Selasa, 12 Januari 2016

LKKNU Jatim Gulirkan Dana Bantuan tanpa Bunga

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah - Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) Nahdlatul Ulama Jawa Timur berkerja sama dengan PT Sinde Budi Santosa. Kedua meluncurkan program bantuan dana bergulir tanpa bunga di Ruangan VVIP Gedung PWNU Jatim, Senin (21/1).

"Untuk masa pilot projec akan dilaksanakan di Kabupaten Jombang dan Kabupaten Nganjuk. Kedua Kabupaten ini menjadi pilihan kami," kata Ketua LKKNU Jatim H Zahrul Azhar Asumta saat memberikan sambutannya.

LKKNU Jatim Gulirkan Dana Bantuan tanpa Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)
LKKNU Jatim Gulirkan Dana Bantuan tanpa Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)

LKKNU Jatim Gulirkan Dana Bantuan tanpa Bunga

Ada dua konsep yang akan diterapkan. Di Nganjuk LKKNU Jatim menggunakan skema pendampingan. Sedangkan di Jombang LKKNU Jatim bekerja sama dengan BMTNU. "Skema pendampingan ini, nantinya akan ada tim dari LKKNU yang diturunkan memberikan pemahaman tentang bantuan ini," lanjut pria yang akrab disapa Gus Hans.

"Kami menyiapkan dana 40 juta dan masing-masing dana bantuan tanpa bunga ini 2 sampai 3 juta dan masa pengembalian enam bulan," lanjut Gus Hans.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Kalau tidak bisa mengembalikan dengan uang, warga diberi kesempatan mengembalikan dengan kaleng bekas. Satu kaleng Sinde bekas diberi harga 200 rupiah. Sedangkan kaleng lain dihargai 150 rupiah.

Yang berhak menerima bantuan dana bergulir ini adalah para pelaku usaha yang sudah berjalan 2 tahun. "Diutamakan warga NU," tegas Gus Hans.

Titik fokusnya keluarga prasejahtera. Kalau sudah sejahtera, bisa menjadi segmentesi LPNU.

PWNU Jatim mendukung gerakan yang dilakukan oleh LKKNU Jatim. Ini merupakan kerja keras dari LKKNU untuk membantu program prioritas PWNU Jatim, yaitu khusus pemberdayaan ekonomi umat.

"Ada tiga program utama PWNU, yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan," kata Sekretaris PWNU Jatim Ahk Muzakki. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 30 Desember 2015

Fatwa NU Wajibkan Masyarakat Tolak Eksploitasi Alam Indonesia

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Forum bahtsul masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan fatwa wajib bagi masyarakat untuk melakukan gerakan amar ma’ruf dan nahi munkar atas aktivitas eksploitasi sumber daya alam Indonesia. Para kiai mengajak masyarakat berjihad menolak perusakan alam akibat eksploitasi baik oleh perusahaan negara maupun korporasi swasta.

Fatwa NU Wajibkan Masyarakat Tolak Eksploitasi Alam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatwa NU Wajibkan Masyarakat Tolak Eksploitasi Alam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatwa NU Wajibkan Masyarakat Tolak Eksploitasi Alam Indonesia

Fatwa ini diputuskan para kiai dalam sidang bahtsul masail PBNU di pesantren Al-Manar Azhari, Limo, Depok, Sabtu-Ahad (9-10/5).

Fatwa NU ini mencoba menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya sikap masyarakat yang melihat perusakan alam akibat penambangan. Para kiai setelah membahas dari pelbagai sisi menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh bersikap diam. Warga diharuskan secara syar’i melakukan gerakan advokasi atas hak kelestarian alam.

Ribath Nurul Hidayah

“Sikap yang dilakukan oleh masyarakat adalah wajib amar ma’ruf nahi munkar sesuai kemampuannya,” kata Rais Syuriyah PBNU KH A Ishomuddin membacakan putusan sidang komisi bahtsul masail diniyah waqi’iyah.

Menurut para kiai, eksploitasi oleh BUMN maupun korporasi lebih mempertimbangkan aspek profit tanpa melihat kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Mereka prihatin melihat banyak kubangan raksasa di bekas penambangan yang diterlantarkan begitu saja akibat aktivitas eksploitasi yang mengejar keuntungan.

Ribath Nurul Hidayah

Belum lagi kasus lumpur yang mengusir secara paksa warga sejumlah kecamatan di Sidoarjo untuk keluar dari tempat kelahiran dan kediaman mereka. Sementara manusia sendiri tidak bisa memperbaiki alam yang sudah rusak.

Pelaku eksploitasi tidak lagi memikirkan kerusakan alam, rusaknya tatanan musim, pancaroba berkepanjangan, pencemaran air dan udara, musnahnya segala biota, flora, dan fauna yang hidup nyaman di alam Indonesia.

Para kiai tidak bisa menerima cara berpikir pelaku eksploitasi yang menganggap kerusakan alam itu sebagai konsekuensi yang wajar-wajar saja dari sebuah pertumbuhan ekonomi.

Legal ataupun tidak legal, masyarakat wajib melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Pasalnya, aktivitas legal yang dijalankan oleh BUMN ataupun korporasi bukan berarti tidak memiliki dampak kerusakan alam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Internasional, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 16 Desember 2015

Mahasiswa Nahdliyin STAN Adakan Baksos Sosial Lintas Agama

Bintaro, Ribath Nurul Hidayah. Tak seperti hari biasanya, Sabtu pagi (10/06) Masjid Nurul Hidayah Kalimongso terlihat lebih ramai. Dari kejauhan terpampang spanduk bertuliskan Pengobatan Gratis & Santunan Anak Yatim Piatu dan Dhu’afa. 

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antarlembaga keagamaan diantaranya Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Iman), Dana Umat Al-Iman, Yayasan Lentera, GKI Tangerang Selatan dan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) PKN STAN. Harmonisasi tersebut  menunjukkan bahwa tidak ada pembeda untuk melakukan tugas kemanusiaan kepada sesama.

Mahasiswa Nahdliyin STAN Adakan Baksos Sosial Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Nahdliyin STAN Adakan Baksos Sosial Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Nahdliyin STAN Adakan Baksos Sosial Lintas Agama

Serangkaian acara dimulai sejak pukul 10.00 WIB dengan kegiatan pelatihan perawatan jenazah. Pelatihan ini disampaikan oleh Ustad Shonhaji. Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Pembicara yang merupakan Alumni Pondok Pesantren Qudsiyah (IKAQ) ini juga mengajak peserta tidak hanya memahami secara teori namun juga praktik. 

Pukul 14.00 WIB kegiatan praktik perawatan jenazah berakhir. Panitia kemudian bersiap untuk kegiatan selanjutnya yaitu pengobatan gratis untuk masyarakat yang dilaksanakan di halaman masjid. Tim relawan dari yayasan Lentera tiba di lokasi sekira pukul 14.15 WIB. Sebelumnya dilakukan pengarahan oleh tim dokter guna memastikan kelancaran kegiatan. 

Ribath Nurul Hidayah

“Pengobatan yang disediakan antara lain pengobatan umum, gigi, dan juga ada potong rambut baik untuk kaum pria maupun wanita,” ujar dr. Maria saat mengisi pengarahan. Menjelang waktu Ashar, warga pun mulai berdatangan dengan membawa kupon yang telah dibagikan panitia pada hari sebelumnya. Wajah mereka tampak bergembira saat mendapat kesempatan berkonsultasi dengan para dokter.  Kegiatan pengobatan gratis ini terus berjalan hingga magrib tiba.

Sementara kegiatan pengobatan masih berlangsung, pada pukul 16.30 WIB diadakan pula kegiatan santunan anak yatim piatu dan dhu’afa yang dilaksanakan di dalam masjid. Sekitar 110 warga yang hadir untuk menerima santunan. Pemberian santunan secara simbolis dilakukan oleh H Romli selaku Ketua DKM masjid. Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan Dewan Alumni Iman yaitu Ustadz Subhan, Felix dari Yayasan Lentera dan Imam Bajuri. Acara ditutup dengan pembacaan doa yang kemudian dilanjutkan pembagian santunan kepada masyarakat secara tertib Panitia.

Tak lama berselang, adzan Magrib pun berkumandang. Serangkaian acara hari ini dipungkasi dengan buka puasa bersama oleh seluruh panitia dan tim relawan dari yayasan Lentera. Wajah-wajah lelah berbalut senyum kebahagiaan melebur dalam indahnya keberagaman. (Abdulloh/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Tegal Ribath Nurul Hidayah

Mahasiswa UNU NTB Studi Banding Seni Budaya di Solo

Mataram, Ribath Nurul Hidayah

Sebanyak enam mahasiswa Program Studi Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat melakukan staudi banding budaya di Yayasan Cakra Budaya Nusantara Kota Solo, Jawa Tengah. Studi banding yang dilakukan bersama dua dosen ini bakal berlangsung selama 3 minggu.

Gde Agus, dosen pengampu yang mendampingi studi banding kali ini, menjelaskan selama di kota Solo, lanjutnya, mahasiswa Sendratasik angkatan 2015 diajak untuk melihat beberapa seni yang terdapat di kota ini, seperti wayang orang Sriwedari, gamelan Jawa gaya Surakarta, tari tradisi gaya Surakarta, dan teater. Para mahasiswa juga menonton forum Bukan Musik Biasa di Taman Budaya Surakarta, serta belajar tari dan musik secara gratis dengan pengajar dari Yayasan Cakra Budaya Nusantara.

Mahasiswa UNU NTB Studi Banding Seni Budaya di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UNU NTB Studi Banding Seni Budaya di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UNU NTB Studi Banding Seni Budaya di Solo

Saat berdiskusi? tentang film dokumenter, mahasiswa Sendratasik UNU NTB bahkan ditunjuk sebagai pembicara tentang kebudayaan masyarakat Sade serta Bayan Beleq di Yayasan Cakra Budaya Nusantara. Selanjutnya mencari refrensi berupa buku, penelitian ilmiah karya dokumentasi di perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta.

Ribath Nurul Hidayah

Melalui studi banding ini ia berharap UNU NTB akan melahirkan mahasiswa yang tak hanya bergelar akademik tapi juga memiliki pengalaman.

Ribath Nurul Hidayah

"Bagi kami mencetak sarjana yang berkualitas justru menjadi sebuah kebanggaan kami maupun mampu mengangkat nama lembaga perguruan tinggi UNU NTB karena setelah mereka wisuda nantinya harus dapat bertanggung jawab dengan ilmu yang sudah mereka timba serta mengaplikasikannya ke masyarakat," harapnya.

Agus mengimbau kepada para mahasiswa yang ikut belajar ke Solo untuk menggunakan waktu sebaik mungkin. Studi banding ini sekaligus mengisi liburan semester ganjil dalam bentuk kegiatan kuliah nonformal.

"Saya memiliki harapan yang banyak bahwa dengan kegiatan seperti ini mahasiswa Sendratasik memiliki kualitas yang nantinya mampu mengharumkan nama kampus juga. Kami berdua hanya pengajar biasa yang ingin melihat mahasiswa melibihi ilmunya dari kita," tutup Agus. (Syamsul Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Senin, 14 Desember 2015

GP Ansor Cabang Khusus Arab Saudi Dikukuhkan

Jeddah, Ribath Nurul Hidayah?

Pengurus? Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengukuhkan GP Ansor Cabang Saudi sekaligus menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) diikuti 36 orang kader di KJRI Jeddah, Jumat hingga Sabtu (10-11/2/2017).

Pada saat itu juga di kukuhkan Pimpinan Cabang Khusus (PCK) Saudi Arabia dengan Ketua Musthofa Al Ghulayain oleh Ketua Umum PP Ansor Yaqut Cholil Qaumas.

GP Ansor Cabang Khusus Arab Saudi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Cabang Khusus Arab Saudi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Cabang Khusus Arab Saudi Dikukuhkan

PKD di Saudi Arab Saudi ini dilaksanakan untuk pertama kalinya sepanjang Ansor berdiri tahun 1934. Untuk mendukung PKD ini dikirim 18 orang instruktur nasoinal? dari PP GP Ansor.

Hadir memimpin rombongan PKD internasional adalah Ketum PP Ansor H. Yaqut Cholil Qaumas, Sekjen Adung Abdul Rochman, Kasatkornas Alfa Isnaini, Ketua Bidang Kaderisasi Ruchman Basori dan pimpinan pusat lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Kegiatan ini merupakan komitmen pimpinan pusat Ansor melakukan kaderisasi secara serius, tidak saja di dalam negeri, tapi juga di luar negeri," tegas Sekjend Abdul Rochman melalui rilis diterima Ribath Nurul Hidayah, Sabtu (11/2).

Kegiatan ini sangat strategis untuk mendesiminasikan Islam aswaja, semangat kebangsaan dan keindonesiaan.

"Usaha mengkampanyekan Islam moderat ala Indonesia ini akan kita lanjutkan negara lain," ujar Adung lagi.

Ribath Nurul Hidayah

Adapun PKD internasional ini sebagai ikhtiar memperkuat kelembagaan Ansor di Arab Saudi. Kalau dulu KH Abdul Wahab Chasbullah melakukan perjalanan menjadi delegasi Komite Hijaz, kami ini Ansor sebagai generasi muda juga? napak tilas jejak Komite Hijaz sekaligus berumroh.

"Agar Ansor menjaga kekuatan penting sebagai penjaga Islam ahlussunnah waljamaah, NKRI dan Pancasila. Kita patut bangga karena 36 peserta berasal dari berbagai profesi di Arab Saudi seperti mahasiswa, profesional dan sektor-sektor penting lainnya,” tegas Ruchman Basori, Ketua Bidang Kaderisasi.

Tantangan Islam Indonesia sangat komplek, maka GP Ansor mengambil peran strategis menjaga teadisi dan nilai Islam yg moderat terbuka dan toleran. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Senin, 26 Oktober 2015

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi

Pendudukan Jepang atas Indonesia tergoyang ketika mereka kalah perang dengan tentara sekutu (Inggris-Belanda). Seketika itu pula mereka berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kekuatan perangnya dengan melatih para pemuda Indonesia secara militer guna berperang melawan sekutu. Para pemuda dimaksud tidak lain adalah para santri.

Karena sudah mempunyai kesepakatan diplomatik dengan KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Jawatan Agama (Shumubu) yang diwakilkan kepada anaknya KH Abdul Wahid Hasyim, Nippon menyampaikan gagasannya itu kepada Kiai Hasyim.

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kiai Hasyim menyetujui langkah Jepang tersebut dengan syarat para pemuda yang dilatih militer itu berdiri sendiri tidak masuk dalam barisan Jepang. Itulah awal terbentuknya laskar yang diberi nama oleh Kiai Hasyim sebagai Laskar Hizbullah.

Laskar Hizbullah ini dibentuk pada November 1943 beberapa minggu setelah pembentukan tentara PETA (Pembela Tanah Air). Meski kedua badan kelaskaran itu berdiri sendiri, tetapi secara teknik militer berada di satu tangan seorang perwira intelijen Nippon, Kapten Yanagawa.

Sebagai seorang kiai, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari cukup mumpuni dalam strategi perang. Di saat sejumlah orang memandang bahwa keputusan Kiai Hasyim merupakan simbol ketundukan kepada Jepang karena menyetujui para santri dilatih militer oleh Jepang. Namun di balik semua itu, guru para kiai di tanah Jawa ini ingin mempersiapkan para pemuda secara militer melawan agresi penjajah ke depannya.

Ribath Nurul Hidayah

Betul saja apa yang ada di dalam pikiran Kiai Hasyim, Jepang menyerah kepada sekutu. Namun Indonesia menghadapi agresi Belanda II. Di saat itulah para pemuda Indonesia melalui Laskar Hizbullah, dan lain-lain sudah siap menghadapi perang dengan tentara sekutu dengan bekal gemblengan ‘gratis’ oleh tentara Jepang.

Saat itu, Angkatan pertama latihan Hizbullah di daerah Cibarusa, dekat Cibinong, Bogor awal tahun 1944 diikuti oleh 150 pemuda. Mereka datang dari Karesidenan di seluruh Jawa dan Madura yang masing-masing mengirim 5 orang pemuda. 

Ribath Nurul Hidayah

Pusat latihan Hizbullah di Cibarusa itu dikeola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin oleh Zainul Arifin. Sebagai sebuah strategi perang, latihan ini perlu dilakukan oleh sebanyak-banyaknya pemuda. Namun, disayangkan latihan Hizbullah ini diselenggarakan secara minim sekali.

Kondisi ini menjadi perhatian serius KH Wahid Hasyim sebagai penanggung jawab politik dalam Laskar Hizbullah. “Kita dikejar waktu. Nippon sebenarnya mencurigai tujuan Hizbullah. Yang menyetujui Hizbullah kan Cuma kita,” ucap Kiai Wahid mengemukakan kegelisahannya.

Tetapi, ayah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini tidak mau ketinggalan kereta. Walau bagaimana pun, perjuangan kemerdekaan harus dipersiapkan, baik kekuatan militernya, di samping kekuatan politiknya. Kekuatan politik yang dimaksud ialah politik kenegaraan yang berkepentingan memerdekakan Indonesia dari kungkungan penjajah. Langkah ini membutuhkan ongkos yang tidak sedikit.

Kegundahan Kiai Wahid tersebut mendapat siraman petunjuk dari KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Wahab menilai, para kiai dan pemimpin laskar jangan hanya melihat dari ukuran lahir. Karena menurutnya, belum tentu jika disediakan biaya besar akan berdampak pada hasil yang maksimal. 

“Bia menderita asal penggemblengan jiwanya hebat seperti pemuda-pemuda Ashabul Kahfi, hasil akhir yang maksimal bisa tercapai juga,” tutur Kiai Wahab memberi masukan.

Bicara tentang Ashabul Kahfi, sebenarnya berapakah jumlah pemuda-pemuda itu persisnya?” tanya KH Mukhtar, salah satu anggota di bawah kepemimpinan Zainul Arifin.

“Al-Qur’an sendiri dengan tegas mengatakan, yang tahu jumlah persisnya hanyalah Allah. Kita tidak usah berselisih mengenai berapa sebenarnya jumlah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi itu,” jawab Kiai Wahab.

“Dalam Al-Qur’an Cuma disebut bertiga. Adapun yang keempatnya adalah anjing mereka. Roobi’uhum kalbuhum,” Kiai Wahab melanjutkan.

“Tapi ada yang mengatakan mereka berlima yang keenamnya adalah anjing, saadisuhum kalbuhum,” sela KH Farid Ma’ruf, anggota lainnya.

“Ada lagi yang mengatakan Ashabul Kahfi itu tujuh orang, yang kedelapan adalah anjing mereka. Wa tsaaminuhum kalbuhum,” kali ini Kiai Wahid Hasyim menimpali.

Di tengah diskusi mereka perihal jumlah pemuda Ashabul Kahfi, tetiba masuklah seorang Nippon berseragam Sersan Mayor, Sidokan, pelatih Hizbullah. Kedatangannya sekonyong-konyong tanpa diperkiarakan sebelumnya. Tentu saja menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi para kiai.

Namun, Kiai Wahab bereaksi secara cepat dengan datangnya tentara Nippon tersebut. Dengan nyaringnya ia mengatakan: “Wa taasi’uhum...qirduhum” (yang kesembilan adalah...monyet mereka). Seketika meledaklah gelak tawa serentak. Orang Nippon tersebut juga ikut ngakak meskipun dia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud Kiai Wahab kepadanya.

Obrolan tersebut menunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi genting memimpin dan mempersiapkan strategi dalam mengusir penjajah, para kiai tidak lepas dari karakteristik asalanya yaitu pesantren. Dengan mudahnya mereka mengubah suasana yang membutuhkan pemikiran serius menjadi kondisi yang riang gembira. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 04 Oktober 2015

Hukum Sembahyang di Masjid yang Ada Makamnya

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Ribath Nurul Hidayah yang saya hormati, kami ingin menanyakan sembahyang di masjid-masjid yang terdapat makam di balik tembok atau di dalamnya. Bahkan ada juga makam para wali di pelataran masjid. Bagaimana hukumnya? Soalnya ada yang bilang sembahyang itu harus di masjid yang benar-benar bebas dari makam di pekarangannya. Mohon keterangan lebih jelasnya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Karta/Bogor)

Hukum Sembahyang di Masjid yang Ada Makamnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Sembahyang di Masjid yang Ada Makamnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Sembahyang di Masjid yang Ada Makamnya

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sejauh pengamatan kami, tidak ada larangan perihal pemakaman jenazah di pekarangan masjid. Karenanya umat Islam ketika memperluas masjid nabawi tidak bersusah payah memindahkan makam Rasulullah SAW. Dan mereka juga kemudian memakamkan dua sahabatnya, Abu Bakar As-Shiddiq RA dan Umar RA di dekat makam Rasulullah SAW. Dengan demikian makam ketiganya berada bukan lagi di pekarangan masjid, tetapi di dalam masjid.

Ribath Nurul Hidayah

Adapun kesahihan ibadah sembahyang di masjid yang terdapat makam di pekarangan atau di dalamnya tidak bergantung pada keberadaan makam itu sendiri. Kesahihan sembahyang di sana bisa dilihat dari seberapa jauh kelengkapan syarat dan rukun sembahyang itu sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

Ada baiknya kita melihat pandangan Syekh Muhammad Ibarahim Al-Hafnawi yang bermadzhab Hanafi sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sembahyang di masjid yang di dalamnya terdapat makam para wali yang saleh adalah ibadah shalat yang sah sejauh syarat dan rukun yang ditetapkan menurut syara‘ terpenuhi. Karena, sembahyang itu ditujukan kepada Allah, bukan ahli kubur. Sehingga sampai kapan pun tidak mungkin berpendapat batal atau haramnya sembahyang di masjid yang ada makamnya. Kalau ada pendapat yang membatalkan dan mengharamkan sembahyang itu, niscaya batal dan haram pula sembahyang umat Islam di Masjid Nabawi di mana di dalamnya terdapat makam Rasulullah SAW dan dua sahabatnya, Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina Umar RA,” (Lihat M Ibarahim Al-Hafnawi, Fatawa Syar‘iyyah Mu‘ashirah, Kairo, Darul Hadits, cetakan ketiga, 2012 M/ 1433 H, halaman 160-161).

Dari penjelasan di atas, kita memahami betapa niat menempati posisi sangat penting di sini. Niat yang memuat kebulatan hati dan pemusatan pikiran dalam ibadah ditujukan kepada Allah SWT semata, bukan pada ahli kubur (meskipun ia seorang nabi, wali, dan orang saleh lainnya) yang terletak di pekarangan masjid.

Dari keterangan di atas juga, kita dapat menyimpulkan bahwa sembahyang itu di mana pun tempatnya tetap sah dengan catatan syarat dan rukunnya dipenuhi sesuai aturan syara’ (agama Islam) seperti lazimnya disebutkan dengan rinci di dalam kitab-kitab fikih.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Berita Ribath Nurul Hidayah