Rabu, 24 Desember 2014

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar

Palembang, Ribath Nurul Hidayah. Ida Fauziah, Ketua Umum Fatayat NU mendesak IPPNU-IPPNU untuk menyediakan media ke-NU-an bagi para pelajar. Ketersediaan media NU bagi pelajar menurutnya menjadi satu kebutuhan mendasar bagi pelajar-pelajar NU saat ini.

Ida Fauziyah menyampaikan tuntutannya dalam sebuah seminar yang dihadiri peserta kongres IPPNU-IPNU di Gedung Serbaguna Asrama Haji, jalan Kolonel H. Barlian KM.9, Kota Palembang, Ahad, (2/12) petang.

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar

“Media seperti website yang memenuhi kebutuhan pelajar ini penting untuk digarap IPPNU dan IPNU. Kalau hal ini diabaikan, maka para pelajar akan beralih kepada website Islam radikal yang kini menjamur,” tutur Ida Fauziyah.

Ribath Nurul Hidayah

Para pelajar Indonesia saat ini, menurutnya, akan dengan mudah mengakses media online yang menyediakan kebutuhan mereka. Sayangnya, menurut Ida, media seperti digarap oleh gerakan-gerakan Islam fundamentalis.

Ribath Nurul Hidayah

“Keniscayaan itu sangat tinggi karena pelajar-pelajar itu tidak melihat adanya media Islam alternatif yang sesuai dengan visi pelajar NU,” tegas Ida di hadapan sedikitnya empat ratus peserta kongres yang menghadiri seminar.

Untuk memenuhi kebutuhan keagamaan, para pelajar hanya menemukan situs Islam garis keras di internet. Menurut Ida, IPPNU dan IPNU harus membidik sarana internet sebagai medan perjuangan visi NU.

Ida mengimbau IPPNU dan IPNU mendayagunakan media online untuk mengawal visi Islam yang rahmatan lil alamin. Kalau bukan IPPNU dan IPNU sebagai basis NU di kalangan pelajar yang memanfaatkan peluang dari teknologi-informasi, tidak mustahil para pelajar Indonesia akan terpengaruh oleh ajaran Islam garis keras yang bertebaran di internet, tegasnya.?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 19 Desember 2014

Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi

Tegal, Ribath Nurul Hidayah - Keputusan Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 terus menuai penolakan di berbagai daerah. Penolakan tersebut kali ini datang dari Kabupaten Tegal dengan menggelar aksi damai pada Jumat, (25/8) di Taman Rakyat Slawi Kabupaten Tegal.

Pada rangkaian kegiatan aksi, turut hadir Bupati Tegal Enthus Susmono yang juga ikut berorasi di depan puluhan ribu massa. Dalam orasinya, ia mengatakan tidak meminta mencopot Pak Menteri.



Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi

(Baca: Pengamat Pendidikan: Masalah FDS Tak Hanya Menimpa NU)


Ribath Nurul Hidayah

“Saya tidak meminta mencopot Pak Menteri. Itu hak panjenengan. Namun, Sampean bisa memberikan keputusan supaya semua nyaman dan aman,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengatakan siap menerima konsekuensi apa pun sebagai Bupati dalam menolak lima hari sekolah.

Ribath Nurul Hidayah

“Konsekuensi saya sebagai bupati, saya siap menerima apa pun ketika saya menolak lima hari sekolah. Jika dipecat sebagai Bupati, tidak masalah. Nyalon lagi,” ujarnya disertai gelak tawa dan tepuk tangan peserta aksi.

Di tengah-tengah orasi, ia memperagakan berdialog dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dengan menarik salah satu orang yang diibaratkan sebagai Jokowi. Hal itu, menurutnya, karena sebagai bangsa Jawa sudah terbiasa kontak dengan batin. Ia mengatakan bahwa keputusan untuk membatalkan Permendikbud adalah jalan tengah.

“Bapak Presiden, saya tidak bisa menghadap langsung dengan Panjenengan. Tetapi kami bangsa Jawa sudah terbiasa kontak dengan batin. Keputusan kami adalah jalan tengah, tawasuth. Supaya tidak terjadi keributan di bawah,” ungkapnya.



(Baca: Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah)


Di akhir orasinya, pria yang juga berprofesi sebagai dalang ini mengatakan bahwa ia siap “menyembah” Jokowi dengan memperagakan kepada orang yang diibaratkan sebagai Jokowi.

“Tetapi menyembah kaya Seni Ketoptak loh ya. Bukan menyembah kaya ke Allah,” tambahnya.

Bahkan, jika ia juga disuruh mencium kaki Presiden, akan ia lakukan.

“Tetapi kakinya diganti kaki ayam, kemudian diopor. Saya cium, lalu saya makan Pak,” pungkasnya.

Lelucon itu disambut gelak tawa oleh para peserta aksi yang berasal dari berbagai organisasi seperti Forum Komunikasi Diniyah Takbilitah, MWCNU se-Kabupaten Tegal, Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU. (M. Ilhamul Qolbi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Olahraga, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Desember 2014

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan

Kisah tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang berkeinginan untuk belajar kepada Nabi Khidir ‘alaihissalam begitu sering disampaikan oleh para guru, ustadz dan kiai di berbagai forum kajian ilmu. Dikisahkan, dalam sebuah perjalanan Nabi Musa sampai tiga kali mempertanyakan perbuatan Nabi Khidir yang dinilainya melanggar syariat Allah. Pada akhir perjalanannya, Nabi Khidir menjelaskan perihal perbuatannya tersebut.

Salah satu perbuatan yang dipertanyakan tersebut adalah mana kala Nabi Khidir membangun sebuah rumah yang hampir roboh di sebuah desa. Nabi Musa mengusulkan kepada Nabi Khidir untuk meminta upah kepada penduduk desa atas kesediaannya menegakkan kembali dinding rumah yang hampir roboh itu. Padahal sebelumnya ketika kedua nabi itu memasuki desa tersebut dan meminta makanan kepada penduduknya mereka menolak memberi makanan tersebut.

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan

Dalam hal ini Nabi Khidir menjelaskan sebagaimana direkam oleh Al-Qur’an dalam Surat al-Kahfi ayat 82:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

“Adapun tembok rumah yang hampir roboh itu adalah milik dua anak yatim di desa itu di mana di bawahnya terdapat simpanan harta bagi keduanya. Orang tua kedua anak itu adalah orang yang saleh. Maka Tuhanmu berkehendak keduanya mencapai dewasa dan akan mengeluarkan harta simpananya.”

Ribath Nurul Hidayah

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhim menjelaskan bahwa kedua anak yatim itu dijaga sebab kesalehan orang tuanya dan tidak disebutkan kesalehan kedua anak itu. Antara kedua anak yatim dan orang tua yang saleh itu ada selisih tujuh generasi leluhur. Jadi yang dimaksud “orang tua yang saleh” pada ayat tersebut adalah kakek pada generasi urutan ketujuh dari anak yatim tersebut, bukan orang tua yang melahirkan keduanya.

Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa seorang yang saleh akan dijaga keturunannya dan keberkahan ibadahnya akan meliputi mereka di dunia dan akhirat. Dengan syafaatnya di akherat kelak keturunannya akan diangkat derajatnya di surga hingga derajat tertinggi sehingga bisa menjadi kebanggaan bagi orang yang saleh tersebut.

Dalam hal ini Tajudin Naufal dalam Hadiqatul Auliya’-nya mengatakan, bila ketakwaan kakek yang ketujuh saja dapat memberikan kemanfaatan bagi keturunannya yang ke tujuh, lalu bagaimana pendapat kita dengan ketakwaan orang tua kandung? Tak dapat disangkal, pohon yang baik pasti berbuah baik. Orang yang memakannya tak akan berhenti dan tetap kekal kebaikannya dengan ijin Allah Ta’ala.

Dari inilah banyak para ulama yang menganjurkan kepada para orang tua untuk terus giat dan istiqamah dalam beribadah. Karena keberkahan ibadah itu tidak hanya akan dinikmati oleh diri sendiri tapi juga oleh anak-anak keturunannya baik di dunia maupun di akherat kelak. (Yazid Muttaqin)

Referensi:

Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhim, Imam Ibnu Katsir

Hadiqatul Auliya’, Syaikh Tajudin Naufal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 23 Oktober 2014

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia

Beijing, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memenuhi undangan dari Komunitas Muslim Tiongkok. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama rombongan disambut hangat Kepala Direktori Urusan Agama Pemerintah Tiongkok Wung Zuoan di kantornya di Beijing, Rabu (20/4)

Wung Zuoan mengaku sangat tertarik dengan Islam di Indonesia khususnya NU. "Kami salut dengan perkembangan Islam di Indonesia yang dikenal sebagai Islam yang ramah, toleran dan moderat. Tentunya NU sebagai ormas Islam terbesar mempunyai peranan yang sangat penting. Kami sangat tertarik untuk belajar dari Islam di Indonesia dan juga kepada NU," pungkasnya.

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia

"Hubungan Islam Tiongkok dan Indonesia yang telah lama bersentuhan diawali ketika datangnya Laksamana Cheng Ho ke Nusantara dengan membawa pasukan Muslim, yang kemudian membangun kota Semarang," kata Kang Said, sapaan akrab ketum PBNU.

Ribath Nurul Hidayah

PBNU mendorong agama Islam dapat berkembang pesat di Tiongkok. Menurutnya, ada persamaan pandangan antara Indonesia dan Tiongkok bahwa Islam agama yang damai, model Islam seperti ini yang harus dijaga dan dilestarikan.

Ribath Nurul Hidayah

Kang Said juga menyinggung soal munculnya ekstremisme. Fenomena tersebut, katanya, menyebar ke mana-mana dan mesti diwaspadai seberapa pun kecilnya. “Dan salah satu cara agar Islam tetap moderat dan tidak ekstrim adalah dengan jalan pendidikan," jelas Kang Said

KH Said Aqil Siroj juga berharap konflik berdarah yang terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman tidak sampai merembet ke Indonesia dan Tiongkok. Ia berdoa agar kerusuhan itu segera berakhir. “Mungkin kita merasa perlu adanya tukar menukar pandangan seperti ini, untuk menyamakan persepsi, demi terwujudnya Islam yang damai, moderat, toleran, antiradikalisme dan terorisme," tuturnya

Dalam kesempatan ini PBNU mengundang ulama Tiongkok untuk hadir dalam acara International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diinisiasi PBNU. Forum internasional ini akan diadakan 5-9 Mei 2016 di Jakarta Convention Center (JCC). Rencananya, acara tersebut akan dihadiri oleh sekitar 100 pemimpin negara dan organisasi Islam dari seluruh dunia serta para pengurus NU dari tingkat wilayah. (Junaidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 02 September 2014

Masjid Membina ke-Kita-an

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi berpendapat, masjid adalah tempat pembelajaran dan pembinaan umat. Juga tempat melebur ke-ana-an (ke-aku-an) dalam ke-nahnu-an (ke-kita-an).

“Dengan nahnu, kita akan kuat!” katanya saat membuka Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) para Imam, khotib, ta’mir masjid Pengurus Cabang LTMNU Kabupaten Banyuwangi, bertempat di aula Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy, Ahad, (24/2).  

Masjid Membina ke-Kita-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Membina ke-Kita-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Membina ke-Kita-an

Ia kemudian mengutip salah satu bait Al-fiyah ibn Malik, Lirofi wa nasbi wajarina shalah, Ka’rif bina fainnana nilnal minah. Nahnu itu ketika disuruh rafa’, nasab, dan jar, tetap kuat.  

Ribath Nurul Hidayah

“NU rapuh, karana kenahnuannya masih labil dan membentuk kenahnuan sendiri,” tambahnya.  

Kiai kelahiran Purwokerto 1954 juga mengatakan, di masjid pula, umat belajar mengikuti aturan main dalam jamaah (organisasi).

Siapapun imam, makmum harus mengikuti, ruku, sujudnya imam. Bahkan jika imam itu jabatannya lebih rendah dari makmum. “Tidak ada kekuatan, tanpa berjamaah,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Rapimda bertema “Wujudkan masjid sebagai  pusat pemberdayaan umat” tersebut, difasilitasi PP LTMNU dan PT Sinde Budi Sentosa.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 September 2014

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid

Masjid bagi umat Islam tidak hanya sebatas tempat beribadah, tetapi juga berfungsi untuk tempat belajar agama, sosialisasi, musyawarah, dan kegiatan sosial lainnya. Pada masa Rasul pun masjid digunakan untuk berbagai kepentingan selama tidak melanggar aturan syariat. Banyak hadits mengisahkan bahwa masjid dijadikan tempat tinggal, belajar, dan diskusi oleh sebagian sahabat.

Kendati masjid multifungsi, namun perlu diingat bahwa fungsi utama masjid adalah sebagai tempat beribadah. Adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang berada di masjid menghormati fungsi utama masjid ini dengan cara menjaga adab dan tidak melakukan hal-hal lain yang dapat menganggu kenyaman orang beribadah.

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid

Pada sebagian masjid misalnya, seringkali setelah shalat berjamaah ataupun sebelum shalat, sebagian orang mengobrol dan berdiskusi di dalam masjid. Obrolan mereka pun tidak hanya berkaitan dengan urusan agama atau ibadah, tetapi juga membahas persoalan dunia dan terkadang mereka pun bergurau dan tertawa.?

Imam An-Nawawi dalam Al-Majemuk Syarahul Muhadzdzab mengatakan:

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dibolehkan membicarakan sesuatu yang diperbolehkan (mubah) di dalam masjid, baik urusan dunia maupun maupun urusan mubah lainnya, meskipun pembicaraan tersebut mengundang ketawa, selama masih terkait dengan perkara mubah. Pendapat ini didasarkan pada hadits riwayat Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah SAW tidak beranjak dari tempat shalatnya pada waktu shubuh sampai terbit matahari. Beliau baru beranjak dari tempat shalat setelah matahari terbit. Jabir berkata, ‘Ketika itu mereka membicarakan banyak hal termasuk persoalan yang terjadi pada masa Jahiliyyah sehingga membuat mereka tertawa dan tersenyum’.”

Merujuk pada hadits riwayat Jabir ini, Imam An-Nawawi membolehkan mengobrol dan berdiskusi di dalam masjid, walaupun membahas persoalan dunia atau permasalahan yang tidak berhubungan langsung dengan ibadah. Tidak hanya itu, tertawa dan tersenyum secukupnya pun dibolehkan ketika berada di dalam masjid. Meskipun dibolehkan, tentu selayaknya seorang Muslim tetap menjaga etika dan adab di dalam masjid.

Di antara adab yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai membicarakan perkara maksiat dan dosa, ataupun sesuatu yang mengundang kemudharatan, dan tidak tertawa keras-keras ketika bergurau agar tidak menganggu kenyaman orang lain beribadah. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 Agustus 2014

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3)

Madinah, Ribath Nurul Hidayah. Sejurus kemudian semuanya hening, tanpa suara. Seorang demi seorang, kerumunan mulai mengundurkan diri. Orang-orang mulai kembali ke jalanan beton ketika, mungkin beberapa anggaota keluarga jenazah yang baru saja dikubur, mulai menghitung-hitung dan menandai lokasi makam baru tersebut. Beberapa di antara mereka menunjuk-nunjuk dan menghitung jendela hotel terdekat tertentu yang posisinya lurus dengan makam tersebut. Sebagian yang lainnya menghitung celah dan urutan makam dari jalan beton.   

Setelah puas mengitung, beberapa orang naik ke jalan berbeton dan kembali terjadi kerumunan berjubel di dalam gelap. Ya kondisi gelap, meski sebenarnya mata sudah mulai terbiassa dengan kegelapan. Lampu dua mobil yang berada di jalan rupanya telah dimatikan. Tinggal sebuah lampu yang diletakkan pada tiang di dekat liang pemakaman. Lampu ini tetap menyala, mungkin untuk menolong para pelayat agar tidak terperosok ke lubang-lubang lain di sekitar lubang yang baru saja ditimbuni tadi.

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3)

Ya, pihak pengelola makam memang telah menyiapkan banyak lubang di beberapa blok, sebelum ada orang meninggal. Sangat mungkin penyiapan banyak lobang ini dikarenakan hampir setiap waktu sholat, terutama di Musim haji, selalu ada jenazah yang di kubur di pemakaman baqi ini. Seperti juga para pekerja cleaning service di Masjid Nabawi yang bukan dari warga negara Arab Saudi, maka demikian pun untuk pekerjaan penggali makam ini, nampak di bawah sorot lampu, kebanyakan mereka berwajah dan kulit muka seperti orang-orang Bangladesh. Merekalah yang sangat mungkin mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penggalian makam ini.

Ribath Nurul Hidayah

Tentu ini berbeda dengan budaya orang Jawa yang akan mengatakannya sebagai "Ngalup" (seolah mendoakan kematian pada seseorang), jika kita siapkan lobang pemakamannya sebelum yang bersangkutan meninggal dunia. Sekedar catatan, orang Cina juga memiliki budaya menyiapkan lobang lahat bagi keluarga yang masih hidup. Rupanya, karena menghindari lubang-lubang yang ditutup dengan kayu triplek inilah, para peziarah berjalan zig-zag ketika turun tari jalan beton tadi.

Saya pun akhirnya penasaran, ada apa di tengah kerumunan berjubel dalam gelap tersebut. Setelah berusaha mendekat, maka semuanya menjadi jelas. Ternyata para pelayat sedang antri berpeluk-pelukan bergantian dengan keluarga yang kini berbaris di jalanan beton. Para pelayat yang sudah berpelukan dan saling mengucapkan pesan kesabaran segera meninggalkan lokasi, dan kembali berjalan pulang.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah memperhatikan agak lama, rupanya banyak pula orang yang sekedar bersalaman. Mungkin mereka tidak saling kenal, bahkan mungkin juga orang yang tidak kenal siapa jenazah yang baru saja dikuburkan dan siapa keluarganya, mungkin kira-kira seperti saya. Maka saya pun segera mengambil sikap yang sama. masuk ke dalam antrian dan bersalaman dengan keluarga. Ya sekedar bersalaman, saya juga tidak pernah mengenal siapa yang baru saja turut saya iringkan untuk dikebumikan dan siapa pula keluarganya.

Dalam perjalanan pulang seusai bersalaman, saya mencoba mengamati sekeliling. Bagaimana sebenarnya kondisi Makam yang sangat terkenal ini. Makam yang memeluk nyaman mereka yang telah sejak pertama dimakamkan. Menurut ceritanya, orang yang pertama dimakamkan di sini adalah ‘Utsman bin Mazh‘un, seorang sahabat dari kalangan Muhajirun yang terkenal saleh dan hidup sederhana, yang meninggal dunia pada 5 H/626 M. Sedangkan Ibrahim, putra pasangan suami-istri Rasul Saw. dan Mariyah Al-Qibthiyyah yang berasal dari Mesir, adalah orang kedua yang dimakamkan di sini.

Di makam ini pula terdapat makam para istri Rasul Saw: Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq, Saudah binti Zam‘ah, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah binti Abu Umayyah, Juwairiyah binti Al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dan Shafiyyah binti Huyai. Sedangkan keluarga beliau yang dikebumikan di sini, selain putra-putri beliau, antara lain Abbas bin Abdul Muththalib, Hasan bin Ali, dan Ali Zainal Abidin.

Sementara di antara para sahabat yang dimakamkan di sini ialah Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas‘ud, Abdurrahman bin Auf, dan Saad bin Abu Waqqash. Di antara Imam empat mazhab, hanya Malik bin Anas yang dimakamkan di sini.

Namun jangan pernah Anda membayangkan dapat melihat nisan-nisan mereka semua, bahkan salah satu di antara nissan mereka. Kini sejauh mata memandang di seluruh tanah makam seluas 174.962 meter persegi dengan dikitari dinding setinggi empat meter sepanjang 1.724 meter ini, hanya ada gundukan dengan sepasang nisan dari batu, tanpa nama.

Sekarang ini siapa pun yang meninggal di Madinah dimakamkan di sini termasuk jamaah umrah dan haji dari berbagai negara. Tetap dengan ketentuan yang sama, hanya ada nisan dari batu, sekali lagi tanpa nama. (min/bersambung/Laporan Langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi)  Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah