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepenggal Cerita NU Membela Tokoh Muhammadiyah

Dalam salah satu tulisannya yang berjudul Aku mendakwa Hamka Plagiat (Bintang Timur, 5 dan 7 Oktober 1962), Abdullah Sp, menuduh buku novel Tenggelamnja Kapal van der Wijck karya Hamka merupakan plagiasi dari novel Magdalena, karya seorang sastrawan Mesir, Mustafa Al-Manfaluthi.

Sontak hal tersebut memunculkan pro-kontra dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan Nahdliyyin. Duta Masjarakat, salah satu koran harian milik Nahdlatul Ulama (NU) menuliskan dua artikel yang berjudul Hamka membantah hasil karjanja djiplakan dan Pembitjaraan akhir seorang sastrawan. Isi keduanya cenderung memberikan pembelaan kepada Hamka.

Ribath Nurul Hidayah

Berikutnya pada 7 Maret 1963, Duta Masjarakat memuat tulisan A.S. Alatas. Menurut pendapat Lektor Kepala Luar Biasa Bahasa Arab di Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu, tokoh wanita dalam Magdalena, tidaklah mirip dengan tokoh Hajati dalam novel Hamka.

Ribath Nurul Hidayah

Sedangkan Usmar Ismail, seorang pegiat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) milik NU, memilih sikap hati-hati dalam mengutarakan pendapat. Menurut Usmar, seorang seniman sedikit banyak akan mendapatkan pengaruh dari karya-karya dari orang lain.

Dan saja sebagai pengarang sangat terpengaruh pada Ibsen dan Steinbeck dan itu djelas kelihatan pada lakon-lakon karja saja “Api”. Terlebih-lebih pengarang muda, maka sulit untuk menolak pengaruh dari pengarang lain baik luar maupun dalam negeri.

Tapi bagi saja plagiat adalah bukan soal pengaruh, dia adalah persamaan tema, plot, problem dan seluruhnja sama tanpa ada keakuan sipengarang dan soal ini tidak demikian pada karja Hamka tersebut. (Bintang Timur, 21 Oktober 1962)

Dalam buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat, Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 (Muhidin M Dahlan, 2011), dijelaskan bahwa tema serupa menjadi perdebatan yang berlangsung cukup lama, yakni kisaran tiga tahun. Muhidin M Dahlan mengungkapkan, kala itu ‘dakwaan plagiarisme Hamka’ tak menjadi sekedar isu sastra semata, tapi juga sentimen ideologi politik. Di mana hubungan politik Islam dan ideologi politik yang dominan (Sukarno, PKI, Tentara) memburuk saat Masyumi dinyatakan sebagai partai terlarang. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Khutbah, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 12 Februari 2018

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rukyatul Hilal atau melihat bulan di waktu petang pada tanggal 29 kalender Hijriyah selain dimaksudkan untuk menentukan awal bulan Hijriyah apakah terjadi besok atau lusa, juga bernilai ibadah (taabbudi) sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghazalie Masroeri kepada Ribath Nurul Hidayah di Jakarta, Selasa (9/8). "Namun rukyatul hilal harus dilakukan dengan ilmu," katanya.

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah

Dikatakan, rukyatul hilal dapat mencapai kesempurnaan jika dipadukan dengan prinsip ilmiah (taaquli). Dalam hal ini rukyatul hilal akan dipandu dengan disiplin ilmu hisab (astronomi) dengan tingkat akurasi tinggi. "Sama dengan penentuan arah kiblat pun perlu ilmu," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Pada saat dilakukan rukyatul hilal, ilmu hisab berfungsi untuk menentukan kapan terjadinya konjungsi (ijtima’), yakni saat bulan berada antara matahari dan bumi, maka terjadi bulan baru (new-moon) atau bulan mati, dan wajahnya menjadi tidak nampak. Peristiwa ijtima merupakan batas secara astronomis antara bulan Hijriyah yang sedang berlangsung dengan bulan yang baru.

Ribath Nurul Hidayah

Ilmu hisab juga berfungsi untuk menentukan letak matahari terbenam, memperkirakan berapa derajat ketinggian, kedudukan, dan keadaan hilal, lama hilal diatas ufuk dan besaran cayayanya.

Hilal itu sendiri adalah bulan sabit atau dalam istilah astronomi disebut crescent, yakni bagian dari bulan yang menampakkan cahayanya terlihat dari bumi ketika sesaat setelah matahari terbenam pada hari telah terjadinya ijtima’ atau konjungsi.

Dikatakan Kiai Ghazalie, karena sifatnya sebagai ilmu, hisab akan terus berkembang dari masa ke masa. "Tidak ada itu istilah kitab hisab yang muktabarah," katanya.

Nah, rukyatul hilal bisa disebut sebagai observasi ilmiah yang juga berfungsi untuk menetapkan sebatas mana teori-teori dalam ilmu hisab tetap dipertahankan sembari merencanakan penemuan-penemuan baru.(nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

GP Ansor Tasikmalaya Bicara Pilgub Jabar

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah - Pilgub Jabar akan dilaksanakan pada tahun 2018. Namun politisi yang berhasrat menjadi gubernur telah mencuri start. Mereka dari sekarang melakukan sosialisasi untuk menaikan popularitasnya. Salah satunya Bupati Tasikmalaya H Uu Ruzhanul Ulum yang telah mencoba menyosialisasikan pencalonannya.

Namun setelah lembaga survei ternama mengeluarkan hasil yang menyatakan orang nomor satu Kabupaten Tasik ini masih dalam popularitas rendah, Bupati Tasik mengeluarkan pernyataan meminta bantuan kepada kepala dinas di Pemerintahan Kabupaten Tasik untuk membantunya dan mengampanyekan dirinya.

GP Ansor Tasikmalaya Bicara Pilgub Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Tasikmalaya Bicara Pilgub Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Tasikmalaya Bicara Pilgub Jabar

Pernyataan ini jelas menuai berbagai kritik dan reaksi dari berbagai pihak, tak terkecuali GP.Ansor Kabupaten Tasikmalaya. Sekretaris GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Fahmi Siddiq saat ditemui Ribath Nurul Hidayah usai jumatan di Masjid Agung Kota Tasik (20/1) mengatakan, pernyataan politisi partai lambang Kabah itu tak beretika. Bahkan pernyataan itu berpotensi mengecewakan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.

Ribath Nurul Hidayah

Sekelas kepala dinas adalah lembaga eksekutif yang seharusnya disibukkan dengan kepentingan pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya, “Bukan malah disuruh mengampanyekan bupatinya untuk Pilgub Jabar,” lanjutnya.

Masyarakat hari ini sudah mulai cerdas memilih pemimpin. Mereka yang dianggap memiliki kinerja yang bagus dan nyata akan dengan sendirinya dikenal oleh masyarakat.

Salah satu contoh, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (RK). Nama RK masuk di urutan tiga besar yang digadang-gadang dan disebut banyak masyarakat luas layak maju di Pilgub Jawa Barat.

Ribath Nurul Hidayah

Padahal RK tidak melakukan kunjungan ke berbagai tempat di Jawa Barat. Tidak seperti halnya Bupati Tasikmalaya H Uu Ruzhanul Ulum yang sudah kukurilingan namun popularitasnya masih tetap rendah.

“Kerja saja dulu yang bagus. Ada karya nyatanya. Nanti juga dengan sendirinya dikenal masyarakat. Bukan malah nyuruh kepala dinas kampanye. Itu namanya tidak beretika,” pungkas Ketua IPNU 2012-2014 ini. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 01 Februari 2018

Kiai Rustamadji dan Ahmad Faruki Pimpin PCNU Kota Pontianak

Pontianak, Ribath Nurul Hidayah. Konferensi Cabang (Konfercab) VII PCNU Kota Pontianak, Kalimantan Barat menetapkan Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatus Syubban KH Rustamadji sebagai Rais Syuriyah dan H. Ahmad Faruki sebagai Ketua Tanfidziyah.

KH Rustamadji dipilih dan ditetapkan dengan sistem Ahlul Halli wal ‘Aqdi (Ahwa) yang diusulkan MWCNU se-Kota Pontianak dengan suara terbanyak di Pondok Pesantren Darussalam 19-20 Maret lalu. Ahwa tersebut terdiri dari lima orang, yaitu H. Ahmad Faruki, KH. Saridjan, Ust. Ahmad Bustami, Ust. Mukhdar, dan Ust. Mahdi.

Kiai Rustamadji dan Ahmad Faruki Pimpin PCNU Kota Pontianak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Rustamadji dan Ahmad Faruki Pimpin PCNU Kota Pontianak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Rustamadji dan Ahmad Faruki Pimpin PCNU Kota Pontianak

Pada pemilihan ketua, peserta memilih secara langsung yang dimulai dengan bakal calon (balon). Pada pembalonan, H. Ahmad Faruki memperoleh 5 Suara dan H. Fauzi 2 suara.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan hasil seperti itu, maka pimpinan sidang, Ust. Andi Nuradi? memberikan kesempatan untuk kedua calon agar mengutarakan kesiapannya menjadi ketua. H. Fauzi menyatakan, biarkan NU Kota Pontianak ke depan dipimpin H. Ahmad Faruki.

Ribath Nurul Hidayah

Atas pernyataan itu, H. Ahmad Faruki menjadi satu-satunya calon. Ia juga mendapat pesertujuan Rais Syuriyah terpilih, KH. Rustamadji. Dengan demikian, secara aklamasi, ia menjadi Ketua PCNU Kota Pontianak masa khidmah 2016-2021.

Konfercab tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, perwakilan PWNU Kalimantan Barat KH Asy’ari, segenap pengasuh pondok pesantren se-Kota Pontianak, 6 MWCNU serta 20 Ranting NU.

Ketua PCNU Kota Pontianak demisioner, Nuralam, dalam sambutan pembukaan mengatakan, konferensi cabang ini akan menentukan arah dan kebjiakan NU ke depan dengan diawali pemilihan Rais Syuriyah dan Ketua PCNU.

Oleh karena itu, lanjut dia, Konferensi Cabang dengan tema “Aktualisasi Islam Nusantara menuju pengembagan karakter bangsa” ini merupakan estafet kepengurusan yang sangat urgen dilakukan dalam 5 tahun sekali.

“Semoga dengan adanya musyawarah ini, NU bisa bangkit lebih baik, serta dirasakan oleh masyarakat,” harapnya. (Syam Hady/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 24 Januari 2018

Baanar Tulungagung Segera Dideklarasaikan

Tulunggaung, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Cabang Tulungagung, resmi mendirikan Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar). Badan ini secara khusus membidangi masalah penyalahgunaan narkoba di kalangan masyarakat ? di Kabupaten Tulungagung.

Baanar Tulungagung Segera Dideklarasaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Baanar Tulungagung Segera Dideklarasaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Baanar Tulungagung Segera Dideklarasaikan

Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kabupaten Tulungagung, Sahrul Munir mengatakan, Ansor secara struktural telah membentuk Baanar dari tingkat pusat sampai daerah. Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor yang bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) telah memerintahkan pada pengurus di daerah untuk membentuk badan ini.

“Saat ini penyalahgunaan narkotika sudah darurat, sama bahayanya dengan terorisme. Sesuai data setiap hari sekitar 45 orang meninggal gara-gara Narkoba. Kita semua warga Ansor punya kewajiban yang sama untuk membantu Kepolisian dan BNN untuk mencegahnya,” ungkap Sahrul Munir kepada Ribath Nurul Hidayah, Jumat (5/8) pagi di arena Rakernas Banser di Tulunggung.

Munir mengatakan, kader GP Ansor berusia antara 30-40 tahun. Sedangkan pengguna narkoba rata-rata di usia produktif. Maka GP Ansor sebagai Badan Otonom Nahdlatu Ulama (NU), punya kewajiban yang sama, terlebih Ansor memiliki struktural sampai tingkat Kelurahan/Desa.

“Kepengurusan Ansor Tulungagung ada 19 anak Cabang Kecamatan dan 271 ? desa dan kelurahan. Maka ini sangat efektif untuk perang lawan narkoba,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk menangani organisasi ini,lanjut Munir, ia telah menunjuk Hariadi mantan Komandan Banser periode sebelumnya untuk menjabat sebagai Kepala Baanar Kabupaten Tulungagung.

“Saya yakin dengan pengalaman dilapangan Cak Hariadi. Organisasi ini akan efektif dan bisa berjalan. Apalagi ? terkait ini kita harus selalu koordinasi dengan Polres dan BNN Daerah,” tandasnya.

Ribath Nurul Hidayah

“Karena ada momen Rakernas Banser. Maka saya nunutkan deklarasinya. Mumpung Ketua Umum Gus Yaqut hadir di Tulungagung,” kata Munir. (Imam Kusnin/Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Ahlussunnah, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 23 Januari 2018

Ini Keutamaan Orang Pemberi Maaf

Sejarah menunjukkan penerimaan masyarakat terhadap Islam bukan karena paksaan ataupun perperangan. Kebanyakan orang simpati dan tertarik dengan Islam dikarenakan keelokan laku pendakwahnya. Perihal ini sejak dulu sudah dicontohkan Nabi Muhammad SAW; beliau dikenal sebagai orang yang paling baik akhlak dan perangainya.



Sebab kebaikannya itu, Nabi SAW tidak hanya disegani oleh kawan, tetapi lawan pun pada saat itu menghormati dan menyanjung etika beliau. Tak jarang orang yang membencinya beralih menghormati dan menjadi pengikut setianya. Ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi Muhammad SAW. Kebencian tidak pernah ia balas dengan amarah dan dendam. Malah beliau menyambut murka orang kafir Quraisy dengan kasih sayang dan penuh maaf.

Ini Keutamaan Orang Pemberi Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan Orang Pemberi Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan Orang Pemberi Maaf

Aisyah RA pernah ditanya terkait watak pribadi Rasulullah, ia pun menjelaskan:



Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Artinya, “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan,” (HR Ibnu Hibban).

Ribath Nurul Hidayah



Di antara sifat Rasulullah SAW ialah suka memberi maaf. Beliau acapkali memaafkan orang yang membenci dan menyakiti perasaannya. Memaafkan kesalahan orang bukanlah perkara mudah. Pada saat itulah keimanan seorang diuji. Apakah ia akan memperturutkan egonya atau mengalahkan amarahnya dengan memberi maaf. Allah SWT berfirman:



? ? ? ? ? ?



Artinya, “Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan maka pahalanya dari Allah SWT” (QS: Asy-Syura: 40.



Sementara dalam hadits disebutkan:



? ? ? ? ? ? ?

Artinya, "Tidaklah Allah SWT menambahkan sesuatu kepada orang yang memaafkan kecuali kemuliaan,” (Al-Muwatta’ karya Imam Malik).



Memberi maaf bukan berati pengecut, sebab Allah SWT memuliakan orang yang bersedia memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan Allah sudah menyiapkan segudang pahala untuk orang tersebut. Pastinya, tidak ada kerugiaan bila kita berbuat baik. Memang pada saat memberi maaf, amarah kita tidak terlampiaskan. Tetapi sesungguhnya pada saat itulah keislaman kita tampak. Andaikan Nabi SAW seorang pemarah dan pendendam, mungkin pemeluk agama Islam tidak sebanyak sekarang ini.



Dengan memberi maaf, paling tidak kita sudah mencoba untuk mengikuti perilaku Nabi SAW. Mengikuti etika dan kesopanan yang beliau ajarkan tentu lebih utama ketimbang mengikuti model pakaian Nabi saja. Saking sopan dan lembutnya Nabi SAW, sahabat Al-Bara bin ‘Azib, seperti dikutip dari Syamailul Muhammadiyah, menggambarkan wajah Rasulullah SAW laiknya bulan, bukan seperti pedang. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Januari 2018

PMII Jabar: FPI tidak Cerminkan Sikap Islam

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Tindak kekerasan FPI dengan melakukan penyerangan terhadap warga Ahmadiyah Astanaanyar tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. FPI tidak menjalakan amar ma’ruf nahyi munkar sebagaimana ajaran agama menitahkan dakwah bilhikmah wal mau’idhotil hasanah.

PMII Jabar: FPI tidak Cerminkan Sikap Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jabar: FPI tidak Cerminkan Sikap Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jabar: FPI tidak Cerminkan Sikap Islam

Demikian disampaikan PMII Jawa Barat terkait kekerasa oleh Front Pembela Islam pada Ahmadiyah di Bandung, malam Idul Adha yang lalu. PMII mendesak aparatur negara untuk menegakkan hukum secara tegas terhadap FPI yang melakukan tindakan kriminal. 

"Seharusnya aparat negara dapat melindungi segenap warga negara dengan mengantisipasi adanya kemungkinan tindak kekerasan," kata Edi Rusyandi, ketua PMII Jawa Barat, lewat siarang pers yang dikirim ke Ribath Nurul Hidayah tadi pagi. 

PMII juga mendesak walikota Bandung untuk membuktikan slogan Bandung sebagai Kota agamis sebagai Rumah bersama umat beragama.

Ribath Nurul Hidayah

"Ini momentum yang tepat dalam masa konflik seperti ini untuk menguji implementasi Bandung Agamis agar tidak sekadar jargon pembangunan daerah. Tidak cukup hanya memberikan pernyataan penyesalan, karena kewenangannya lebih daripada itu," jelasnya. 

Ribath Nurul Hidayah

Mereka juga mengingatkan Pemerintah Jawa Barat dalam hal ini Gubernur Ahmad Heryawan untuk meninjau ulang Pergub tentang Pelarangan Aktivitas Jemaah Ahmadiyah, yang justru seringkali menjadi pemicu konflik dan alasan kekerasan di banyak daerah di Jawa Barat. 

"Gubernur Ahmad Heryawan harus mempertanggungjawabkan pergub tersebut," tegasnya.  

PMII Jawa Barat menolak segala bentuk tindak kekerasan dari kelompok manapun karena tidak mencerminkan nilai-nilai luhur budaya sunda sebagai basis kultural masyarakat Jawa Barat.

Penulis: Hamzah Sahal 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Santri Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi

Wonosobo, Ribath Nurul Hidayah. Peringati Hari Santri Nasional, Bupati Wonosobo, H Kholiq Arif mengingatkan tentang sejarah Resolusi Jihad yang berujung dengam disepakati menjadi Hari Santri, ia mngatakan, Hari Santri menjadi tolak ukur bagaimana perjuangan santri hari ini sudah mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Hari Santri menjadi salah satu penghargaan atas perjuangan para santri.?

Santri Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi

"Santri dalam sejarahnya memiliki peran besar dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah, Santri menjadi garda terdepan dalam memerangi penjajah, Alhamdulillah sekarang para kaum santri sudah mendapatkan apresiasi dari pemerintah, ujarnya dalam orasi ilmiahnya di Gedung Adipura Wonosobo, Senin (26/10/2015).

Ia menambahkan, "kaum sarungan" hari ini harus tetap berjuang dan berjihad, pasalnya, tantangan globalisasi ke depan semakin kompleks. Untuk itu para santri dituntut cakap dalam segala hal, bukan hanya soal agama, tetapi politik, teknologi bahkan tantangan sosial.

Ribath Nurul Hidayah

Bupati yang berakhir 30 Oktober 2015 mendatang, mengungkapkan, bahwa santri harus mampu bersikap moderat dan toleran dengan semakin banyaknya penjajah yang ingin merongrong lesatuan dan lersatuan umat Islam.?

Ribath Nurul Hidayah

"Jihadnya kaum santri, tidak merasa benar sendiri dan tidak mengkafirkan, mengfitnah dan menghasut orang yang berbeda pendapat dengan kita," katanya kepada ribuan santri.

Untuk itu, ia berharap, ke depan kaum santri mampu menjadi mujtahid, yang selalu berjihad dalam konteks agama, sosial, politik bahkan ekonomi. Hal ini dipandang penting mengingat tantangan zaman semakin kompleks.

Hal senada diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Wonosobo, KH Abdul Halim yang mengungkapkan, santri hari ini harus mampu terbuka atas segala kemungkinan, oleh karenanya santri harus mampu menerapkan prinsip Aswaja.

"Santri harus mampu menerapkan konsep tawazun, tawasuth, tasamuh, dan taadul agar santri tidak terjerumus saling sesat menyesatkan bahkan mengkafirkan."

Akhmad Fadlun, ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah ( FKDT) Wonosobo, mengingatkan melalui Ikrar Santri, menurutnya dengan dibacakanya Ikrar Santri diharapakan mampu mendarah daging terkait perjuangan kaum santri yang telah berjuang merebut NKRI dari penjajah,?

"Dengan mengucapkan Ikrar Santri, diharapkan mampu menjadi sumber kekuatan bagi kaum santri untuk selalu setia kepada NKRI, taat kepada Pancasila dan UUD 1945," katanya. (Alfan Nurngain/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan, Pemurnian Aqidah, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 Desember 2017

Benarkah Harlah NU 16 Rajab?

Oleh Ahmad Najib AR

Tulisan ini bukan hasil penelitian sejarah. Karena penelitian sejarah harus menggunakan kaidah ilmiah yang ketat, didukung dengan bukti dan fakta empirik, dan harus didasarkan pada teori-teori ilmu sejarah yang rumit. Ini hanya sebuah sebuah hasil perenungan yang sama sekali tidak berpretensi menggugat apalagi mendekonstruksi sejarah. Tulisan ini hanya mencoba mencermati sebuah kronik sosiologis yang melatari sejarah kelahiran NU yang selama ini mungkin luput dari perhatian kita.

Telah menjadi ijma’ bahwa NU didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H, bertepatan 31 Januari 1926 M melalui pertemuan Ulama yang dipimpin oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari di kediaman KH Abd. Wahab Chasbulloh Kawatan Bubutan Surabaya. Saya mencoba memeriksa kalender tahun 1926, ternyata memang tanggal 31 Januari tahun itu bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1344 H, tepatnya Hari Ahad Pon. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah pertemuan itu dilangsungkan pada siang atau malam hari. Mungkin pertanyaan ini mengada-ada. Namun jika Anda teruskan membaca, maka Anda akan paham ke mana arah pertanyaan itu.

Benarkah Harlah NU 16 Rajab? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Harlah NU 16 Rajab? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Harlah NU 16 Rajab?

Begini. Jika pertemuan itu berlangsung siang hari, maka berarti benar jika dikatakan hari lahir NU adalah 16 Rajab. Namun apabila ia digelar malam hari, atau pada hari Ahad malam Senin, maka semestinya Milad NU tanggal 17 Rajab. Hal ini mengingat hitungan hari dalam kalender Hijriyah dimulai dari saat terbenamnya matahari. Yang berarti pertemuan itu secara Hijriyah sudah masuk hari Senin tanggal 17. Sayangnya saya belum menemukan satu informasi pun dari literatur-literatur yang saya baca yang menyebutkan siang atau malamnya pertemuan ulama yang fenomenal tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Namun jika dianalisis dari sudut sosio-historis, maka logika yang paling kuat menurut saya adalah malam hari. Kenapa? Karena pada tahun-tahun itu Belanda sangat ketat dan represif mengawasi segala macam bentuk kegiatan dan pergerakan dari kelompok-kelompok pribumi. Hal ini dipicu oleh bangkitnya kesadaran dan keberanian bangsa Indonesia untuk merdeka sejak berdirinya gerakan Boedi Oetomo pada tahun 1908. Sehingga, dengan kondisi yang demikian genting, bisa dibayangkan terlalu berisiko jika pertemuan ulama tersebut dilakukan siang hari. Apalagi kediaman Mbah Wahab tersebut terletak di pusat Kota Surabaya yang berjarak sekian ratus meter dari markas tentara Belanda.

Ribath Nurul Hidayah

Hal lain yang juga menguatkan adalah tradisi ulama pesantren saat itu. Rata-rata para ulama yang hadir dalam pertemuan itu adalah pemangku pesantren dari berbagai daerah, mulai Jombang, Pasuruan, Kudus, Pati, Surabaya, dan lain-lain. Salah satu karakter para kiai pesantren kala itu adalah kuatnya istiqomah mereka. Mereka sangat jarang meninggalkan kewajiban dan rutinitas pesantren mereka, terutama dalam memimpin sholat berjamaah dan mengajar para santri. Sehingga untuk kegiatan dakwah dan sosial kemasyarakatan umumnya dilakukan di sela-sela kesibukan tersebut dan waktu yang paling longgar adalah malam hari. Tradisi ini juga masih kuat dipertahankan oleh para pengasuh pesantren hingga satu-dua dasawarsa yang lalu, bahkan hingga sekarang pun juga masih berlaku untuk beberapa pesantren tertentu. Sehingga untuk tugas dan kegiatan NU mereka lebih banyak melaksanakannya di malam hari.

16 atau 17 dalam Rumus Abajadun

Salah satu tradisi lain yang juga sangat kuat dilestarikan oleh para ulama pesantren zaman itu adalah rumus Abajadun. Abajadun merupakan suatu bidang keilmuan dalam kosmologi Islam yang merumuskan setiap huruf Hijaiyah dalam angka. Konon yang pertama kali mempopulerkannya adalah Syekh al-Buni dalam kitabnya “Syamsul Ma’arif” yang notabene cukup populer di pesantren-pesantren Salaf. Dalam metode tersebut setiap huruf memiliki nilai atau angka yang berbeda-beda, misal ? (alif)= 1, ? (ba’)= 2, ? (jim)=3, ? (dal)=4, dan seterusnya. Kata atau kalimat yang tersusun dari beberapa huruf akan dinilai dari hasil penjumlahan angka dari huruf-huruf yang merangkainya, misal ? (kitab) nilainya adalah 423, hasil penjumlahan dari kaf (20), ta’ (400), alif (1), dan ba’ (2).

Menurut al-Buni, setiap huruf menyimpan makna dan rahasia kosmik-spiritual tertentu. Jika masing-masingnya tersusun menjadi sebuah kata, maka kata itupun menyiratkan rahasia spiritual tertentu yang misterius. Huruf dan rangkaiannya diyakini menjadi simbol yang menghubungkan dunia nyata dan dunia tak-kasat mata yang diwujudkan melalui angka dan hitungannya. Bahkan ia diyakini juga menjadi isyarat mistis (mystical signifier) akan kejadian atau garis hidup seseorang. Karena itu rumusan ini juga sering digunakan untuk instrumen untuk menilai kecocokan dan keharmonisan calon pengantin.

Para kiai pesantren zaman dulu terbiasa menggunakan Abajadun untuk mengabadikan suatu peristiwa penting. Mereka sering menggubah syair arab yang huruf-hurufnya disusun sedemikian rupa sehingga kalau dihitung menggunakan metode ini akan menunjuk angka tertentu. Angka tersebut menjadi penanda suatu peristiwa dan waktu kejadiannya. Seperti al-Maghfurlah KH. Abd. Hamid Pasuruan sesaat setelah mendirikan madrasah di Pesantren Salafiyah yang diasuhnya, beliau menggubah syair yang berbunyi:

? ? ? # ? ? ? ? ?

“Telah berdiri sebuah madrasah untuk orang Islam pada bulan Muharram, kami mengharap ridlo dari Dzat yang Maha Terpercaya.”

Syair tersebut jika dihitung huruf-hurufnya menggunakan rumus Abajadun akan berjumlah 1392, sama dengan tahun berdirinya madrasah tersebut yakni tahun 1392 H.

Berdasarkan hal itu, maka saya berpikir bahwa bukan tidak mungkin para ulama pendiri NU juga menggunakan metode Abajadun dalam mengabadikan tahun kelahirannya. Saya pun kemudian mencoba menerapkan rumusan tersebut untuk kata ? ? ? (Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’). Ternyata jika dihitung masing-masing huruf dari tiga kata tersebut jumlahnya adalah 1566, dengan perincian: ? (3), ? (40), ? (70), ? (10), ? (10), ? (5), ? (50), ? (5), ? (800), ? (400), ? (1), ? (30), ? (70), ? (30), ? (40), ? (1) dan ? (1). Sampai di sini saya masih tidak yakin ada isyarat khusus dari kata Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ melalui metode ini, karena saya tidak menemukan korelasi apapun dari angka 1566 dengan NU dan sejarahnya.

Saya pun kemudian mencoba menghubungkannya dengan tanggal kelahiran NU. Saya mulai menghitung 16 ? 1344, dengan menjumlahkan 16 + ? (200) + ? (3) + ? (2) + 1344. Hasilnya cukup mengejutkan. Jumlahnya 1565, hanya selisih satu angka dengan hitungan ? ? ?. Dari sini kemudian saya berpikir seandainya tanggalnya diubah 17 ? 1344, maka hasilnya persis sama yakni 1566. Nah, 16 atau 17 yang lebih tepat?

Namun terlepas dari itu semua, yang jelas PBNU secara resmi telah menetapkan 16 Rajab 1344 H sebagai tanggal kelahiran NU yang harus diamini oleh seluruh nahdliyyin. Renungan dengan metode Abajadun di atas hanya ingin membuktikan bahwa betapa arif dan tingginya keilmuan para Masyayikh pendiri NU, hingga soal penamaan organisasi ini pun mereka sangat hati-hati dan detil menakar setiap hurufnya agar dapat mengandung kedalaman makna, sirr (rahasia), dan barokah bagi jama’ahnya. WaLlohu a’lam.

Selamat Hari Lahir NU ke-92!

*) Ahmad Najib AR, Ketua Lajnah Talif wan Nasyr NU (LTN NU) Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah

Sekilas tak ada yang istimewa dari pemuda ini. Pria asal Makassar yang hijrah ke Mamuju pada tahun 2008 karena ikut tinggal di rumah sang istri. Ia menjalani rutinitas sebagai petani coklat, guru ngaji, dan kini memimpin Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Yang membuatnya tak biasa adalah kepekaannya menangkap keadaan lingkungan barunya di Dusun Salukue, Desa Kolanding, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Ketika para remaja usia SMP di daerah lain tiap pagi mengalungkan tas menuju sekolah, kebanyakan anak di kampung itu justru sibuk bermain, sekadar diam di rumah, atau ikut orangtua bekerja di perkebunan atau lainnya.

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah

Selain masih minimnya kesadaran warga tentang pentingnya pendidikan, keadaan lah yang memaksa putra-putri mereka malas melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.? Kendala ada pada infrastruktur dan sarana prasarana di kecamatan setempat yang tergolong rendah. Jarak menuju sekolah belasan kilometer, jumlah kendaraan umum sangat terbatas, sementara sekolah jejang menengah pertama di kampung sendiri belum tersedia. Kawasan pelosok membuat akses pendidikan dan interaksi dengan dunia luar menjadi serbarepot.

Ribath Nurul Hidayah

Apalagi persoalan ekonomi ikut menjadi faktor. Mayoritas penduduk mengandalkan penghasilan sehari-hari dari hasil pertanian coklat di perkebunan dan padi di sawah. Ada juga beberapa yang menjalani profesi sebagai buruh tani, dan profesi pelayanan jasa lainnya. Kebanyakan para petani itu berpikir akan lebih “masuk akal” bila anak-anak ikut membantu pekerjaan orang tua di kebun atau sawah ketimbang berseragam sekolah, lalu menyusuri jalan menuju kecamatan yang melelahkan. Lagi pula tak setiap penduduk Kolanding berekonomi mapan. Bantuan sang anak akan menjadi energi tambahan dalam meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Di mata Zahril, nama pemuda itu, kondisi ini tak bisa dibiarkan berlarut. Hanya butuh setahun sebagai warga pendatang di Dusun Salukue, ia lantas mendirikan madrasah tsanawiyah dengan segenap rintangan dan keterbatasan. Ia rangkul tokoh dan masyarakat setempat, dan mengajaknya bersama-sama memikirkan masa depan pendidikan anak-anak desa.

Cita-citanya mendirikan MTs mendapat sambutan antusias. Zahril beruntung sudah mengawali tinggal di desa mertuanya tersebut dengan mengajar ngaji. Artinya, kepercayaan warga akan perjuangan Zahril di sektor pendidikan sedikit banyak sudah muncul. Atas dasar semangat gotong-royong, warga pun membangun madrasah itu dari kayu yang mereka kumpulkan. Tak lupa, rumah untuk Zahril turut mereka bangunkan dengan suka rela.

Ribath Nurul Hidayah

Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) dan Madrasah Diniyah yang sudah ia rintis pun akhirnya berkembang. Keguyuban warga dan mulai tumbuhnya kesadaran mereka akan pendidikan bagi generasi berikutnya membuat Desa Kolanding kini memiliki madrasah baru. Sekolah yang kemudian disepakati bernama Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Nahdlatul Ulama itu menjadi “pelepas dahaga” bagi anak-anak yang dilanda langkanya lembaga pendidikan di daerah pedalaman. Tak ada masalah sekolah masih beralaskan tanah dan berdinding papan.

Awal pendirian MTs Maarif NU diisi hanya oleh dua guru, Zahril dan istrinya; sementara sekarang telah bertambah menjadi enam orang. Meski cuma dua pendidik, periode awal relatif bisa diatasi karena jumlah murid saat itu sembilan orang. Kini MTs Maarif NU Kolanding memiliki 42 siswa, dan telah mewisuda beberapa siswa. Selain dari Desa Kolanding, para murid berasal dari Desa Tanambuah, Desa Tembes, dan Desa Pantaraan. Hanya Zahril dan istrinya guru yang berasal dari Kolanding, sementara sisanya dari desa-desa tetangga.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Nahdlatul Ulama diselenggarakan tanpa membebani peserta didik dengan biaya alias gratis. Biaya operasional disangga dari hasil patungan warga dan para dermawan, serta zakat pertanian. Zahril mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah.

Pada 2012, MTs Maarif Nahdlatul Ulama genap berusia tiga tahun. Siswa angkatan pertama yang berjumlah sembilan orang pun wisuda. Sebagai sebuah kesinambungan pembelajaran, Zahril menyusulnya dengan mendirikan Madrasah Aliyah Maarif Nahdlatul Ulama. Bagi Zahril, tak memberikan wadah pendidikan aliyah bagi para lulusan tersebut sama saja membiarkan mereka kembali putus sekolah. Sekarang total siswa MA Maarif NU Kolanding ada 22 anak dari berbagai desa dan latar belakang ekonomi. Tahun ini MA Maarif NU meluluskan angkatan pertama.

Zahril yang perah belajar di Pondok Pesantren Madinah Makassar selama tiga tahun mewarnai sistem pembelajaran di MTs dan MA yang ia dirikan dengan tradisi akademik dan kultur pesantren. Selain ada latihan seni hadrah sebagai kegiatan ekstrakurikuler, peserta didik juga sangat dianjurkan mengaji dengan sejumlah materi seperti hafalan al-Qur’an dan pelajaran-pelajaran ala madrasah diniyah lainnya pada sore dan malam harinya.

Sekarang madrasah rintisan telah berkembang. Enam piala sebagai bukti prestasi siswa dalam berbagai ajang lomba tingkat kabupaten juga sudah ada dalam genggaman. Zahril bersyukur bisa bermanfaat bagi orang lain, dan berharap kelak makin banyak orang yang turut menghidupkan. “Semoga berkah!” tuturnya. (Mahbib)







Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Sejarah, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 05 Desember 2017

Pilih Ketua Baru, GP Ansor Pariaman Mulai Bangkit

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Konferensi cabang ke-III yang memunculkan nama Ori Sativa Sakban sebagai Ketua terpilih GP Ansor kota Pariaman masa bakti 2014-2017, menunjukkan semangat baru bagi Ansor Pariaman. Kalau sebelumnya ketua Ansor hanya ditunjuk, kini Ansor Pariaman sudah melangsungkan konferensi yang dihadiri utusan anak cabang.

Pilih Ketua Baru, GP Ansor Pariaman Mulai Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilih Ketua Baru, GP Ansor Pariaman Mulai Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilih Ketua Baru, GP Ansor Pariaman Mulai Bangkit

Demikian dikatakan Bendahara PW GP Ansor Sumatra Barat Armaidi Tanjung dalam sambutan penutup konferensi di aula pesantren Nahdlatul Ulum desa Kajai kecamatan Pariaman Timur kota Pariaman, Sumatera Barat, Ahad (12/1) petang.

“Keterlibatan semua anak cabang GP Ansor di kota Pariaman menandai kebangkitan GP Ansor Pariaman, terlebih lagi ketua terpilih sudah aktif sebelumnya di organisasi pelajar dan kemahasiswaan. Sehingga, ia diharapkan lebih aktif mengembangkan Ansor di Kota Pariaman,” terang Armaidi seperti pers rilis kiriman GP Ansor Sumbar, Senin (13/1).

Ribath Nurul Hidayah

Sedangkan Ori Sativa mengungkapkan, banyak hal bisa dilakukan GP Ansor terutama bagaimana membesarkan NU dan GP Ansor. Selama di Ansor kita harus berproses sehingga bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

Ribath Nurul Hidayah

“Setiap kader dan pengurus ? Ansor harus dijiwai nilai-nilai Islam. Dengan demikian berproses di Ansor tidak hanya sekedar berorganisasi, namun menghidupkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat,” kata Ori dalam sambutannya setelah terpilih.

Menutup sambutannya, Ori yang juga mantan Ketua PC PMII Pariaman mengharapkan dukungan dan kekompakan jajarannya dalam menjalankan amanah organisasi.

Konfercab dihadiri Asisten I Pemko Pariaman Lukman Syam, Ketua LAZISNU Sumbar Febby Dt Bangso Nan Putih, Wakil Ketua PW GP Ansor Sumbar Rahmat Tuanku Sulaiman. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, Ahlussunnah, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah