Jumat, 08 Maret 2013

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi

Berita penangkapan jaringan penyedia prostitusi anak untuk laki-laki penyuka sesama jenis pada 30 Agustus oleh patroli cyber Polri di kawasan wisata Puncak Jawa Barat menunjukkan rentannya anak-anak Indonesia, terutama di lokasi wisata, untuk diperdagangkan menjadi penyedia jasa pemuas seksual. Anak-anak yang masih polos, yang menjadi harapan orangtuanya, dibujuk oleh para germo untuk melayani laki-laki dengan kelainan orientasi seksual. Rayuan untuk melakukan tindakan seks menyimpang ini bisa merubah orientasi seksual mereka saat dewasa kelak. Akhirnya mereka juga mengalami penyimpangan seksual dan kelak, mencari korban baru. Begitulah siklus yang sangat mengerikan terjadi. 

Bisa jadi apa yang terungkap saat ini hanya bagian puncak dari sebuah gunung es masalah prostitusi anak, terutama di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata di mana para turis ingin keluar dari peradaban dan kehidupan normal yang penuh aturan etika dan kesopansantunan, menuju pemenuhan hasrat penuh kebebasan. Berkembangnya jasa prostitusi merupakan bagian dari 3 S, sun, sex, and sea yang dijual dalam industri wisata. Indonesia, menurut laman therichest.com  menduduki posisi keempat dalam hal tujuan paling populer dalam wisata seks sedangkan peringkat tertinggi diduduki oleh Thailand. Di luar transaksi seks konvensional di lokalisasi atau melalui daring (online), di kawasan wisata Puncak dikenal adanya kawin kontrak, yaitu perkawinan yang dibatasi waktu hanya beberapa hari atau beberapa bulan, tergantung lamanya turis tinggal. Biasanya mereka yang terlibat dalam perkawinan yang menurut para ulama tidak sah ini datang dari turis Timur Tengah. Ini sebenarnya juga merupakan versi wisata seks dalam bentuk tersendiri. Para pria penyuka sesama jenis, juga berusaha mencari kenikmatan seks dengan mengincar anak-anak sebagai korban. Dan kini, mereka yang berorientasi seperti ini secara global terus meningkat.

Selain, Indonesia dan  Thailand, di Kawasan ASEAN, Kamboja dan Philipina menjadi tujuan wisata seks. Dengan adanya fakta seperti ini, para pemangku kepentingan jangan sampai menutup mata dengan hanya melihat pundi-pundi rupiah yang didapat tetapi mengabaikan dampak negatif yang memiliki pengaruh terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam panjang. Apalagi, transaksi seks yang dilakukan secara daring yang bisa dilakukan dari mana saja dan menjangkau siapa saja, tak terbatas sebagaimana prostitusi tradisional yang biasanya di lokalisir di tempat-tempat tertentu saja. Tentu upaya pengawasan prostitusi daring ini juga harus diperketat.

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi

Pada daerah-daerah yang rentan terhadap eksploitasi anak ini, para orangtua diharap semakin waspada dalam mengawasi perilaku putra-putrinya. Dalam banyak kejadian, orangtua baru tahu setelah kasus tersebut terungkap oleh pihak yang berwajib. Kebanyakan korban berlatar belakang keluarga miskin yang mana orangtua sibuk mencari penghasilan, sedangkan anak-anaknya yang kurang pengawasan ini mudah diiming-imingi uang untuk memenuhi keinginannya akan barang-barang mahal yang sebenarnya belum dibutuhkan. Dalam hal ini tokoh agama setempat juga harus dengan tekun membimbing masyarakat yang rentan terhadap pengaruh budaya negatif dari para pendatang.

Sebenarnya kesadaran masyarakat tentang perlindungan anak-anak dari cengkeraman prostisusi kini semakin meningkat. Penutupan sejumlah tempat prostitusi kini sebagian besar didasarkan pada alasan untuk melindungi anak-anak dari perdagangan seks. Di tempat tersebut, germo selalu mencari gadis muda untuk dijadikan penarik minat laki-laki hidung belang. Tentu, gadis-gadis tersebut hanya bisa dimasukkan dalam ladang prostitusi dengan berbagai tipu daya dan pemaksaan. Jika siklus ini bisa diputus, tentu prostitusi bisa dikurangi. Upaya penutupan lokalisasi tidak mudah karena banyak pihak yang mengais rejeki dari situ. Keberanian walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam menutup lokalisasi Dolly bisa menjadi contoh bagi pemimpin daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Tentu dengan tidak melupakan pendekatan kemanusiaan pada mereka yang selama ini mencari penghidupan dari situ.  

Bagi-anak-anak yang terjerat dalam persoalan prostitusi ini, pendampingan sangat diperlukan untuk memulihkan mereka dari trauma psikologis. Mereka perlu mendapat dukungan agar bisa hidup kembali dalam situasi normal dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Ribath Nurul Hidayah

Bagi germo dan pembeli jasa seks anak, tentu perlu ada hukuman seberat-beratnya sebagai efek jera bagi kemungkinan kejadian yang sama di masa mendatang. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Aswaja, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 Maret 2013

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merasa heran terhadap Menteri Agama (Menag) Maftuh Basuni atas kasus keterlambatan katering makanan jamaah haji di Arofah dan Mina (Armina). Ia menilai, Menag seperti tak mau belajar dari pengalaman masa lalu dalam kaitannya penyelenggaraan ibadah haji.

"Maftuh itu kan orang lama belajar di Arab. Kok mau dibohongin orang Arab?" gugat Gus Dur usai Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (3/1) kemarin.

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Pasca kasus keterlambatan katering Armina, sejumlah kalangan mendesak agar Maftuh segera mengundurkan diri. Kebijakan haji tahun ini yang mengalihkan katering dari Muasasah ke perusahaan Ana for Development (AFD) telah menyengsarakan jamaah.

Kegagalan katering tersebut merupakan bentuk kecelakaan manajemen dalam pendistribusian makanan. Departemen Agama pun memutuskan akan kembali menggunakan katering Muasasah pada musim haji 2007 mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga merasa heran tentang misteri keberadaan AdamAir nomor penerbangan KI 574 yang hingga kini masih belum terkuak. Ia memertanyakan, dalam kondisi hutan Indonesia yang sudah gundul, mengapa masih pesawat nahas itu masih sulit ditemukan.

"Kok di tengah-tengah hutan Indonesia yang gundul, pesawat jatuh ke hutan nggak bisa keluar. Mari kita doakan agar pesawat itu bisa ditemukan," kata Gus Dur,” sindir Gus Dur.

Ribath Nurul Hidayah

Mengenai kesalahan informasi lokasi jatuhnya pesawat, menurut Gus Dur, disebabkan karena kurang koordinasi.

"Pesawat AdamAir sudah diberitahu letak jatuhnya, tapi waktu dilihat nggak ada. Saya lihat itu cuma kurang koordinasi saja. Tidak ada unsur kesengajaan, jadi tidak ada penyesatan. Kalau nggak tau ya mau diapain," pungkas Gus Dur. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 Februari 2013

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah. Majelis Musyawarah Pengasuh Pesantren (MMPP) kembali digelar untuk yang ke 159, kali ini bertempat di Pondok Pesantren Darul Abror, Sukorejo Bangorejo, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/9). Ratusan jamaah memadati halaman Pesantren yang didirikan oleh Almarhum KH. Thohir Syafi’i ini.?

Pengajian yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali tersebut diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kyai Masruri (MWC Pesanggaran) dan dilanjutkan pengajian Ihya Ulumuddin Juz III yang dibawakan oleh Wakil Syuriah PCNU Banyuwangi, Kyai Zainullah Marwan. Dilanjutkan dengan sambutan dari KH. Masykur Ali, Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Kiai Masykur berpesan kepada masyarakat khususnya warga Nahdliyin untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak dengan memasukkan anak-anak ke pondok pesantren.

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP

“Anak-anak zaman sekarang ini sudah sulit untuk dikendalikan. Sekolah-sekolah umum sudah tidak mampu untuk mendidik anak. Maka dari itu, putra putri njenengan-njenengan yang masih sekolah, sekolahkan di sekolah yang berbasis pondok pesantren. Untung kalau dipondokkan sekalian, Kita sebagai warga NU jangan sampai terlena dengan perkembangan zaman yang begitu pesat saat ini,” tegas Kiai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina Jalen ini.

Dalam sejarahnya, MMPP pertama kali dirintis oleh delapan tokoh ulama Banyuwangi. Diantaranya adalah KH. Dimyati Ibrahim dari PP. Mathali’ul Falah, Sepanjang, Glenmore, KH. As’adi Sufyan dan KH.Syam’ani dari PP. Nahdlatut Thullab, Sukonatar, Srono, KH. Syamsul Arifin dari PP. An-Nur, Sukomukti, Kebaman, Srono, KH. Imam Muhtadi dari PP. Raudlatul Muta’allimin, Simbar, Tampo, Cluring, KH. Zuhriddin dari Swaloh, Sumbersari, Srono, KH. Mas’ud Hakim dari Pengadilan Agama Kabupaten Banyuwangi dan KH. Mukhtar Syafa’at dari PP. Darussalam, Blokagung, Tegalsari.

Dalam pertemuan pertama para kiai-kiai tersebut, KH. Mukhtar Syafa’at tidak dapat hadir. Namun, restu Kiai Mukhtar yang menjadi poin penting berdirinya MMPP. Kiai Mas’ud Hakim awalnya enggan untuk ikut serta merealisasikan kegiatan tersebut, sebelum ada restu dari Kiai Syafa’at yang saat itu tidak bisa hadir dalam rapat. Kemudian, ditemenai oleh Kiai Imam Turmudzi, Kiai Mas’ud berkunjung ke Blokagung.

Ribath Nurul Hidayah

Sesampainya di Blokagung, Kiai Mas’ud sebagai representasi pemerintah, mendapatkan keyakinan untuk mendeklarasikan MMPP pertama kalinya, setelah Kiai Syafa’at memberi restu. Sejak itulah dibentuk kepengurusan MMPP yang kala itu masih sebatas Banyuwangi Selatan. Yaitu wilayah Banyuwangi bagian selatan, terhitung dari Kecamatan Srono ke arah selatan.

Ribath Nurul Hidayah

Yang ditunjuk sebagai ketua pertama MMPP adalah KH. Dimyati Ibrahim yang akrab disapa Gus Dim Jadab. Namun, ditengah perjalanan sebagai ketua MMPP, Gus Dim terlebih dahulu dipanggil kehadiran Allah SWT. Saat itulah, KH. Mukhtar Syafa’at ditunjuk menjadi pengganti Gus Dim untuk memimpin MMPP.

Di bawah kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at, MMPP berkembang pesat. Jama’ahnya makin bertambah banyak dan secara keorganisasian makin tertata. Nomenklatur “selatan” yang sebelumnya menempel pada kata Banyuwangi, dihapus. Hal ini, bertujuan untuk menjadikan MMPP memiliki cakupan lebih luas.

Saat kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at ini, awal mula dirintisnya pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali dalam rangkaian acara MMPP. Kitab Ihya’ Ulumuddin yang dikaji khusus Juz III (tiga) saja. Menurut KH. Aly Machfud Syafa’at, putra KH. Mukhtar Syafa’at, pemilihan Juz III kitab Ihya’ Ulumuddin, bukan tanpa alasan. Ada alasan spiritual yang melatarbelakangi. Dalam pemahaman Kiai Mukhtar Syafa’at, hati (inti) dari Kitab Ihya’ Ulumuddin ada pada juz III tersebut.

Dalam perkembangannya, MMPP resmi berada dibawah naungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi semenjak tahun 2003, tepatnya hari Jum’at, 6 Juni. Kala itu, Rais PCNU Banyuwangi adalah KH. Hisyam Syafa’at, putra almarhum KH. Mukhtar Syafa’at. (Anang Lukman Afandi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Kajian, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 Februari 2013

Keluarga Maslahah

Keluarga Maslahah adalah konsep untuk menyebut keluarga yang bahagia, sejahtera, dan taat kepada ajaran agama di lingkungan NU. Secara khusus, konsep keluarga maslahah ini dikembangkan oleh LKK-NU.

Maslahah berasal dari akar kata sha-lu-ha yang secara harfiah berarti baik, manfaat, dan penting. Maslahah adalah kepentingan pribadi (perorangan), keluarga, dan masyarakat, karena maslahah adalah terpeliharanya kebutuhan primer manusia, baik agama, jiwa, harta benda, keturunan, serta akal atau kehormatan. Oleh karena itu, maslahah merupakan cita-cita setiap orang atau kelompok, khususnya kaum muslimin.

Keluarga Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Maslahah

Teori al-Maslahah telah dikemukakan oleh para pemikir hukum Islam, seperti asy-Syatibi dan al-Ghazali. Menurut al-Ghazali, maslahah adalah ungkapan yang pada intinya guna meraih kemanfaatan atau menolak kesulitan. Yang dimaksud adalah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sedangkan al-Khawarizmi mendefinisikan maslahah dengan ”memelihara tujuan hukum Islam dengan menolak bencana atau kerusakan yang merugikan makhluk.”

Dari pengertian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa maslahah adalah sarana untuk menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan manusia yang bersendi pada prinsip menarik manfaat dan menolak mafsadat (kerusakan). 

Ribath Nurul Hidayah

Dilihat dari kandungannya, maslahah dibagi dua, yakni: maslahat umum (al-maslahat al-’am), yakni maslahat untuk kepentingan orang banyak, dan maslahat khusus (al-maslhat al-khash), yakni maslahat untuk kepentingan pribadi.

Ribath Nurul Hidayah

Keluarga maslahah adalah keluarga yang dapat memenuhi atau memelihara kebutuhan primer (pokok), baik lahir maupun batin. Terpenuhi atau terpeliharanya kebutuhan lahir dimaksudkan bahwa keluarga tersebut terbebas dari lilitan kemiskinan dan penyakit jasmani. Sedangkan terpenuhi atau terpeliharanya kebutuhan batin dimaksudkan bahwa keluarga tersebut terbebas dari kemiskinan akidah (iman), rasa takut, stres, dan penyakit-penyakit batin lainnya.

Dalam buku Pedoman Pelaksanaan Program Keluarga Berencana dan Pendidikan Kependudukan yang diterbitkan LKKNU dan BKKBN disebutkan, terpeliharanya keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin adalah:

1. Terpeliharanya kesehatan ibu dan anak, seperti terjaminnya keselamatan jiwa dan raga ibu selama hamil, melahirkan, dan menyusui serta terjaminnya keselamatan anak sejak dalam kandungan.

2. Terpeliharanya keselamatan jiwa, kesehatan jasmani dan ruhani anak serta tersedianya pendidikan bagi anak.

3. Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban menyediakan kebutuhan hidup keluarga.

Adapun ciri dari kemaslahatan keluarga (mashalihul usrah) adalah keluarga yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut:  

1. Suami-istri yang saleh, yakni yang dapat mendatangkan manfaat dan faedah untuk dirinya, anak-anaknya dan lingkungannya, sehingga darinya tecermin perilaku dan perbuatan yang dapat menjadi suri teladan (uswatun hasanah) bagi anak-anaknya maupun orang lain.

2. Anak-anaknya baik (abrar), dalam arti berkualitas, berakhlak mulia, sehat ruhani dan jasmani. Mereka produktif dan kreatif sehingga pada saatnya dapat hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain atau masyarakat.

3. Pergaulannya baik. Maksudnya, pergaulan anggota keluarga itu terarah, mengenal lingkungan yang baik, dan bertetangga dengan baik tanpa mengorbankan prinsip dan pendirian hidupnya.

4. Berkecukupan rezeki (sandang, pangan, dan papan). Artinya, tidak harus kaya atau berlimpah harta, yang penting dapat membiayai hidup dan kehidupan keluarganya, dari kebutuhan sandang, pangan dan papan, biaya pendidikan, dan ibadahnya. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Pesantren, Habib Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 25 Januari 2013

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Setelah bertahun-tahun vakum, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur kembali berupaya menghidupkan kaderisasi kembali dengan pagelaran Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) di Madrasah Diniyah Miftahul Jannah, Karangtengah Gudo.

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi

Upaya ini, nantinya diharapkan memiliki generasi penerus NU yang konsisten memperjuangkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah. Meskipun perdana digelar, tampak sejumlah pelajar setempat antusias mengikuti acara ini. Kurang lebih sekitar 83 peserta mengikuti acara hingga rampung.

Selama kegiatan, mereka disuguhi beberapa materi? dan upaya mengakrabkan satu sama lain, di antaranya Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) , ke-NU-an, ke-IPNU-IPPNU-an, keorganisasian, kepemimpinan, dan aksi bersih-bersih area sekitar.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, dimulai dari tanggal 23 - 25 Juni 2016 itu mendapat banyak dukungan dari beberapa elemen masyarakat dan badan otonom (Banom) NU setempat.

"Dengan semangat dan silaturahim yang dirasa cukup Makesta ini digelar awalnya hanya dengan bermodalkan bismillah, dan kemudian dengan kalimat alhamdulillah. Soalnya banyak donatur dari alumni dan banom-banom yang menjadi bapak, ibu, kakak dari Lembaga IPNU-IPPNU ini. Dari PC (Pengurus Cabang) juga sangat antusias membantu jalannya acara kami," Papar Lila, Ketua PAC IPPNU Gudo, Sabtu (25/6).

Ribath Nurul Hidayah

Lila menambahkan bahwa kegiatan tersebut selain sebagai ajang silaturahim antarranting, juga salah satu bentuk implementasi dari visi IPNU-IPPNU, yakni 3B, (belajar, berjuang dan bertaqwa). "Ya semoga dengan adanya Makesta ini seluruh kader kami dapat kembali kepada visi kami semula," katanya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Pesantren, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 23 Januari 2013

MANU 1 Losari Bekali Siswa Keahlian Bahasa Korea

Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) 1 Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merupakan madrasah yang diajarkan supaya peserta didik mempunyai pemahaman agama yang baik dan benar, berakhlakul karimah, serta mandiri dalam berbagai hal. Madrasah ini juga terus berupaya agar peserta didiknya mempunyai daya kreatif dan inovatif. Hal ini dibuktikan dengan adanya kursus bercocok tanam, menjahit, dan menyulam.

Madrasah yang didirikan tahun 2000-an ini memfasilitasi siswa untuk merambah dunia kerja dan dunia usaha di negara Malaysia dan Korea Selatan. Untuk menunjang program tersebut, MANU 1 Losari mengadakan mata pelajaran Bahasa Korea. Bahasa ini diajarkan oleh guru yang sudah berpengalaman hidup di Korea. 

MANU 1 Losari Bekali Siswa Keahlian Bahasa Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
MANU 1 Losari Bekali Siswa Keahlian Bahasa Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

MANU 1 Losari Bekali Siswa Keahlian Bahasa Korea

Selain itu, untuk menunjang program ini, madrasah juga memfasilitasi siswanya dengan menggandeng Perbankan untuk membiayai sekolah ini supaya siswa mudah mendapatkan kesempatan bekerja di Korea tanpa biaya yang memberatkan. MANU 1 Losari telah menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan di Malaysia untuk menampung peserta didik yang mau bekerja di perusahaan Malaysia tersebut.

Komitmen Aswaja NU

Ribath Nurul Hidayah

Secara geografis, madrasah ini terletak di Kecamatan Losari tepatnya di belakang Polsek Losari. Letak madrasah ini cukup representatif untuk belajar mengajar karena agak jauh dari pemukiman warga. Namun demikian, MANU 1 Losari tidak lepas dari berbagai aktivitas yang terjadi di masyarakat sekitarnya. 

Seperti sekolah-sekolah di Kecamatan Losari pada umumnya, MANU 1 Losari terletak di daerah pesawahan. Tempat ini sejuk, aman, dan tidak mengganggu masyarakat di sekitarnya. Begitu pula sebaliknya, masyarakat tidak terganggu oleh kebisingan siswa sedang belajar. Tetapi, peserta didik diajarkan komitmen tentang Aswaja NU sehingga siswa selalu siap berbaur dengan masyarakat untuk merawat dan tradisi dan budaya lokal.

Ribath Nurul Hidayah

Kepala MANU 1 Losari, Drs M Zaini yang juga Pengurus Pondok Pesantren Al-Mumajjad Losari Brebes menuturkan, hidup berkarya aja reka-reka (tidak perlu neko-neko) yang artinya siswa harus berkarya tanpa mengusik orang lain. Tapi tetap ikut berperan aktif di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

“MANU 1 Losari ini juga terintegrasi dengan Pesantren Al-Mumajjad. Peserta didik diwajibkan untuk ikut mengaji di pesantren. Artinya, peserta didik juga termasuk santri,” ujar Kiai Zaini, sapaan akrabnya.

Integrasi madrasah dengan pesantren ini dilakukan agar nilai-nilai Aswaja NU yang diberikan di sekolah bisa menjadi lebih kaya dengan aktif mengaji di pesantren. Artinya, peserta didik tidak cukup hanya belajar di madrasah, tetapi juga harus diperkaya dengan pemahaman agama yang baik dan benar sesuai prinsip-prinsip Aswaja NU.

Hal ini diamini oleh salah satu guru MANU 1 Losari, Khaerun Yongki, SpdI. Dia berpendapat dengan program integrasi ini, madrasah akan mampu mendidik siswanya agar memahami Aswaja NU seperti yang di anjurkan oleh para pendiri NU. Hal ini juga menjadi bagian untuk menjaga NU. “Pendiri NU, KH Hasyim Asyari dahulu telah mengatakan, bahwa ‘siapa yang mengurus dan menjaga NU, maka akan bertemu aku di akhirat sana’. Dengan adanya motivasi tersebut, peserta didik diharuskan mengetahui atau mendalami tentang Aswaja NU,” jelas Khaerun.

Sejarah singkat MANU 1 Losari

Berangkat dari kegelisahan untuk merawat paham Aswaja NU di kalangan pelajar, para pengurus NU Losari bertujuan mendirikan Madrasah Aliyah, karena Madrasah Tsanawiyah sudah ada. Di awal pengesahannya menjadi madrasah, MANU 1 Losari masih menginduk di sekolah lain. Hal ini sempat menjadi keprihatinan warga NU di Losari sehingga mereka berduyun-duyun membantu pendanaan untuk membangun gedung secara mandiri.

Para pengurus NU di tingkat ranting yang telah mempunyai komitmen menjaga Aswaja NU di kalangan pelajar, mengadakan penggalangan dana. Sehingga satu-satunya MA NU di Brebes bagian barat ini berdiri di atas tanah warga NU yang diwakafkan untuk pendirian madrasah.

Setelah beberapa tahun sejak pendiriannya, madrasah NU kebanggaan warga Losari ini dikunjungi oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj pada tahun 2010 di awal kepengurusannya sebagai Ketua Umum. Kang Said, sapaan akrabnya, memberikan taushiyah kepada warga NU yang berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru. Acara yang diprakarsai oleh MWCNU dan MANU 1 Losari ini berhasil menyedot warga untuk tahu lebih jauh tentang keberadaan MANU. (Fathoni)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Meme Islam, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 18 Januari 2013

PBNU Minta Pemerintah Bijak Sikapi Penghulu

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf meminta pemerintah bijak dalam mensikapi masalah uang yang diterima oleh penghulu ketika menikahkan di rumah penduduk.

PBNU Minta Pemerintah Bijak Sikapi Penghulu (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah Bijak Sikapi Penghulu (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah Bijak Sikapi Penghulu

“Jangan terlalu menggunakan bahasa-bahasa yang keras seperti gratifikasi karena penghulu oleh masyarakat juga diperlakukan sebagai tokoh agama yang memberikan khotbah nikah sampai dengan membacakan doa,“ katanya, Senin (23/12).

Mereka yang menjadi penghulu, menurutnya juga memiliki kemampuan yang memadai dalam menjalankan peran sebagai tokoh agama, mampu membaca Qur’an dengan baik dan memberi nasehat pernikahan secara tepat.

Ribath Nurul Hidayah

“Dari dulu penghulu sudah memiliki peran seperti itu dan uang yang diberikan ini dinamakan bisyaroh. Mereka memiliki wibawa besar di masyarakat.”

Ribath Nurul Hidayah

Jika diperlakukan sebagai petugas pencatat nikah, fungsinya seperti di catatan sipil, yang hanya mencatat dan mengecek orang yang sebelumnya sudah menikah di gereja.?

“Tetapi penghulu ya jangan sampai menyebut angka dalam perannya sebagai tokoh agama ini,” tandasnya.

Jika pemerintah berniat melarang para penghulu menerima uang dari pengantin, Slamet meminta agar pemerintah menyediakan uang lembur bagi mereka, ketika bertugas di hari libur atau memberi biaya transportasi jika pernikahan diselenggarakan di luar kantor. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, RMI NU, Tokoh Ribath Nurul Hidayah