Minggu, 16 Oktober 2016

Pimpin GP Ansor Purworejo, Haikal Minta Dukungan Semua Pihak

Purworejo, Ribath Nurul Hidayah. Forum konferensi GP Ansor Purworejo di pesantren Al-Anwar Maron, Ahad (21/12), mengamanahkan H Muhammad Haikal untuk menggerakkan pemuda NU ini untuk masa bakti 2014-2018. Kepada peserta forum dan banom NU lainnya, Haikal meminta kerja sama dalam mengimplementasikan program NU.

"Tentu ini merupakan amanah yang tidak ringan mengingat tantangan organisasi ke depan yang semakin berat. Untuk itu organisasi ini tidak akan berjalan tanpa dukungan dari segenap elemen badan otonom NU serta kader Ansor khususnya," kata Haikal.

Pimpin GP Ansor Purworejo, Haikal Minta Dukungan Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpin GP Ansor Purworejo, Haikal Minta Dukungan Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpin GP Ansor Purworejo, Haikal Minta Dukungan Semua Pihak

Sebelumnya, forum ini mendiskusikan tantangan implementasi ajaran Aswaja di era global.?

Ribath Nurul Hidayah

"Sekarang kelompok-kelompok ekstrem tumbuh subur. Untuk mengantisipasi itu, tentu semua kader NU, terutama kaum muda yang tergabung dalam wadah Ansor harus paham dan mengimplementasikan dalam kegiatan dakwah," kata pengasuh pesantren API Tegalrejo KH Yusuf Chudhori yang hadir sebagai narasumber diskusi.

Pria yang lazim disapa Gus Yusuf juga mengingatkan bahaya dari gerakan-gerakan yang mengancam keutuhan NKRI. Menurutnya, Ansor memiliki tanggung jawab sekaligus mempunya peran strategis dalam ikut menjaga keutuhan NKRI.

Ribath Nurul Hidayah

Hal senada diungkapkan narasumber lainnya, Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Tsaquf. Menurut Gus Yahya, NU dilihat dari sejarah lahirnya pada 1926 ikut membidani lahirnya NKRI yang diproklamasikan pada 1945. Karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi NU untuk berjuang mempertahankan NKRI dari potensi dan ancaman yang bisa mengganggu keutuhannya.

"Saya harap para kader Ansor mulai memahami konstelasi perang ideologi di era global. Dengan pemahaman itu, upaya antisipasi terhadap ancaman ajaran Aswaja bisa dideteksi sedini mungkin. Mari kita berikan pemahaman Aswaja terhadap generasi-generasi penerus kita," ajaknya. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 Oktober 2016

Pimpin PMII Pariaman, Jupmaidi Ilham Fokus Perkuat Aswaja

Pariaman, Ribath Nurul Hidayah. Konferensi Cabang (Konfercab) ke-5 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman? berhasil memilih Jupmaidi Ilham menjadi ketua periode 2014-2015. Ia meraih suara 8, menang tipis dari Zalkhairi yang meraih 7 suara.

Pemilihan dipandu Ilham Sikumbang berlangsung Selasa (9/12) sore di salah satu surau di Pauhkamba, Padangpariaman. Menurut Ilham, proses pemilihan sempat tertunda yang semula bakal berlangsung, Senin (8/12/2014).

Pimpin PMII Pariaman, Jupmaidi Ilham Fokus Perkuat Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpin PMII Pariaman, Jupmaidi Ilham Fokus Perkuat Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpin PMII Pariaman, Jupmaidi Ilham Fokus Perkuat Aswaja

?

Dengan terpilihnya Jupmaidi Ilham, langsung ditunjuk tim formatur yang akan melengkapi susunan kepengurusan PC PMII Kota Pariaman. Masing-masing terdiri Jupmaidi Ilham (ketua terpilih), Satria Effendi (Ketum demisioner), Zalkhairi, Masrizal, Jefrizal, Afnita Yeni dan Iqbal.

?

Ribath Nurul Hidayah

Jupmaidi Ilham yang dihubungi, Rabu (10/12), mengatakan, program PMII Kota Pariaman ke depan lebih fokus terhadap penguatan dan peningkatan nilai-nilai faham Ahlussunnah waljamaah (aswaja) di kalangan kader PMII dan mahasiswa.

Ribath Nurul Hidayah

"Kita semakin prihatin jika banyak kader PMII yang kurang memahami nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan. Apalagi jika melihat kenyataan sekarang banyaknya berkembang faham-faham yang menyerang paham Aswaja yang sudah tumbuh dan berkembang sejak lama di masyarakat kita," kata Jupmaidi yang sebelumnya menjabat Sekretaris PMII Pariaman.

?

Ia menambahkan, banyak kalangan mahasiswa menjauhi tradisi yang tumbuh di masyarakatnya. Karena mereka kurang memahami tradisi tersebut sesungguhnya. Apalagi tradisi tersebut semakin jarang dilakukan, sehingga mereka menganggapnya salah.

Padahal, kata dia, tradisi tersebut memiliki nilai-nilai kebaikan dan memperkuat silaturrahmi," kata Jupmaidi mahasiswa semester VII STIT Syekh Burhanudin yang juga sekretaris umum senat mahasiswa ini.

?

Jupmaidi juga bertekad meningkatkan kualiatas kader PMII dengan memperbanyak follow up Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) dan Pelatihan Kader Dasar (PKD). Dengan follow up kader akan memiliki wawasan lebih luas.

"Selain itu, koordinasi dan konsultasi dengan sejumlah SKPD di Kota Pariaman juga menjadi agenda rutin. Hal ini dimaksudkan agar kader PMII juga memiliki pemahaman terhadap proses pembangunan di Kota Pariaman ini," kata Jupmaidi.

?

Intinya, kata Jupmaidi, kita fokus penguatan kualitas kader dari berbagai aspek. Sehingga mereka tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri dan oganisasi, tapi juga bermanfaat bagi masyarakat dimana mereka bermukim. (armaidi tanjung/abdullah alawi)

Keterangan Foto:

Jupmaidi Ilham saat menyampaikan visi misi jelang pemilihan Ketum PC PMII Pariaman, Selasa (9/12).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 07 Oktober 2016

Mantan Teroris Cerita Aksi Teror dan Pengalihan Isu

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Mantan anggota jaringan teroris Ali Fauzi Manzi menegaskan bahwa aksi-aksi teror itu bukan pengalihan isu. Teroris di Indonesia benar-benar riil.

Demikian disampaikan Ali Fauzi pada pendidikan singkat Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media di Menteng yang diinisiasi Aliansi Indonesia Damai (Aida) dan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), Jakarta Pusat, Rabu (25/5) malam.

Mantan Teroris Cerita Aksi Teror dan Pengalihan Isu (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Teroris Cerita Aksi Teror dan Pengalihan Isu (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantan Teroris Cerita Aksi Teror dan Pengalihan Isu

Ali mengatakan, berita yang berkualitas harus memenuhi syarat obyektivitas. Sayangnya, banyak pernyataan dimunculkan setelah terjadinya aksi terorisme yang mengatakan ketidakmungkinan serangan teror dilakukan oleh teroris.

Ribath Nurul Hidayah

Misalnya ada seorang tokoh Indonesia setelah kejadian Bom Bali yang berpendapat bahwa seorang santri yang sederhana tidak mungkin dapat membuat bom seperti Bom Bali.

Ribath Nurul Hidayah

Tokoh tersebut mendasarkan alasannya bahwa ia sudah bertanya kepada teman-teman doktor fisika dan meyakini bom sebesar itu harus dibuat di laboratorium negara.

Pria yang memiliki keterlibatan yang cukup dalam jaringan terorisme sejak 1994 dan bertobat tahun 2006 menyebutkan kisah pertobatannya terjadi bukan dengan serta merta. Ali mengatakan, “sungai kehidupan” yang membawanya kepada keadaan seperti saat ini. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Daerah, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 01 Oktober 2016

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur secara khusus mengajak Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama atau PW LTNNU untuk mengawasi mutu siaran televis dan radio. Hal tersebut penting untuk meningkatkan mutu siaran dan sebagai kontrol masyarakat.

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)
KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

"LTN punya tugas untuk turut mengawasi sejumlah siaran yang ditayangkan media radio serta televisi," kata Komisioner KPID Jatim, Mohammad Dawud, Ahad (18/1). Apalagi pada saat yang bersamaan mulai digalakkan pencegahan situs dan organiasasi yang menyecarkan teror.

Dalam pandangan Mohammad Dawud, KPID sendiri sangat terbuka atas keluhan masyarakat yang melakukan protes bila ditemukan muatan yang menyebarkan kebencian, tidak menghargai perbedaan dan ajakan tidak pantas lainnya.

"Apalagi LTN memiliki jaringan komunikasi dengan kepengurusan serupa di tingkat kota dan kabupaten di Jawa Timur. Cukup sediakan kader dan waktu untuk bisa memantau siaran di berbagai daerah,” kata Sekretaris PW ISNU Jatim ini

M Dawud kemudian memberikan masukan bahwa cara yang bisa dilakukan bila ternyata menemukan siaran yang tidak pantas, maka cukup melayangkan surat ke KPID Jatim dengan menyertakan waktu dan tanggal serta dimana menangkap siaran yang meresahkan tersebut. "Selanjutnya kami dari KPID yang akan menindaklanjuti laporannya," ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PW LTN NU Jatim, Ahmad Najib AR sangat mengapresiasi ajakan tersebut. "Kami memang memiliki jaringan sampai ke kabupaten dan kota di Jatim, meskipun harus terus dijalin," katanya. Bahkan keberadaan pemantau media memang telah direkomendasikan saat rapat koordinasi dengan kepengurusan LTN se-Jatim beberapa waktu berselang.

Ribath Nurul Hidayah

"Tinggal bagaimana mengintensifkan komunikasi dan memberikan informasi ini kepada kepengurusan di daerah," kata Gus Najib, sapaan akrabnya. Dengan semakin banyak pihak yang mengawasi mutu siaran, ia mengharapkan kian banyak tayangan yang mendidik masyarakat.

Salah seorang pimpinan di Pondok Pesantren Bayt al-Hikmah Pasuruan ini juga berharap agar frekwensi yang telah diberikan pemerintah dimaknai sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa. "Bukan malah menebar keburukan apalagi teror," katanya.

Pada saat yang sama, alumnus pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini berharap agar pemerintah tegas. "Kami mendukung dan mendesak pemerintah untuk menutup gerakan penyebar terorisme baik di televisi dan radio, termasuk di dunia maya," tandasnya. Karena, lanjutnya, dari sejumlah media inilah gerakan teror akan merayu masyarakat untuk bertindak yang destruktif.

Bagi Gus Najib, tindakan pemerintah dengan menutup website, akun facebook dan media sosial lain dapat juga dilakukan kepada radio dan televisi. "Ini untuk menuutup gerak yang mengarah kepada terorisme," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 18 September 2016

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik

Di pinggiran Kota Bojonegoro, tepatnya di Dusun Kendal, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander terdapat madrasah swasta tingkat Madrasah Aliyah (MA) bernama MA Ar-Rasyid. Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al Rasyid ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang? mengedepankan ilmu keagamaan dan sopan santun sebagai tolak ukur siswa berprestasi. Sehingga, penilaian prestasi tidak hanya terpaku pada nilai akademik tapi juga nilai suluk (akhlak) peserta didik.

Dari sejarahnya, MA Al-Rasyid berdiri sejak awal tahun 1959. Sebelum berdiri MA Ar-Rasyid dulu hanyalah berupa pendidikan berbentuk madrasah diniyah dengan nama Al-Islah. Seperti madrasah diniyah pada umumnya, Madin Al-Islah yang mengklasifikasikan setiap anak didik menjadi tiga tingkatan yakni Madrasah diniyah Ulaa (dasar), Wustho (menengah), dan Ulya (Atas).

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik

Muridnya ketika itu hanya kurang lebih 18 anak didik yang juga menetap di asrama pondok. Seiringnya berjalannya waktu madrasah diniyah mengembangkan keilmuanya di bidang sosial dengan mendirikan Madrasah Aliyah (MA) Al Rasyid. Tujuannya agar semua anak didik bisa juga menguasai berbagai macam ilmu di bidang formal atau sosial guna membangun bangsa serta Negara sesuai ilmu yang dimilikinya. Selain itu juga belajar? ilmu agama sebagai bekal Tafaqquh Fiddin yang berfungsi pemeliharaan, pengembangaan penyiaran ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah.

Ribath Nurul Hidayah

Sejak mulai berdiri di tahun 1979 sampai sekarang, MA Al-Rasyid mengalami tiga periodedisasi kepemimpinan yang setiap periodenya tetap konsisten menjadi sekolah yang tetap menjunjung nilai kesopanan dalam berakhlaqul karimah.

Ribath Nurul Hidayah

Di masa awal periode pertama tahun 1979 sampai 1991 MA Al-Rasyid dipimpin oleh KH.Sajjidun. Saat itu, lembaga masih dalam masa sulit karena kesemuanya dalam keterbatasan sarana maupun prasarana bahkan keterbatasan tenaga pendidik.

Pada masa kedua MA Al Rasyid dipimpin oleh H Syamsul Hadi beliau memimpin mulai tahun 1991 sampai 2005 dimana Madrasah yang beliau pimpim belum bisa berkembang secara signifikan. Meski? tenaga pendidik potensial mulai ada yang terus mengabdikan tenaganya untuk sekolah.? Pada periode ini, MA Al-Rasyid sudah mulai banyak dikenal masyarakat luas di Kabupaten Bojonegoro salah satunya selalu tampil dalam pelaksanaan fungsi Kepala Madrasah.

Pada periode ketiga yakni tahun 2006 hingga sekarang MA Al-Rasyid mengalami kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang baik dalam segi pembelajaran serta tenaga pendidik. Sehingga saat ini mumpuni untuk bisa bersaing dengan lembaga sekolah lain, bahkan kini? juga membuka Kelas Unggulan.

Kegiatan pembelajaran di MA Al-Rasyid mencakup pendidikan agama dan pembelajaran kitab kuning. Peserta didik diajarkan ilmu Alquran, Hadis, Nahwu, Sharaf, Fikih, Ushul Fiqih, Tafsir, Imla serta Insya.? Selain itu juga menonjol di bidang ekstrakurikuler, salah satunya di bidang drumben.

Madrasah yang berada di Jalan KHR Moh Rosyid Nomor 28 ini memiliki grup drumben akrobatik. Grup drumben binaan lembaga tersebut tidak hanya sekadar membunyikan alat-alat drumben seperti terompet, simbal, Baritone Horn, bass dan terompet tapi juga dilengkapi atraksi akrobatik? yang biasa dikenal dengan sebutan Air Fighter.

Sesuai dengan namanya, Air Fighter, para personel grup drumben MA Al-Rasyid saat bermain juga melakukan salto dan atraksi udara lainnya. Karena keunikannya ini, tak ayal grup drumben MA Al-Rasyid sering mengikuti berbagai festival bahkan pernah juga diundang di kabupaten-kabupaten luar Bojonegoro. Bisa dibilang, MA Al-Rasyid menjadi pelopor drumben Air Fighter, tak ayal ketika disearch di google kata kunci “Drumbad Air Fighter” yang muncul adalah atraksi salto dari siswa MA Al-Rasyid.

Para personel drumben akrobatik setiap satu pekan sekali belajar teknik-teknik drumben akrobatik dengan para pembina khusus yang sudah piawai. Ektrakurikuler memang sengaja dilaksanakan di luar jam sekolah setiap hari yang dimulai pukul 07.00 pagi hingga 13.00 siang dan di hari libur, yakni hari Jumat. Alasannya, agar para siswa bisa fokus dan tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar.

Selain drumben, ada pula kegiatan ekstra kulikuler lainnya seperti Pramuka,PMR, Olahraga, Muhadhoroh dan Munaqosah. Semua kegiatan itu dilksanakan untuk mengembangkan siswa dari segala potensi yang ada di diri mereka.

MA Al-Rasyid saat ini sudah berusia 36 tahun, di usia yang terbilang sudah matang sebagai lembaga pendidikan dan bisa dikategorikan sebagai pesantren tujuan para peserta didik. Terbukti,? 75 persen siswa MA Al Rasyid berasal dari berbagai daerah luar Bojonegoro selebihnya 25 persen siswa berasal dari masyarakat sekitar Bojonegoro.

Untuk memenuhi tuntutan perkembangan keilmuan, selain jurusan agama, MA Al-Rasyid juga mempunyai dua program jurusan yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) . Tak hanya itu, pihak madrasah juga menerapkan penggunaan bahasa asing yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang t rutin digunakan pada waktu pembelajaran efektif.

Tujuannya, agar pengembangan diri setiap siswa dapat terpupuk serta tergali dengan mengalokasikan jadwal tertentu yang dibimbing dan diawasi oleh tenaga pendidik yang berkompeten di bidangnya. Terbukti, banyak raihan prestasi yang diperoleh siswa MA Al-Rasyid,? termasuk prestasi Juara Lomba Pidato Bahasa Inggris.

Untuk memajukan sekolah, setiap bulan sekali pihak yayasan melakukan evaluasi untuk mengukur taraf kemampuan pendidikan sekolah agar terus berkembang dan dapat besaing dengan lembaga sekolah lain. Harapannya, semoga Madrasah Aliyah (MA) Al Rasyid kedepan lebih dapat bisa bersaing dapat mencetak generasi yang cinta terhadap lingkungan Ponpes Al Rasyid serta menjadikan alumni-alumninya? berguna bagi negara sebagai wujud sumbangsih yayasan untuk selalu maju. (Nidhomatum MR)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 September 2016

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan filantropi pertama kali dilakukan pada tahun 1918 oleh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri,dan KH Masykur ? dengan menggalang 40 pengusaha. Mereka kemudian membentuk organisasi bernama Nahdlatut Tujjar.?

“Pada saat itu masyarakat sangat antusias untuk mengumpulkan dana. Karena para kiai bergerak, sehingga terkumpul dana cukup besar. Gerakan filantropi nusantara yang digerakkan oleh para kiai mampu menarik para banker,” kata Ketua PBNU HM Sulthon Fatoni saat mengisi seminar nasioanl bertema Filantropi Islam Nusantara yang diselenggarakan oleh NU Care-LAZISNU di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (2/2).

Seiring berjalannya waktu, gerakan yang dihimpun oleh para kiai tersebut tercium Belanda, sehingga pihak Belanda memberlakukan peraturan tentang koperasi yang harus berizin dengan mengenakan biaya yang sangat mahal. Di samping standar dan persyaratan lain yang harus dipenuhi.?

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi

Para kiai tidak mampu memenuhi persyaratan, termasuk dana minimal yang harus disetor ke pihak Belanda. Gerakan filantropi Nahdlatut Tujjar pada akhirnya tenggelam.

“Gerakan filantropi koperasi saat itu memang yang harus dirambah, karena zakat, sedekah, dan infaq sudah jalan,” katanya.?

Ribath Nurul Hidayah

Selanjutnya di awal tahun 1920, Mbah Hasyim mengutus Kiai Wahab menemui Kiai Nawawi Sidogiri untuk berkonsultasi tentang pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU).?

Dari pertemuan itu, para kiai berkumpul di Masjid Jami’ Kota Pasuruan kemudian terbesit ayat Al Qur’an Lamasjidun Ussisa ‘alat Taqwa.

“Jadi perkumpulan NU, perkumpulan para kiai kita sepakat asalkan gerakan perkumpulan ini nanti tidak berbasiskan finansial, tidak bermisi profit. Maka lahir NU,” terangnya.?

Ribath Nurul Hidayah

Sebagaimana ditegaskan Mbah Hasim dalam Risalah Ahlussunnah Waljamah tahun 1928 bahwa NU adalah organasiasi yang bermisi memberikan keadilan, memberikan perlindungan, meningkatkan kualitas hidup, dan mendorong agar masyarakat makmur.

“Gedung yang kita tempati ini (Gedung PBNU), bukan dari bisnis, tapi gedung ini dibangun dengan semangat filantropi. Semuanya terlibat, kaya, miskin, muslim, dan non muslim di era Gus Dur,” terang pria yang juga menjabat sebagai wakil rektor II Unusia ini. (Husni Sahal/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Daerah, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 03 Agustus 2016

Dosen Ateis

Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba seorang dosen fisika nyeletuk, “Menurut saya Tuhan itu tidak ada.”

Semua mahasiswa di kelas bengong. “Kok begitu, Pak?”

Dosen Ateis (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen Ateis (Sumber Gambar : Nu Online)

Dosen Ateis

“Kalian pernah melihat Tuhan?”

“Tidak...!” jawab mahasiswa serentak.

“Ya berarti Tuhan tidak ada!”

Ribath Nurul Hidayah

Salah seorang mahasiswa merespon, “Bapak pernah melihat akal?”

“Tidak.”

“Ya berarti akal Bapak tidak ada.” (Khoiron)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah