Jumat, 10 Februari 2017

PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award

Ponorogo, Ribath Nurul Hidayah - Penghargaan NU Award tahun 2017 yang diterima PCNU Ponorogo dari PWNU Jawa Timur beberapa waktu lalu menyisakan kebanggaan tersendiri. Tahun ini PCNU Ponorogo memperoleh tiga penghargaan, yaitu pengelolaan jamiyah menempati peringkat keempat, pengelolaan Rumah Sakit NU mendapat peringkat ketiga, sedangkan pengelolaan ekonomi keumatan menyabet peringkat pertama.

Penghargaan terakhir tidak lepas dari keberhasilan PCNU mendirikan Bintang Swalayan yang dimotori Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) dan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) dan keikutsertaan aktif MWCNU, lembaga dan banom NU. Sebagai bentuk rasa syukur, pihak PCNU mengundang seluruh pimpinan lembaga dan MWCNU mengadakan tasyakuran di aula kantor PCNU, Sabtu (29/7).

PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award

“Tasyakuran atas diterimanya NU Award tahun 2017 dari PWNU Jawa Timur ini merupakan penghargaan yang prestisius bagi PCNU ponorogo. Makanya rahmat Allah ini wajib kita syukuri, lain syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna azabi lasyadid,” kata Ketua PCNU Ponorogo Fatchul Aziz.

Ribath Nurul Hidayah

Perhelatan NU Award tingkat provinsi juga mengilhami PCNU untuk menggelar even serupa untuk tingkat kabupaten tahun depan. Keinginan ini diumumkan secara resmi oleh PCNU di hadapan para pengurus MWCNU yang hadir. Rencana ini disambut baik oleh para pengurus MWCNU.

“Kami MWCNU sangat mendukung rencana PCNU menyelenggarakan NU Award tingkat Kabupaten tahun 2018 mendatang. Kesempatan ini tentu memicu semangat kami untuk menata organisasi hingga tingkat ranting,” kata Ketua MWCNU Mlarak Gus Syukron.

Akselerasi Sertifikasi Tanah Wakaf

Ribath Nurul Hidayah

Tasyakuran NU Award juga dimanfaatkan untuk koordinasi percepatan sertifikasi tanah NU. Pada kesempatan ini pihak BPN Ponorogo menyosialisasikan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Sebelumnya PCNU ponorogo telah mengadakan MOU dengan BPN Kabupaten Ponorogo tentang percepatan sertifikasi tanah wakaf milik NU. Penandatanganan MOU disaksikan langsung oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Jalil di Malang beberapa bulan lalu.

“Sebagai langkah awal, pada tahun anggaran 2017 ini disepakati sertifikasi 1.000 bidang tanah wakaf milik NU,” kata Fatchul Aziz.

Tindak lanjut sosialisasi tersebut, Senin (31/7) giliran Kepala BPN Ponorogo mengundang PCNU dan MWCNU di kantornya. Mereka akan membicarakan kesepakatan teknis antara Tim BPN dengan Tim Wakaf NU Ponorogo.

“Kami berkomitmen penuh untuk menangani wakaf NU. Tujuannya adalah percepatan penyelesaian sertifikat tanah wakaf Nadlir NU,” kata Fatchul Aziz menandaskan komitmen BPN Ponorogo. (Idam Mustofa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 04 Februari 2017

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Membaca kata-kata Gus Mus, dalam Saleh Ritual dan Saleh Sosial, seperti menari; ada keluwesan dan kebernasan kalimat yang tak kita dapati dalam pada aspek “di luar kata-kata tulis Gus Mus”. Kebijaksanaan kiai sepuh dan ritmisitas kepenyairannya melebur menjadi satu dan membuat kita lena, bahkan sejak awal pengantar, bagaimana kesederhanaan, dengan anehnya, dapat berpadu dengan “kemewahan” sebuah nasehat.

Gus Mus, dalam pengantarnya berjudul Takdim, mengesankan beliau telah melampaui yangfana; tentang bagaimana beliau menegaskan bukan sekadar tidak sempat, tetapi tidak bisa membikin artikel yang panjang dan “serius”; maka kebanyakan tulisan di Saleh Ritual dan Saleh Sosial pun hanya berupa catatan-catatan pendek tentang perjalanan hidup. Beliau lebih berharap buku tersebut bisa menjadi amal ibadah. Sebuah espektasi yang tidak neko-neko.

Tetapi, yang pendek-pendek itu tidak selalu pas diasosiasikan dengan tidak dalam, jelentreh, rigid. Justru, oleh Gus Mus, sesuatu yang pendek itu pas dan akan malah berasa berlebihan bila dipanjang-panjangkan. Seolah tak ada pretensi menasehati, menulis artikel untuk “mengejar sesuatu”—semisal pengakuan, honor, atau popularitas. Beliau menulis sekadar berbagi, laiknya nuturicucunya, tetapi semua seakan bermula dari keresahan yang dalam.

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Kesederhanaan itulah yang kemudian rasanya akan lebih mudah diterima pembaca.Tidak ada berondongan dalil, yang kadang-kadang membuat pembaca-sambil-lalu jengah seakan “digurui”. Gus Mus bercerita, dengan kepiawaian seorang cerpenis, ihwal perumpamaan Al-Ghazali tentang posisi hati nurani, akal, anggota tubuh manusia, serta aturan agama dalam menjalankan fungsi hidup. Apakah kita sudah benar memposisikan semuanya.

Gus Mus juga lebih menggunakan tamsil-tamsil sederhana yang dilandasi atau dipungkasi satu-dua dalil, sehingga kita merasa ringan dan teredukasi (baca: terhibur) ketika membacanya. Seperti perumpamaan olahan tanah liat—dan keliatannya—sebagai representasi manusia dan api sebagai analogi setan. Juga, pada tulisan berjudul Pakaian, Gus Mus menunjukkan pengetahuannya tentang dunia mode, selaras dengan pakaian Gus Mus yang nyaris selalu modis.

Saleh Ritual dan Saleh Sosial,rasa-rasanya, pada beberapa tulisan juga begitu ensiklopedis. Contohnya tulisan berjudul Nabi yang Manusia. Gus Mus mampu menjelaskan sisi-kemanusiaan-nabi (humornya, jengkelnya, moderasinya) dengan begitu lancar, sebab boleh jadi pengetahuan yang kemudian diungkapkannya itu merupakan kristalisasi khazanah yang sudah mengendap lama di dalam pikir, sehingga sajiannya pun ringkas tetapi mantab.

Ribath Nurul Hidayah

Metode kritiknya pun menunjukkan kesepuhan dan barangkali sulit ditiru. Seperti dalam tulisan Kurban dan Korban. Ada kritik terselubung, yang membuat pembaca tidak berasa ditunjuk, tetapi kesadaran bahwa kita dikritik, uniknya, justru datang dari diri kita sendiri. Gus Mus menulis, Nabi Ibrahim rela mengorbankan apa yang menurut semua manusia bakal sulit dikorbankan: nyawa putranya. Berbeda dengan kita yang meski cuma mengurbankan kambing saja masih sering menyisakan pamrih.

Banguna kritik yang bertebaran di buku ini, seperti ketika Gus Mus membandingkan Rab’iah al-Adawiyah yang tidak takut neraka tetapi begitu takut bila tidak dicintai Allah dengan betapa kita takut pada kematian dalam tulisan berjudul Apabila Allah Mencintai Hambanya, membuat kita berpikir—alih-alih menentang;“itu-kan-nabi”, “itu-kan-sufi”—betapa kita, sebab kadar keimanan dan ketakwaan yang hari ini masih begini-begini saja, harus bisa mencontoh beliau-beliau itu.

Dalam kadar tertentu, beberapa tulisan bahkan terasa sangat instropektif, membuat kita merenung lama, bepikir, dan boleh jadi sampai menitikkan air mata. Seperti ketika membaca Dosa Besar, kita berpikir apakah selama ini kita adalah orang yang takabur—dengan keluasan makna sebagaimana disampaikan Gus Mus. “Orang yang berbuat dosa karena meremehkan dosa adalah orang yang takabur,” tulisnya di halaman 66. Sedang takabur adalah “dosa pertama” yang tak termaafkan.

Ribath Nurul Hidayah

Beberapa tulisan dalam buku ini juga menunjukkan semacam pemberontakan terhadap kemapanan, kritis konstruktif yang, “khas anak muda”. Paradigmanya masih sama: kemanusiaan. Atau, betapa Islam adalah agama yang mudah dan sangat manusiawi. Selain memotret sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW dalam Nabi yang Manusia, Gus Mus juga membongkar anggapan puasa-lebih-utama dengan tanpa mengurangi pengakuan akan keagungan ibadah tersebut.

Dalam tulisan Selamat Makan, Gus Mus mengatakan, “…di Al-Qur’an sendiri, ‘perintah’ makan lebih dari tiga puluh kali difirmankan Allah. Bandingkan dengan ‘perintah’ puasa yang tidak sampai lima kali (bahkan yang menggunakan bentuk amar cuma dua kali),” tulisnya di halaman 86.Paradoks. Pasalnya, di awal tulisan, Gus Mus membeberkan stigma yang terbangun yang terangkum dalam ujaran: kau ini, makan saja yang kau pikirkan—seolah makan identik dengan aib.

Pula di dua tulisanDalih dan Dalil dan Ghairah yang relevan dengan kondisi kekinian, di mana banyak orang yang melegitimasi (mendalihkan) perspektifnya atau lebih mencenderungi dalil yang “menguntungkan” diri dan “merugikan” liyan. Meski, kita tahu, tentu saja tidak ada yang salah dari sebuah dalil. Kemudian Gus Mus mengusulkan jalan tengah; bagaimana kalau dalil yang biasanya dijadikan legitimasi tersebut dibalik.

“Misalnya, dalil tentang keharusan taat kepada pimpinan, biar rakyat saja yang me-‘wirid’-kannya, para pemimpin dan penguasa biar me-‘wirid’-kan dalil tentang kewajiban pemimpin dan penguasa untuk jujur dan adil. Dalil kehebatan lelaki biar dipegangi kaum wanita saja; dalil keagungan wanita biar dipegang kaum lelaki,” tulis Gus Mus di halaman 103. Dengan begitu maka akan terwujud suasana saling memperbaiki diri, guyub, dan bukannya saling menuntut.

Dalam Ghairah, Gus Mus mengumpamakan agama adalah istri. Kepada agama, sebagaimana kepada istri, kita mempunyai ghairah yang kuat, sebab adanya cinta yang begitu dalam. Tetapi, ghairah tersebut bisa juga lebih dekat kepada nafsu dan menegasikan akal sehat manakala kita tidak bisa menguasainya. Fanatisme yang tidak dilandasi dengan logika-aqli, objektivitas, dan cenderung fobia terhadap “mereka” yang tidak sama dengan “kita” adalah biangnya.

Maka Gus Mus menutup tulisan tersebut dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah, saksi-saksi yang adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufasir, “kaum” di sini artinya malah orang-orang kafir) mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:8)

Data buku:

Judul buku : Saleh Ritual Saleh Sosial

Penulis : KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Penerbit : DIVA Press

Cetakan : 2016

Tebal : 204 halaman

Peresensi: Syamsul Badri Islamy, Ketua LTN NU Kota Bekasi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Quote, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 02 Februari 2017

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP

Jakarta, NU.Online
Perubahan? pengelolaan perguruan tinggi negeri (PTN) dari pola birokrasi menuju paradigma profesional masih menyisakan sejumlah kontroversial dimasyarakat.? Hal ini terlihat dari pola penerimaan mahasiswa dengan 2 pola seleksi? yaitu, Penelurusan Minat Bakat dan Potensi (PMBP) dan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang sebelumnya satu jalur lewat UMPTN.

Dibeberapa perguruan tinggi negeri yang menggunakan pola BHMN (Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor) menuai kritik karena dengan pola baru tersebut dianggap mematikan potensi mahasiswa yang tidak mampu secara finansial. dan berpotensi menebar benih-benih diskriminasi dan eksklusivisme dalam kehidupan kampus.

Komentar tersebut dikemukakan sejumlah kalangan, Senin (16/6), setelah sejumlah PTN berlomba membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa baru dengan memasang tarif Rp 15 juta hingga Rp 150 juta. Langkah PTN menjaring dana dengan berbagai cara itu menyusul kebijakan dijadikannya kampus mereka sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN), yang diharuskan untuk mencari dana sendiri

Menanggapi "komersialiasi" PTN tersebut, Mendiknas Malik Fadjar menegaskan, ukuran masuk perguruan tinggi tetap akademis, dan sumbangan yang ditetapkan sama sekali tidak menghilangkan ukuran akademis itu. "Saya selalu menekankan jangan sampai uang menjadi persyaratan utama untuk masuk sekolah," ujar Malik usai menghadap Wakil Presiden Hamzah Haz di kantor Wapres di Jakarta, Senin.

Malik? mengatakan, sumbangan itu sifatnya sukarela. Ditanya mengapa sampai ada yang mematok Rp 150 juta, Malik menjawab, "Yang penting itu terbuka, transparan, dan akuntabilitasnya terjamin. Itu saja." Malik menambahkan, besarnya sumbangan tidak perlu diberi batasan. "Kita berikan peluang kepada masing-masing untuk tetap memperhatikan kemampuan (uang) dan persoalan (akademis). Ukurannya harus tetap akademis. Dulu juga kita sudah punya aturan seperti itu, tapi tidak jalan karena banyak mahasiswa mengaku dari golongan tidak mampu," katanya.

Ditanya soal mekanisme kontrol tentang sumbangan itu, Malik menjawab, "Kan sudah ada wali amanah dan dewan akuntabilitas akademis."

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Satryo Soemantri Brodjonegoro, pembukaan jalur mandiri dalam penerimaan mahasiswa baru PTN harus disertai dengan akuntabilitas penggunaan anggaran dan jaminan mutu akademik. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas akan mengevaluasi kinerja PTN yang membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa baru di luar jalur reguler. Berdasarkan evaluasi tersebut pemerintah akan membuat rambu-rambu menyangkut penerimaan mahasiswa baru yang berorientasi pencarian dana.

"Intinya, setiap PTN boleh saja mencari dana melalui penerimaan mahasiswa baru. Akan tetapi, harus transparan soal penggunaan anggaran, tidak diskriminatif, dan lebih penting lagi hasil seleksinya harus sesuai standar mutu akademik," kata Satryo Soemantri? Brodjonegoro

Sementara menurut? anggota Komisi VI DPR Ferdiansyah dari Fraksi Partai Golkar "Aturan itu ibarat menebar benih-benih diskriminasi dan eksklusivisme dalam kehidupan kampus," kata , menilai maraknya pembukaan jalur mandiri di kalangan PTN itu. Walaupun mahasiswa jalur mandiri dipersyaratkan mengikuti seleksi, dipertanyakan siapa yang bisa menjamin bahwa PTN bersangkutan bisa obyektif.

"Karena niat dari awal mencari dana, PTN bersangkutan bakal tergiur dengan kemampuan ekonomi calon mahasiswa. Kalau begini, hasil seleksi bisa jadi tidak merupakan pertimbangan utama," katanya.

Dalam pelayanan akademik, lanjut Ferdiansyah, akan sangat sulit bagi PTN untuk berlaku sama rata terhadap seluruh mahasiswanya. Ada kemungkinan mahasiswa jalur mandiri dimanjakan dengan sejumlah kemudahan, termasuk dalam persyaratan kelulusan mata kuliah. Hal yang buruk itu akan terakumulasi nantinya dalam mutu kelulusan sarjana.

Sementara itu, kendati sejumlah PTN favorit berlomba-lomba membuka jalur khusus, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tetap bertahan dengan sistem yang ada selama ini.

"ITS tidak akan ikut serta menyelenggarakan program serupa," kata Rektor ITS Dr Ir Mohammad Nuh DEA. "Dalam menyeleksi calon mahasiswa baru, kami tetap mengutamakan nilai akademis calon mahasiswa. Selain itu, ITS juga memiliki nilai-nilai tetap, salah satunya berupa tanggung jawab sosial, dengan memberikan kesempatan memperoleh pendidikan bagi siapa pun," ujarnya.

Rektor ITS menegaskan, pihaknya tidak akan mengubah nilai-nilai yang mereka tetapkan dalam menerima mahasiswa baru.Tanpa menyalahkan PTN yang telah menerapkan kebijakan program khusus tersebut, Nuh menandaskan bahwDari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP

Senin, 30 Januari 2017

STAINU Temanggung Gelar Bedah Buku Fiqih Toleransi

Temanggung, Ribath Nurul Hidayah. Di tengah kesadaran masyarakat Indonesia akan kebhinnekaan, masih ada kelompok-kelompok yang belum menyadari tentang ke-ika-an. Tentu ini tantangan serius bagi keberlangsungan kehidupan bernegara sebuah bangsa yang pluralistik ini.

STAINU Temanggung Gelar Bedah Buku Fiqih Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Temanggung Gelar Bedah Buku Fiqih Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Temanggung Gelar Bedah Buku Fiqih Toleransi

Untuk itu, LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) STAINU Temanggung, Rabu (15/2) menggadakan bedah buku Fikih Toleransi. Dengan menghadirkan penulis buku; Ahmad Syarif Yahya (Gus Yahya).?

Acara bedah buku ini berlangsung menyenangkan karena pemateri menyampaikan gagasannya dengan joke-joke segar tapi tetap padat berisi dan dengan tanpa kengelanturan. Selain pemateri dan 300 perserta dari Temanggung, Magelang, Wonosobo, dan Salatiga, turut hadir dan memberi sambutan pula, Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyoadi, Kapolres Wahyu Wim, Ketua III STAINU Abdul Munjid, dan PCNU Temanggung.

Menurutnya, Fiqih pesantren itu unik, sebab materi pembelajarannya menggunakan kitab kuning yang sarat term-term umum Islam seperti: jihad, kisas, rajam, amar makruf nahi mungkar, pengkelasan kafir: dzimmi, harb, dan lain-lain.?

“Yang ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan materi pengajaran kaum fundamentalis. Tetapi mengapa kemudian kaum pesantren bisa menjadi toleran dan moderat,” ujar Gus Yahya yang didampingi dua panelis, Sumardjoko dan M. Syafiq.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut penulis yang almuni pesantren Al-Anwar Sarang Rembang ini, kelompok santri selalu mengawal kebhinnekaan ini dengan keseimbangan antara agama dan negara dengan tidak mempertentangkannya.?

Maksud tidak mempertentangkan adalah dengan selalu beragama dan bernegara dengan seimbang. Tidak seperti kelompok kanan yang beragama dengan cara melawan negara, atau kelompok kiri yang bernegara dengan cara mengikis ajaran agama.

Ribath Nurul Hidayah

Diskusi menjadi menarik karena penulis memaparkan pengalaman tinggal di kampung halamannya yang sangat plural, di mana di sana sering terjadi hal semisal seorang muslim yang bapaknya non muslim kemudian bapaknya meninggal, anaknya biasanya meminta agar bapaknya yang non muslim disalati dan ditahlilkan tujuh hari, 40 hari, dan seterusnya.?

“Ini membutuhkan trik fiqih khusus, agar tidak menyinggung tetangga tapi juga tidak melanggar agama,” jelas Gus Yahya yang juga pemenang lomba esai nasional Ribath Nurul Hidayah sebagai juara 1, seminggu lalu.

Acara rampung pada pukul 15:40, ditutup dengan penjelasan makna Bhineka Tunggal Ika oleh Wakil Bupati Temanggung. (Haidar/Fathoni) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 24 Januari 2017

Alumni Madrasah TBS Kudus Terbitkan Buku "Santri Membaca Zaman"

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Untuk memberi kado Hari lahir ke-90 Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS), para alumni menerbitkan sebuah buku berjudul "Santri Membaca Zaman: Percikan Pemikiran Kaum Pesantren". Buku yang diluncurkan dalam acara Silatnas dan Ngaji Bareng Masyayikh TBS, Sabtu (23/7) ini berisi kumpulan artikel yang ditulis para alumni madrasah TBS dari berbagai angkatan.?

Alumni Madrasah TBS Kudus Terbitkan Buku Santri Membaca Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Madrasah TBS Kudus Terbitkan Buku Santri Membaca Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Madrasah TBS Kudus Terbitkan Buku "Santri Membaca Zaman"

Menurut salah seorang editor H. Nur Said, buku setebal 312 halaman ini menjadi impian para alumni madrasah TBS untuk untuk diterbitkan guna menyambut hari lahir (harlah) ke-90 Madrasah TBS Balaitengahan Kudus, Jawa Tengah.?

"Alhamdulillah, berkat karunia Allah dan kebersamaan kekompakan teman perguruan, para alumni mampu mewujudkan penerbitan buku ini," katanya.?

Said menjelaskan, artikel dalam buku ini merupakan refleksi para santri dalam membaca ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah maupun kauniyah sehingga melahirkan serpihan-serpihan ilmu sekaligus sebagai konstruksi ide yang bisa dijadikan alternatif acuan dalam mengembangkan pendidikan Islam di pesisir utara.?

Ribath Nurul Hidayah

"Buku ini sekaligus menegaskan bahwa para santri sudah sepatutnya sebagai penjaga gawang Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) untuk memagari Nusantara agar tetap berdaulat sebagai Islam yang tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawasuth (moderat/jalan tengah) dan Itidal (menegakkan keadilan)," ujar alumni TBS angkatan 1994 ini.?

Hadirnya buku ini diharapkan menjadi pemantik bagi munculnya karya-karya santri lainnya baik berupa buku, kitab atau temuan-temuan sain yang selama ini terpinggirkan. "Hal ini sekaligus sebagai uji nyali para santri dalam menyongsong 100 tahun madrasah TBS 10 tahun ke depan," ungkap Said yang juga ketua PC LTN NU Kudus.?

Dalam buku yang juga untuk menyemarakkan acara Silatnas dan Ngaji Bareng Masyayikh TBS ini, terdapat 25 artikel dari tulisan karya alumnus TBS yang memiliki latar belakang aktivitas berbeda. Di antara para penulisnya adalah Rosidi (pegiat media), A. Nafiul Haris (penulis), Khabibi Muhammad Luthfi (dosen), H.Izzul Mutho (Redaktur pelaksana Koran Indopos), Nur Khamin Hadziq (alumnus Al-Azhar Kairo,), Sofiyan Hadi (pengasuh pesantren Mawaddah Kudus), Muthohhar (Dosen UMK), dan lain sebagainya. (Qomarul Adib/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 21 Januari 2017

Teteskan Air Mata, Khofifah Ajak Masyarakat Giat Hadiri Majelis NU

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Menteri Sosial RI Hj Khofifah Indar Parawansa meneteskan air matanya di saat memberikan ceramah agama di haul ke-45 Mbah Wahab Chasbullah, Sabtu (13/8) malam. Ia terkenang dengan perjuangan para kiai NU. Ia berharap kelak termasuk dalam rombongan yang diakui oleh para kiai dan bersama-sama dibawa ke surga.

Meski belum bisa menyamai mereka dari sisi ibadahnya dan yang lainnya, ia berdoa agar dirinya masuk dalam rombongan para kiai.

Teteskan Air Mata, Khofifah Ajak Masyarakat Giat Hadiri Majelis NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Teteskan Air Mata, Khofifah Ajak Masyarakat Giat Hadiri Majelis NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Teteskan Air Mata, Khofifah Ajak Masyarakat Giat Hadiri Majelis NU

"Ini paling tidak yang ditanamkan dalam diri kita, puasa senin-kamisnya bolong-bolong, shadaqahnya bolong-bolong," katanya dengan suara lirihnya.

Ribath Nurul Hidayah

Para pendiri NU, menurut Khofifah, tentu sudah dijamin tempat yang layak oleh Allah SWT kelak, surga. Sementara manusia secara keseluruhan juga tak menampik tempat tersebut.

Namun demikian, terkadang sebagian manusia menginginkan sesuatu atau pemberian Allah yang sebetulnya belum pantas menjadi miliknya.

Ribath Nurul Hidayah

"Kalau tidak pernah rawuh dan tidak pernah berjuang di NU, mau masuk ke rombongan NU pantas mboten? Wong tidak pernah berjuang di NU kok mau ikut rombongan NU?" tuturnya.

Untuk itu, ia mengajak kepada segenap tamu undangan meski belum mampu beribadah kepada Allah dan berjuang seperti halnya para kiai, setidaknya bisa menghormati mereka. Salah satunya dengan senang menghadiri majelis-majelis yang dibuat oleh mereka termasuk menghadiri rangkaian acara haul Mbah Wahab.

"Kalau kita? ikhlas hadir dalam majelis seperti ini, rasanya harapan kita supaya kalau para muassis NU membawa rombongannya, kita akan ikut. Mudah-mudahan kita diakui rombongan NU," imbuhnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Khutbah, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 20 Januari 2017

Anda Repot, Kehilangan Sesuatu Barang?

Kita kadang kehilangan kunci motor, kacamata, telepon genggam, atau perabotan rumah tangga. Bisa jadi karena terjatuh, lupa di mana meletakkannya, atau lalai kalau barang yang dicari masih dipinjam tetangga. Maklum tidak semua orang memiliki daya ingat dan ketelitian tingkat tinggi terhadap barang miliknya. Solusinya sederhana, mengingat-ingat dan mencarinya.

Mereka yang kehilangan barang ini harus meningkatkan upaya pencarian terhadap perabotannya. Sementara hasil pencariannya mesti diserahkan kepada Allah. Tugas mereka hanya berusaha. Di samping itu Rasulullah mengajarkan doa yang perlu dibaca saat kehilangan suatu barang.

Anda Repot, Kehilangan Sesuatu Barang? (Sumber Gambar : Nu Online)
Anda Repot, Kehilangan Sesuatu Barang? (Sumber Gambar : Nu Online)

Anda Repot, Kehilangan Sesuatu Barang?

Sayid Utsman bin Yahya menerakan doa berikut dalam karyanya, Maslakul Akhyar fil Ad‘iyah wal Adzkar.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Artinya, Hai Tuhanku, Hai Zat Yang mengumpulkan sekalian orang di hari yang tiada syaknya lagi padanya. Kumpulkanlah kiranya antara aku dan barangku yang hilang, kumpulkan dengan kebajikan dan ‘afiyah.

Ribath Nurul Hidayah

Semoga doa ini bermanfaat. Sekurangnya mengurangi kepenatan pencarian atau membantu tumbuhnya keikhlasan terhadap barang yang belum diketemukan. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah