Selasa, 11 Juli 2017

NU dan Muhammadiyah Mengemban Dua Amanat Ini

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Said Siroj mengungkapkan, NU dan Muhammadiyah mengemban dua amanat yaitu diniyah (agama) dan wathaniyah (kebangsaan).

Hal tersebut disampaikan Kiai Said saat membuka Halaqah Kebangsaan NU-Muhammadiyah bertema “Negara Pancasila dan Khilafah” di Ruang Perpustakaan Gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (19/5).

NU dan Muhammadiyah Mengemban Dua Amanat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Muhammadiyah Mengemban Dua Amanat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Muhammadiyah Mengemban Dua Amanat Ini

“Amanat diniyah telah diajarkan para ulama, masyayikh, dan pejuang Islam agar kita selalu menjaga, merawat, dan mengembangkan dakwah Islam. Dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan dakwah Islam harus dengan cara mulia dan bermartabat, karena Islam adalah agama yang mulia dan bermartabat,” kata Kiai Said dalam halaqah yang menghadirkan Sekjen PBNU Helmy Fashal Zaini dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah H Abdul Mu’ti.

Kiai Said menegaskan tidak benar dakwah Islam dilakukan dengan cara yang keras. Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan dakwah dengan akhlakul karimah.?

“Sungguh engkau (Nabi Muhammad) memiliki akhlak yang mulia,” kutip Kiai Said.

Ribath Nurul Hidayah

Akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah di antaranya dengan mengampuni penduduk Mekah pada tahun 8 Hijiriah saat pihak Rasulullah memasuki kota Mekah dengan kemenangan.?

“Rasulullah memaafkan seluruh penduduk yang tadinya memusuhinya dan umat Islam, . tanpa memaksa mereka harus masuk Islam. Hal ini justru membuat mereka semua masuk Islam,” cerita Kiai Said.

Ribath Nurul Hidayah

Pada waktu itu, lanjut Kiai Said, Rasulullah berprinsip bahwa semua orang yang semula memusuhinya memiliki aklhak yang mulia.

Sementara itu, dalam wathaniyah, para pendiri bangsa memegang prinsip bahwa Indonesia bukan negara agama, melainkan negara kebangsaan.

“Kesepakatan yang sudah dibangun harus dipertahankan. Karena telah mengeluarkan pengorbanan para pendiri bangsa untuk membangun NKRI,” tegas Kiai Said.

Pada pembukaan halaqah tersebut, Kiai Said menerima secara simbolis buku “Negara Pancasila sebagai Dar Al-Ahdi Wa Al-Syahadah” dari Sekretaris Umum PP Muhammadiyah H Abdul Mu’ti. Buku yang disusun dari hasil Muktamar Muhammadiyah di Makassar tahun 2015, rencananya akan disumbangkan untuk Perpustakaan PBNU. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 07 Juli 2017

LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Gaza dari Warga

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU) menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza, Palestina, yang kini dirundung konflik.

LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Gaza dari Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Gaza dari Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Gaza dari Warga

Bantuan diberikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi di sela acara pembukaan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2014 di halaman kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (1/11).

Bantuan senilai Rp 406.000.100 ini merupakan aksi amal kedua setelah September kemarin menyalurkan bantuan makanan dan obat-obatan. Donasi dikumpulkan dari para dermawan lewat nomor rekening LAZISNU.

Ribath Nurul Hidayah

Serah terima bantuan kemanusiaan tersebut disaksikan para peserta Munas-Konbes NU 2014, pengurus lengkap syuriah dan tanfidziyah NU, serta para menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, dan Menteri Pembangunan Daerah Teringgal Marwan Jakfar.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, Kiai Said memuji LAZISNU berjalan maju dibanding periode-periode sebelumnya. "Jumlah bantuannya tentu kecil dibandingkan penderitaan rakyat Gaza saat ini. Tapi kita patut mengapresiasi langkah LAZISNU," ujarnya pada malam penyambutan peserta Munas-Konbes NU, Jumat. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 04 Juli 2017

Tiga Tujuan Bismillah

Malang, Ribath Nurul Hidayah. Kalimat bismillah memiliki tiga tujuan. Pertama, melakukan sesuatu berdasarkan perintah Allah (awamirillahi). Kedua, selama prosesnya niat mencari pertolongan Allah (thaliban lima’unatihi) dan ketiga, untuk hasilnya memohon berkah Allah (barakatan linatijatihi).

Tiga Tujuan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tujuan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tujuan Bismillah

Demikian ditegaskan oleh KH. Hasyim Muzadi dalam pengajian awal bulan, Ahad, (4/01) di Masjid Al-Ghazali, Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Jawa Timur.

Hasyim menjelaskan, bermula dari kata bismillah, bisa dimaknai dengan saya melakukan sesuatu atas nama siapa, atas nama nafsu atau kehendak sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

“Atas nama Allah swt adalah niat yang paling tinggi,” tuturnya.?

Hasyim melanjutkan, jika amal keduniaan diniati dengan kebaikan, maka amal itu akan menjadi amal akhirat. Sebaliknya kata Kiai Hasyim, jika diniati dengan salah, amal akhirat bisa menjadi amal dunia.?

“Istigotsah kalau tujuannya untuk sukses pilkada ya kurang (berkualitas),” ucap pengasuh Pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang dan Depok itu.?

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kalimat bismillah ini Hasyim juga menjelaskan makna rahman dan rahim. Rahman, kata Sekjen ICIS ini, adalah kasih sayang Allah untuk semua makhluk, baik itu manusia, jin, hewan, malaikat, dan seterusnya. “Bahkan setan juga diberi Rahman Allah,” katanya.

Rahman Allah, tambahnya, harus disandingkan dengan sifat rahim. Rahim Allah, lanjut Hasyim, adalah kasih sayang Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang muslim.?

“Kuncinya surga adalah tauhid kepada Allah, maka orang kafir yang melakukan kebaikan hanya akan dibalas di dunia, sedangkan muslim yang shalih akan dibalas sampai di akhirat,” papar Ketua Umum PBNU periode 1999-2010 ini.

Di akhir tausiahnya Hasyim menjelaskan, di tengah zaman yang sulit, dimana kebathilan dianggap benar dan kebenaran dianggap bathil, maka menurut dia, kuncinya kembali kepada Al-Quran dan shalawat Nabi.?

“Makanya jamaah khataman diperbanyak, masyarakat digerakan bershalawat,” pesan Hasyim. (Sabiq Al-Aulia Zulfa/Fathoni) ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam akan merevitalisasi keberadaan Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus atau yang selama ini dikenal sebagai MAN PK. Kepastian revitaslisasi MAN PK ini diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan di Jakarta, Rabu (24/02).

“MAN PK-MAN PK yang ada akan kita revitalisasi,” tegas M. Nur Kholis Setiawan sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi

Ditegaskan pria yang juga tercatat sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, Program revitalisasi ini merupakan implementasi dari kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 60 Tahun 2015 tentang perubahan atas PMA Nomor 90 Tahun 2013. Dalam perubahan tersebut, ditetapkan tentang penganekaragaman madrasah menjadi tiga tipologi, yaitu: akademik, keterampilan/kejuruan, dan keagamaan.

“Revitalisasi ini menjadi upaya dan kontribusi Kemenag dalam mengatasi langkanya kader ulama. Ditpenma mengambil peran aktif dalam menyiapkan kader ulama sejak jenjang pendidikan menengah,” tambahnya.

Pada akhir tahun 1987, Menteri Agama Munawir Sjadzali memprakarsai proyek penyelenggaraan Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK). Madrasah Aliyah ini didesain dengan kurikulum keagamaan yang padat serta penekanan pada penguasaan Bahasa ? Arab dan Inggris. Dibuka pertama kali pada lima daerah, yaitu: Ujung Pandang, Jember, Yogyakarta, Ciamis, dan Padang Panjang, MAPK dinilai berhasil menyiapkan lulusan yang berwawasan ke-Islaman, ke-Indonesiaan, dan kemodernan yang baik.

Ribath Nurul Hidayah

Kehadiran MAPK disambut masyarakat hingga keluar Keputusan Menteri Agama (KMA) No 371 tahun 1993 yang mengubah MAPK menjadi Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Dengan KMA ini, Kanwil Kementerian Agama (Depag waktu itu) diperbolehkan membuka MAK sesuai kebutuhan, tidak hanya negeri tetapi juga swasta.

Jumlah MAK pun semakin banyak. Sayang, peningkatan kuantitas ini tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sehingga minat masyarakat juga berkurang. Munculnya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga tidak mengatur secara jelas tentang apa, bagaimana, dan di mana status hukum dan legalitas MAK. Ditjen Pendidikan Islam mengeluarkan surat edaran yang mengatur bahwa mulai tahun 2007 MAK tidak lagi diizinkan menerima siswa baru.

Namun demikian, menurut M Nur Kholis mengatakan bahwa proses revitalisasinya bukan berarti mengembalikan MAN PK di era awal. Proses revitalisasi dilakukan menyesuaikan dengan peraturan perundangan yang ada. Modelnya tidak akan sama persis dengan MAN PK di tahun 87-an atau 90-an.

Ribath Nurul Hidayah

“Bentuk revitalisasinya adalah melalui penguatan kurikulum asramanya. Aspek tafaqquh fiddinnya ada di asrama. Jadi hampir mirip dengan pesantren,” terang M. Nur Kholis Setiawan.

“Jadi misalnya di Madrasah Aliyah peminatan keagamaan ada mapel Tafsir, maka pendalaman mapel Tafsir itu dilakukan di asrama dengan, misalnya tambahan kajian terhadap kitab-kitab Tafsir. Begitu juga dengan Fikih-Usul Fikih dan Hadis-Ilmu Hadis,” tambahnya.

Revitalisasi MAN PK tahun ini menurut M Nur Kholis akan dilaksanakan di 10 madrasah, antara lain di Jember, Jombang, Surakarta, Jogjakarta, Ciamis, dan Padang Panjang. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Cerita, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 03 Juli 2017

57 Tahun Intelektualisme PMII

Oleh Ferhadz Ammar Muhammad



Penyegaran dan “modernisasi” NU tidak lepas dari keberhasilan PMII. Kader-kader PMII menyebar hampir ke semua lini NU se-Nusantara. Ketaatan kultural terhadap ulama yang membangun jam’iyah NU tidak berubah, tetapi lebih kritis mengembangkan pemikiran-pemikiran keagamaan yang sejalan dengan dinamika zaman. (M. Said Budairy – salah seorang deklarator PMII)



57 Tahun Intelektualisme PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
57 Tahun Intelektualisme PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

57 Tahun Intelektualisme PMII

Lima puluh tujuh tahun yang lalu, beberapa aktivis NU yang tersebar di berbagai kampus sibuk mondar-mandir melakukan konsolidasi besar-besaran. Mereka mendesak pimpinan PBNU–waktu itu KH. Idham Chalid–agar secepatnya membentuk organisasi mahasiswa NU. Alotnya perdebatan antara PBNU dengan mahasiswa NU mengindikasikan adanya dua pemikiran yang bersinggungan, yakni Idham Chalid dengan karakter politisnya dan aktivis NU dengan populisnya–seperti yang terjadi di tahun-tahun setelahnya dalam catatan Fealy, dkk (Yogyakarta: LKiS, 2010).

Ribath Nurul Hidayah

Di satu sisi, ghirrah untuk membuat wadah yang memperteguh sekaligus memperkuat ideologi gerakan mahasiswa Ahlussunnah wal Jama’ah (aswaja) an-Nahdliyah di tengah pembasisan kultur dan sosial dirasa urgen untuk mereka segerakan-seperti yang sebelumnya dilakukan oleh partai dan golongan Islam lain untuk membuat organisasi mahasiswa underbow-nya, seperti Masyumi-HMI, Muhammadiyah-IMM, PSII-SEMII, Perti-KMI, dll (Modul Ashram Bangsa, 2014). Namun di sisi lain, Idham Chalid masih mempertimbangkan (ihtiyath) efektifitas organisasi, mengingat keberadaan IPNU yang masih menjadi rujukan kaum pelajar NU.

Setelah berbulan-bulan melakukan lobi, akhirnya restu dari PBNU telah berhasil dikantongi lewat hasil Konferensi Besar IPNU bulan Maret 1960. Sebulan setelah keputusan itu, 13 orang yang dipilih untuk menjadi punggawa konsolidasi lanjut segera mengumpulkan semua aktivis-mahasiswa NU di Surabaya. Walhasil, lahirlah dengan sempurna perkumpulan yang mendasarkan diri pada tugas dan tanggung jawab mahasiswa Islam atas nama PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Ribath Nurul Hidayah

Dalam perjalanannya, PMII sudah menghadapi pasang-surut gerakan, mulai dari tuduhan kacung NU (saat itu menjadi Partai NU), kacang lupa kulitnya (saat PMII memutuskan hubungan struktural dari NU), penegasan interdependensi PMII dengan NU, sampai yang terbaru adalah tuntutan PMII agar menjadi Banom NU. Dari semua pergulatan PMII itu– terutama yang ditulis oleh Otong Abdurrahman (Jakarta: PB.PMII, 2005)–, penulis menaruh fokus refleksi dan minat kajian pada aspek PMII sebagai produsen arah gerakan intelektual.

Tradisi Berpikir

Penulis dalam hal intelektualisme PMII tidak akan melepaskan dari akar tradisi berpikir NU, mengingat PMII masih menerapkan intellectual chains–meminjam bahasa Zamakhsyari Dhofier–yakni tali pengikat keluhuran berpikir yang merujuk pada tokoh-tokoh Islam Aswaja an-Nahdliyah. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh pemikir NU, santri atau kaum terpelajar Islam jebolan pesantren akan dipandang berilmu jika menerapkan tiga prinsip, yakni lelana belajar, hormat pada ahli ilmu, dan mengaplikasikan ilmunya di masyarakat sesuai konteks kebutuhan–konklusi dari paparan Ben Anderson (1988). Mengingat NU sangat memegang erat kaidah gerakan “mempertahankan tradisi baik dan mengambil suatu hal baru yang dipandang baik bagi masyarakat”, makaidentifikasi demikian membawa implikasi kepada platform aktivis NU sampai detik ini selakupemikir yang tidak melepaskan diri dari teks klasik, lokalitas masyarakat, dan kemajuan zaman.

Sebagai medium memahami PMII sebagai basis gerakan intelektual bisa dilihat dari tulisan ciamik Mahbub Junaedi di bawah ini:

Ada satu sebutan yang dijauhi rektor seperti penduduk kampung menjauhi muntaber: politikus. Tak ada itu politik-politikan karena yang tersedia cuma ilmiah-ilmiahan. Jika politik itu jalan besar, universitas akan bikin jembatan penyeberangan melintasi kepalanya. Kaum kampus berpikir ilmiah, kaum politik berpikir entah cara apa, itu pun kalau boleh disebut berpikir. Pencemaran harus dicegah mulai dini, karena itu sebaiknya kampus hanya diberi air susu Ibu. (Mahbub Junaedi, 1982)

Kelakar Mahbub tentang kondisi kampus dengan dunia luar mengingatkan penulis pada pendapat luhur KH. A. Wahid Hasyim yang menyatakan, bahwa kemunduran berpikir Indonesia disebabkan orang lebih mengapresiasi pejabat partai daripada terpelajar kita, di samping juga banyaknya terpelajar yang terlepas dari nalar common (mudahnya: bermasyarakat).

Di tahun yang sama, Mahbub memberikan suatu prinsip berpikir PMII yang penting untuk direfleksikan. Dengan memberikan gambaran tauladan dari Kiai As’ad Situbondo, Mahbub menegaskan bahwa berpikirnya kaum santri adalah berpikir tentang pertanggungjawaban sebagai makhluk lintas generasi. Kiai As’ad ingin mempertebal i’tikad para santri dengan mematahkan-secara otomatis-berbagai wacana sosiolog manca negara yang memposisikan santri sebatas grudak-gruduk desa. Pertanyaan eksplisitnya, bagaimana bisa dikatakan ’sebatas’, padahal terbukti langkah persuasif kiai kampung telah membuat NU menjadi organisasi yang memiliki cabang terbanyak di Indonesia (sejak KH. A. Wahid Hasyim memaparkan data itu di tahun 1938)?.

Dalam konteks PMII, Mahbub—sebagaimana Wahid Hasyim—tidaklah menafikan keharusan intelektual Islam untuk merespon berbagai kondisi masyarakat, baik aspek sosial-kultur maupun ekonomi-politik. Bahkan dengan tanpa menerjunkan diri pada kondisi masyarakat, intelektual Islam akan cenderung apatis dan sok netral padahal sedang berdiri di depan masyarakat yang terkapar. Meski demikian, hal yang perlu dicatat adalah seringkali terjunnya PMII di ranah itu membuat ia terperangkap dalam nalar pragmatis-praktis atau malah romantis merasa sudah aktivis. Keinginan merespon keadaan tidak dibarengi dengan konsistensi pada nilai dasar pergerakan yang menekankan proses–oleh karenanya dilarang berpuas diri–dan totalitas–oleh karenanya dimohon tidak mengharapkan ‘profit’.

Oleh karena spirit intelektualisme PMII menerapkan pola pikir ‘kritis-akomodatif’ (sebagaimana model bahtsul masail) terhadap tradisi luhur dan kebaruan yang diperlukan plus tidak arogan untuk melakukan gerakan perubahan sosial, maka penulis memandang bahwa intelektualisme di PMII layak ditempatkan sebagai prototype yang berguna sekaligus mengoreksi–kalau tidak ingin disebut membantah–intelektual dalam teori Gramscian.Menurut Gramsci ada dua macam intelektual, pertama, intelektual tradisional, yakni kaum pemikir yang segala aktivitas pengetahuannya hanya berkutat pada persoalan teori, dan sering kali mengabdikan teori tersebut untuk mempertahankan status quo dengan para pemegang kekuasaan. Kedua, intelektual organik, yakni para pemikir yang mampu membuat konvergensi antara teori dan realita sosial untuk kemudian dijadikan sebagai analisa utama dalam relasinya dengan struktur dan perubahan sosial.

Kategorisasi Gramsci terbilang ambigu jika PMII harus masuk ke dalam salah satunya. Bagaimana bisa dimasukkan di intelektual tradisional, sedang PMII meski mempertahankan tradisi namun tidak pernah monopoli keilmuan dan memuja status quo–harusnya demikian, entah aktornya? Bagaimana mungkin masuk di intelektual organik jika makna organik dihadapkan secara biner (plus dikotomik) dengan tradisional, padahal PMII insaf untuk merangkul ke-tradisional-an yang luhur?.

Akhirnya di harlah ke-57 PMII ini, sebagai sebuah organisasi yang telah merentang berbagai zaman, seyogyanya jujur diakui bahwa hal ikhwal yang dicita-citakan seringkali macet saat berhadapan dengan dunia yang sebenarnya terjadi. Bahwa kemandekan gerakan PMII telah mengindikasikan banyaknya persoalan di Internal yang mustilah diperbaiki secara simultan oleh seluruh keluarga besar. Pertanyaannya, keluarga PMII akan memperbaiki yang mana dan dengan cara apa?

Penulis adalah aktivis PMII Daerah Istimewa Yogyakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 01 Juli 2017

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera

Padang Pariaman, Ribath Nurul Hidayah. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih di halaman rumah, perkantoran dan gedung lainnya dalam peringatan HUT Kemerdekaan ke-72 tahun 2017 membuat pejuang kemerdekaan RI prihatin. Kami berjuang mengusir bangsa penjajah Belanda dengan tetesan darah berwarna merah. Ribuan pejuang bercucuran darah hingga tewas akibat serangan tentara Belanda.

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera

Demikian diungkapkan salah seorang pejuang Kemerdekaan RI 1945 di Kabupaten Padang Pariaman, Labai Burhan, Jumat (18/8) di kediamannya kepada Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana yang mengunjunginya dalam suasana peringatan HUT RI ke-72.?

Burhan yang ditemani isterinya, Rabaani, kini tinggal di Korong Badinah, Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Menurut Burhan, betapa sedihnya menyaksikan generasi sekarang yang seakan tidak menghargai apa yang sudah dilakukan para pejuang kemerdekaan terdahulu. Mereka harus berhadapan dengan bedil, senjata mortir dan tank tentara Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali.?

Ribath Nurul Hidayah

"Nyawa mereka dipertaruhkan. Tapi hari ini dengan memasang bendera merah putih sebagai simbol ? bangsa Indonesia di hari peringatan kemerdekaan tersebut, terlihat banyak yang tidak memasang. Hendaknya ini perlu menjadi perhatian para pemimpin di masyarakat," kata Burhan.

Burhan juga menceritakan perjuangannya pada perang kemerdekaan. Suatu hari Komandan Pleton Abdulllah PO di Pakandangan menyuruhkannya menjeput peluru ke Sicincin. Dengan seorang teman, berangkat ke Sicincin. Dalam perjalanan bertemu dengan 12 orang pasukan Belanda.?

“Kami sangat kuatir jika tentara Belanda menghunuskan senapan, pasti tewas. Agar tidak menarik perhatian tentara, tetap berjalan tanpa menunjukkan akan melakukan perlawanan. Nasib baik, tentara Belanda tidak melakukan penempakan," kata Burhan yang kini sudah berumur 100 tahun. Karena alasan naik haji tahun 2007, tahun kelahirannya terpaksa ? dimajukan menjadi 15 April 1929 di KTP.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Burhan, meski turut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan RI, dirinya tidak pernah menerima pensiun sebagai veteran. Dulu memang ada yang mau mengurusnya. Namun hingga kini tidak ada hasilnya. Sedangkan teman-teman dan anggota sesama pejuang di pleton 142 sudah lama wafat.?

"Komandan Pleton Datuak Borong dan Wakilnya Buyung Gili, keduanya dari nagari Lubuk Pandan. Bahkan ada pula yang mau mengurus status veterannya, tapi dimintai sejumlah emas sebagai imbalannya. Akhirnya hingga kini tak jelas," kata Burhan yang memiliki 4 isteri dan 18 orang anak. Meski memiliki empat isteri, tapi tidak pernah isterinya di madu.

Sementara itu, ? Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana mengakui, rendahnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih menunjukan rendahnya pemahaman nilai-nilai nasionalisme dan perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Generasi muda semakin tidak akrab dengan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan.

"Apalagi derasnya arus melalui media sosial, televisi dan media internet yang tidak sebanding dengan penyebaran nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut. Sinetron atau tayangan di televisi yang banyak digandrung masyarakat, terlihat lebih ? banyak tidak menumbuhkan nilai-nilai semangat nasionalisme dan kebangsaan tersebut," kata Zeki yang didampingi Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser Padang Pariaman Muhammad Zulfadli.

Menurut Zeki, harus ditanamkan sejak dini nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan kepada anak-anak bangsa. Sekolah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut, kata Zeki yang juga ? mantan Sekretaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman ini. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Halaman rumah yang menyambung dengan pelataran sebuah masjid yang diberi nama Al-Jadid sudah tampak penuh sesak oleh ribuan orang yang mulai berdatangan seusai Salat Tarawih. Malam tersebut merupakan malam peringatan 100 hari meninggalnya  Buya KH Ja’far Aqiel Siroj, pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Rabu (16/7).

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung

Setelah tamu undangan dari beberapa pesantren di Cirebon telah hadir ke atas serambi rumah yang diposisikan sebagai panggung sederhana, acara pertama langsung dibuka dengan pembacaan tahlil oleh KH Niamillah Aqil, adik bungsu mendiang Buya Ja’far. Setelah itu, sambutan keluarga disampaikan oleh KH Mustofa Aqil,  sekaligus mengutarakan prakata atas nama pengasuh Pesantren Kempek Cirebon pasca meninggalnya Buya Ja’far.

Dalam sambutannya, Kiai Mustofa memohon doa dari para santri dan tamu undangan agar Pesantren Kempek dapat terus berada di garis perjuangan yang secara istiqamah dicontohkan oleh almarhum.

Ribath Nurul Hidayah

“Mudah-mudahan para penerus pesantren ini mampu merawat dan mengingat-ingat kembali tujuan didirikannya pesantren ini. Bukan hanya enak-enak merasakan manfaat dari peninggalan dan perjuangan Buya Ja’far,” ungkap Kiai Mustofa.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, melalui acara ini juga Kiai Mustofa meminta kepada santri dan masyarakat agar berkenan untuk mendoakan kedamaian dan ketentraman bangsa usai pemilihan presiden pekan lalu.

“Doa para santri, orang-orang NU, kiai dan pesantren akan menjadi sangat penting di tengah hiruk-pikuk dan panasnya suhu perpolitikan Indonesia sekarang ini,” ungkap Kiai yang juga Katib Syuriah PBNU ini.

Dari jajaran tamu undangan, tampak perwakilan tokoh sepuh dari Pesantren Babakan, Gedongan, Buntet, Arjawinangun, Tegalgubug dan beberapa pesantren lain di Cirebon. Acara peringatan seratus hari ini ditutup dengan taushiyah dan doa dari KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU. (Sobih Adnan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta Ribath Nurul Hidayah