Senin, 26 Agustus 2013

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor

Banyumas, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Banyumas melantik Pimpinan Anak Cabang (PAC) Banyumas dan PAC Somagede di pendapa Duplikat Sipanji Kompleks Kewedanaan Lama Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (3/9).

Pelantikan dihadiri lintas generasi GP Ansor. Sedikitnya 200 anggota peserta diklatsar Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang baru mengikuti pelatihan Juli lalu.

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor

Selain mereka, para pengurus-pengurus PAC GP Ansor se-Kabupaten Banyumas hingga para alumni eksponen Ansor di masa Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965) juga tampak hadir.

Ribath Nurul Hidayah

Seperti pers rilis yang dikirim Sugeng Riyadi Syamsudien, Faisal Riza dilantik sebagai Ketua PAC Banyumas. Sementara Nur Imanuddin dilantik sebagai Ketua PAC Somagede.

Dalam orasinya, Ketua PC GP Ansor Banyumas Rudi Fathurrohman mengajak setiap anggota Ansor-Banser untuk meningkatkan sikap proaktif dan kepekaan lingkungan terkait gerakan-gerakan makar yang merapuhkan sendi-sendi bangsa.

Ribath Nurul Hidayah

Setiap kader Ansor-Banser diimbau Rudi Fathurrohman untuk menguatkan solidaritas dan meningkatkan keamanan lingkungan. Selain itu, Rudi mendorong kader Ansor untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan keansoran dan kemasyarakatan.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Agustus 2013

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, untuk ke sekian kalinya menyampaikan tidak ada agama di muka bumi yang mengajarkan kekerasan. Pemeluk suatu agam sudah menjadi semestinya untuk meninggalkan kekerasan dalam bentuk apapun. 

"Ayat la ikhraha fiddin maknanya tidak ada paksaan, tidak ada kekerasan dalam beragama. Dibalik maknanya juga bisa, yaitu orang yang melakukan kekerasan tidak sedang menjalankan ajaran agama," ungkap Kiai Said di Jakarta, Jumat (4/5). 

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan

Pernyataan yang sama juga disampaikan Kiai Said saat menjadi penceramah utama dalam perayaan hari jadi Kota Tual ke 81, Senin (30/4) lalu. Dalam kegiatan tersebut hadir jajaran Muspida, tokoh masyarakat dan perwakilan seluruh agama yang ada. 

Ribath Nurul Hidayah

"Saya lihat di sana toleransi bisa berjalan dengan baik. Itu yang harus dipertahankan dan harus dikembangkan agar semakin baik," tambah Kiai Said. 

Dalam ceramahnya Kiai Said menekankan pentingnya menjalankan toleransi dengan baik antar umat beragama. Setiap orang yang beragama, apapun agama yang dipeluknya, sudah menjadi kewajibannya untuk menghormati keberagaman yang ada di sekitarnya, serta bersama-sama menjalankan prinsip anti kekerasan dan anti radikalisme. 

Di kesempatan yang sama Kiai Said juga diangkat menjadi anggota keluarga istimewa Kerajaan Tanhir, kerajaan Islam tertua di Kota Tual. Kiai Said juga didaulat melakukan peletakan batu pertama pada pembangunan masjid di lokasi yang sama. 

Ribath Nurul Hidayah

"Islam Ahlussunnah wal Jamaah berjalan dengan sangat baik di Tual," tuntas Kiai Said. 

Penulis: Emha Nabil Haroen 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 04 Agustus 2013

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Oleh: Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi

Muncul pada hari-hari ini di Timur Tengah sejumlah gerakan berturut-turut dimulai dari Tunisia yang menyebabkan jatuhnya sang presiden, lalu di Mesir dan tumbangnya presiden, kemudian terjadi di Yaman yang memakan waktu lama sehingga menyebabkan intervensi negara-negara kerjasama teluk, dan kemudian disepakati pengunduran diri presiden dan kekuasaan dilanjutkan oleh Presiden al Hadi. 

Di Libya, yang kasusnya juga berlarut-larut, dan saat itu menjadi bahan ejekan dan hasutan dari Presiden Muammar Gaddafi serta intervensi dari Barat dan Qatar dan negara-negara lain, dan gerakan itu menjalar ke tempat lain sampai ke Syria apa yang mereka sebut dengan Musim Semi Arab (Arab Spring), lalu Gaddafi pun terbunuh. Namun hal ini tidaklah mengakhiri masalah bahkan menjadi lebih buruk dan terus memburuk meninggalkan banyak orang mati dan pengungsi, ditambah lagi kehancuran massal dan tersebarnya rasa kebencian.

Dari hal di atas kita mencatat dua hal: Hal pertama menyangkut peran media, terutama sekali stasiun televisi Al-Jazeera dan al Arabiyyah, di mana peran mereka tidak terbatas pada penyebaran fakta-fakta apa yang terjadi, bahkan beralih perannya untuk mengarahkan dan menciptakan peristiwa, dan mengharuskan stasiun televisi dan saluran-saluran yang mengikutinya untuk menguasai seni berbohong, berlebihan dalam menyampaikan serta fabrikasi berita. 

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Dan peran dua saluran televisi berubah menjadi industri berita. Yang membuat orang Arab dan mereka yang mengikuti saluran ini terpengaruh terhadap apa yang disampaikan oleh saluran-saluran itu. Tampaknya pihak-pihak yang dimaksud telah mempercayakan kepada dua saluran ini untuk memimpin gerakan tersebut atas nama media tertentu.

Hal kedua adalah bahwa sebahagian tokoh-tokoh agama sebelumnya telah banyak disorot dan diberi posisi istimewa, ditambah pula orang-orang yang menempuh cara ini dari para sheikh/tetua (saya tidak mengatakan ilmuwan) berkontribusi dalam mempengaruhi publik dan mengarahkan peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan salah satu dari mereka meneriakkan hasutan untuk membunuhnya; dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh orang lain. Apa yang terjadi sebagai akibat dari itu?

Para Pemberontak itu tidak mencapai tujuan mereka, akan tetapi mereka yang telah merancang hal tersebut telah mendapatkan sebagian target yang mereka tuju. Yaitu terjadinya kekacauan di wilayah ini dan menjadi rebutan dan santapan lezat mereka yang  rakus dan tamak.

Ribath Nurul Hidayah

Saya berdiri disini bukan untuk menceritakan tragedi yang menyedihkan/memilukan. Saya hanya ingin -melalui keterangan ini- menjelaskan tanggungjawab seorang ‘Aalim yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Terutama sekali ketika ia melihat pertumpahan darah dan kerusakan yang luas, dan perpindahan jutaan orang dari rumah dan desa mereka, serta mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian. Lalu dirampas rasa aman dari mereka. Ditambah lagi penistaan kehormatan dan harga diri serta eksploitasi kebutuhan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan tidak memeiliki hati nurani dan bersukacita dalam kubangan fitnah ini.

Ribath Nurul Hidayah

Sungguh, beberapa tokoh ilmu kebanggaan umat telah jatuh ke dalam fitnah ini, menjadi penyebab banyak masyarakat tersesat jalan. Dan mereka ikut menjadi sebab terjadinya kekacauan ini yang mereka sebut sebagai jihad, padahal mereka adalah korban yang disebabkan kesesatan dan ketertipuan mereka sendiri.

Agar mereka bisa menempuh cara tersebut, mereka melandaskannya kepada beberapa hal. Pertama, mengkafirkan orang-orang yang berbeda (pendapat) dengan mereka, sebagaimana kaum khawarij mengkafirkan orang banyak dan menghalalkan darah mereka.

Kedua, menghembuskan problem pemilahan sectarian, yang juga berakhir dengan pengkafiran sekte yang berbeda. Kemudian seruan untuk memerangi mereka yang akan mengakibatkan perang saudara yang memanas.

Ketiga, dalam rangka untuk mencari jalan pintas dan mencari sutradara pertikaian ini, mereka menuduh para ulama yang konsisten (istiqomah) dengan berbagai macam tuduhan keji agar umat hilang kepercayaan. Dan mereka tidak ragu-ragu untuk memfitnah mereka dengan banyak kebohongan, dan mengejek mereka sebagai bentuk penghancuran karakter dan figur yang bisa mengembalikan situasi kepada takarannya dan dapat mengklarifikasi fakta. 

Hal ini sengaja dibuat agar umat kehilangan kepercayaan terhadap ulamanya dan hilang pula sopan santun terhadap para pemimpin dan orang-orang sholeh. Menjadikan mereka semakin jauh dari sisi kebenaran ditengah-tengah badai perbedaan yang menghantam. Bahkan, mereka ikut menghasut untuk membunuh para ulama tersebut.

Peran institusi dan ilmuwan di tengah perselisihan

Jika sebahagian ilmuwan kebanggaan merupakan bagian dari provokator dan promotor yang telah menyesatkan banyak masyarakat, maka para ulama yang mukhlishin yang harus meluruskan, dan menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah, dan mengawal rambu-rambu kebenaran.

Saya ingin katakan: seluruh Ulama memiliki tanggung jawab menjelaskan dan memunculkan kebenaran, dan memberikan nasehat kepada umat serta menjelaskan hukum serta sikap yang benar terhadap setiap peristiwa dan kejadian. Dan jangan ragu untuk memikul tanggung jawab ini, karena ancaman terhadap kehancuran bangsa dan membuat agama yang benar ini menjadi jelek dan terdistorsi merupakan hal yang sudah dirancang oleh musuh-musuh Islam, dan mereka memperalat para ilmuwan untuk mencapai tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: (Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para pemimpin di antara kalian. Dan jika kalian berselisih paham akan suatu hal, maka kembalikanlah (merujuklah) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Anda beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu (adalah) lebih baik dan sebaik-baik tempat kembali) An-Nisa: 59 , yakni Allah Taala telah memerintahkan kita -ketika terjadi perbedaan- untuk kembali kepada apa yang telah dijelaskan di dalam Qur’an dan Nabi Muhammad SAW yang mulia dalam sunnahnya. Dan Dia Allah tidak pernah menyerahkan (penyelesaiannya) kepada hawa nafsu dan fanatisme buta.

Sesungguhnya Fenomena yang disebut (Arab Spring/Musim Semi Arab) tidak lain hanyalah membuka jalan bagi munculnya kelompok-kelompok radikal yang menebar teror pembunuhan dan perusakan atas nama Islam.

Oleh karena itu, pengakuan beberapa pihak yang mengatakan bahwa mereka berjuang memerangi kelompok-kelompok teroris, bagi saya merupakan sikap bersikeras untuk tetap pada kesalahan pertama, dengan cara menyulut api fitnah dan memancing kekacauan, sebagai bentuk pelaksanaan langkah-langkah Free Masonry Internasional/Global, yang disebut oleh Rice dengan ‘kekacauan kreatif’.

Situasi ini mengharuskan para ilmuwan untuk melakukan peran dan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah Taala kepada mereka, baik dari sisi amar ma’ruf nahyi munkar, atau dari sisi dakwah kepada Allah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, atau dari sisi menjelaskan kebenaran dan menghapus kebingungan/kecauan pikiran yang menimpa pikiran orang-orang yang mengetahuinya.

Sungguh diamnya seorang ‘Aalim atas apa yang terjadi merupakan suatu kekurangan dan menyembunyikan kebenaran, dan merupakan salah satu sebab terus berlakunya kebathilan. Dan hal itu tidak pantas terjadi kecuali jika seseorang itu takut untuk melawan kebathilan. Atau barangkali dia termasuk orang-orang yang disifati oleh Allah SWT dalam firman-Nya: {dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata} al-Hajj: 11. 

Dan selayaknyalah seorang ‘Aalim memiliki sifat sebagaimana firman-Nya: (... dan akan Allah datangkan kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintai-NYA. Mereka lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut siapa pun yang mencela mereka. Demikian itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang IA kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui} al-Maaidah: 54.

Seorang ‘Aalim harus cemburu jika hilang rambu-rambu kebenaran dan khawatir jika umat tersesat. takut jika terjadi perselisihan dan konsekuensinya ... dari pertumpahan darah, kehancuran, dan perpindahan. Bukan ini yang telah terjadi?

Ini merupakan perbuatan dari sekelompok pemilik ilmu serta para ilmuwan yang rela menjadi alat menebar fitnah dan menjadi pengawalnya karena rakus dengan godaan keserakahan atau dengki pada orang-orang yang melihat mereka sebagai pesaing bagi mereka atau iri atas apa yang mereka dapatkan dari penerimaan di seluruh bumi.

Sesungguhnya hal yang lebih berbahaya dan lebih mengkhawatirkan lagi yaitu merajalelanya hawa nafsu pribadi di tengah-tengah masyarakat. Ini terkait dengan masa depan bangsa dan pernyataan kebenaran yang telah ternoda oleh gerakan-gerakan ini ...Ini juga terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan tidak menyembunyikan kebenaran. 

Bukan kah Allah telah berfiman dalam kitab-Nya: dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima) Ali Imran: 187. Dan bukan kah Allah telah mengingatkan para ulama tentang menyembunyikan kebenaran dengan firman-Nya: ((Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilanati Allah dan dilanati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melanati)) al-Baqarah: 159.

Penulis adalah Ketua Persatuan Ulama Suriah, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Putra Sayyid Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional ‘Peran Ulama dalam Meredam Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah’ yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Al-Syami), Kamis (10/3/2016) di Gedung Pascasarjana UI Salemba Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Anti Hoax, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Juli 2013

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Nyai Hajjah Siti Fatma, istri Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri? (Gus Mus), Kamis (30/6), pukul 14.30 WIB, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R Soetrasno Rembang, Jawa Tengah.

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh

"Semoga Allah mengampuni seluruh kekhilafannya dan menerima amal-amal baiknya yang luar biasa," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Kamis (30/6) malam, di Jakarta.

Menurutnya, Bu Fatma, panggilan akrab Nyai Hajjah Siti Fatma, telah banyak berkorban selama mendampingi KH A Mustofa Bisri baik ketika mengemban amanah sebagai wakil rais aam, pejabat rais aam PBNU, maupun pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.

Ribath Nurul Hidayah

"Beliau telah berjihad dengan penuh pengorbanan sebagai perempuan muminah, shalihah, mustaqimah, hingga Gus Mus berhasil dalam menjalankan kiprahnya di NU dan mengayomi umat secara luas. Beliau patut kita contoh," kesannya.

PBNU, kata Kiai Said, menginstruksikan kepada seluruh pengurus NU di tingkat wilayah, cabang, anak cabang, hingga ranting untuk menggelar shalat ghaib dan tahlil sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Bu Fatma.

Ribath Nurul Hidayah

Jenazah Bu Fatma saat ini sudah berada di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Jalan KH Bisri Mutofa, Leteh, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Rencananya, jenazah akan dikebumikan pada Jumat (1/6), pukul 13.30 WIB, di Pemakaman Kabongan Kidul, Kecamatan Rembang.

Bu Fatma meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit sejak Selasa (28/6/2016) pagi karena menderita sesak napas. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Budaya, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 18 Juni 2013

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Dalam catatan sejarah, Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa memiliki peran memperjuangkan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, Pagar Nusa juga telah peran? sertanya mengisi kemerdekaan dan mempertahankan NKRI.

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk  NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI

Hal ini disampaikan Panglima TNI Jendral Moeldoko melalui sambutan tertulis? yang dibacakan Asisten Teritorial Mayjen TNI Ngk. GD. Sugiartha G, SH dalam acara Apel Akbar Kesetiaan NKRI Pagar Nusa di lapangan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/3).

?

"Saya berharap PN (Pagar Nusa) dapat terus melakukan pengabdiannya kepada? NKRI dalam menghadapi berbagai permasalahan baik sekarang maupun di masa yang akan datang," ajak Moeldoko.

?

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Moeldoko, sebagai bagian dari komponen bangsa, Pagar Nusa harus mempunyai kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap kemajuan dan perkembangan bangsa.? Caranya dengan? memberdayakan sumber daya manusia melalui kegiatan menanamkan pondasi mental agama dengan akhlakul karimah sejak usia dini untuk menunjang masa dewasa.

?

"Peran ini sangat penting karena akan melahirkan kader-kader bangsa yang mempunyai ketahanan yang kuat menghadapi tantangan ke depan, serta memberikan pola pikir positif terhadap pengaruh lingkungan yang sangat dinamis. Sehingga bangsa ini mempertahankan jati dirinya di masa kini dan masa depan," ujar Moeldoko.

?

Ribath Nurul Hidayah

Jenderal TNI ini mengatakan, era globalisasi membawa pengaruh baik dan buruk. Berbagai implikasi positif bisa dijadikan peluang kemajuan bangsa. Sebaliknya, implikasi negatif harus ditangkal sehingga tidak menjadi persoalan luas.

?

"Salah satu? dampak negatifnya, munculnya paham radikalisme dan terorisme dunia yang menembus bangsa Indonesia. Hal ini harus kita waspadai, kita cegah bahkan kita hadapi, supaya tidak merusak tatanan kehidupa bangsa Indonesia," tandasnya.

?

Saat ini, tutur dia, dunia telah dihadapkan adanya paham radikal yang perkembangannya sangat cepat. Misalnya, di Timur Tengah munculnya Arab Spring di Tunisia, serangan Israel di Gaza dan paham ISIS dengan? sepak terjangnya sangat keras dan kejam membunuh? setiap orang yang tidak sepaham.

?

"Paham ini telah meningkat signifikan baik secara kuantitas maupun kualitas dengan jaringan yang tersebar di seluruh dunia. Gerakan ini menjadi ancaman faktual bagi bangsa-bangsa dunia termasuk Indonesia," kata Moeldoko lagi.

?

Oleh karena itu, lanjut dia, keikutsertaan komponen bangsa termasuk Pagar Nusa sangat diperlukan ikut berperan aktif menangani paham radikalisme. Ia menegaskan segenap paham radikalisme dan ISIS adalah musuh bersama yang tidak boleh berkembang di Indonesia.

Menurutnya, untuk mencegah kondisi demikian, kehidupan kemasyarakat kita bina secara terpadu, dimulai dari lingkungan yang paling kecil. Yakni dengan meningkatkan hubungan persaudaraan yang kokoh dalam satu kesatuan kebersamaan tanpa membeda-bedakan.

“Tingkatkan kepedulian, kepekaan secara cepat dan profesional arif dan bijaksana sehingga terbangun hubungan yang baik antara umat Islam dan umat lain yang menjadi kunci persatuan dan kesatuan bangsa," harap Moeldoko yang pada kesempatan itu berhalangan hadir karena mendampingi Presiden Jokowi ke luar negeri. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 Juni 2013

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MA Matholiul Huda Bugel Kedung, Jepara, mengadakan kegiatan Masa Taaruf Siswa Baru (Matasba) sekaligus Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di madrasah setempat. Sasarannya adalah para peserta didik baru pada tahun ajaran ini.

Ketua PK IPNU MA Matholiul Huda Fauzan Marzuqi mengatakan, acara digelar untuk mengenalkan siswa baru pada madrasah yang berbasis Aswaja, juga mengenalkan organisasi IPNU-IPPNU sebagai wadah berhimpun, berkomunikasi, dan beraktualisasi para pelajar NU.

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara

Kegiatan yang berlangsung 28- 29 Juli 2015 itu merupakan realisasi progam dari PK IPNU-IPPNU MA Matholiul Huda Bugel periode 2015-2016. Matasba dan Makesta diikuti 400 murid baru yang terdiri dari 244 siswa putri dan 156 siswa putra.

Ribath Nurul Hidayah

“Materi dalam Makesta yang disampaikan oleh Pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara, dikenalkan sejarah lahirnya IPNU-IPPNU serta motivasi berorganisasi," tutur Shelly Anggita Putriyani ketua PK IPPNU MA Matholiul Huda.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam Makesta juga terdapat prosesi pembaiatan. Setelah prosesi pembaiatan anggota diharuskan untuk bertanda tangan di atas kain putih yang terbentang didepan Madrasah dilanjutkan siraman air kembang tujuh rupa dan mencium bendera IPNU-IPPNU sebagai bentuk hormat dan siap menjadi kader NU dalam menjaga martabat NU, Aswaja, Islam, NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

"Air kembang 7 rupa memiliki filosofi bahwa kembang itu memberikan keharuman yang alami dan angka 7 itu memiliki arti pitulungan (pertolongan). Jadi kader IPNU-IPPNU siap mengharumkan NU dan NKRI dengan selalu mengharap pertolongan dari Allah SWT," tambah Afandi, wakil sekretaris PC IPNU Jepara.

Para Pembina IPNU-IPPNU setempat mendukung penuh kegiatan ini. Selain untuk menambah keakraban antarsiswa, juga untuk mengenalkan siswa baru tentang aturan-aturan yang harus ditaati bersama di madrasah ini. (Muhammad MS/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Lomba, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 Mei 2013

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Ansor dan Banser di semua tingkatan dalam melaksanakan programnya diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintahan. Tak terkecuali di tingkat Ranting banom NU harus bersinergi dengan pemerintahan Desa.

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar

Ketua PAC Ansor Karang Tengah Muh Bardi mengatakan, dalam bersinergi dengan pemerintah di setiap program organisasi tidak tumpang tindih atau asal asalan. Terlebih bidang garapannya adalah kepemudaan yang menjadi prioritas utama organisasi.

”Setelah dilantik, tolong segera buat program yang berorientasi ke anak anak remaja dan pemuda, serta harus bersinergi dengan pemerintah desa,” katanya saat sambutan pada pelantikan pengurus Ranting Ansor dan Banser Pidodo, Kecamatan Karang Tengah di halaman masjid Baitul Muttaqin pada Ahad (22 /1).

Selain pelaksanaan program yang sudah dicanangkan organisasi, Muh Bardi mengharapkan kader dan pengurus organisasi untuk selalu menjaga kekompakan sehingga program bisa berjalan dengan lancar dan bermanfaat bagi umat.

“Agar program sahabat sahabat berjalan dengan baik, organisasi juga sehat perlu kiranya selalu menjaga soliditas dan solidaritas. Makanya harus saling komunikasi dan silaturrahim” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Tampak hadir pada pelantikan pengurus yang dikemas dengan peringatan Maulidurrasul dan haul Syaich Abdul Qodir Jailani itu, Ketua MWC Karang Tengah K Muchlas Zaen, kepala Desa serta tokoh masyarakat setempat serta pengurus PAC Ansor dan Banser. (A.Shiddiq Sugiarto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sejarah Ribath Nurul Hidayah