Lantas apa semua amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan ini?
Pertama, amalan terpenting itu adalah amalan hati, yaitu niat menyambut bulan Ramadhan dengan lapang hati (ikhlas) dan gembira. Karena hal itu dapat menjauhkan diri dari api nereka.
| Amalan Menyambut Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online) |
Amalan Menyambut Ramadhan
Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin menjelaskan dengan.مَنْ ÙÙŽØ±ÙØÙŽ Ø¨ÙØ¯ÙØ®Ùول٠رَمَضَانَ ØÙŽØ±ÙŽÙ‘Ù…ÙŽ الله٠جَسَدَه٠عَلىَ النÙّيْرَانÙ
Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.
Begitu mulianya bulan Ramadhan sehingga untuk menyambutnya saja, Allah telah menggaransi kita selamat dari api neraka. Oleh karena itu wajar jika para ulama salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:
Ribath Nurul Hidayah
اَللَّهÙÙ…ÙŽÙ‘ بَارÙكْ لَنَا ÙÙÙ‰ رَجَبَ ÙˆÙŽ شَعْبَانَ ÙˆÙŽ Ø¨ÙŽÙ„ÙØºÙ’نَا رَمَضَانَ
"Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai Ramadhan".
Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa, karena hanya di bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadhan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis.
Ribath Nurul Hidayah
Kedua, berziarah ke makam orangtua; mengirim doa untuk mereka yang oleh sebagain daerah dikenal dengan istilah kirim dongo poso. Yaitu mengirim doa untuk para leluhur dan sekaligus bertawassul kepada mereka semoga diberi keselamatan dan berkah dalam menjalankan puasa selama sebulan mendatang. Tawassul dalam berdo’a merupakan anjuran dalam islam. Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Maidah ayat 35يَا Ø£ÙŽÙŠÙّهَا الَّذÙينَ آمَنÙوا اتَّقÙوا اللَّـهَ وَابْتَغÙوا Ø¥Ùلَيْه٠الْوَسÙيلَةَ ÙˆÙŽØ¬ÙŽØ§Ù‡ÙØ¯Ùوا ÙÙÙŠ سَبÙيلÙه٠لَعَلَّكÙمْ تÙÙÙ’Ù„ÙØÙونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 35).
Diriwayatkan pula dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulallah Muhammad s.a.w ketika menguburkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa :
اَللَّهÙÙ…ÙŽÙ‘ Ø¨ÙØÙŽÙ‚Ùّيْ ÙˆÙŽØÙŽÙ‚ÙÙ‘ الأنْبÙيَاء٠مÙنْ قَبْلÙيْ اغْÙÙØ±Ù’لأÙÙ…Ùّيْ بَعْدَ Ø£ÙÙ…Ùّيْ
Artinya: Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi sebelumku, Ampunilah dosa ibuku setelah Engkau ampuni ibu kandungku. (H.R.Thabrani, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain.
Ketiga, saling memaafkan. Mengingat bulan Ramadhan adalah bulan suci, maka tradisi bersucipun menjadi sangat seseuai ketika menghadapi bulan Ramadhan. Baik bersuci secar lahir seperti membersihkan rumah dan pekarangannya dan mengecat kembali mushalla, maupun bersuci secara bathin yang biasanya diterjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama umat muslim. Terutama keluarga, tetangga dan kawan-kawan. Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178;
...Ùَمَنْ عÙÙÙÙŠÙŽ Ù„ÙŽÙ‡Ù Ù…Ùنْ Ø£ÙŽØ®Ùيه٠شَيْءٌ ÙَاتÙّبَاعٌ Ø¨ÙØ§Ù„ْمَعْرÙÙˆÙ٠وَأَدَاءٌ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù Ø¨ÙØ¥ÙØÙ’سَان٠ذَلÙÙƒÙŽ تَخْÙÙÙŠÙÙŒ Ù…Ùنْ رَبÙّكÙمْ وَرَØÙ’مَةٌ Ùَمَن٠اعْتَدَى بَعْدَ ذَلÙÙƒÙŽ Ùَلَه٠عَذَابٌ Ø£ÙŽÙ„Ùيمٌ.
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(QS. 2:178)
Menurut sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw. Pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).
Dengan kata lain, jika seseorang ingin bebas dari kesalahan sesama manusia, hendaklah meminta maaf kepada yang bersangkutan. Begitu pula jika seseorang menginginkan kesucian diri guna menyambut bulan yang suci maka hendaklah saling memafkan.
Redaktur: Ulil Hadrawy
Dari Nu Online: nu.or.id
Ribath Nurul Hidayah Lomba Ribath Nurul Hidayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar