Senin, 14 Desember 2015

GP Ansor Cabang Khusus Arab Saudi Dikukuhkan

Jeddah, Ribath Nurul Hidayah?

Pengurus? Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengukuhkan GP Ansor Cabang Saudi sekaligus menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) diikuti 36 orang kader di KJRI Jeddah, Jumat hingga Sabtu (10-11/2/2017).

Pada saat itu juga di kukuhkan Pimpinan Cabang Khusus (PCK) Saudi Arabia dengan Ketua Musthofa Al Ghulayain oleh Ketua Umum PP Ansor Yaqut Cholil Qaumas.

GP Ansor Cabang Khusus Arab Saudi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Cabang Khusus Arab Saudi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Cabang Khusus Arab Saudi Dikukuhkan

PKD di Saudi Arab Saudi ini dilaksanakan untuk pertama kalinya sepanjang Ansor berdiri tahun 1934. Untuk mendukung PKD ini dikirim 18 orang instruktur nasoinal? dari PP GP Ansor.

Hadir memimpin rombongan PKD internasional adalah Ketum PP Ansor H. Yaqut Cholil Qaumas, Sekjen Adung Abdul Rochman, Kasatkornas Alfa Isnaini, Ketua Bidang Kaderisasi Ruchman Basori dan pimpinan pusat lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Kegiatan ini merupakan komitmen pimpinan pusat Ansor melakukan kaderisasi secara serius, tidak saja di dalam negeri, tapi juga di luar negeri," tegas Sekjend Abdul Rochman melalui rilis diterima Ribath Nurul Hidayah, Sabtu (11/2).

Kegiatan ini sangat strategis untuk mendesiminasikan Islam aswaja, semangat kebangsaan dan keindonesiaan.

"Usaha mengkampanyekan Islam moderat ala Indonesia ini akan kita lanjutkan negara lain," ujar Adung lagi.

Ribath Nurul Hidayah

Adapun PKD internasional ini sebagai ikhtiar memperkuat kelembagaan Ansor di Arab Saudi. Kalau dulu KH Abdul Wahab Chasbullah melakukan perjalanan menjadi delegasi Komite Hijaz, kami ini Ansor sebagai generasi muda juga? napak tilas jejak Komite Hijaz sekaligus berumroh.

"Agar Ansor menjaga kekuatan penting sebagai penjaga Islam ahlussunnah waljamaah, NKRI dan Pancasila. Kita patut bangga karena 36 peserta berasal dari berbagai profesi di Arab Saudi seperti mahasiswa, profesional dan sektor-sektor penting lainnya,” tegas Ruchman Basori, Ketua Bidang Kaderisasi.

Tantangan Islam Indonesia sangat komplek, maka GP Ansor mengambil peran strategis menjaga teadisi dan nilai Islam yg moderat terbuka dan toleran. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Senin, 26 Oktober 2015

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi

Pendudukan Jepang atas Indonesia tergoyang ketika mereka kalah perang dengan tentara sekutu (Inggris-Belanda). Seketika itu pula mereka berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kekuatan perangnya dengan melatih para pemuda Indonesia secara militer guna berperang melawan sekutu. Para pemuda dimaksud tidak lain adalah para santri.

Karena sudah mempunyai kesepakatan diplomatik dengan KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Jawatan Agama (Shumubu) yang diwakilkan kepada anaknya KH Abdul Wahid Hasyim, Nippon menyampaikan gagasannya itu kepada Kiai Hasyim.

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kiai Hasyim menyetujui langkah Jepang tersebut dengan syarat para pemuda yang dilatih militer itu berdiri sendiri tidak masuk dalam barisan Jepang. Itulah awal terbentuknya laskar yang diberi nama oleh Kiai Hasyim sebagai Laskar Hizbullah.

Laskar Hizbullah ini dibentuk pada November 1943 beberapa minggu setelah pembentukan tentara PETA (Pembela Tanah Air). Meski kedua badan kelaskaran itu berdiri sendiri, tetapi secara teknik militer berada di satu tangan seorang perwira intelijen Nippon, Kapten Yanagawa.

Sebagai seorang kiai, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari cukup mumpuni dalam strategi perang. Di saat sejumlah orang memandang bahwa keputusan Kiai Hasyim merupakan simbol ketundukan kepada Jepang karena menyetujui para santri dilatih militer oleh Jepang. Namun di balik semua itu, guru para kiai di tanah Jawa ini ingin mempersiapkan para pemuda secara militer melawan agresi penjajah ke depannya.

Ribath Nurul Hidayah

Betul saja apa yang ada di dalam pikiran Kiai Hasyim, Jepang menyerah kepada sekutu. Namun Indonesia menghadapi agresi Belanda II. Di saat itulah para pemuda Indonesia melalui Laskar Hizbullah, dan lain-lain sudah siap menghadapi perang dengan tentara sekutu dengan bekal gemblengan ‘gratis’ oleh tentara Jepang.

Saat itu, Angkatan pertama latihan Hizbullah di daerah Cibarusa, dekat Cibinong, Bogor awal tahun 1944 diikuti oleh 150 pemuda. Mereka datang dari Karesidenan di seluruh Jawa dan Madura yang masing-masing mengirim 5 orang pemuda. 

Ribath Nurul Hidayah

Pusat latihan Hizbullah di Cibarusa itu dikeola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin oleh Zainul Arifin. Sebagai sebuah strategi perang, latihan ini perlu dilakukan oleh sebanyak-banyaknya pemuda. Namun, disayangkan latihan Hizbullah ini diselenggarakan secara minim sekali.

Kondisi ini menjadi perhatian serius KH Wahid Hasyim sebagai penanggung jawab politik dalam Laskar Hizbullah. “Kita dikejar waktu. Nippon sebenarnya mencurigai tujuan Hizbullah. Yang menyetujui Hizbullah kan Cuma kita,” ucap Kiai Wahid mengemukakan kegelisahannya.

Tetapi, ayah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini tidak mau ketinggalan kereta. Walau bagaimana pun, perjuangan kemerdekaan harus dipersiapkan, baik kekuatan militernya, di samping kekuatan politiknya. Kekuatan politik yang dimaksud ialah politik kenegaraan yang berkepentingan memerdekakan Indonesia dari kungkungan penjajah. Langkah ini membutuhkan ongkos yang tidak sedikit.

Kegundahan Kiai Wahid tersebut mendapat siraman petunjuk dari KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Wahab menilai, para kiai dan pemimpin laskar jangan hanya melihat dari ukuran lahir. Karena menurutnya, belum tentu jika disediakan biaya besar akan berdampak pada hasil yang maksimal. 

“Bia menderita asal penggemblengan jiwanya hebat seperti pemuda-pemuda Ashabul Kahfi, hasil akhir yang maksimal bisa tercapai juga,” tutur Kiai Wahab memberi masukan.

Bicara tentang Ashabul Kahfi, sebenarnya berapakah jumlah pemuda-pemuda itu persisnya?” tanya KH Mukhtar, salah satu anggota di bawah kepemimpinan Zainul Arifin.

“Al-Qur’an sendiri dengan tegas mengatakan, yang tahu jumlah persisnya hanyalah Allah. Kita tidak usah berselisih mengenai berapa sebenarnya jumlah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi itu,” jawab Kiai Wahab.

“Dalam Al-Qur’an Cuma disebut bertiga. Adapun yang keempatnya adalah anjing mereka. Roobi’uhum kalbuhum,” Kiai Wahab melanjutkan.

“Tapi ada yang mengatakan mereka berlima yang keenamnya adalah anjing, saadisuhum kalbuhum,” sela KH Farid Ma’ruf, anggota lainnya.

“Ada lagi yang mengatakan Ashabul Kahfi itu tujuh orang, yang kedelapan adalah anjing mereka. Wa tsaaminuhum kalbuhum,” kali ini Kiai Wahid Hasyim menimpali.

Di tengah diskusi mereka perihal jumlah pemuda Ashabul Kahfi, tetiba masuklah seorang Nippon berseragam Sersan Mayor, Sidokan, pelatih Hizbullah. Kedatangannya sekonyong-konyong tanpa diperkiarakan sebelumnya. Tentu saja menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi para kiai.

Namun, Kiai Wahab bereaksi secara cepat dengan datangnya tentara Nippon tersebut. Dengan nyaringnya ia mengatakan: “Wa taasi’uhum...qirduhum” (yang kesembilan adalah...monyet mereka). Seketika meledaklah gelak tawa serentak. Orang Nippon tersebut juga ikut ngakak meskipun dia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud Kiai Wahab kepadanya.

Obrolan tersebut menunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi genting memimpin dan mempersiapkan strategi dalam mengusir penjajah, para kiai tidak lepas dari karakteristik asalanya yaitu pesantren. Dengan mudahnya mereka mengubah suasana yang membutuhkan pemikiran serius menjadi kondisi yang riang gembira. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 04 Oktober 2015

Hukum Sembahyang di Masjid yang Ada Makamnya

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Ribath Nurul Hidayah yang saya hormati, kami ingin menanyakan sembahyang di masjid-masjid yang terdapat makam di balik tembok atau di dalamnya. Bahkan ada juga makam para wali di pelataran masjid. Bagaimana hukumnya? Soalnya ada yang bilang sembahyang itu harus di masjid yang benar-benar bebas dari makam di pekarangannya. Mohon keterangan lebih jelasnya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Karta/Bogor)

Hukum Sembahyang di Masjid yang Ada Makamnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Sembahyang di Masjid yang Ada Makamnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Sembahyang di Masjid yang Ada Makamnya

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sejauh pengamatan kami, tidak ada larangan perihal pemakaman jenazah di pekarangan masjid. Karenanya umat Islam ketika memperluas masjid nabawi tidak bersusah payah memindahkan makam Rasulullah SAW. Dan mereka juga kemudian memakamkan dua sahabatnya, Abu Bakar As-Shiddiq RA dan Umar RA di dekat makam Rasulullah SAW. Dengan demikian makam ketiganya berada bukan lagi di pekarangan masjid, tetapi di dalam masjid.

Ribath Nurul Hidayah

Adapun kesahihan ibadah sembahyang di masjid yang terdapat makam di pekarangan atau di dalamnya tidak bergantung pada keberadaan makam itu sendiri. Kesahihan sembahyang di sana bisa dilihat dari seberapa jauh kelengkapan syarat dan rukun sembahyang itu sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

Ada baiknya kita melihat pandangan Syekh Muhammad Ibarahim Al-Hafnawi yang bermadzhab Hanafi sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sembahyang di masjid yang di dalamnya terdapat makam para wali yang saleh adalah ibadah shalat yang sah sejauh syarat dan rukun yang ditetapkan menurut syara‘ terpenuhi. Karena, sembahyang itu ditujukan kepada Allah, bukan ahli kubur. Sehingga sampai kapan pun tidak mungkin berpendapat batal atau haramnya sembahyang di masjid yang ada makamnya. Kalau ada pendapat yang membatalkan dan mengharamkan sembahyang itu, niscaya batal dan haram pula sembahyang umat Islam di Masjid Nabawi di mana di dalamnya terdapat makam Rasulullah SAW dan dua sahabatnya, Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina Umar RA,” (Lihat M Ibarahim Al-Hafnawi, Fatawa Syar‘iyyah Mu‘ashirah, Kairo, Darul Hadits, cetakan ketiga, 2012 M/ 1433 H, halaman 160-161).

Dari penjelasan di atas, kita memahami betapa niat menempati posisi sangat penting di sini. Niat yang memuat kebulatan hati dan pemusatan pikiran dalam ibadah ditujukan kepada Allah SWT semata, bukan pada ahli kubur (meskipun ia seorang nabi, wali, dan orang saleh lainnya) yang terletak di pekarangan masjid.

Dari keterangan di atas juga, kita dapat menyimpulkan bahwa sembahyang itu di mana pun tempatnya tetap sah dengan catatan syarat dan rukunnya dipenuhi sesuai aturan syara’ (agama Islam) seperti lazimnya disebutkan dengan rinci di dalam kitab-kitab fikih.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Berita Ribath Nurul Hidayah

Senin, 28 September 2015

Presiden Jokowi Lantik UKP-PIP, Ini Harapan NU

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Presiden Joko Widodo telah melantik Dewan Pengarah dan Eksekutif Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Pelantikan ini, berlangsung di Istana Negara, Rabu (7/6).?

Presiden Jokowi Lantik UKP-PIP, Ini Harapan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Lantik UKP-PIP, Ini Harapan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Lantik UKP-PIP, Ini Harapan NU

UKP-PIP diharapkan dapat mendorong pembelajaran yang segar dan kongkret atas nilai-nilai Pancasila. Di tengah benturan ideologi di Indonesia, UKP-PIP memiliki peran strategis untuk mengkampanyekan Pancasila dalam perspektif kekinian.?

Dewan Pengarah UKP-PIP, yakni: Megawati Soekarno Putri, Try Sutrisno, Prof Dr (HC) KH Maruf Amin, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Prof Dr Syafii Maarif, ? Prof Dr Mahfud MD, Sudhamek, Andreas Anangguru Yewangoe, dan Wisnu Bawa Tenaya. Adapun Kepala UKP-PIP, Yudi Latif.

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj yang menjadi Dewan Pengarah UKP-PIP, mengungkapkan harapannya atas kinerja Unit Kerja Kepresidenan ini.?

Ribath Nurul Hidayah

"Selama ini, bangsa Indonesia telah mendapat tantangan yang demikian besar, khususnya dalam prinsip dan ideologi berbangsa. Warga negeri ini, harus memahami kembali Pancasila dalam perspektif yang segar, kontekstual. NU sejak awal, konsisten merawat dan menjaga Pancasila," ungkap Kiai Said.?

Ketua Umum Pagar Nusa Nahdlatul Ulama, M. Nabil Haroen, menyatakan harapan besarnya atas UKP-PIP. "NU telah membuktikan, dalam segenap narasi sejarahnya, betapa warga Nahdliyyin konsisten menjaga Pancasila, sebagai ideologi negara dan prinsip kebangsaan. Bahkan, NU jelas membangun jembatan antara niali-nilai Islam dan Pancasila, yang harmonis dan kontekstual," jelas Nabil.?

"Kita dapat membaca rangkaian yang jelas, sejak 1945, 1965, hingga 1984, hingga era Reformasi, NU memaknai momentum besar kebangsaan dengan rujukan Pancasila dan nilai-nilai Islam. Untuk sekarang ini, Pancasila harus menjadi prinsip kebangsaan di tengah ancaman ideologi transnasional," terang Nabil.?

Nabil menambahkan, untuk sekarang, UKP-PIP dapat mengembangkan program internalisasi Pancasila yang lebih kontekstual. "UKP-PIP harus didorong menjadi unit kerja yang memiliki peran signifikan menguatkan, mengkampanyekan Pancasila agar lebih segar. Seraya, menyiapkan strategi membendung ideologi transnasional yang mengancam negeri ini. Tapi, jangan sampai Pancasila hanya sebagai stempel, harus ada pemaknaan dan program relevan yang terstruktur dan terkoneksi dengan ormas-ormas di negeri ini," harapnya.?

Nahdlatul Ulama, selama ini menjadi organisasi kemasyarakatan yang paling konsisten merawat Pancasila, ketika ideologi negara ini mengalami ancaman sepanjang sejarah bangsa. (Red: Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

PCNU Kutai Kartanegara Kembangkan Seni Hadrah

Tenggarong, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kutai Kartanegara terus melestarikan dan mengembangkan hadrah sebagai kesenian khas umat muslim Nusantara. Kegiatan-kegiatan hadrah dilaksanakan oleh Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) setempat. 

Ketua PCNU Kukar H Chairul Anwar mengimbau warganya untuk mengaktifkan ISHARI, sebuah badan otonom yang berada di bawah organisasi NU. ISHARI disahkan pada 1959 dan diusulkan oleh salah seorang pendiri NU yaitu Kiai Wahab Chasbullah.

PCNU Kutai Kartanegara Kembangkan Seni Hadrah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kutai Kartanegara Kembangkan Seni Hadrah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kutai Kartanegara Kembangkan Seni Hadrah

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan ISHARI di Kecamatan Loa Janan Ulu yang diadakan di Musala Al- Barokah, Jumat (15/10) malam lalu. Seperti dilansir www.pcnukukar.or.id Ketua PCNU juga menyerahkan bantuan berupa seragam ISHARI dan peralatan hadrah.

Ribath Nurul Hidayah

Komitmen pengembangan seni hadrah juga pernah disampaikannya dalam kata sambutan saat pengukuhan ISHARI Kecamatan Loa Janan Ulu di Pondok Pesantren Modern Al-Muhajirin Loa Janan Ulu, Ahad 25 Juli 2010 lalu.

"Perlu dipahami oleh seluruh anggota ISHARI jangan sampai tidak tahu atau tidak ingat kepada beliau, seni hadrah merupakan seni yang luar biasa di samping bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW kita juga berkonsentrasi untuk tetap kompak memukul hadrah. Sehingga terdengar bunyi yang nyaman didengar," kata Chairul Anwar Pada pembukaan rutinan jumat malam itu.

Ribath Nurul Hidayah

Dari kesenian ala pesantren inilah, lanjut Chairul, warga mendapatkan banyak pelajaran yang bisa diambil dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pertama adalah memahami akhlak Nabi Muhammad SAW melalui pembacaan shalawat dan pujian terhadap beliau yaitu akhlakul karimah.

Ikatan tali silahturahmi dari anggota yang terdiri dari beragam daerah (Bima, Banjar, Madura, Sunda, Jawa, Padang, Bugis dan Kutai bahkan daerah lain) juga dapat melatih diri memahami keberagaman dan perbedaan sehingga akan terjalin dengan baik dan terwujud kekompakan dan perdamaian seperti dicontohkan Nabi.

"Di sinilah sebenarnya peranan NU dalam memotivasi setiap anggotanya agar turut serta mendukung program pemeritah untuk selalu menjaga perdamaian dan keutuhan NKRI dan tidak termakan isu-isu yang menyebabkan perpecahan," pungkas Chairul. (win/nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 26 September 2015

Kiai Said: Resolusi Jihad, Sumbangsih KH Hasyim Asy’ari Kepada Bangsa

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Banyak kipah yang telah ditorehkan KH Hasyim Asyari. Resolusi jihad adalah di antara sumbangsih hadratussyaikh Hasyim Asy’ari kepada Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia.

Kiai Said: Resolusi Jihad, Sumbangsih KH Hasyim Asy’ari Kepada Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Resolusi Jihad, Sumbangsih KH Hasyim Asy’ari Kepada Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Resolusi Jihad, Sumbangsih KH Hasyim Asy’ari Kepada Bangsa

"Hari Santri Nasional bukan riya (pamer), tapi penghormatan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari dan para ulama lainnya yang menetapkan Resolusi Jihad yang berisi bahwa membela Tanah Air itu fardlu ain seperti layaknya shalat fardlu," kata KH Said Aqil Siroj, Ahad (18/10). Menurut dia, Resolusi Jihad itulah yang melahirkan intifadhah atau penyerangan secara massal oleh masyarakat terhadap tentara Sekutu (NICA), lanjutnya.?

"Resolusi Jihad itu sendiri lahir atas permintaan Presiden Soekarno dan Muhammad Hatta yang mengirim utusan ke Pesantren Tebuireng untuk meminta agar Kiai Hasyim Asyari bersama para ulama menggerakkan masyarakat untuk melawan NICA," katanya.

Akhirnya, KH Hasyim Asyari selaku Rais Akbar PBNU mengajak para ulama dari berbagai kawasan sehingga melahirkan Resolusi Jihad.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

"Jadi, pertempuran 10 November 1945 yang akhirnya diperingati sebagai Hari Pahlawan itu bukan merupakan perlawanan tanpa komando, melainkan bermodal fatwa Jihad fi-Sabilillah," katanya. Perlawanan itu dipimpin secara teknis oleh KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai pelaksana yang bermarkas di Waru (Sidoarjo) dengan dukungan KH Masykur dari Malang dan KH Abbas dari Cirebon.

"Hasilnya, rakyat menang, bahkan pimpinan tentara Sekutu Brigjen Mallaby pun tewas. Dalam film Sang Kiai disebutkan bahwa Brigjen Mallaby tewas karena mobilnya dilempari bom oleh santri Tebuireng bernama Harun," katanya.

Oleh karena itu, dalam pandangan Kiai Said, Hari Santri Nasional yang ditetapkan Presiden Joko Widodo pada setiap 22 Oktober merupakan pengakuan pada perjuangan para kiai.

"Tanpa KH Hasyim Asyari dan para santri, maka Resolusi Jihad takkan pernah ada. Tanpa Resolusi Jihad, maka Pertempuran 10 November takkan terjadi. Tanpa Pertempuran 10 November, maka kemerdekaan takkan pernah tercapai," katanya.

Hadir pada kegiatan Kirab Hari Santri Nasional diantaranya, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf. Wakil Ketua Umum PBNU, Slamet Effendy Yusuf dan Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zain. Selain itu, hadir pula jajaran PWNU Jatim yakni KH Agoes Ali Masyhuri, KH Jazuli Noor, dan KH Abdurrahman Navis dan Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah. Tampak pula Ketua Panitia Hari Santri Nasional Jatim, H Abdul Halim Iskandar yang memimpin jalan sehat dari Kantor PCNU Surabaya ke Tugu Pahlawan.

Acara dipungkasi dengan pelepasan kirab diawali penyerahan pataka yakni panji-panji Merah Putih dan Bendera NU dari Ketua Umum PBNU kepada Sekjen PBNU dan Wagub Jatim untuk diserahkan kepada peserta kirab yang membawanya dari Tugu Pahlawan (Surabaya) ke Tugu Proklamasi (Jakarta) selama empat hari, yakni 18 hingga 22 Oktober. (Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 25 September 2015

PMII Akan Kembali ke NU

Pasuruan, Ribath Nurul Hidayah

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terlahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) hingga memisahkan diri dengan alasan organisasi massa terbesar itu terseret dalam kancah politik dalam perjalanannya. Akhirnya, organisasi berbasis mahasiswa Islam ini menyatakan keluar dan bersikap netral. Karenanya dalam Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) 2006, PMII berencana gabung dengan NU.

Rencana back to nature tersebut disampaikan Ketua Umum PB PMII, Heri Hariyanto Azumi, seusai pembukaan Muspimnas PMII yang dilaksanakan di Taman Chandra Wilwatikta Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Kamis (14/12) lalu. Bahkan, menurut Heri, pihaknya telah bertemu dengan petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan telah membicarakan persoalan tersebut, meski tidak formal.

PMII Akan Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Akan Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Akan Kembali ke NU

Dikatakannya, sesuai dengan lahirnya lembaga organisasi mahasiswa Islam dari tubuh NU. “ Tapi karena adanya perbedaan pandangan dan NU juga terseret dalam persoalan politik pada perjalanannya saat itu, sehingga PMII menyatakan keluar dan tidak bergabung lagi dengan NU dan PMII menyatakan oposisi. Namun, saat ini, karena NU netral maka kami berencana akan bergabung kembali,” terang Heri.

Karenanya itu, dalam Muspimnas kali ini, akan dibahas persoalan tersebut bersama para ketua cabang. Pihaknya berharap agar gabungnya kembali ke NU sesuai dengan harapan para senior dan dorongan berbagai pihak, bisa menjadi keputusan mutlak dalam Muspimnas tahun 2006 ini. “Rencana PMII ini dapat sambutan baik pengurus PBNU dan kalangan pengurus PMII juga mendukung,” katanya.

Selain akan kembali ke pangkuan NU, dalam Muspimnas juga di bahas persoalan yang menyangkut pendidikan dan persoalan bangsa yang tidak tertangani secara serius oleh pemerintah. “Dalam Muspimnas ini akan dibahas persoalan anggaran pendidikan yang harus sesuai dengan perundangan yakni 20 persen. Selain itu, Lapindo akan dibahas karena tidak seriusnya timnas,“ tambah Nur, salah satu pengurus PB PMII. (zi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah IMNU Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah