Jumat, 26 April 2013

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid

Bekasi, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (PP LTMNU) KH Abdul Manan A. Ghani mengatakan, melawan radikalisme agama bukan dengan berhadapan langsung dengan mereka, tapi dengan memperkuat masjid.

Menurut Kiai Manan, memperkuat masjid adalah menjadikannya sebagai pusat pemberdayaan umat, “Masjid harus dipenuhi dengan program-program yang menyentuh keinginan jamaahnya,” katanya pada Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dalam rangka revitalisasi masjid di gedung PCNU Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/5).

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid

Untuk memperkuat masjid dengan program, LTMNU menawarkan tujuh aksi masjid berdasarkan keinginan jamaah. Keinginan itu tertuang dalam doa mereka selepas shalat. Allahuma ini asaluka salamatan fid din, wa ‘fiyatan fil jasad, wa ziyadatan fil ‘ilmy, wabarakatan fi rizqy, wa taubatan qablal maut, warahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut.

Ribath Nurul Hidayah

Doa orang di masjid itu sambung Kiai Manan, dijabarkan PP LTMNU periode 2010-2015 sebagai program dasar. Rinciannya adalah, peningkatan Ahlussunah wal-Jamaah ‘ala tahriqah Nahdliyah, wa Syari’ah ‘ala madzhabil arba’ah, wa thoriqah a’ala thoriqoti al-Imam Junaid al-Baghdadi wa Imam al-Ghazali.

Kedua, pelayanan kesehatan berbasis masjid, yaitu menjadikan masjid sebagai Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas), “Paling tidak, setiap masjid kecamatan diharapkan punya satu poliklinik di rumah obat,” harapanya di hadapan ratusan peserta yang terdiri imam, khotib, dan DKM tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, peningkatan kualitas pendidikan berbasis masjid, baik pendidikan formal maupun nonformal. Keempat, pemberdayaan ekonomi jamaah; mulai dari informasi peluang usaha, pengkaderan enterpreneur, kerja sama kemitraan, sampai pembentukann wadah perekonomian seperti baitul mal masjid, Koperasi masjid NU Kopmasnu, dan lembaga keuangan syariah.

Kelima, pusat pertaubatan, yaitu menjadikan masjid sebagai wadah dan usaha membangun masyarakat husnul khotimah, “Untuk menjalan program itu, harus menciptakan aktivis masjid yang hatinya selalu terpaut kepada masjid. Orang seperti tersebut adalah salah satu dari 7 golongan yang akan dinaungi perlindungan Allah pada hari kiamat,” pungkasnya.

Rapimda bertema “Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat” tersebut diikuti para imam, khotib, dan DKM-DKM NU Kota Bekasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan Lembaga Ta’mir Masjid PCNU Kota Bekasi yang difasilitasi PP LTMNU bekerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa dan PT TOA.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 11 April 2013

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Hidmat NU atau Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim NU, adalah unit yayasan Muslimat NU yang melayani masyarakat di bidang dakwah. Hidmat NU terus meningkatkan kualitas para da‘iyah untuk membina umat, sementara pengembangan majelis taklim menjadi konsentrasi utama.

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah

Paham Ahlussunah wal Jama’ah selalu menjiwai para da’iyah binaan Hidmat NU. Para da‘iyah menerima pembekalan khusus antara lain ketangguhan jiwa kader da‘iyah, keluasan wawasan, dan penanaman akhlakul karimah.

“Dakwah menemukan variannya dalam banyak hal, seperti dakwah bil hal (perilaku), bil lisan (ceramah), bil mal (sedekah), dan bil kitabah (tulisan),” ungkap Hj. Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum PP Muslimat NU dalam sambutan Rapat Permusyawaratan Kepengurusan Hidmat di Gedung PBNU lt. 5, Senin (23/4) lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Rapat kepengurusan ini sedikitnya dihadiri oleh 40 anggota Muslimat NU. Mereka yang tampak hadir adalah jajaran Dewan Pembina Hidmat NU, Dewan Pengawas Hidmat NU, Pengurus Hidmat NU, PP Muslimat NU, Ketua Bidang Dakwah PP Muslimat, dan Koorodinator Bidang Dakwah PP. Muslimat NU.

“Kader-kader Muslimat NU ini banyak sekali yang keluaran perguruan tinggi. Bahkan, kader Muslimat NU yang menyandang gelar doktoral pun tidak sedikit. Untuk membumikan Ahlussunnah wal Jama‘ah, mereka bisa mengambil media dakwah bil kitabah. Saya sendiri rutin mengisi kolom keagamaan tiap Sabtu di harian Duta Masyarakat,” tegas Hj. Khofifah.

Ribath Nurul Hidayah

Rapat Permusyawaratan Kepengurusan Pusat Hidmat NU, membahas tentang pengembangan dakwah melalui majelis taklim dan upaya membumikan paham Ahlussunnah wal Jama‘ah di kalangan kaum ibu. Rapat ini dimaksudkan untuk menampung respons positif, masukan, dan kritik konstruktif dari Dewan Pembina dan peserta forum rapat.

Forum rapat kepengurusan ini memberikan kesempatan bagi jajaran pengurus Hidmat NU periode 2007-2011 untuk memberikan laporan pertanggungjawaban di masa baktinya. Laporan pertanggungjawaban pengurus Hidmat NU, disampaikan sendiri oleh Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, Ketua Hidmat NU. Untuk sementara, kepengurusan Hidmat NU periode 2007-2011 dinyatakan demisioner secara hukum sampai terbentuk struktur kepengurusan yang baru.

Rapat kepengurusan yang berisi evaluasi atas kinerja Hidmat NU 5 tahun terakhir, akan dijadikan rekomendasi untuk struktur kepengurusan Hidmat NU berikutnya. Hasil evaluasi ini menjadi penting sebagai acuan untuk meningkatkan kinerja kepengurusan Hidmat NU selanjutnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 08 Maret 2013

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi

Berita penangkapan jaringan penyedia prostitusi anak untuk laki-laki penyuka sesama jenis pada 30 Agustus oleh patroli cyber Polri di kawasan wisata Puncak Jawa Barat menunjukkan rentannya anak-anak Indonesia, terutama di lokasi wisata, untuk diperdagangkan menjadi penyedia jasa pemuas seksual. Anak-anak yang masih polos, yang menjadi harapan orangtuanya, dibujuk oleh para germo untuk melayani laki-laki dengan kelainan orientasi seksual. Rayuan untuk melakukan tindakan seks menyimpang ini bisa merubah orientasi seksual mereka saat dewasa kelak. Akhirnya mereka juga mengalami penyimpangan seksual dan kelak, mencari korban baru. Begitulah siklus yang sangat mengerikan terjadi. 

Bisa jadi apa yang terungkap saat ini hanya bagian puncak dari sebuah gunung es masalah prostitusi anak, terutama di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata di mana para turis ingin keluar dari peradaban dan kehidupan normal yang penuh aturan etika dan kesopansantunan, menuju pemenuhan hasrat penuh kebebasan. Berkembangnya jasa prostitusi merupakan bagian dari 3 S, sun, sex, and sea yang dijual dalam industri wisata. Indonesia, menurut laman therichest.com  menduduki posisi keempat dalam hal tujuan paling populer dalam wisata seks sedangkan peringkat tertinggi diduduki oleh Thailand. Di luar transaksi seks konvensional di lokalisasi atau melalui daring (online), di kawasan wisata Puncak dikenal adanya kawin kontrak, yaitu perkawinan yang dibatasi waktu hanya beberapa hari atau beberapa bulan, tergantung lamanya turis tinggal. Biasanya mereka yang terlibat dalam perkawinan yang menurut para ulama tidak sah ini datang dari turis Timur Tengah. Ini sebenarnya juga merupakan versi wisata seks dalam bentuk tersendiri. Para pria penyuka sesama jenis, juga berusaha mencari kenikmatan seks dengan mengincar anak-anak sebagai korban. Dan kini, mereka yang berorientasi seperti ini secara global terus meningkat.

Selain, Indonesia dan  Thailand, di Kawasan ASEAN, Kamboja dan Philipina menjadi tujuan wisata seks. Dengan adanya fakta seperti ini, para pemangku kepentingan jangan sampai menutup mata dengan hanya melihat pundi-pundi rupiah yang didapat tetapi mengabaikan dampak negatif yang memiliki pengaruh terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam panjang. Apalagi, transaksi seks yang dilakukan secara daring yang bisa dilakukan dari mana saja dan menjangkau siapa saja, tak terbatas sebagaimana prostitusi tradisional yang biasanya di lokalisir di tempat-tempat tertentu saja. Tentu upaya pengawasan prostitusi daring ini juga harus diperketat.

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi

Pada daerah-daerah yang rentan terhadap eksploitasi anak ini, para orangtua diharap semakin waspada dalam mengawasi perilaku putra-putrinya. Dalam banyak kejadian, orangtua baru tahu setelah kasus tersebut terungkap oleh pihak yang berwajib. Kebanyakan korban berlatar belakang keluarga miskin yang mana orangtua sibuk mencari penghasilan, sedangkan anak-anaknya yang kurang pengawasan ini mudah diiming-imingi uang untuk memenuhi keinginannya akan barang-barang mahal yang sebenarnya belum dibutuhkan. Dalam hal ini tokoh agama setempat juga harus dengan tekun membimbing masyarakat yang rentan terhadap pengaruh budaya negatif dari para pendatang.

Sebenarnya kesadaran masyarakat tentang perlindungan anak-anak dari cengkeraman prostisusi kini semakin meningkat. Penutupan sejumlah tempat prostitusi kini sebagian besar didasarkan pada alasan untuk melindungi anak-anak dari perdagangan seks. Di tempat tersebut, germo selalu mencari gadis muda untuk dijadikan penarik minat laki-laki hidung belang. Tentu, gadis-gadis tersebut hanya bisa dimasukkan dalam ladang prostitusi dengan berbagai tipu daya dan pemaksaan. Jika siklus ini bisa diputus, tentu prostitusi bisa dikurangi. Upaya penutupan lokalisasi tidak mudah karena banyak pihak yang mengais rejeki dari situ. Keberanian walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam menutup lokalisasi Dolly bisa menjadi contoh bagi pemimpin daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Tentu dengan tidak melupakan pendekatan kemanusiaan pada mereka yang selama ini mencari penghidupan dari situ.  

Bagi-anak-anak yang terjerat dalam persoalan prostitusi ini, pendampingan sangat diperlukan untuk memulihkan mereka dari trauma psikologis. Mereka perlu mendapat dukungan agar bisa hidup kembali dalam situasi normal dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Ribath Nurul Hidayah

Bagi germo dan pembeli jasa seks anak, tentu perlu ada hukuman seberat-beratnya sebagai efek jera bagi kemungkinan kejadian yang sama di masa mendatang. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Aswaja, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 Maret 2013

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merasa heran terhadap Menteri Agama (Menag) Maftuh Basuni atas kasus keterlambatan katering makanan jamaah haji di Arofah dan Mina (Armina). Ia menilai, Menag seperti tak mau belajar dari pengalaman masa lalu dalam kaitannya penyelenggaraan ibadah haji.

"Maftuh itu kan orang lama belajar di Arab. Kok mau dibohongin orang Arab?" gugat Gus Dur usai Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (3/1) kemarin.

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Pasca kasus keterlambatan katering Armina, sejumlah kalangan mendesak agar Maftuh segera mengundurkan diri. Kebijakan haji tahun ini yang mengalihkan katering dari Muasasah ke perusahaan Ana for Development (AFD) telah menyengsarakan jamaah.

Kegagalan katering tersebut merupakan bentuk kecelakaan manajemen dalam pendistribusian makanan. Departemen Agama pun memutuskan akan kembali menggunakan katering Muasasah pada musim haji 2007 mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga merasa heran tentang misteri keberadaan AdamAir nomor penerbangan KI 574 yang hingga kini masih belum terkuak. Ia memertanyakan, dalam kondisi hutan Indonesia yang sudah gundul, mengapa masih pesawat nahas itu masih sulit ditemukan.

"Kok di tengah-tengah hutan Indonesia yang gundul, pesawat jatuh ke hutan nggak bisa keluar. Mari kita doakan agar pesawat itu bisa ditemukan," kata Gus Dur,” sindir Gus Dur.

Ribath Nurul Hidayah

Mengenai kesalahan informasi lokasi jatuhnya pesawat, menurut Gus Dur, disebabkan karena kurang koordinasi.

"Pesawat AdamAir sudah diberitahu letak jatuhnya, tapi waktu dilihat nggak ada. Saya lihat itu cuma kurang koordinasi saja. Tidak ada unsur kesengajaan, jadi tidak ada penyesatan. Kalau nggak tau ya mau diapain," pungkas Gus Dur. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 Februari 2013

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah. Majelis Musyawarah Pengasuh Pesantren (MMPP) kembali digelar untuk yang ke 159, kali ini bertempat di Pondok Pesantren Darul Abror, Sukorejo Bangorejo, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/9). Ratusan jamaah memadati halaman Pesantren yang didirikan oleh Almarhum KH. Thohir Syafi’i ini.?

Pengajian yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali tersebut diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kyai Masruri (MWC Pesanggaran) dan dilanjutkan pengajian Ihya Ulumuddin Juz III yang dibawakan oleh Wakil Syuriah PCNU Banyuwangi, Kyai Zainullah Marwan. Dilanjutkan dengan sambutan dari KH. Masykur Ali, Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Kiai Masykur berpesan kepada masyarakat khususnya warga Nahdliyin untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak dengan memasukkan anak-anak ke pondok pesantren.

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP

“Anak-anak zaman sekarang ini sudah sulit untuk dikendalikan. Sekolah-sekolah umum sudah tidak mampu untuk mendidik anak. Maka dari itu, putra putri njenengan-njenengan yang masih sekolah, sekolahkan di sekolah yang berbasis pondok pesantren. Untung kalau dipondokkan sekalian, Kita sebagai warga NU jangan sampai terlena dengan perkembangan zaman yang begitu pesat saat ini,” tegas Kiai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina Jalen ini.

Dalam sejarahnya, MMPP pertama kali dirintis oleh delapan tokoh ulama Banyuwangi. Diantaranya adalah KH. Dimyati Ibrahim dari PP. Mathali’ul Falah, Sepanjang, Glenmore, KH. As’adi Sufyan dan KH.Syam’ani dari PP. Nahdlatut Thullab, Sukonatar, Srono, KH. Syamsul Arifin dari PP. An-Nur, Sukomukti, Kebaman, Srono, KH. Imam Muhtadi dari PP. Raudlatul Muta’allimin, Simbar, Tampo, Cluring, KH. Zuhriddin dari Swaloh, Sumbersari, Srono, KH. Mas’ud Hakim dari Pengadilan Agama Kabupaten Banyuwangi dan KH. Mukhtar Syafa’at dari PP. Darussalam, Blokagung, Tegalsari.

Dalam pertemuan pertama para kiai-kiai tersebut, KH. Mukhtar Syafa’at tidak dapat hadir. Namun, restu Kiai Mukhtar yang menjadi poin penting berdirinya MMPP. Kiai Mas’ud Hakim awalnya enggan untuk ikut serta merealisasikan kegiatan tersebut, sebelum ada restu dari Kiai Syafa’at yang saat itu tidak bisa hadir dalam rapat. Kemudian, ditemenai oleh Kiai Imam Turmudzi, Kiai Mas’ud berkunjung ke Blokagung.

Ribath Nurul Hidayah

Sesampainya di Blokagung, Kiai Mas’ud sebagai representasi pemerintah, mendapatkan keyakinan untuk mendeklarasikan MMPP pertama kalinya, setelah Kiai Syafa’at memberi restu. Sejak itulah dibentuk kepengurusan MMPP yang kala itu masih sebatas Banyuwangi Selatan. Yaitu wilayah Banyuwangi bagian selatan, terhitung dari Kecamatan Srono ke arah selatan.

Ribath Nurul Hidayah

Yang ditunjuk sebagai ketua pertama MMPP adalah KH. Dimyati Ibrahim yang akrab disapa Gus Dim Jadab. Namun, ditengah perjalanan sebagai ketua MMPP, Gus Dim terlebih dahulu dipanggil kehadiran Allah SWT. Saat itulah, KH. Mukhtar Syafa’at ditunjuk menjadi pengganti Gus Dim untuk memimpin MMPP.

Di bawah kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at, MMPP berkembang pesat. Jama’ahnya makin bertambah banyak dan secara keorganisasian makin tertata. Nomenklatur “selatan” yang sebelumnya menempel pada kata Banyuwangi, dihapus. Hal ini, bertujuan untuk menjadikan MMPP memiliki cakupan lebih luas.

Saat kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at ini, awal mula dirintisnya pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali dalam rangkaian acara MMPP. Kitab Ihya’ Ulumuddin yang dikaji khusus Juz III (tiga) saja. Menurut KH. Aly Machfud Syafa’at, putra KH. Mukhtar Syafa’at, pemilihan Juz III kitab Ihya’ Ulumuddin, bukan tanpa alasan. Ada alasan spiritual yang melatarbelakangi. Dalam pemahaman Kiai Mukhtar Syafa’at, hati (inti) dari Kitab Ihya’ Ulumuddin ada pada juz III tersebut.

Dalam perkembangannya, MMPP resmi berada dibawah naungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi semenjak tahun 2003, tepatnya hari Jum’at, 6 Juni. Kala itu, Rais PCNU Banyuwangi adalah KH. Hisyam Syafa’at, putra almarhum KH. Mukhtar Syafa’at. (Anang Lukman Afandi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Kajian, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 Februari 2013

Keluarga Maslahah

Keluarga Maslahah adalah konsep untuk menyebut keluarga yang bahagia, sejahtera, dan taat kepada ajaran agama di lingkungan NU. Secara khusus, konsep keluarga maslahah ini dikembangkan oleh LKK-NU.

Maslahah berasal dari akar kata sha-lu-ha yang secara harfiah berarti baik, manfaat, dan penting. Maslahah adalah kepentingan pribadi (perorangan), keluarga, dan masyarakat, karena maslahah adalah terpeliharanya kebutuhan primer manusia, baik agama, jiwa, harta benda, keturunan, serta akal atau kehormatan. Oleh karena itu, maslahah merupakan cita-cita setiap orang atau kelompok, khususnya kaum muslimin.

Keluarga Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Maslahah

Teori al-Maslahah telah dikemukakan oleh para pemikir hukum Islam, seperti asy-Syatibi dan al-Ghazali. Menurut al-Ghazali, maslahah adalah ungkapan yang pada intinya guna meraih kemanfaatan atau menolak kesulitan. Yang dimaksud adalah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sedangkan al-Khawarizmi mendefinisikan maslahah dengan ”memelihara tujuan hukum Islam dengan menolak bencana atau kerusakan yang merugikan makhluk.”

Dari pengertian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa maslahah adalah sarana untuk menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan manusia yang bersendi pada prinsip menarik manfaat dan menolak mafsadat (kerusakan). 

Ribath Nurul Hidayah

Dilihat dari kandungannya, maslahah dibagi dua, yakni: maslahat umum (al-maslahat al-’am), yakni maslahat untuk kepentingan orang banyak, dan maslahat khusus (al-maslhat al-khash), yakni maslahat untuk kepentingan pribadi.

Ribath Nurul Hidayah

Keluarga maslahah adalah keluarga yang dapat memenuhi atau memelihara kebutuhan primer (pokok), baik lahir maupun batin. Terpenuhi atau terpeliharanya kebutuhan lahir dimaksudkan bahwa keluarga tersebut terbebas dari lilitan kemiskinan dan penyakit jasmani. Sedangkan terpenuhi atau terpeliharanya kebutuhan batin dimaksudkan bahwa keluarga tersebut terbebas dari kemiskinan akidah (iman), rasa takut, stres, dan penyakit-penyakit batin lainnya.

Dalam buku Pedoman Pelaksanaan Program Keluarga Berencana dan Pendidikan Kependudukan yang diterbitkan LKKNU dan BKKBN disebutkan, terpeliharanya keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin adalah:

1. Terpeliharanya kesehatan ibu dan anak, seperti terjaminnya keselamatan jiwa dan raga ibu selama hamil, melahirkan, dan menyusui serta terjaminnya keselamatan anak sejak dalam kandungan.

2. Terpeliharanya keselamatan jiwa, kesehatan jasmani dan ruhani anak serta tersedianya pendidikan bagi anak.

3. Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban menyediakan kebutuhan hidup keluarga.

Adapun ciri dari kemaslahatan keluarga (mashalihul usrah) adalah keluarga yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut:  

1. Suami-istri yang saleh, yakni yang dapat mendatangkan manfaat dan faedah untuk dirinya, anak-anaknya dan lingkungannya, sehingga darinya tecermin perilaku dan perbuatan yang dapat menjadi suri teladan (uswatun hasanah) bagi anak-anaknya maupun orang lain.

2. Anak-anaknya baik (abrar), dalam arti berkualitas, berakhlak mulia, sehat ruhani dan jasmani. Mereka produktif dan kreatif sehingga pada saatnya dapat hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain atau masyarakat.

3. Pergaulannya baik. Maksudnya, pergaulan anggota keluarga itu terarah, mengenal lingkungan yang baik, dan bertetangga dengan baik tanpa mengorbankan prinsip dan pendirian hidupnya.

4. Berkecukupan rezeki (sandang, pangan, dan papan). Artinya, tidak harus kaya atau berlimpah harta, yang penting dapat membiayai hidup dan kehidupan keluarganya, dari kebutuhan sandang, pangan dan papan, biaya pendidikan, dan ibadahnya. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Pesantren, Habib Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 25 Januari 2013

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Setelah bertahun-tahun vakum, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur kembali berupaya menghidupkan kaderisasi kembali dengan pagelaran Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) di Madrasah Diniyah Miftahul Jannah, Karangtengah Gudo.

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi

Upaya ini, nantinya diharapkan memiliki generasi penerus NU yang konsisten memperjuangkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah. Meskipun perdana digelar, tampak sejumlah pelajar setempat antusias mengikuti acara ini. Kurang lebih sekitar 83 peserta mengikuti acara hingga rampung.

Selama kegiatan, mereka disuguhi beberapa materi? dan upaya mengakrabkan satu sama lain, di antaranya Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) , ke-NU-an, ke-IPNU-IPPNU-an, keorganisasian, kepemimpinan, dan aksi bersih-bersih area sekitar.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, dimulai dari tanggal 23 - 25 Juni 2016 itu mendapat banyak dukungan dari beberapa elemen masyarakat dan badan otonom (Banom) NU setempat.

"Dengan semangat dan silaturahim yang dirasa cukup Makesta ini digelar awalnya hanya dengan bermodalkan bismillah, dan kemudian dengan kalimat alhamdulillah. Soalnya banyak donatur dari alumni dan banom-banom yang menjadi bapak, ibu, kakak dari Lembaga IPNU-IPPNU ini. Dari PC (Pengurus Cabang) juga sangat antusias membantu jalannya acara kami," Papar Lila, Ketua PAC IPPNU Gudo, Sabtu (25/6).

Ribath Nurul Hidayah

Lila menambahkan bahwa kegiatan tersebut selain sebagai ajang silaturahim antarranting, juga salah satu bentuk implementasi dari visi IPNU-IPPNU, yakni 3B, (belajar, berjuang dan bertaqwa). "Ya semoga dengan adanya Makesta ini seluruh kader kami dapat kembali kepada visi kami semula," katanya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Pesantren, Amalan Ribath Nurul Hidayah