Sabtu, 15 Maret 2014

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Beberapa syarat sahnya shalat diantaranya adalah memakai pakaian yang suci dari najis, menghadap ke kiblat dan tempat yang suci, boleh saja seseorang menjalankan shalat ditempat manapun asalkan tempat tersebut suci dari najis, entah di rumah, di sekolahan, apartemen, kos-kosan dan lain-lain.

Tetapi ada beberapa tempat yang dikecualikan untuk tidak menjalankan shalat ditempat tersebut, sebagaimana yang telah di nash dalam sebuah hadits riwayat dari Ibnu Umar,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) kabah.

Tujuh Tempat Dilarang Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Tempat Dilarang Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Larangan shalat di tujuh tempat ini tentunya memerlukan alasan, bagaimana tempat-tempat tersebut mendapat larangan dari syara, Pertama adalah larangan shalat ditempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi dan kandang unta dikarenakan terdapat banyak najisnya; seperti kotoran-kotoran, darah, tempat berkumpulnya para setan yang bisa mengganggu kekhusyuan dalam shalat dan lain-lain, sehingga tempat tersebut terkena najis dan menjadi tidak suci. Kedua adalah larangan shalat ditengah-tengah jalan yang dilalui oleh orang, karena bisa mempersempit jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat. Ketiga larangan shalat di kuburan agar terhindar dari penyembahan terhadap kuburan. Keempat larangan shalat diatas kabah, karena tidak dapat menghadap ke kiblat, akan tetapi hanya menghadap sebagiannya saja, karena sebagian yang lain berada dibelakang punggungnya. Seperti penjelasan dalam kitab subulussalam,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Dikatakan bahwa larangan shalat dikuburan, tempat penyembelihan, tempat pembuangan sampah dan kamar mandi adalah dikarenakan terdapat najis, untuk shalat ditengah-tengah jalan karena disitu terdapat hak-hak orang lain(pejalan), maka tidak sah shalat ditempat tersebut, entah jalan itu luas maupun sempit Karen keumuman hadits, untuk kandan unta dikarenakan itu adalah tempat berkumpulnya setan, sedangkan untuk shalat diatas kabah dikarenakan tidak terpenuhinya menghadapat kiblat.

Demikian tempat-tempat yang dilarang untuk shalat. (Penulis: Fuad H Basya/ Redaktur: Ulil H).

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 14 Maret 2014

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan

Menado, Ribath Nurul Hidayah. Pujian dan apresiasi tentang keberhasilan kerukunan yang datang dari berbagai pihak, tidak boleh membuat Indonesia terlena, tetapi harus tetap mawas diri, karena kerukunan umat beragama bukan merupakan sesuatu yang stagnan dan final, kata Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Prof. Dr. H. Achmad Gunaryo, M.Soc.Sc.

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan

Gunaryo menyatakan hal itu di hadapan para pejabat Kementerian Agama se-Indonesia pada rapat Optimalisasi Program Kerja PKUB dan Kantor Wilayah Kementerian Agama seluruh Indonesia di Manado beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, kerukunan terus mengalami perubahan, kadang sangat sederhana tetapi pada kondisi tertentu sangat kompleks terkait dengan berbagai dinamika kehidupan sosial yang berkembang. Kepekaan terhadap dinamika kehidupan sosial masyarakat terkait kerukunan tersebut yang harus dimiliki oleh kita semua yang memiliki kepedulian dalam menjaga dan melestarikan kerukunan.

Ribath Nurul Hidayah

Tantangan terhadap kerukunan ternyata tidak semakin berkurang seiring dengan kondusifnya suasana kerukunan itu sendiri, melainkan justru makin bertambah. Selain permasalahan seputar rumah ibadat, penyiaran agama, penodaan agama.

Ribath Nurul Hidayah

"Secara nyata kita dapat menyaksikan merebaknya berbagai paham keagamaan yang keluar dari arus pemahaman arus utama yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap wajah kerukunan. Pada titik tertentu kondisi ini tidak menimbulkan masalah," ia menjelaskan.

Tetapi, ia melanjutkan, manakala ekspresi keagamaanya berbenturan dengan sistem dan paham keagamaan mainstream secara tajam baru akan menimbulkan permasalahan. Ekspresi keagamaan terbaru yang keluar dari arus utama setidaknya dapat digolongkan dalam dua kutub ekstrem, kutub pertama dikenal dengan kutub radikalisme dan kutub kedua adalah liberalisme.

Kutub radikal ditandai dengan berbagai sikap fanatisme, dan yang paling berat adalah kelompok yang selalu mengatakan bahwa di luar dirinya adalah salah secara mutlak. Ekspresi yang berlebihan dari sikap ini dapat berpotensi mengganggu kerukunan.

Kutub ekstrem lain dikenal dengan sebutan paham keagamaan liberal.

Corak keagamaan liberal pada dasarnya sangat menghargai kerukunan dan multikulturalisme tetapi terjerumus pada sekulerisme, inklusifisme, dan pluralisme agama tanpa kendali yang jelas, katanya.

Sementara sekulerisme dipahami dengan menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia maupun negara. Inklusifisme dipahamai secara sangat ekstrem dengan menganggap agama kita dan agama orang lain itu posisinya sama, saling mengisi, mungkin agama kita salah, agama lain benar. Tidak boleh mengakui bahwa agama kita saja yang benar," tuturnya.

Lebih-lebih lagi, ia mengatakan, faham pluralisme dipahami dengan menganggap semua agama itu sejajar, paralel, prinsipnya sama, hanya beda teknis. Hal yang harus diwaspadai dalam corak keagamaan liberal ini adalah rusaknya nilai-nilai akidah dan sakralitas dari agama itu sendiri.

"Yang ingin kita tuju adalah kerukunan yang tidak perlu mengorbankan akidah dan kemurnian masing-masing agama," ujarnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber ? : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 Maret 2014

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2)

Ketokohan KH Abdul Wahid Hasyim tentu sulit diingkari. Dalam usia 21 tahun, Wahid? muda sudah membuat terobosan-terobosan cemerlang di dunia pendidikan, utamanya pesantren.

Ketika bergabung di Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), usianya baru genap 25 tahun. Namun setahun kemudian, Wahid justru mengetuai federasi organisasi massa dan partai Islam ini.

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2)

Karir perjuangannya menanjak cepat. Wahid turut memimpin PBNU, menjadi anggota BPUPKI, dan akhirnya ditunjuk sebagai menteri agama. Artinya, selain berjihad menumpas kaum penjajah, Wahid terlibat aktif dalam segenap tahapan paling menentukan dalam proses pendirian negara.

Masa-masa hidup Wahid hampir dihabiskan seluruhnya dengan penuh manfaat. Ulama dan tokoh nasional ini tutup usia pada 19 April 1953, sebelum ulang tahunnya yang ke-38 diperingati. Berikut ini adalah sejumlah syair inspiratif pegangannya, yang sarat pesan perjuangan, kerja keras, penghargaan atas waktu, cita-cita, serta keinsafan tentang dinamika hidup.

?

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Jangan remehkan siasat sesuatu yang (tampak) lemah. Terkadang, ular ganas mati oleh racun kalajengking. Ternyata, burung Hudhud sanggup menumbangkan singgasana ratu Bulqis, dan liang tikus mampu meruntuhkan bangunan kokoh.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ??

Sudah menjadi tabiat waktu, membahagiakan satu pihak akan menyedihkan pihak lainnya.

?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? # ? ? ? ?


Begitulah waktu menentukan takdir untuk penghuninya (manusia). Musibah bagi sekelompok orang adalah keberuntungan bagi kelompok lain. Aku sudah mafhum dengan kelakuan zaman yang sekilas ini: keburukannya merupakan kritik, sedangkan kebaikannya hanyalah janji.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Ketika debu kavaleri berhamburan, aku justru menghirup keharuman yang melampaui wangi kemenyan. Semir mata pedang dan gelas-gelas di meja rapatku pun menjelma tengkorak para pembesar (musuh) yang rakus kejayaan.

?

? ? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ? ?


Semoga Allah melimpahkan kebaikan pada setiap manusia yang belum saling sayang dan saling kenal. Tak pernah aku mengeluh dan diterpa kesulitan kecuali dari orang yang sudah aku kenal.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?
. Saat bunda melahirkanmu, engkau menangis, sementara orang-orang sekeliling menyambutmu dengan tawa gembira. Berjuanglah, hingga saat mautmu tiba, mereka manangis, sementara engkau tertawa ria.

?

?

Mahbib Khoiron

Dikutip dan diterjemah ulang dari

KH A Wahid Hasjim, Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama, Bandung: Mizan, 2011

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 02 Maret 2014

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah. Pasangan suami istri Riski (50) dan Fatima (40) bersyukur cita-citanya melaksanakan ibada umroh telah tercapai. Pasangan tersebut melaksanakan ibadah itu dengan ongkos hasil dari berjualan es degan dan bakso yang telah mereka jalani selama 15 tahun.

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Pasutri itu berangkat umroh 6 Desember dari Jember. Menurut Riski, ibadah tersebut ditempuh selama 20 hari, di Madinah 5 hari dan di Mekkah selama 15 hari.

“Saya tidak punya gaji bulanan, bukan pegawai negeri. Tidak punya juga apa yang mau dijual. Jadi, hasil jualan ini saya tabung," ujar pria lulusan SMP itu kepada Ribath Nurul Hidayah di tempat bekerjanya, sebuah warung di pinggir jalan di Desa Lojejer, Selasa (10/1), ketika ditanya ongkos keberangkatan.

Ribath Nurul Hidayah

Bapak dua anak ini menambahkan, awalnya ia mempunyai uang 5 juta untuk membuka tabungan dia dan istrinya.

“Saya buka rekening di bank. Saya menabung tidak setiap hari. Saya kumpulkan dulu selama beberapa hari. Empat hari atau lima hari, saya tabungkan ke bank BRI Cabang Tenggarang dekat pasar itu sebesar 500 ribu atau 700 ribu itu untuk dua orang," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Warga Desa Kajar Rt 4 Rw 1 Kecamatan Tenggarang itu mengaku menjual satu es degan seharga 6 ribu rupiah. Sementara bakso per mangkok 5 ribu rupiah.

Ketika musim panas, lanjutnya, es degan laris manis. Sehari ia bisa menjual 100 -125 butir dengan harga sama, 6 ribu. Sementara ia membeli kelapa tersebut seharga 2 ribu per butir.

"Semua itu niat hati, insyaallah bisa berangkat (umroh, red.). Ini buktinya saya bisa berangkat umroh," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 28 Februari 2014

Pesantren Terus Benahi Manajemen Pendidikan

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah - A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin meminta pengasuh pesantren dan madrasah diniyah (madin) untuk membenahi manajemen pendidikannya. Tetapi manajemen itu harus disesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini.

Hal itu disampaikan A’wan PWNU Jawa Timur saat menghadiri sahur bersama yang digelar RMI Probolinggo dengan pengasuh pesantren dan madin se-Kabupaten Probolinggo di kediaman Farid Wajdi Desa Kerpangan Kecamatan Leces, Jum’at (24/6) dini hari.

Pesantren Terus Benahi Manajemen Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Terus Benahi Manajemen Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Terus Benahi Manajemen Pendidikan

“Tuntutan zaman saat ini bukan lagi kuantitas, tetapi juga kualitas. Bukan lagi zamannya banyak-banyakan santri. Orang tua saat ini melihat kesungguhan dari pengasuh benar-benar mengasuh apa tidak. Minimal pengasuh itu mengimami karena pergeseran zaman barokah itu dilogikakan oleh pergeseran zaman,” katanya.

Menurut Hasan, pengasuh pesantren dan madin ini harus terus melangkah dengan keberanian. Apalagi saat ini pesantren menjadi pilihan orang tua. ”Marilah berlomba-lomba membenahi manajemen dan kualitas pesantren. Santri ini tidak akan mungkin tidak ada, pasti ada. Bagaimana anak ini tidak keluar daerah, pengasuh harus mencari model dan pola yang beda dengan tetangganya sehingga orang tua melihat potret pesantren menuju kualitas dan mendidik anak di zamannya,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal yang sama juga harus dilakukan pada madin jelas Hasan. Kalau manajemennya baik pasti orang tua siapapun mau infaq setiap bulan. “Orang tua saat ini tidak mencari sekolah yang gratis tetapi yang mahal. Sebab mereka yakin anaknya bisa diajari oleh pengasuh dan gurunya secara langsung. Intinya, bagaimana manajemen madin ini dibenahi kekinian bukan saat dulu,” pungkasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sahur bersama ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin Al-Hariri, Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi beserta segenap pengurus lembaga dan badan otonom serta Ketua MWCNU se-PCNU Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 11 Januari 2014

Terbentuk, Pengurus Wilayah Pelajar Putri Bali

Denpasar, Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU ) dan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Provinsi Bali mengadakan sosialisasi dan pembentukan pengurus Pimpinan Wilayah Bali periode 2017-2019.

Kegiatan yang berlangsung di Aula kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali, Jl. Pura Demak ll, Denpasar Bali, Ahad (05/11), dihadiri perwakilan Pimpinan Pusat IPPNU dan IPNU, Ketua PWNU IPPNU Bali, Ketua PC IPPNU Denpasar, Badung, Karangasem, serta puluhan pelajar Lembaga Maarif.

Terbentuk, Pengurus Wilayah Pelajar Putri Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbentuk, Pengurus Wilayah Pelajar Putri Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbentuk, Pengurus Wilayah Pelajar Putri Bali

Pembentukan pengurus IPNU dan IPPNU Wilayah Bali ini dipandu oleh perwakilan Pimpinan Pusat IPPNU, Rosiana Fitri; dan IPNU, Usman Hasyim, dilakukan secara terpisah.

Ketua Umum IPPNU Puti Hasni menyampaikan selamat dan sukses atas pembentukan PW IPNU dan PW IPPNU Bali. Ia berharap setelah dibentuk, akan menambah semangat untuk ber-IPPNU di Bali.

"Jadilah pengurus yang bisa menjadi teladan bagi kader dan calon kader. Teladan itu tentu saja dari aktivitas kader, keaktifannya, militansinya, loyalitasnya, penguatan kaderisasinya di pesantren, sekolah Maarif, sekolah Islam di Bali, serta kaderisasi dan membuka komisariat-komisariat baru di sekolah-sekolah tersebut," urai Puti.

Ribath Nurul Hidayah

Puti menjelaskan, tugas utama sebagai pengurus IPNU dan IPPNU adalah kaderisasi, yaitu khidmah atau melayani pelajar nusantara untuk mengenal NU dan nilai-nilainya, juga mengenalkan IPNU dan IPPNU sebagai badan otonom NU.

"Rekan dan Rekanita di sini pasti mampu berperan aktif sebagai kader IPNU dan IPPNU yang handal dan ikut memperjuangkan nilai-nilai Nahdlatul Ulama," kata dia.

Kaderisasi IPNU dan IPPNU di Bali tentu punya cara, teknik, dan metode tersendiri dibanding di daerah lain.?

“Silahkan melakukan kaderisasi sekreatif dan sefleksibel mungkin agar banom pelajar NU ini dapat diterima, dikenal, dan menjadi rahmat bagi masyarakat Bali secara umum, terutama bagi para pelajarnya," pungkasnya. (Anty Husnawati/Kendi Setiawan)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 04 Januari 2014

Buku “Muhammadiyah Itu NU!” Dibedah di Yogya

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Buku “Muhammadiyah Itu NU!” dibedah di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (05/06).

Hadir sebagai pembicara, Mochammad Ali Shodiqin, yang merupakan penulis buku; Kiai Muzammil, mewakili tokoh NU Yogyakarta; dan Wawan Gunawan Abdul Wahid, mewakili PP Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta.

Buku “Muhammadiyah Itu NU!” Dibedah di Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku “Muhammadiyah Itu NU!” Dibedah di Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku “Muhammadiyah Itu NU!” Dibedah di Yogya

Mochammad Ali Shodiqin selaku penulis terlebih dahulu mengungkapkan alasan mengapa judul buku yang ditulisnya bukan NU Itu Muhammadiyah. “Awalnya dulu memang sempat mau diberi judul itu oleh penerbit, namun ternyata di buku ini ditemukan bahwa yang berubah adalah Muhammadiyah, bukan NU. Makanya judulnya seperti itu,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia lalu menyampaikan bahwa perubahan di tubuh Muhammadiyah mulai terjadi sepeninggal pendirinya, KH Ahmad Dahlan, sampai sekarang.  

Pembicara kedua, Kiai Muzammil, mengimbau bahwa orang Muhammadiyah jangan terpancing dengan judul buku tersebut. Karena, penulis dalam hal ini hanya ingin merobohkan ‘tembok’ yang selama ini membelah NU dan Muhammadiyah.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya akan kondisi umat Islam sekarang yang lebih menonjolkan atribut. “Kalau kita memang bersaudara jangan menonjolkan atribut. Seakan Islam itu sekarang tenggelam dalam atribut NU dan Muhammadiyah,” kata Pengasuh Pesantren Rohmatul Umam, Kretek, Bantul ini.

“Persatuan umat ini sangat mahal, harus diperjuangkan,” tambah Kiai Muzammil.

Sementara itu, Wawan Gunawan Abdul Wahid memberikan kritik bahwa jika memang buku tersebut merupakan karya ilmiah, referensinya harus diperjelas. Karena ia menilai masih banyak referensi yang tidak jelas di buku tersebut.

“Misalkan buku ini skripsi, saya akan susah memberikan nilai mumtaz, tapi saya akan memberikan nilai maqbul,” ungkap Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga siang itu.

Diskusi dan Bedah Buku tersebut juga dihadiri oleh KH Tholhah Abdurrahman, Mustasyar PWNU DIY sekaligus Ketua MUI DIY. (Dwi Khoirotun Nisa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Nahdlatul, Santri Ribath Nurul Hidayah