Kamis, 27 April 2017

Peserta Khotmil Qur’an Pesantren Nurul Burhany Syaratkan Hapal Surat Pilihan

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Pondok Pesantren Nurul Burhany Mranggen Demak menyelenggarakan kegiatan Khotmil Qur’an, Rabu (13/5) malam yang terdiri dari peserta Khotmil Qur’an Juz ‘Amma Bil Hifdzi dan Khotmil Qur’an Bin Nadzri. 

Peserta Khotmil Qur’an Pesantren Nurul Burhany Syaratkan Hapal Surat Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Khotmil Qur’an Pesantren Nurul Burhany Syaratkan Hapal Surat Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Khotmil Qur’an Pesantren Nurul Burhany Syaratkan Hapal Surat Pilihan

Kegiatan Khotmil Qur’an merupakan agenda tahunan yang ada di Pesantren Nurul Burhany. Acara tersebut dilaksanakan di halaman Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, yang juga merupakan induk dari Nurul Burhany.

Menurut KH Helmi Wafa, pengasuh Pesantren Nurul Burhany, untuk menjadi peserta khotmil Qur’an para santri diharuskan untuk menghapal sura-surat pilihan. “Di antaranya surat Yasin, Al-Kahfi, Al-Waqi’ah, Ar-Rahman serta Surat Al-Mulk,” terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Disamping menghafal al-Qur’an, di pesantren ini juga diajarkan pegajian tafsirnya, dengan harapan santri tidak hanya hafal saja, tetapi juga harus paham maksud kandungan yang ada dalam ayat al-Qur’an tersebut. 

“Sebab al-Qur’an merupakan pedoman hidup, sangat disayangkan kalau kita punya sebuah pedoman, tetapi tidak tahu atau paham apa yang ada di dalamnya,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Helmi berharap setelah khatam al-Qur’an ini para santri dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam rutinitas bacaannya, maupun berinteraksi dengan beinteraksi ‘Ala al-Qur’an. (Abdus Shomad/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 25 April 2017

Begini Kampanye Unik Anti Narkoba Ansor Solo

Solo, Ribath Nurul Hidayah. "Kue keranjang lebih enak daripada narkoba." Begitu bunyi kalimat dalam stiker yang dibagikan sahabat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Solo bersama 400 kue keranjang kepada warga di sekitar Pasar Gede Solo, Rabu  (13/2) malam.

Kue keranjang yang identik dengan perayaan Imlek tersebut, dimanfaatkan sebagai alat untuk kampanye anti narkoba.

Begini Kampanye Unik Anti Narkoba Ansor Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Kampanye Unik Anti Narkoba Ansor Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Kampanye Unik Anti Narkoba Ansor Solo

“Kebetulan saja ini momentumnya imlek, jadi yang kita bagikan kue keranjang,” kata ketua Ansor, Muhammad Anwar.

Ribath Nurul Hidayah

“Bisa jadi, kalau pas acara hari besar Islam atau Ramadhan, yang kita bagikan kurma,” lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan tersebut diadakan Ansor Solo bersama dengan Forum Pemuda Lintas Agama Kota Surakarta (Forplas). Forum pemuda yang berdiri pada tahun 2012 lalu, terdiri dari Organisasi Kepemudaan (OKP) dari berbagai unsur keagamaan, diantaranya Ansor Solo.

Kasat Narkoba Polres Solo, Kompol I Nyoman Garjita, yang turut serta dalam acara tersebut mengatakan peredaran dan penggunaan narkoba di Kota Solo menduduki urutan pertama tingkat Jawa Tengah.

“Karena wilayah Solo sangat rawan peredaran narkoba, maka kami membentuk kampung anti narkoba. Dan kampung yang menjadi pilot projek adalah Semanggi,” terangnya.

Diharapkan dari acara ini, nantinya juga dapat membantu menurunkan peredaran dan penggunaan Narkoba di Solo.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Internasional, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Senin, 24 April 2017

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman

Oleh KH Zakky Mubarak

Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. adalah peristiwa yang sangat agung, dari peristiwa tersebut Nabi memperoleh berbagai macam pengalaman dan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kelengkapan dirinya, untuk mengemban tugas yang berat sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Pengetahuan dan pengalaman yang paling beharga dalam peristiwa tersebut adalah berkaitan dengan memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT., baik kebesaran yang ada di alam raya ini yang dapat ditangkap oleh panca indera ataupun dalam alam ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia.

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Shalat dan Peningkatan Kualitas Iman

Isra, pengertiannya menurut bahasa adalah perjalanan di malam hari, sedangkan mi’raj adalah tangga untuk naik ke atas. Karena itu pengertian Isra yang dimaksudkan adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mi’raj adalah perjalanan beliau dari masjid al-Aqsa ke Sidrah al-Muntaha. Sidrah al-Muntaha adalah tempat di langit yang bersifat ghaib, tidak mungkin dijangkau oleh panca indera manusia, bahkan tidak dapat dijangkau oleh akal? fikiran.

Di antara tujuan diisrakannya Nabi Muhammad SAW, adalah agar beliau mengetahui secara mendalam tanda-tanda keagungan Tuhan, kekuasaan dan kasih sayang-Nya terhadap semua makhluk, peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur’an:

Ribath Nurul Hidayah

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. al-Isra, 1).

Ribath Nurul Hidayah

Dalam peristiwa Isra Mi’raj, sebagaimana disebutkan berbagai kitab tarikh dan kitab hadits, Nabi Muhammad dan umatnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari-semalam. (Nur al Yakin, hal. 67 dan Nabi al-Rahmah, 54). Peristiwa Isra Mi’raj menurut para ahli sejarah, selain disebutkan dalam kitab al-Hadits juga diisyaratkan Al-Qur’an pada awal surat an-Najm:

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauannya sendiri melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Yang diwahyukan kepadanya oleh Jibril yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cedas dan Jibril itu menampakkan diri dalam bentuk yang asli, sedang ia berada di ufuk yang tinggi. Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya? (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”. (Q.S. an-Najm, 1 – 7 dan 10).

Dengan diperintahkannya shalat lima waktu bagi Nabi Muhammad dan umatnya pada malam Isra Mi’raj tersebut, dirasakan betapa pentingnya ibadah shalat harus ditegakkan oleh setiap pribadi Muslim. Dalam Al-Qur’an banyak disebutkan perintah agar menegakkan shalat, perintah itu diulang berkali-kali sampai lebih dari delapan puluh kali. Di dalam hadits juga banyak disebutkan agar setiap Muslim mengerjakan shalat dengan baik, dimana saja mereka berada.

Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan sangat menentukan kualitas keimanan seorang Muslim, apakah kuat atau lemah. Kalau kita rajin mengkaji ayat demi ayat dari Al-Qur’an dan al-Hadits maka akan dijumpai berbagai pengarahan agar manusia Muslim dapat mengerjakan dan menegakkan shalat dengan baik. Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang dikerjakan dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta ketentuan-ketentuan lainnya, diikuti dengan gerakan kejiwaan dan disertai rasa khusu’ dan keikhlasan yang mendalam.

Pengertian shalat menurut etimologi adalah doa dan pujian, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya memuji Nabi, wahai orang-orang yang beriman, berdo’alah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kehormatan kepadanya”. (Q.S. al-Ahzab, 56).

Pengertian shalat menurut terminologi adalah “Beberapa ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat rukun tertentu”. Pengertian di atas, baru menggambarkan bentuk shalat secara lahiriyah. Agar melengkapi semua itu, kita ikuti definisi shalat dari segi hakikatnya yaitu: “Menghadapkan hati kepada Allah sehingga dapat mendatangkan rasa takut kepada-Nya dan menanamkan dalam jiwa rasa keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya”.

Shalat sempurna adalah shalat dengan kriteria di atas, shalat yang dilakukan dengan memenuhi syarat, rukun dan ketentuan lain serta diikuti dengan gerakan kejiwaan. Dengan demikian ibadah shalat itu akan berdampak pada sikap mental kita dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang telah melakukan shalat dengan baik dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar.

Dengan ketentuan-ketentuan shalat yang disebutkan di atas, Insyaallah kita akan terhindar dari segolongan orang yang mengerjakan shalat, tetapi pada hakikatnya mereka tidak shalat. Nabi SAW mensitir kelompok ini dalam salah satu haditnya:? “Akan datang suatu masa menimpa umatku mereka yang melakukan shalat, padahal sebenarnya mereka tidak shalat”. (H.R. Ahmad).

Dengan memperingati Isra Mi’raj ini, semoga kita dapat meningkatkan shalat kita sebaik mungkin, sehingga dapat meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Amiin...

*Penulis adalah Rais Syuriah PBNU, Dosen Pascasarjana UI



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Nahdlatul, Pesantren Ribath Nurul Hidayah

17 Muharram, Santri Tremas Peringati Haul KH Dimyathi Abdullah

Pacitan, Ribath Nurul Hidayah



Setiap tanggal 17 Muharram, keluarga besar Pesantren Tremas Pacitan memperingati haul salah satu pengasuhnya, KH Dimyathi Abdullah. Haul bertujuan mengenang kiprah, perjuangan, dan meneladani Kiai Dimyathi dalam mendidik para santri. Kiai Dimyathi yang wafat pada 1934 M bukan lain ialah adik dari ulama yang masyhur di bidang keilmuan, Syekh Mahfuzh Attarmasi.

17 Muharram, Santri Tremas Peringati Haul KH Dimyathi Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Muharram, Santri Tremas Peringati Haul KH Dimyathi Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Muharram, Santri Tremas Peringati Haul KH Dimyathi Abdullah

Seperti yang tampak pada Jumat malam (6/9) ribuan orang memadati kompleks Pesantren Tremas Pacitan, mereka yang terdiri dari masyarakat, santri dan alumni dari berbagai daerah dengan khidmat mengikuti peringatan haul ke-82 dengan membaca kalimat toyyibah tahlil yang dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Pacitan KH Abdullah Sadjad.

Rangkaian haul dimulai sejak Kamis malam (5/9). Diawali dengan semaan Al-Qur’an dan ziarah ke makam para sesepuh maqbaroh Gunung Lembu. Tampak hadir dalam acara haul ini, KH Fuad Habib, KH Luqman Harits, KH Burhanudin HB, Kiai Abdul Mukti, dan kiai lainya.

Kiai Dimyathi mengasuh Pesantren Tremas mulai tahun 1894 hingga 1934. Kiai Dimyathi memiliki peran yang sangat besar dalam membesarkan Pesantren Tremas hingga dapat berkembang seperti sekarang ini.

Kiai Dimyathi lahir pada Jumat Legi, 26 Shafar 1296 Hijriyyah bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1879 M di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan. Kiai Dimyathi adalah putra ke-4 dari pasangan KH Abdullah dan Nyai Aminah.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah belajar langsung kepada ayahnya, Kiai Dimyathi muda, bersama adiknya Kiai Abdurrazaq diajak ayahnya untuk menunaikan ibadah haji sambil melanjutkan studinya di Makkah, menyusul kakaknya Syaikh Mahfudz, yang sudah dulu bermukim dan menjadi guru besar disana.

KH Dimyathi tak kenal lelah dalam menimba ilmu. Usia remaja Kiai Dimyathi dihabiskan untuk belajar kepada para guru terbaik di masanya, khususnya di tanah arab hingga Asia Tengah. 

Waktu terus bergulir, hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Tidak terasa hampir 16 tahun Kiai Dimyathi bermukim di tanah Arab. Kesungguhanya dalam menuntut ilmu telah membuat tinggi pengetahuan agamanya. 

Setelah ayahnya, Kiai Abdullah, wafat di Makkah pada tahun 1894, dua tahun kemudian Kiai Dimyathi kembali ke tanah air. Kiai Dimyathi kembali ke Tremas untuk meneruskan kepemimpinan Pesantren Tremas, yang sejak keberangkatan Kiai Abdullah, Pondok Tremas diserahkan kepada menantunnya, Kiai Zaed bin Taslim Basyaiban dari Tirip, Purworejo.

Ribath Nurul Hidayah

Sekembalinya dari tanah suci, Kiai Dimyathi lalu menikah dengan Nyai Khatijah binti KH Abdur Rahman pada hari Kamis 7 Rajab 1323 H, atau 6 September 1905 M. Saat itu Kiai Dimyathi berusia  27 tahun sedangkan isterinya, Nyai Khadijah berusia 14 Tahun. Dari pernikahan ini, Kiai Dimyathi dikarunia 8 putra-putri. Berturut-turut: Nyai Hafshoh, Kiai Hamid, Nyai Hamnah, Nyai Halimah, Kiai Habib, Nyai Habibah, Kiai Hasir, dan Kiai Harits.

Kiai Dimyathi memiliki kepribadian yang luar biasa, bersahaja dan luhur ahlaknya. Pribadinya telah mencerminkan sosok yang alim, figur seorang kiai. Sehingga wajarlah bila saat itu, banyak santri dari Nusantara yang berguru kepadanya. 

Karena ketinggian dan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Kiai Dimyathi, oleh para santrinya Kiai Dimyathi lebih dikenal dengan panggilan “Mbah Guru”. Kiai Dimyathi dikenal sebagai seorang kiai yang sangat alim dalam berbagai disiplin ilmu. Di antarnya alim dalam bidang ilmu fiqih, ilmu faroid dan juga ahli Al-Qur’an

Di bawah kepemimpinan Kiai Dimyathi, Pesantren Tremas Pacitan  pernah mengalami masa keemasan dengan jumlah santri mencapai 2 ribuan. Karomah dan kealimannya dalam berbagai ilmu diakui oleh para ulama nusantara. Sentuhan Kiai Dimyathi melalui pendidikan pesantren melahirkan alumni yang mumpuni di bidangnya. antara lain: KH Ali Maksum Krapyak, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Muntaha Alhafidz Kaliibeber Wonosobo, KH Muslih Mranggen Demak, Prof Mukti Ali (Menteri Agama RI era presiden Soeharto),  dan para kiai serta tokoh lainya.

Seperti kakaknya, Syekh Mahfuzh, KH Dimyathi juga memiliki karangan kitab. Akan tetapi karya Kiai Dimyathi itu hingga saat ini belum ditemukan. Hal ini lantaran pada tahun 1966 terjadi banjir bandang yang melanda Tremas. Ketinggian air konon hingga sampai atap rumah. Sehingga banyak harta benda, dan tentunya kitab-kitab milik Kiai Dimyathi yang ikut hanyut dan tidak terselamatkan.

Kiai Dimyathi memimpin Pesantren Tremas kurang lebih 41 tahun. Kiai Dimyathi berhasil meneruskan tonggak sejarah yang telah diwariskan oleh kakeknya, KH Abdul Manan Dipomenggolo. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 23 April 2017

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, IPNU-IPPNU Demak Gelar Lakut

Demak, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Demak bertekad menyiapkan kader yang memiliki jiwa kepemimpinan yang berkarakter melalui Latihan Kader Utama (Lakut). Selama tiga hari sejak Jumat- Ahad (13-15/1) peserta yang terdiri atas utusan masing-masing anak cabang dididik dengan sejumlah materi penguat keorganisasian dan keaswajaan.

Pada Lakut kali ini panitia mengusung tema Ikhtiar Menuju Pemimpin Berkarakter untuk Agama, Bangsa dan Negara. Pendidikan ini berlangsung di Gedung PCNU Kabupaten Demak.

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, IPNU-IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kapasitas Pengurus, IPNU-IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, IPNU-IPPNU Demak Gelar Lakut

Ketua IPNU Demak Abdul Halim mengatakan, Lakut kali ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kepemipinan bagi kader yang nantinya akan menjadi tonggak penerus.

Ribath Nurul Hidayah

"Output dari Lakut kali ini harapannya mereka menjadi embrio pemimpin yang bisa diandalkan di masa mendatang," kata Halim.

Ketua IPPNU Demak Istiqomah mengatakan, Lakut merupakan investasi jangka panjang. Maksudnya, para kader yang dididik pada Lakut kali ini akan menjadi pemimpin yang berkarakter pada 20 tahun mendatang.

"Kami yakin, mereka mampu dan memiliki potensi yang sangat mumpuni untuk menjadi pemimpin yang berkarakter sesuai dengan manhaj Nahdlatul Ulama," kata Istiqomah.

Ribath Nurul Hidayah

Sterring Commite Lakut Dzawits Tsiqqoh menjelaskan, dipastikan para peserta merupakan kader terbaik yang direkomendasikan setiap pimpinan anak cabang.

Dalam penjaringan peserta, lanjut Dzawits, dilakukan proses screening baik secara administrasi maupun intelektual. "Karena untuk menyiapkan pemimpin itu tidak boleh sembarangan. Mereka secara intelektual harus siap," katanya. (A Shiddiq-Rifqi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 20 April 2017

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid

Pacitan, Ribath Nurul Hidayah. Ratusan jamaah dalam kegiatan Majelis Ratib dan Shalawat Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor  Arjosari, Pacitan, Jawa Timur membaca shalawat di Masjid Al-Mubarok Dusun Kulak, Desa Tremas, Arjosari, Sabtu Malam (19/3).

Jamaah yang terdiri dari Masyarakat, pengurus GP Ansor dan Anggota Banser ini dengan penuh khidmat melakukan pembacaan Ratib al Haddad karya Al-Habib Abdullah bin alwi bin muhammad Al-Haddad. Kegiatan ini digelar pertama kalinya oleh PAC GP Ansor Arjosari seusai terbentuk kepengurusan Rijalul Ansor pada awal bulan maret ini.

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid

Ketua GP Ansor Arjosari, H Hamka Hakim dalam sambutanya menyampaikan beberapa keutamaan bagi pengamal atau pembaca Ratib Al Haddad, di antaranya akan terhindar dari mara bahaya, memanjangkan umur dan mempermudah memperoleh rizqi. Ratib al Haddad, katanya, diamalkan sebagai salah satu cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ribath Nurul Hidayah

“Mari melalui kegiatan ini, kita niat ingsung (berniat), bismillah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan juga sebagai caranya kita nguri-uri (menjaga) ideologi Ahlussunnah wal-Jamaah. Karena tanpa kita yang peduli, terus siapa lagi yang akan peduli,” jelas lulusan univeritas Al Azhar Mesir itu.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, Hamka Hakim menyampaikan keperihatinanya atas kondisi masyarakat khususnya masyarakat pedesaan yang mulai meninggalkan masjid dan mushala sebagai pusat kegiatan keagamaan. Menurutnya, telah terjadi pergeseran nilai dan budaya yang diakibatkan oleh kemajuan zaman.

“Zaman dahulu para remaja tidur di masjid atau mushala adalah suatu kenikmatan. bagaimana kita dididik dan dibina tumbuh dalam lingkungan masjid dan mushalla.” kata dosen Staifa Kikil Pacitan itu.

Namun kondisi yang terjadi sekarang sangat memperihatinkan. Seusai waktu magrib, para remaja dan anak-anak mulai menjauh dari kegiatan keagamaan di masjid atu mushala. Mereka banyak yang tidak mau belajar mengaji, justru memilih dan mendatangi tempat-tempat seperti tempat tongkrongan dan tempat permainan lainya.

“Ini kehawatiran kita kalau imbas dari kemajuan zaman ini justru menggerus terhadap moral dan nilai yang baik dalam generasi muda kita,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, GP Ansor Arjosari hadir dengan sayapnya Rijalul Ansor untuk memberikan kontribusi dan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya kembali ke masjid sebagai tempat kegiatan keagamaan. Rijalul Ansor menggelorakan ajakan kembali ke masjid sebagai sarana membentengi generasi muda dari pengaruh zaman.

Sementara itu Pembina GP Ansor Arjosari, Ust Zafri Wicaksana meminta kegiatan Rutinan Rijalul Ansor semacam ini harus tetap berjalan, bagimanapun kondisinya. GP Ansor tidak boleh kalah semangat dengan Fatayat dan Muslimat NU yang telah lama berjalan dengan pengajian dan seaman Al-Qur’anya.

“Bukan maksud Ansor bersaing dengan Fatayat atau muslimat. Namun bagaimana caranya kita bersama-sama berjuang dan menguatkan ideologi Ahussunnah wal-Jamaah di tengah-tengah masyarakat pedesaan,” tandasnya.

Kegiatan Majelis Ratib dan Shalawat Rijalul Ansor ini akan digelar rutin sekali dalam satu bulan. Yakni tiap malam Sabtu Pon atau Ahad Wage. Rutinan akan digelar dari desa ke desa di seluruh kecamatan Arjosari dengan menggandeng takmir masjid dan pengurus karang taruna. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 16 April 2017

Rais Aam Tampil, Persidangan Tatib Tuntas

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus akhirnya hadir dan berbicara di hadapan peserta Muktamar Ke-33 NU yang sebelumnya diwarnai perdebatan tajam antamuktamirin. Ia datang di persidangan tata tertib Muktamar setelah bermusyawarah dengan para rais syuriah dan para kiai sepuh NU, Senin (3/8).

Rais Aam Tampil, Persidangan Tatib Tuntas (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam Tampil, Persidangan Tatib Tuntas (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam Tampil, Persidangan Tatib Tuntas

Gus Mus yang mengaku terus menyimak tiap persidangan mengungkapkan keprihatinannya atas citra yang begitu buruk sebagaimana digambarkan media massa. Padahal, menurutnya, NU bukan hanya ormas keagamaan yang ditunggu perannya di Indonesia tapi juga dunia.

"Saya malu kepada Allah, malu kepada Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asyari, kepada KH Abdul Wahab Chasbullah, kepada KH Bisri Syansuri, saya malu kepada KH Ramli Tamim, dan pendahulu-pendahulu kita," ujarnya dengan mata berkaca-kaca di forum yang digelar di alun-alun Jombang, Jawa Timur itu.

Ribath Nurul Hidayah

Gus Mus lalu menyampaikan hasil kesepakatan para kiai sepuh dan rais syuriyah yang bermusyawarah sejak siang. Poin yang disepakati adalah apabila ada pasal yang tidak disepakati muktamarin akan diselesaikan dengan pemungutan suara.

Persidangan langsung dilanjutkan begitu Gus Mus selesai memberikan pesan kepada muktamirin. Forum yang sebelumnya dihujani interupsi mendadak sangat tenang. Sidang yang dipimpin Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf itu berlangsung lancar tanpa disela pertanyaan dan interupsi apapun kecuali kata "setuju".

Ribath Nurul Hidayah

Pasal yang memuat tentang ahlul halli wal aqdi dihapus. Karena menyangkut pemilihan pemimpin baru yang diatur oleh AD/ART NU, maka pasal pemilihan rais aam dan ketua umum merujuk pada hasil sidang Komisi Organisasi yang digelar di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar.

Muktamirin serentak mengumandangkan shalawat begitu sidang ditutup oleh pimpinan sidang. Suasana haru menyelimuti arena muktamar.

Sebelumnya Gus Mus mengaku berat menanggung amanat sebagai pejabat rais aam yang sesungguhnya tidak ia kehendaki. Ia memohon maaf kepada muktamirin atas segala ketidaknyamanan yang terjadi.

Sore ini juga para peserta muktamar menuju ke empat pesantren, antara lain di Tebuireng, Denanyar, Peterongan, dan Tambakberas, untuk melangsungkan sidang-sidang komisi. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja Ribath Nurul Hidayah