Rabu, 06 Desember 2017

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah

Sekilas tak ada yang istimewa dari pemuda ini. Pria asal Makassar yang hijrah ke Mamuju pada tahun 2008 karena ikut tinggal di rumah sang istri. Ia menjalani rutinitas sebagai petani coklat, guru ngaji, dan kini memimpin Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Yang membuatnya tak biasa adalah kepekaannya menangkap keadaan lingkungan barunya di Dusun Salukue, Desa Kolanding, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Ketika para remaja usia SMP di daerah lain tiap pagi mengalungkan tas menuju sekolah, kebanyakan anak di kampung itu justru sibuk bermain, sekadar diam di rumah, atau ikut orangtua bekerja di perkebunan atau lainnya.

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah

Selain masih minimnya kesadaran warga tentang pentingnya pendidikan, keadaan lah yang memaksa putra-putri mereka malas melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.? Kendala ada pada infrastruktur dan sarana prasarana di kecamatan setempat yang tergolong rendah. Jarak menuju sekolah belasan kilometer, jumlah kendaraan umum sangat terbatas, sementara sekolah jejang menengah pertama di kampung sendiri belum tersedia. Kawasan pelosok membuat akses pendidikan dan interaksi dengan dunia luar menjadi serbarepot.

Ribath Nurul Hidayah

Apalagi persoalan ekonomi ikut menjadi faktor. Mayoritas penduduk mengandalkan penghasilan sehari-hari dari hasil pertanian coklat di perkebunan dan padi di sawah. Ada juga beberapa yang menjalani profesi sebagai buruh tani, dan profesi pelayanan jasa lainnya. Kebanyakan para petani itu berpikir akan lebih “masuk akal” bila anak-anak ikut membantu pekerjaan orang tua di kebun atau sawah ketimbang berseragam sekolah, lalu menyusuri jalan menuju kecamatan yang melelahkan. Lagi pula tak setiap penduduk Kolanding berekonomi mapan. Bantuan sang anak akan menjadi energi tambahan dalam meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Di mata Zahril, nama pemuda itu, kondisi ini tak bisa dibiarkan berlarut. Hanya butuh setahun sebagai warga pendatang di Dusun Salukue, ia lantas mendirikan madrasah tsanawiyah dengan segenap rintangan dan keterbatasan. Ia rangkul tokoh dan masyarakat setempat, dan mengajaknya bersama-sama memikirkan masa depan pendidikan anak-anak desa.

Cita-citanya mendirikan MTs mendapat sambutan antusias. Zahril beruntung sudah mengawali tinggal di desa mertuanya tersebut dengan mengajar ngaji. Artinya, kepercayaan warga akan perjuangan Zahril di sektor pendidikan sedikit banyak sudah muncul. Atas dasar semangat gotong-royong, warga pun membangun madrasah itu dari kayu yang mereka kumpulkan. Tak lupa, rumah untuk Zahril turut mereka bangunkan dengan suka rela.

Ribath Nurul Hidayah

Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) dan Madrasah Diniyah yang sudah ia rintis pun akhirnya berkembang. Keguyuban warga dan mulai tumbuhnya kesadaran mereka akan pendidikan bagi generasi berikutnya membuat Desa Kolanding kini memiliki madrasah baru. Sekolah yang kemudian disepakati bernama Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Nahdlatul Ulama itu menjadi “pelepas dahaga” bagi anak-anak yang dilanda langkanya lembaga pendidikan di daerah pedalaman. Tak ada masalah sekolah masih beralaskan tanah dan berdinding papan.

Awal pendirian MTs Maarif NU diisi hanya oleh dua guru, Zahril dan istrinya; sementara sekarang telah bertambah menjadi enam orang. Meski cuma dua pendidik, periode awal relatif bisa diatasi karena jumlah murid saat itu sembilan orang. Kini MTs Maarif NU Kolanding memiliki 42 siswa, dan telah mewisuda beberapa siswa. Selain dari Desa Kolanding, para murid berasal dari Desa Tanambuah, Desa Tembes, dan Desa Pantaraan. Hanya Zahril dan istrinya guru yang berasal dari Kolanding, sementara sisanya dari desa-desa tetangga.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Nahdlatul Ulama diselenggarakan tanpa membebani peserta didik dengan biaya alias gratis. Biaya operasional disangga dari hasil patungan warga dan para dermawan, serta zakat pertanian. Zahril mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah.

Pada 2012, MTs Maarif Nahdlatul Ulama genap berusia tiga tahun. Siswa angkatan pertama yang berjumlah sembilan orang pun wisuda. Sebagai sebuah kesinambungan pembelajaran, Zahril menyusulnya dengan mendirikan Madrasah Aliyah Maarif Nahdlatul Ulama. Bagi Zahril, tak memberikan wadah pendidikan aliyah bagi para lulusan tersebut sama saja membiarkan mereka kembali putus sekolah. Sekarang total siswa MA Maarif NU Kolanding ada 22 anak dari berbagai desa dan latar belakang ekonomi. Tahun ini MA Maarif NU meluluskan angkatan pertama.

Zahril yang perah belajar di Pondok Pesantren Madinah Makassar selama tiga tahun mewarnai sistem pembelajaran di MTs dan MA yang ia dirikan dengan tradisi akademik dan kultur pesantren. Selain ada latihan seni hadrah sebagai kegiatan ekstrakurikuler, peserta didik juga sangat dianjurkan mengaji dengan sejumlah materi seperti hafalan al-Qur’an dan pelajaran-pelajaran ala madrasah diniyah lainnya pada sore dan malam harinya.

Sekarang madrasah rintisan telah berkembang. Enam piala sebagai bukti prestasi siswa dalam berbagai ajang lomba tingkat kabupaten juga sudah ada dalam genggaman. Zahril bersyukur bisa bermanfaat bagi orang lain, dan berharap kelak makin banyak orang yang turut menghidupkan. “Semoga berkah!” tuturnya. (Mahbib)







Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Sejarah, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar