Minggu, 22 September 2013

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nadlatul Ulama (IPPNU) Jakarta Timur, sukses menggelar Pelatihan Jurnalistik dan Medsos dengan mengusung tema Membangun Karakter Generasi Muda NU, Yang Kreatif, Inovatif di Era Milenial, Sabtu-Ahad, 28-29 Oktober 2017 di Pondok Pesantren Al Amiria Ciracas Jakarta Timur.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar oleh Pengurus Cabang IPNU IPPNU Jakarta Timur ini bersamaan dengan Makesta.

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim

“Tujuannya untuk memberikan bekal dan pengetahuan tentang bagaimana pentingnya dunia informasi yang baik dan benar sesuai dengan ajaran NU," ujar Ismail Marzuki Ketua IPNU Jakarta Timur

Dalam kegiatan ini dihadirkan pemateri dari LTN NU DKI Jakarta Yusron Syarif, dan dari LTN NU Jakarta Jakarta Timur Syarif Cakhyono.

Di hari kedua acara, peserta diberikan kesempatan untuk membuat berita TV berupa liputan kegiatan pelatihan jurnalistik itu sendiri. Kegiatan ini berlangsung dengan seru dan lancar, dibuktikan dengan tingginya antusias peserta mendengarkan dan bertanya kepada pemateri.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ketua LTN NU Jakarta Timur, Syarif Cakhyono, berharap setelah pelatihan jurnalistik ini, para peserta rekan rekan IPNU dan IPPNU terus mengembangkan kreatifitasnya di bidang pembuatan berita audia visual.

Diharapkan dengan terlaksananya pelatihan jurnalistik ini, anggota IPNU bisa memproduksi informasi positif dalam bentuk audio visual.

Ribath Nurul Hidayah

“Nantinya bisa disebarkan melalui media sosial masing peserta,” tandas Syarif. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 15 September 2013

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kehidupan keagamaan yang semakin kompleks dan kerap memunculkan sikap intoleransi membuat Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Agama RI terus melakukan berbagai langkah agar kehidupan umat beragama berjalan harmonis di tengah perbedaan.?

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan

Untuk tujuan itu, Balitbang Kemenag mengadakan Simposium International Kehidupan Keagamaan (International Symposium on Religious Life) bertajuk "Managing Diversity, Fostering Harmony", Rabu-Kamis (5-7/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Tokoh Agama dan intelektual dari berbagai mancanegara diantaranya, Amerika Serikat, Hongkong, Brunei, Singapura, Malaysia, dan negara lainnya.

Sebelum acara pembukaan, Balitbang terlebih dahulu menggelar Pra-Simposium di hotel tersebut, Selasa (4/10). Dalam kegiatan pra simposium ini, Balitbang menghadirkan mantan Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, Guru Besar Boston University USA Robert W. Hefner, Kepala Balitbang Kemenag Abdurrahman Mas’ud, dan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU yang juga Jurnalis senior GATRA Asrori S. Karni.

Diskusi pra simposium ini mengangkat tema “Definisi Agama di Indonesia: Rekognisi, Proteksi, dan Kepastian Hukum". Berbagai kekerasan yang kerap muncul mengatasnamakan agama membuat Balitbang kembali berupaya merumuskan definisi agama secara komprehensif dari berbagai aspek.

Menurut Abdurrahman Mas’ud, kekerasan agama juga kerap diakibatkan Islamofobia yang hingga kini terus menggelayuti sebagian umat beragama di dunia sebagai dampak radikalisme global. Rasa kekhawatiran atau ketakutan ini juga sebetulnya ada pada diri umat Islam terhadap kaum Barat sehingga seolah menimbulkan konflik yang tidak pernah ada ujung pangkalnya.

Ribath Nurul Hidayah

“Kita harus jujur bahwa westernphobia juga menginggapi umat Islam sehingga menjadi agenda penting untuk diselesaikan,” ujar Abdurrahman Mas’ud.

Diskusi ini kembali menegaskan bahwa regulasi perlindungan umat beragama mempunyai posisi yang sangat penting untuk mewujudkan harmoni. Sebab di Indonesia sendiri selain mempunyai agama-agama yang resmi diakui negara, juga memiliki berbagai macam masyarakat adat yang masih memegang teguh keyakinan nenek moyang. Di titik inilah penegasan definisi agama menjadi persoalan yang sangat penting.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan Simposium internasional ini akan dibuka Rabu (5/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai pakar seperti Robert W. Hefner (Boston University, USA), Gamal Farouq Jibril (Al-Azhar University Cairo, Mesir), Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).?

Selain itu juga digelar diskusi yang akan diisi oleh Ahmad Najib Burhani (LIPI), Syafiq Hasyim (ICIP-PBNU), R. Alpha Amirrachman (CDCC-PP Muhammadiyah), Ahmad Suaedy (Abdurrahman Wahid Center UI), Muhammad Adlin Sila (CDRL-MORA), dan Alimatul Qibtiyah (PSW UIN Yogyakarta). (Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 04 September 2013

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor

Waykanan, Ribath Nurul Hidayah - Imam Gereja Katolik Keluarga Kudus Baradatu Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung Romo Diosesan (RD) Thomas Metan Jamlean mengapresiasi komitmen GP Ansor dalam menghidupkan semangat nasionalisme. Penegasan tersebut disampaikan RD Thomas didampingi Ketua Yayasan Bakti Baradatu Markus Tri Cahyono dan aktivis Pemuda Katolik Andreas Natalis Sapta Aji di Blambangan Umpu, Selasa (31/5)..

"Ansor ini luar biasa, bisa menempatkan diri, mampu memilah mana agama dan negara. Semangat nasionalismenya luar biasa," ujar RD Thomas dalam sambutan pertemuan Saresehan Kesetiaan Pancasila dan NKRI yang akan dilangsungkan 1 Juni 2016.

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor

RD Thomas juga mengaku menyukai keteladanan Gus Mus yang ditampilkan di acara Mata Najwa dalam edisi Panggung Gus Mus. Menurutnya, di tengah merosotnya moral sebagian pemimpin nasional yang tidak memikirkan bangsa, gerakan sosial dan keberagaman penting untuk terus dilakukan.

Ribath Nurul Hidayah

"Tidak hanya dalam acara resmi. Bisa juga seperti yang dilakukan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib yang beberapa tahun silam disiarkan televisi, sederhana tapi bermakna. Itu bagus," kata RD Thomas.

Ribath Nurul Hidayah

Markus menambahkan, semangat dan pelaksanaan pengakuan keberagaman sebagaimana amanat konstitusi negara yang dilakukan GP Ansor di Waykanan.

"Dalam beberapa tahun terakhir ini, Pemuda Ansor selalu merangkul kami dan Pemuda Hindu untuk bersama-sama bicara masalah sosial dan kebangsaan yang belum dilakukan. Saya tidak memuji, tapi mengapresiasi fakta di lapangan, apalagi dewasa ini bermunculan gerakan-gerakan anti-Pancasila," kata Markus.

Berkaitan dengan keberagaman, GP Ansor Waykanan telah beberapa kali menggelar kegiatan bertema kebangsaan, seperti Riungan Kebangsaan dan Festival Bhineka Tunggal Ika.

Atas sejumlah upaya pemuda NU tersebut, di tahun 2015 Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Waykanan memberikan penghargaan keberagaman kepada GP Ansor. Diserahkan I Gede Klipz Darmaja selaku Ketua Peradah melalui Ketua NU Way Kanan KH Nur Huda disaksikan Ketua Ansor Gatot Arifianto dan Bendahara Abdullah Candra Kurniawan. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Habib, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Senin, 26 Agustus 2013

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor

Banyumas, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Banyumas melantik Pimpinan Anak Cabang (PAC) Banyumas dan PAC Somagede di pendapa Duplikat Sipanji Kompleks Kewedanaan Lama Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (3/9).

Pelantikan dihadiri lintas generasi GP Ansor. Sedikitnya 200 anggota peserta diklatsar Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang baru mengikuti pelatihan Juli lalu.

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor

Selain mereka, para pengurus-pengurus PAC GP Ansor se-Kabupaten Banyumas hingga para alumni eksponen Ansor di masa Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965) juga tampak hadir.

Ribath Nurul Hidayah

Seperti pers rilis yang dikirim Sugeng Riyadi Syamsudien, Faisal Riza dilantik sebagai Ketua PAC Banyumas. Sementara Nur Imanuddin dilantik sebagai Ketua PAC Somagede.

Dalam orasinya, Ketua PC GP Ansor Banyumas Rudi Fathurrohman mengajak setiap anggota Ansor-Banser untuk meningkatkan sikap proaktif dan kepekaan lingkungan terkait gerakan-gerakan makar yang merapuhkan sendi-sendi bangsa.

Ribath Nurul Hidayah

Setiap kader Ansor-Banser diimbau Rudi Fathurrohman untuk menguatkan solidaritas dan meningkatkan keamanan lingkungan. Selain itu, Rudi mendorong kader Ansor untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan keansoran dan kemasyarakatan.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Agustus 2013

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, untuk ke sekian kalinya menyampaikan tidak ada agama di muka bumi yang mengajarkan kekerasan. Pemeluk suatu agam sudah menjadi semestinya untuk meninggalkan kekerasan dalam bentuk apapun. 

"Ayat la ikhraha fiddin maknanya tidak ada paksaan, tidak ada kekerasan dalam beragama. Dibalik maknanya juga bisa, yaitu orang yang melakukan kekerasan tidak sedang menjalankan ajaran agama," ungkap Kiai Said di Jakarta, Jumat (4/5). 

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan

Pernyataan yang sama juga disampaikan Kiai Said saat menjadi penceramah utama dalam perayaan hari jadi Kota Tual ke 81, Senin (30/4) lalu. Dalam kegiatan tersebut hadir jajaran Muspida, tokoh masyarakat dan perwakilan seluruh agama yang ada. 

Ribath Nurul Hidayah

"Saya lihat di sana toleransi bisa berjalan dengan baik. Itu yang harus dipertahankan dan harus dikembangkan agar semakin baik," tambah Kiai Said. 

Dalam ceramahnya Kiai Said menekankan pentingnya menjalankan toleransi dengan baik antar umat beragama. Setiap orang yang beragama, apapun agama yang dipeluknya, sudah menjadi kewajibannya untuk menghormati keberagaman yang ada di sekitarnya, serta bersama-sama menjalankan prinsip anti kekerasan dan anti radikalisme. 

Di kesempatan yang sama Kiai Said juga diangkat menjadi anggota keluarga istimewa Kerajaan Tanhir, kerajaan Islam tertua di Kota Tual. Kiai Said juga didaulat melakukan peletakan batu pertama pada pembangunan masjid di lokasi yang sama. 

Ribath Nurul Hidayah

"Islam Ahlussunnah wal Jamaah berjalan dengan sangat baik di Tual," tuntas Kiai Said. 

Penulis: Emha Nabil Haroen 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 04 Agustus 2013

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Oleh: Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi

Muncul pada hari-hari ini di Timur Tengah sejumlah gerakan berturut-turut dimulai dari Tunisia yang menyebabkan jatuhnya sang presiden, lalu di Mesir dan tumbangnya presiden, kemudian terjadi di Yaman yang memakan waktu lama sehingga menyebabkan intervensi negara-negara kerjasama teluk, dan kemudian disepakati pengunduran diri presiden dan kekuasaan dilanjutkan oleh Presiden al Hadi. 

Di Libya, yang kasusnya juga berlarut-larut, dan saat itu menjadi bahan ejekan dan hasutan dari Presiden Muammar Gaddafi serta intervensi dari Barat dan Qatar dan negara-negara lain, dan gerakan itu menjalar ke tempat lain sampai ke Syria apa yang mereka sebut dengan Musim Semi Arab (Arab Spring), lalu Gaddafi pun terbunuh. Namun hal ini tidaklah mengakhiri masalah bahkan menjadi lebih buruk dan terus memburuk meninggalkan banyak orang mati dan pengungsi, ditambah lagi kehancuran massal dan tersebarnya rasa kebencian.

Dari hal di atas kita mencatat dua hal: Hal pertama menyangkut peran media, terutama sekali stasiun televisi Al-Jazeera dan al Arabiyyah, di mana peran mereka tidak terbatas pada penyebaran fakta-fakta apa yang terjadi, bahkan beralih perannya untuk mengarahkan dan menciptakan peristiwa, dan mengharuskan stasiun televisi dan saluran-saluran yang mengikutinya untuk menguasai seni berbohong, berlebihan dalam menyampaikan serta fabrikasi berita. 

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Dan peran dua saluran televisi berubah menjadi industri berita. Yang membuat orang Arab dan mereka yang mengikuti saluran ini terpengaruh terhadap apa yang disampaikan oleh saluran-saluran itu. Tampaknya pihak-pihak yang dimaksud telah mempercayakan kepada dua saluran ini untuk memimpin gerakan tersebut atas nama media tertentu.

Hal kedua adalah bahwa sebahagian tokoh-tokoh agama sebelumnya telah banyak disorot dan diberi posisi istimewa, ditambah pula orang-orang yang menempuh cara ini dari para sheikh/tetua (saya tidak mengatakan ilmuwan) berkontribusi dalam mempengaruhi publik dan mengarahkan peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan salah satu dari mereka meneriakkan hasutan untuk membunuhnya; dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh orang lain. Apa yang terjadi sebagai akibat dari itu?

Para Pemberontak itu tidak mencapai tujuan mereka, akan tetapi mereka yang telah merancang hal tersebut telah mendapatkan sebagian target yang mereka tuju. Yaitu terjadinya kekacauan di wilayah ini dan menjadi rebutan dan santapan lezat mereka yang  rakus dan tamak.

Ribath Nurul Hidayah

Saya berdiri disini bukan untuk menceritakan tragedi yang menyedihkan/memilukan. Saya hanya ingin -melalui keterangan ini- menjelaskan tanggungjawab seorang ‘Aalim yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Terutama sekali ketika ia melihat pertumpahan darah dan kerusakan yang luas, dan perpindahan jutaan orang dari rumah dan desa mereka, serta mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian. Lalu dirampas rasa aman dari mereka. Ditambah lagi penistaan kehormatan dan harga diri serta eksploitasi kebutuhan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan tidak memeiliki hati nurani dan bersukacita dalam kubangan fitnah ini.

Ribath Nurul Hidayah

Sungguh, beberapa tokoh ilmu kebanggaan umat telah jatuh ke dalam fitnah ini, menjadi penyebab banyak masyarakat tersesat jalan. Dan mereka ikut menjadi sebab terjadinya kekacauan ini yang mereka sebut sebagai jihad, padahal mereka adalah korban yang disebabkan kesesatan dan ketertipuan mereka sendiri.

Agar mereka bisa menempuh cara tersebut, mereka melandaskannya kepada beberapa hal. Pertama, mengkafirkan orang-orang yang berbeda (pendapat) dengan mereka, sebagaimana kaum khawarij mengkafirkan orang banyak dan menghalalkan darah mereka.

Kedua, menghembuskan problem pemilahan sectarian, yang juga berakhir dengan pengkafiran sekte yang berbeda. Kemudian seruan untuk memerangi mereka yang akan mengakibatkan perang saudara yang memanas.

Ketiga, dalam rangka untuk mencari jalan pintas dan mencari sutradara pertikaian ini, mereka menuduh para ulama yang konsisten (istiqomah) dengan berbagai macam tuduhan keji agar umat hilang kepercayaan. Dan mereka tidak ragu-ragu untuk memfitnah mereka dengan banyak kebohongan, dan mengejek mereka sebagai bentuk penghancuran karakter dan figur yang bisa mengembalikan situasi kepada takarannya dan dapat mengklarifikasi fakta. 

Hal ini sengaja dibuat agar umat kehilangan kepercayaan terhadap ulamanya dan hilang pula sopan santun terhadap para pemimpin dan orang-orang sholeh. Menjadikan mereka semakin jauh dari sisi kebenaran ditengah-tengah badai perbedaan yang menghantam. Bahkan, mereka ikut menghasut untuk membunuh para ulama tersebut.

Peran institusi dan ilmuwan di tengah perselisihan

Jika sebahagian ilmuwan kebanggaan merupakan bagian dari provokator dan promotor yang telah menyesatkan banyak masyarakat, maka para ulama yang mukhlishin yang harus meluruskan, dan menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah, dan mengawal rambu-rambu kebenaran.

Saya ingin katakan: seluruh Ulama memiliki tanggung jawab menjelaskan dan memunculkan kebenaran, dan memberikan nasehat kepada umat serta menjelaskan hukum serta sikap yang benar terhadap setiap peristiwa dan kejadian. Dan jangan ragu untuk memikul tanggung jawab ini, karena ancaman terhadap kehancuran bangsa dan membuat agama yang benar ini menjadi jelek dan terdistorsi merupakan hal yang sudah dirancang oleh musuh-musuh Islam, dan mereka memperalat para ilmuwan untuk mencapai tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: (Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para pemimpin di antara kalian. Dan jika kalian berselisih paham akan suatu hal, maka kembalikanlah (merujuklah) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Anda beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu (adalah) lebih baik dan sebaik-baik tempat kembali) An-Nisa: 59 , yakni Allah Taala telah memerintahkan kita -ketika terjadi perbedaan- untuk kembali kepada apa yang telah dijelaskan di dalam Qur’an dan Nabi Muhammad SAW yang mulia dalam sunnahnya. Dan Dia Allah tidak pernah menyerahkan (penyelesaiannya) kepada hawa nafsu dan fanatisme buta.

Sesungguhnya Fenomena yang disebut (Arab Spring/Musim Semi Arab) tidak lain hanyalah membuka jalan bagi munculnya kelompok-kelompok radikal yang menebar teror pembunuhan dan perusakan atas nama Islam.

Oleh karena itu, pengakuan beberapa pihak yang mengatakan bahwa mereka berjuang memerangi kelompok-kelompok teroris, bagi saya merupakan sikap bersikeras untuk tetap pada kesalahan pertama, dengan cara menyulut api fitnah dan memancing kekacauan, sebagai bentuk pelaksanaan langkah-langkah Free Masonry Internasional/Global, yang disebut oleh Rice dengan ‘kekacauan kreatif’.

Situasi ini mengharuskan para ilmuwan untuk melakukan peran dan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah Taala kepada mereka, baik dari sisi amar ma’ruf nahyi munkar, atau dari sisi dakwah kepada Allah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, atau dari sisi menjelaskan kebenaran dan menghapus kebingungan/kecauan pikiran yang menimpa pikiran orang-orang yang mengetahuinya.

Sungguh diamnya seorang ‘Aalim atas apa yang terjadi merupakan suatu kekurangan dan menyembunyikan kebenaran, dan merupakan salah satu sebab terus berlakunya kebathilan. Dan hal itu tidak pantas terjadi kecuali jika seseorang itu takut untuk melawan kebathilan. Atau barangkali dia termasuk orang-orang yang disifati oleh Allah SWT dalam firman-Nya: {dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata} al-Hajj: 11. 

Dan selayaknyalah seorang ‘Aalim memiliki sifat sebagaimana firman-Nya: (... dan akan Allah datangkan kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintai-NYA. Mereka lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut siapa pun yang mencela mereka. Demikian itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang IA kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui} al-Maaidah: 54.

Seorang ‘Aalim harus cemburu jika hilang rambu-rambu kebenaran dan khawatir jika umat tersesat. takut jika terjadi perselisihan dan konsekuensinya ... dari pertumpahan darah, kehancuran, dan perpindahan. Bukan ini yang telah terjadi?

Ini merupakan perbuatan dari sekelompok pemilik ilmu serta para ilmuwan yang rela menjadi alat menebar fitnah dan menjadi pengawalnya karena rakus dengan godaan keserakahan atau dengki pada orang-orang yang melihat mereka sebagai pesaing bagi mereka atau iri atas apa yang mereka dapatkan dari penerimaan di seluruh bumi.

Sesungguhnya hal yang lebih berbahaya dan lebih mengkhawatirkan lagi yaitu merajalelanya hawa nafsu pribadi di tengah-tengah masyarakat. Ini terkait dengan masa depan bangsa dan pernyataan kebenaran yang telah ternoda oleh gerakan-gerakan ini ...Ini juga terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan tidak menyembunyikan kebenaran. 

Bukan kah Allah telah berfiman dalam kitab-Nya: dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima) Ali Imran: 187. Dan bukan kah Allah telah mengingatkan para ulama tentang menyembunyikan kebenaran dengan firman-Nya: ((Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilanati Allah dan dilanati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melanati)) al-Baqarah: 159.

Penulis adalah Ketua Persatuan Ulama Suriah, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Putra Sayyid Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional ‘Peran Ulama dalam Meredam Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah’ yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Al-Syami), Kamis (10/3/2016) di Gedung Pascasarjana UI Salemba Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Anti Hoax, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Juli 2013

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Nyai Hajjah Siti Fatma, istri Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri? (Gus Mus), Kamis (30/6), pukul 14.30 WIB, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R Soetrasno Rembang, Jawa Tengah.

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh

"Semoga Allah mengampuni seluruh kekhilafannya dan menerima amal-amal baiknya yang luar biasa," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Kamis (30/6) malam, di Jakarta.

Menurutnya, Bu Fatma, panggilan akrab Nyai Hajjah Siti Fatma, telah banyak berkorban selama mendampingi KH A Mustofa Bisri baik ketika mengemban amanah sebagai wakil rais aam, pejabat rais aam PBNU, maupun pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.

Ribath Nurul Hidayah

"Beliau telah berjihad dengan penuh pengorbanan sebagai perempuan muminah, shalihah, mustaqimah, hingga Gus Mus berhasil dalam menjalankan kiprahnya di NU dan mengayomi umat secara luas. Beliau patut kita contoh," kesannya.

PBNU, kata Kiai Said, menginstruksikan kepada seluruh pengurus NU di tingkat wilayah, cabang, anak cabang, hingga ranting untuk menggelar shalat ghaib dan tahlil sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Bu Fatma.

Ribath Nurul Hidayah

Jenazah Bu Fatma saat ini sudah berada di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Jalan KH Bisri Mutofa, Leteh, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Rencananya, jenazah akan dikebumikan pada Jumat (1/6), pukul 13.30 WIB, di Pemakaman Kabongan Kidul, Kecamatan Rembang.

Bu Fatma meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit sejak Selasa (28/6/2016) pagi karena menderita sesak napas. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Budaya, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah