Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Film “Cahaya dari Timur” Senapas dengan Gus Dur

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Puluhan Gusdurian Jakarta menonton bareng film “Cahaya dari Timur” di aula Wahid Institute, Matraman, Jakarta, pada Sabtu sore (9/8). Kemudian dibedah bersama produsernya Glen Frdly, Seknas Gusdurian Alissa Wahid dan sastrawan Agus Noor. ?

Ditemui selepas acara, Alissa Wahid mengatakan, film tersebut mengandung pesan-pesan kuat yang selama hidup diperjuangkan Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Film “Cahaya dari Timur” Senapas dengan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Film “Cahaya dari Timur” Senapas dengan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Film “Cahaya dari Timur” Senapas dengan Gus Dur

“Sejak awal pembuatnya, sutradara Angga Dwimas Sasongko adalah pengagum Gus Dur. Bahkan saya dan Angga punya banyak rencana dalam dokumenter dari sisi berbeda tentang Gus Dur,” kata Alissa.

Ribath Nurul Hidayah

Putri sulung Gus Dur ini menceritakan, film ini belum selesai dibuat saja, Angga mengingingakan untuk diputar di teman-teman Gusdurian. “Begitu premier, Glen ketemu saya. ‘Mbak film ini harus diputar di Gusdurian. Terus kita daftar untuk diputar di Gusdurian,” katanya menjelaskan.

Ribath Nurul Hidayah

Mengutip Glen, Alissa mengatakan, film ini turun dari bioskop, kemudian ditonton untuk acara formal semisal Hari Anak Nasional. Tapi untuk komunitas, diputar pertama kali di Gusdurian ini. “Karena ikatannya banyak, ikatan ideologi, nilai-nilai dan inspirasi dari Gus Dur. Film ini senapas dengan apa yang diajarkan Gus Dur,” tambahnya. ?

Film Cahaya dari Timur diluncurkan 19 Juni 2014 dengan penulis naskah Swastika Nohara Irfan Ramli. Film ini bercerita tentang perjuangan anak-anak Maluku berusia 15 tahun yang ingin mengikuti kompetisi sepak bola di ibu kota.

Anak-anak Maluku tersebut dilatih sepakbola oleh Sani Tawainela, mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia di Piala Pelajar Asia tahun 1996. Ia gagal menjadi pemain profesional karena mengalami guncangan besar ketika menyaksikan tertembaknya seorang anak dalam sebuah kontak senjata di Ambon.

Ia kembali ke Tulehu, desa kelahirannya, dan menyambung hidup sebagai tukang ojek. Ia prihatin menyaksikan keterlibatan anak-anak dalam konflik agama di Maluku. Ia kemudian mengalihkan perhatian mereka dengan sepak bola. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Pahlawan, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 25 Januari 2018

LPTQ Pusat Tinjau Kelayakan MTQ Internasional di Palangka Raya

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah
Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) pusat akan meninjau kelayakan tempat Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Internasional 2003 yang pertamakali diselenggarakan di Indonesia tahun 2003 termasuk di Palangka Raya tuan rumah MTQ Nasional XX.

Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris LPTQ Pusat Drs.H.Jawahil Tanthowi disela-sela persiapan pembukaan MTQ Nasional XX di Palangka Raya, Selasa.

"Kami akan membentuk tim untuk meninjau kelayakan tempat MTQ internasional termasuk yang diusulkan Gubernur Kalteng di Palangka Raya," ucapnya.

Pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ Internasional 2003 sebelumnya berencana menggelar perhelatan akbar tersebut di Jakarta Convensition Center dengan penginapan di Hotel Hilton maupun Hotel Indonesia.

Namun dengan adanya usulan dari pemerintah propinsi Kalteng maka pemerintah dalam hal ini Menteri Agama secara langsung akan meninjau kelayakan tempat penyelenggaran MTQ Internasional tersebut.

"Kegiatan MTQ Internasional sebenarnya lebih ringan dibanding MTQ nasional, karena hanya satu hingga dua cabang yang dipertandingkan, selain itu peserta kafilah juga relatif sedikit," ucap Jawahil yang juga Sekretaris Panitia Pusat MTQ nasional XX.

Untuk itu pemerintah pusat masih mempelajari usulan-usulan yang disampaikan Gubernur Kalteng Drs.H.Asmawi Agani, katanya. Sementara Gubernur Kalteng Drs.H.Asmawi Agani dalam jumpa pers, Senin sore  mengatakan berbagai pertimbangan pelaksanaan MTQ Internasional di Palangka Raya selain sarana dan prasarana telah tersedia juga pertimbangan  suasana yang kondusif dan faktor keamanan yang lebih terjamin dibanding Jakarta.

"Kalau di Jakarta bisa timbul kekhawatiran akan ada bom, tapi untuk Palangka Raya tentunya situasi sangat kondusif," ucapnya.

Sejumlah sarana dan prasarana MTQ Nasional XX di Palangka Raya dinilai layak untuk event internasional berupa  mimbar tilawah dan perlengkapan lainnya.

"Kalau pelaksanaan  MTQ internasional di Palangka Raya, saya yakin minat peserta dan masyarakat dunia lebih tinggi dibandingkan di Jakarta," ujarnya.

Tipe orang asing itu lebih suka ke tempat dan daerah yang belum pernah dikunjungi, apalagi kecendurungan wisatawan "back to nature" dan  Kalteng merupakan tempat pilihan yang cocok.

Menyinggung ketersediaan  akomodasi seperti penginapan, menurut Gubernur Asmawi Agani hal itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena kecendrungan orang asing  justru lebih suka "home stay".(ant/mkf)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Kyai Ribath Nurul Hidayah

LPTQ Pusat Tinjau Kelayakan MTQ Internasional di Palangka Raya (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTQ Pusat Tinjau Kelayakan MTQ Internasional di Palangka Raya (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTQ Pusat Tinjau Kelayakan MTQ Internasional di Palangka Raya

Selasa, 23 Januari 2018

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Pamekasan, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Republik Indonesia H Ir Dian Faridz menyatakan salut atas spirit kemandirian yang tertanam kuat dalam kehidupan pesantren. Menurutnya, salah satu kelemahan generasi muda saat ini ialah terletak pada semangat kemandirian tersebut.

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Ia menyampakan hal itu saat mengunjungi Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Sabtu (18/01). Dalam lawatannya tersebut, Faridz menghadiri maulid nabi Muhammad SAW dan milad ke-45 Pondok Pesantren Bustanul Ulum di Tagangser Laok, Kecamatan Waru, Pamekasan.

"Dan harus diakui, pesantren mempunyai peran besar dalam menguatkan spirit kemandirian di tubuh bangsa ini. Dari pesantren lah generasi bangsa yang sangat tangguh bermunculan," akunya kepada Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Ditegaskan, spirit kemandirian tersebut diharapkan tetap lestari. Jangan sampai ganasnya era globalisasi justru memasungnya. "Dan kami berkeyakinan, selagi langkah kiai tetap mengetengahkan nilai keislaman, ganasnya globalisasi tidak akan mampu menggerus nilai-nilai mulia kepesantrenan," terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena pesantren mempunyai peran vital dalam membangun negeri ini, pihaknya menyatakan tidak akan mengabaikan keberadaannya. Tentu dengan memperhatikan perkembangan pesantren melalui program pemerintah yang pro-rakyat. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Januari 2018

Ketua Lembaga Dakwah PBNU Serukan Gerakan Desa Ramah Anak

Majalengka, Ribath Nurul Hidayah



Kekerasan terhadap anak kian mengkhawatirkan. Karena itu, perlu gerakan masif dari seluruh pihak untuk menciptakan lingkungan sosial, budaya, keluarga dan pendidikan yang ramah bagi anak.?

Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq pada Sosialisasi Perundangan Perlindungan Anak bersma Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (KPPA) pada AHad (17/9) di aula Desa Cisambeng, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.?

Ketua Lembaga Dakwah PBNU Serukan Gerakan Desa Ramah Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Lembaga Dakwah PBNU Serukan Gerakan Desa Ramah Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Lembaga Dakwah PBNU Serukan Gerakan Desa Ramah Anak

Anggota DPR RI Fraksi PKB Komisi VIII itu meminta agar pemerintah serius menyikapi kasus kekerasan anak ini antara lain dengan menciptakan desa-desa yang ramah anak.

"Kasus kekerasan anak ini jangan hanya ditanggapi reaksional dan emosional. Itu tdk menyelesaikan masalah," ungkapnya.

Karena itu, pengasuh Pontren Al-Mizan Jatiwangi ini menyebut pentingnya gerakan kultural, sosial dan budaya untuk mendorong upaya pencegahan kekerasan anak ini.?

Ribath Nurul Hidayah

Gerakan pencegahan kultural dan sosial ini, menurutnya, bisa dimulai dari desa-desa yang kita tahu masyarakatnya penuh dengan tradisi kesantunan dan kearifan lokal.

"Desa sangat strategis untuk mencegah dan menyelamatkan anak-anak kita. Sebab banyak kasus justru yang terjadi di di bawah tapi tidak tersentuh," lanjutnya.?

Pada kesempatan itu, seluruh elemen masyarakat yang hadir sepakat berkomitmen untuk melindungi dan menjaga anak-anak dari segala tindak kekerasan, pelecehan seksual dan diskriminasi. Di samping itu juga mendorong pemenuhan hak-hak anak agar ? tumbuh kembangnya berjalan baik dan optimal.

"Mari bersama-sama mendorong Gerakan Desa Ramah Anak untuk melindungi anak-anak kita. Dari Desa untuk ? Masa depan generasi bangsa", pesan Kiai Maman.?

Ribath Nurul Hidayah

Sosialisasi tampak meriah dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, kalangan pesantren, Fatayat dan Muslimat NU, MWCNU, penggiat cinta anak, tokoh pemuda, remaja mesjid dan lain-lain.

Acara juga dimeriahkan dengan lomba kreativitas anak yakni lomba melukis, menggambar serta lomba ungkapan kasih sayang kepada ayah bunda. (Ahmad Duryawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 07 Januari 2018

Ansor Banjardowo Canangkan “Gerakan Ansor Peduli”

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda Ansor Banjardowo Kecamatan Genuk Semarang (GP Ansor Banjardowo) mencanangkan Gerakan Ansor Peduli (GAP). Kepedulian GP Ansor Banjardowo melalui GAP terlihat dari bentuk kegiatan memberikan santunan dan beasiswa pendidikan kepada anak yatim dan kurang mampu secara ekonomi. 

Pemberian santunan dan beasiswa diberikan secara blusukan dengan cara langsung mendatangi rumah penerima, Jumat (21/11) malam.

Ansor Banjardowo Canangkan “Gerakan Ansor Peduli” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Banjardowo Canangkan “Gerakan Ansor Peduli” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Banjardowo Canangkan “Gerakan Ansor Peduli”

Muhammad Achmadi, ketua GP Ansor Banjardowo mengatakan, GAP ini sebagai wadah kepedulian sosial kepada masyarakat yang tidak terikat oleh bulan-bulan tertentu. Sebab terkadang saat memberikan santunan atau bantuan bersamaan bulan-bulan perayaan seperti saat bulan Ramadhan maupun Muharram.

Ribath Nurul Hidayah

“Pada kali kami memberikan santunan dan beasiswa secara blusukan dan saya berharap melalui GAP ini anggota GP Ansor dan Banser bisa langsung terjun ke lapangan sebagai bentuk pengabdian kepada masyakarat,” imbuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pemberian bantuan secara blusukan ini diikuti anggota GP Ansor, Banser dan Ketua PAC GP Ansor Genuk Muslimin. Pemberian bantuan santunan dan beasiswa berupa sembako, alat tulis dan uang beasiswa.

“Kita memiliki peran penting di masyarakat untuk turut memiliki kepedulian di tengah-tengah masyarakat, oleh karena sosok pemuda merupakan penopang keutuhan NKRI,” tutur Muslimin.

Gerakan Ansor Peduli berupa memberikan santunan dan beasiswa ini menjadi tongak untuk mengawali rasa kepedulian sesuai dengan harapan GAP yakni dari masyarakat untuk masyarakat.

“Karena bantuan melalui GAP didapat dari anggota dan masyarakat, jadi harus dikembalikan kepada masyarakat tentu bagi mereka yang kurang beruntung,” ungap Muslimin. (lukni maulana/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

Paderi, Embrio Gerakan Kelompok Radikal di Indonesia

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Paderi abad lalu di Sumbar melahirkan bibit-bibit gerakan radikal yang menyebar hingga kini di sejumlah ormas seperti Komite Penegak Syariat Islam (KPSI) dengan warna lokal Sumbar, HTI, FPI, Salafi dan lainnya di Indonesia. Dalam melancarkan aksinya, mereka cenderung mengedepankan sikap radikal.

Demikian dikatakan Wasekjen PBNU H Abdul Munim DZ menanggapi penelitian Wakil Sekretaris PWNU Sumbar Zainal bertema “Islam Radikal di Sumbar Pascaorba, Kajian Historis Gerakan Ormas Islam Garis Keras” kepada Ribath Nurul Hidayah di kantor PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Jumat (11/4) siang.

Paderi, Embrio Gerakan Kelompok Radikal di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Paderi, Embrio Gerakan Kelompok Radikal di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Paderi, Embrio Gerakan Kelompok Radikal di Indonesia

“Gerakan Paderi itu mengilhami aktivis penegak syariat Islam di Indonesia yang tegabung di dalam wadah HTI, Salafi, FPI, KPSI, dan lainnya. Setiap ormas garis keras itu memiliki cakupan sendiri. Ada lokal, nasional, juga bahkan trasnasional,” kata H Abdul Mun’im DZ.

Ribath Nurul Hidayah

Mereka dengan berbagai cara mencapai maksudnya untuk menegakkan syariat Islam melalui struktural maupun kultural. Mereka menghendaki penerapan syariat Islam dalam perda-perda dan oleh masyarakat, kata Mun’im.

Dalam melakukan amar makruf dan nahi munkar, mereka tidak mengenal toleransi dan kompromi dengan pihak lain yang berseberangan dengan mereka. Mereka juga cenderung mengubah adat dan tradisi tasawuf yang berlaku di tengah masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

Mereka ingin menghapus segala bentuk bidah, takhayul, dan khurafat di tengah masyarakat, sambung Mun’im. Sayangnya, mereka dalam melancarkan aksinya berjauhan dengan cara dakwah Rasulullah SAW. Mereka bahkan tidak segan-segan memakai cara kekerasan bahkan pembunuhan.

Gerakan Paderi berawal dari pulangnya tiga warga Sumbar dari ibadah haji. Mereka yang terpengaruh oleh perkembangan gerakan Syekh M Abdul Wahhab di Arab saat itu, mencoba menerapkannya di Indonesia.

“Dampak struktulanya, mereka menolak sistem negara kebangsaan seperti Indonesia sekarang ini,” tandas Mun’im. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 02 Januari 2018

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda melihat keberadaan organisasi masyarakat (ormas) radikal yang sering melakukan kekerasaan dan anti-Pancasila telah menjadi perhatian publik. Kritik banyak ditujukan kepada? pemerintah dan penegak hukum yang lamban dan tidak tegas untuk membubarkan ormas radikal dan anti-Pancasila, meski? perangkat hukum yang ada selama ini dinilai cukup memadai.

Berdasarkan kajian bidang hukum PCINU Belanda, permasalahan ini telah berlangsung sejak Reformasi bergulir karena adanya keterbukaan dan kebebasan untuk membentuk organisasi, namun tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ormas terus dibiarkan oleh pemerintah terdahulu sehingga membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi

Namun pemerintah memandang ada hambatan regulasi untuk menindak ormas radikal yang Anti-Pancasila. Melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, Pemerintah berusaha menjawab beberapa hal yang dianggap kurang tegas dalam prosedur pembubaran ormas.

Permasalahan krusial dari Perppu ini diantaranya perluasan spektrum pengertian ormas anti-Pancasila, penghapusan prosedur pembubaran ormas melalui peradilan, dan menambahkan ancaman pemidanaan bagi ormas dan anggota ormas, seperti rilis PCINU Belanda kepada Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan memperluas spektrum pengertian ormas anti-Pancasila, Perppu ini memberikan penguatan legitimasi kepada pemerintah untuk melakukan pembubaran ormas yang tidak sejalan dengan ideologi negara. Namun sangat disayangkan penghilangan 17 (tujuh belas) pasal tentang prosedur pembubaran melalui proses peradilan menjadikan hak konstitusional warga negara untuk melakukan pengawasan terhadap potensi tindakan sewenang-wenang pemerintah menjadi hilang. Ini berimplikasi pada kemungkinan terlanggarnya hak berserikat dan berkumpul sebagai hak konstitusional.

Yang lebih mengkhawatirkan, kriminalisasi Ormas dengan mencantumkan pasal-pasal pemidanaan pada Perppu yang cenderung abstrak dan multitafsir berpotensi menyasar ormas apapun yang dinilai rezim penguasa bertentangan dengan? Pancasila. Selain itu perumusan unsur pertanggungjawaban pidana yang? abstrak menjadikan siapapun pengurus ormas dapat dipidana karena pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anggota suatu ormas tanpa sepengetahuan pengurusnya. Perumusan pemidanaan dalam Perppu dengan mengaburkan tindakan perorangan (oknum) dan tindakan ormas sebagai lembaga dapat melanggar hak kebebasan untuk berpendapat dan berekspresi yang dijamin oleh UU Hak Asasi Manusia dan UUD 1945.

Ribath Nurul Hidayah

Menyadari beberapa fakta di atas PCINU Belanda berpandangan bahwa Peppu ini secara konstitusional sangat rentan untuk dibatalkan karena bertentangan dengan UUD 1945. PCINU Belanda berpendapat bahwa sejatinya Pemerintah tetap dapat menindak ormas radikal yang melakukan kekerasan dan bertentangan Pancasila melalui perangkat hukum yang telah ada baik melalui prosedur administratif maupun pidana.

Bahkan yang harus jadi perhatian serius dari pemerintah adalah menjamin bahwa aparat penegak hukum serta aparatur negara baik sipil maupun militer bersikap tegas dan tidak akomodatif terhadap kehadiran ormas yang mengganggu ketertiban umum, kata pengurus harian PCINU Belanda yang berkantor di Heeswijkplein 170, 2531 HK Den Haag, Belanda.

Rilis ini ditandatangani oleh Ketua PCINU Belanda Ibnu Fikri dan Sekretaris PCINU Belanda Fahrizal Yusuf Affandi. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Budaya, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Bukber Dan Dialog, Cara Warga Yogyakarta Wujudkan Toleransi

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kawasan Babarsari, Tambakbayan, Yogyakarta merupakan daerah yang rawan terjadinya konflik sosial antar kelompok. Hal ini karena daerah tersebut mengalami pergeseran akibat pesatnya perkembangan Aglomerasi perkotaan dengan berkembangnya sekitar 11 perguruan tinggi, perhotelan dan perumahan. Peristiwa kekerasan demi kekerasan terjadi di kawasan tersebut.

Menyikapi itu, Our Indonesia bekerjasama dengan Masyarakat Tambakbayan, Prodi Sosiologi Atma Jaya dan Alliansi Bela Garuda (ABG) menyelenggarakan diskusi dan buka puasa bersama (Bukber) dikemas dalam kegiatan Ramadhan Kebhinekaan, di Balai Pendopo Tambakbayan RW 04, Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Yogyakarta, Rabu (21/6).

Bukber Dan Dialog, Cara Warga Yogyakarta Wujudkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukber Dan Dialog, Cara Warga Yogyakarta Wujudkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukber Dan Dialog, Cara Warga Yogyakarta Wujudkan Toleransi

"Kita perlu menjaga toleransi antar berbagai perbedaan yang ada di Babarsari dan Tambakbayan. Perlu dikembangkan dengan membangun interaksi antara komunitas yang berbeda secara dialogis dalam suasana saling menjaga kedamaian. Dengan demikian, kerukunan dapat terwujud," kata Slamet Suparman  salah satu tokoh masyarakat Tambakbayan.

Slamet menambahkan, pada dasarnya masyarakat setempat adalah masyarakat yang toleran terhadap perbedaan dan memiliki semangat nasionalis yang tinggi. Hidup berdampingan dengan pendatang dari berbagai daerah sudah menjadi bagian dan interaksi,  baik mahasiswa maupun yang bekerja. 

"Perkembangan terjadi berdampak perubahan pola interaksi sosial antar masyarakat maupun dengan pendatang," kata dia lagi.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menegaskan, pengelolaan  kompleksitas  dan dinamika perkembangan masyarakat  lokal dengan para pendatang yang perlu tetap dijaga semangat keterbukaan dan toleransinya.

"Indonesia menjamin kebinekaan yang ada. Keberadaan NKRI  tidak terlepas dari himpunan perbedaan-perbedaan namun memiliki rasa kebangsaan yang dikuatkan dengan Pancasila sebagai dasar konsensus bersama. Oleh karena itu, perlu upaya untuk membangun interaksi dan dialog diantara anggota masyarakat yang berbeda agar bisa saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain. Keragaman bukanlah sumber konflik tetapi dapat dikelola sebagai sumber kekayaan untuk kemajuan bersama," paparnya.

Kemampuan mengakomodasi keragaman sebagai sumber kemajuan dan kesejahteraan bersama ini seringkali dihadapkan dengan kesenjangan yang berujung konflik. 

Oleh karena itu, kata dia menambahkan, perlu mengembangkan  semangat toleransi berbasis komunitas yang beragam sehingga perbedaan tersebut bisa dikelola dengan baik untuk kedamaian bersama.

Hadir dalam diskusi itu, diantaranya adalah  Ketua PC GP Ansor Yogyakarta, Saifudin, Pendeta Indrianto dari Omah Pirukun dan pihak kepolisian dari sektor Depok Barat, Yogyakarta yang didapuk sebagai narasumber untuk mengungkap berbagi gagasan dalam mewujudkan kedamaian dan kerukunan di Babarsari, Tambakbayan.

Ribath Nurul Hidayah

Pengembangan kebersamaan antar masyarakat yang beragam dengan bahasa kebudayaan dan kemanusiaan di Babarsari Tambakbayan sekaligus bertujuan untuk menghilangkan bebaya (malapetaka) dengan menumbuhkan kembali budi daya dan toleransi sehingga kawasan tersebut dapat mencerminkan Indonesia mini, yang penuh warna tetapi dapat menjaga kedamaian hidup bersama. (Gatot Arifianto / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 Januari 2018

Nilai Kemanusiaan Universal dalam Ibadah Haji

Oleh Fathoni Ahmad

Umat Islam di tanah air merupakan penyumbang jamaah haji terbesar di dunia yang setiap tahunnya berangkat ke tanah suci. Sebelumnya Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa kuota haji Indonesia tahun 2017 ini mencapai 221.000 orang. Jumlah ini meningkat dari 168.000 ke 211.000 orang. Jumlah 211.000 tersebut mendapat tambahan kuota 10.000 dari pemerintah Arab Saudi sehingga kuota berjumlah 221.000.

Jika melihat daftar tunggu (waiting list) jemaah haji di Indonesia yang mencapai 20 tahun, bisa dipastikan bahwa jumlah umat Islam di tanah air yang mempunyai kesempatan menunaikan ibadah haji berjumlah jutaan orang. Jumlah tersebut belum menghitung orang yang tidak hanya sekali berangkat ke tanah suci.

Nilai Kemanusiaan Universal dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Nilai Kemanusiaan Universal dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Nilai Kemanusiaan Universal dalam Ibadah Haji

Melihat fenomena tersebut, antusiasme umat Islam di Indonesia begitu tinggi sehingga menempati peringkat pertama jemaah haji terbanyak pada tahun 2016 lalu. Selain menjadi kewajiban bagi umat Islam, kerinduan bangsa Indonesia untuk dapat menziarahi makam Nabi Muhammad shallalallahu ‘alaihi wasallam di Masjid Nabawi Madinah juga menjadi salah satu pendorong faktor pendorong.

Dari jumlah yang mendekati dua juta orang jemaah haji tiap tahunnya, bisa dibayangkan penuhnya tanah Arab Saudi setiap musim haji. Namun, berkumpulnya umat Islam dari seluruh penjuru dunia ini dalam satu tempat menunjukkan bahwa esensi haji tidak lepas nilai-nilai kemanusiaan universal mengingat Muslim dan Muslimat dari berbagai suku, bangsa, ras, dan etnis tumplek-blek menjadi satu.

Nilai-nilai kemanusiaan universal tersebut bisa diuraikan dari tahap-tahapan yang menjadi rukun ibadah haji itu sendiri. Nilai keagungan ibadah bisa dijelaskan dari awal pen-syariatannya dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alihis salam, Siti Hajar, dan anaknya Nabi Ismail ‘alaihis salam.

Ribath Nurul Hidayah

Pakar Tafsir asal Indonesia, Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) menjelaskan bahwa Ibadah haji pertama kali dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim sekitar 3.600 tahun yang lalu. Setelah era beliau praktik-praktik ibadah haji beberapa telah mengalami perubahan, namun perubahan tersebut telah diluruskan oleh Nabi Muhammad. Salah satu yang diluruskan Nabi SAW ialah praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ribath Nurul Hidayah

?

Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 199 menegur sekelompok manusia (yang dikenal dengan nama al-hummas) yang merasa memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu bersama orang banyak dalam momen wuquf. Mereka wuquf di Muzdalifah sedangkan orang banyak melakukan wuquf di Arafah. Pemisahan diri yang dilatarbelakangi superioritas itu dicegah oleh Al-Qur’an dan turunlah ayat 199 tersebut.

?

“Bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 199)

Pada akhirnya, sejumlah rukun dalam ibadah haji yang dipraktikkan oleh jutaan umat Islam di dunia ini bermuara pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Terminologi kemanusiaan universal tersebut tidak hanya terdapat dalam esensi saat melakukan ibadah haji, tetapi juga harus melekat pada diri seseorang dalam kehidupan sehari-hari ketika sudah kembali ke tempat atau negaranya masing-masing.

Kandungan nilai kemanusiaan universal

Nilai-nilai kemanusiaan universal yang terdapat dalam setiap rukun ibadah haji yaitu, pertama, ibadah haji diawali dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Seperti diketahui bahwa fungsi pakaian antara lain sebagai pembeda antara satu orang dengan orang lain atau satu kelompok dengan kelompok lain dalam hal status sosial, ekonomi atau profesi.

Pakaian khusus ihram yang telah disyariatkan memungkinkan bersatunya seluruh umat Islam dalam status yang sama, yakni jemaah calon haji. Tidak ada perbedaan status sosial dan lain-lain karena perbedaan pakaian yang dikenakan. Hal ini menunjukkan juga bahwa seluruh manusia pada dasarnya sama di mata Allah kecuali atas dasar ketakwaannya.

Kedua, dengan memakai pakaian ihram, sejumlah larangan harus dihindari oleh jemaah haji. Ketika salah satu rukun haji tersebut dilaksanakan, Islam mensyariatkan bahwa jemaah haji dilarang menyakiti dan membunuh binatang, jangan menumpahkan darah, dan jangan mencabut pepohonan.

?

Laku syariat tersebut mengandung pesan bahwa manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Allah serta memberikan kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaannya. Dilarang juga memakai wangi-wangian, bercumbu atau kawin, serta berhias agar jemaah haji menyadari bahwa kehidupan manusia semata-mata materi dan nafsu birahi melainkan kondisi ruhani yang ada dalam posisi penghambaan yang kuat di sisi Allah.

Ketiga, Ka’bah yang dikunjungi dalam momen ibadah haji juga mengandung arti dari sisi kemanusiaan bahwa salah satunya terletak hijr Islmail yang berarti pengakuan Ismail. Di sanalah Ismail putra Ibrahim pembangun Ka’bah pernah berada dalam pengakuan ibunya yang bernama Hajar, seorang perempuan hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannya pun berada di tempat itu.

Dengan latar belakang tersebut, namun peninggalan Hajar diabadikan Allah agar menjadi pelajaran bahwa Allah SWT memberikan kedudukan seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tetapi kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk berhijrah (hajar) dari kejahatan menuju kebaikan juga dari keterbelakangan menuju peradaban. (Quraish Shihab, 1999: 336)

Keempat, setelah selesai melakukan ritus thawaf, jemaah haji larut dan berbaur dalam kebersamaan dengan manusia-manusia lain. Rukun ibadah haji tersebut juga memberikan kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam hadirat Allah SWT. Begitu juga dengan ritual sa’i yang menggambarkan perjuangan Siti Hajar dalam upaya memperoleh penghidupan untuk anaknya Ismail yang kehausan luar biasa di tengah gurun pasir.

?

Usaha dan kerja Siti Hajar yang beberapa kali bolak-balik antara bukit shafa dan marwa menunjukkan bahwa kenikmatan yang diperoleh dari anugerah Allah harus didahului perjuangan dan kerja keras dari seorang manusia. Karena Allah tidak mungkin menurunkan anugerah dan rezekinya kepada manusia yang hanya berpangku tangan.

Kelima, ketika jemaah haji berkumpul di padang ‘Arafah. Tempat yang konon diriwayatkan menjadi lokasi pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. Di tempat tersebut, seharusnya manusia menemukan ma’rifah pengetahuan tentang jati dirinya dan perjalanan hidupnya selama ini sehingga mendekatkan diri kepada Tuhannya. Di padang ‘Arafah itulah manusia diantarkan menuju laku yang ‘arif (sadar) dan mengetahui. Karena Nabi Muhammad pun menerangkan dalam sabdanya bahwa sesiapa yang mengenal dirinya, maka ia bakal mengenal Tuhannya.

Keenam, dari ‘Arafah jemaah haji menuju ke Muzdalifah kemudian ke Mina menuju rukun haji yaitu mabit dan melempar jumroh. Ritus ini dilakukan untuk memerangi perangai setan yang ada pada diri manusia. Untuk tujuan tersebut, manusia harus mempersiapkan senjata dalam melawan setan dengan mengumpulkan batu di malam hari di Muzdalifah kemudian melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka kepada setan dengan melemparkan batu di Mina dalam ritual melempar jumroh.

Simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai luhur kemanusiaan universal dalam ibadah tersebut menunjukkan bahwa rukun Islam kelima itu bukan hanya ibadah yang kaitannya dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga ibadah yang menuntut terwujudnya keshalehan sosial (hablum minannas). Sehingga dari perpaduan entitas tersebut mewujudkan kehidupan manusia yang baik (insan kamil). Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis mengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba

Blitar, Ribath Nurul Hidayah

Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menginginkan agar seluruh warga Muslimat ikut berpartisipasi aktif memberantas narkoba hingga di lini paling kecil, di keluarga.?

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba

"Muslimat punya tugas di masing-masing keluarga, pastikan bebas narkoba. Pastikan juga di masng-masing jamiyah ranting (desa), anak cabang (kecamatan). Ini PR (pekerjaan besar) bangsa kita," katanya saat menghadiri harlah ke-70 Muslimat NU di Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Ahad.

Ia juga menceritakan jika narkoba sudah masuk ke semua lini, termasuk ke pondok pesantren. Ia mengingatkan saat itu ada seorang yang memberikan obat dan dikatakan sebagai vitamin. Jika dikonsumsi, zikirnya bisa tambah panjang, tambah khusyuk. Bahkan, pengasuh pun juga mengetahui jika obat itu adalah vitamin, hingga belakangan dipastikan jika obat itu ternyata narkoba.?

"Hati-hati bila ada orang sepertinya baik hati memberikan vitamin, ini cuma pura-pura. Ini juga PR pesantren, kiai, bu nyai, supaya mengubah pikiran kita, yang semula pikiran lurus diubah menjadi melenceng, karena sudah terkena narkoba. Yang kena itu konstruksi otak," jelasnya di hadapan puluhan ribu warga Muslimat NU.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga mengatakan, dari informasi yang diterimanya di Indonesia narkoba sudah masuk ke segala lini. Bahkan, tingkat kematian akibat narkoba sangat besar, dimana sehari ada sekitar 40-50 orang meninggal dunia akibat narkoba.?

"Ini mengerikan dan bahaya luar biasa. Semoga kita semua dijaga, diselamatkan oleh Allah," katanya dengan langsung diamini para para hadirin.

Dalam acara itu, juga disertai dengan pembacaan ikrar laskar antinarkoba Muslimat NU. Ikrar itu sebelumnya juga pernah ditegaskan dalam puncak Harlah ke-70 Muslimat NU di Malang akhir Maret 2016.

Ribath Nurul Hidayah

Isi dari ikrar itu antara lain bersatu melawan narkoba, mendorong semua ibu memastikan keluarganya bebas narkoba, memberantas penyalahgunaan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, mendukung hukuman berat bagi pengedar narkoba, hingga merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

Isi dari ikrar itu dibacakan di hadapan seluruh jamaah yang hadir. Setelahnya, diadakan tanda tangan sebagai bentuk komitmen Muslimat NU mendukung program pemerintah untuk pemberantasan narkoba.?

Kegiatan Harlah ke-70 Muslimat NU itu dihadiri sejumlah tokoh. Selain dari kalangan pengurus Muslimat baik tingkat pusat, wilayah hingga daerah, juga dihadiri rombongan dari BPJS Kesehatan baik tingkat pusat hingga daerah, muspida Kabupaten Blitar, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam acara itu, juga disertai adanya nota kesepahaman di antara PP Muslimat NU dengan BPJS Kesehatan yang mencakup perluasan kepesertaan program JKN-KIS serta sosialisasi program itu ke masyarakat. Nota kesepahaman itu juga ditandatangani kedua belah pihak, dengan disaksikan seluruh warga Muslimat NU yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Nota itu berlaku satu tahun, terhitung 10 April 2016 hingga 9 April 2017. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 19 Desember 2017

Pelajar NU Bangkalan Reunian Makesta

Bangkalan, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Bangkalan, Jawa Timur, menggelar reuni alumni Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Bangkalan.

Pelajar NU Bangkalan Reunian Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Bangkalan Reunian Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Bangkalan Reunian Makesta

Alumni Makesta PAC Kota Bangkalan, Rido’i, pada (13/12) mengatakan, berkomunikasi merupakan suatu kewajiban dalam berorganisasi? sebab dengan dari situ akan terlahir ide-ide dan informasi yang bermanfaat.

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Bangkalan Mahsus R HM mengaku sangat senang kegiatan tersebut. Pada kesempatan tersebut, ia meminta bergabung dalam kajian bulanan PC.IPNU-IPPNU Bangkalan yaitu Cangkruan Bareng Sambil Mikir (Cangkir).

Ribath Nurul Hidayah

Pada reunian tersebut, diputuskan membentuk wadah komunikasi alumni bernama Al-Maba (Alumni Makesta Bangkalan). Melalui wadah tersebut mereka akan mengadakan pertemuan rutin bulanan. Tak hanya itu, mereka akan ikut andil dalam kajian rutin Cangkir. (Hafidzi/Dedi Hermanto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, AlaSantri, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Senin, 11 Desember 2017

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus

Caracas, Ribath Nurul Hidayah. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Senin (18/9) mengungkapkan rasa hormatnya atas pernyataan maaf Paus Benediktus XVI soal Islam dan penyebaran ajaran Nabi Muhammad sebagai "kejahatan dan tidak manusiawi" yang menuai protes dari umat Islam di seluruh dunia.

"Kami menghargai Paus dan seluruh pihak yang cinta pada perdamaian dan keadilan," ungkap Ahmadinejad. "Saya memahami bahwa dia (Paus Benediktus XVI) telah meralat pernyataannya yang dia buat."

Seperti diberitakan, Paus dalam kuliah umum di Aula Magna, Universitas Regensburg, Jerman, Selasa lalu, mengutip pernyataan Kaisar Bizantium (kini Turki) Manuel II Paleologus mengenai makna jihad dalam Islam dan penyebaran Islam dengan pedang. Sehubungan dengan itu, Paus "dengan setulusnya menyesali" bahwa pernyataannya tersebut telah melukai umat Islam, di mana kalimat itu sama sekali tidak berhubungan dengan maksud Paus.

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus

Dalam kunjungannya selama dua hari ke Venezuela, Ahmadinejad juga mengatakan adanya kontradiksi antara nilai-nilai (ajaran) Kristen negara-negara Barat dengan perang yang selama ini mereka lancarkan.

"Seluruh pertempuran abad ke-20 (terjadi) disebabkan oleh (ulah) sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat (AS)," kata Ahmadinejad seperti dilansir sumber AP dan AFP.

Dia juga mengingatkan bahwa "Isa sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah figur yang cinta perdamaian dan keadilan bagi kemanusiaan." (dar)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 09 Desember 2017

Tanam Pohon Menurut Rasulullah SAW

Kebakaran hutan yang melanda beberapa daerah di Indonesia membuat kondisi udara semakin memburuk. Begitu juga dengan pendirian pabrik industri dan bangunan yang biasanya mengorbankan sekian ratus pohon. Penebangan liar ataupun pembakaran pohon untuk kepentingan tertentu  pada gilirannya akan merusak tatanan kehidupan manusia.

Untuk mengurangi kerusakan tersebut perlu dilakukan upaya perbaikan lingkungan dan penanggulangan bencana alam sejak dini. Menggalakkan gerakan tanam pohon ialah salah satu solusi yang paling efektif. Terlebih lagi, kondisi hutan yang kian memprihatinkan dari tahun ke tahun. Gerakan tanam ini mestinya dimulai dari level bawah. Diawali dengan memberikan penyadaran kepada keluarga akan pentingnya menanam pohon.

Tanam Pohon Menurut Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanam Pohon Menurut Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanam Pohon Menurut Rasulullah SAW

Keuntungannya tidak hanya dirasakan di dunia. Di akhirat kelak pemilik pohon juga akan memanen hasil tanamannya. Setiap pohon yang ditanam dihitung sedekah oleh Allah SWT. Selama pohonnya masih ada, pahalanya senantiasa mengalir kepada penanamnya.

Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan sahabat Jabir mengatakan.

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Ribath Nurul Hidayah

Nabi SAW bersabda: “Tak satupun seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi pahala sedekah baginya, dan yang dicuri orang lain akan bernilai sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang menguranginya, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Menanam pohon ialah pekerjaan mulia dan sangat dianjurkan Nabi SAW. Ia termasuk amalan yang bermanfaat untuk kehidupan orang banyak (af’al al-muta’addiyah). Saking pentingnya amalan ini, Nabi SAW meyakinkan kepada umatnya bahwa orang yang menanam pohon tidak akan menderita kerugian sedikitpun kendati hasilnya dicuri orang lain ataupun dimakan burung. Sebab setiap buah yang dimakan binatang ataupun dicuri, dianggap sedekah oleh Allah SWT. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Lagi, Bom Bunuh Diri Guncang Pakistan, 25 Orang Tewas

Peshawar, Ribath Nurul Hidayah. Korban tewas bom bunuh diri di wilayah barat laut Peshawar, Pakistan, Jumat, (16/9) meningkat menjadi 25 orang dan 30 orang terluka akibat serangan di masjid yang padat jemaah, demikian pejabat di wilayah tersebut mengatakan.

Lagi, Bom Bunuh Diri Guncang Pakistan, 25 Orang Tewas (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Bom Bunuh Diri Guncang Pakistan, 25 Orang Tewas (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Bom Bunuh Diri Guncang Pakistan, 25 Orang Tewas

"Salah satu bagian masjid dan beranda runtuh serta menimpa jamaah akibat ledakan tersebut. Kami masih memindahkan beberapa jenazah dan korban luka dari reruntuhan bangunan masjid tersebut," kata Deputi Administratur Kawasan Mohmand Agency, Naveed Akbar, kepada Kantor Berita Reuters.

Serangan tersebut terjadi pada saat umat Islam shalat Jumat di Desa Payee Kgan, kawasan Mohmand Agency di bawah Wilayah Kesukuan yang diperintahkan pemerintah federal (FATA) berbatasan dengan Afghanistan. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 November 2017

Rais Aam PBNU Wafat, Media Sosial Pun Berduka

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sejak kabar wafatnya Rais Aam PBNU, KH. A. Sahal Mahfudh keluar di Ribath Nurul Hidayah, sekitar pukul dua dini hari, media sosial pun berduka cita. Hingga berita ini diturunkan, laman Facebook, Twitter dipenuhi ucapan bela sungkawa dari pelbagai kalangan.

Wakil Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri di akun Twitternya ?@gusmusgusmu mengungkapkan duka cita, "Inna lillahi wainna ilaihi rajiun. Telah wafat Rais Am PBNU, DR. KHM. Ahmad Sahal Mahfudz, Jumat 24/01/2014 jam 01.10. Mohon doa & Fatihah."

Rais Aam PBNU Wafat, Media Sosial Pun Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Wafat, Media Sosial Pun Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Wafat, Media Sosial Pun Berduka

Ungkapan duka juga diungkapkan ribuan akun. Mereka menyatakan kehilangan. Akun Hendri liuu di ?@0505Tino misalnya mengatakan, "Semoga bapak KH. SAHAL MAHFUDZ pemersatu, n guru bangsa kita, di tempatkan tempat yg mulia, d sisI ALLAH SWT." Akun JUST EL ?@ElUla095 berkicau "Apakah kelak akan ada penerus seperti beliau".

Ribath Nurul Hidayah

Di Facebook, akun Faisal Kamandobat II mengungkapkan, "Innalillahi wainna ilaihi rajiun... Allah, saya tidak khawatir akan keberadaan Kiai Sahal Mahfoudz di sisi-Mu, tetapi lebih mengkhawatirkan keadaan generasi yang ditinggalkannya. Ya, akan sulit mencari penggantinya, baik sebagai pemikir yang ketat dengan kajian fiqh sosialnya yang kini telah mendunia, sebagai pelopor ekonomi kecil masyarakat dengan pesantren sebagai motornya, dan seorang pemimpin yang bersahaja dan sederhana."

Ribath Nurul Hidayah

Akun Kunanfadinaka update status: Mbah Sahal Telah wafat. .. meninggalkan kita.

Siapakah yang mampu menggantikan kezuhudan beliau di zaman hedonism ini. ...

Siapakah yang mampu menggantikan kealiman beliau yang tradisional-modern...

Siapakah yang mampu mewujudkan SIYASAH TINGKAT TINGGI ? ? seperti yang beliau semangatkan pada bangsa ini. ..

Duka cita diungkapkan beberapa akun Facebook dengan mengganti foto profil mereka dengan potret KH Sahal Mahfudh atau memosting gambar dia ketika bersama Kia Sahal yang juga Ketua Umum MUI tersebut.

Akun Aula Rendra mengungkapkan "Selamat Jalan Kyai, terimakasih atas jasa dan pengabdian kyai kepada umat dan kepada bangsa ini.

Aku Cinta Padamu.

Alfatihah."

Aula Rendra tersebut mencantumkan puisi Rendra berjudul "Gumamku, Ya Allah"

Angin dan langit dalam diriku

gelap dan terang di alam raya,

arah dan kiblat di ruang dan waktu,

memesona rasa duga dan kira,

Serambut atau berlaksa hasta.

entah apa bedanya dalam penasaran dalam pengertian.

Musafir-musafir yang senantiasa mengembara.

Umat manusia tak ada yang juara.

Api rindu pada-Mu menyala di puncak yang sepi.

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu.

Agama adalah kemah para pengembara.

Menggema beragam doa dan puja

Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.

Akun lain berduka dengan mencatat kebersamaannya dengan Kiai Sahal dalam satu peristiwa. Akun Abdullah Khoirzad yang merupakan santri Kiai Sahal menuliskan kenangannya ketika sorogan.

“Jam 1.30 dini hari HP ku berdering. Apa yang menjadi kehawatiranku benar terjadi:" Mbah Sahal Mahfudz wafat", Maka aku segera bergegas berangkat menuju Kajen Pati. Dalam perjalanan, bayangan ketika dulu sebagai santri beliau hadlir, masih lekat dalam ingatan ketika aku ngaji sorogan kitab ghoyatul ushul, beliau yang memang tidak banyak kata maka ketika kami salah dalam bacaan beliau hanya berdecak: "heml" maka aku ulang lagi bacaan kalimat tersebut, dan jika masih salah, beliau pun berdecak lagi: "hem", begitu seterusnya.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Budaya Ribath Nurul Hidayah

NU Kraksaan Berikan Pengobatan Massal Gratis

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah

Dalam rangka memeriahkan Hari Lahir (Harlah) ke-93 NU, Pengurus Cabang Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kota Kraksaan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dan Puskesmas Ranugedang mengadakan bakti sosial berupa pengobatan massal gratis, Rabu (18/5).

Pengobatan massal gratis yang digelar di Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Desa Rejing Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo ini diikuti oleh 338 orang peserta dari semua unsur masyarakat mulai dari anak-anak hingga masyarakat lanjut usia (lansia).

NU Kraksaan Berikan Pengobatan Massal Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kraksaan Berikan Pengobatan Massal Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kraksaan Berikan Pengobatan Massal Gratis

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PCNU Kota Kraksaan KH Nasrullah A Suja’i, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin KH Anwar, Camat Tiris Roby Siswanto, Ketua PC LKNU Kota Kraksaan dr. H Mansur, Kepala Puskesmas Ranugedang H Mujoko serta para pengurus MWCNU Tiris Barat.

Ribath Nurul Hidayah

Sekretaris PC LKNU Kota Kraksaan? Sugianto mengungkapkan pengobatan massal gratis ini digelar dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar secara gratis kepada masyarakat. “Selain itu memberikan pelayanan yang konkret dari program LKNU,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan tersebut, para petugas medis dari Puskesmas Renugedang melakukan pemeriksaan sekaligus pengobatan secara gratis. Selain pengobatan gratis, LKNU bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Probolinggo memberikan bantuan 100 paket sembako kepada masyarakat yang kurang mampu.

“Semoga ke depan program-program LKNU akan lebih banyak memberikan pelayanan? kesehatan di tiap-tiap MWCNU dan dapat bekerja sama dengan berbagai pihak. Sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan dengan maksimal,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Budaya, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 19 November 2017

PCNU Makassar Jalin Silaturrahmi Warga Melalui Lailatul Ijtima’

Makassar, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Makassar kerja sama Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Wajo mengadakan lailatul ijtima di Masjid Darud Dawah kecamatan Wajo, Kamis (20/11).

PCNU Makassar Jalin Silaturrahmi Warga Melalui Lailatul Ijtima’ (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Makassar Jalin Silaturrahmi Warga Melalui Lailatul Ijtima’ (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Makassar Jalin Silaturrahmi Warga Melalui Lailatul Ijtima’

Sebagai pemberi tausiyah lailatul Ijtima Anregurutta KH Sanusi Baco yang juga Rais Syuriyah NU Sulsel mengatakan "setidaknya dalam pertemuan lailatul ijtima ini, sekurang-kurangnya ada dua manfaat, yakni al-unsuru addiny (aspek keagamaan) yakni agama memandang setiap pertemuan yang didalamnya ada kebaikan akan mendapatkan pahala. Kedua al-unsuru ijtimaiy (aspek kemasyarakatan) yakni Makassar sebagai kota besar agak sulit mempertemukan warga Nahdliyin dalam satu waktu dan majelis, keberadaan lailatul ijtima ini sangatlah tepat menjadi sarana mempererat silaturrahim.

"Nikmat ada beberapa macam, pertama nikmat iman yakni iman merupakan tembok pemisah antara kebaikan dan keburukan, sebagaimana sabda Rasulullah "tidak mencuri seorang pencuri kalau dia beriman dan tidak berzinah seorang pezina, jika ia beriman" dan "Saya (Rasulullah) tidak khawatir meninggalkanmu dalam urusuan dunia, tetapi yang saya khawatirkan makin maju duniamu, tetapi semakin mundur imanmu."

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, nikmat ilmu yakni sesuatu yang senantiasa dipergunakan (diamalkan) akan selalu bertambah dan ilmu yang menjaga pemiliknya. Ketiga, nikmat kesehatan ? yakni sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan, terutama untuk mengabdi pada umat.

Keempat, memiliki anak yang sholeh, dimana mencintai anak bukan karena insting, melainkan anak merupakan titipan yang mulia dari Allah swt. Dewasa ini peran orang tua tidak hanya menyekolahkan, tetapi orang tua diharuskan untuk senantiasa mendoakan anak-anaknya. Peranan orang tua dalam mendidik dan membesarkan sangat penting, ungkap Gurutta Sanusi. (andy muhammad idris/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 12 November 2017

Kongres Pagar Nusa Digelar Pertengahan Juli

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama akan menyelenggarakan Kongres pada pertengahan Juli 2007 nanti. Kongres akan memilih Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa NU yang baru dan merumuskan langkah-langkah strategis setelah sempat vakum sepeninggal "sang pendekar" KH Maksum Jauhari Lirboyo (Gus Maksum).

Muktamar ke-31 NU di Solo Jawa Tengah, pada akhir November 2004 silam menitahkan organisasi pencak silat kebanggaan warga pesantren itu untuk mengukuhkan diri sebagai "badan otonom" di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang menangani "dunia persilatan"

Kongres akan berlangsung selama empat hari (19-21 Juli 2007), di Asrama Haji, Pondok Gede Jakarta, bertema "Memperkokoh Persatuan dan Persaudaraan Sejati;  Membangun Kebersamaan untuk Penguatan Profesi dan Prestasi."

Kongres Pagar Nusa Digelar Pertengahan Juli (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Pagar Nusa Digelar Pertengahan Juli (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Pagar Nusa Digelar Pertengahan Juli

Rencananya Kongres akan dibuka oleh Menegpora Adhyaksa Dault dan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi serta akan ditutup oleh para pinisepuh Pagar Nusa NU. Selain memilih Ketua Umum Pagar Nusa yang baru menggantikan Gus Maksum, kongres ini sekaligus sebagai deklarasi Pagar Nusa dari lembaga yang berada di bawah NU menjadi badan otonom.

Ketua Panitia Konggres KH Fuad Anwar yang didampingi sekretaris H Mujtahidur Ridho kepada wartawan di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Kamis (28/6) kemarin, mengatakan, Kongres itu akan dihadiri oleh 211 cabang lebih dari 21 provinsi se-Indonesia. Sebanyak 87 cabang berada di Jawa dan 60 cabang lainnya berada di luar Jawa.

Ribath Nurul Hidayah

Kongres juga akan menghadirkan Panglima TNI, Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto, Menteri Agama HM. Maftuh Basyuni, Menegpora Adhyaksa Dault, IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia).

Fuad Anwar mengatakan, Pagar Nusa dalam kiprahnya juga pernah ikut membantu mengamankan negara. Sedangkan Kapolri juga untuk mengawal keamanan di tengah masyarakat sejalan dengan program polisi masyarakat (Polmas Polri).

"Pagar Nusa mempunyai sejarah panjang dalam mengawal perjuangan NU, yang kemudian menjadi lembaga Pencak Silat resmi di lingkungan NU. Sebagai sebuah pengabdian moral kepada para kiai Pagar Nusa mengalami perkembangan pesat di seluruh Indonesia," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena itu, dikatakan, sejalan dengan krisis berkepanjangan yang terjadi di negeri ini, Pagar Nusa NU harus mampu memimpin dan membenahi dirinya secara kreatif, kompak, dan saling tolong-menolong serta memberikan kontribusinya pada terciptanya keamanan, kedamaian, ketentraman, dan kehidupan yang tolerans di tengah masyarakat.

Ditambahkan Fuad Anwar, hadirnya Menegpora karena Pencak Silat itu bagian dari olahraga dan olah mental yang berhubungan dengan kesehatan tubuh dan mental. Semantra Menteri Agama diundang terkait adanya aliran-aliran di dunia persialtan yang disebut sebagai aliran putih, merah, dan hitam.

"Dari aliran itu kira-kira yang mana yang benar menurut agama dan sebagainya. Untuk Menteri Pariwisata dan Seni, karena silat juga erat hubungan dengan seni bela diri. Sedangkan dengan IPSI tentu saja terkait dengan pencak silat itu sendiri,” ujar Fuad Anwar.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 07 November 2017

MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Pameran Seni Murni

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Sebanyak 206 siswa kelas XII MA Futuhiyah 2 Mranggen, Demak membuat karya lukis  panorama dan kaligrafi dengan aneka model sebagai tugas akhir. Mereka yang mengelompok dengan anggota 4-6 siswa, memamerkan karya seni murni itu dalam acara “Ajang Pamer Seni Murni 2014”.

MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Pameran Seni Murni (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Pameran Seni Murni (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Pameran Seni Murni

"Kegiatan seni harusnya rutin diselenggarakan karena sangat penting untuk menjaga keseimbangan kemampuan otak kanan dan kiri,” kata guru mata pelajaran seni Lukman Hakim di sela penyelenggaraan pameran di halaman MA Futuhiyyah 2 Mranggen, Demak, Kamis (20/3).

Lukman yang juga dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan menambahkan, jika siswa hanya belajar teori saja, maka mereka akan kehilangan cita rasa seni yang tinggi.

Ribath Nurul Hidayah

"Setiap pribadi yang punya rasa seni, saat pengambilan keputusan dan kebijakan, dalam langkah-langkahnya pasti mengandung keindahan. Seni akan membuat kita menjadi kreatif dan inovatif, siap menghadapi tantangan," lanjutnya.

Kesempatan untuk mengembangkan kemampuan seni siswa di MA Futuhiyyah 2 Mranggen sangat banyak, salah satunya adalah kegiatan ‘Ajang Pamer Seni Murni’ ini yang merupakan bagian dari tugas akhir yang harus diikuti oleh setiap siswa-siswi kelas XII MA Futuhiyyah 2 Mranggen.

Ribath Nurul Hidayah

“Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat menjadi kesempatan siswa untuk mengasah kemampuan dalam mengekspresikan seni dan bermanfaat bagi civitas akademika madrasah,” harap Lukman Hakim mengakhiri. (Ahmad Dliya’uddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 September 2017

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah - Pergantian tahun baru sebaiknya digunakan untuk berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak cara bisa dilakukan seperti khotmil Quran, istighotsah, shalawat nabi atau kegiatan lainnya.

Demikian disampaikan oleh Ketua JQHNU Sidoarjo H Imam Mukozali kepada Ribath Nurul Hidayah, Jumat (30/12).

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah

"Kami mengajak dan mengimbau masyarakat dalam menyemarakkan pergantian tahun baru masehi 2017 dengan menghindari hura-hura. Masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan alternatif seperti pengajian, khotmil Quran, istighotsah, shalawat nabi atau kegiatan lain yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik di masjid dan mushalla," kata Imam.

Ia menjelaskan, apabila akhir dan awal tahun ini dilakukan dengan baik, insya Allah bangsa Indonesia akan mendapatkan ketentraman dan kebaikan. Dengan melakukan kegiatan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah akan mendapat keberkahan dan hidayah di tahun yang akan datang.

Ribath Nurul Hidayah

"Kebiasaan hura-hura dan pemborosan adalah hal yang tidak baik dan mubadzir serta tidak akan menambah keberkahan pada negara kita. Seyogianya kita bermunajat kepada Allah. Kalau ini dilakukan oleh setiap orang, maka akan mengurangi kejahatan dan kecelakan di luar sana," kata H Imam yang juga Ketua LTMNU Sidoarjo itu. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah