Jumat, 15 September 2017

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur

Solo, Ribath Nurul Hidayah. Di kalangan masyarakat sekitar pabrik gula (PG) Tasikmadu dikenal tradisi temu temanten tebu atau perayaan buka giling. Tradisi tersebut mungkin juga berlaku hampir di seluruh pabrik gula yang ada di Nusantara. Temu temanten tebu ini meupakan perlambang syukur kepada Allah SWT.

“Acara ini juga dimaknai sebagai harapan, agar di masa penggilingan ini, baik pabrik maupun petani mendapatkan hasil produksi tebu yang melimpah,“ tutur Adinistratur PG Tasikmadu, Agus Hananto.

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur

Agus menjelaskan, tradisi ini telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda pada 1871 silam. Pada masanya, tradisi pesta dalam ritual tebu temanten dianggap sebagai pencapaian kejayaan ekonomi. Sebuah perlambang akan pesta besar yang digelar hanya menjelang masa menjelang penggilingan tebu.

Ribath Nurul Hidayah

“Dulu, tradisi ini digelar Belanda untuk membuat penduduk lokal tertarik. Mereka akan giat bekerja dalam memproduksi gula,” lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pada acara Selamatan Giling, Jumat (19/4) kemarin, diawali dengan pemberangkatan tebu temanten, yakni Bagus Madu Pastika dan Roro Palastri, dari rumah dinas kepala tanaman menuju Besaran. Selanjutnya tebu temanten diiring oleh puluhan karyawan dan ribuan masyarakart setempat menuju stasiun gilingan. Acara dinyatakan selesai setelah pasangan tebu dimasukkan bersama-sama dengan tebu pengiring di stasiun gilingan.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba, Habib, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar