Sabtu, 29 Juli 2017

Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir mengingatkan, berpaling dari Allah tak hanya dialami orang-orang kafir.

Kondisi yang disebut Imam al-Ghazali sebagai tertipu (maghrur) ini dapat menimpa siapa saja, termasuk para ulama, habib dan kaum sufi.

Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu

Umat Islam kerap tertipu dengan prestasi ibadah, ilmu pengetahuan atau kekayaan yang dicapai, seraya melupakan ketetapan batin bersama Tuhan, muara dari segala tujuan.

Ribath Nurul Hidayah

“Yang para sufi aja bisa kena tipu apalagi biasa-biasa aja,” terangnya saat mengurai kandungan kitab al-Kasyf wat Tabyin fi ghururil Khalqi Ajma’in karya Imam al-Ghazali di Jakarta, Selasa (6/11) sore. Kitab ini merupakan bacaan rutin Kiai Saifuddin bersama para mahasiswanya dalam sebuah forum pengajian.

Ribath Nurul Hidayah

Di bagian awal Imam al-Ghazali menjelaskan, selain orang kafir, ada empat jenis lain yang juga bisa tertipu. Mereka adalah orang-orang mukmin yang teridiri dari para cendekia (ulama), ahli ibadah, pemilik kekayaan, dan penggiat tasawuf.

“Pada akhirnya yang sudah dikira tidak tertipu, itu masih tertipu, yaitu para sufi yang telah melewati daerah maqamat, daerah ahwal. Yang sudah mengalami mukasyafah-mukasyafah sekalipun, ternyata pada gilirannya mereka tertipu,” imbuhnya.

Dengan kenyataan ini Kiai Saifuddin mengimbau setiap orang untuk ekstra hati-hati dengan seluruh sikapnya. Ketekunan ibadah, kepandaian, dan semangat perjuangan Islam tak menjamin mereka selamat dari ketertipuan.

Ia mencontohkan, betapa banyak umat Islam berbondong mengunjungi Baitullah ke Makkah dengan motivasi yang tidak tepat. Melalui baju ibadah, mereka terkadang membesitkan niat sekadar bersenang-senang atau mencari nafkah.

“Ada yang berhaji untuk piknik. Mereka sebut siyahah. Ada yang untuk meminta-minta. Dan itu realitas,” ungkapnya.

Redaktur  : A. Khoirul Anam

Penulis      : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar