Bagi Menteri Hanif, puisi merupakan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari realita kehidupan manusia. Oleh karena iu, Hanif mendukung agar proses berpuisi terus dikembangkan dan dilestarikan.
"Karena disana mengalir realita yang metaforik. Kemudian metafora yang realistik. Kemudian di sana ada etika dan juga estetika," kata Menaker.
| Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online) |
Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno
Pada kesempatan tersebut, Menaker pun turut membacakan puisi "Berpedomanlah Pada Cita-cita" karya Ir. Soekarno.Melalui puisi karya Soekarno ini, Menaker mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk optimis menghadapi tantangan-tantangan masa depan.
"Saatnya kita sebagai bangsa melihat ke depan, penuh optimisme, bekerja keras," ujarnya.
Ribath Nurul Hidayah
Berikut adalah sepenggal puisi karya presiden pertama Indonesia tersebut:Berpedomanlah Pada Cita-cita
Ir. Soekarno
Ribath Nurul Hidayah
Ya, kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutankehidupan manusia sekarang digerogoti
dan dijadikan pahit-getir oleh rasa ketakutan
Ketakutan akan hari depan
ketakutan akan bom hidrogen
ketakutan akan ideologi-ideologi
Mungkin rasa takut itu
pada hakekatnya merupakan bahaya yang
lebih besar daripada bahaya itu sendiri
Sebab rasa takutlah yang
mendorong orang berbuat tolol
berbuat tanpa berpikir
berbuat hal yang membahayakan
Dalam permusyawaratan Tuan-tuan
saya minta, jangan kiranya Tuan-tuan
terpengaruh oleh ketakutan itu
Sebab ketakutan adalah zat asam
yang mencapkan perbuatan manusia
menjadi pola yang aneh-aneh
Berpedomanlah pada harapan
dan ketetapan hati
berpedomanlah pada cita-cita
berpedomanlah pada impian dan angan-angan
(Red. Kendi Setiawan)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ribath Nurul Hidayah Doa, Daerah Ribath Nurul Hidayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar