Minggu, 13 Mei 2012

Kiai Said: Negara dan Agama Dua Amanah Santri yang Harus Dijaga

Pekalongan, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak hanya mengapresiasi langkah Menkopolhukam yang secara resmi membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah tepat, akan tetapi NU beserta santri dan pesantren serta banomnya seperti Banser dan Pagar Nusa akan selalu menjadi garda terdepan untuk menjaga agama yang moderat dan keutuhan NKRI.

Demikian ditegaskan KH Said Aqil Siroj Ketua Umum PBNU pada acara Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren (Ponpes) Ribatul Muta’allimin Landungsari, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (8/5) kemarin.

Kiai Said: Negara dan Agama Dua Amanah Santri yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Negara dan Agama Dua Amanah Santri yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Negara dan Agama Dua Amanah Santri yang Harus Dijaga

Dikatakannya, sikap pembelaan terhadap negara yang disuarakan Nahdlatul Ulama bukan tanpa dasar, melainkan satu bentuk aplikasi dari apa yang diajarkan Rasulullah.

“Lima belas abad yang lalu Rasulullah telah membangun perabadan dunia ketatanegaraan yang modern. Pendirian Kota Madinah yang dulunya bernama Kota Yasrib merupakan satu bukti Rasulullah telah mempraktikkan satu prinsip muwathonah dalam bernegara dengan basis membangun kewarganegaraan atau citizenship bukan mendirikan kewargaagamaan,” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Said mengingatkan, agama yang tawasuth dan tasamuh dalam bernegara adalah amanah santri yang harus kita jaga sebagaimana para ulama dan kiai mengajarkan kepada kita. Karena sikap tawasuth (moderat) dan tasamuh (toleran) adalah ciri orang yang berilmu dan berakhlak baik, sedangkan yang radikal dan intoleran itulah cermin orang yang sebaliknya.

Para ulama sudah mencontohkan seperti Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo, Imam Bonjol bahkan KH Hasyim Asy’ari yang pernah dipenjara pada saat zaman Jepang telah menfatwakan wajib hukumnya melawan penjajah pada tahun 1945.

Acara yang dihadiri oleh ribuan santri, ratusan tamu undangan, juga nampak hadir para Pengurus Cabang, Pengurus MWCNU dan Ranting NU se-Kota Pekalonngan, pengasuh pesantren se Kota Pekalongan, Walikota Pekalongan dan Wakil Walikota Pekalongan yang juga Ketua Yayasan Ponpes Ribatul Muta’allimin Pekalongan. (Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 13 April 2012

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, terpilih masuk dalam Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat di Universitas Indonesia (UI), dan siap membersihkan kampus tersebut dari aliran Islam radikal. Mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dinilai sangat berbahaya jika terus menerus dicekoki ajaran Islam radikal. 

"Mahasiswa itu calon pemimpin bangsa, jangan sampai mereka terus menerus dicekoki ajaran Islam radikal," tegas Kiai Said di Jakarta, Selasa (27/4). 

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal

Di kampus UI, lanjut Kiai Said, sebagaimana lokasi perkuliahan umum lainnya saat ini diindikasikan tengah dikuasai oleh aliran Islam radikal. Salah satu indikasinya adanya banyaknya liqa atau pertemuan-pertemuan di luar kampus yang mengajarkan aliran Islam radikal. 

Ribath Nurul Hidayah

"Sudah banyak laporan yang saya terima. Dan pada kenyataannya memang di kampus-kampus umum seperti UI yang banyak di

temukan. Di Universitas islam ada, tapi tidak sebanyak di kampus-kampus umum," urai Kiai Said. 

Ribath Nurul Hidayah

Untuk merealisasikan keinginan membersihkan kampus UI dari aliran Islam radikal, Kiai Said akan mengusulkan diperbanyaknya kegiatan ekstra kampus yang bernafaskan Ahlussunnah wal Jamaah. 

Kiai Said masuk ke dalam Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat setelah dipilih oleh Senat Akademik Universitas Indonesia (UI), Kamis (26/4). Terdapat 5 nama lain selaing Kiai Said, masing-masing mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Alwi Abdurrahman Shihab, Anugrah Pekerti, Bagir Manan, Endriartono Sutarto. 

Sebagai bagian dari Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat, Kiai Said dan sejumlah tokoh lainnya memiliki tugas memberikan nasehar, masukan dan ide-ide baru sebagai gagasan untuk pengembangan UI ke arah yang lebih bagis. Terdapat 3 program yang ingin diterapkannya, yaitu menjadikan UI sebagai universitas yang bisa diandalkan di Indonesia, serta bisa bersaing secara regional maupun internasional. 

Kedua adalah membersihkan kampus UI dari kelompok Islam radikal, sementara yang ketiga adalah melaksanakan pemilihan pejabat setingkat rektor, wakil rektor, guru besar, dekan, kepala jurusan dan jabatan-jabatan lainnya secara objektif, bersih dan demokratis. 

Penulis: Emha Nabil Haroen 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai Ribath Nurul Hidayah

Senin, 09 April 2012

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) jadi presiden, semua orang telah mafhum. Gus Dur sudah mengetahui dirinya kelak akan jadi presiden, banyak orang yang sudah memberi testimoni. Tapi ternyata jika dirunut lebih ke belakang lagi, proses kepresiden Gus Dur ada di masa orang tuanya, KH Wahid Hasyim.?

Salah satu tradisi warga NU, jika mempunyai cita-cita tinggi atau tekad yang kuat untuk mencapai sesuatu, selain melakukan usaha secara lahir, juga melakukan sejumlah riyadhoh atau upaya-upaya yang bersifat spiritual seperti puasa, sholat tahajjud, merutinkan bacaan ayat tertentu, membaca Dalail dan lainnya.

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah

KH Hasib Wahab, pengasuh pesantren Tambak Beras Jombang, yang juga putra KH Wahab Hasbullah suatu ketika pernah mendapat cerita dari ayahnya bahwa KH Wahid Hasyim memiliki cita-cita besar menjadi pemimpin bangsa, entah menjadi presiden atau perdana menteri. Oleh seorang kiai sepuh, ia diminta melakukan sebuah tirakat, tetapi risikonya besar, jika gagal menjalaninya sampai akhir, bisa meninggal. Riyadhoh yang harus dijalani adalah melakukan puasa selama lima tahun penuh, di luar hari tasyrik atau hari-hari besar yang dilarang menjalankan puasa.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh Kiai Wahid Hasyim, riyadhoh tersebut dijalaninya dengan baik. Setiap hari ia melakukan puasa, apapun kondisinya. Dalam buku biografinya, dikisahkan, Kiai Wahid sampai berpura-pura makan bersama tamu untuk menghormatinya. Puasa tersebut bisa dijalaninya selama 3 tahun 8 bulan ketika ia mengalami kecelakaan di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun.

Ia meninggal belum sempat menyelesaikan riyadhohnya atau mencapai cita-citanya? tetapi yang berhasil mencapai adalah putra pertamanya, Abdurrahman Wahid yang kita kenal sebagai Gus Dur yang berhasil menjadi presiden ke-4 RI.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam suatu kesempatan di istana ketika Gus Dur masih menjadi presiden, Gus Hasib pernah menahkikkan atau di cek ulang kebenaran cerita dari Mbah Wahab tersebut, Gus Dur mengiyakan.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 07 April 2012

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016

Johor Bahru, Ribath Nurul Hidayah

Nuris United FC Jember, juara Liga Santri Nusantara 2015 akhirnya memenuhi target juara di kejuaraan sepakbola U-18 Malindo Cup 2016, dalam partai final setelah membungkam tuan rumah Sekolah Sukan Tunku Mahkota Malaysia 2-1 di Stadion Sekolah Sukan Tunku Mahkota Ismail (Sabtu 21 Mei 2016 petang)

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016

Setelah peluit panjang dimulai, tim Nuris langsung memimpin permainan dan membuahkan gol yang dilakukan oleh Muhammad Kevy yang memanfaatkan dengan baik umpan silang dari Richard Rahmad.

Ditinggal 1-0 tim tuan rumah mulai memperbaiki performa permainan dan tampil menekan. Serangan demi serangan dilakukan dari lapangan tengah dan pemain sayap. Pada menit ke-40, tim tuan rumah membalas ketertinggalan dengan tendangan bebas M Ramlan (9) ke gawang Nuris FC. Kedudukan akhirnya imbang 1-1 sampai babak turun minum selesai.

Ribath Nurul Hidayah

Pada babak kedua pertarungan makin ketat kedua tim saling membuka serangan. Namun Nuris United kemudian memimpin lagi permainan. Pada pertengahan babak kedua, tepatnya pada menit ke-50, terjadi handball di kotak terlarang.

Ribath Nurul Hidayah

Kesempatan melesatkan tendangan penalti tak disia-siakan tim Nuris. Richard Rachmad, pemain nomor punggung 10 dipercaya mengeksekusi tendangan dan akhirnya menghasilkan gol dengan kedudukan 2-1.

Di menit-menit akhir tim tuan rumah terus mengancam gawang Nuris tetapi penjaga gawang Nuris FC selalu berhasil menghadang serangan tuan rumah. Sampai babak kedua selesai, kedudukan masih sama 2-1. Tanda kemengan bagi Nuris FC

Begitu peluit panjang berbunyi, pelatih Nuris United, Sutikno bersama official berhamburan masuk ke lapangan memeluk pasukannya merayakan kemenangan. Begitu pula pengamat sepakbola Mohamad Kusnaeni yang ikut mendampingi tim Nuris sebagai konsultan bersama Husni Mubarok dan Mukafi Makki.

"Ini kemenangan yang sangat membanggakan bagi Nuris," kata Sutikno. "Anda lihat sendiri beberapa pemain kami mulai kram pada babak kedua. Tapi mereka tetap fight terus sampai akhirnya menang," ungkap Pelatih asal Jember Jawa Timur itu

Berita keberhasilan Nuris itu disambut hangat M. Arifin Majid, Asisten Deputi Pengelolaan Olahraga Pendidikan Kemenpora yang membidangi kegiatan Liga Santri Nusantara.

"Ini membuktikan bahwa potensi sepakbola di kalangan santri memang menjanjikan," ujarnya. "Jadi, dukungan yang diberikan Pemerintah selama ini melalui Liga Santri Nusantara sudah tepat," ia menegaskan.? (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 06 April 2012

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail

Sleman, Ribath Nurul Hidayah 

Adalah Samsul, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pada malam takbiran, mementaskan wayang Ma’el Gugat di aula sekretariat PMII Komisariat Wahid Hasyim Universitas Islam Indonesia (UII), Sleman, Yogyakarta, pada Senin malam (14/10). 

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail

Pentas yang dimulai pukul 20.00 tersebut, menceritakan anak bernama Ma’el. Ia mendapat titah atau tugas untuk ngawula (mengabdi). 

Alkisah, di Kahyangan terjadi kebakaran. Ma’el turun tangan untuk membangunnya kembali. Pada kenyataannya, kebijakan-kebijakan kerajaan tidak sesuai dengan kemaslahatan. Maka Ma’el berupaya untuk mengembalikan kebijakan sesuai nilai Tuhan. 

Ribath Nurul Hidayah

Di tengah pergulatan itu, ia dihadapkan pada cobaan besar yang turun dari Kahyangan lewat ayahandanya, Brehem. 

Sebelumnya, pada suatu malam, ketika Brehem sedang bertapa di bukit Nuun, ia ditemui kakek jelmaan Sang Hyang Ismaya. Kakek itu membawa kabar bahwa anak laki-lakinya telah usai menjalankan tugas di muka bumi dan Kahyangan. Sudah saatnya anaknya itu kembali menghadap Sang Hyang Moho Tunggal. Singkat kata, kakek itu menyuruh Brehem untuk membunuh anaknya, Ma’el.  

Ribath Nurul Hidayah

Akhirnya, Ma’el menyadari, untuk menyempurnakan titahya sebagai ngawulo, diserahkanlah raga dan nyawanya untuk membuktikan kengawuloannya sebagai hamba. Ma’el pun menusukkan keris ayahnya ke dadanya sendiri dengan diiringi tangis Brehem, ayah yang sangat mencintainya. 

Setelah Dalang Samsul menyelesaikan perjalanan cerita pewayangannya, ia mengajak hadirin untuk mengumandangkan kalimat takbir khas lebaran yang telah menjadi suatu kebiasaan, atau mungkin sudah bisa dibilang sebagai kebudayaan. 

Kemudian, lantunan takbir tersebut disambut dengan parade tadarus puisi beberapa kader PMII UII. Di antara mereka, membawakan puisi-puisi tokoh terkenal seperti karya Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Najib (Cak Nun), dan WS. Rendra. 

Kegiatan tersebut juga diisi dengan tahlilan singkat yang dipimpin Imron Rosyadi. Kemudian dilanjutkan lagi dengan lantunan gema takbir. Lalu, peserta dipersilakan untuk ikut mengisi dan mempersembahkan puisi untuk menyemarakkan malam tadarus puisi malam itu dengan puisi pribadi atau puisi-puisi yang telah disediakan oleh panitia.

Pementasan puisi PMII Komisariat Wahid Hasyim UII tersebut berjudul “Ma’el Beleh-belehaning Gusti Allah” menjadi acara puncak tadarus puisi pada malam itu. Puisi tersebut diciptakan dan dibawakan Muhammad Najih. 

Puisi itu menggambarkan penderitaan Ummu Hajar ketika berjuang melawan tekanan saat ditinggal sendiri bersama anaknya yang baru lahir di tanah gersang Mekkah. Juga ketegaran Nabi Ibrahim ketika diperintah untuk menyembelih anaknya sendiri yang lama ia tinggalkan dan keikhlasan Ismail menerima perintah penyembelihannya.

Acara tersebut merupakan acara yang diadakan oleh kader-kader PMII UII untuk mengisi malam takbiran Idul Adha dengan warna baru, yang diekspresikan melalui lantunan puisi dan pementasan-pementasan berbau kebudayaan lain. 

Pada kesempatan itu diadakan peluncuran komunitas Cadas (cinarito ing kabudayan sandiworo) yang baru saja dibentuk oleh kader-kader PMII UII untuk mewadahi potensi kader dalam bidang seni dan budaya. (Muhammad Najih-Samsul Ariski/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Sejarah, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 31 Maret 2012

Gandeng Bonek, Ansor Krian Gencar Lakukan Penyuluhan Bahaya Narkoba

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah - Upaya menekan dan mengantisipasi penyalagunaan narkoba terus dilakukan oleh Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) PAC GP Ansor Krian Kabupaten Sidoarjo. Kali ini, Baanar PAC GP Ansor Krian menggandeng Bonek, para pelajar, okp, dan BNNK Sidoarjo dalam melakukan penyuluhan bahaya barang haram tersebut.

"Baanar Ansor Krian terus melakukan penyuluhan bahaya narkoba kepada masyarakat agar generasi bangsa tidak terjerumus ke dalamnya. Mengingat di wilayah Krian sudah menjadi zona merah yang merupakan cukup banyak pengguna, pengedar dan kepemilikan barang haram itu," kata Ketua Baanar GP Ansor Krian Rofik di kantor Desa Gamping, Krian, Ahad (12/3) malam.

Gandeng Bonek, Ansor Krian Gencar Lakukan Penyuluhan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Bonek, Ansor Krian Gencar Lakukan Penyuluhan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Bonek, Ansor Krian Gencar Lakukan Penyuluhan Bahaya Narkoba

Menurut Ketua GP Ansor Krian M Azwar Annas, Ansor Krian tak akan berhenti menyosialisasikan ke masyarakat tentang bahaya penyalagunaan narkotika. Sebab, jika setiap hari masyarakat diberikan pembekalan atau wawasan tentang obat-obatan terlarang akan semakin paham.

Ribath Nurul Hidayah

Ia mengajak semua element masyarakat untuk melakukan kerja sama dalam memberantas dan memberikan informasi ke warga di tingkat bawah maupaun pelajar, terkait dampak dari penggunaan narkoba itu sendiri.

"Pelaku penyalagunaan narkoba sangat besar, sebab itu, kami berharap di setiap desa ada duta atau satgas antinarkoba yang bertugas mendampingi, memberi informasi ke tengah-tengah masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba," ujar Annas. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Daerah, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 17 Maret 2012

Tak Cuma Ceramah, Pegiat Aswaja Diimbau Sering Menyapa Umat

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah - Banyaknya tantangan berupa pendangakalan Aswaja hendaknya menyadarkan semua pihak untuk semakin giat dalam menyapa umat. Mereka harus semakin intensif didatangi agar tidak sampai dimasuki oleh paham lain yang cenderung merusak.

"Para pemimpin umat, khususnya pegiat Aswaja jangan hanya menyukupkan ceramah sesuai jadwal yang ada, tapi semakin giat memantau perkembangan di akar rumput," kata Ustadz Idrus Ramli, Dewan Pakar PW Aswaja NU Center Jawa Timur, Ahad (13/3), saat menjadi narasumber pada kegiatan Daurah Aswaja Internasional lil Gawagis se-Jawa Timur.

Tak Cuma Ceramah, Pegiat Aswaja Diimbau Sering Menyapa Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Cuma Ceramah, Pegiat Aswaja Diimbau Sering Menyapa Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Cuma Ceramah, Pegiat Aswaja Diimbau Sering Menyapa Umat

Menurutnya,? kalangan penyerang amaliyah NU kerap memanfaatkan tempat ibadah seperti mushalla dan masjid yang tidak banyak difungsikan sebagaimana mestinya. "Dari mulai mencoba aktif sebagai tenaga kebersihan, menjadi muadzin hingga akhirnya menguasai jadwal imam rawatib dan pengajian di masjid dan mushalla yang ada," terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena itu, cara terbaik yang harus dilakukan para tokoh agama adalah dengan terus berupaya menyapa masyarakat di luar jadwal pengajian rutin yang dimiliki. "Karena mereka akan menguasai tempat ibadah yang jarang disapa dan dikunjungi tokoh agama di komunitas tersebut," ungkapnya.

Bagi Ustadz Idrus, kelebihan kelompok yang sering menguasai masjid dan mushalla tersebut adalah konsistensinya dalam menjaga dan menguasai jadwal ibadah. "Maklum, mereka didukung oleh pendanaan yang besar, sehingga tidak lagi disibukkan dengan kegiatan ekonomi seperti masyarakat pada umumnya," katanya.

"Saya yakin, pemahaman peserta daurah tentang Aswaja sudah benar dan tidak diragukan karena berasal dari kalangan gus dan ning yang notabene adalah putra-putri kiai serta pengampu pesantren," jelasnya. Namun, yang sangat mendesak adalah bagaimana jadwal menyapa dan mendampingi masyarakat awam kian ditingkatkan agar merasa semakin terayomi.

Ribath Nurul Hidayah

Pada kegiatan yang diikuti ratusan gus dan ning utusan dari kota dan kabupaten se-Jatim tersebut, Ustadz Idrus berharap ada rutinan pengajian yang diisi tokoh agama setempat agar umat tidak kecolongan. "Kalau kerap menyapa umat dan warga, pasti mereka akan terus merasa hormat," katanya.

Ustadz Idrus Ramli menjadi narasumber pertama pada kegiatan yang berlangsung di aula PWNU Jatim, Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya. Narasumber lain adalah Ustadz Maruf Khozin (Surabaya), Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini (Lebanon) serta KH Marzuki Mustamar dari Malang. (Ibnu Nawawi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Internasional Ribath Nurul Hidayah