Sabtu, 18 Juni 2016

IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Perangi Narkoba

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)-Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo dan PC IPNU-IPPNU Kota Kraksaan bekerja sama dengan Kader Anti Narkoba Kabupaten Probolinggo memberikan sosialisasi pemuda anti narkoba kader desa di 30 desa se-Kabupaten Probolinggo, Senin hingga Rabu (26-28/9).

Dalam kesempatan tersebut IPNU-IPPNU memberikan pelatihan program pencegahan bahaya destruktif narkoba berbasis pemuda pedesaan sebagai bentuk perang terhadap narkoba. Sebagai narasumber, IPNU-IPPNU menggandeng anggota Polri dari Polres Probolinggo dan Polres Probolinggo Kota.

IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Perangi Narkoba

Di setiap desa, kegiatan ini diikuti oleh 20 orang pemuda desa berusia antara 17 hingga 30 tahun. “Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para pemuda yang ada di desa untuk bersama-sama mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang sudah sangat meresahkan masyarakat,” kata Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati.

Menurut Nur Hakimah Ismawati, kegiatan ini sangat penting dilakukan mengingat pemuda adalah aset penting calon estafet pemimpin masa depan bangsa Indonesia. Sehingga pemuda ini harus senantiasa dijaga dari hal-hal yang dapat merusak masa depannya, terutama dari pengaruh narkoba.

“Kemajuan masa depan bangsa sangat bergantung dari pemuda yang ada saat ini. Kalau pemudanya saja sudah terpengaruh hal-hal yang negatif tentunya akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Ika Vita Nurjanah. Perempuan yang juga tergabung dalam Kader Anti Narkoba Kabupaten Probolinggo ini mengharapkan agar pemuda yang ada di Kabupaten Probolinggo bisa terbebas dari pengaruh narkoba.

“Peredaran narkoba saat ini sudah sangat mengkhawatirkan para orang tua. Karena sasarannya bukan lagi para remaja dan dewasa, tetapi juga sudah mulai menyerang anak-anak yang masih usia belia. Oleh karena itu, peran pemuda sangat dibutuhkan demi penyelamatan generasi muda masa depan bangsa,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni) ?

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 05 Juni 2016

Inilah Kriteria Kesetaraan atau Sekufu dalam Perkawinan

Pernikahan dipandang sebagai satu momen penting dalam kehidupan. Oleh sebab itu, masalah pernikahan ini diatur cukup ketat dan detil, bahkan dalam Al-Quran karena menyangkut banyak pihak. Tujuan yang diharapkan dari pernikahan bagi dua insan tentu saja sebagaimana tersebut Surat Ar-Rum ayat 30, “Supaya tercipta ketenangan bagi kalian, serta dijadikan rasa cinta dan kasih sayang...”

Salah satu ketentuan yang dibahas dalam fiqih pernikahan adalah kafa’ah. Kafa’ah secara harfiah artinya persamaan, atau kesebandingan. Dalam fiqih, kafa’ah diartikan sebagai persamaan derajat antara suami dan istri, dengan harapan tercipta keharmonisan rumah tangga dan pasangan yang ideal.

Inilah Kriteria Kesetaraan atau Sekufu dalam Perkawinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Kriteria Kesetaraan atau Sekufu dalam Perkawinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Kriteria Kesetaraan atau Sekufu dalam Perkawinan

Di satu sisi, tentu hal ini sangat baik. Tetapi di sisi lain, bagi sebagian orang, penentuan pasangan yang sepadan baginya ini bisa sangat sulit. Tetapi muncul pertanyaan-pertanyaan, “Apakah gadis/pria itu pantas untukku?” Lalu banyak pertimbangan yang diambil sehingga seorang pemuda atau pemudi resah saat akan menikah.

Ulama fiqih banyak berkomentar terkait hal tersebut. Satu bisa disimak dalam Bughyatul Mustarsyidin karya Sayyid Ba’alawi Al-Hadhrami disebutkan empat pendapat yang bisa dipertimbangkan untuk memahami parameter kafa’ah.

Ribath Nurul Hidayah

Pertama, pendapat yang dipegang oleh Imam An-Nawawi, Imam Ar-Rafi’i, serta Ibnu Hajar. Parameter kafa’ah calon pasutri adalah nasab, kredibilitas, status merdeka (bukan budak), ketokohan dalam ilmu dan kesalehan, serta sikap dan wawasan keislaman. Menurut pendapat ini, jika calon suami atau nenek moyangnya lebih unggul dari calon istri dalam parameter ini, maka sudah bisa dianggap setara. Sebaliknya, jika dari segi parameter tadi baik calon istri maupun leluhurnya lebih mulia dari lelaki, maka tidak bisa dikategorikan sederajat.

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, pendapat yang meletakkan parameter nasab, kredibilitas, status merdeka, ketokohan dalam ilmu dan kesalehan, kepemimpinan, serta pekerjaan. Menurut Ibnu Qadli, pendapat ini diunggulkan oleh Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rafi’i, tetapi tidak dijadikan pegangan. Selain itu, pendapat kedua ini tidak mensyaratkan kesederajatan sebagaimana pendapat pertama. Bahkan bila kalah unggul dalam satu aspek atau lebih, masih bisa dianggap sekufu.

Pendapat ketiga, sebagaimana diunggulkan oleh Al-Adzra’i dan Ibnu Rif’ah, bahwa parameter kafa’ah sebagaimana di atas terkait kredibilitas, pekerjaan, ilmu, kesalehan, status merdeka, juga kepemimpinan. Hal itu benar-benar hanya didasarkan pada keadaan calon suami dan istrinya. Maka dalam pendapat ketiga ini faktor kemuliaan nasab ditangguhkan, sebagaimana tradisi zaman dahulu. Demikian kurang-lebih keterangan Al-‘Amudy dalam Bughyatul Mustarsyidin.

Keempat, parameter yang sama pada nasab, kredibilitas, juga keilmuan, dan ketokohan sebagaimana pendapat pertama atau kedua. Hanya menurut pendapat ini, kriteria kafa’ah dapat saling melengkapi bagi calon pasutri. Artinya, jika ada kriteria pada calon suami atau calon istri ini yang tidak terpenuhi dan kurang unggul dibanding pasangannya, asalkan keduanya saling mengungguli dan melengkapi dalam kriteria-kriteria yang ada, maka juga dianggap sederajat.

Demikianlah pandangan sebagian ulama terkait status kafa’ah dalam pernikahan. Tentu saja selain dalam bingkai agama, tradisi setempat juga amat menentukan bagaimana pandangan tentang kesamaan derajat calon pasangan suami dan istri ini dipertimbangkan. Pendapat ulama tentang kesepadanan calon suami dan istri ini disampaikan agar kesalahpahaman yang mungkin terjadi dalam keluarga dapat diminimalisasi. Dengan demikian, keharmonisan dan kerukunan antarsanak famili suami dan istri tetap terjaga.

Semoga Anda sekalian yang bermaksud menikah, bisa mendapatkan kedamaian sehingga tercipta cinta dan kasih sayang dalam keharmonisan keluarga. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 02 Juni 2016

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya

Brussel, Ribath Nurul Hidayah?

Bagaimanakah rasanya menjalani ibadah puasa di negera minoritas Islam seperti Belgia? Tentu jauh berbeda dengan yang biasa kita alami di Indonesia. Ibadah puasa di Belgia harus dijalani hingga 19 jam lamanya. Hal ini terjadi karena bulan Ramadhan di Belgia saat ini bertepatan dengan musim panas, sehingga waktu siang lebih panjang dari pada waktu malam. Untuk itu sahur di Belgia dilakukan pada pukul 3 pagi, dan buka puasa baru bisa dilakukan pada pukul 10 malam. Sungguh puasa yang amat panjang.

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya

Berpuasa saat musim panas di Belgia juga memiliki tantangan lainnya. Seperti cuaca yang panas yang membuat rasa haus lebih terasa dibandingkan pada musim lainnya. Selain itu, musim panas ini juga dijadikan kesempatan bagi warga Belgia untuk berjemur dengan berpakaian ala musim panas untuk dapat menikmati sinar matahari. Aurat tidak tertutup sempurna, sehingga pemandangan pun jadi terasa ‘panas’ menggoda. Itulah beberapa tantangan bagi kaum muslim di Belgia untuk berpuasa total, puasa makan dan minum sekaligus menjaga pandangan mata.

Suasana puasa Ramadhan di tanah air tentu sangat terasa. Berbagai macam kegiatan keagamaan dilaksanakan hampir di semua tempat-tempat ibadah. Termasuk juga di mal-mal dan tempat perbelanjaan. Tak lupa tanyangan-tayangan spesial Ramadhan selalu menghiasi layar kaca televisi. Gaung adzan tanda waktu berbuka puasa yang selalu dirindukan dapat dengan mudah dikumandangkan. Tentu suasana puasa Ramadhan tersebut tidak dapat dirasakan di negara minortas Islam seperti di Belgia.?

Namun berbagai tantangan tersebut tidak menyurutkan kaum Muslim untuk menjalani ibadah puasa Ramadhan. Tentu karena Ramadhan ini adalah bulan spesial, bulan penuh berkah. Maka kesempatan ibadah selama Ramadhan ini tidak disia-siakan. Justru tantangan tersebut dimaknai sebagai ujian keimananan dan ketaqwaan, demikian sebagaimana yang disampaikan oleh Nanang Suprayogi, alumni Pondok Gontor yang kini menjadi ketua Tanfidziah PCINU Belgia.

Ribath Nurul Hidayah

Kesempatan Ramadhan ini juga sekaligus digunakan sebagai momen untuk berdakwah di Belgia. Dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk saat berinteraksi dengan komunitas warga non muslim Belgia. Misalnya saja, saat ngobrol santai, kemudian dia menawarkan makan/minum, maka kami katakan bahwa kami kaum muslim sedang menjalani ibadah puasa. Kemudian mereka bertanya lebih lanjut tentang apa itu puasa, mengapa kita berpuasa, dan sebagainya. Nah kita jelaskan puasa yang kita jalani sesuai dengan ketentuan Islam.?

Mereka terkejut sekaligus salut kepada kaum Muslim yang dapat menjalani ibadah puasa hingga 19 jam lamanya. Semoga penjelasan kami tentang puasa dan beberapa ibadah lainnya dapat menjadi informasi baik buat mereka dalam melihat ajaran Islam. Selama ini berita yang mereka terima tentang Islam masih kurang utuh, karena kerap dikaitkan dengan tindakan terorisme. Mereka perlu mendapatkan informasi tentang Islam yang sesungguhnya, Islam yang Rahmatan lil alamin.

Selain itu, kepada sesama kaum Muslim, dakwah dilakukan dalam bentuk pengajian dan buka puasa bersama. Kegiatan ini dilakukan untuk lebih mengeratkan silaturahim sekaligus menambah ilmu dan pengetahuan tentang keislaman. Kesempatan pengajian dan buka puasa bersama ini dimanfaatkan bagi para hadirin untuk saling bertemu sapa dan menikmati sajian buka puasa.

Ribath Nurul Hidayah

Alhamdulillah kegiatan keagamaan ini juga mendapat dukungan di pihak KBRI Brussel. Bahkan pada hari pertama puasa, Bapak Duta Besar RI, Bapak Yuri Thamrin berkenan mengundang para kaum muslim Indonesia untuk berbuka puasa di kediamannya. Pada kesempatan itu hadir pula kaum Muslim yang berkewarganegaraan lain, seperti Maroko, Belanda dan Belgia, yang juga di undang oleh bapak Duta Besar. Acara buka puasa dilanjutkan dengan solat magrib berjamaah.

Selain itu, diadakan juga kegiatan pesantren Ramadhan bagi anak-anak dan remaja. Pesertanya ada anak Indonesia dan juga anak Belgia. Kegiatan pesantren Ramadhan ini dilaksanakan pada tanggal 3-4 Juni bertempat di Aula KBRI.?

Pada kesempatan itu, para santri belajar membaca al-Qur’an, sholat berjamaah, serta mendapatkan materi-materi keislaman yang tidak dapat mereka dapatkan di sekolahnya. Kegiatan pesantren ini dilakukan dengan kerjasama KBRI dan komunitas Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia (KPMI) Belgia yang saat ini diketuai Bapak Lanang Seputro.

Ramadhan selalu membawa keberkahan, tentu kita semua berharap dapat menerima keberkahannya. Semoga semua amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah Subhanahu wa ta’ala, taqabbalallahu minna wa minkum, siyaman wa syamakum. Salam hangat dari Belgia. (Nanang Suprayogi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 31 Mei 2016

GP Ansor Pekalongan Latih Pengusaha Muda Marketing Online

Pekalongan, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka mendorong sukses bisnis para pengusaha muda, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menggelar pelatihan dan diskusi “Rahasia Internet Marketing”, Jumat ? (18/11), di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan.?

GP Ansor Pekalongan Latih Pengusaha Muda Marketing Online (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pekalongan Latih Pengusaha Muda Marketing Online (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pekalongan Latih Pengusaha Muda Marketing Online

Menurut Kautsar Alwi, Wakil Ketua Bidang Ekonomi PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, kegiatan ini sebagai tindak lanjut Ansor Expo yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Sedangkan tujuannya adalah mewujudkan kemandirian kader sebagai langkah menuju kemandirian organisasi GP Ansor.?

"Melalui pelatihan ini, para pengusaha muda Ansor ini akan diajak membongkar seluk-beluk bisnis online, bagaimana menjual dengan tepat sasaran, bagaimana memenangkan persaingan serta teknik dan cara memaksimalkan internet agar terkenal," ujar Alwi yang juga pengusaha dan desainer Bordir Komputer ini.

Pelatihan ini direncanakan berlangsung dalam 2 sesi. Pada sesi awal yang berlangsung Jumat (18/11) kemarin menghadirkan pembicara Muhammad Burhan, praktisi marketing online yang telah berkecimpung dan malang melintang dalam rimba bisnis online. Burhan, yang juga wakil ketua ISNU Kabupaten Pekalongan ini memaparkan materi "Mengulik Peta Bisnis Online".?

Menurutnya, sekarang ini eranya di mana orang hidup selalu terhubung dengan internet. Untuk itu pengusaha perlu memahami peta bisnis online tersebut yang meliputi produk, pemasaran, perangkat yang digunakan.

Ribath Nurul Hidayah

Peserta juga dikenalkan bagaimana melakukan riset pasar dengan memanfaatkan google trends dan google adwords serta praktik melakukan SEO (search engine optimation) dengan trik dan tips untuk mengoptimalkan akun/web hingga berada di peringkat teratas pada mesin pencarian. Hal ini akan sangat berguna untuk memaksimalkan promosi produk.

?

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini dalam waktu dekat Ansor akan melaunching Busines Center Ansor sebagai wadah transaksi bisnis sekaligus mengembangkan potensi ekonomi kader dan organisasi yang bermain baik secara offline maupun online. (Red: Mahbib) ?

Ribath Nurul Hidayah





Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Khutbah, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 25 Mei 2016

Kader Muda NU Pematangsiantar Sambut Gembira Hari Santri Nasional

Pematangsiantar, Ribath Nurul Hidayah. ? Kader-kader muda ? Nahdlatul Ulama (NU) Kota Pematangsiantar menanggapi gembira penetapan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 22 tahun 2015 terkait penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Negara melalui Keppres itu telah mengakui saham kalangan pesantren dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

“Kita mengapresiasi langkah tepat Presiden. Ini merupakan sebuah pengakuan negara terhadap 22 Oktober sebagai hari bersejarah terkait fatwa bela tanah air,” kata Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar (Arjuna) menanggapi keluarnya Keppres nomor 22 tahun 2015, Ahad (18/10) siang.

Kader Muda NU Pematangsiantar Sambut Gembira Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Pematangsiantar Sambut Gembira Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Pematangsiantar Sambut Gembira Hari Santri Nasional

Sebagaimana diketahui, Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kantor Presiden pada Kamis (15/10) menyatakan bahwa penetapan Hari Santri Nasional diusulkan oleh internal kabinet dan pihak masyarakat. Penetapan Hari Santri Nasional merupakan pemenuhan janji kampanye pilpres Jokowi pada 2014.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut keterangan Pramono, 22 Oktober tidak diliburkan. Hanya saja sejumlah pihak mungkin merayakannya. Sejalan dengan hal tersebut Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar mengajak kepada seluruh kader-kader muda Nahdlatul Ulama, khususnya sahabat-sahabat Gerakan Pemuda Ansor dan Banser untuk sama-sama memanjatkan do’a kepada Allah SWT semoga hari yang bersejarah ini menjadi momentum kebangkitan GP Ansor.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagai kader muda NU, Arjuna, yang juga pernah menjadi Sekretaris PC PMII Kota Pematangsiantar, ? Sekretaris PC IPNU Kota Pematangsiantar, dan Wakil Sekretaris PC NU Kota Pematangsiantar menyebutkan bahwa tanggal ? 22 Oktober juga hari yang bersejarah bagi warga Nahdiyin, hal ini merujuk pada fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH M Hasyim Asy’ari.?

Ia menyatakan bahwa sesungguhnya kelahiran dan perjuangan Gerakan Pemuda Ansor merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya dan cita-cita Nahdlatul Ulama untuk berkhidmat kepada perjuangan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju terwujudnya masyarakat yang demokratis, adil, makmur dan sejahtera berdasarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Karena 22 Oktober ini hari bersejarah, GP Ansor Kota Pematangsiantar akan menjadikan momentum ? penting kebangkitan untuk melaksanakan 3 visi GP Ansor sebagaimana GP Ansor, yaitu: 1) Revitalisasi Nilai dan Tradisi, 2) Penguatan Sistem Kaderisasi, 3) Pemberdayaan Potensi Kader.

"Mempertahankan NKRI adalah harga mati untuk warga NU. Kita warga NU ikut mendirikan negara Indonesia, maka NU harus tetap menjaga keutuhan NKRI, dengan dasar Negara Pancasila," katanya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 08 Mei 2016

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Magetan, Ribath Nurul Hidayah. Kiai Sholikhin menjelaskan, kenduri tahlilan yang biasa dilakukan masyarakat pada hakikatnya adalah dzikir kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran dzikir diperintahkkan melalui ayat “fadzkurullaha dzikron kasira”(perbanyaklah dzikir kepada Allah).

Ia menambahkan, dalam tahlilan juga ada bacaan tasbih yang diperintahkan Al-Quran pada ayat “fasabihu bukrota waashila”. Juga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta bacaan lain yang diperintahkan dalam Al Qur’an.

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Meski demikian, Kiai Sholikhin menganjurkan agar warga masyarakat, khususnya orang NU juga harus menyadari imbauan secara langsung tentang tahlilan di dalam Al Qur’an tidak ada. ”Tidak ada ayat yang mengimbau secara langsung untuk tahlilan misal yaayuhaladzina amanu hallilu tahlillan, tidak ada,” tegasnya pada pengajian di halaman kator PCNU Magetan, Ahad (8/6).

Ribath Nurul Hidayah

Kemudian ia menukil perkataan kiai Mukhtar Syafa’at Blok Agung Banyuwangi yang mengumpamakan tahlilan dan Al Qur’an itu seperti wedang jahe dan air sumur.

Ribath Nurul Hidayah

“Kulo nante mireng dawuhe almaghfurlah kiai Mukhtar Syafa’at nyontoheke sing cocok antarane Al Qur’an karo tahlilan iku koyok banyu sumur karo wedang jahe. Wedang jahe itu tahlilan, Al Qur’an itu air sumur.”

Kiai asal Surabaya tersebut menjelaskan maksud perkataannya, “jika kamu hendak mencari wedang jahe di sumur maka tak akan ketemu sampai kapan pun, tapi sadarilah bahwa wedang jahe ini airnya berasal dari air sumur.”

Hal ini, tambah dia, sama ketika mencari perintah tahlilan di dalam Al Qur’an, maka tidak akan ketemu, namun harus diketahui bahwa isi bacaan tahlilan itu berasal dari perintah Al Qur’an. (?Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 03 Mei 2016

Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Berbeda dengan para pemikir lain yang hanya berkutat pada level pengembangan wacana, Gus Dur mampu mengaplikasikannya pada dunia praksis. Pemikiran yang diyakini benar diejawantahkan dalam dunia aksi.



Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi

Pendapat ini dikemukakan oleh pengamat politik Kacung Marijan dalam diskusi buku pemikiran dan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur karya Muhamin Iskandar akhir pekan lalu.

“Gus Dur yakin demokrasi dan pluralisme sangat penting untuk Indonesia, karena itu Gus Dur melakukan aksi untuk mewujudkan itu, yang lainnya juga yakin, tetapi tidak melakukannya,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, pemikiran Gus Dur yang sangat kuat adalah bagaimana membangun Indonesia yang demokratis, termasuk membangun relasi agama dan politik. Ia sangat meyakini Islam agama paripurna, tetapi memahami bahwa Islam harus kontekstual di Indonesia yang sangat plural.

Dijelaskannya oleh Ben Andersen, salah seorang intelektual Barat menyebut Indonesia yang sangat plural ini sebagai disebut imagined community, sebuah komunitas yang dicita-citakan, yang sampai sekarang belum tercapai betul. Didalamnya ada banyak kelompok kepentingan yang bersama-sama membangun. Orang tidak saling kenal, tetapi membayangkan adanya satu komunitas yang diakui bersama.

Ribath Nurul Hidayah

“Bayangan apa yang dikatakan Andersen tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Gus Dur, meskipun lahir dari pesantren, tapi meyakini Indonesia bukan hanya milik orang pesantren atau milik umat Islam, tetapi milik bersama. Ini yang hendak dicapai, dan Gus Dur berusaha mempertahankan itu melalui aksinya, salah satunya melalui pembentukan PKB,” paparnya.

Pendirian partai ini awalnya ada yang meminta, khususnya sejumlah kiai menginginkan PKB berasaskan ahlusunnah wal jamaah, tetapi Gus Dur secara terang-terangan menolak. PKB harus menjadi partai yang inklusif, kalau aswaja berarti menjadi partai eksklusif. Ini ditiru PKS, walaupun mendua, ingin punya kader, disisi lain punya anggota. Ada pembedaan, kader eksklusif, kader inklusif sehingga ngak nyambung.

“Bagi Gus Dur keduanya bukan hal yang berbeda, kader maupun anggota yang sama-sama inklusif, ini yang agak berbeda dengan pemikiran PKS. Ini sangat tepat untuk konteks Indonesia,” imbuhnya.

Meskipun secara intelektual tak jauh beda dengan yang lainnya, tetapi Gus Dur memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain sehingga pemikirannya bisa ditransformasikan pada level grassroot, yaitu kemampuannya melakukan silaturrahmi yang luar biasa. Ketika terdapat kontraversi dalam pemikirannya bisa cepat selesai karena melalui silaturrahmi ini, Gus Dur mampu menjelaskan substansi pemikiran yang dimilikinya. Ini tentu berbeda dengan para intelektual NU lain yang hanya hidup di awing-awang dan tak masuk ke level bawah sehingga pada akhirnya banyak ditentang oleh komunitas pesantren, meskipun sebenarnya tak jauh berbeda dengan Gus Dur.

Silaturrahmi Gus Dur bukan hanya kepada yang hidup, Gus Dur juga dikenal sangat rajin berziarah ke makan-makan para ulama. Tak heran, meskipun sudah meninggal, ia akhirnya mendapatkan ganjaran, warga NU tak henti-hentinya menziarahi makamnya.

Kelebihan lainnya adalah darah biru yang mengalir dalam dirinya memudahkan Gus Dur melakukan komunikasi baik dalam komunitas NU maupun di luar NU.

Sejumlah kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain tersebut hanya bisa diimbangi dengan melakukan kerja kolektif. PKB atau NU bisa melakukan komunikasi secara efektif dari pusat sampai grassroots sehingga seluruh potensi bisa tersentuh.

Kacung mengibaratkan Gus Dur seperti perusahaan multinasional yang memiliki cabang dimana-mana, yang tak mungkin bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan kecil. “Gus Dur harus dikeroyok untuk menandinginya. Kalau Gus Dur bisa sendiri, PKB dan NU harus melakukan aksi kolektif,” tandasnya.

Namun demikian, Kacung juga melihat Gus Dur bukan pribadi yang tanpa cela. Gus Dur gagal dalam mengaplikasikan sejumlah pemikiran dalam konteks praksis, salah satunya kegagalan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan melalui BPR Nusumma, termasuk pengembangan pabrik yang berorientasi agrobisnis.

“Kegagalan ini, satu dikarenakan Gus Dur lebih pada konteks pemikiran, agama dan politik, pemikiran ekonomi mungkin tidak ada leverage yang lebih bawah, ini yang menjadikannya gagal karena tidak semua bisa ditangani langsung Gus Dur,” terangnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Ulama, Warta Ribath Nurul Hidayah