Rabu, 30 Mei 2012

PBNU Minta Kemendikbud Tarik Buku TK Ajarkan Radikalisme

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Ketua PBNU Bidang Pengkaderan, Nusron Wahid, meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menarik semua buku pelajaran anak Taman Kanak-kanak (TK) bermuatan penyebaran paham radikalisme.?

PBNU Minta Kemendikbud Tarik Buku TK Ajarkan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Kemendikbud Tarik Buku TK Ajarkan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Kemendikbud Tarik Buku TK Ajarkan Radikalisme

"Ini sangat bahaya sehingga pemerintah harus bertindak cepat. Sisir semua daerah yang ada peredaran buku itu dan segera tarik dari peredaran. Pemerintah jangan membiarkan anak-anak kita dirusak pikirannya dengan penyelundupan paham radikalis," kata Nusron yang juga kepala BNPTKI itu, di Jakarta, Kamis.

Menurut mantan ketua umum GP Ansor ini, buku-buku tersebut harus segera dicabut dari peredaran karena berpotensi menjadi sarana cuci otak agar generasi bangsa mulai tertanam paham radikalisme sejak dini.

Dia menegaskan, berbagai muatan sampingan juga harus diusut tuntas, di antaranya doktrinasi tentang sektarianisme, penghasutan, dan lain-lain.?

Ribath Nurul Hidayah

Dalam buku yang ditemukan oleh GP Ansor di Depok, Jawa Barat, berisi kata-kata yang dinilai tidak pas, di antaranya gelora hati ke Saudi, bom, sahid di medan jihad, dan selesai raih bantai Kiai.?

Kemudian ada juga kalimat dan kata-kata rela mati bela agama, gegana ada dimana, bila agama kita dihina kita tiada rela, basoka dibawa lari, dan kenapa fobi pada agama.

Ribath Nurul Hidayah

Buku berbau unsur radikalisme itu dikemas dalam bentuk metode belajar membaca praktis berjudul Anak Islam Suka Membaca. Di dalam buku tersebut terdapat 32 kalimat yang mengarahkan kepada tindakan radikalisme. Buku tersebut dicetak pertama pada 1999 sudah dicetak ulang 167 kali hingga 2015. ?

Penerbit buku Anak Islam suka membaca itu Pustaka Amanah, beralamat Jalan Cakra Nomor 30 Kauman, Solo, Jawa Tengah, dengan penulis Murani Mustain.?

Menurut informasi dari Sekjen GP Ansor Adung Abdurrochman, penulis buku Anak Islam Suka Membaca itu, Mustain, istri dari Ayip Syafruddin yang merupakan pimpinan kelompok Laskar Jihad di Solo. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 15 Mei 2012

Gerakan Islam Non-Parlemen Perlu Diwaspadai

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Islam non parlemen perlu diwaspadai. Dalam lingkup parlemen, gerakan Islam yang tergabung dalam partai politik masih mempunyai semangat keindonesiaan. Sementara perkembangan gerakan non-parlemen pada titik tertentu mengkampanyekan anti-demokrasi.

Demikian disampaikan aktivis The Wahid Institut, Rumadi, dalam Seminar Kebangsaan “Menyoal Gerakan Islam Transnasional; Membumikan Laju dan Eksistensi Islam Kultural” yang diselenggarakan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam NU) Jepara, di Gedung NU setempat, Jum’at (15/6).

Gerakan Islam Non-Parlemen Perlu Diwaspadai (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Islam Non-Parlemen Perlu Diwaspadai (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Islam Non-Parlemen Perlu Diwaspadai

Dalam lingkup Parlemen, Islam menjadi asas partai politik (parpol). Misalnya dalam tubuh PPP dan PKS. “Saya tidak terlalu mengkhawatirkan ideologi Islam sebagai parpol,” katanya.?

Ribath Nurul Hidayah

Apalagi ditegaskannya, partai Islam dalam sejarah perpolitikan di Indonesia tidak pernah menang dalam Pemilu. Sejak Pemilu 1955-2009 suara Partai Islam mengalami pasang surut suara. Paling banyak di tahun 1955 dengan 45%, tahun 1982 antara 12-15%, tahun 1999 sekitar 35% dan 2009 kurang lebih 30%. Berbeda di negara muslim seperti Mesir, partai Islam gabungan Ikhwanul Muslimin dan Nurus Salafi memenangi pemilu dengan 70%.?

Ribath Nurul Hidayah

Yang perlu diwaspadai, tambahnya gerakan islam yang masuk non-parlemen., seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan Khilafah Islamiyahnya, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan masih banyak lagi yang mendominasi perbincangan publik.?

Munculnya kelompok-kelompok tersebut bersamaan dengan intoleransi di Indonesia. Pernah di tahun 2009 jelas Rumadi, HTI dan kawan-kawan yang sejalan mengeluarkan argumen yang intinya tidak perlu ikut pemilu. “Dikatakan, demokrasi itu kafir dan sebagainya,” tambahnya.?

Hadir dalam seminar itu Dr H Mashudi MAg dosen INISNU Jepara yang memaparkan makalah Gerakan Islam Transnasional vs Gerakan Islam Kultural.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, News, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 13 Mei 2012

Kiai Said: Negara dan Agama Dua Amanah Santri yang Harus Dijaga

Pekalongan, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak hanya mengapresiasi langkah Menkopolhukam yang secara resmi membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah tepat, akan tetapi NU beserta santri dan pesantren serta banomnya seperti Banser dan Pagar Nusa akan selalu menjadi garda terdepan untuk menjaga agama yang moderat dan keutuhan NKRI.

Demikian ditegaskan KH Said Aqil Siroj Ketua Umum PBNU pada acara Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren (Ponpes) Ribatul Muta’allimin Landungsari, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (8/5) kemarin.

Kiai Said: Negara dan Agama Dua Amanah Santri yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Negara dan Agama Dua Amanah Santri yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Negara dan Agama Dua Amanah Santri yang Harus Dijaga

Dikatakannya, sikap pembelaan terhadap negara yang disuarakan Nahdlatul Ulama bukan tanpa dasar, melainkan satu bentuk aplikasi dari apa yang diajarkan Rasulullah.

“Lima belas abad yang lalu Rasulullah telah membangun perabadan dunia ketatanegaraan yang modern. Pendirian Kota Madinah yang dulunya bernama Kota Yasrib merupakan satu bukti Rasulullah telah mempraktikkan satu prinsip muwathonah dalam bernegara dengan basis membangun kewarganegaraan atau citizenship bukan mendirikan kewargaagamaan,” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Said mengingatkan, agama yang tawasuth dan tasamuh dalam bernegara adalah amanah santri yang harus kita jaga sebagaimana para ulama dan kiai mengajarkan kepada kita. Karena sikap tawasuth (moderat) dan tasamuh (toleran) adalah ciri orang yang berilmu dan berakhlak baik, sedangkan yang radikal dan intoleran itulah cermin orang yang sebaliknya.

Para ulama sudah mencontohkan seperti Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo, Imam Bonjol bahkan KH Hasyim Asy’ari yang pernah dipenjara pada saat zaman Jepang telah menfatwakan wajib hukumnya melawan penjajah pada tahun 1945.

Acara yang dihadiri oleh ribuan santri, ratusan tamu undangan, juga nampak hadir para Pengurus Cabang, Pengurus MWCNU dan Ranting NU se-Kota Pekalonngan, pengasuh pesantren se Kota Pekalongan, Walikota Pekalongan dan Wakil Walikota Pekalongan yang juga Ketua Yayasan Ponpes Ribatul Muta’allimin Pekalongan. (Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 13 April 2012

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, terpilih masuk dalam Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat di Universitas Indonesia (UI), dan siap membersihkan kampus tersebut dari aliran Islam radikal. Mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dinilai sangat berbahaya jika terus menerus dicekoki ajaran Islam radikal. 

"Mahasiswa itu calon pemimpin bangsa, jangan sampai mereka terus menerus dicekoki ajaran Islam radikal," tegas Kiai Said di Jakarta, Selasa (27/4). 

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal

Di kampus UI, lanjut Kiai Said, sebagaimana lokasi perkuliahan umum lainnya saat ini diindikasikan tengah dikuasai oleh aliran Islam radikal. Salah satu indikasinya adanya banyaknya liqa atau pertemuan-pertemuan di luar kampus yang mengajarkan aliran Islam radikal. 

Ribath Nurul Hidayah

"Sudah banyak laporan yang saya terima. Dan pada kenyataannya memang di kampus-kampus umum seperti UI yang banyak di

temukan. Di Universitas islam ada, tapi tidak sebanyak di kampus-kampus umum," urai Kiai Said. 

Ribath Nurul Hidayah

Untuk merealisasikan keinginan membersihkan kampus UI dari aliran Islam radikal, Kiai Said akan mengusulkan diperbanyaknya kegiatan ekstra kampus yang bernafaskan Ahlussunnah wal Jamaah. 

Kiai Said masuk ke dalam Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat setelah dipilih oleh Senat Akademik Universitas Indonesia (UI), Kamis (26/4). Terdapat 5 nama lain selaing Kiai Said, masing-masing mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Alwi Abdurrahman Shihab, Anugrah Pekerti, Bagir Manan, Endriartono Sutarto. 

Sebagai bagian dari Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat, Kiai Said dan sejumlah tokoh lainnya memiliki tugas memberikan nasehar, masukan dan ide-ide baru sebagai gagasan untuk pengembangan UI ke arah yang lebih bagis. Terdapat 3 program yang ingin diterapkannya, yaitu menjadikan UI sebagai universitas yang bisa diandalkan di Indonesia, serta bisa bersaing secara regional maupun internasional. 

Kedua adalah membersihkan kampus UI dari kelompok Islam radikal, sementara yang ketiga adalah melaksanakan pemilihan pejabat setingkat rektor, wakil rektor, guru besar, dekan, kepala jurusan dan jabatan-jabatan lainnya secara objektif, bersih dan demokratis. 

Penulis: Emha Nabil Haroen 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai Ribath Nurul Hidayah

Senin, 09 April 2012

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) jadi presiden, semua orang telah mafhum. Gus Dur sudah mengetahui dirinya kelak akan jadi presiden, banyak orang yang sudah memberi testimoni. Tapi ternyata jika dirunut lebih ke belakang lagi, proses kepresiden Gus Dur ada di masa orang tuanya, KH Wahid Hasyim.?

Salah satu tradisi warga NU, jika mempunyai cita-cita tinggi atau tekad yang kuat untuk mencapai sesuatu, selain melakukan usaha secara lahir, juga melakukan sejumlah riyadhoh atau upaya-upaya yang bersifat spiritual seperti puasa, sholat tahajjud, merutinkan bacaan ayat tertentu, membaca Dalail dan lainnya.

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah

KH Hasib Wahab, pengasuh pesantren Tambak Beras Jombang, yang juga putra KH Wahab Hasbullah suatu ketika pernah mendapat cerita dari ayahnya bahwa KH Wahid Hasyim memiliki cita-cita besar menjadi pemimpin bangsa, entah menjadi presiden atau perdana menteri. Oleh seorang kiai sepuh, ia diminta melakukan sebuah tirakat, tetapi risikonya besar, jika gagal menjalaninya sampai akhir, bisa meninggal. Riyadhoh yang harus dijalani adalah melakukan puasa selama lima tahun penuh, di luar hari tasyrik atau hari-hari besar yang dilarang menjalankan puasa.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh Kiai Wahid Hasyim, riyadhoh tersebut dijalaninya dengan baik. Setiap hari ia melakukan puasa, apapun kondisinya. Dalam buku biografinya, dikisahkan, Kiai Wahid sampai berpura-pura makan bersama tamu untuk menghormatinya. Puasa tersebut bisa dijalaninya selama 3 tahun 8 bulan ketika ia mengalami kecelakaan di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun.

Ia meninggal belum sempat menyelesaikan riyadhohnya atau mencapai cita-citanya? tetapi yang berhasil mencapai adalah putra pertamanya, Abdurrahman Wahid yang kita kenal sebagai Gus Dur yang berhasil menjadi presiden ke-4 RI.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam suatu kesempatan di istana ketika Gus Dur masih menjadi presiden, Gus Hasib pernah menahkikkan atau di cek ulang kebenaran cerita dari Mbah Wahab tersebut, Gus Dur mengiyakan.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 07 April 2012

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016

Johor Bahru, Ribath Nurul Hidayah

Nuris United FC Jember, juara Liga Santri Nusantara 2015 akhirnya memenuhi target juara di kejuaraan sepakbola U-18 Malindo Cup 2016, dalam partai final setelah membungkam tuan rumah Sekolah Sukan Tunku Mahkota Malaysia 2-1 di Stadion Sekolah Sukan Tunku Mahkota Ismail (Sabtu 21 Mei 2016 petang)

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016

Setelah peluit panjang dimulai, tim Nuris langsung memimpin permainan dan membuahkan gol yang dilakukan oleh Muhammad Kevy yang memanfaatkan dengan baik umpan silang dari Richard Rahmad.

Ditinggal 1-0 tim tuan rumah mulai memperbaiki performa permainan dan tampil menekan. Serangan demi serangan dilakukan dari lapangan tengah dan pemain sayap. Pada menit ke-40, tim tuan rumah membalas ketertinggalan dengan tendangan bebas M Ramlan (9) ke gawang Nuris FC. Kedudukan akhirnya imbang 1-1 sampai babak turun minum selesai.

Ribath Nurul Hidayah

Pada babak kedua pertarungan makin ketat kedua tim saling membuka serangan. Namun Nuris United kemudian memimpin lagi permainan. Pada pertengahan babak kedua, tepatnya pada menit ke-50, terjadi handball di kotak terlarang.

Ribath Nurul Hidayah

Kesempatan melesatkan tendangan penalti tak disia-siakan tim Nuris. Richard Rachmad, pemain nomor punggung 10 dipercaya mengeksekusi tendangan dan akhirnya menghasilkan gol dengan kedudukan 2-1.

Di menit-menit akhir tim tuan rumah terus mengancam gawang Nuris tetapi penjaga gawang Nuris FC selalu berhasil menghadang serangan tuan rumah. Sampai babak kedua selesai, kedudukan masih sama 2-1. Tanda kemengan bagi Nuris FC

Begitu peluit panjang berbunyi, pelatih Nuris United, Sutikno bersama official berhamburan masuk ke lapangan memeluk pasukannya merayakan kemenangan. Begitu pula pengamat sepakbola Mohamad Kusnaeni yang ikut mendampingi tim Nuris sebagai konsultan bersama Husni Mubarok dan Mukafi Makki.

"Ini kemenangan yang sangat membanggakan bagi Nuris," kata Sutikno. "Anda lihat sendiri beberapa pemain kami mulai kram pada babak kedua. Tapi mereka tetap fight terus sampai akhirnya menang," ungkap Pelatih asal Jember Jawa Timur itu

Berita keberhasilan Nuris itu disambut hangat M. Arifin Majid, Asisten Deputi Pengelolaan Olahraga Pendidikan Kemenpora yang membidangi kegiatan Liga Santri Nusantara.

"Ini membuktikan bahwa potensi sepakbola di kalangan santri memang menjanjikan," ujarnya. "Jadi, dukungan yang diberikan Pemerintah selama ini melalui Liga Santri Nusantara sudah tepat," ia menegaskan.? (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 06 April 2012

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail

Sleman, Ribath Nurul Hidayah 

Adalah Samsul, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pada malam takbiran, mementaskan wayang Ma’el Gugat di aula sekretariat PMII Komisariat Wahid Hasyim Universitas Islam Indonesia (UII), Sleman, Yogyakarta, pada Senin malam (14/10). 

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail

Pentas yang dimulai pukul 20.00 tersebut, menceritakan anak bernama Ma’el. Ia mendapat titah atau tugas untuk ngawula (mengabdi). 

Alkisah, di Kahyangan terjadi kebakaran. Ma’el turun tangan untuk membangunnya kembali. Pada kenyataannya, kebijakan-kebijakan kerajaan tidak sesuai dengan kemaslahatan. Maka Ma’el berupaya untuk mengembalikan kebijakan sesuai nilai Tuhan. 

Ribath Nurul Hidayah

Di tengah pergulatan itu, ia dihadapkan pada cobaan besar yang turun dari Kahyangan lewat ayahandanya, Brehem. 

Sebelumnya, pada suatu malam, ketika Brehem sedang bertapa di bukit Nuun, ia ditemui kakek jelmaan Sang Hyang Ismaya. Kakek itu membawa kabar bahwa anak laki-lakinya telah usai menjalankan tugas di muka bumi dan Kahyangan. Sudah saatnya anaknya itu kembali menghadap Sang Hyang Moho Tunggal. Singkat kata, kakek itu menyuruh Brehem untuk membunuh anaknya, Ma’el.  

Ribath Nurul Hidayah

Akhirnya, Ma’el menyadari, untuk menyempurnakan titahya sebagai ngawulo, diserahkanlah raga dan nyawanya untuk membuktikan kengawuloannya sebagai hamba. Ma’el pun menusukkan keris ayahnya ke dadanya sendiri dengan diiringi tangis Brehem, ayah yang sangat mencintainya. 

Setelah Dalang Samsul menyelesaikan perjalanan cerita pewayangannya, ia mengajak hadirin untuk mengumandangkan kalimat takbir khas lebaran yang telah menjadi suatu kebiasaan, atau mungkin sudah bisa dibilang sebagai kebudayaan. 

Kemudian, lantunan takbir tersebut disambut dengan parade tadarus puisi beberapa kader PMII UII. Di antara mereka, membawakan puisi-puisi tokoh terkenal seperti karya Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Najib (Cak Nun), dan WS. Rendra. 

Kegiatan tersebut juga diisi dengan tahlilan singkat yang dipimpin Imron Rosyadi. Kemudian dilanjutkan lagi dengan lantunan gema takbir. Lalu, peserta dipersilakan untuk ikut mengisi dan mempersembahkan puisi untuk menyemarakkan malam tadarus puisi malam itu dengan puisi pribadi atau puisi-puisi yang telah disediakan oleh panitia.

Pementasan puisi PMII Komisariat Wahid Hasyim UII tersebut berjudul “Ma’el Beleh-belehaning Gusti Allah” menjadi acara puncak tadarus puisi pada malam itu. Puisi tersebut diciptakan dan dibawakan Muhammad Najih. 

Puisi itu menggambarkan penderitaan Ummu Hajar ketika berjuang melawan tekanan saat ditinggal sendiri bersama anaknya yang baru lahir di tanah gersang Mekkah. Juga ketegaran Nabi Ibrahim ketika diperintah untuk menyembelih anaknya sendiri yang lama ia tinggalkan dan keikhlasan Ismail menerima perintah penyembelihannya.

Acara tersebut merupakan acara yang diadakan oleh kader-kader PMII UII untuk mengisi malam takbiran Idul Adha dengan warna baru, yang diekspresikan melalui lantunan puisi dan pementasan-pementasan berbau kebudayaan lain. 

Pada kesempatan itu diadakan peluncuran komunitas Cadas (cinarito ing kabudayan sandiworo) yang baru saja dibentuk oleh kader-kader PMII UII untuk mewadahi potensi kader dalam bidang seni dan budaya. (Muhammad Najih-Samsul Ariski/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Sejarah, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah