Selasa, 18 Juni 2013

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Dalam catatan sejarah, Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa memiliki peran memperjuangkan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, Pagar Nusa juga telah peran? sertanya mengisi kemerdekaan dan mempertahankan NKRI.

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk  NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI

Hal ini disampaikan Panglima TNI Jendral Moeldoko melalui sambutan tertulis? yang dibacakan Asisten Teritorial Mayjen TNI Ngk. GD. Sugiartha G, SH dalam acara Apel Akbar Kesetiaan NKRI Pagar Nusa di lapangan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/3).

?

"Saya berharap PN (Pagar Nusa) dapat terus melakukan pengabdiannya kepada? NKRI dalam menghadapi berbagai permasalahan baik sekarang maupun di masa yang akan datang," ajak Moeldoko.

?

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Moeldoko, sebagai bagian dari komponen bangsa, Pagar Nusa harus mempunyai kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap kemajuan dan perkembangan bangsa.? Caranya dengan? memberdayakan sumber daya manusia melalui kegiatan menanamkan pondasi mental agama dengan akhlakul karimah sejak usia dini untuk menunjang masa dewasa.

?

"Peran ini sangat penting karena akan melahirkan kader-kader bangsa yang mempunyai ketahanan yang kuat menghadapi tantangan ke depan, serta memberikan pola pikir positif terhadap pengaruh lingkungan yang sangat dinamis. Sehingga bangsa ini mempertahankan jati dirinya di masa kini dan masa depan," ujar Moeldoko.

?

Ribath Nurul Hidayah

Jenderal TNI ini mengatakan, era globalisasi membawa pengaruh baik dan buruk. Berbagai implikasi positif bisa dijadikan peluang kemajuan bangsa. Sebaliknya, implikasi negatif harus ditangkal sehingga tidak menjadi persoalan luas.

?

"Salah satu? dampak negatifnya, munculnya paham radikalisme dan terorisme dunia yang menembus bangsa Indonesia. Hal ini harus kita waspadai, kita cegah bahkan kita hadapi, supaya tidak merusak tatanan kehidupa bangsa Indonesia," tandasnya.

?

Saat ini, tutur dia, dunia telah dihadapkan adanya paham radikal yang perkembangannya sangat cepat. Misalnya, di Timur Tengah munculnya Arab Spring di Tunisia, serangan Israel di Gaza dan paham ISIS dengan? sepak terjangnya sangat keras dan kejam membunuh? setiap orang yang tidak sepaham.

?

"Paham ini telah meningkat signifikan baik secara kuantitas maupun kualitas dengan jaringan yang tersebar di seluruh dunia. Gerakan ini menjadi ancaman faktual bagi bangsa-bangsa dunia termasuk Indonesia," kata Moeldoko lagi.

?

Oleh karena itu, lanjut dia, keikutsertaan komponen bangsa termasuk Pagar Nusa sangat diperlukan ikut berperan aktif menangani paham radikalisme. Ia menegaskan segenap paham radikalisme dan ISIS adalah musuh bersama yang tidak boleh berkembang di Indonesia.

Menurutnya, untuk mencegah kondisi demikian, kehidupan kemasyarakat kita bina secara terpadu, dimulai dari lingkungan yang paling kecil. Yakni dengan meningkatkan hubungan persaudaraan yang kokoh dalam satu kesatuan kebersamaan tanpa membeda-bedakan.

“Tingkatkan kepedulian, kepekaan secara cepat dan profesional arif dan bijaksana sehingga terbangun hubungan yang baik antara umat Islam dan umat lain yang menjadi kunci persatuan dan kesatuan bangsa," harap Moeldoko yang pada kesempatan itu berhalangan hadir karena mendampingi Presiden Jokowi ke luar negeri. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 Juni 2013

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MA Matholiul Huda Bugel Kedung, Jepara, mengadakan kegiatan Masa Taaruf Siswa Baru (Matasba) sekaligus Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di madrasah setempat. Sasarannya adalah para peserta didik baru pada tahun ajaran ini.

Ketua PK IPNU MA Matholiul Huda Fauzan Marzuqi mengatakan, acara digelar untuk mengenalkan siswa baru pada madrasah yang berbasis Aswaja, juga mengenalkan organisasi IPNU-IPPNU sebagai wadah berhimpun, berkomunikasi, dan beraktualisasi para pelajar NU.

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara

Kegiatan yang berlangsung 28- 29 Juli 2015 itu merupakan realisasi progam dari PK IPNU-IPPNU MA Matholiul Huda Bugel periode 2015-2016. Matasba dan Makesta diikuti 400 murid baru yang terdiri dari 244 siswa putri dan 156 siswa putra.

Ribath Nurul Hidayah

“Materi dalam Makesta yang disampaikan oleh Pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara, dikenalkan sejarah lahirnya IPNU-IPPNU serta motivasi berorganisasi," tutur Shelly Anggita Putriyani ketua PK IPPNU MA Matholiul Huda.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam Makesta juga terdapat prosesi pembaiatan. Setelah prosesi pembaiatan anggota diharuskan untuk bertanda tangan di atas kain putih yang terbentang didepan Madrasah dilanjutkan siraman air kembang tujuh rupa dan mencium bendera IPNU-IPPNU sebagai bentuk hormat dan siap menjadi kader NU dalam menjaga martabat NU, Aswaja, Islam, NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

"Air kembang 7 rupa memiliki filosofi bahwa kembang itu memberikan keharuman yang alami dan angka 7 itu memiliki arti pitulungan (pertolongan). Jadi kader IPNU-IPPNU siap mengharumkan NU dan NKRI dengan selalu mengharap pertolongan dari Allah SWT," tambah Afandi, wakil sekretaris PC IPNU Jepara.

Para Pembina IPNU-IPPNU setempat mendukung penuh kegiatan ini. Selain untuk menambah keakraban antarsiswa, juga untuk mengenalkan siswa baru tentang aturan-aturan yang harus ditaati bersama di madrasah ini. (Muhammad MS/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Lomba, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 Mei 2013

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Ansor dan Banser di semua tingkatan dalam melaksanakan programnya diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintahan. Tak terkecuali di tingkat Ranting banom NU harus bersinergi dengan pemerintahan Desa.

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar

Ketua PAC Ansor Karang Tengah Muh Bardi mengatakan, dalam bersinergi dengan pemerintah di setiap program organisasi tidak tumpang tindih atau asal asalan. Terlebih bidang garapannya adalah kepemudaan yang menjadi prioritas utama organisasi.

”Setelah dilantik, tolong segera buat program yang berorientasi ke anak anak remaja dan pemuda, serta harus bersinergi dengan pemerintah desa,” katanya saat sambutan pada pelantikan pengurus Ranting Ansor dan Banser Pidodo, Kecamatan Karang Tengah di halaman masjid Baitul Muttaqin pada Ahad (22 /1).

Selain pelaksanaan program yang sudah dicanangkan organisasi, Muh Bardi mengharapkan kader dan pengurus organisasi untuk selalu menjaga kekompakan sehingga program bisa berjalan dengan lancar dan bermanfaat bagi umat.

“Agar program sahabat sahabat berjalan dengan baik, organisasi juga sehat perlu kiranya selalu menjaga soliditas dan solidaritas. Makanya harus saling komunikasi dan silaturrahim” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Tampak hadir pada pelantikan pengurus yang dikemas dengan peringatan Maulidurrasul dan haul Syaich Abdul Qodir Jailani itu, Ketua MWC Karang Tengah K Muchlas Zaen, kepala Desa serta tokoh masyarakat setempat serta pengurus PAC Ansor dan Banser. (A.Shiddiq Sugiarto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sejarah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 26 April 2013

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid

Bekasi, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (PP LTMNU) KH Abdul Manan A. Ghani mengatakan, melawan radikalisme agama bukan dengan berhadapan langsung dengan mereka, tapi dengan memperkuat masjid.

Menurut Kiai Manan, memperkuat masjid adalah menjadikannya sebagai pusat pemberdayaan umat, “Masjid harus dipenuhi dengan program-program yang menyentuh keinginan jamaahnya,” katanya pada Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dalam rangka revitalisasi masjid di gedung PCNU Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/5).

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid

Untuk memperkuat masjid dengan program, LTMNU menawarkan tujuh aksi masjid berdasarkan keinginan jamaah. Keinginan itu tertuang dalam doa mereka selepas shalat. Allahuma ini asaluka salamatan fid din, wa ‘fiyatan fil jasad, wa ziyadatan fil ‘ilmy, wabarakatan fi rizqy, wa taubatan qablal maut, warahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut.

Ribath Nurul Hidayah

Doa orang di masjid itu sambung Kiai Manan, dijabarkan PP LTMNU periode 2010-2015 sebagai program dasar. Rinciannya adalah, peningkatan Ahlussunah wal-Jamaah ‘ala tahriqah Nahdliyah, wa Syari’ah ‘ala madzhabil arba’ah, wa thoriqah a’ala thoriqoti al-Imam Junaid al-Baghdadi wa Imam al-Ghazali.

Kedua, pelayanan kesehatan berbasis masjid, yaitu menjadikan masjid sebagai Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas), “Paling tidak, setiap masjid kecamatan diharapkan punya satu poliklinik di rumah obat,” harapanya di hadapan ratusan peserta yang terdiri imam, khotib, dan DKM tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, peningkatan kualitas pendidikan berbasis masjid, baik pendidikan formal maupun nonformal. Keempat, pemberdayaan ekonomi jamaah; mulai dari informasi peluang usaha, pengkaderan enterpreneur, kerja sama kemitraan, sampai pembentukann wadah perekonomian seperti baitul mal masjid, Koperasi masjid NU Kopmasnu, dan lembaga keuangan syariah.

Kelima, pusat pertaubatan, yaitu menjadikan masjid sebagai wadah dan usaha membangun masyarakat husnul khotimah, “Untuk menjalan program itu, harus menciptakan aktivis masjid yang hatinya selalu terpaut kepada masjid. Orang seperti tersebut adalah salah satu dari 7 golongan yang akan dinaungi perlindungan Allah pada hari kiamat,” pungkasnya.

Rapimda bertema “Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat” tersebut diikuti para imam, khotib, dan DKM-DKM NU Kota Bekasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan Lembaga Ta’mir Masjid PCNU Kota Bekasi yang difasilitasi PP LTMNU bekerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa dan PT TOA.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 11 April 2013

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Hidmat NU atau Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim NU, adalah unit yayasan Muslimat NU yang melayani masyarakat di bidang dakwah. Hidmat NU terus meningkatkan kualitas para da‘iyah untuk membina umat, sementara pengembangan majelis taklim menjadi konsentrasi utama.

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah

Paham Ahlussunah wal Jama’ah selalu menjiwai para da’iyah binaan Hidmat NU. Para da‘iyah menerima pembekalan khusus antara lain ketangguhan jiwa kader da‘iyah, keluasan wawasan, dan penanaman akhlakul karimah.

“Dakwah menemukan variannya dalam banyak hal, seperti dakwah bil hal (perilaku), bil lisan (ceramah), bil mal (sedekah), dan bil kitabah (tulisan),” ungkap Hj. Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum PP Muslimat NU dalam sambutan Rapat Permusyawaratan Kepengurusan Hidmat di Gedung PBNU lt. 5, Senin (23/4) lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Rapat kepengurusan ini sedikitnya dihadiri oleh 40 anggota Muslimat NU. Mereka yang tampak hadir adalah jajaran Dewan Pembina Hidmat NU, Dewan Pengawas Hidmat NU, Pengurus Hidmat NU, PP Muslimat NU, Ketua Bidang Dakwah PP Muslimat, dan Koorodinator Bidang Dakwah PP. Muslimat NU.

“Kader-kader Muslimat NU ini banyak sekali yang keluaran perguruan tinggi. Bahkan, kader Muslimat NU yang menyandang gelar doktoral pun tidak sedikit. Untuk membumikan Ahlussunnah wal Jama‘ah, mereka bisa mengambil media dakwah bil kitabah. Saya sendiri rutin mengisi kolom keagamaan tiap Sabtu di harian Duta Masyarakat,” tegas Hj. Khofifah.

Ribath Nurul Hidayah

Rapat Permusyawaratan Kepengurusan Pusat Hidmat NU, membahas tentang pengembangan dakwah melalui majelis taklim dan upaya membumikan paham Ahlussunnah wal Jama‘ah di kalangan kaum ibu. Rapat ini dimaksudkan untuk menampung respons positif, masukan, dan kritik konstruktif dari Dewan Pembina dan peserta forum rapat.

Forum rapat kepengurusan ini memberikan kesempatan bagi jajaran pengurus Hidmat NU periode 2007-2011 untuk memberikan laporan pertanggungjawaban di masa baktinya. Laporan pertanggungjawaban pengurus Hidmat NU, disampaikan sendiri oleh Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, Ketua Hidmat NU. Untuk sementara, kepengurusan Hidmat NU periode 2007-2011 dinyatakan demisioner secara hukum sampai terbentuk struktur kepengurusan yang baru.

Rapat kepengurusan yang berisi evaluasi atas kinerja Hidmat NU 5 tahun terakhir, akan dijadikan rekomendasi untuk struktur kepengurusan Hidmat NU berikutnya. Hasil evaluasi ini menjadi penting sebagai acuan untuk meningkatkan kinerja kepengurusan Hidmat NU selanjutnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 08 Maret 2013

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi

Berita penangkapan jaringan penyedia prostitusi anak untuk laki-laki penyuka sesama jenis pada 30 Agustus oleh patroli cyber Polri di kawasan wisata Puncak Jawa Barat menunjukkan rentannya anak-anak Indonesia, terutama di lokasi wisata, untuk diperdagangkan menjadi penyedia jasa pemuas seksual. Anak-anak yang masih polos, yang menjadi harapan orangtuanya, dibujuk oleh para germo untuk melayani laki-laki dengan kelainan orientasi seksual. Rayuan untuk melakukan tindakan seks menyimpang ini bisa merubah orientasi seksual mereka saat dewasa kelak. Akhirnya mereka juga mengalami penyimpangan seksual dan kelak, mencari korban baru. Begitulah siklus yang sangat mengerikan terjadi. 

Bisa jadi apa yang terungkap saat ini hanya bagian puncak dari sebuah gunung es masalah prostitusi anak, terutama di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata di mana para turis ingin keluar dari peradaban dan kehidupan normal yang penuh aturan etika dan kesopansantunan, menuju pemenuhan hasrat penuh kebebasan. Berkembangnya jasa prostitusi merupakan bagian dari 3 S, sun, sex, and sea yang dijual dalam industri wisata. Indonesia, menurut laman therichest.com  menduduki posisi keempat dalam hal tujuan paling populer dalam wisata seks sedangkan peringkat tertinggi diduduki oleh Thailand. Di luar transaksi seks konvensional di lokalisasi atau melalui daring (online), di kawasan wisata Puncak dikenal adanya kawin kontrak, yaitu perkawinan yang dibatasi waktu hanya beberapa hari atau beberapa bulan, tergantung lamanya turis tinggal. Biasanya mereka yang terlibat dalam perkawinan yang menurut para ulama tidak sah ini datang dari turis Timur Tengah. Ini sebenarnya juga merupakan versi wisata seks dalam bentuk tersendiri. Para pria penyuka sesama jenis, juga berusaha mencari kenikmatan seks dengan mengincar anak-anak sebagai korban. Dan kini, mereka yang berorientasi seperti ini secara global terus meningkat.

Selain, Indonesia dan  Thailand, di Kawasan ASEAN, Kamboja dan Philipina menjadi tujuan wisata seks. Dengan adanya fakta seperti ini, para pemangku kepentingan jangan sampai menutup mata dengan hanya melihat pundi-pundi rupiah yang didapat tetapi mengabaikan dampak negatif yang memiliki pengaruh terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam panjang. Apalagi, transaksi seks yang dilakukan secara daring yang bisa dilakukan dari mana saja dan menjangkau siapa saja, tak terbatas sebagaimana prostitusi tradisional yang biasanya di lokalisir di tempat-tempat tertentu saja. Tentu upaya pengawasan prostitusi daring ini juga harus diperketat.

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi

Pada daerah-daerah yang rentan terhadap eksploitasi anak ini, para orangtua diharap semakin waspada dalam mengawasi perilaku putra-putrinya. Dalam banyak kejadian, orangtua baru tahu setelah kasus tersebut terungkap oleh pihak yang berwajib. Kebanyakan korban berlatar belakang keluarga miskin yang mana orangtua sibuk mencari penghasilan, sedangkan anak-anaknya yang kurang pengawasan ini mudah diiming-imingi uang untuk memenuhi keinginannya akan barang-barang mahal yang sebenarnya belum dibutuhkan. Dalam hal ini tokoh agama setempat juga harus dengan tekun membimbing masyarakat yang rentan terhadap pengaruh budaya negatif dari para pendatang.

Sebenarnya kesadaran masyarakat tentang perlindungan anak-anak dari cengkeraman prostisusi kini semakin meningkat. Penutupan sejumlah tempat prostitusi kini sebagian besar didasarkan pada alasan untuk melindungi anak-anak dari perdagangan seks. Di tempat tersebut, germo selalu mencari gadis muda untuk dijadikan penarik minat laki-laki hidung belang. Tentu, gadis-gadis tersebut hanya bisa dimasukkan dalam ladang prostitusi dengan berbagai tipu daya dan pemaksaan. Jika siklus ini bisa diputus, tentu prostitusi bisa dikurangi. Upaya penutupan lokalisasi tidak mudah karena banyak pihak yang mengais rejeki dari situ. Keberanian walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam menutup lokalisasi Dolly bisa menjadi contoh bagi pemimpin daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Tentu dengan tidak melupakan pendekatan kemanusiaan pada mereka yang selama ini mencari penghidupan dari situ.  

Bagi-anak-anak yang terjerat dalam persoalan prostitusi ini, pendampingan sangat diperlukan untuk memulihkan mereka dari trauma psikologis. Mereka perlu mendapat dukungan agar bisa hidup kembali dalam situasi normal dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Ribath Nurul Hidayah

Bagi germo dan pembeli jasa seks anak, tentu perlu ada hukuman seberat-beratnya sebagai efek jera bagi kemungkinan kejadian yang sama di masa mendatang. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Aswaja, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 Maret 2013

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merasa heran terhadap Menteri Agama (Menag) Maftuh Basuni atas kasus keterlambatan katering makanan jamaah haji di Arofah dan Mina (Armina). Ia menilai, Menag seperti tak mau belajar dari pengalaman masa lalu dalam kaitannya penyelenggaraan ibadah haji.

"Maftuh itu kan orang lama belajar di Arab. Kok mau dibohongin orang Arab?" gugat Gus Dur usai Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (3/1) kemarin.

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Pasca kasus keterlambatan katering Armina, sejumlah kalangan mendesak agar Maftuh segera mengundurkan diri. Kebijakan haji tahun ini yang mengalihkan katering dari Muasasah ke perusahaan Ana for Development (AFD) telah menyengsarakan jamaah.

Kegagalan katering tersebut merupakan bentuk kecelakaan manajemen dalam pendistribusian makanan. Departemen Agama pun memutuskan akan kembali menggunakan katering Muasasah pada musim haji 2007 mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga merasa heran tentang misteri keberadaan AdamAir nomor penerbangan KI 574 yang hingga kini masih belum terkuak. Ia memertanyakan, dalam kondisi hutan Indonesia yang sudah gundul, mengapa masih pesawat nahas itu masih sulit ditemukan.

"Kok di tengah-tengah hutan Indonesia yang gundul, pesawat jatuh ke hutan nggak bisa keluar. Mari kita doakan agar pesawat itu bisa ditemukan," kata Gus Dur,” sindir Gus Dur.

Ribath Nurul Hidayah

Mengenai kesalahan informasi lokasi jatuhnya pesawat, menurut Gus Dur, disebabkan karena kurang koordinasi.

"Pesawat AdamAir sudah diberitahu letak jatuhnya, tapi waktu dilihat nggak ada. Saya lihat itu cuma kurang koordinasi saja. Tidak ada unsur kesengajaan, jadi tidak ada penyesatan. Kalau nggak tau ya mau diapain," pungkas Gus Dur. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Olahraga Ribath Nurul Hidayah