Sabtu, 16 Oktober 2010

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Oleh Imam Ma’ruf



Hari-hari ini, banyak orang menyebut dirinya nasionalis, cinta NKRI, slogan ‘saya Pancasila’ dan sejenisnya. Namun dalam praktiknya, nasionalisme yang dilakukan cenderung berbau sektarian. Nasionalisme minus atau setengah nasionalisme, nasionalisme sempit, dan ‘kurang’ menghargai perbedaan dan keragaman yang muncul di masyarakat. Bahkan lebih jauh, perilaku yang mengemuka cenderung barbar atau setidaknya intoleran.

Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Kenapa fenomena semacam ini seolah muncul kembali? Apakah ini menunjukkan kegagalan demokrasi yang berujung pada istilah negara gagal (failed state)? Tentu kita semua perlu banyak melakukan refleksi secara mendalam. Melihat kembali kesepakatan berbangsa dan bernegara yang telah dilahirkan oleh para founding fathers negeri zamrud khatulistiwa ini. Bangsa ini pernah mengalami periode panjang dijajah dalam era kolonialisme, hingga melahirkan semangat bersama untuk merdeka. Kita juga pernah mengalami masa perpecahan dan banyak melahirkan gerakan separatis yang berbau sektarian dan SARA. Semua itu nampaknya masih belum cukup, sehingga tak jarang ‘bom waktu’ terkait sektarian begitu mudah meletup lagi.

Contoh yang faktual yang layak menjadi perbincangan dan referensi adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sebuah kawasan gurun pasir yang panas, namun memiliki banyak sumber daya yang terus berpotensi menjadi lahan perebutan dan tarikan berbagai kepentingan, baik internal maupun pihak luar. Apakah ini juga masih kurang untuk menjadi penanda bahwa kalau konflik sektarian dan nasionalisme sempit yang terus berulang, bisa memicu kegagalan negeri ini?

Ribath Nurul Hidayah

Timur Tengah, Jalur Penghubung yang Terus Menegang

Ribath Nurul Hidayah



Membincang fenomena konflik di Timur Tengah dari kacamata Indonesia memiliki respon yang sangat beragam. Tidak sedikit dari masyarakat yang salah paham, gagal paham, bahkan menggunakan model untuk di-copy-paste secara serampangan, meski tak sedikit pula yang memiliki cara pandang yang clear atau proporsional.

Jika di Timur Tengah, negeri asalnya, terjadinyakonflik yang memporak-porandakan negeri dilatari banyaknya kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. Namun di Indonesia, konflikpolitikseperti di Timur Tengah itu bisa berubah menjadi sangat ideologis, dan sektarian antaragama, atau aliran keagamaan, semisal Sunni-Syi’ah atau Muslim-Kristen dan sekte serta kabilah-kabilah. Apakah ketika melihat konflik Timur Tengah harus menggunakan kacamata kuda begitu? Nampaknya perlu pembacaan lebih luas, sehingga kita bisa melihat banyak hal, yang pada gilirannya pandangan kita juga bukan hanya sektarian dan lebih jauh hanya hitam-putih.

Dari penelusuran KBBI, sektarian memiliki dua makna; pertama berkaitan dengan anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; sementara makna kedua adalah picik, terkungkung pada satu aliran saja. Nah, penyempitan makna menjadi sektarian dalam membaca konflik Timur Tengah inilah yang ingin kita bahas lebih dalam.

Dari sisi sejarah, kawasan Timur Tengah memiliki akar dan menjadi salah satu peradaban tua di dunia. Sejak dulu, kawasan ini memang selalu menjadi pusat perhatian, bahkan Adam dan Hawa bertemu setelah diturunkan ke bumi juga di Timur Tengah yang dikenal, Jabal Rahmah. Muncul peradaban kuno yang populer, antara lain kebudayaan dan peradaban Mesir kuno di lembah sungai Nil, Babilonia dan Assiria di Mesopotamia yang dialiri oleh sungai Tigris (Iraq) dan Eufrat (Persia), Pegunungan Armenia (Turki), Laut Mati/Sungai Yordan dan lain-lain. Sistem-sistem sungai dan laut inilah yang memberikan nafas hidup kepada peradaban-peradaban besar itu jauh sebelum kedatangan Islam. Berikutnya ada banyak kisah yang muncul, selain Nabi dan Rasul, ada juga muncul nama-nama besar seperti Fir’aun, Namruj dan lainnya, atau versi berbeda menyebut Darius, Nebukadnezar, Sultan Saladin, dan lain-lain.

Jadi, ada banyak alasan mengapa kawasan ini dari dulu hingga kini menjadi penting, salah satunya adalah kawasan penghubung tiga benua, Asia, Afrika dan Eropa, terlebih setelah terbukanya terusan Suez. Dengan banyaknya peluang, termasuk sumberdaya, mineral, air, minyak, dan sumber transportasi serta lainnya, maka wilayah dan kawasan ini selalu menjadi perhatian. Keberagaman penduduk dan latar belakang, termasuk aliran keagamaan dan ideologi juga menjadi bagian yang begitu mudah digerakkan untuk melahirkan konflik dan tarik-menarik kepentingan. Dan pemantik sebagai ‘bensin’ paling mudah dan mungkin juga murah, di Timur Tengah sendiri adalah sentimen agama dan aliran keagamaan. Jika di Timur Tengah sudah ‘meledak’, maka efek ledakannya bisa dengan mudah merembes ke kawasan lain, termasuk tanah air, Indonesia Raya tercinta ini.

Jalur laut yang menunjukkan superioritas militer, termasuk pengangkutan ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah, juga menjadi cerita tambahan dari rentetan konflik. Jalur tersebut juga memberi pemasukan penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut.

Faktor Pemicu Ketegangan



Dalam catatan Sidik Jatmika yang mengutip dari Gerald Blake soal Middle East, sebagian besar perbatasan darat di Timur Tengah sudah ditentukan sejak 1880 dan 1930, namun, soal perbatasan laut justru baru mulai ditentukan pada tahun 1960-an, dan hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Berbagai perbedaan dan keragaman yang muncul, menyangkut perbatasan negara yang kecil dan besar, jalur laut yang kecil dan besar, kekayaan alam dan sumberdaya yang kecil dan besar, termasuk negara kaya-miskin, dan tingkat kemakmuran suatu negara, akan memiliki arah yang berbeda, baik secara politik maupun aspek lain dan tidak sedikit melahirkan ketegangan.

Ada banyak faktor yang menjadi pemicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, baik secara internal kawasan, maupun pihak di luar kawasan yang juga berkepentingan. Dua poin utama bisa disebutkan: Pertama, posisi strategis kawasan ini yang menjadi penghubung bagi ekonomi, perdagangan, dan pertahanan global ketiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa. Kedua, soal keanekaragaman yang memang dimiliki Timur Tengah. Beberapa keanekaragaman yang tergambar bisa disebut, antara lain:

1. Geografis Timur Tengah yang melahirkan perbedaan wilayah, ada yang luas dan sempit sehingga menjadi pemicu dominasi, termasuk juga kedekatan regional yang tak jarang memicu ketegangan, seperti kawasan Arab inti (bulan sabit); Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Irak, Palestina, UEA, Bahrain, Qatar, Oman dan Yordania. Kawasan Arab periferal; Libya, Sudan, Yaman, Suriah dan Libanon. Kawasan Arab maghribi; Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Mauritania. Kawasan non-Arab; Turki, Iran, Siprus, Israel dan Afghanistan. Kawasan Asia Tengah yang merupakan eks Uni Soviet; Azarbaijan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turkmenistan.

2. Problem kepemilikan air, baik air tawar maupun air laut. Pemicunya bisa keterbatasan akses air, semisal perbatasan, potensi kekayaan air laut, mineral, pulau-pulau, dan pendapatan yang muncul dari kepemilikan laut. Sementara air tawar bisa berupa akses air bersih, irigasi untuk lahan, juga pembangkit listrik.

3. Keanekaragaman agama, akar budaya dan suku atau kabilah. Ada warisan peradaban yang muncul di lembah sungai Nil, Tigris dan Eufrat, lalu muncul ras Semit yang melahirkan etnis Arab dan Yahudi, Aria dengan Persianya, dan Berber di Afrika Utara. Ada juga ras gabungan semisal Turki yang ada unsur Mongolia dan Kurdi yang Indo-Persia.Belum lagi pecahan dalam bentuk suku-suku dan kabilah yang juga beritu beragam. Dari sisi agama, ada Yahudi, Islam, dan Kristen, begitu juga aliran-aliran keagamaan lain. Keragaman yang bisa menjadi potensi baik sebagai sebuah kekayaan budaya ataupun sebaliknya, bisa menjadi sumber ketegangan dan konflik.

4. Keanekaragaman ekonomi dengan melihat tingkat kemakmuran suatu negara, kaya-miskin hingga kekayaan alam dan sumberdaya yang dimiliki, bisa melahirkan arah yang berbeda dan memicu ketegangan.

5. Keanekaragaman ideologi juga hadir, ada Pan Islamisme, OKIdan juga Liga Arab yang merespon munculnya negara Israel. Ada sekularisme, liberalisme, komunisme, dan juga zionisme. Ada juga ideologi yang berbasis pada ajaran agama, semisal Islam, Kristen dan Yahudi dan aliran keagamaan, semisal Sunni-Syiah dan lainnya.

Nah, berbagai keragaman, termasuk letak geografis yang berujung pada perbatasan di atas, sangat mungkin menjadi salah satu faktor pemicu ketegangan, meskipun ujungnya juga soal beda kepentingan dan sudut pandang yang bermuara pada ekpresi politik, baik perorangan, kelompok, maupun atas nama negara. Maka melihatnya tidak hanya sektarian. Ada banyak model dan kamuflase yang mengemuka dalam ketegangan di kawasan ini yang musti dibaca secara mendalam dan dari berbagai aspek. Adakalanya tidak peduli dengan agama, asal kepentingannya sama. Adakalanya ideologi menjadi basis penyatuan kepentingan. Yang jelas basis kepentingan menjadi lebih penting dan menarik untuk dilihat, sementara pemicu dan ‘bahan bakar’ konflik dan ketegangan bisa bermacam-macam.

Suasana batin atas perasaan ketidakadilan, diskriminasi atau peminggiran kelompok, ketimpangan ekonomi menjadi awal mula perasaan kecewa dengan situasi dan kondisi, dan akumulasinya bisa melahirkan protes, ketegangan dan konflik yang mencari sasaran dan target permusuhan. Dorongan pihak luar juga bisa menguatkan ketegangan, sehingga memperkeruh dan muncul pihak yang mengambil keuntungan dari situasi krisis.

Krisis Politik yang Berulang



Menurut Carl J Friedrich, politik merupakan suatu upaya atau cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan. Politik juga dapat diartikan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki yang akan digunakan untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Kehidupan berpolitik tak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Dan masyarakat di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa Arab memiliki kultur pemerintahan yang sebagian besar adalah diktator. Salah satu faktor historis yang melatari karena di wilayah tersebut dulunya bersistem kekerajaan.

Arab Spring menjadi pintu masuk berbagai pihak melakukan koreksi terhadap kepemimpinan di Timur Tengah, mulai dari Tunisia hingga menyebar ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Beberapa tuntutan akibat reaksi ketidakpuasan publik Timur Tengah, ada yang menunjukkan hasil positif, namun tidak sedikit pula yang justru berakibat fatal dan melahirkan krisis dan konflik berkepanjangan. Kecepatan merespon dan kepiawaian negosiasi pemimpin di kawasan ini menjadi kunci, termasuk melihat berbagai efek dan dampak serta pengaruh para tokoh dan supporter yang menggerakkan aksi, baik secara internal maupun eksternal negara. Tidak sedikit para pemimpin yang tumbang dan harus menyerahkan mandat kepada desakan publik, semisal Tunisia, Libya, Mesir dan Yaman. Namun ada juga yang hanya melakukan reformasi internal tanpa penggulingan kekuasaan, semisal Saudi Arabia, Qatar, Bahrain dan juga Syuriah meski mengalami pergolakan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Di Mesir misalnya, pasca tumbangnya rezim Hosni Mubarak, rakyat Mesir justru terjerumus ke dalam konflik sektarian. Konflik sektarian tersebut terjadi antara warga muslim dan kristen. Dalam konflik yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)tersebut, setidaknya terdapat beberapa orang yang menjadi korban akibat brutalnya aksi.Konflik sektarian di Mesir adalah satu contoh resistensi politik di kawasan Timur Tengah setelah revolusi berhasil dilakukan.

Pascarevolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik adalah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis untuk memilih kepemimpinan baru. Harapan baru tersebutlah yang menjadi suara mayoritas rakyat kawasan Timur Tengah, termasuk harapan kehidupan yang lebih baik dan demokratis.

Situasi yang sekarang terjadi di beberapa negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dirasakan oleh Indonesia -dampak langsung dan tidak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang tidak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Krisis Timur Tengah juga melahirkan berbagai model dan varian yang juga sulit dibaca, kecuali pembacaan politik dan geopolitik yang melingkupi. Munculnya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah bagian dari kerumitan krisis di kawasan ini. Sebelumnya persoalan sengketa Israel-Palestina, muncul juga Al-Qaeda, hingga berbagai kelompok separatis semisal kelompok Houthi di Yaman dan gerakanseparatislain menjadi bagian dari varian krisis yang rumit.



Gelombang Demokrasi dan Nasionalisme SARA



Harapanperubahan yang lebihbaikadalahsuara yang berdengungmengiringigelombangrevolusi yang bergulir di kawasanTimur Tengah. Pemerintahan yang demokratis diharapkan mampu memberi ruang partisipasi publik yang lebih luas, meski dalam situasi transisi justru memiliki banyak kerentanan. Sebab, demokrasi yang berdampak positif membutuhkan prasyarat dan kondisi awal yang perlu diperhatikan. Kondisi dan prasyarat bagi demokrasi yang dibutuhkan antara lain; pengetahuan dan keterampilan politik yang memadai di antara penduduknya, dukungan elite politik terhadap demokrasi, tradisi rule of the law dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang kuat, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, kebudayaan yang menunjang dan sebagainya.

Nah, jika prasyarat ini tidak terpenuhi, justru akan melahirkan kerentanan yang dimaksud, meski kebebasan menyatakan pendapat, pemilihan umum langsung yang jurdil (jujur dan adil) dan luber (langsung, umum, bebas, rahasia) bisa diselenggarakan. Kerentanan pada proses politik awal dan masa transisi demokrasi seringkali melahirkan berbagai konflik kepentingan,terlebih di kalangan elit. Sebab, suara demokrasi ditentukan melalui suara mayoritas, sehingga pihak minoritas akan tersingkir. Dan kaum elit yang di periode sebelumnya berkuasa, bisa jadi punya peluang yang sama, menjadi tersingkir, maka elit tersebut akan menggunakan sentimen nasionalisme SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) untuk membangun kekuatan politik sesuai kepentingan elit. Dan cara-cara elit menarik sentimen SARA dalam proses pemenangan politik di era transisi demokrasi inilah yang mengganggu demokrasi yang diharapkan, bahkan tak sedikit melahirkan guncangan sosial-politik yang hebat.

Dalam bukunya, From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict, Jack Snyder mengungkapkan fakta keterkaitan antara demokratisasi dan konflik nasionalisme, dan itu banyak berhubungan dengan apa yang disebut nasionalisme SARA. Dasar legitimasinya diperoleh dengan cara benturan ras, agama, suku, golongan, bisa juga pengalaman sejarah, mitos dan seterusnya. SARA digunakan untuk memasukkan dan mengeluarkan orang dari term nasionalis, padahal ini bersifat rasis dan berangkat dari pemikiran yang sempit. Sementara perbedaan dan berbagai kesempitan dalam bentuk SARA tidak selayaknya menjadi basis demokrasi. Sebab demokrasi justru diharapkan melahirkan rasa nasionalisme yang tetap menghargai perbedaan dan tidak terkotak-kotak yang anti pluralisme.

Studi Snyder di atas menyebutkan, kebanyakan atau sebagian besar negara-negara yang tercebur dalam konflik SARA selama dasawarsa 1990-an adalah negara yaang sedang menuju tahapan transisi demokrasi. Lantas, bagi negara Indonesia yang dianggap sudah melampaui, tetapi masih menunjukkan situasi dan kondisi yang kurang lebih sama, adakah termasuk sebagian kecil dalam riset Snyder? Ada maksud yang disampaikan Snyder, bahwa dua tahun sebelum pecahnya konflik dan pertikaian SARA, umumnya dimulai dengan pra kondisi dengan menguatnya kemajuan parsial dalam hal kebebasan politik atau kebebasan sipil. Parsialitas yang merusak, menyempit dan rasis inilah yang menjadi penyubur bagi lahirnya nasionalisme SARA.

Beberapa contoh negara yang mengalami pecah SARA, antara lain di bekas Yugoslavia, antara orang Armenia dan orang bekas Soviet Azerbaijan, begitu juga di Burundi dengan minoritas Tutsi dan mayoritas Hutu. Begitu juga yang terakhir kasus SARA di kawasan Timur Tengah, semisal Mesir. Lantas bagaimana membuat nasionalisme SARA tidak muncul? Apakah demokrasi selalu melahirkan bahayanya yang juga semakin rumit dan membuat apriori? Nasionalisme sipil musti dikuatkan. Para elit, baik di level pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), maupun tokoh masyarakat dan ulama, bersama seluruh lapisan masyarakat saling menjaga situasi kondusif, tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada juga saling menopang dan cukup kuat menampung proses ini.

Penguatan nasionalisme sipil, seperti digagas Kim Holmes misalnya, adalah upaya untuk membangun basis pemersatu bangsa dan menciptakan kesetaraan warga negara tanpa melihat jenis suku, ras, warna kulit, keturunan dan agama, sehingga demokrasi yang dijalankan akan memberi dampak positif dan mencapai cita-cita bangsa yang diharapkan. Dengan cara yang setipe ini pula, pemahaman dan cara pandang sektarian, dengan sendirinya juga akan memudar. Berbagai perbedaan kepentingan dan konflik bisa dilihat secara lebih utuh dengan mempertimbangakan berbagai faktor dan penyebab yang menjadi pemicu konflik, dari berbagai aspek dan latar belakang secara menyeluruh.

Akhirnya kedewasaan setiap warga, kesadaran berdemokrasi yang semakin dipahami, akan berujung pada kondisi check and balances dan menjadi pupuk untuk terwujudnya proses demokrasi yang terus membaik dan saling menjaga melalui kritik-konstruktif, sehingga melahirkan kran demokrasi yang menyehatkandan berujung pada kemakmuran negeri.



Penulis adalah Kepala Divisi Media dan Publikasi Lakpesdam PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 Oktober 2010

Kisah Gus Dur tentang Orang Buta dan Bungkuk

Makassar, Ribath Nurul Hidayah



Sejawat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Anre Gurutta Haji (AGH) Sanusi Baco, di Makassar, Senin (27/3), mengisahkan kehebatan Presiden RI ke 4 tersebut dalam menghibur untuk menghilangkan kejenuhan.

Kisah Gus Dur tentang Orang Buta dan Bungkuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Gus Dur tentang Orang Buta dan Bungkuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Gus Dur tentang Orang Buta dan Bungkuk

Bersama Gus Dur dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus), AGH Sanusi Baco menuju Kairo, Mesir untuk belajar di Universitas Al Azhar. Dengan menggunakan kapal, waktu menuju Mesir dari Indonesia memakan waktu sebulan.

"Selama tiga puluh hari di kapal, cerita almarhum selalu berbeda, selalu ada hiburan dilontarkan. Saya kasih tahu satu. Mau?" tanya AGH Sanusi kepada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) IV, di aula Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI).

Setelah peserta menyatakan mau, AGH Sanusi mengisahkan perjalanannya menuju Mesir.

Ribath Nurul Hidayah

"Kalau saya sudah duduk pagi-pagi, Gus Dur datang menghampiri. Biar tidak rindu orang tua, Sanusi saya kasih cerita beda orang beda buta dan orang bungkuk," kata AGH Sanusi mengenang Gus Dur.

AGH Sanusi yang tertarik merespon penawaran Gus Dur. "Ceritanya bagaimana?" ujar AGH Sanusi.

Gus Dur menceritakan orang bungkuk mengajak orang buta makan kelapa muda. Setiba di pohon kelapa. Orang bungkuk meminta orang buta untuk memanjat.

Ribath Nurul Hidayah

Orang buta tentu saja menolak sebab tidak bisa melihat. Kemudian ia meyakinkan orang bungkuk untuk memanjat dan dia akan bertugas menghitung kelapa jatuh.

"Setiap medengar suara bug (bunyi kelapa jatuh), orang buta selalu menghitung. Bug, satu. Bug, dua. Bug, tiga. Bug, empat. Si bungkuk lalu bilang, empat apa, orang saya yang jatuh," ujar AGH Sanusi disambut tawa seluruh hadirin di ruangan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Pendidikan, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Senin, 30 Agustus 2010

Prihatin Kasus Video Porno, IPNU-IPPNU Jepara Angkat Bicara

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jepara merasa prihatin terhadap kabar yang dirilis sebuah media Senin (6/7) terkait kasus video porno.

Dalam koran tersebut seorang ABG yang diduga warga Batealit Jepara melakukan aksi masturbasi yang terekam di ponsel pribadinya. Ponsel pribadinya dijual. Kabar pun semakin melebar akhir Juni kemarin tatkala video tersebut diupload di Youtube oleh orang tak dikenal identitasnya. ?

Prihatin Kasus Video Porno, IPNU-IPPNU Jepara Angkat Bicara (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Kasus Video Porno, IPNU-IPPNU Jepara Angkat Bicara (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Kasus Video Porno, IPNU-IPPNU Jepara Angkat Bicara

Mengetahui kabar ini ketua PC IPPNU Jepara, Hidayatun Nikmah angkat bicara. “Pada intinya PC IPNU-IPPNU mengimbau kepada generasi muda agar menggunakan teknologi dengan bijak,” tulisnya sebagaimana rilis yang diterima Ribath Nurul Hidayah, Kamis (09/07).

Ribath Nurul Hidayah

Perkembangan teknologi, baginya, memiliki dua sisi positif dan negatif. Agar selamat sebaiknya menggunakan teknologi untuk kebaikan. Nikmah menambahkan, dalam memilih teman juga harus selektif. Jangan sampai memilih teman yang malah menjerumuskan ke dalam jurang yang merusak kehidupan.

Menurutnya, yang dibutuhkan generasi muda saat ini adalah bekal agama yang kuat. “Dengan ilmu agama yang kuat insyaAllah akan kita mampu mengontrol diri serta mampu menjaga diri dari perilaku yang menyimpang dari agama maupun norma-norma yang berlaku,” kata? alumnus Unisnu Jepara ini. ?

Ribath Nurul Hidayah

Agar perilaku generasi muda tidak menyimpang sangat perlu aktif dalam kegiatan positif. Salah satu cara ialah bergabung dalam IPNU-IPPNU. “Ikut IPNU-IPPNU 100 persen kegiatannya positif,” jelas Muhammad Khoironi, Ketua PC IPNU Jepara.

Dengan mengikuti kegiatan positif ini, generasi muda akan memperoleh banyak kegiatan baik sosial, budaya, ekonomi, politik, maupun agama. Di samping itu, lanjut Khoironi, tiga aspek pendidikan keluarga, sekolah dan lingkungan harus saling bersinergi.

Keluarga dan sekolah mempunyai tugas untuk mendidik dan mengontrol perilaku anak. Sedangkan lingkungan yang menjadikan anak menjadi baik dan buruk. “Karena itu pilihlah lingkungan yang positif,” pungkas Khoironi. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 01 Agustus 2010

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung

Bangka, Ribath Nurul Hidayah. Upaya pendampingan kesejahteraan masyarakat terus dilakukan Kementerian Sosial RI. Kali ini Kemensos memanfaatkan kecanggihan teknologi digital untuk mempermudah pendampingan sosial dengan meresmikan dua aplikasi yaitu Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa, Rabu (5/4) di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa hadir secara langsung ke Bangka untuk meresmikan aplikasi penanganan ibu hamil dan pengembangan desa tersebut.?

“Kami di sini untuk meresmikan aplikasi Bumil Resti dan aplikasi Kembang Desa,” ujar Khofifah.

Dia menerangkan, Aplikasi Bumil Resti atau Sistem Informasi Ibu Hamil Resiko Tinggi merupakan inisiatif Pemkab Bangka dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan ibu hamil dan ibu bersalin untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

“Ini adalah sebuah inovasi yang bisa menjadi role model bagi daerah lain. Lewat aplikasi ini Pemkab Babel memburu atau mencari ibu-ibu hamil yang beresiko tinggi sampai ke pelosok desa,” jelas perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun yang lalu ini.

Ribath Nurul Hidayah

Khofifah juga menerangkan, aplikasi ini menguatkan peran bidan dan dokter spesialis kandungan dalam pemantauan secara terus menerus terhadap Bumil Resti.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengapresiasi program perburuan anak putus sekolah untuk mendapatkan kejar paket serta perburuan lansia terlantar untuk mendapatkan respon cepat.

Sementara aplikasi "Kembang Desa" atau Kesejahteraan Masyarakat Bangka dengan Sistem dan Aplikasi merupakan sistem yang dibangun dengan mengedepankan Rumah Tangga Sasaran (RTS).?

Aplikasi tersebut menurutnya, merupakan sistem informasi pengelolaan data kemiskinan yang paling lengkap di Indonesia dan paling mudah diakses oleh masyarakat luas.

Ribath Nurul Hidayah

“Sistem ini memiliki keunggulan tidak hanya merekam data kemiskinan by name by address, tetapi juga terdapat foto dan profil lengkap RTS. Bahkan sampai titik koordinat alamat individu RTS,” tandas Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 21 Juli 2010

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan

Solo, Ribath Nurul Hidayah. IAIN Surakarta pada Kamis (20/12) malam, sedikit berbeda. Betapa tidak, kampus yang biasanya sudah sepi di sore hari, karena kelarnya proses perkuliahan, malam itu dibanjiri setidaknya dua ribu jamaah.

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan

Bakda sembayang Isya, kira-kira pukul delapan, jamaah dari wilayah Surakarta dan sekitarnya mulai memenuhi aula besar IAIN Surakarta. Mereka datang dengan mengenakan busana beragam untuk menghadiri dzikir dan Shalawat sekaligus peluncuran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) JQH Al-Wustho IAIN Surakarta. 

Acara dimulai dengan pembacaan syair-syair yang ada dalam kitab al-Barjanzi, diiringi rebana, alat musik pukul, yang salah satu jenisnya dikenal dengan sebutan hadroh. Dipimpin grup Hadroh JQH Al-Wustho, para jama’ah khusuk mengumandangkan syair-syair pujian untuk Nabi Muhammad SAW

Ribath Nurul Hidayah

Dilanjutkan dengan peresmian Unit Kegiatan Mahasiswa Jamiatul Qurra wal Huffadz (UKM JQH) Al-Wustho IAIN Surakarta. UKM tersebut didirikan untuk menjadi ruang kreasi mahasiswa dalam bidang seni, khususnya shalawat, tilawatil Qur’an, dan kaligrafi.

Ribath Nurul Hidayah

Ketika sesi ceramah tiba, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengawali tausiah dengan meminta grup hadrah yang ada dihadapannya membawakan lagu Aa Gym yang pernah populer beberapa tahun lalu, Jagalah Hati. Noval minta lagu tersebut diiringi dengan rebana, namun para pemusik grup hadroh JQH Al-Wustho canggung, belum pernah mengiringi lagu tersebut dengan rebana.

Saat itulah, Noval mengatakan bahwa musik, khususnya rebana, merupakan bagian yang sangat penting dari kebudayaan umat Islam.

"Musik khususnya rebana merupakan thariqah, salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan, Nabi Muhammad SAW selalu membawa anjasah atau munsyid ke manapun beliau pergi. Rasulullah juga menampakkan kegembiraannya ketika seorang wanita menunaikan nadzarnya dengan menabuh rebana di hadapan beliau," begitu pimpinan Majlis Dzikir dan Ilmu Ar-Raudhoh, Solo, memaparkan tentang rebana. 

Dia mengingatkan, karena rebana dan shalawat itu penting, para penabuh rebana dan vokalis shalawat seharusnya tidak bersenda gurau atau bercakap-cakap ketika bershalawat. "penabuh rebana dan vokalis jangan bercanda saat membawakan shalawat," ujarnya.

Pemusik, kata Noval, harus menghadirkan rasa dan hati, membayangkan seolah sosok Rasulullah Muhammad SAW hadir di hadapannya. 

"Bayangkan kegembiraan masyarakat Madinah al-Munawarah saat menyambut hijrah Rosululloh. Dengan begitu, hadirin juga akan terbawa ke dimensi yang berbeda. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Kedekatan dengan Sang Khalik dan kekasih-Nya yang menyebabkan air mata tidak terbendung, mulut ingin berteriak lantang memuji kebesaran Rasulullah Muhammad. Jika sudah seperti itu, maka nur Illahiah akan lebih mudah masuk di dalam hati," lanjutnya.

Selain berbicara musik, malam itu Noval mengupas tentang pentingnya cinta dalam kehidupan. 

Redaktur      : Hamzah Sahal

Kontributor  : Pekik Nursasongko

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Juli 2010

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Setiap menjelang penetapan jatuhnya hari raya atau lebaran, atau penetepan awal puasa yang dilakukan pemerintah melalui sidang istbat, masyarakat selalu ramai menunggu dengan memelototi media televisi maupun media online.

Dalam menentukan awal puasa dan jatuhnya hari lebaran bagi kaum muslim itu, pemerintah juga menunggu laporan berbagai petugas, ormas maupun tim yang berada di lapangan untuk melakukan rukyatul Hilal.

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Di samping tim falak, ada sekelompok orang dari awak media yang ikut berperan dalam perburuan hilal, bulan sabit tanda awal bulan hijriyah. Mereka adalah kaum jurnalis. Para wartawan ini juga berperan besar menyampaikan kabar tentang keberadaan hilal melalui media masing masing, baik televisi, radio maupun online.

Ribath Nurul Hidayah

Tugas para wartawan ini sering kali luput dari pantauan, meski sering dipandang miring oleh sebagian masyarakat. Padahal, untuk berburu warta soal hilal, mereka seperti tidak mengenal lelah, rela meninggalkan rumah, anak istri keluarga untuk memberitakan fakta.? Sedangkan masyarakat bisa menunggu kabar keberadaan hilal, di depan televisi, radio, mapun hanya menggemgam telepon seluler.

Jurnalis pemburu iilal ini harus ikut menuju lokasi di mana tim rukyat dari lembaga falak Kementerian Agama, MUI, maupun ormas seperti NU dan Muhamadiyah yang biasanya sangat jauh dari kota. Terkadang di pinggir pantai, dan tidak jarang di puncak dataran tinggi.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan mebawa peralaan yang cukup berat, berupa kamera dan yang lainnya, rasa nyaman bisa berkumpul dengan keluarga, rasa? haus, lapar terkesampingkan, demi memberikan kabar baik yang sudah ditunggu ribuan bahkan jutaan masyarakat Muslim di penjuru Nusantara dan juga dunia.

Di akhir bulan puasa Ramadhan yang sangat mulia, kita semua bisa berdoa, mereka awak media, wartawan pekerja media diberi kekuatan diberi keberkahan. Sehingga puasanya amal ibadahnya diterima Allah SWT dan menjadikannya? memudahkan untuk masuk surga. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Khutbah, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Juli 2010

Saat Banser Mencabut Katana

Oleh Teguh Kurniawan





Saat Banser Mencabut Katana (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Banser Mencabut Katana (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Banser Mencabut Katana

Sebagai negara dengan mayoritas muslim, Indonesia beruntung memiliki NU. Ormas yang oleh Muhammad Rizieq Syihab dalam video ceramah di madinah di sebutnya sebagai kelompok tradisionalis. Berbicara komitmen terhadap bangsa, NU terbukti ikut berdarah mendirikan bangsa ini. 

Berbicara jumlah massa dan khazanah keilmuan Islam, saya bertaruh anak-anak muda NU yang belajar di Pondok Pesantren itu jauh lebih mumpuni dibanding Felix Siauw. Mereka belajar Islam dari sumber babon, ilmu tafsir, bahasa arab dan gramatikalnya, kitab fiqih lintas madzhab, ilmu hadits hingga sex education adalah makanan mereka sehari hari di Pondok Pesantren.

Kematangan pengetahuan agama, militansi jamaah, jumlah anggota, dan memiliki garis komando jelas adalah keunggulan NU yang sulit di tandingi oleh organisasi Islam manapun. Tetapi NU tidak jumawa, komitmennya selaras dengan amanah pendiri bangsa ini menjadi negara bangsa bukan negara agama. Dengan segala kelebihannya, NU adalah benteng akhir pertahanan bangsa ini. Dan ruh itu yang di jaga NU, digaungkan dalam marsnya Ya lal wathon :

Ribath Nurul Hidayah

 

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon/ Hubbul Wathon minal Iman/ Wala Takun minal Hirman/ Inhadlu Alal Wathon / Indonesia Biladi / Anta ‘Unwanul Fakhoma / Kullu May Ya’tika Yauma/ Thomihay Yalqo Himama/ Pusaka Hati Wahai Tanah Airku/ Cintaku dalam Imanku/ Jangan Halangkan Nasibmu/ Bangkitlah Hai Bangsaku/ Indonesia Negriku/ Engkau Panji Martabatku/ Siapa Datang Mengancammu/ Kan Binasa di bawah dulimu

Belakangan ini situasi tanah air mengharuskan kekuatan NU untuk kembali bangkit. Selama ini NU lebih banyak diam ketika dalam banyak kesempatan kelompok Islam anyaran seperti HTI terus-menerus menuding kaum selain mereka sebagai kafir. Dengan seenaknya mereka memvonis negeri ini sebagai negeri thoghut dan kafir, tidak pakai hukum Allah. Gerakan Islam Nusantara dihujat, NU sebagai jamaah liberal, penyembah kubur, tukang bid’ah, bahkan gelombang fitnah dialamatkan pada pucuk pimpinan NU, tetapi NU masih bersabar.  

Ribath Nurul Hidayah

Namun saat provokasi ini mengancam integrasi bangsa dan eksistensi Pancasila, maka anak muda NU saatnya bergerak. Mereka bangkit melawan, musuh mereka adalah kelompok unyu-unyu pemimpi basah khilafah dan kelompok penebar benih radikalisme. Banser dan GP Ansor menunjukkan kekuatannya menjadi penjaga NKRI. Di Makassar mereka bentrok dengan HTI. Di Bogor dan Jakarta mereka menolak forum internasional khilafah HTI.

Di Jombang, Tulungagung, Jember, Sidoarjo dan Surabaya sudah menyatakan dengan keras tidak memberi ruang bagi HTI dan ormas anarkis di Jatim. Di Cilacap, Banser dan GP Ansor menyerukan HTI untuk kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Di Semarang mereka menolak perilaku ormas anarkis. Di Takalar GP Ansor dan Banser, gagalkan konvoi HTI. Di Bandung, mereka menolak deklarasi HTI. Di Purbalingga, GP Ansor dan Banser hampir saja bentrok dengan HTI. Di Rembang sikapnya sama usir kelompok pemimpi khilafah

Berpuluh tahun NU menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia dalam kerangka agama yang sejuk dan berwibawa. NU ibarat klan keluarga Samurai Katsumoto dalam film The Last Samurai. Mereka adalah orang orang yang tidak pernah melupakan cikal bakal mereka, mereka setia pada tanah kelahiran, adat istiadat, dan juga leluhur mereka. Jika kemudian NU melalui Ansor dan Banser sudah bergerak mengangkat Katana-nya, artinya isyarat bangsa sedang terdzolimi. Benih radikalisme, bibit disintegrasi bangsa, sikap intoleran, ungkapan kebencian berjamur di mana-mana. 

Bukan Banser jika hanya diam, mereka bergerak serentak menunjukan taringnya. Hal itu yang kemudian membuat orang yang membenci Pancasila dan memimpikan negara Islam merengek, lebih tepatnya mengembik. Mereka melancarkan gelombang Fitnah pada Banser, video dan beragam fitnah dilancarkan dengan masif. 

Banser berjuang sendiri, dengan kesederhanaannya. Saya membayangkan saat orang seperti Kang Nen membubarkan konvoi khilafah mungkin dikantungnya hanya ada dua batang rokok dan uang untuk beberapa liter bensin, tapi untuk Indonesia Kang Nen melakukan dengan gembira. 

Ancaman terhadap NKRI sudah begitu nyata, kelompok radikalis dan pro khilafah telah masuk dengan masif hingga sekolah menengah, saat ini Banserlah pilar yang tersisa ketika gelombang virus radikalisme menyerbu negeri ini. Menyatukan kelompok pro khilafah ini dengan NU, rasanya tidak mungkin. Keislaman NU berakar pada tradisi, sedang mereka beragama dengan insting menaklukan. 

Satunya-satunya jalan negara harus memilih, NU yang telah terbukti komitmennya atau mereka yang ingin mengganti ideologi negara. Berharap anak-anak muda NU untuk mundur mengalah, tidak ada cerita Banser mundur perang. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah gambaran keberanian Banser. Pada masa ini HTI dan ormas yang mempunyai kecenderungan anarkis lahir saja belum.  

Namun membiarkan Banser berjuang sendiri rasanya tidak bijak. Kita harus hadir berdiri bersama mereka. Kita tidak ingin adegan terakhir dalam film The Last Samurai terjadi. Teringat sebuah adegan dalam Film itu saat Nathan Algreen memberikan Katana dari klan Samurai Katsumoto yang gugur di medan perang.

Pada saat menerima Katana itu Kaisar baru menyadari bahwa pemerintah telah mengorbankan hal paling berharga dari bangsanya yaitu akar budayanya sendiri. Kita tidak ingin menitikkan air mata saat menyaksikan Katana Banser Samurai terakhir penjaga bangsa ini diserahkan. 

Saatnya kita berdiri bersama Banser ikut menjaga bangsa ini melawan radikalisme dan intoleransi. Membantu sebisa kita jangan biarkan Banser sendiri, bergandengan tangan nengucapkan kalimat Kaisar dalam film The Last Samurai, "We can be modern country, we are wearing western clothes, we have railway, but we cannot forget WHO WE ARE."  Kang Nen, salam hangat secangkir kopi untukmu.

Ini adalah bagian dari artikel lama saya yang saya potong. Tulisan ini saya buat hampir setahun lalu berjudul "Banser The Last Samurai" seiring maraknya gelombang fitnah untuk Banser pasca insiden kaburnya Felix Siauw yang menolak menandatangani surat pernyataan setia pada Pancasila. Saya rasa tulisan ini relevan.

Penulis adalah Konsultan Media dan Aktivis Sosial.

*) Atas persetujuan penulis, tulisan opini di atas telah mengalami pengeditan di beberapa paragraf yang menyebut kata FPI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah