Kamis, 14 April 2016

Jadi Tujuan Investor, Ini Arahan untuk SARBUMUSI NU Jepara

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Sejak 2015, Jepara menjadi primadona bagi para investor baik skala nasional maupun internasional. Hal ini terlihat dari banyaknya pabrik besar yang beroperasional di Jepara dengan jumlah pekerja mencapai angka ribuan.?

Kenyataan di atas mendorong SARBUMUSI NU Jepara untuk secepatnya membentuk SARBUMUSI di tingkat pabrik, memperjuangkan kesejahteraan, memberikan perlindungan bagi buruh dan keluarganya.

Jadi Tujuan Investor, Ini Arahan untuk SARBUMUSI NU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Tujuan Investor, Ini Arahan untuk SARBUMUSI NU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Tujuan Investor, Ini Arahan untuk SARBUMUSI NU Jepara

Hal itu yang disampaikan Wakil Ketua PCNU Jepara, dalam Rapat Kerja Pertama SARBUMUSI Jepara, Ahad (5/2) di Gedung PCNU Jepara, Jl Pemuda 51 Jepara, Jawa Tengah.?

“SARBUMUSI Jepara juga diharapkan membangun kemitraan yang jelas dengan PMA maupun perusahaan dalam negeri dalam rangka penenuhan tenaga kerja dari asli orang Jepara sehingga dapat menekan pengangguran di Jepara,” tambah Hisyam melalui rilis yang dikirim kepada Ribath Nurul Hidayah.?

Dalam acara yang dihadiri seluruh pengurus SARBUMUSI Jepara, Hisyam juga mengemukakan hal penting yang harus dilakukan SARBUMUSI Jepara yakni memperjuangkan hak-hak buruh dan keluarganya melalui kenaikan gaji maupun jaminan keselamatan kerja, pendidikan, kesehatan dan pensiun. Selain itu membangun sinergitas dengan pemerintah daerah secara legal formal agar pemenuhan kebutuhan buruh dapat tercapai dan terlindungi secara konstitusional.

Dengan banyaknya jumlah perusahaan dan karyawan di Jepara yang dimungkinkan membawa dampak negatif sosial, SARBUMUSI Jepara juga diharapkan dapat mencegah dan mengantisipasi efek negatif tersebut seperti penyebaran penyakit HIV, narkoba, gaya hidup bebas, pelacuran dan minuman keras di sekitar pabrik dan rumah kos para buruh.

Ribath Nurul Hidayah

Hisyam menyebut beberapa perusahaan di Jepara di antaranya PT Sami (Jepang) bergerak di bidang perakitan kabel dengan jumlah karyawan mencapai 7000 orang; ? PT Bomin Permata Abadi bergerak di bidang garmen dengan jumlah karyawan 2500 orang; PT Kanindo bergerak di bidang pembuatan tas dengan jumlah karyawan 2000 orang. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 13 April 2016

Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) ranting desa Klumpit kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memperingati Maulid Nabi dengan menggelar perlombaan kesenian pelajar.

Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian

Lomba tersebut dilaksanakan pada Sabtu (3/1) di dua tempat terpisah, di Balai Desa Klumpit dan SD 01 Klumpit. Lomba untuk kalangan pelajar tingkat SLTA ke bawah tersebut antara lain lomba rebana sekabupaten Kudus, kaligrafi sekecamatan Gebog, Qiro’atul Qur’an sedesa Klumpit, dan mewarnai tingkat TK dan PAUD sedesa Klumpit.

Ketua Ranting IPNU Klumpit Muhammad Ridlwan mengatakan, agenda bertema “Meningkatkan Hubburrosul Melalui Seni Kreatif Kompetitif” ini dimaksudkan untuk membangun iklim kompetitif para generasi NU di lingkungan masyarakat. Juga sebagai wujud kreativitas dalam meneladani sifat-sifat Rasulullah.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini merupakan bagian dari usaha kami menciptakan momentum kreatif sebagai salah satu upaya membangun iklim kompetitif di lingkungan masyarakat. Khususnya bagi kader muda NU,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Juga, sambung Ridllwan, sebagai wujud realisasi perasaan cinta kepada Rasulullah, merayakan hari ulang tahunnya. “Rasulullah menyukai keindahan, maka kami pun merayakannya dengan mengadakan gebyar lomba kesenian ini,” ucapnya.

Ia menambahkan, mental kompetitif dan kreatifitas amat dibutuhkan untuk masa depan NU. Karenanya, IPNU-IPPNU sebagai gerbang awal bagi putra-putri NU, penting menanamkan jiwa kompetitif, kreatif dan berkesenian, setelah membekali diri dengan keilmuan,” lanjut Ridlwan.

Masih kata Ridlwan, Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Klumpit telah berperan serta mewujudkan fungsi organisasi di masyarakat. Salah satu program yang telah terlaksana adalah menyantuni yatim sedesa Klumpit pada bulan Muharram tahun kemarin. Serta bakti sosial pada bulan Juni 2014.

“Alhamdulillah, sambutan masyarakat sangat baik. Kami mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Dan pada Rabi’ul Awwal ini, kami bermaksud kembali menyentuh masyarakat secara langsung pada gebyar perlombaan untuk pelajar, dalam rangka menyambut hari kelahiran Rasulullah,” terang mahasiswa STAIN Kudus ini.

Ridlwan menekankan bahwa selain mapan intelektualitas, pribadi pelajar NU juga harus kreatif dan kompetitif. Keduanya menyatu menjelma seni kehidupan agar tak statis dan dapat mengimbangi perkembangan zaman, namun tetap raligius. “Rasulullah pun mengajarkan keseimbangan dalam menapaki hidup, antara yang duniawi dan ukhrowi,” jelas Ridlwan.

Agenda perayaan ini ditutup dengan pengajian umum pada malam harinya di Balai Desa Klumpit. Pengajian menghadirkan Habib Husain bin Yahya Al Jufri dan ulama setempat sebagai penutur mauidhoh hasanah. (Istahiyyah/Abdullah Alawi)?

Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian

Kudus, Ribath Nurul Hidayah

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) ranting desa Klumpit kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memperingati Maulid Nabi dengan menggelar perlombaan kesenian pelajar.

?

Lomba tersebut dilaksanakan pada Sabtu (3/1) di dua tempat terpisah, di Balai Desa Klumpit dan SD 01 Klumpit. Lomba untuk kalangan pelajar tingkat SLTA ke bawah tersebut antara lain lomba rebana sekabupaten Kudus, kaligrafi sekecamatan Gebog, Qiro’atul Qur’an sedesa Klumpit, dan mewarnai tingkat TK dan PAUD sedesa Klumpit.

?

Ketua Ranting IPNU Klumpit Muhammad Ridlwan mengatakan, agenda bertema “Meningkatkan Hubburrosul Melalui Seni Kreatif Kompetitif” ini dimaksudkan untuk membangun iklim kompetitif para generasi NU di lingkungan masyarakat. Juga sebagai wujud kreativitas dalam meneladani sifat-sifat Rasulullah.

?

“Ini merupakan bagian dari usaha kami menciptakan momentum kreatif sebagai salah satu upaya membangun iklim kompetitif di lingkungan masyarakat. Khususnya bagi kader muda NU,” katanya.

?

Juga, sambung Ridllwan, sebagai wujud realisasi perasaan cinta kepada Rasulullah, merayakan hari ulang tahunnya. “Rasulullah menyukai keindahan, maka kami pun merayakannya dengan mengadakan gebyar lomba kesenian ini,” ucapnya.

?

Ia menambahkan, mental kompetitif dan kreatifitas amat dibutuhkan untuk masa depan NU. Karenanya, IPNU-IPPNU sebagai gerbang awal bagi putra-putri NU, penting menanamkan jiwa kompetitif, kreatif dan berkesenian, setelah membekali diri dengan keilmuan,” lanjut Ridlwan.

?

Masih kata Ridlwan, Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Klumpit telah berperan serta mewujudkan fungsi organisasi di masyarakat. Salah satu program yang telah terlaksana adalah menyantuni yatim sedesa Klumpit pada bulan Muharram tahun kemarin. Serta bakti sosial pada bulan Juni 2014.

?

“Alhamdulillah, sambutan masyarakat sangat baik. Kami mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Dan pada Rabi’ul Awwal ini, kami bermaksud kembali menyentuh masyarakat secara langsung pada gebyar perlombaan untuk pelajar, dalam rangka menyambut hari kelahiran Rasulullah,” terang mahasiswa STAIN Kudus ini.

?

Ridlwan menekankan bahwa selain mapan intelektualitas, pribadi pelajar NU juga harus kreatif dan kompetitif. Keduanya menyatu menjelma seni kehidupan agar tak statis dan dapat mengimbangi perkembangan zaman, namun tetap raligius. “Rasulullah pun mengajarkan keseimbangan dalam menapaki hidup, antara yang duniawi dan ukhrowi,” jelas Ridlwan.

?

Agenda perayaan ini ditutup dengan pengajian umum pada malam harinya di Balai Desa Klumpit. Pengajian menghadirkan Habib Husain bin Yahya Al Jufri dan ulama setempat sebagai penutur mauidhoh hasanah. (Istahiyyah/Abdullah Alawi) ? .

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Senin, 11 April 2016

Unit Usaha adalah Solusi Bagi Kendala Pergerakan Organisasi

Bandar Lampung, Ribath Nurul Hidayah. Memiliki unit usaha adalah solusi mengatasi kendala pergerakan organisasi, demikian penegasan Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim, di Bandar Lampung, Sabtu (16/7). Menurut Hidir, dalam berkiprah di masyarakat, Gerakan Pemuda Ansor memiliki hambatan tersendiri. Karena itu harus ada upaya nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Unit Usaha adalah Solusi Bagi Kendala Pergerakan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Unit Usaha adalah Solusi Bagi Kendala Pergerakan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Unit Usaha adalah Solusi Bagi Kendala Pergerakan Organisasi

Hasil Kongres XV GP Ansor Tahun 2015 di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, yakni Gerakan Pemuda Ansor harus bisa mengembangkan kewirausahaan di kalangan pemuda baik secara individu maupun kelembagaan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan anggota dan masyarakat.

Mewujudkan hasil kongres itu, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, kata Hidir melanjutkan, telah memiliki aplikasi multiguna ekonomi digital. Aplikasi tersebut berisi berbagai konten seperti kumpulan berita hingga dompet digital yang bisa digunakan juga untuk penjualan pulsa.

Hidir menambahkan, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Lampung juga terus mendorong pimpinan cabang memiliki unit usaha, seperti membuat Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) atau usaha lain untuk menopang ekonomi organisasi yang tidak dipungkiri masih menjadi hambatan.

Ribath Nurul Hidayah

Terpisah, Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto mengatakan, pihaknya telah mengupayakan gerakan-gerakan ekonomi bagi kader seperti penjualan madu, investasi alat cuci kendaraan bermotor bagi Satkoryon Banser Pakuan Ratu, membuka kewirausahaan sosial "Halal" atau hijamah/bekam sambil beramal yang baru terealisasi di PAC Pakuan Ratu dan Rebang Tangkas, serta dalam waktu dekat akan berlanjut ke tiga PAC lain, salah satu Negara Batin.

Dan untuk yang terbaru, kata Ketua Bidang Media dan Publikasi DPP Sarbumusi NU itu melanjutkan, adalah menabung 15 pohon buah di pesantren. Targetnya adalah 14 pesantren di 14 kecamatan di Way Kanan.

Saat ini baru terealisasi di tiga pesantren di tiga kecamatan setempat, yakni, Pesantren Al-Falakhussadah, Pakuan Ratu asuhan Kiai Zainal Maarif, Pesantren Darul Ulum, Negara Batin asuhan Ustadz Bayumi dan Pesantren Hidayatus Salafiyah, Negeri Agung asuhan Gus Yunus. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sejarah, Amalan, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 April 2016

Lintas Agama Peringati Haul Ke-7 Gus Dur di Tegal

Tegal, Ribath Nurul Hidayah - Sebuah komunitas yang menamakan diri Forum Silaturahmi Nusantara (FSN) menggelar peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) ke-7 dan HUT FSN yang ke-1 di Gedung Korpri Slawi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (19/1).

Para pemuka agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan penganut kepercayaan leluhur berkumpul dalam acara tersebut. Kegiatan ini juga menjadi momen pengukuhan pengurus Muda-Mudi Forum Silaturahim Nusantara yang diharapkan memperkuat? persaudaraan antarumat beragama di segemen pemuda.

Lintas Agama Peringati Haul Ke-7 Gus Dur di Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Lintas Agama Peringati Haul Ke-7 Gus Dur di Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Lintas Agama Peringati Haul Ke-7 Gus Dur di Tegal

Berbagai kesenian dari berbagai aliran agama ditampilkan, bahkan beberapa dikolaborasikan, yakni Paduan Suara dari Katholik dan Tim Hadrah dari agama Islam, yang menyanyikan “Tombo Ati.” Ditambah lagi dengan adanya sesi dialog dengan para pemuka agama makna dan urgensi toleransi.

“FSN menghadirkan ketenangan di Kabupaten Tegal. Gejolak yang ada di tingkat nasional tak berpengaruh sedikitpun di Kabupaten Tegal. Karena kami percaya bahwa damai itu indah.” cetus Ketua FSN H Muslih.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menyampaikan, FSN sudah memberikan satu aksi, kenyamanan, suasana yang kondusif dalam kehidupan berbangsa dan beragama di Kabupaten Tegal. “Di HUT yang pertama ini, kami sungguh butuh masukan, butuh kritikan, pastinya masukan dan kritikan yang membangun demi FSN yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PCNU Kabupaten Tegal H Was’ari yang dalam kesempatan tersebut menyampaikan sambutan mewakili Bupati Tegal mengajak kepada semua pihak untuk bersatu padu membangun Bangsa.

“Saya berdiri di sini menikmati keindahan pelangi. Warna hijau bagus, biru baik, ungu tidak kalah baik. Ketika warna-warna itu diramu dijadikan satu maka akan dirasakan keindahannya. Inilah yang saya lihat pada malam hari ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, ada empat fungsi dari perngatan haul, antara lain minta ampunan, mengenang, meneladani, dan mengimplementasikan.

“Jika Gusdur masih hidup, dan melihat kondisi Nasional yang seperti ini, maka hanya satu kalimat yang akan terucap, Gitu Aja Kok Repot.” cetunya.

?

“Terakhir kami menyampaikan terima kasih kepada FSN yang telah memberikan kenyamanan, keamanan menuju Tegal yang di impikan. Semuga amal ibadah rekan-rekan semua diterima oleh Tuhan YME.” tambahnya.

Putri Gus Dur Inayah Wahid menyampaikan pentingnya menjaga keberagaman, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, kita tidak bisa memaksakan kenyataan untuk sama. Inayah menganologikan dalam sebuah pertanyaan, “Jika dalam sebuah daerah, polisinya jadi petani, DPR-nya jadi petani, presidennya jadi petani, TNI-nya jadi petani, lalu petani jadi apa?”

Inayah dalam kesmepatan itu juga menyuguhkan dua puisi berjudul “Santri Bertanya pada Guru”? dan “Doa Seorang Milenial”.

Di sesi akhir, Gus Muwafiq dari Yogyakarta memberikan pencerahan kepada pengunjung, jika saja semua pihak mau belajar ke belakang, mengenal, memahami dan mengerti sejarah berdirinya bangsa Indonesia, sejarah munculnya agama, sejarah adanya manusia, maka tidak akan ada gejolak seperti yang belakangan terjadi. Karena sesungguhnya Allah SWT mencipatakan keberagaman agar manusia pandai bersyukur.

“Bila kau tak berkawan dengan orang Yahudi, mengajak bermusuhan dengan orang Yahudi, lantas apakah engkau berangkat haji dengan jalan kaki? Saya ceramah di sini, eh ternyata microphonnya buatan Jepang, Eh pakaian saya? made in China, eh HP saya buatan Firlandia, begitu pun dengan Anda. Maka Anda tidak boleh berkata ‘saya tidak perlu bersyukur kepada orang lain’.” tegasnya. (Moh. Ali Sukron/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 April 2016

Buah-buahan dalam Kenduri Muludan

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Buah-buahan dalam Muludan Tepat setelah shalat Isya’ ditunaikan, seluruh jamaah keluar ruang utama dalam masjid berbaris membentuk persegi panjang di jerambah masjid yang luas, terasa lebih luas terasnya daripada ruang dalam masjid.?

Buah-buahan dalam Kenduri Muludan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buah-buahan dalam Kenduri Muludan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buah-buahan dalam Kenduri Muludan

Di tengah-tengah barisan tersebut tersuguh berbagai macam buah-buahan yang ditata memanjang berjajar empat, sepanjang sekitar 15 meter lebih.

Sementara jamaah putri berkumpul dan membentuk lingkaran tersendiri di tempat yang dikhususkan untuk mereka. Sebagaimana yang terjadi di jamaah laki-laki, di tengah-tengah lingkaran mereka juga tersuguh buah-buahan.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah semua dirasa sudah siap semua, seorang tokoh masyarakat yang sekaligus sebagai imam di masjid tersebut membuka acara. Dia melanjutkan pembiacaraannya dengan mengutip beberapa hadist Nabi SAW yang menceritakan tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dinukil dari kitab Habib Muhammad bin Alwi al Maliki al Makki.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Mulidud Diba’. Kitab yang bersisi tentang doa solawat dan salam serta cerita tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW yang penuh dengan keagungan. Lentingan pembawa syiir begitu membius seluruh jamaah, sehingga menimbulkan kekhusyukan yang mendalam.?

Ribath Nurul Hidayah

Acara di tutup dengan do’a dan pembagian suguhan (berkat) kepada seluruh orang-orang yang hadir. Karena sebelumnya suguhan buah-buahan sudah dikumpulkan dan dibagi secara merata maka tidak ada saling rebutan, karena masing-masing sudah ditempatkan di wadah yang isinya hampir sama. ? ? ? ?

Cerita di atas adalah kejadian yang ada dalam kenduri memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid Nailul Falah desa Suwayuwo kecamatan Sukorejo Pasuruan, pada malam peringatan Mualid Nabi Muhammad pada Rabu (23/01/2013) yang bertepatan dengan malam 12 Rabiul Awal 1434 hijriyah.?

Namun berbeda dengan di daerah-daerah lain di Indonesia yang menyuguhkan makanan berupa nasi dan lauk-pauk, di wilayah ini, termasuk di hampir seluruh wilayah Pasuruan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati dengan suguhan (berkat) yang berupa buah-buahan.?

Sebagaimana jamak di ketahui dalam peringatan-peringatan hari besar Islam, kaum muslim khususnya yang memiliki latar belakang Nahdliyin, selalu memperingati dengan membawa atau menyediakan suguhan berupa nasi lauk terbaik.?

Menurut Husen, salah satu warga Suwayuwo yang menjadi pengurus takmir Masjid Nailul Falah, suguhan berupa buah-buahan saat kenduri peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW sudah terjadi sejak dia masih kecil. “Saya tidak tahu bagaimana mula-mulanya, tetapi yang jelas sudah sejak dahulu, sejak jamannya kakek saya sudah dilakukan seperti ini,” katanya.?

Memang perlu ada riset tersendiri untuk mengetahui kenapa masyarakat di wilayah Jawa Timur sub-kultur Arek ini memperingat perayaan Maulid Nabi dengan suguhan buah-buahan. Namun menurut salah seorang warga Suwayuwo, hal tersebut untuk mensukuri atas hasil bumi yang biasanya akan berbuah saat bulan Muludan, Maulid atau Raibul Awal.

Namun dari buah yang disuguhkan dalam peringatan Maulid Nabi malam tersebut, buahan-buahan sudah bukan lagi hasil kebun mereka, karena desa yang berbatasan dengan salah satu pabrik rokok besar tersebut sudah jarang ditemui kebun buah yang luas. Justru dalam suguhan banyak terlihat buah-buahan impor, mulai dari jeruk, belimbing, kelengkeng dan anggur. ? ?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 28 Maret 2016

Kemensos Terima Hibah Kurma 50 Ton dari Pemerintah Arab Saudi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kementerian Sosial menerima hibah kurma sebanyak 50 ton dari Pemerintah Arab Saudi. Kurma tersebut sedianya disiapkan untuk menyambut puasa.

Kemensos Terima Hibah Kurma 50 Ton dari Pemerintah Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemensos Terima Hibah Kurma 50 Ton dari Pemerintah Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemensos Terima Hibah Kurma 50 Ton dari Pemerintah Arab Saudi

Secara simbolis, kurma tersebut diserahkan langsung Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al-Shuaibi di Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Rabu (3/5).

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebutkan, nantinya kurma akan didistribusikan ke fakir miskin, panti asuhan serta pesantren. Menurutnya, hibah kurma ini akan sangat membahagiakan banyak orang, utamanya kaum muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.?

“Mengingat akhir bulan Mei ini, umat Islam akan memasuki Bulan Ramadhan,” terang Khofifah.

Dia menyampaikan terima kasih untuk perhatian yang diberikan Pemerintah Arab Saudi untuk masyarakat Indonesia.?

Ribath Nurul Hidayah

“Saya harap hibah ini semakin memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Arab Saudi,” tandas perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Kajian Sunnah, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 25 Maret 2016

Cerita Amelia, Santri Walisongo Sragen Praktik Jurnalistik di Rakornas LAZISNU

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Para santri anggota ekstrakurikuler Jurnalistik di Pesantren Walisongo, Sragen, Jawa Tengah memanfaatkan perhelatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) NU Care-LAZISNU yang lalu sebagai ajang praktik lapangan keterampilan jurnalistik mereka. Hasil liputan mereka dimuat di website ponpeswalisongosragen.net.

Amelia Rasmujani, siswa kelas 12 menuturkan dirinya bangga bisa meliput kegiatan Rakornas NU Care-LAZISNU.

“Saya dan teman-teman menulis semua acara Rakornas. Senang karena ini kegiatan tingkat nasional,” kata Amelia kepada NU Onlin edi sela-sela kesibukannya di Pesantren Walisongo, Selasa (31/1).

Cerita Amelia, Santri Walisongo Sragen Praktik Jurnalistik di Rakornas LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Amelia, Santri Walisongo Sragen Praktik Jurnalistik di Rakornas LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Amelia, Santri Walisongo Sragen Praktik Jurnalistik di Rakornas LAZISNU

Ia mengatakan anggota ektrakurikuler Jurnalistik di bawah bimbingan Ustad Dimyati selama ini terbiasa meliput kegiatan santri.

“Kegiatan santri Pesantren Walisongo. Kayak kemarin ada Liga Santri Nasional (LSN),” papar Amelia.

Ribath Nurul Hidayah

Keterlibatan tim Jurnalistik untuk meliput Rakornas salah satunya bermula dari pertanyaan Pengasuh Pesantren Walisongo KH Ma’ruf Islamuddin kepada Ustad Dimyati. Ustad Dimyati lalu mengatakan tim mereka adalah anggota ektrakurikuler Jurnalistik. Beberapa waktu Tim Jurnalistik juga aktif menerbitkan buletin.

Mendengarkan jawaban itu, Kiai Ma’ruf menganggap kegiatan mereka sebagai kegiatan yang positif dan perlu diteruskan.

Ditemui terpisah, Kiai Ma’ruf yang juga Ketua PCNU Sragen mengungkapkapkan para santri Walisongo diberi kebebasan mengembangkan bakat mereka melalui beragam kegiatan yang mereka suka.

“Lulusan pesantren tidak harus jadi kiai,” kata Kiai Ma’ruf.

Kembali ke soal kegiatan jurnalistik para santri selama Rakornas, Amelia menceritakan kegiatan mereka juga sebagai bagian bakti santri untuk pesantren.

Ribath Nurul Hidayah

“Jadi peliputan Rakornas NU Care-LAZISNU untuk website pesantren juga persembahkan kami untuk Pesantren,” katanya.

Sebelum meliput kegiatan Rakornas, Amelia mengaku berdebar-debar karena event kali ini adalah tingkat nasional yang bukan acara sembarangan.

“Kalau meliput sambutan-sambutan kalau nggak sesuai atau kelewatan kan bisa panjang urusannya,” kata Amelia.

Namun, setelah berhasil meliput dan mulai ditayangkan di website pesantren, ia mengaku sangat lega.

Ada liputan paling menarik bagi Amelia, yakni saat menulis aksi intern pesantren dalam ajang Rakornas, yakni bagian konsumsi.

“(Meliput) tentang konsumsi. Menurut saya (bagian konsumsi) pahlawan. Nggak ada berhentinya, masak, nyuci, masak lagi,” lanjut Amelia.

Amelia bergabung dalam ekstrakurikuler Jurnalistik sejak kelas 10 atau pada 2015, bertepatan dengan awal berdirinya website pesantren.

Ia pun mengaku bercita-cita menjadi jurnalis.

“Ke depannya jujur pengen kerja sebagai jurnalis,” harap dia. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Meme Islam, PonPes Ribath Nurul Hidayah