Demikian dikatakan Wasekjen PBNU H Abdul Munim DZ menanggapi penelitian Wakil Sekretaris PWNU Sumbar Zainal bertema “Islam Radikal di Sumbar Pascaorba, Kajian Historis Gerakan Ormas Islam Garis Keras” kepada Ribath Nurul Hidayah di kantor PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Jumat (11/4) siang.
| Paderi, Embrio Gerakan Kelompok Radikal di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online) |
Paderi, Embrio Gerakan Kelompok Radikal di Indonesia
“Gerakan Paderi itu mengilhami aktivis penegak syariat Islam di Indonesia yang tegabung di dalam wadah HTI, Salafi, FPI, KPSI, dan lainnya. Setiap ormas garis keras itu memiliki cakupan sendiri. Ada lokal, nasional, juga bahkan trasnasional,” kata H Abdul Mun’im DZ.Ribath Nurul Hidayah
Mereka dengan berbagai cara mencapai maksudnya untuk menegakkan syariat Islam melalui struktural maupun kultural. Mereka menghendaki penerapan syariat Islam dalam perda-perda dan oleh masyarakat, kata Mun’im.Dalam melakukan amar makruf dan nahi munkar, mereka tidak mengenal toleransi dan kompromi dengan pihak lain yang berseberangan dengan mereka. Mereka juga cenderung mengubah adat dan tradisi tasawuf yang berlaku di tengah masyarakat.
Ribath Nurul Hidayah
Mereka ingin menghapus segala bentuk bidah, takhayul, dan khurafat di tengah masyarakat, sambung Mun’im. Sayangnya, mereka dalam melancarkan aksinya berjauhan dengan cara dakwah Rasulullah SAW. Mereka bahkan tidak segan-segan memakai cara kekerasan bahkan pembunuhan.Gerakan Paderi berawal dari pulangnya tiga warga Sumbar dari ibadah haji. Mereka yang terpengaruh oleh perkembangan gerakan Syekh M Abdul Wahhab di Arab saat itu, mencoba menerapkannya di Indonesia.
“Dampak struktulanya, mereka menolak sistem negara kebangsaan seperti Indonesia sekarang ini,” tandas Mun’im. (Alhafiz K)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ribath Nurul Hidayah Budaya Ribath Nurul Hidayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar