Kamis, 17 Agustus 2017

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V

Bantul, Ribath Nurul Hidayah. Setelah melewati hari-hari yang menengangkan dan melahkan selama kurang lebih 9 hari di Jambi, Senin sore (9/9) rombongan santri Pesantren Krapyak Yogyakarta, peserta lomba Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) V, akhirnya tiba di pesantren asal. Mereka disambut ratusan santri dengan penuh bahagia.

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V (Sumber Gambar : Nu Online)
Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V (Sumber Gambar : Nu Online)

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V

KH. Hilmy Muhammad yang turut serta menemani para santri selama perlombaan menyampaikan syukur yang mendalam dan kebanggaannya atas jerih payah dan hasil maksimal yang dicapai oleh anak-anak santri.

"Alhamdulillah, Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta berhasil memperoleh berbagai prestasi membangakan di ajang Musabaqoh Qiraatil-Kutub (MQK) ke-5 di Jambi,” ujarnya sembari berharap capaian ini dapat diikuti para santri lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

Mereka yang berprestasi tersebut adalah Ayyun Anniqo Rizqyana, juara 2 putri dan Ibnu Hajar Asqolani, juara 3 putra, masing2 di bidang tarikh (sejarah) tingkat Ulya, kitab Tarikh Ibni Hisyam; Rikza Aufarul Umam, juara 3 bidang ushul-fiqh ulya, kitab Ghayatul-Wushul; Nur Azka Inayatus Sahara, juara 3 bidang hadits wustha kitab Bulughul-Maram; dan Hamidatul Hasanah, juara harapan I bidang balaghah ulya, kitab Uqudul-Juman.

Ribath Nurul Hidayah

"Capaian prestasi tahun ini yang meraih 5 gelar, lebih baik daripada tahun lalu yang hanya meraih 2 gelar, yakni juara 3 lomba debat pidato bahasa Inggris putri dan juara harapan 2 ushul fiqh ulya di Sumbawa-NTB, karenanya kita patut berbangga dan bersyukur," lanjut KH. Hilmy Muhammad.

Sementara Ayyun Aniqo Rizkiyana, dalam sambutannya mewakili delegasi santri, menyampaikan terimakasih atas doa dan dukungan semua pihak. "Doa dan dukungan kalian semua sangat berarti bagi kami, jaakumullah ahsanal jaza, ujar mahasiswi D3 bahasa Mandarin UGM yang juga pembimbing putri ini dengan haru berkaca-kaca.

Pada ajang perlombaan kali ini, Pondok Pesantren Krapyak berhasil mengirimkan 15 santri terbaiknya bergabung dalam kafilah Provinsi DIY dalam ajang bergengsi tahunan kemeterian agama tersebut.

Secara keseluruhan, posisi DIY menjadi urutan ke enam dengan total perolehan medali 15 buah. Rincian medali yang diperoleh DIY yaitu juara 1 di cabang balaghah ulya putra, juara 2 dicabang fiqh ula putra, tafsir wustha putra dan tarikh ulya putri, juara 3 dicabang hadits wustha putri, hadits ulya putra, tarikh ulya putra dan ushul fiqh ulya putra. Juara harapan 1 diperoleh cabang nahwu ula putri, balaghah wustha putra, balaghah ulya putri dan ushul fiqh ulya putri. Sedangkan juara harapan 2 diperoleh dari cabang ushul fiqh wustha putri, tarikh ula putra dan nahwu ulya putri.

Urutan 10 besar MQKN V di Jambi ini adalah Jawa Timur dengan 37 medali, Jawa Tengah 32 medali, Jawa Barat 32 medali, Banten 15 medali, Kalimantan Selatan 22 medali, DIY 15 medali, DKI Jakarta 2 medali, Riau 8 medali, Nusa Tenggara Barat 8 medali dan Nangroe Aceh Darussalam 5 medali. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 16 Agustus 2017

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo

Judul: Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar

Penulis: Andre Moller

Tahun terbit: September, 2005

Halaman: xi+309

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo

Penerbit: Nalar, Jakarta

Peresensi: Abu Khaer

Ribath Nurul Hidayah

‘Bapak Antropolog’ Indonesia, Koentjaraningrat, sebagaimana dikutip oleh Ceprudin (2010), pernah melukiskan mengenai kegiatan Ramadhan di Jawa dengan menyatakan “orang Jawa senang mencari kesusahan dan menderita ketaknyamanan dengan sengaja untuk tujuan agama.”

Ribath Nurul Hidayah

Dalam pandangan Guru Besar Antropologi salah satu universitas negeri tersebut, memandang bahwa kesusahan dan penderitaan menjalankan ‘adat’ religius bagi masyarakat Jawa, justru dipandang sebagai kesenangan pribadi, bahkan sebenarnya lebih tepat lagi jika ia mengatakan sebagai suatu kebahagiaan tersendiri, termasuk ketika menyambut, melaksanakan, dan meneruskan tradisi agung umat Islam, shaum Ramadhan. Istilah shiyam ataupun shaum, bukan ‘barang’ atau ‘wacana’ baru bagi orang Jawa. Terlepas dari perbedaan makna shiyam atau shaum dan puasa, orang Jawa lebih memilih istilah sendiri dengan menggunakan istilah wulan puasa.

Bagi umat Islam, tak terkecuali di Jawa, percaya bahwa dengan menahan lapar selama satu bulan, ia akan mendapatkan ridho Allah. bagi orang Jawa, puasa, tirakat, bertapa, sudah menjadi adat tradisi yang berlangsung  turun-temurun sejak nenek-moyang dulu. Salah satu contoh, bagaimana puasa telah mengakar dalam kehidupan orang Jawa seperti tercantum dalam Serat Wulang Reh, “Dadiyo lakunireku, cegah dhahar lawan guling, lan aja asukan-sukan, anganggowa sawatawis, ala watake wong suka, nyuda prayitnaning batin.” Orang Jawa sangat menjaga dan terus berusaha meningkatkan kualitas rohani. Seluruh nasihat dalam peribahasa Jawa yang ribuan itu pun, posisinya lebih sebagai ‘’fatwa rohani’’. Bukan rumus perhitungan untuk menyelesaikan persoalan praktis keduniawian, melainkan ajakan untuk menjalankan puasa dan tirakat setiap hari, sepanjang hayat. Jika direnungkan, makna dari cegah dhahar lawan guling, ana sethithik dipangan sethithik, ya jangane ya segane, adalah upaya untuk mengolah dan menata dunia batin manusia.

Puasa dan tirakat di Jawa memang berat, karena cenderung dilakukan setiap hari, setiap saat. Namun, seperti halnya orang yang telah terbiasa memikul beban berat, manakala benar-benar mendapat cobaan (beban kehidupan nyata) tentu akan lebih kokoh, tawakal, dan ikhlas menerimanya. Dengan demikian, beban hidup itu jadi terasa ringan.

Maka tidak mengherankan jika puasa yang dimaknai sebagai upaya pembersihan diri banyak diamalkan orang Jawa sebelum ajaran shiyam Ramadhan diperkenalkan oleh ajaran Islam. umat Islam di Jawa jauh-jauh hari menjelang bulan Ramadhan sudah melakukan ritus-ritus. biasanya diawali sejak bulan Ruwah atau roa (Syakban). Di bulan Ruwah, umat Islam menyibukkan dengan kegiatan atau pekerjaan yang memungkinkan diselesaikan (dipadatkan) pada bulan itu. Di Semarang ada Dugderan yang sangat terkenal dan erat kaitannya dengan Ramadhan di Jawa. Bahkan, dihampir seluruh wilayah pulau Jawa, terutama pedesaannya, pada pertengahan bulan roa, di malam harinya ramai-ramai mengadakan acara nisfu sya’banan, suatu ritus untuk berupaya semoga buku amal perbuatan manusia selama satu tahun di tutup dengan indeks prestasi ke-sholeh-an sebelum menghadapi ‘bulan panen’ amal kebajikan Ramadhan.

Lebih jauh lagi, seiring dengan perkembangan budaya Jawa aksesoris menjelang Ramadhan ada yang menggunakan secara simbol “politis”. Tujuan politis pada bulan Ramadhan dapat dipahami dalam konteks pemikiran yang menganggap Ramadhan sebagai sebuah “momentum”-nya umat Islam. Termasuk di dalamnya adalah kontroversi hisab-rukyat dalam menentukan satu syawal pun ikut mewarnai. Meskipun tidak terjadi kontras begitu serius.

Hal yang masih kontroversi dalam ritus menjelang Ramadhan yaitu nyekar. Nyekar adalah kegiatan berkunjung dan membersihkan makam-makam orang tua atau sanak saudara yang telah terlebih dahulu menghadap kehadirat Illahi biasanya dengan membawa bunga tujuh rupa (umba rampe) untuk ditaburkan di makam dan pembacaan do’a tahlil.  Pro-kontra ini terjadi antara Islam tradisional (pro) dan modernisme (kontra). Bagaimana pun juga umat Islam Jawa mayoritas percaya dan yakin terhadap nyekar sebagai bentuk lain dari perwujudan ziarah kubur, yang bertujuan ketika memasuki bulan Ramadhan diri dalam keadaan suci dan untuk ‘sekedar berusaha’ meringankan beban ukhrowi keluarganya yang telah wafat.

Memasuki bulan Ramadhan menurut orang Jawa harus benar-benar suci secara komprehensif, baik lahir maupun bathin. Dimulai dengan bebersih diri, beranjak sampai skup bebersih lingkungan, dimana ada tradisi bersih lingkungan. Di bulan Ramadhan, lingkungan harus bersih dari kotoran sampah dan juga dipahami bersih dari perbuatan amoral. Karena dianggap dalam bulan ramadhan lebih mengganggu aktifitas berpuasa.

Sebelum berpuasa, umat Islam pada malam hari disunnahkan untuk makan sahur. Alunan ‘musik’ ensambel perkakas dapur yang dimainkan anak-anak atau ta’mir mesjid yang mengumandangkan agar menyegerakan bersahur mengakibatkan suasana menjadi riang dan saling bergotong royong meski ala kadarnya menjadi semakin kuat, tak seperti malam-malam biasa. Pada siang harinya segala lapisan strata sosial, mulai anak-anak sampai dewasa, menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an (Tadarusan). Menjelang sore, sebagian ibu-ibu sibuk mempersiapkan menu untuk berbuka puasa, kaum remaja dan anak muda jalan-jalan sore (JJS) dengan berbagai ragam niatnya, dengan tertib menunggu waktu ifthor tiba.

Di malam hari selesai sholat Isya’ dilanjut dengan sholat tarawih. Sholat tarawih merupakan ritus paling penting sepanjang bulan Ramadhan. Dalam penentuan jumlah raka’at pun disini terjadi perbedaan antara Islam tradisional dan modernis. Meski akhir-akhir ini perdebatan itu sudah mulai mencair.

Malam-malam khusus yang diperingati pada bulan Ramadhan juga ikut meramaikan belantika wulan puasa Jawa. Di antaranya malam Lailatul Qodar dan Nuzulul Qur’an. Bisanya diisi dengan pengajian-pengajian yang berkaitan dengan turunnya al-Qur’an. Umat Islam dan Orang Jawa khususnya, percaya bahwa malam itu penuh dengan berkah dan kemuliaan dibanding dengan seribu bulan.

Ritus yang tidak kalah penting menurut orang Jawa yaitu I’tikaf. I’tikaf tidak begitu populer, biasanya kegiatan i’tikaf dilakukan pada hari-hari ganjil sepuluh hari akhir bulan Ramadhan. Ritus ini sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad sebagai sarana untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah.

Pada hari terakhir menjelang bergantinya bulan Ramadhan ke bulan Syawal (Idul Fitri) untuk menyempurnakan ibadah puasanya umat islam diwajibkan untuk berzakat fitrah (kesucian). Datangnya hari raya Idul Fitri itu diakhiri dengan berbuka puasa hari terakhir bulan Ramadhan dengan ditandai pemukulan beduk di musholla dan masjid setelah ada pengumuman resmi dari Pemerintah.

Pada malam hari ini umat muslim merayakan dengan sangat meriah. Paling banyak dilakukan adalah Takbiran. Ada yang melakukannya dengan sambil keliling kampung dengan menggemakan koor Takbir dengan berulang-ulang sambil membawa lampu ‘oncor’ yang terbuat dari bambu. Tua, muda, perempuan, laki-laki tumpah-ruah sama-sama memeriahkan malam hari ‘kemenangan’ Hari Raya Idul Fitri ini. Pagi harinya umat muslim berbondong-bondong menuju ke mesjid untuk melaksanakan Shalat Id. Tepatnya hari ini tanggal 1 syawal.

Selesai Sholat Id, umat Islam Jawa bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Tujuannya agar dosa sesama manusia selama berinteraksi pada hari itu bisa diampuni Allah. Setelah merasa lega dan puas bermaaf-maafan serta silaturahmi pada hari itu juga dilanjutkan dengan kumpul bareng keluarga sambil menyantap opor ayam dan ketupat bersama-sama keluarga. Acara Hari kemenangan lumrahnya diakhiri dengan kembali nyekar ke pekuburan keluarga. Nyekar disini substansinya sama dengan nyekar menjelang Ramadhan. Hanya bedanya ini dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan tentunya dengan busana pakaian yang baru dibeli.

Demikian gambaran Ramadhan berikut dengan aksesoris ritus yang dilakukan orang Jawa. Meskipun dari sisi materiil orang Jawa harus menyediakan lebih dibanding bulan biasanya, tapi semua itu tertutupi dengan senangnya kedatangan bulan suci Ramadhan.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karya penulis Swedia, Andre Moller ini menarik untuk kita renungkan terutama dalam momen-momen Ramadhan. Buku ini tidak melihat puasa semata-mata dari aspek teologis-normatif, tetapi lebih dari itu, pelaksanaan ibadah puasa dalam buku ini dilihat dari aspek aksesoris yang mengitarinya dan membuat ramadhan menjadi lebih meriah dari bulan-bulan lainnya.

*Koordinator social Karang Taruna PelitaIndonesia Banyuputih Wringin Bondowoso Jatim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU Ribath Nurul Hidayah

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik

Waykanan, Ribath Nurul Hidayah. Pada diklatsar dan PKD di Blambangan Umpu, Selasa (25/4), Gerakan Pemuda Ansor Waykanan menandatangani sembilan sikapnya menghadapi pemilu April mendatang. Sembilan poin ini menjadi pedoman politik kader GP Ansor dan Banser Waykanan.

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik

Dalam Sembilan poin itu, GP Ansor Waykanan menyatakan, memegang teguh Khittah NU 1926, mengajak warga menciptakan perdamaian, mengawal dan mewujudkan Pemilu damai 2014, ? menjamin kebebasan hak asasi setiap anggota untuk menggunakan hak pilih sesuai kehendak hati, tidak memihak calon atau partai peserta Pemilu 2014.

Kecuali itu, GP Ansor Waykanan mengimbau kader dan warga menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2014, mengharapkan kadernya untuk menjadi pemilih cerdas, memilih caleg berdasarkan rekam jejak dan kapasitasnya, mengimbau warga menjaga persatuan, kesatuan dan keutuhan NKRI, dan mengimbau kader dan warga menolak politik uang demi menciptakan Pemilu 2014 yang bersih.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PC GP Ansor Waykanan mengatakan, “GP Ansor sebagai elemen kepemudaan perlu terlibat konkret dalam Pemilu ini, sebagai bagian pengawalan jalannya demokrasi di NKRI.”

Ribath Nurul Hidayah

Sembilan sikap ini merupakan nota kesepahaman antara GP Ansor dan KPU Waykanan di pesantren Roudhotul Mutaqin. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Pendidikan, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 15 Agustus 2017

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Kairo, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir dikunjungi antropolog asal Jerman, Prof. Dr. Judith Schlehe di Kairo, Selasa malam (15/12). Kunjungannya dalam rangka meneliti dinamika warga negara Indonesia di negeri tersebut.

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Guru Besar Universitas Freiburg hadir didampingi asistennya, Faridah Ulfa. Turut serta Ahmad Ginanjar Syaban selaku Wakil Homestaff KBRI. Mereka disambut pengurus harian, dan sejumlah nahdliyyin di Mesir.

Sebelum memulai dialog, profesor yang lancar berbahasa Indonesia ini mengucapkan terima kasih atas keramahan dan bantuan teman-teman Indonesia. Sehingga selama di Mesir ia mendapat kemudahan mendapat akses dan data untuk bahan penelitiannya.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah Ketua Tanfidziyah Nurul Ahsan memaparkan struktur organisasi dan kegiatannya, Bu Judith, begitu rekan-rekan NU Mesir memanggilnya, menyampaikan kekagumannya terhadap NU.

Ia sangat mengapresiasi peran NU dalam membangkitkan dinamika pemikiran dan mengakomodasi kebutuhan organisasi anggotanya yang beragam. Tercatat lebih dari 7 lembaga yang ada di bawah PCINU Mesir, masing-masing memilki fokus pada bidang tertentu, semisal; kajian filsafat dan pemikiran, budaya, seni, turats Islam, fatwa, jelajah sejarah, sampai media dan jurnalistik (cetak/online).

Ribath Nurul Hidayah

Hal ini, kata dia,? tentunya akan berdampak positif dan memberi warna tersendiri bagi mahasiswa dan dinamikanya.

Dialog berlangsung dengan sistem dua arah dan dibuat sesantai mungkin hingga setiap orang bisa menjadi pembicara maupun pendengar. Dr. Judith memulai percakapan dengan mengajukan beberapa pertanyaan perihal motif belajar di Mesir, hubungan WNI dengan orang Mesir, serta hubungan ulama Indonesia dengan syeikh-syeikh di Mesir. Pada kesempatan itu, setiap peserta yang hadir memberikan opini maupun pengalaman pribadinya.

Semua peserta tampak semakin antusias tatkala pengarang buku berjudul Religion, Tradition and The Popular mengajukan pertanyaan-klarifikasi tentang Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) yang dianggap eksklusif di mata Atase Pendidikan dan KBRI. Pernyataan tersebut langsung disanggah oleh salah satu peserta yang mengungkapkan bahwa pihak KBRI sendirilah yang sebenarnya belum bergaul dengan Masisir.

Pengajar di Institut für Völkerkunde Freiburg ini juga membagikan pengalamannya saat meneliti di Indonesia, termasuk bagaimana ia dan beberapa dosen UGM memprakarsai kerjasama antar dua perguruan tinggi dalam bidang Antropologi. Ia juga bercerita tentang pengalamannya saat meneliti dan mempelajari mitos Nyai Roro Kidul di pantai selatan maupun mitos lainnya di pulau Jawa.

Ada satu pengalaman yang sangat menarik bagi Dr. Judith, yaitu saat ia meneliti prosesi budaya kirab di Yogyakarta.

"Ketika acara kirab berlangsung ada salah satu ormas setempat yang tidak menyetujui acara tersebut. Bagi organisasi keagamaan ini, acara tersebut tidak ada dalam Islam," katanya mengawali cerita.

Ia menyampaikan bahwa yang membuatnya kagum adalah ketika abdi-dalem keraton bisa meyakinkan ormas tersebut agar menerima kirab tanpa meninggalkan konflik berlarut.

"Abdi-dalem mengatakan bahwa ini bukan untuk prosesi agama, melainkan hanya sebagai pertunjukan budaya dan penarik turis belaka. Acara ini lantas mendapat dukungan dari ormas tersebut dan berlanjut setiap tahun," ucapnya.

Penggagas program pertukaran antropolog Indonesia-Jerman sejak tahun 2004 ini juga menambahkan bahwa hal menarik menjadi antropolog saat penelitian adalah ketika kita bisa menemukan dan memahami sudut pandang tertentu yang tidak dimiliki penduduk lokal.

Di akhir dialog, Dr. Judith menyampaikan harapannya untuk Indonesia. Setelah meneliti Indonesia dan masyarakatnya, ia menemukan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang berpotensi menjadi negara maju.

Apalagi di matanya, Indonesia adalah negara mayoritas muslim yang sukses menjodohkan antara Islam dan Demokrasi. Ia juga berharap, bahwa sentralisasi urusan dunia ke satu negara harus dihentikan dan berganti menjadi desentralisasi, semisal China sebagai contoh ekonomi, Jerman sebagai pusat teknologi, Indonesia sebagai contoh perjodohan Islam dan demokrasi, maupun pusat lainnya.

Bu Judith memberi nasehat penutup pada rekan PCINU Mesir untuk segera pulang apabila telah selesai belajar di luar negeri dan segera ikutserta membangun Indonesia dari dalam. Perbincangan ditutup dengan pertukaran cendera mata. [Miftah Wibowo/Mhd/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Pelajar NU di Banyuwangi Digembleng soal Kepemimpinan

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah

Para pelajar NU di Kabupaten Banyuwangi mendapat pendidikan kepemimpinan. Mereka dibimbing untuk memiliki karakter sebagai pemimpin masa depan.

Pelajar NU di Banyuwangi Digembleng soal Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Banyuwangi Digembleng soal Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Banyuwangi Digembleng soal Kepemimpinan

Seperti yang dilakukan Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) SMK Al-Azhar, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, menggelar pelatihan yang bertajuk Leadership Camp, Rabu (14/12) pagi.

Diikuti puluhan siswa, pemateri kegiatan tersebut diisi oleh beberapa pengurus Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Banyuwangi, salah satunya Wisnu Murti. Ia menjelaskan, kepemimpinan yang patut dicontoh adalah kepemimpinan dari revolusioner dunia, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Ribath Nurul Hidayah

"Sifat-sifat kepemimpinan beliau merupakan suri tauladan bagi kita semua. Jadi tidak ada yang bisa menggantikan beliau," katanya.

Di hari yang sama puluhan siswa SMA Bhakti Negara Kecamatan Purwoharjo mengikuti Diklat Pelajar yang dihelat oleh IPNU-IPPNU Purwoharjo di sekolah setempat. Upacara pembukaan dipimpin langsung oleh Ketua IPNU Purwoharjo, Moh. Nur Fatah.

Ribath Nurul Hidayah

Kepala Sekolah SMA Bhakti Negara Kecamatan Purwoharjo Hj. Istianah menegaskan, kepemimpinan sangat perlu dipelajari oleh anak-anak di bangku sekolah menengah. "Semoga Diklat Pelajar dapat mencetak pelajar-pelajar berjiwa pemimpin yang baik." harapnya sebelum membuka Diklat Pelajar

Diklat Pelajar yang berlangsung sehari semalam tersebut tidak hanya menyajikan materi di dalam ruangan, namun juga praktik di lapangan, seperti Peraturan Baris-Berbaris (PBB), Out Bond, dan pentas seni di malam harinya. (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 10 Agustus 2017

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Malang, Ribath Nurul Hidayah - Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Malang, KH Marzuki Mustamar menyampaikan, calon bayi yang dikandung oleh ibu dari sang ayah tentu akan berbeda kualitasnya dengan orang tuanya. Karena itu jangan sampai para orang tua mengurangi kualitas calon bayi tersebut.

“Agar kualitasnya tidak berkurang, marilah kita menjaga makanan kita dari hal-hal yang syubhat apalagi haram. Bibit yang bagus dengan perawatan yang baik insyaallah akan menjadi baik,” demikian disampaikan KH Marzuki Mustamar dalam satu acara resepsi pernikahan Agus Habibullah dan Ning Aminah di Malang, Ahad (28/2) kemarin.

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur itu melanjutkan taushiyahnya. Setelah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, para calon orang tua juga harus memilih “bibit” yang baik atau pasangan yang baik agar kebaikan itu bisa menjadi penuh seutuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Lalu setelah anak terlahir ke dunia, para orang tua harus menyiapkan lingkungan yang baik untuk menjadi tempat berkembangnya akhlak.

Ribath Nurul Hidayah

Salah satu cara menyiapkan lingkungan yang baik yang disarankan oleh KH Marzuki adalah memondokkan atau memasukkan anak ke pondok pesantren. Di pondok pesantren, anak-anak akan berada di lingkungan yang paling baik.

“Di sana seorang anak akan dididik dengan guru-guru yang ikhlas dan tanpa pamrih. Semuanya juga muslim dan shalih,” demikian KH Marzuki Musytamar. (Abu Husam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 09 Agustus 2017

Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menilai, pemerintah bersikap plin-plan atau inkonsistensi dalam masalah dukungan atas resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) 1747 terhadap Iran.

"Kami prihatin, karena pemerintah plin-plan dengan memberikan dukungan kepada PBB untuk memberikan sanksi ekonomi terhadap Iran yang dianggap mengembangkan uranium," ujarnya saat berbicara pada pembukaan Hari Lahir (Harlah) ke-61 Muslimat NU di Surabaya, Jumat (6/4).

Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran

Ia menjelaskan, sikap plin-plan Indonesia itu sangat berbahaya, karena akan menurunkan kepercayaan negara lain terhadap Indonesia.

"Pemerintah dapat dikatakan plin-plan atau inkonsistensi, karena saat Presiden Iran dan Ketua MA Iran datang ke Indonesia dengan menemui presiden dan sejumlah pemimpin informal untuk menjelaskan program nuklir di Iran guna tujuan damai justru mendapatkan dukungan dari pemerintah," ujarnya menegaskan.

Namun, anggota Fraksi Kebangsaan Bangsa (FKB) DPR RI itu, hanya dalam kurun satu hungga dua bulan justru muncul dukungan Indonesia terhadap Resolusi 1747 dari DK-PBB untuk memberikan sanksi kepada Iran atas pengembangan nuklirnya.

Khofifah mengatakan, pandangan Muslimat NU terhadap Iran itu sudah menjadi kesepakatan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat NU se-Indonesia pada Maret 2007.

Ribath Nurul Hidayah

"Dalam Rapimnas Muslimat NU se-Indonesia itu, kami menyikapi masalah nuklir Iran dan resolusi DK-PBB, desakan pengesahan RUU APP, dan desakan perlunya badan khusus dalam menangani luapan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo," katanya menambahkan. (ant/sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Berita, Habib Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah