Kamis, 13 April 2017

MUI Lampung Komit Gencar Kampanye Antiekstremisme

Bandarlampung, Ribath Nurul Hidayah

Ditemui di kediamannya, Ahad (10/7), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung KH Khaerudin Tahmid mengatakan bahwa MUI Provinsi Lampung bertekad dengan berkiprah untuk mengemban misi menebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Salah satu langkah yang ditempuh oleh MUI Provinsi Lampung adalah penguatan gagasan melalui berbagai tulisan serta pemberitaan di berbagai media yang di dalamnya mengajak kepada seluruh umat Islam untuk menjunjung tinggi perdamaian.

MUI Lampung Komit Gencar Kampanye Antiekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Lampung Komit Gencar Kampanye Antiekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Lampung Komit Gencar Kampanye Antiekstremisme

"Melalui Komisi Dakwah kita akan perkuat sosialisasi kepada masyarakat melalui buletin atau sejenisnya yang di dalamnya memuat gagasan atau pemikiran untuk menolak radikalisme dan ekstremisme," kata Kiai Khairuddin yang juga seorang doktor dan dosen Pascasarjana IAIN Raden Intan Bandarlampung ini.

Ribath Nurul Hidayah

Kampanye antiradikalisme dengan menebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin juga akan digaungkan oleh Komisi Infokom MUI Lampung melalui jalur dunia maya dengan media online berupa website yang sudah dimiliki oleh MUI Lampung.

"Melalui mui-lampung.or.id, MUI Lampung akan gencar memberikan pemahaman kepada seluruh dunia dan umat Islam di Lampung bahwa Islam adalah agama damai dan cinta perdamaian," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk mewujudkan hal ini dengan segera, ia mengatakan bahwa dalam waktu dekat, seluruh komisi yang ada di MUI Lampung akan merapatkan barisan guna menyusun strategi dan desain terbaik sehingga pesan-pesan ini akan sampai kepada masyarakat dengan efektif.

"Dalam waktu dekat, berbarengan dengan Pelantikan Kepengurusan Baru Periode 2016-2021, seluruh Pengurus Harian dan Komisi MUI Lampung akan berkumpul dan mendapatkan orientasi tentang beberapa program yang harus segera ditindak lanjuti," kata Kiai yang juga Mustasyar PWNU Provinsi Lampung ini.

Menurutnya, dengan kesamaan visi kedepan dalam kiprah di MUI ini, mudah-mudahan seluruh pengurus MUI Provinsi Lampung akan benar-benar menjadi pioner terwujudnya Islam rahmatan lil alamin khususnya di Bumi Ruwai Jurai ini. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 10 April 2017

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan

Way Kanan, Ribath Nurul Hidayah - Tanggal 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia (World Water Day). Bertempat di Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Way Kanan Lampung, GP Ansor mengajak sejumlah organisasi kepemudaan menyaksikan film dokumenter Samin vs Semen karya Dhandy Dwi Laksono dan Suparta AZ (Ucok Patra).

"Terima kasih kepada Ansor yang mengajak kita nonton film sambil bincang-bincang santai. Kita berharap dengan adanya pemutaran film ini, kita bisa mengajak orang-orang terdekat kita untuk tidak menyia-siakan air, bagaimana berwudhu dengan tidak boros air salah satunya. Perilaku kita menghargai air perlu terus dikampanyekan," kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian (Kasi Wasdal) Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Way Kanan Arif Radigusman, di Blambangan Umpu, Selasa (22/3).

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan

Film Samin vs Semen produksi Watchdoc berdurasi 39 menit 25 detik. Film ini bercerita gerakan perlawanan kelompok masyarakat di kawasan bukit kapur Rembang dan Pati atas rencana pembangunan pabrik semen guna menjaga mata air yang harus dijaga untuk kehidupan mereka.

Ribath Nurul Hidayah

"Ada tujuh sungai besar di Way Kanan, dan kualitas airnya harus kita jaga bersama. Apalagi nama Way Kanan berasal dari nama satu sungai yang ada. Kalau sungai kotor, tercemar, jelas ada pengingkaran," ujar Arif lagi.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Munawar melanjutkan, air saat kemarau di Way Kanan sangat dibutuhkan. "Survei kami harga air bersih 1.000 liter kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Kondisi semacam ini juga menjadi persoalan karena itu perlu ada solusi bersama. Apalagi sejumlah sungai kualitasnya sudah tidak memadai untuk kebutuhan rumah tangga seperti dipaparkan pihak KLH," tuturnya.

Misat, warga Kelurahan Blambangan Umpu menyatakan, beberapa tahun terakhir ini masyarakat sudah tidak bisa mandi di sungai Way Umpu. Kondisi tersebut berbeda dengan tahun 1980.

Ribath Nurul Hidayah

"Dulu saat kemarau, warga bisa mandi di sungai Way Umpu, sekarang tidak ada lagi yang mau. Air sungai Way Umpu yang tadinya bisa digunakan masyarakat melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sekarang tidak bisa lagi. Jika warga harus membeli 1.000 liter air sungai Way Umpu Rp10 ribu pun saat kemarau, tentu tidak akan mau," kata Misat lagi.

Sungai Way Umpu menurut KLH sudah tercemar, dari kualitas satu menjadi kualitas tiga, yang artinya dari layak konsumsi menjadi tidak lagi layak konsumsi akibat adanya pencemaran diakibatkan penambangan emas ilegal.

"Kita telah menyaksikan bersama film tadi, bagaimana masyarakat Samin berupaya mati-matian menjaga mata air yang bermanfaat bagi pertanian, bagi kehidupan, bagi masa depan. Pernyataan sahabat-sahabat tadi menegaskan jika kualitas air yang baik sangat dibutuhkan bagi keberlangsungan hidup hari ini dan esok. Siapa yang bertanggung jawab? Tentu bukan hanya Ansor, bukan KLH, bukan Pemuda Muhammadiyah, tapi tanggung jawab bersama untuk menjaganya," ujar Ketua GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto yang menjadi moderator diskusi santai tersebut. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 April 2017

Bagi-Bagi Buku, Komunitas Sajubu Dongkrak Minat Baca

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Komunitas 1 Juta Buku untuk Anak-Anak Indonesia (Sajubu) Jakarta, menyebarkan bacaan bermutu di Hotel Pandanaran, Semarang (17/2). Dengan buku-buku berbobot, Sajubu Jakarta bersama lembaga Sciena Madani Semarang mencoba mewarnai perpustakaan, taman baca dan komunitas buku.

Faisaldy Pratama dari Sajubu Jakarta mengatakan, melalui komunitas ini pihak Sajubu ingin berpartisipasi menyebarkan virus gerakan gemar membaca.

Bagi-Bagi Buku, Komunitas Sajubu Dongkrak Minat Baca (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi-Bagi Buku, Komunitas Sajubu Dongkrak Minat Baca (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi-Bagi Buku, Komunitas Sajubu Dongkrak Minat Baca

“Melalui tebar buku, kami hanya bisa berharap setiap aktivitas di manapun tempatnya baik di perpustakaan, taman baca, maupun tempat-tempat umum dijumpai banyak orang yang asyik menikmati buku bacaan,” lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Lukni Maulana dari Sciena Madani menyatakan pihaknya kecewa dengan sistem pendidikan. Pasalnya, minat baca masyarakat masih lemah oleh sebab sistem pembelajaran tidak menanamkan membaca sebagai bentuk kebutuhan.

Lukni menyayangkan anak-anak lebih suka bermain di dunia maya dan tempat hiburan, baik melalui TV, mall maupun fasilitas permainan gatget di rumah.

Ribath Nurul Hidayah

Seharusnya perkembangan teknologi membawa dampak pada peningkatan minat baca. Seperti program Kementerian Pendidikan yang berkeinginan mengeluarkan buku elektronik berupa E-Sabak. Namun, pemangku dunia pendidikan cenderung apatis. Masyarakat cenderung menjadi konsumen, hanya menjadi penikmat teknologi yang berkembang pada umumnya.?

“Kalau masyarakat ingin maju, membaca harus menjadi kebutuhan dan kebiasaan. Sebab, negara akan maju ketika masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi dan dilanjutkan dengan buah karya berupa tulisan dan hasil-hasil penelitian,” tuturnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Pasukan Jin dan Malaikat

Istilah tersebut yang sangat dikenal oleh kalangan pesantren dan NU. Pasukan yang siap didatangkan oleh beberapa paranormal yang berpromosi mampu mengamankan acara Rapat Akbar NU kepada Ketua Panitia almarhum Abu Hasan.

Tawaran dari paranormal itu mendorong Abu Hasan untuk menanyakan kepada Wakil Sekjen PBNU H. Ahmad Bagdja. Namun, Ahmad Bagdja tidak menolak ide tersebut, walaupun ia menyanggupi untuk mencari jalan yang lebih bagus.

Pasukan Jin dan Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasukan Jin dan Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasukan Jin dan Malaikat

Konon beberapa kiai memiliki santri yang terdiri dari para jin, bahkan di antaranya menjadi khadam (pelayan) kiai. Banyak kiai yang tidak mau berurusan dengan jin. Namun demikian, mereka mengenalnya dengan baik walau mereka belum pernah menyaksikannya.

Urusan pasukan jin yang ditawarkan oleh paranormal kemudian diserahkan kepada Ahmad Bagdja. Isu itu juga ramai diberitakan media massa. Pemerintah dan masyarakat terkejut mendengarnya. Baru pada saat itulah wacana tentang jin muncul dalam perbincangan politik di tengah publik.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Rapat Akbar rencananya bakal menghadirkan satu juta warga NU. Masyarakat terkejut mendengar rencana ini. Begitu juga aparat keamanan dan Menteri Dalam Negeri.

Polisi mengaku akan kesulitan mengamankan massa yang jumlahnya sangat besar. Sedangkan Menteri Dalam Negeri mengatakan bahwa secara teknis sulit mengatur, memberikan konsumsi, dan menyediakan toilet untuk peserta acara.

Pemerintah kemudian membujuk NU agar mengurungkan niatnya. Pemerintah tidak berani melarang secara tegas karena tujuan Rapat Akbar itu adalah doa bersama dan apel kesetiaan pada Pancasila. Dengan acara ini, NU sendiri tidak bisa lagi dituduh tidak setia atau anti-Pancasila .

Abu Hasan menyatakan bahwa Banser NU harus berkoordinasi dengan “pasukan besar” yang dipimpin Ahmad Bagdja. Di tengah rasa penasaran mengenai “pasukan besar” itu, Ahmad Bagdja hanya tersenyum. 

Namun, ia setidaknya mampu meyakinkan bahwa dengan adanya pasukan jin maka NU siap menghadapi tekanan pemerintah. Pasukan jin itu bisa menguatkan niat NU dan membuat grogi aparat yang akan mengganggu acara. Seperti halnya Ahmad Bagjda, KH Abdurrahman Wahid hanya tersenyum ketika ditanya mengenai adanya pasukan jin tersebut.

Turunnya dana pengamanan untuk pembiayaan pasukan jin justru membuat Ahmad Bagdja geli. Ia sama sekali tidak mengenal paranormal, apalagi jin.

Maka, setelah dibicarakan dengan beberapa tokoh NU, dana itu digunakan untuk melakukan doa di berbagai masjid dan surau di Jakarta. Tujuannya memohon keselamatan kepada Allah Swt. Dengan doa itu para pengurus NU yakin bahwa Allah akan menurunkan pasukan malaikat untuk melindungi mereka.

Panitia Rapat Akbar kemudian membeli ribuan tasbih dan mencetak ribuan eksemplar buku Surat Yasin dengan logo PBNU. Selama dua minggu, orang-orang di berbagai masjid dan surau melakukan doa bersama untuk kesuksesan dan keselamatan Rapat Akbar NU. 

Sejak Revolusi 1966, belum ada model mobilisasi massa yang berskala besar di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah dan aparat keamanan merasa kerepotan dengan pelaksanaan Rapat Akbar NU. 

Namun, doa bersama yang diinisiasi oleh panitia telah membuat NU semakin percaya diri. Gus Dur sendiri tidak mau mundur dari rencana tersebut. Padahal, pemerintah terus memberi tekanan untuk membatalkan acara. Para pengamat politik pun meremehkan acara tersebut dan menganggapnya sebagai show of force yang tak berarti.

Ketika Rapat Akbar NU akhirnya berlangsung di Lapangan Timur Senayan, Jakarta, pada 1 Maret 1992, banyak orang mengira acara itu dijaga pasukan jin. Sedangkan kalangan NU merasa berada di bawah lindungan Allah karena mereka selalu memanjatkan doa di sepanjang acara berlangsung. Namun demikian, Gus Dur masih kurang puas karena merasa beberapa peserta dari luar kota dihadang oleh aparat keamanan sehingga mereka tidak bisa menghadiri acara besar tersebut. (Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 06 April 2017

Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Penting Tanamkan Nilai Kebangsaan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kegiatan Pelatihan Penggerak Kader Aswaja yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta (PW Muslimat NU) di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Selasa (15/8) mendapatkan apresiasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Penting Tanamkan Nilai Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Penting Tanamkan Nilai Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Penting Tanamkan Nilai Kebangsaan

Menurut Direktur Pencegahan BNPT Hamli, kegiatan semacam ini bisa memperkuat internal NU dan Muslimat yang menjadi pilar dalam menyebarkan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, dan moderatisme.?

Kegiatan ini, lanjutnya, sangat penting, baik secara internal untuk NU dan Muslimat, maupun secara eksternal untuk bangsa Indonesia.

“(Kegiatan ini) Baik dalam ke-NU-an itu penting, dalam konteks keindonesiaan itu menjadi sangat penting,” katanya.

Hal itu, katanya, melihat situasi sekarang dengan munculnya gerakan transnasioanl dan pengaruh paham-paham radikal kepada masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh karena itu, menurutnya, peran PW Muslimat NU yang merupakan kumpulan ibu-ibu sangat penting dalam menjaga anak-anaknya yang kelak menjadi generasi penerus bangsa Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Ia melanjutkan, melalui pelatihan ini, PW Muslimat NU diharapkan dapat menyebarkan ilmu, pengetahuan dan paham ke-Aswaja-annya kepada masyarakat.

Ia berharap, kegiatan pelatihan kader penggerak Aswaja yang dislenggarakan PW Muslimat NU DKI Jakarta ini juga bisa diselenggarakan di semua daerah supaya menjadi gerakan nasional.?

Menurut ? Sekretaris PW Muslimat NU DKI Jakarta Yayah Ruchiyati, acara yang diselenggarakan selama dua hari (14-15/8) ini sedikitnya diikuti 150 orang.?

Mereka terdiri dari perwakilan PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, PWNU DKI Jakarta, PC Muslimat NU se-DKI Jakarta, IPNU, IPPNU, Fatayat, GP Ansor dan PW Muslimat NU Lampung. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 05 April 2017

GP Ansor Inisiasi Gerakan Setia Pancasila di Kabupaten Temanggung

Temanggung, Ribath Nurul Hidayah

Walau siang itu di tengah-tengah pelaksanaan Apel Kesetiaan Pancasila dan NKRI yang berlangsung di alun-alun Temanggung Jawa Tengah diguyur hujan dan berkali-kali pula petir menggelegar, tapi tidak membuat sekitar 2000 peserta apel dari berbagai Banom NU Temanggung ini goyah dari berdiri tegapnya.

GP Ansor Temanggung bersama Banser serta beberapa banom NU lainnya memperingati hari lahir Pancasila, Rabu (1/6) dengan menggelar Apel Kesetiaan Pancasila dan NKRI bertempat di alun-alun Temanggung. Apel yang dihadiri seluruh banom NU tersebut dihadiri tidak kurang dari 2000 peserta utamanya anggota Ansor-Banser aktif.

GP Ansor Inisiasi Gerakan Setia Pancasila di Kabupaten Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Inisiasi Gerakan Setia Pancasila di Kabupaten Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Inisiasi Gerakan Setia Pancasila di Kabupaten Temanggung

Sukron Wahid, Ketua GP Ansor Temanggung, menyampaikan bahwa NKRI dihadapkan oleh banyak pihak yang tidak sepakat dengan falsafah Pancasila. Dari sisi kanan dihadapkan oleh Islam radikal yang gemar mengafirkan Islam yang lain, dari sisi kiri diancam oleh Neo Komunis. Maka dari itu dia mengajak kader NU senantiasa harus siap mengawal eksistensi Pancasila di negri ini.

"Bahwa tidak ada satupun sila dalam Pancasila yang bertentangan dengan ajaran Islam, bagi kita Pancasila merupakan implementasi cara berkehidupan dalam berbangsa dan bernegara, bagi NU Pancasila adalah final,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagai bentuk formal dukungan, Ansor Temanggung menggelar dukungan dengan membubuhkan tanda tangan pernyataan kesetiaan Pancasila dan NKRI. Selain dari seluruh peserta apel, bubuhan tanda tangan juga dilakukan oleh FKPD (Forum Komunikasi Pemerintah Daerah) Kabupaten Temanggung beserta Bupati turut pula menggalang dukungan.

Bupati Temanggung, Bambang Soekarno, mengimbau kepada Ansor-Banser untuk menjadi garda terdepan menjaga eksistensi Pancasila. Bupati Bambang juga menambahkan untuk senantiasa merapatkan barisan bersama seluruh stakeholder Pemerintah Daerah untuk menjaga turut keamanan dan ketentraman wilayah Temanggung dari berbagai ancaman.

Sementara komandan kodim 0706 Temanggung, Letkol Kav Zubaedi menyatakan bahwa Barisan Ansor Serbaguna harus senantiasa bisa bekerja sama dengan pihak berwajib dalam memberantas penyakit masyarakat. Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan Islam sebagaimana dijelaskan dalam deklarasi hubungan pancasila dan Islam dari hasil munas Alim ulama Nahdlotul ulama tahun 1983 di Situbondo. (M. Haromain/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 03 April 2017

Ziarah Kubur, PP IPPNU Lunasi Janji

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dengan berziarah pada dua kubur, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama menepati janji untuk berziarah kubur dan istighotsah dalam memperingati hari lahir ke-58 IPPNU, Jumat (1/3) malam.

Jajaran pengurus PP IPPNU pada Jumat malam mengunjungi kubur Luar Batang kel. Penjaringan, kec. Kota, Jakarta Utara dan kubur Pengeran Jayakarta, kel. Jatinegara Kaum, kec. Pulogadung, Jakarta Timur.

Ziarah Kubur, PP IPPNU Lunasi Janji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarah Kubur, PP IPPNU Lunasi Janji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarah Kubur, PP IPPNU Lunasi Janji

Demikian dikatakan oleh Sekretaris VIII PP IPPNU Riend Zumaroh kepada Ribath Nurul Hidayah per telepon, Ahad (3/3) siang. PP IPPNU memilih kubur keduanya sebagai penanda penting bagi sejarah Jakarta dan pengembangan Islam di Jakarta.

“Dalam ziarah pada dua kubur itu, kita pengurus PP IPPNU seperti lazimnya ziarah membacakan surah Yasin, rangkaian zikir, dan tahlil. Kita juga menyertakan nama pendiri IPPNU alm. Umroh Mahfudzoh dalam doa kami,” kata Riend Zumaroh.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Riend Zumaroh, ziarah kubur dan tahlil dilakukan oleh PP IPPNU dalam rangka menepati instruksinya beberapa hari lalu kepada jajaran pengurus IPPNU mulai dari tingkat ranting hingga pimpinan pusat untuk melakukan tahlilan dan istighotsah.

Hari lahir IPPNU tidak mesti diperingati dengan gegap gempita dan upacara-upacara tertentu. Hari lahir IPPNU perlu juga diperingati dengan acara ziarah kubur, zikir, doa, selawatan, dan kirim surah Al-Fatihah untuk para pendahulu IPPNU, tambah Riend.

Kalau di jajaran PP IPPNU sudah mematuhi instruksi yang ditujukan termasuk kepada dirinya, maka kita juga menunggu pengurus IPPNU baik di tingkat wilayah, cabang, anak cabang, ranting, juga komisariat untuk melakukan zikir, doa, tahlil, dan istighotsah, tegas Riend. 

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Sejarah, Warta Ribath Nurul Hidayah