Senin, 01 Agustus 2011

Rasa Syukur Seorang Narapidana

"Bagaimana kabarmu di penjara?" Tanya seorang sufi lewat sebuah surat kepada sahabatnya.

Sahabatnya menjadi tahanan sebuah kerajaan lantaran suatu kesalahan. Para sipir sekali waktu datang bersama seorang Majusi lalu merantainya secara bergandengan dengan teman sufi itu. Apesnya, si Majusi sedang didera penyakit mules. Sehingga, tiap kali si Majusi hendak buang hajat, sahabat sufi tersebut terpaksa menemani di sebelahnya. Selalu. Bau busuk yang menusuk hidung dan gerak serbaterbatas akibat rantai besi itu tentu sangat mengganggu.

Rasa Syukur Seorang Narapidana (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasa Syukur Seorang Narapidana (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasa Syukur Seorang Narapidana

Sang sufi paham dengan keadaan sahabatnya ini dan karenanya ingin memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.

"Aku bersyukur kepada Allah," balas surat si narapidana kepada sang sufi.

Ribath Nurul Hidayah

"Sampai kapan kau bersyukur? Memangnya ada yang lebih buruk dari keadaanmu sekarang?"

"Seandainya ikat pinggang si Majusi digandengkan dengan perutku tentu keadaannya akan lebih parah. Saudaraku, sebetulnya aku berhak mendapatkan hukuman lebih dari ini."

Ribath Nurul Hidayah

Lanjut si narapidana, "Jika memang Tuhan mengampuniku melalui takdir semacam ini, bukankah syukur wajib kupanjatkan?"

Ia lalu menjelaskan tentang rasa takut terhadap pedihnya sanksi di neraka seandainya dirinya tak memperoleh ampunan. Demikian kisah yang tercatat dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Ada cara pandang unik yang dimiliki si narapidana. Ia menilai hukuman yang diterimanya saat itu selayak karunia kebaikan. Sebuah pola pikir yang hanya bisa diraih bila seseorang mempunyai pengertian lebih luas tentang anugerah dan musibah. Anugerah tak mesti sebuah kenikmatan, dan tak semua kesengsaraan bisa disebut musibah.

Orang dengan kacamata masa depan akan berpikir tentang pendidikan jiwanya dalam menyesali kesalahan, melapangkan hati menanggung risiko, dan membenahi diri, hingga tentang nasib kehidupan akhirat di masa mendatang. Dengan demikian, mengeluhkan atau menghindari tanggung jawab hukum, terlebih dengan membuat kesalahan baru (misalnya dengan menyuap penegak hukum), adalah sebuah kepicikan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 Juni 2011

Warga NU Karas Ikuti Pelatihan Sholat Sempurna

Magetan Ribath Nurul Hidayah. Warga Nahdlatul Ulama kecamatan Karas, Magetan mengikuti pelatihan sholat sempurna di masjid Al-Khoirot desa Temenggungan, Kamis (15/5). Pelatihan ini menghadirkan pengurus Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama sebagai fasilitator.

Para peserta dilatih untuk meresapi dan menghayati ayat juga semua dzikir yang dibaca di dalam sholat. Dengan demikian, ibadah lebih bermakna dari sekadar upaya formalitas menggugurkan kewajiban semata.

Warga NU Karas Ikuti Pelatihan Sholat Sempurna (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Karas Ikuti Pelatihan Sholat Sempurna (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Karas Ikuti Pelatihan Sholat Sempurna

Sekertaris IPNU Magetan yang mengikuti pelatihan, Thoha mengatakan, pelatihan sholat sempurna ini merupakan perbaikan tentang tata cara sholat sesuai bimbingan ilmu.

Ribath Nurul Hidayah

Hasil pelatihan ini diharapkan agar ibadah sholat yang dikerjakan peserta lebih benar dan mantap di samping kenikmatan saat sholat dilaksanakan.

Ribath Nurul Hidayah

“Banyak ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini. Peserta mengetahui ilmu yang berkaitan dengan sholat juga mempraktikkan secara langsung gerakan-gerakan sholat sebagaimana ilmu yang disampikan,” imbuh Thoha.

Pelatihan ini mengisyaratkan siapa saja untuk lebih hati-hati dalam memenuhi syarat, rukun, sunnah, gerakan, dan bacaan sholat sesuai dengan ilmu ulama. Kecuali itu, sholat merupakan ibadah agung yang harus dilakukan dengan tenang, penuh konsentrasi. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, Nahdlatul, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 08 Juni 2011

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia

Ulama Indonesia, jauh sebelum 17 Agustus 1945 sudah memprediksikan negeri ini akan mengalami gangguan dan akhirnya mampu meraih kemerdekaan. Gangguan terhadap harkat dan martabat bangsa ini, tak lain untuk menguji semangat persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya lawan yang merampas marwah bangsa Indonesia, maka persatuan sangat sulit diciptakan.?

Namun dengan hadirnya penjajah, maka seluruh warga bangsa merasa memiliki dan meminta kembali hak pribumi. Oleh para ulama, masyarakat yang beragama Islam diajak melakukan serangkaian mujahadah, istighatsah, tirakat dan doa bersama agar Indonesia selamat dari penjajahan dan bisa merdeka.

Dari kisah para ulama terdahulu, ada banyak cerita menarik tentang penjajahan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah tiga orang ulama yang sudah memberikan isyarat tentang kondisi Indonesai jauh-jauh hari sebelum diserang Belanda, Jepang dan merdeka. Kisah ini dijelaskan oleh Zainul Milal Bizawie dalam bukunya “Masterpice Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri 1830-1945”.

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia

Pertama, KH Abdus Syakur Senori Tuban (wafat 1359 H/1940 M). Kyai Syakur dikenal sebagai teman akrab KH Hasyim Asy’ari yang memiliki ilmu kasyf. Dengan ilmu yang dimilikinya, Mbah Syakur membuat sya’ir tentang kedatangan tentara Jepang dan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 M/1365 H. Padahal lima tahun sebelum merdeka, Mbah Syakur sudah wafat. Syair karya Mbah Syakur adalah:

? ? ? ? * ? ? ?

? ? * ? ?

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? * ? ? ? ?

? ? ? * ? ? ?

? ? ? ? * ? ? ? ?

? ? ? * ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun ? ghisy-syisa





(Jika dihitung dengan hisabul jummmal adalah 1361 H/1942 M)





Ia sebagai kolonial yang menyengsarakan bangsa Indonesia





Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera.





Ketika bulan Rajab (1365 H/Juni 1945) telah terjadi keajaiban, kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945).





Kemudian pada bulan Ramadan (17 Agustus 1945) datanglah masa gembira ria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.





Dan pada bulan Syawwal (September 1945), penderitaan Nusantara semakin membaik. ? Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya pada bulan Dzul Qa’dah (Oktober 1945)





Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno), seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.

Kedua, Syaikh Ibrahim bin Husain Buengcala Kuta Baro Aceh. Pada tahun 1288 H/1871 M, Syaikh Ibrahim menyatakan: “Negeri di bawah angi (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah China bangsa lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang). Maka Insya Allah ta’ala pada tahun 1365 H (1945 M) lahir satu keajaan yang adil dan bijaksana dinamakan al-Jumhuriyah al-Indunisiyah yang sah”. Kalimat ini dinyatakan 71 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Tentunya Syaikh Ibrahim memberikan isyarat kepada masyarakat Aceh agar menghormati proses perjuangan bangsa hingga meraih kemerdekaan dengan sempurna.

Dan ketiga, KH Chasbullah Sa’id Jombang (ayahanda KH Abdul Wahab Chasbullah). Setelah melakukan tirakat dan riyadlah yang cukup panjang, Mbah Chasbullah meninggalkan tulisan pendek yang ditutupi dengan kain satir di menara Masjid Pondok Induk (Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang).?

Menjelang wafatnya, Mbah Chasbullan memberikan pesan pada salah seorang santrinya: “Lek misale aku mati, omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menara tahun 1948; kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan pada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948”. Setelah menyampaikan pesan itu, beberapa bulan Mbah Chasbullah wafat.?

Maka sesuai dengan pesan Abahnya, KH Abdul Wahab Chasbullah membuka isi pesan itu pada 1948. Proses membuka isi pesan itu diiringi dengan pembacaan shalawat burdah yang diikuti juga oleh segenap santrinya. Ternyata isi pesan Mbah Chasbullah sangat singkat, yakni tulisan: ? ? ? (hurrun tammun, artinya kemerdekaan yang sempurna). Dan ternyata tahun 1948, kemerdekaan Indonesia sudah diakui oleh dunia dan agresi militer Belanda juga sudah sukses dipukul mundur.

Usaha riyadlah dan tirakat dalam mendukung kemerdekaan sejati itu selalu dilakukan oleh Mbah Chasbullah dengan menyuruh santrinya i’tikaf dan membaca amalan shalwat burdah selama sehari penuh. Sedangkan Mbah Chasbullah memilih berdoa dan riyadlah di rumahnya dengan khusyu’ penuh harapan.

Tiga sosok ulama yang memiliki ilmu kasyaf ini patut untuk dijadikan ‘ibrah bahwa para Kyai sangat peduli dalam proses perjuangan bangsa Indonesia. Karena ilmu yang dimiliki oleh Kyai lebih banyak agama, maka proses keagamaan itu yang menjadi dominan dilakukan. Semangat dalam membaca tanda alam dan isyarat dari Allah itulah yang selalu diasah. Sehingga wajar bila para Kyai sudah memberikan prediksi tentang kondisi bangsa ini jauh hari sebelum kemerdekaan.

Sebagai anak bangsa yang sudah menerima kemerdekaan, tentunya patut menghargai usaha para pendahulu yang telah berjuang untuk bangsa ini. Kemerdekaan dan kebahagiaan hidup dalam suasana Indonesia semacam ini membuat hidup tenang dan bebas beraktivitas apapun. Maka sudah sewajarnya kemerdekaan ini diisi dengan hal positif dari memperkuat persatuan bangsa, memperluas wawasan nusantara, menambah ilmu pengetahuan dan menjaga tumpah darah dengan segenap cinta bangsa.***

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Pondok Pesantren, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 13 Februari 2011

Gus Dur, Keadilan Gender, dan Buruh Migran

Ketika menyebut nama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang tercipta di benak saya adalah cendekiawan Muslim sangat arif, bijaksana, humoris, dan juga toleran. Siapa tak kenal dia? Mantan Presiden Indonesia keempat ini begitu dikagumi, sekaligus dihujat karena berbagai pemikiran menuai pro dan kontra di masyarakat.

“Perjumpaan” saya dengan Gus Dur pun terbilang sangat singkat, yaitu sejak tahun 2009, ketika saya menimba ilmu politik di kampus Universitas Indonesia. Meski belum berkesempatan untuk berdialog langsung dengan beliau hingga akhir hayatnya, namun pemikiran-pemikiran-nya tentang perlindungan buruh migran Indonesia, yang menjadi konsentrasi saya dalam ranah ilmu politik, amat saya kagumi.

Gus Dur, Keadilan Gender, dan Buruh Migran (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur, Keadilan Gender, dan Buruh Migran (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur, Keadilan Gender, dan Buruh Migran

Gender dan Politik

Ribath Nurul Hidayah

Berbicara tentang gender, maka berbicara pula tentang keadilan. Karenanya, seringkali kita mendengar kata “adil gender”. Gender, sebagaimana yang disebutkan oleh Judith Squires dalam bukunya Gender in Political Theory, mengurai bahwa ketika kita menyebut gender, maka identik dengan suatu bentuk secara kultur/budaya yang mendefinisikan sebuah karakteristik yang dikonstruksi secara sosial, kemudian dialamatkan pada salah satu pihak, dan dalam hal ini adalah perempuan.

Ribath Nurul Hidayah

Akhirnya, kita akan mendengar penamaan feminine dan maskulin. Feminine merujuk pada perempuan, bahwa perempuan itu lembut, lemah, berkutat pada ranah domestik, sensitif dan sebagainya. Sedangkan maskulin merujuk pada laki-laki, bahwa mereka tangguh, kuat, berkutat pada ranah publik, dan tidak sensitif. Pada akhirnya, secara umum kita akan mengenal kata gender sebagai pembedaan peran, fungsi, tanggung jawab dan hal lainnya antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang dikonstruksi secara sosial, budaya atau penafsiran nilai agama yang salah.

Kehadiran konstruksi sosial, budaya dan bahkan penafsiran nilai agama yang salah  tersebut, menyebabkan kurangnya kehadiran perempuan dalam konteks pembangunan sosial. Ini pula yang disadari oleh Gus Dur, dengan berpikir bagaimana Negara menempatkan perempuan dalam pembangunan. Meminjam tulisan yang diurai dalam sebuah artikel di situs Fahmina pada bahasan “Gus Dur Sang Presiden Feminis”, bahwa Gus Dur kemudian mengubah Menteri Urusan Peranan Wanita, menjadi Menteri Urusan Pemberdayaan Perempuan.

Bagi saya, sikap Gus Dur tersebut merefleksikan pemikiran dan keberpihakannya terhadap kondisi perempuan Indonesia, yang terkena budaya patriarkhi dan menempatkan perempuan sebagai warga Negara kelas kedua/second sex. Pemikiran beliau tentang adil gender, juga diaplikasikan pada sejumlah produk kebijakan ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden Indonesia periode 1999-2001. Ia memperkenalkan kata gender dalam GBHN 1999-2004, dijabarkan dalam UU No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) tahun 2000-2004. UU  tersebut juga sebagai salah satu upaya merespon Konferensi Beijing.

Tidak hanya itu, pada tahun 2000, Gus Dur juga menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No.9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PuG/Gender Mainstreaming). Dimana Inpres tersebut menjadi cikal bakal masuknya nafas kesetaraan dan keadilan gender dalam tiap kebijakan dan program pembangunan nasional yang ada di Indonesia. Pada masa beliau menjabat, program KB juga tidak hanya diarahkan kepada perempuan, tetapi mulai diarahkan juga pada laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah “mitra sejajar”, dapat saling bermusyawarah dan tidak mensubordinat antara satu dengan lainnya.

Membela Buruh Migran Indonesia

Pemikiran dan gagasan Gus Dur terhadap konsep adil gender, rupanya beliau terapkan juga dalam bidang migrasi ketenagakerjaan. Menyadari bahwa banyak sekali warga Negara Indonesia yang bekerja di luar negeri demi mencari penghidupan yang layak, menjadikan Gus Dur sangat memahami perlindungan yang wajib di dapatkan oleh TKI/TKW Indonesia.

Ketika beliau menjabat, arus migrasi meningkat tajam, khususnya jumlah buruh migran perempuan Indonesia. Berdasarkan data Kemnakertrans RI 2011, saat itu terdapat 302.791 buruh perempuan dan 124.828 buruh laki-laki (1999), 297.273 buruh perempuan dan 137.949 buruh laki-laki (2000) dan 239.942 buruh perempuan dan 55.206 buruh laki-laki (2001).

Hal ini sungguh menghadirkan dilema, karena pada satu sisi membuat perempuan mampu meningkatkan taraf hidupnya, namun di sisi lain kekerasan terjadi pada buruh migran perempuan yang mayoritas bekerja di sektor domestik. Tentu kita masih ingat kasus kekerasan terhadap Nirmala Bonat (2004), Ceriyati (2007), Winfaidah, Siti Hajar (2009), Sumiati, Ruyati dan Wilfrida Soik, di mana mereka bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Negara tujuan pengiriman terbesar, yaitu Malaysia dan Arab Saudi.

Menghadapi kekerasan yang banyak terjadi, maka Gus Dur saat itu mengupayakan langkah soft diplomacy dan berbicara dengan Raja Arab Saudi untuk sama-sama berkomitmen melindungi dan juga memberikan ampunan pada buruh migran Indonesia yang terkena ancaman hukuman mati.

Tidak hanya itu, tercatat bahwa selama periode kepemimpinannya, ia mempertegas komitmen Kementerian Luar Negeri untuk memberi perlindungan yang optimal, dengan dikeluarkannya Keppres No.109 tahun 2001, yang melahirkan terbentuknya Direktorat baru di Kemlu, yaitu Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI).

Hingga kini, Direktorat ini menjadi satu-satunya Direktorat yang mempunyai peranan penting dalam tubuh Kemlu, guna mengupayakan perlindungan terhadap TKI/TKW, selain KBRI di Negara setempat. Juga, menjadi Direktorat yang menjalin kerjasama dengan sejumlah LSM yang memperjuangkan perlindungan buruh migran Indonesia, seperti Migrant CARE.

Bahkan, atas segala dedikasinya dalam memperjuangkan perlindungan terhadap buruh migran Indonesia, LSM Migrant CARE pun “memanggil” beliau sebagai Presiden Buruh Migran Indonesia. LSM ini mencatat bahwa pada tahun 1999, Gus Dur melakukan diplomasi untuk menyelamatkan Zaenab dari hukuman mati. Tahun 2005, Gus Dur menampung 81 orang buruh migran Indonesia (BMI/TKI) di asrama Pesantren Ciganjur dan melakukan upaya penyelesaian kasus buruh migran ilegal tersebut dengan mendatangi Perdana Mentri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak.

“Perjumpaan” saya yang singkat tersebut dengan Gus Dur, membuat saya memahami betapa pemikiran Gus Dur melangkah jauh ke depan. Ia berpikir di luar kebiasaan, di saat tidak banyak orang terpikir untuk melakukan langkah-langkah yang bisa ditempuh, khususnya dalam hal kepemimpinan.

Sungguh, saya sangat mengagumi pemikiran beliau tentang keberadaan dan partisipasi perempuan, yang sejatinya harus menjadi mitra sejajar bagi laki-laki dalam dunia publik, bukan sekedar “pelengkap”.

Ada tiga hal konkret yang beliau lakukan dalam kaitan memberikan perlindungan dalam bidang ketenagakerjaan. Pertama, mendirikan SBSI (Serikat Buruh Seluruh Indonesia), serikat independen era ORBA, sebagai langkahnya dalam pembelaan terhadap aktifis buruh. Kedua, beliau mencabut UU No.25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan yang eksploitatif, anti serikat dan tidak ada proteksi terhadap tenaga kerja Indonesia. Ketiga, Gus Dur juga membuat Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.150 Tahun 2000 tentang pesangon untuk antisipasi dampak pemberhentian kerja pada buruh.

Ketiganya adalah bukti keberpihakan beliau pada perlindungan bidang ketenagakerjaan di Indonesia. Bukti, bahwa semua warga Negara Indonesia berhak mendapatkan perlakuan yang sama, tanpa tindakan diskriminatif. Semoga kita semua dapat mencontoh dan meneruskan perjuangan Gus Dur dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Lahu Al-Fatihah.

ANA SABHANA AZMY, Ketua IV Bidang Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama periode 2012-2015.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Warta, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 Desember 2010

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Seperti tahun sebelumnya, Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur selalu menyembelih hewan kurban. Tidak semata dinikmati para santri dan tetangga sekitar pesantren, sebagian daging kurban juga diberikan ke sejumlah keluarga kurang mampu di pelosok desa.

Lewat Lembaga Sosial Pesantren Tebuirteng atau LSPT, sejumlah daging kurban tersebut disalurkan ke beberapa lokasi yakni beberapa desa di Kecamatan Diwek, Gudo, serta Mojowarno.

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa

"Prinsipnya kami ingin berbagi kebahagiaan dengan warga masyarakat kurang mampu di Jombang," kata Khoirur Rozak, Selasa (13/9). Direktur LSPT tersebut menandaskan bahwa cukup banyak masyarakat di kota santri ini yang belum bisa menikmati daging. Karena itu, momentum Idul Adha menjadi waktu yang tepat untuk berbagi dengan mereka, lanjutnya.

Ahmad Fanani yang mengedarkan daging dari LSPT ke sejumlah warga di Desa Kedungturi Kecamatan Gudo bahkan bertemu dengan Mbah Mur. "Yang memprihatinkan, kakek berusia seratus tahun tersebut dalam kesehariannya hidup sebatang kara," kata Fanani yang juga donatur service di LSPT.

Ribath Nurul Hidayah

Sambutan hangat diterima tim LSPT ketika menebar daging kurban di Dusun Tegalsari dan Desa Catakgayam Kecamatan Mojowarno. "Meski jumlah daging tidak banyak, namun tidak mengurangi rasa bahagia dari warga yang menerima," kata Nasrullah. Bahkan Anas, sapaan akrabnya mengemukakan kalau warga yang diberi daging memang dipilih mereka yang secara ekonomi cukup terbelakang.

Slamet Santoso membagi daging bantuan LSPT di dusun Mejono dan Cikar Desa Keras Kecamatan Diwek juga harus selektif. "Diprioritaskan warga kurang mampu dan hidup prihatin," kata Mbah Met, sapaan kesehariannya.

Ribath Nurul Hidayah

Puluhan bungkus daging kurban juga diserahkan kepada warga di kawasan Bandung Krajan, Bandungsari, Pengkol, dan Sukopuro. "Seluruhnya berada di Kecamatan Diwek," kata Rahmat Hidayat.

Bantuan daging kurban tersebut diberikan kepada sejumlah karyawan LSPT di daerah masing-masing. "Dengan demikian, mereka yang lebih tahu mana warga yang memang layak menerima daging," kata Khoirur Rozak.

Apalagi pembagian dilakukan di hari kedua Idul Adha, maka sekaligus bisa melakukan pemantauan terhadap warga yang belum mendapatkan pembagian kurban dari takmir masjid atau mushalla setempat. "Dengan demikian warga yang menerima benar-benar layak mendapatkan daging kurban tersebut," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 12 Desember 2010

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Pelawak Cak Lontong menguraikan pengalamannya bersinggungsn dengan tradisi, tokoh, dan warga NU. Menurut dia, orang NU itu santai, tidak ribet, dan bisa mengurusi dirinya sendiri. Dan tentu saja sangat kental dengan nuansa budaya.

Hal itu dikemukakannya beberapa saat sebelum tampil di peringatan Hari Lahir NU ke-91 di halaman gedung PBNU, Jakarta, 31 Januari lalu, sembari memilih batik NU yang cocok untuk dikenakannya.

Berikut wawancara lengkap Cak Lontong dengan Abdullah Alawi dari Ribath Nurul Hidayah:

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Sejak kapan Anda mengenal NU?Saya dari dulu suporter NU memang, mulai zaman kuliah.?

Ribath Nurul Hidayah

Maksudnya suporter itu bagaimana?

Oh iya, saya kan Gusdurian. Zaman Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU 1984-1999) lawan siapa dulu, Abu Hasan, zaman Orde Baru itu, zaman itu kan lagi rame-ramenya Gus Dur sama Orde Baru, penggemar Gus Dur, mulai itu. Tahun berapa itu?

Ribath Nurul Hidayah

Tahun 1994, Muktamar Cipasung

Iya, betul, saya manut sampeyan. Sampeyan lebih tahu.?

Pada 1994 Anda berpihak ke Gus Dur, cara pandang Anda waktu itu bagaimana?

Sebenarnya kan tahun 1994 itu saya mahasiswa. Pada tahun 1994 itu tidak ada mahasiswa yang berpihak pada pemerintah. Kalau berpihak, berarti bukan mahasiswa, itu cari gelar. Kalau mahasiswa, tidak ada tahun segitu yang senang Orde Baru, tak ada. Nah, Abu Hasan kan produknya Orde Baru. Dulu kan melihatnya begitu.?

Yang menarik dari Gus Dur itu apa?

Secara kulturnya adalah orang Jawa, Jawa Timur, kulturnya tidak jauh-jauh. Terus humornya juga, selera humornya luar biasa. Gus Dur itu lawaknya universal sebenarnya.?

Sebelumnya 1994 sama sekali tidak mengenal NU?

Bukan sama sekali, saya kan kenal Gus Ipul (H Syaifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur), sudah lama, rektor saya Pak Nuh, orang NU, dulu kuliah.

Oh ya, tadi Anda bilang sebagai supporter NU. Akan sampai kapan menjadi supporter NU?

Ya terus dong. Masa mau pindah ke MU.

Supporter dalam bentuk apa?

Apa ya, kalau orang merasa cocok, karena saya juga, satu, saya kan orang Jawa.

Masa kecil tidak pernah dengar NU?

Udah. Dulu saya punya topi banyak tak bordir, topiku dulu tak bordir NU kalau zaman SMA, kuliah topiku masih bordiran NU. Kecil di kampung tahlilan ikut, dzikir wida. Tetangga saya dulu modin.

Kesan bersinggungan dengan orang-orang NU bagaimana?

Nyantai, nyantai tidak ribet. Terus budayanya itu kental. Misalnya acara gini kan harlah NU, ulang tahun, nyantai aja peringatannya, walaupun Nahdliyin pada datang rame, tidak perlu nyari gedung harus penuh. Enak, ya nyantai. Menurut saya, orang NU itu bisa mengurus dirinya sendiri, tidak ngerepoti. Kalau ada acara, yang datang tak mau ngerepoti tuan rumahnya.?

Ada kritik untuk NU?

Wah, kalau itu saya tidak perlu.





Ke anak-anak Cak Lontong pernah memperkenalkan NU?

Oh anak saya tahu NU. Anak saya yang SMA dan SMP tahu NU. NU tahu. Walaupun tak jadi pengurus, tapi follower, tahu.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 01 Desember 2010

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam

Tubaba, Ribath Nurul Hidayah

Jamaaah Yasin Muslimat NU Tiyuh Makarti dan Sumber Rejo mengadakan santunan kepada yatim piatu di Masjid Nurul Iman Tiyuh Makarti Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat, Sabtu (30/9).

Kegiatan yang berangkaian dengan peringatan Tahun Baru Islam 1439 Hijriah menghadirkan penceramah KH Ahmad Junaedi dari Lampung Tengah.

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam

Ia mengajak jamaah jamaah selalu ingat akan pentingnya puasa dan bersedekah pada tanggal 10 Muharram.

“Agar rizki yang telah dimiliki dapat ditambah oleh Allah SWT,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia  menuturkan pahala sedekah akan dilipatgandakan. Pahala bagi yang menyantuni satu anak yatim sama dengan seisi jagat raya. Sementara bagi yatim piatu sedekah yang kita berikan akan mengurangi penderitaan.

"Maka mari kita selalu peduli terhadap anak yatim dan yatim piatu agar penderitaan mereka sedikit berkurang," pungkasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Turut hadir anggota DPRD Gunawan Agung Kuncoro,  Mapolsek Tulang Bawang Udik Erwan, serta tokoh agama setempat. (Gati Susanto/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, Doa, Ulama Ribath Nurul Hidayah