Minggu, 26 Februari 2017

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali

Rembang, Ribath Nurul Hidayah. Masyarakat di Kabupaten Rembang akhirnya tidak memprotes setelah mendapat penjelasan tentang penundaan keberangkatan haji tahun ini. KH Mustofa Bisri membantu memberikan penjelasan kepada para calon jama’ah.

“Haji adalah panggilan Allah SWT, apabila kita tertunda dan berangkat pada tahun berikutnya, sama halnya kita berhaji dua kali,” kata Gus Mus saat memberikan bimbingan manasik haji. 

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali

Jama’ah pun akhirnya merasa senang ketika mendengar pernyataan Wakil Rais Aam PBNU tersebut. 

Ribath Nurul Hidayah

Kemenag memerlukan proses yang lama dalam memberikan pengertian terhadap masyarakat yang sudah berharap berangkat tahun ini. Kasi Haji dan Umroh, Drs. H. Atto’illah Muslim Kementrian Agama Kab. Rembang, mengalami pengurangan sebesar 14,5 %, Selasa (20/8). 

Salah satu calon jema’ah, Satibi menjelaskan, “Saya menerima segala keputusan dari Kementerian Agama Rembang, apabila harus mendapatkan jatah berangkat pada tahun yang akan datang. Saya juga senang, lanjut Satib jika pemerintah memberikan prioritas kepada para jama’ah dengan memberikan fasilitas apabila pelunasan pada tahun berikutnya naik. jama’ah tak perlu bayar jika turun jama’ah dapat kembalian.”

Ribath Nurul Hidayah

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Asmu’i

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Santri Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 23 Februari 2017

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Muktamar ke-33 NU yang dihelat di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015 bakal menyoroti berbagai persoalan dan mencarikan jawabannya dari sudut pandang agama. Salah satu pokok bahasan yang diangkat adalah tentang pasar bebas (free trade).

Persoalan seputar pasar bebas masuk dalam materi diskusi Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah. Komisi ini bertugas mengaji serangkaian problem dengan jawaban konseptual-tematik, tak sekadar halal-haram. Draf deskripsi masalah dan jawaban tentang hal ini telah rampung disusun melalui diskusi intensif para pakar yang terlibat dalam komisi yang diketuai Katib Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir tersebut.

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas

Dalam draf itu dijelaskan, Indonesia yang tak bisa menghindar dari sistem perdagangan global dalam waktu dekat menghadapi salah satu mekanisme perdagangan global, yakni pasar bebas. Penjualan produk antar negara tidak lagi dikenakan pajak, bea masuk atau hambatan perdagangan lainnya. Peran pemerintah kurang lebih seperti wasit yang memastikan tidak ada kecurangan, sementara aturan mainnya ditentukan oleh regulasi internasional seperti GATT (General Agreement on Tariffs and Trade), WTO (World Trade Organisation), GATS (General Agreement on Trade in Services), TRIPs (Trade Related Intellectual Property Right), TRIMs (Trade Related Invesment Measures), AoA (Agreement on Agriculture) dan sebagainya.

Dalam konteks lokal Asia Tenggara, Negara-negara yang tergabung didalam ASEAN telah sepakat untuk memberlakukan pasar bebas yang disebut AFTA (Asean Free Trade Area) pada bulan Desember 2015. Beberapa poin kesepakatan AFTA antara lain adalah penghapusan pembatasan komoditas dan penghapusan bea masuk impor komoditas yang berada dalam kategori General Exception (GE). Di luar GE, diberlakukan CEPT- AFTA (Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area), yakni tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif. Komoditas CEPT-AFTA umumnya adalah komoditas yang terkait dengan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan manusia, binatang, dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya.

Dengan diberlakukannya AFTA, arus barang, jasa, investasi, tenaga terampil dan modal akan berputar secara bebas di antara negara ASEAN. Mereka yang memiliki daya saing tinggi akan meraup keuntungan besar, sementara yang tidak memiliki daya saing akan menjadi pasar bagi pihak lain. Berdasarkan data, Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index/GCI) Indonesia tahun 2014 berada di peringkat 34, sementara Singapura berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Sementara Filipina berada di peringkat 52, Vietnam di peringkat 68, Laos di peringkat 93, Kamboja di peringkat 95, dan Myanmar di peringkat 134.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan posisi ini, dapat dikatakan bahwa posisi Indonesia belum terlalu siap. Namun sekarang bukan waktunya mempertanyakan kesiapan Indonesia, karena AFTA akan dimulai beberapa bulan lagi. Pada aras inilah NU perlu tampil ambil bagian. Sebagai ormas keagamaan terbesar, NU diharapkan mampu memberikan landasasan syar’i agar penanganan pasar bebas (free trade) tetap mengacu kepada fitrah kemanusiaan. Sementera di level praksis, NU diharapkan mampu menyodorkan konsep yang mampu mengayomi warga dari serangan modal yang kian masif. ?

Dengan gambaran ini, tim khusus yang tergabung dalam Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah Muktamar ke-33 NU bersepakat untuk merumuskan tiga pertanyaan, antara lain, (1) bagaimana pandangan Islam tentang pasar bebas?; (2) bagaimana keberpihakan Negara kepada rakyat dan ekonomi nasional?; dan (3) apa yang perlu dilakukan oleh NU sebagai jam’iyyah?

Selain soal pasar bebas, Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah juga akan mengupas lima masalah lainnya, di antaranya metode istinbath hukum (bayani – qiyasi-maqashidi), khashaish ahlus-sunnah wal-jamaah, hutang luar negeri, hukuman mati dalam perspektif HAM, serta asas praduga tak bersalah. (Mahbib)

?

Ribath Nurul Hidayah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 21 Februari 2017

Meneladani Mbah Wongso, Komandan Banser yang Pulang di Malam Takbir

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Kamis 31 Agustus 2017, gema takbir mengagungkan asma Allah berkumandang dari masjid dan mushalla selepas magrib sehubungan Jumat 1 September 2017 adalah Hari Raya Idul Adha 1438 H. Tapi selepas pukul 21.45  WIB, Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeini beserta jajaran dan kader inti Pemuda Ansor di penjuru tanah air dikerubuti duka.

Dari Ngasem, Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang, tersiar kabar mantan Kasatkornas Banser Muhammad Asrofudin Budianto yang karib dipanggil Mbah Wongso telah pulang ke haribaan Ilahi.

Meneladani Mbah Wongso, Komandan Banser yang Pulang di Malam Takbir (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneladani Mbah Wongso, Komandan Banser yang Pulang di Malam Takbir (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneladani Mbah Wongso, Komandan Banser yang Pulang di Malam Takbir

"Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kami sangat kaget mendengar kabar tersebut," ujar H Alfa di Jakarta, Sabtu (2/9).

Pada 26 Agustus 2017, rombongan Satkornas Banser berkunjung ke rumah Mbah Wongso guna menjenguk sekaligus memastikan kabar sakitnya yang bersangkutan.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

"Kami disambut Mbak Endang dan Mas Lintang, istri dan anak pertama sahabat Asrofudin yang sengaja pulang dari mondok di Kediri, Jawa Timur mendengar kondisi kesehatan ayahnya yang menurun," ujar Kasatkornas Banser itu lagi.

Saat itu, sembari memegang kaki Mbah Wongso, H Alfa yang ditemani Kasatsus Banser Siaga Bencana Chabibullah dan sejumlah personel asisten Satkornas Banser menyaksikan ketekunan Mbak Endang almarhum merawat suaminya.

"Jadi, kami seluruh jajaran Satkornas bahkan Banser se-Indonesia merasa kehilangan Mbah Wongso," ujar Alfa lagi.

Kasatkornas Banser berkumis tebal kelahiran Tulung Agung itu meminta kader Banser untuk meneladani Mbah Wongso.

"Sahabat dan senior kita tersebut sebelum wafat mengingatkan jika sejarah Banser sangat panjang. Dari sebelum kemerdekaan sampai tahun 45 memiliki karakter pergerakan untuk memerdekaan bangsa Indonesia. Kemudian tahun 45 sampai tahun 60-an memiliki watak mempertahankan NKRI dari ancaman dan rongrongan berbagai pihak," papar Alfa.

Sejak 24 April 1962, ujar Alfa mengenang cerita Mbah  Wongso, Komandan Banser Nasional pertama KH Yusuf Hasyim (Gus Yus) bersama kader  berjuang mempertahan NKRI dari kudeta PKI bersama para pimpinan GP Ansor, TNI, dan kelompok lain.

Mbah Wongso dipercaya sebagai Komandan Banser Nasional 1997 hingga 2000.

"Mbah Wongso mampu menggabungkan karakter dasar Banser  yang harus disiplin, berkemampuan bela negara, kemudian bercirikan kerakyatan dengan pemahaman akidah Islam yang dianut oleh Banser, yaitu Islam Aswaja menjadi kurikulum pendidikan dan latihan dasar Banser," kata Kasatkornas lagi.

Hal itu, ujar Alfa menambahkan, menunjukkan jika Mbah Wongso mampu meletakkan kerangka berbanser yang benar dan terdokumentasikan secara administrasi.

"Sehingga muncul istilah, Banser adalah kader inti GP Ansor yang berwatak kerakyatan sebagai perintis, penggerak, pengemban sekaligus penjaga program-program GP Ansor," ujar Alfa pula.

Sebagai Komandan Banser Nasional, Mbah Wongso juga teladan bagi pasukan dan orang di sekelilingnya. Misalnya, selalu menanamkan  kedalaman niat berbanser.

Mbah Wongso sering mengatakan, Banser tidak digaji dan tidak ada yang menggaji, pakaian beli sendiri.

"Untuk itu niatkanlah berbanser sebagai benteng ulama sekaligus menjaga NKRI sehingga ketika Banser membentengi ulama dapat dimaknai membentengi ajaran ulama dan kiai, khususnya ajaran para kiai Nahdlatul Ulama," ujar Alfa lagi.

Selanjutnya ketika Banser menjaga NKRI, itu semua juga diniatkan dalam menjaga warisan para kiai karena sesungguhnya NKRI berdiri itu juga atas jasa para kiai.

Doktrin ini diajakrkan pula oleh Mbah Wongso dengan keteladanan, yakni selalu menghormati sekaligus takzim kepada para kiai dengan kesederhanaan yang melekat pada karakternya. Niat sebagai komitmen dan selalu menjaganya dengan kesederhanaan itu, setidaknya juga menjadi keteladanan yang dicontohkan kepada para anggota Banser di tengah hiruk pikuknya reformasi.

"Selamat Jalan Mbah Wongso, sàhabat Asrofudin, semoga husnul khatimah. Keteladananmu layak untuk diteruskan," demikian H Alfa Isnaeini. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Tegal, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Senin, 20 Februari 2017

Tiga Menteri Siap Hadiri Haul Mbah Wahab

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Rangkaian haul KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab yang ke-43 tahun ini diisi dengan sejumlah acara. Bahkan, ada tiga menteri yang siap hadir pada kegiatan yang akan berlangsung sejak tanggal 1 hingga 6 September tersebut.

Kepastian ini disampaikan H Mujtahidur Ridho yang didaulat sebagai panitia haul. "Ketiga menteri tersebut adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yakni M Nuh, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono," katanya saat dikonfirmasi Ribath Nurul Hidayah, Sabtu malam (30/8).

Tiga Menteri Siap Hadiri Haul Mbah Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Menteri Siap Hadiri Haul Mbah Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Menteri Siap Hadiri Haul Mbah Wahab

Ketiga menteri tersebut akan hadir secara terpisah, kecuali Menteri Agama dan Menkokesra. M Nuh dijadwalkan akan hadir dan memberikan sambutan pada acara wisuda pertama Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah atau Unwaha. "Ini adalah wisuda pertama kampus setelah berubah menjadi universitas," kata mantan Ketua Umum PP IPNU ini.

Ribath Nurul Hidayah

"Kehadiran Mendikbud M Nuh tetentu menjadi nilai lebih bagi Unwaha sekaligus kebanggaan bagi para wisudawan dan orang tua mereka," terang Gus Edo. Dan Unwaha sendiri merupakan pengembangan dari Sekolah Tinggi Agama Islam Bahrul Ulum atau Staibu. Kegiatan wisuda dan juga kehadiran Mendikbud? pada pagi hari Sabtu 6 September.

Sedangkan Menko Kesra akan hadir bersama dengan Menteri Agama pada acara puncak haul. "Kepastian kehadiran para menteri ini telah dikonfirmasi kepada panitia," kata Gus Edo, sapaan akrabnya.

Ribath Nurul Hidayah

Menteri Agama dan menko Kesra akan memberikan sambutan pada acara puncak haul yakni tanggal 6 September malam bersamaan dengan pemberian anugerah "KH Abdul Wahab Chasbullah Award".

Rangkaian haul KH Abdul Wahab Chasbullah akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Sejumlah acara akan diselenggarakan saat haul dari mulai pameran dokumen, sarasehan, wisuda pertama Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), semaan Al-Quran, parade Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari), pemberian santunan kepada fakir miskin dan dhuafa, festival al-Banjari se Jawa Timur, serta puncaknya adalah pengajian umum yang mendatangkan KH Musthofa Bisri selaku pejabat Rais Aam PBNU dan pemberian KH Abdul Wahab Chasbullah Award. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 10 Februari 2017

PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award

Ponorogo, Ribath Nurul Hidayah - Penghargaan NU Award tahun 2017 yang diterima PCNU Ponorogo dari PWNU Jawa Timur beberapa waktu lalu menyisakan kebanggaan tersendiri. Tahun ini PCNU Ponorogo memperoleh tiga penghargaan, yaitu pengelolaan jamiyah menempati peringkat keempat, pengelolaan Rumah Sakit NU mendapat peringkat ketiga, sedangkan pengelolaan ekonomi keumatan menyabet peringkat pertama.

Penghargaan terakhir tidak lepas dari keberhasilan PCNU mendirikan Bintang Swalayan yang dimotori Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) dan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) dan keikutsertaan aktif MWCNU, lembaga dan banom NU. Sebagai bentuk rasa syukur, pihak PCNU mengundang seluruh pimpinan lembaga dan MWCNU mengadakan tasyakuran di aula kantor PCNU, Sabtu (29/7).

PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award

“Tasyakuran atas diterimanya NU Award tahun 2017 dari PWNU Jawa Timur ini merupakan penghargaan yang prestisius bagi PCNU ponorogo. Makanya rahmat Allah ini wajib kita syukuri, lain syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna azabi lasyadid,” kata Ketua PCNU Ponorogo Fatchul Aziz.

Ribath Nurul Hidayah

Perhelatan NU Award tingkat provinsi juga mengilhami PCNU untuk menggelar even serupa untuk tingkat kabupaten tahun depan. Keinginan ini diumumkan secara resmi oleh PCNU di hadapan para pengurus MWCNU yang hadir. Rencana ini disambut baik oleh para pengurus MWCNU.

“Kami MWCNU sangat mendukung rencana PCNU menyelenggarakan NU Award tingkat Kabupaten tahun 2018 mendatang. Kesempatan ini tentu memicu semangat kami untuk menata organisasi hingga tingkat ranting,” kata Ketua MWCNU Mlarak Gus Syukron.

Akselerasi Sertifikasi Tanah Wakaf

Ribath Nurul Hidayah

Tasyakuran NU Award juga dimanfaatkan untuk koordinasi percepatan sertifikasi tanah NU. Pada kesempatan ini pihak BPN Ponorogo menyosialisasikan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Sebelumnya PCNU ponorogo telah mengadakan MOU dengan BPN Kabupaten Ponorogo tentang percepatan sertifikasi tanah wakaf milik NU. Penandatanganan MOU disaksikan langsung oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Jalil di Malang beberapa bulan lalu.

“Sebagai langkah awal, pada tahun anggaran 2017 ini disepakati sertifikasi 1.000 bidang tanah wakaf milik NU,” kata Fatchul Aziz.

Tindak lanjut sosialisasi tersebut, Senin (31/7) giliran Kepala BPN Ponorogo mengundang PCNU dan MWCNU di kantornya. Mereka akan membicarakan kesepakatan teknis antara Tim BPN dengan Tim Wakaf NU Ponorogo.

“Kami berkomitmen penuh untuk menangani wakaf NU. Tujuannya adalah percepatan penyelesaian sertifikat tanah wakaf Nadlir NU,” kata Fatchul Aziz menandaskan komitmen BPN Ponorogo. (Idam Mustofa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 04 Februari 2017

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Membaca kata-kata Gus Mus, dalam Saleh Ritual dan Saleh Sosial, seperti menari; ada keluwesan dan kebernasan kalimat yang tak kita dapati dalam pada aspek “di luar kata-kata tulis Gus Mus”. Kebijaksanaan kiai sepuh dan ritmisitas kepenyairannya melebur menjadi satu dan membuat kita lena, bahkan sejak awal pengantar, bagaimana kesederhanaan, dengan anehnya, dapat berpadu dengan “kemewahan” sebuah nasehat.

Gus Mus, dalam pengantarnya berjudul Takdim, mengesankan beliau telah melampaui yangfana; tentang bagaimana beliau menegaskan bukan sekadar tidak sempat, tetapi tidak bisa membikin artikel yang panjang dan “serius”; maka kebanyakan tulisan di Saleh Ritual dan Saleh Sosial pun hanya berupa catatan-catatan pendek tentang perjalanan hidup. Beliau lebih berharap buku tersebut bisa menjadi amal ibadah. Sebuah espektasi yang tidak neko-neko.

Tetapi, yang pendek-pendek itu tidak selalu pas diasosiasikan dengan tidak dalam, jelentreh, rigid. Justru, oleh Gus Mus, sesuatu yang pendek itu pas dan akan malah berasa berlebihan bila dipanjang-panjangkan. Seolah tak ada pretensi menasehati, menulis artikel untuk “mengejar sesuatu”—semisal pengakuan, honor, atau popularitas. Beliau menulis sekadar berbagi, laiknya nuturicucunya, tetapi semua seakan bermula dari keresahan yang dalam.

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Kesederhanaan itulah yang kemudian rasanya akan lebih mudah diterima pembaca.Tidak ada berondongan dalil, yang kadang-kadang membuat pembaca-sambil-lalu jengah seakan “digurui”. Gus Mus bercerita, dengan kepiawaian seorang cerpenis, ihwal perumpamaan Al-Ghazali tentang posisi hati nurani, akal, anggota tubuh manusia, serta aturan agama dalam menjalankan fungsi hidup. Apakah kita sudah benar memposisikan semuanya.

Gus Mus juga lebih menggunakan tamsil-tamsil sederhana yang dilandasi atau dipungkasi satu-dua dalil, sehingga kita merasa ringan dan teredukasi (baca: terhibur) ketika membacanya. Seperti perumpamaan olahan tanah liat—dan keliatannya—sebagai representasi manusia dan api sebagai analogi setan. Juga, pada tulisan berjudul Pakaian, Gus Mus menunjukkan pengetahuannya tentang dunia mode, selaras dengan pakaian Gus Mus yang nyaris selalu modis.

Saleh Ritual dan Saleh Sosial,rasa-rasanya, pada beberapa tulisan juga begitu ensiklopedis. Contohnya tulisan berjudul Nabi yang Manusia. Gus Mus mampu menjelaskan sisi-kemanusiaan-nabi (humornya, jengkelnya, moderasinya) dengan begitu lancar, sebab boleh jadi pengetahuan yang kemudian diungkapkannya itu merupakan kristalisasi khazanah yang sudah mengendap lama di dalam pikir, sehingga sajiannya pun ringkas tetapi mantab.

Ribath Nurul Hidayah

Metode kritiknya pun menunjukkan kesepuhan dan barangkali sulit ditiru. Seperti dalam tulisan Kurban dan Korban. Ada kritik terselubung, yang membuat pembaca tidak berasa ditunjuk, tetapi kesadaran bahwa kita dikritik, uniknya, justru datang dari diri kita sendiri. Gus Mus menulis, Nabi Ibrahim rela mengorbankan apa yang menurut semua manusia bakal sulit dikorbankan: nyawa putranya. Berbeda dengan kita yang meski cuma mengurbankan kambing saja masih sering menyisakan pamrih.

Banguna kritik yang bertebaran di buku ini, seperti ketika Gus Mus membandingkan Rab’iah al-Adawiyah yang tidak takut neraka tetapi begitu takut bila tidak dicintai Allah dengan betapa kita takut pada kematian dalam tulisan berjudul Apabila Allah Mencintai Hambanya, membuat kita berpikir—alih-alih menentang;“itu-kan-nabi”, “itu-kan-sufi”—betapa kita, sebab kadar keimanan dan ketakwaan yang hari ini masih begini-begini saja, harus bisa mencontoh beliau-beliau itu.

Dalam kadar tertentu, beberapa tulisan bahkan terasa sangat instropektif, membuat kita merenung lama, bepikir, dan boleh jadi sampai menitikkan air mata. Seperti ketika membaca Dosa Besar, kita berpikir apakah selama ini kita adalah orang yang takabur—dengan keluasan makna sebagaimana disampaikan Gus Mus. “Orang yang berbuat dosa karena meremehkan dosa adalah orang yang takabur,” tulisnya di halaman 66. Sedang takabur adalah “dosa pertama” yang tak termaafkan.

Ribath Nurul Hidayah

Beberapa tulisan dalam buku ini juga menunjukkan semacam pemberontakan terhadap kemapanan, kritis konstruktif yang, “khas anak muda”. Paradigmanya masih sama: kemanusiaan. Atau, betapa Islam adalah agama yang mudah dan sangat manusiawi. Selain memotret sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW dalam Nabi yang Manusia, Gus Mus juga membongkar anggapan puasa-lebih-utama dengan tanpa mengurangi pengakuan akan keagungan ibadah tersebut.

Dalam tulisan Selamat Makan, Gus Mus mengatakan, “…di Al-Qur’an sendiri, ‘perintah’ makan lebih dari tiga puluh kali difirmankan Allah. Bandingkan dengan ‘perintah’ puasa yang tidak sampai lima kali (bahkan yang menggunakan bentuk amar cuma dua kali),” tulisnya di halaman 86.Paradoks. Pasalnya, di awal tulisan, Gus Mus membeberkan stigma yang terbangun yang terangkum dalam ujaran: kau ini, makan saja yang kau pikirkan—seolah makan identik dengan aib.

Pula di dua tulisanDalih dan Dalil dan Ghairah yang relevan dengan kondisi kekinian, di mana banyak orang yang melegitimasi (mendalihkan) perspektifnya atau lebih mencenderungi dalil yang “menguntungkan” diri dan “merugikan” liyan. Meski, kita tahu, tentu saja tidak ada yang salah dari sebuah dalil. Kemudian Gus Mus mengusulkan jalan tengah; bagaimana kalau dalil yang biasanya dijadikan legitimasi tersebut dibalik.

“Misalnya, dalil tentang keharusan taat kepada pimpinan, biar rakyat saja yang me-‘wirid’-kannya, para pemimpin dan penguasa biar me-‘wirid’-kan dalil tentang kewajiban pemimpin dan penguasa untuk jujur dan adil. Dalil kehebatan lelaki biar dipegangi kaum wanita saja; dalil keagungan wanita biar dipegang kaum lelaki,” tulis Gus Mus di halaman 103. Dengan begitu maka akan terwujud suasana saling memperbaiki diri, guyub, dan bukannya saling menuntut.

Dalam Ghairah, Gus Mus mengumpamakan agama adalah istri. Kepada agama, sebagaimana kepada istri, kita mempunyai ghairah yang kuat, sebab adanya cinta yang begitu dalam. Tetapi, ghairah tersebut bisa juga lebih dekat kepada nafsu dan menegasikan akal sehat manakala kita tidak bisa menguasainya. Fanatisme yang tidak dilandasi dengan logika-aqli, objektivitas, dan cenderung fobia terhadap “mereka” yang tidak sama dengan “kita” adalah biangnya.

Maka Gus Mus menutup tulisan tersebut dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah, saksi-saksi yang adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufasir, “kaum” di sini artinya malah orang-orang kafir) mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:8)

Data buku:

Judul buku : Saleh Ritual Saleh Sosial

Penulis : KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Penerbit : DIVA Press

Cetakan : 2016

Tebal : 204 halaman

Peresensi: Syamsul Badri Islamy, Ketua LTN NU Kota Bekasi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Quote, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 02 Februari 2017

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP

Jakarta, NU.Online
Perubahan? pengelolaan perguruan tinggi negeri (PTN) dari pola birokrasi menuju paradigma profesional masih menyisakan sejumlah kontroversial dimasyarakat.? Hal ini terlihat dari pola penerimaan mahasiswa dengan 2 pola seleksi? yaitu, Penelurusan Minat Bakat dan Potensi (PMBP) dan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang sebelumnya satu jalur lewat UMPTN.

Dibeberapa perguruan tinggi negeri yang menggunakan pola BHMN (Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor) menuai kritik karena dengan pola baru tersebut dianggap mematikan potensi mahasiswa yang tidak mampu secara finansial. dan berpotensi menebar benih-benih diskriminasi dan eksklusivisme dalam kehidupan kampus.

Komentar tersebut dikemukakan sejumlah kalangan, Senin (16/6), setelah sejumlah PTN berlomba membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa baru dengan memasang tarif Rp 15 juta hingga Rp 150 juta. Langkah PTN menjaring dana dengan berbagai cara itu menyusul kebijakan dijadikannya kampus mereka sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN), yang diharuskan untuk mencari dana sendiri

Menanggapi "komersialiasi" PTN tersebut, Mendiknas Malik Fadjar menegaskan, ukuran masuk perguruan tinggi tetap akademis, dan sumbangan yang ditetapkan sama sekali tidak menghilangkan ukuran akademis itu. "Saya selalu menekankan jangan sampai uang menjadi persyaratan utama untuk masuk sekolah," ujar Malik usai menghadap Wakil Presiden Hamzah Haz di kantor Wapres di Jakarta, Senin.

Malik? mengatakan, sumbangan itu sifatnya sukarela. Ditanya mengapa sampai ada yang mematok Rp 150 juta, Malik menjawab, "Yang penting itu terbuka, transparan, dan akuntabilitasnya terjamin. Itu saja." Malik menambahkan, besarnya sumbangan tidak perlu diberi batasan. "Kita berikan peluang kepada masing-masing untuk tetap memperhatikan kemampuan (uang) dan persoalan (akademis). Ukurannya harus tetap akademis. Dulu juga kita sudah punya aturan seperti itu, tapi tidak jalan karena banyak mahasiswa mengaku dari golongan tidak mampu," katanya.

Ditanya soal mekanisme kontrol tentang sumbangan itu, Malik menjawab, "Kan sudah ada wali amanah dan dewan akuntabilitas akademis."

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Satryo Soemantri Brodjonegoro, pembukaan jalur mandiri dalam penerimaan mahasiswa baru PTN harus disertai dengan akuntabilitas penggunaan anggaran dan jaminan mutu akademik. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas akan mengevaluasi kinerja PTN yang membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa baru di luar jalur reguler. Berdasarkan evaluasi tersebut pemerintah akan membuat rambu-rambu menyangkut penerimaan mahasiswa baru yang berorientasi pencarian dana.

"Intinya, setiap PTN boleh saja mencari dana melalui penerimaan mahasiswa baru. Akan tetapi, harus transparan soal penggunaan anggaran, tidak diskriminatif, dan lebih penting lagi hasil seleksinya harus sesuai standar mutu akademik," kata Satryo Soemantri? Brodjonegoro

Sementara menurut? anggota Komisi VI DPR Ferdiansyah dari Fraksi Partai Golkar "Aturan itu ibarat menebar benih-benih diskriminasi dan eksklusivisme dalam kehidupan kampus," kata , menilai maraknya pembukaan jalur mandiri di kalangan PTN itu. Walaupun mahasiswa jalur mandiri dipersyaratkan mengikuti seleksi, dipertanyakan siapa yang bisa menjamin bahwa PTN bersangkutan bisa obyektif.

"Karena niat dari awal mencari dana, PTN bersangkutan bakal tergiur dengan kemampuan ekonomi calon mahasiswa. Kalau begini, hasil seleksi bisa jadi tidak merupakan pertimbangan utama," katanya.

Dalam pelayanan akademik, lanjut Ferdiansyah, akan sangat sulit bagi PTN untuk berlaku sama rata terhadap seluruh mahasiswanya. Ada kemungkinan mahasiswa jalur mandiri dimanjakan dengan sejumlah kemudahan, termasuk dalam persyaratan kelulusan mata kuliah. Hal yang buruk itu akan terakumulasi nantinya dalam mutu kelulusan sarjana.

Sementara itu, kendati sejumlah PTN favorit berlomba-lomba membuka jalur khusus, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tetap bertahan dengan sistem yang ada selama ini.

"ITS tidak akan ikut serta menyelenggarakan program serupa," kata Rektor ITS Dr Ir Mohammad Nuh DEA. "Dalam menyeleksi calon mahasiswa baru, kami tetap mengutamakan nilai akademis calon mahasiswa. Selain itu, ITS juga memiliki nilai-nilai tetap, salah satunya berupa tanggung jawab sosial, dengan memberikan kesempatan memperoleh pendidikan bagi siapa pun," ujarnya.

Rektor ITS menegaskan, pihaknya tidak akan mengubah nilai-nilai yang mereka tetapkan dalam menerima mahasiswa baru.Tanpa menyalahkan PTN yang telah menerapkan kebijakan program khusus tersebut, Nuh menandaskan bahwDari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP