“Mereka keheranan, kok bisa perempuan Indonesia membuat berbagai kegiatan dan semuanya dilaksanakan sendiri. Semua yang datang bertemu Muslimat NU selalu mengakui seperti itu, baik dari Yordania, Palestina, Yaman dan lainnya,“ kata Hj Nurhayati Said Aqil, Kamis (1/3) di gedung PBNU.
| Gerakan Muslimat NU Dikagumi di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online) |
Gerakan Muslimat NU Dikagumi di Timur Tengah
Hari ini, Muslimat NU menerima kunjungan dari delegasi Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN-nya) Yordania dalam rangka belajar mengenai program KB ke Indonesia.Ribath Nurul Hidayah
Nurhayati pernah mengalami sendiri kehidupan perempuan di Arab Saudi selama 12 tahun ketika menemani suaminya, KH Said Aqil Siroj ketika belajar di Makkah.“Perempuan tidak boleh kemana-mana, sholat di masjid saja tidak boleh, kecuali di masjidil haram. Makanya Mereka ingin membuat organisasi seperti Muslimat di negaranya,“ kata Nurhayati.
Ribath Nurul Hidayah
Ia menyatakan, kunjungan ini akan ditindaklanjuti dengan kerjasama kedua belah fihak agar bisa saling memanfaatkan kelebihan masing-masing.Mewakili delagasi Yordania Nawal Faouri, senator, Jordan Helath, communication partnership dan Edson E Whitney, dari Johns Hopkin Bloomberg School of Public Health. Mewakili Muslimat NU Nurhayati Said Aqil, Mahsanah Asnawi, Sri Mulyati, Yenny Wahid dan sejumlah pengurus lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, terjadi dialog yang cukup interaktif. Delegasi Yordania sangat penasaran, bagaimana Muslimat NU mampu melaksanakan program sampai ke tingkat grassroot.
Mahsanah Asnawi menjelaskan, Muslimat NU memiliki struktur organisasi dari tingkat pusat sampai ke desa-desa. Saat ini jumlah anggotanya sudah mencapai 12 juta. Melalui jaringan organisasi inilah, berbagai program didisseminasikan ke berbagai daerah.
Selain itu, Muslimat NU yang merupakan badan otonom NU bekerjasama dengan lembaga dan badan otonom lain untuk menjalankan program tersebut, seperti dengan Lembaga Pendidikan Maarif NU, Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU, Lembaga Kesehatan NU, Ansor dan lainnya.
Sementara itu, Sri Mulyati, menjelaskan program KB Muslimat NU telah dimulai sejak tahun 1969 dan terus berkembang sampai saat ini. Keterlibatan NU dan Muslimat menjadi salah satu factor keberhasilan Indonesia dalam mengurangi angka kelahiran.
Muslimat NU menjelaskan pentingnya mengikuti KB dari sudut pandang keagamaan, seperti berdasarkan prinsip kulliyatul qomsah, yaitu hal-hal yang harus dijaga, yang salah satunya adalah menjaga keturunan tetap baik.
“Disinilah pentingnya menjaga jarak kelahiran dan jumlah anak yang dilahirkan agar menghasilkan generasi yang berkualitas,” paparnya.
Namun demikian, ia menegaskan, para ulama NU mengharamkan adanya alat kontrasepsi yang menghilangkan kemampuan melakukan reproduksi. Yang diizinkan adalah membatasinya.
Sri Mulyati menjelaskan, saat ini masih banyak tantangan untuk meningkatkan dan menjaga kesinambungan program kesehatan bagi perempuan dan KB ini, seperti akses geografi yang sulit, pendanaan, pengetahuan, budaya dan lain.
Penulis: Mukafi Niam
Dari Nu Online: nu.or.id
Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar