Rabu, 21 Juli 2010

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan

Solo, Ribath Nurul Hidayah. IAIN Surakarta pada Kamis (20/12) malam, sedikit berbeda. Betapa tidak, kampus yang biasanya sudah sepi di sore hari, karena kelarnya proses perkuliahan, malam itu dibanjiri setidaknya dua ribu jamaah.

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan

Bakda sembayang Isya, kira-kira pukul delapan, jamaah dari wilayah Surakarta dan sekitarnya mulai memenuhi aula besar IAIN Surakarta. Mereka datang dengan mengenakan busana beragam untuk menghadiri dzikir dan Shalawat sekaligus peluncuran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) JQH Al-Wustho IAIN Surakarta. 

Acara dimulai dengan pembacaan syair-syair yang ada dalam kitab al-Barjanzi, diiringi rebana, alat musik pukul, yang salah satu jenisnya dikenal dengan sebutan hadroh. Dipimpin grup Hadroh JQH Al-Wustho, para jama’ah khusuk mengumandangkan syair-syair pujian untuk Nabi Muhammad SAW

Ribath Nurul Hidayah

Dilanjutkan dengan peresmian Unit Kegiatan Mahasiswa Jamiatul Qurra wal Huffadz (UKM JQH) Al-Wustho IAIN Surakarta. UKM tersebut didirikan untuk menjadi ruang kreasi mahasiswa dalam bidang seni, khususnya shalawat, tilawatil Qur’an, dan kaligrafi.

Ribath Nurul Hidayah

Ketika sesi ceramah tiba, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengawali tausiah dengan meminta grup hadrah yang ada dihadapannya membawakan lagu Aa Gym yang pernah populer beberapa tahun lalu, Jagalah Hati. Noval minta lagu tersebut diiringi dengan rebana, namun para pemusik grup hadroh JQH Al-Wustho canggung, belum pernah mengiringi lagu tersebut dengan rebana.

Saat itulah, Noval mengatakan bahwa musik, khususnya rebana, merupakan bagian yang sangat penting dari kebudayaan umat Islam.

"Musik khususnya rebana merupakan thariqah, salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan, Nabi Muhammad SAW selalu membawa anjasah atau munsyid ke manapun beliau pergi. Rasulullah juga menampakkan kegembiraannya ketika seorang wanita menunaikan nadzarnya dengan menabuh rebana di hadapan beliau," begitu pimpinan Majlis Dzikir dan Ilmu Ar-Raudhoh, Solo, memaparkan tentang rebana. 

Dia mengingatkan, karena rebana dan shalawat itu penting, para penabuh rebana dan vokalis shalawat seharusnya tidak bersenda gurau atau bercakap-cakap ketika bershalawat. "penabuh rebana dan vokalis jangan bercanda saat membawakan shalawat," ujarnya.

Pemusik, kata Noval, harus menghadirkan rasa dan hati, membayangkan seolah sosok Rasulullah Muhammad SAW hadir di hadapannya. 

"Bayangkan kegembiraan masyarakat Madinah al-Munawarah saat menyambut hijrah Rosululloh. Dengan begitu, hadirin juga akan terbawa ke dimensi yang berbeda. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Kedekatan dengan Sang Khalik dan kekasih-Nya yang menyebabkan air mata tidak terbendung, mulut ingin berteriak lantang memuji kebesaran Rasulullah Muhammad. Jika sudah seperti itu, maka nur Illahiah akan lebih mudah masuk di dalam hati," lanjutnya.

Selain berbicara musik, malam itu Noval mengupas tentang pentingnya cinta dalam kehidupan. 

Redaktur      : Hamzah Sahal

Kontributor  : Pekik Nursasongko

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Juli 2010

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Setiap menjelang penetapan jatuhnya hari raya atau lebaran, atau penetepan awal puasa yang dilakukan pemerintah melalui sidang istbat, masyarakat selalu ramai menunggu dengan memelototi media televisi maupun media online.

Dalam menentukan awal puasa dan jatuhnya hari lebaran bagi kaum muslim itu, pemerintah juga menunggu laporan berbagai petugas, ormas maupun tim yang berada di lapangan untuk melakukan rukyatul Hilal.

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Di samping tim falak, ada sekelompok orang dari awak media yang ikut berperan dalam perburuan hilal, bulan sabit tanda awal bulan hijriyah. Mereka adalah kaum jurnalis. Para wartawan ini juga berperan besar menyampaikan kabar tentang keberadaan hilal melalui media masing masing, baik televisi, radio maupun online.

Ribath Nurul Hidayah

Tugas para wartawan ini sering kali luput dari pantauan, meski sering dipandang miring oleh sebagian masyarakat. Padahal, untuk berburu warta soal hilal, mereka seperti tidak mengenal lelah, rela meninggalkan rumah, anak istri keluarga untuk memberitakan fakta.? Sedangkan masyarakat bisa menunggu kabar keberadaan hilal, di depan televisi, radio, mapun hanya menggemgam telepon seluler.

Jurnalis pemburu iilal ini harus ikut menuju lokasi di mana tim rukyat dari lembaga falak Kementerian Agama, MUI, maupun ormas seperti NU dan Muhamadiyah yang biasanya sangat jauh dari kota. Terkadang di pinggir pantai, dan tidak jarang di puncak dataran tinggi.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan mebawa peralaan yang cukup berat, berupa kamera dan yang lainnya, rasa nyaman bisa berkumpul dengan keluarga, rasa? haus, lapar terkesampingkan, demi memberikan kabar baik yang sudah ditunggu ribuan bahkan jutaan masyarakat Muslim di penjuru Nusantara dan juga dunia.

Di akhir bulan puasa Ramadhan yang sangat mulia, kita semua bisa berdoa, mereka awak media, wartawan pekerja media diberi kekuatan diberi keberkahan. Sehingga puasanya amal ibadahnya diterima Allah SWT dan menjadikannya? memudahkan untuk masuk surga. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Khutbah, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Juli 2010

Saat Banser Mencabut Katana

Oleh Teguh Kurniawan





Saat Banser Mencabut Katana (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Banser Mencabut Katana (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Banser Mencabut Katana

Sebagai negara dengan mayoritas muslim, Indonesia beruntung memiliki NU. Ormas yang oleh Muhammad Rizieq Syihab dalam video ceramah di madinah di sebutnya sebagai kelompok tradisionalis. Berbicara komitmen terhadap bangsa, NU terbukti ikut berdarah mendirikan bangsa ini. 

Berbicara jumlah massa dan khazanah keilmuan Islam, saya bertaruh anak-anak muda NU yang belajar di Pondok Pesantren itu jauh lebih mumpuni dibanding Felix Siauw. Mereka belajar Islam dari sumber babon, ilmu tafsir, bahasa arab dan gramatikalnya, kitab fiqih lintas madzhab, ilmu hadits hingga sex education adalah makanan mereka sehari hari di Pondok Pesantren.

Kematangan pengetahuan agama, militansi jamaah, jumlah anggota, dan memiliki garis komando jelas adalah keunggulan NU yang sulit di tandingi oleh organisasi Islam manapun. Tetapi NU tidak jumawa, komitmennya selaras dengan amanah pendiri bangsa ini menjadi negara bangsa bukan negara agama. Dengan segala kelebihannya, NU adalah benteng akhir pertahanan bangsa ini. Dan ruh itu yang di jaga NU, digaungkan dalam marsnya Ya lal wathon :

Ribath Nurul Hidayah

 

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon/ Hubbul Wathon minal Iman/ Wala Takun minal Hirman/ Inhadlu Alal Wathon / Indonesia Biladi / Anta ‘Unwanul Fakhoma / Kullu May Ya’tika Yauma/ Thomihay Yalqo Himama/ Pusaka Hati Wahai Tanah Airku/ Cintaku dalam Imanku/ Jangan Halangkan Nasibmu/ Bangkitlah Hai Bangsaku/ Indonesia Negriku/ Engkau Panji Martabatku/ Siapa Datang Mengancammu/ Kan Binasa di bawah dulimu

Belakangan ini situasi tanah air mengharuskan kekuatan NU untuk kembali bangkit. Selama ini NU lebih banyak diam ketika dalam banyak kesempatan kelompok Islam anyaran seperti HTI terus-menerus menuding kaum selain mereka sebagai kafir. Dengan seenaknya mereka memvonis negeri ini sebagai negeri thoghut dan kafir, tidak pakai hukum Allah. Gerakan Islam Nusantara dihujat, NU sebagai jamaah liberal, penyembah kubur, tukang bid’ah, bahkan gelombang fitnah dialamatkan pada pucuk pimpinan NU, tetapi NU masih bersabar.  

Ribath Nurul Hidayah

Namun saat provokasi ini mengancam integrasi bangsa dan eksistensi Pancasila, maka anak muda NU saatnya bergerak. Mereka bangkit melawan, musuh mereka adalah kelompok unyu-unyu pemimpi basah khilafah dan kelompok penebar benih radikalisme. Banser dan GP Ansor menunjukkan kekuatannya menjadi penjaga NKRI. Di Makassar mereka bentrok dengan HTI. Di Bogor dan Jakarta mereka menolak forum internasional khilafah HTI.

Di Jombang, Tulungagung, Jember, Sidoarjo dan Surabaya sudah menyatakan dengan keras tidak memberi ruang bagi HTI dan ormas anarkis di Jatim. Di Cilacap, Banser dan GP Ansor menyerukan HTI untuk kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Di Semarang mereka menolak perilaku ormas anarkis. Di Takalar GP Ansor dan Banser, gagalkan konvoi HTI. Di Bandung, mereka menolak deklarasi HTI. Di Purbalingga, GP Ansor dan Banser hampir saja bentrok dengan HTI. Di Rembang sikapnya sama usir kelompok pemimpi khilafah

Berpuluh tahun NU menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia dalam kerangka agama yang sejuk dan berwibawa. NU ibarat klan keluarga Samurai Katsumoto dalam film The Last Samurai. Mereka adalah orang orang yang tidak pernah melupakan cikal bakal mereka, mereka setia pada tanah kelahiran, adat istiadat, dan juga leluhur mereka. Jika kemudian NU melalui Ansor dan Banser sudah bergerak mengangkat Katana-nya, artinya isyarat bangsa sedang terdzolimi. Benih radikalisme, bibit disintegrasi bangsa, sikap intoleran, ungkapan kebencian berjamur di mana-mana. 

Bukan Banser jika hanya diam, mereka bergerak serentak menunjukan taringnya. Hal itu yang kemudian membuat orang yang membenci Pancasila dan memimpikan negara Islam merengek, lebih tepatnya mengembik. Mereka melancarkan gelombang Fitnah pada Banser, video dan beragam fitnah dilancarkan dengan masif. 

Banser berjuang sendiri, dengan kesederhanaannya. Saya membayangkan saat orang seperti Kang Nen membubarkan konvoi khilafah mungkin dikantungnya hanya ada dua batang rokok dan uang untuk beberapa liter bensin, tapi untuk Indonesia Kang Nen melakukan dengan gembira. 

Ancaman terhadap NKRI sudah begitu nyata, kelompok radikalis dan pro khilafah telah masuk dengan masif hingga sekolah menengah, saat ini Banserlah pilar yang tersisa ketika gelombang virus radikalisme menyerbu negeri ini. Menyatukan kelompok pro khilafah ini dengan NU, rasanya tidak mungkin. Keislaman NU berakar pada tradisi, sedang mereka beragama dengan insting menaklukan. 

Satunya-satunya jalan negara harus memilih, NU yang telah terbukti komitmennya atau mereka yang ingin mengganti ideologi negara. Berharap anak-anak muda NU untuk mundur mengalah, tidak ada cerita Banser mundur perang. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah gambaran keberanian Banser. Pada masa ini HTI dan ormas yang mempunyai kecenderungan anarkis lahir saja belum.  

Namun membiarkan Banser berjuang sendiri rasanya tidak bijak. Kita harus hadir berdiri bersama mereka. Kita tidak ingin adegan terakhir dalam film The Last Samurai terjadi. Teringat sebuah adegan dalam Film itu saat Nathan Algreen memberikan Katana dari klan Samurai Katsumoto yang gugur di medan perang.

Pada saat menerima Katana itu Kaisar baru menyadari bahwa pemerintah telah mengorbankan hal paling berharga dari bangsanya yaitu akar budayanya sendiri. Kita tidak ingin menitikkan air mata saat menyaksikan Katana Banser Samurai terakhir penjaga bangsa ini diserahkan. 

Saatnya kita berdiri bersama Banser ikut menjaga bangsa ini melawan radikalisme dan intoleransi. Membantu sebisa kita jangan biarkan Banser sendiri, bergandengan tangan nengucapkan kalimat Kaisar dalam film The Last Samurai, "We can be modern country, we are wearing western clothes, we have railway, but we cannot forget WHO WE ARE."  Kang Nen, salam hangat secangkir kopi untukmu.

Ini adalah bagian dari artikel lama saya yang saya potong. Tulisan ini saya buat hampir setahun lalu berjudul "Banser The Last Samurai" seiring maraknya gelombang fitnah untuk Banser pasca insiden kaburnya Felix Siauw yang menolak menandatangani surat pernyataan setia pada Pancasila. Saya rasa tulisan ini relevan.

Penulis adalah Konsultan Media dan Aktivis Sosial.

*) Atas persetujuan penulis, tulisan opini di atas telah mengalami pengeditan di beberapa paragraf yang menyebut kata FPI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 14 Maret 2010

Pameran Potensi Desa Bisa Tingkatkan Investasi ke Desa

Cianjur, Ribath Nurul Hidayah. Dengan menghadirkan pemerintah daerah dan perbankan yang menjadi mitra Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi, Pameran potensi desa ke IV yang diselenggarakan di Cianjur diharapkan bisa meningkatkan investasi ke desa-desa.

Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Anwar Sanusi menjelaskan, bahwa pameran potensi desa merupakan ajang promosi dan sosialisasi, sebagai ajang pembangunan potensi di daerah perdesaan.

Pameran Potensi Desa Bisa Tingkatkan Investasi ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pameran Potensi Desa Bisa Tingkatkan Investasi ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pameran Potensi Desa Bisa Tingkatkan Investasi ke Desa

"Dengan adanya pameran potensi desa ini, secara tidak langsung akan ada interaksi dan komunikasi antar-daerah dan beberapa perbankan yang menjadi mitra kementerian, sehingga  bisa berdampak positif pada masyarakat desa," ujar Anwar Sanusi dalam sambutannya di Cianjur, Kamis (15/10).

Ribath Nurul Hidayah

Dari beberapa pameran potensi desa yang sudah diselenggarakan, imbuh Anwar, sudah banyak beberapa daerah yang merasakan efek positif dari pameran yang diselenggerakan Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi.

Ribath Nurul Hidayah

"Ini pameran yang keempat, dari pameran-pameran sebelumnya sudah ada beberapa desa yang berhasil menarik investor untuk berinvestasi di desa," tandasnya.

Anwar juga menjelaskan alasan kenapa Cianjur dipilih sebagai tuan rumah pameran potensi desa Ke-4 di tahun 2015 ini. "Cianjur memiliki potensi luar biasa di bidang pertanian, perkebunan, peternakan,  dan industri kerajinan. Dan Cianjur juga merupakan salah satu lumbung padi di Indonesia," papar Anwar.

Sementara itu, Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh berharap dengan adanya pameran potensi desa, desa-desa yang ada di Cianjur bisa mengembangkan potensi secara mandiri. Pasalnya, di masa akan datang desa akan menjadi garda depan dalam pembangunan wilayah.

"Oleh karena itu, masyarakat desa di dorong untuk menginisiasi, memprakarsai pembangunan desa secara langsung dengan mengacu keberagaman potensi desa yang menjadi kekuatan pendukung dalam pembangunan desa," ujar Tjetjep.

Potensi unggulan kabupaten Cianjur, menurut Tjetjep didominasi sektor pertanian yang mencapai 37 persen tanaman pangan. "Selain itu ada juga sektor pariwisata, perkebunan dan industri kreatif," imbuhnya.

Sebagai informasi, pameran potensi desa ke IV yang diselenggarakan di Cianjur diikuti oleh beberapa pemerintah kabupaten seperti, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, Kabupaten Kendal, Kabupaten Klaten, Kabupaten Dogiyai, Papua, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Sulawesi Utara yang mengkordinir 10 Peserta yang terdiri atas Mitra Kabupaten, Kabupaten Boltim, Kabupaten Bolmong, Kabupaten Minut, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Minahasa, Kota Manado, dan Kotamobagu.

Selain dari pemerintah daerah, peserta pameran potensi desa juga datang dari sektor perbankan mitra kementerian yaitu Bank BTN, juga UMKM dari Jawa Timur. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 13 Maret 2010

Jangan Jadikan Konferensi Sebagai Program Unggulan

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Ketua PWNU Jateng H Moh Adnan menghimbau kepada jajaran PCNU hingga ranting di Brebes agar meningkatkan aktivitas kegiatan organsasi. Sebab esensi dari kepemimpinan yang kuat terbukti dengan adanya aktivitas yang membawa barokah.



Jangan Jadikan Konferensi Sebagai Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Jadikan Konferensi Sebagai Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Jadikan Konferensi Sebagai Program Unggulan

“Esensi jiwa leadership, terbukti dengan aktivitas yang membawa barokah,” ungkap Adnan saat membuka Konfercab NU Brebes Sabtu malam (26/7) di pondok pesantren modern Al Falah Sofwaniyah Desa Jatirokeh Kec. Songgom Brebes.

Adnan berharap, pemimpin NU juga memiliki jiwa sensitif kepada keinginan anggota, bukan keinginan pribadi pemimpin itu. Di samping itu juga harus memiliki responsibility yang tinggi terhadap semua elemen NU.

Ribath Nurul Hidayah

Adnan menekankan kepada jajaran NU Brebes agar meningkatkan program pendidikan, pengembangan ekonomi dan dakwah islamiyah yang aswaja. “Jangan sampai, konferensi dijadikan program unggulan. Sementara program lainnya tidak ada,” ungkapnya disambut tertawa hadirin.

Ribath Nurul Hidayah

Adnan sangat bangga manakala momentum konferensi dijadikan ladang penanaman solidaritas antar PC hingga ranting bahkan sampai ke nahdliyin per individu. Pasalnya, gejala menurunnya sikap taawun (tolong menolong) dan itihad mulai meluntur. “Semangat ukhuwah nahdliyah, Islamiyah, wathoniyah, basyariyah dan insaniyah, kini mulai luntur,” ucap Adnan yang selanjutnya memukul Bedug sebagai tanda Konfercab di buka.

Senada dengan Adnan, Wakil Bupati Brebes H Agung Widiyantoro saat memberi sambutan juga menghimbau agar perhelatan konfercab mampu menguatkan peran NU di masyarakat bukannya sabagai pemecah belah. Sehingga jatidiri NU bisa terbukti. “Tunjukan jatidiri NU kokoh, meski warga NU ada di dalam kendaraan politik yang berbeda-beda,” ujarnya.

Lewat konfercab, Wabup juga berharap agar terjapai sistem manajemen yang tangguh, sehat, profesional. Untuk mewujudkannya, diera sekarang diperlukan transparansi, akuntabilitas yang dilandasi akhlakul karimah. “Dengan baju seragam NU, segala pikiran, perilaku kita seragamkan untuk kebesaran NU,” ajaknya..

Pun demikian dengan Athoillah, berharap agar konfercab NU bisa dijadikan sarana silaturokhmi antara pengurus dan anggota NU se Brebes. Dan yang lebih utama, mampu memberi dampak positif. “Jangan sampai Konfercab ini malah jadi ajang perseteruan atau perselisihan. Pasalnya bisa merugikan NU secara institusional maupun individu,” ungkap Atho mengingatkan.

Dia mencontohkan, perselisihan PKB Gus Dur dan Muhaimin. “Bahkan Gus Dur kini tidak lagi membaca asmaul husna sampai 99 tapi cuma 98 karena Ya...Muhaimin-nya ditinggal,” seloroh Athoillah disambut tertawa hadirin.

Konfercab diikuti 309 utusan ranting dari 346 ranting yang ada, dan 16 ranting dari 17 ranting ada. “37 Ranting dan 1 MWC tidak memiliki hak suara dan hanya sebagai peninjau akibat belum memiliki SK Kepengurusan yang definitif,” ungkap Ketua Panitia H. Asmuni. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 08 Maret 2010

Keterbelakangan Ekonomi, Tantangan Besar Masyarakat

Jember, Ribath Nurul Hidayah - Salah satu tantangan  terbesar  masyarakat  dewasa ini adalah keterbelakangan ekonomi. Sejak lama, hal tersebut menjadi tantangan dan  perhatian banyak kalangan, namun belum juga  teratasi. Indikasinya, warga yang  berada di bawah garis  kemiskinan, masih cukup bejibun, termasuk di Jember.

Demikian diungkapkan Pembina Pelopor Kabupaten Jember H Misbahus Salam saat memberikan sambutan dalam  Sarasehan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Pendopo Kecamatan Kaliwates, Sabtu (6/1).

Keterbelakangan Ekonomi, Tantangan Besar Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Keterbelakangan Ekonomi, Tantangan Besar Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Keterbelakangan Ekonomi, Tantangan Besar Masyarakat

Menurut H MIsbah, untuk mengatasi keterbelakangan ekonomi tersebut, kreativitas dan kejelian  masyarakat dalam membaca peluang bisnis sangat diperlukan.

Ribath Nurul Hidayah

"Selain itu, pemerintah juga wajib memperioritaskan program-program kerakyatan yang bersifat pemberdayaan," ucap Wakil Ketua PCNU Jember itu.

Ketua Pelopor Jember H Fathorrozi menegaskan, pihaknya menyambut baik 22 program Bupati Jember yang beberapa di antaranya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat, misalnya warung berjaringan, kampung industri dan sebagainya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, peluang tersebut perlu disikapi dan ditangkap dengan baik oleh masyarakat. Bagi  warga yang jeli dan punya inisiatif tidak ada alasan untuk tidak menangkap peluang tersebut.

"Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang yang ada, dan kami siap  memfasilitasi," jelas Ketua Parga Nusa Kabupaten Jember itu.

Sarasehan yang dihelat oleh Pelopor Jember itu menampilkan pembicara yang kompeten di bidangnya. Di antaranya adalah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten  Jember, Anas Maruf. Pesertanya adalah masyarakat umum dan puluhan pelaku Usaha Kecil Mengah (UKM). (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 12 Januari 2010

GUF 2016 Bahas Peran Pemuda dalam Upaya Perdamaian Dunia

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Global Unity Forum (GUF) 2016, adalah pertemuan pemuda dan tokoh lintas agama. Diinisiasi oleh PP GP Ansor, digelar di Jakarta, Kamis (12/5).

Forum ini diselenggarakan atas dasar keprihatian GP Ansor melihat terjadinya konflik yang mengatasnamakan agama, yang masih saja terjadi di era ini. Juga merupakan langkah awal PBNU dalam merealisasikan isi Deklarasi NU hasil International Summit of The Moderate Leaders (Isomil).

GUF 2016 Bahas Peran Pemuda dalam Upaya Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
GUF 2016 Bahas Peran Pemuda dalam Upaya Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

GUF 2016 Bahas Peran Pemuda dalam Upaya Perdamaian Dunia

Baca: http://www.nu.or.id/post/read/68146/soal-perdamaian-dunia-gus-yahya-sebut-islam-moderat-jalan-menuju-cahaya

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, H Yaqut Cholil Coumas (Gus Tutut) dalam pidato sambutan menyampaikan bahwa agama mengandung paradoks, di satu sisi sebagai alat perdamaian, tetapi di sisi lain ada yang menggunakan agama sebagai alat penghancuran.?

Sepanjang sejarah, sebut Gus Tutut, nilai-nilai luhur agama telah menjadi inspirasi bagi kemanusiaan dan peradaban. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa agama dapat digunakan sebagai alat yang efektif bagi sebuah keserakahan dan penaklukan. Sejarah Islam, demikian juga Krisren, menunjukkan bukti dari fakta tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Peristiwa Rohingnya di Myanmar, dan perilaku Jepang saat terjadi Perang Dunia II, memberikan gambaran bagaimana agama Budha dan Shinto telah digunakan untuk tujuan yang sama. Demikian juga Hindu, pada kasus Mahatma Gandhi, tokoh yang mengajarkan perdamaian di India, dibunuh oleh penganut Hindu garis keras.

Menurut Gus Tutut, konflik atas nama agama berakar dari sifat manusia, dan kecenderungan pemeluk agama melihat diri mereka sebagai kelompok eksklusif, yang berbeda dan lebih unggul dari agama lain.

Jika kita ingin mengakhiri siklus kekerasan primordial atas nama agama, lanjut Gus Tutut, kita harus mengakui, banyak tradisi keagamaan yang mendorong pengikutnya untuk memahami agama secara sempit, dan diskriminasi terhadap orang lain.?

Ribath Nurul Hidayah

Bagian dari masyarakat yang harus dilindungi adalah para pemuda. Adalah tidak mungkin bisa melindungi para pemuda dari ajakan ektremisme dan kekerasan tanpa mengubah persepsi tentang agama itu sendiri.?

GUF 2016 menghadirkan pembicara KH Luthfi Thomafi (NU, Indonesia), Aisha Virginia Gray Hanry (Founder dan Director Fons Vitae, Amerika Serikat), Samuel Tadros (Coptic Christian, Senior Fellow at the Hudson Institute’s Center for Religious Freedom)), dan Rabbi Mordechai Avtzon (The Chabad of Hong Kong and China Region).?

Ada pun peserta antara lain perwakilan pemuda dari GP Ansor, Pemuda Katolik, Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah), dan Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi). (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Kyai, Santri Ribath Nurul Hidayah