Kamis, 14 Agustus 2014

Prestasi Olahraga dan Seni Angkat Citra Madrasah

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Madrasah yang diidentik dengan aktivitas keagamaan, bisa ditepis dengan menonjolkan kegiatan olahraga dan seni. Sehingga prestasi di kedua bidang tersebut, akan mengangkat citra madrasah di mata masyarakat dan sekolah pada umumnya.?

“Capailah prestasi yang terbaik tidak hanya dibidang agama, tetapi juga bidang olah raga dan seni,” tutur Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes H Moh Aqso saat membuka ajang kompetesi seni dan olahraga (Aksioma) tingkat MTs se Kabupaten Brebes di MTs Negeri Model Brebes, Sabtu (27/3) lalu.

Prestasi Olahraga dan Seni Angkat Citra Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Prestasi Olahraga dan Seni Angkat Citra Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Prestasi Olahraga dan Seni Angkat Citra Madrasah

Menurut Aqso, mutu dan daya saing pendidikan madrasah perlu dioptimalkan dengan ditopang dari prestasi peserta didik maupun madrasah yang bersangkutan. Siswa harus diberi ruang gerak kreativitas dan aktivitas positif sehingga bisa berprestasi sesuai dengan bakat dan minatnya. “Santri juga bisa berolahraga dan berkesenian dengan matang,” tuturnya.

Madrasah, lanjutnya, harus menjadi pusat pengembangan rohani, jasmani, skill dan intelektualitas. Tentu saja, kualitas siswa MTs akan lebih meningkat bila pengembangan empat pilar tersebut bisa diujudkan di masing-masing madrasah. “Mari bergerak, jangan bertopang dagu untuk mewujudkannya,” ajak Aqso.?

Korwil Bangbayang Jawara Aksioma

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Panitia Penyelenggara Maspau MPd menjelaskan, Kordinator wilayah (korwil) Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MTs Bangbayang berhasil menjadi juara umum dalam Aksioma 2017. Bangbayang berhasil mendulang 6 emas, 4 perak dan 4 perunggu dari 51 medali yang diperebutkan.?

Maspau merinci, KKM Bangbayang mendapatkan 6 emas dari cabang pidato bahasa Arab putra (pa), Kaligarafi (pa), MTQ (pa), Tenis meja (pa), dan Bola volley (pa,pi). Untuk 4 perak dari cabang Kaligrafi putri (pi), MTQ (pi), Hadroh (pi), dan bulutangkis (pi). Kemudian untuk 4 perunggu didapat dari cabang Pidato bahasa Arab (pi), Tahfidz (pa, pi), dan hadroh (pa)

Ribath Nurul Hidayah

Sementara untuk juara 2 Korwil Ketanggungan dengan 4 emas, 3 perak dan 4 perunggu. Sedang juara 3 korwil Brebes dengan 3 emas, 4 perak dan 2 perunggu.

Aksioma yang mengusung tema sehat, unggul dan berdaya saing global tersebut mempertandingkan cabang olahraga Bulu Tangkis, Bola Volley, Tenis Meja dan Futsal. Cabang seni meliputi MTQ, Pidato Bahasa Arab, Kaligrafi, Tahfidz dan Hadroh. Mereka berlaga secara tersebar di MTs N Brebes, Gedung Batminton 33 dan Futsal Adaba Pasarbatang.

Para juara pertama, lanjutnya, akan dikirim pada lomba yang sama di tingkat provinsi Jawa Tengah pada bulan Juli, dan tingkat Nasional pada Agustus di Jogjakarta. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 01 Agustus 2014

Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Yogyakarta menyelenggarakan shalawatan, zikir dan doa bersama ? di Masjid Sultoni, Komplek Kepatihan Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Jumat, 28 April 2017 pukul 20.00-22.00 WIB.

Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta yang juga sekaligus sebagai Ketua Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus, yakni H. Nunuk Ridjodjo Adi mengatakan bahwasannya kegiatan ini merupakan agenda perdana yang diselenggarakan Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus. Mulai saat ini dan ke depannya kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 28 pada tiap bulannya.

Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana

"Agenda ini merupakan kegiatan perdana Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus. Bulan depan dan seterusnya kita akan selenggarakan pada tanggal 28. Informasi ini sekaligus jadi undangan agar seluruh hadirin dapat hadir kembali pada bulan berikutnya. Jangan lupa ajak semua warga yang belum berkesempatan hadir pada saat ini," beber Nunuk Ridjodjo Adi usai acara majelis shalawatan berakhir sembari para hadirin mencicipi kudapan ringan dan makanan yang disediakan panitia.?

Salah satu pengurus Lazisnu Kota Yogyakarta M. Jamil yang juga ikut hadir dalam acara itu merasa senang dan bangga menjadi bagian dari majelis itu.

"Saya senang mengikuti acara ini, suasana hati menjadi tentram. Akan sangat bagus lagi apabila seluruh masjid di kota Yogyakarta diselenggarakan dan dihidupkan dengan acara seperti ini. Acara semacam ini merupakan agenda wajib warga NU yang bersendikan paham Ahlusunnah wal Jamaah. Dengan adanya kegiatan seperti ini mampu menghalau paham-pahan masyarakat yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45," cetus M. Jamil.?

Ribath Nurul Hidayah

Kurang lebih 100 orang masyarakat yang hadir memadati Masjid Sultoni. Hadir juga dalam kegiatan tersebut diantaranya, ketua Wirausaha Muda Kota Yogyakarta Rochmad, pengurus LP Maarif Kabupaten Gunung Kidul Arif Kusnadi, Banser Kota Yogyakarta Dawam. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, PonPes, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 12 Juli 2014

Santri Indonesia di Timur Tengah Desak PBNU Bentuk Komite Jazirah

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Santri yang tergabung dalam Pengurus Pusat Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) di Timur-Tengah mendesak PBNU untuk membentuk Komite Jazirah. Hal ini disebabkan melihat kondisi beberapa negara di Timur Tengah yang bertahun-tahun terus dilanda konflik berkepanjangan.?

Demikian disampaikan Juru Bicara Kader LPTNU Muhammad Taufiq, Lc dalam jumpa pers, Selasa (4/8) siang, di Media Center Muktamar ke-33 NU. Taufiq menjelaskan Komite Jazirah sebagai langak PBNU untuk ikut serta dalam usaha mencari dan merealisasikan jalan rekonsiliasi Timur Tengah. Atas nama LPTNU, pelajar yang studi di Yaman itu menyampaikan lima poin resolusi pihaknya sampaikan untuk PBNU.

?

Santri Indonesia di Timur Tengah Desak PBNU Bentuk Komite Jazirah (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Indonesia di Timur Tengah Desak PBNU Bentuk Komite Jazirah (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Indonesia di Timur Tengah Desak PBNU Bentuk Komite Jazirah

Pertama, jalan rekonsiliasi yang dibangun di atas nilai-nilai sosial ke-NU-an dan berbekal pengalaman keterlibatan PBNU dalam proses rekonsiliasi konflik di Afganistan.?

Kedua, koordinator Komite Jazirah melibatkan kader-kader NU yang berpengalaman tentang latar belakang sosial, politik, agama dan budaya di Timur Tengah.?

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, Komiter Jazirah segera melakukan komunikasi dengan Rabhitah al-Alam al-Islamy dan Liga Arab atau organisasi lainnya di Timur Tengah.

Keempat, Komite Jazirah mengemban tugas tersampainya lima aspirasi tentang masalah toleransi, keadailan dan perdamaian antarkelompok, kebebasan melakukan ritual keagamaan, menjamin terpeliharanya situs-situs bersejarah di Timur Tengah, dan PBNU berusaha supaya Komite ini diterim oleh para pemimpin di Timur Tengah.

Kelima, PBNU diminta mendirikan Bait al-Tarjamah yang bertugas menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya masyayikh dan intelektual NU.?

"Saya mendesak PBNU semaksimal mungkin agar resolusi ini segera dilakukan sebagai salah satu upaya konflik di Timur Tengah," desak Juru Bicara LPTNU itu dihadapan puluhan wartawan.

Ribath Nurul Hidayah

Taufiq menambahkan ada lebih dari 1000 pelajar asal Indonesia studi di Yaman yang hingga ini masih diselimuti konflik. "Karena ada konflik, kemudian dipersulit dalam pembuatan visa sehingga belum bisa kembali ke sana (Yaman)," terang santri asal Madura itu.

?

Pihaknya masih mencari solusi bagaimana supaya pelajar yang tidak bisa kembali ke Timur Tengah itu bisa melanjutkan studi di dalam negeri. Sekarang sudah ada beberapa perguruan tinggi yang sudah siap menerima mereka, di antaranya Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU). (M. Zidni Nafi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Hadits, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 10 Juli 2014

Guru Muhamad Naim Patuhi Akad Jual-Beli

Sinar mentari pagi 1963, belum jatuh di bumi Jakarta. KH Muhamad Na‘im sudah memegang sapu lidi. Membersihkan halaman rumah, sudah menjadi kebiasaannya. Selain kebersihan rumah, pagi hari menjadi saat yang baik untuk menghirup udara segar.

Guguran daun yang tanggal dari dahan sebentar kemudian tersudut di pekarangan rumahnya di bilangan Cipete. Beberapa daun terlihat masih segar. Ada juga yang telah menguning tua. Sementara sebagian lembaran dari daun yang tampak menggunung, setengah lembab berselimut embun dan membusuk.

Guru Muhamad Naim Patuhi Akad Jual-Beli (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Muhamad Naim Patuhi Akad Jual-Beli (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Muhamad Naim Patuhi Akad Jual-Beli

“Far, kemari dah lu. Gua mau ngomong,” kata Guru Mad Na‘im, sebutan lumrah Guru Muhamad Na‘im Cipete dari balik pagar kepada Jakfar, seorang santrinya.

“Aya guru. Ada apa yah?” jawab Jakfar mencoba menghentikan sepedanya di depan pekarangan rumah Guru Mad Na‘im.

Ribath Nurul Hidayah

“Lah, lu lagi mau kemana nih?” tanya Guru Mad Na‘im meninggalkan tumpukkan sampah daun di sudut pekarangan yang baru saja dikumpulkan.

Ribath Nurul Hidayah

“Aya mau ke Pasar Baru guru,” sahut Jakfar.

“Kebeneran dah, carikan gua kerai bangbu. Lu lihat latar gua belah sonoh? Temboknya cuma sedengkul. Kalau siang tengah hari bengkak, panasnya bukan main. Kerainya kan baru satu. Walhal kerainya kurang bangsa dua gulung lagi. Nah, tuh kerai gua mau gantung di atasnya. Tempo-tempo panas, kan tuh kerai bisa diturunin,” ujar Guru Mad Na‘im.

“Wah, Pasar Baru kagak nyediakan barang macem begituan guru. Yang begituan, kudu pesan ama orang Pondok Pinang. Ntar dah aya pesan ke orang Pondok Pinang. Kebetulan aya kenal orang Pondok Pinang ngantor di Gajah Mada,” kata Jakfar yang langsung teringat kepada Hasbullah, orang Pondok Pinang yang menjadi pegawai Kejaksaan. Kantor Kejaksaan RI zaman orde lama, bertempat di jalan Gajah Mada.

“Pokoknya lu atur aja dah. Sampe sini, gua bayar tuh barang,” kata Guru Mad Na‘im. Ia teringat bahwa kepandaian orang-orang kampung Pondok Pinang adalah kerajinan aneka perabotan yang terbuat dari kayu dan sejenisnya. 

“Nah iya dah kalau begitu. Sekalian liwat, aya mampir di sonoh,” kata Jakfar seraya menyambar tangan Guru Mad Na‘im untuk pamitan.

Sepeda Jakfar menempuh jalanan belasan kilometer dari Cipete sampai Gajah Mada. Sejumlah kampung dilaluinya. Hampir di setiap kampung, ia mampir di warung sekadar menyulut rokok sebatang-dua sambil menyantap teh pagi. Ini juga yang membuat perjalanannya agak lama tiba di tujuan.

Menyusuri Sarinah, pusat perbelanjaan cukup bergengsi sebelum ada pasar Blok M dan Arion Plaza, Rawamangun, matahari mulai membakar punggungnya. Sampai di bawah Tugu Selamat Datang Hotel Indonesia yang tinggi menjulang, Jakfar tidak berhenti mengayuh dua roda sepedanya.

Di depan RRI, ia melewati seorang serdadu yang mematung di muka pos. Pikirnya, “Saking seriusnya dalam mematung, serdadu ini mungkin tidak sempat menghalau nyamuk Medan Merdeka Barat yang menyedot darahnya.”

Sampai di halaman kantor Kejaksaan, ia menyandarkan sepeda lalu masuk menemui Hasbullah. Kepadanya, Jakfar menyampaikan pesan Guru Mad Na‘im. Lepas berbasa-basi sedikit, ia mengarahkan sepedanya ke arah Timur, menuju Pasar Baru.

Merasa dapat amanah dari Guru Na‘im, seorang Kiai yang disegani di tanah Jakarta, Hasbullah memilih untuk membolos kerja keesokan harinya. Ia memanfaatkan hari bolosnya untuk mendatangi kampung Cipete, bagian timur kampungnya, Pondok Pinang.Usai Subuh, ia mendatangi tetangganya, pengrajin kerai bambu. Dua gulung kerai, dinaikkan di atas sepeda untuk dibawa pulang. “Bangsa siangan dikit dah, gua berangkat nanti,” katanya dalam hati.

Lepas Zuhur, ia menuntun sepedanya. Antara kampung Cipete dan Pondok Pinang, sebuah sawah membentang luas dan sebuah kampung; Gandaria. Sebagian berisi rawa-rawa berlumpur.

Dengan berlumur titik-titik lumpur sawah, ia tiba di pekarangan rumah KH. Muhammad Na‘im. Agak sedikit terkejut, Hasbullah melihat beberapa mobil dan belasan sepeda terparkir di pekarangan. Mobil pribadi masih merupakan pemandangan langka di tahun itu.

Sementara di pelataran rumah, para kiai dan aktivis partai NU dari pelbagai penjuru di Jakarta berkumpul. Kediaman KH. Muhammad Na‘im, menjadi salah satu tempat pertemuan saat kegiatan politik meningkat.

Dengan senyum, Guru Mad Na‘im menyambut pesanan kerainya. “Berapa duit nih dua?” kata KH. Muhammad Na‘im kepada Hasbullah.

“Kagak usah guru. Aya dah yang tutupin,” Jawab Hasbullah.

KH. Muhammad Na‘im mengerti bahwa Hasbullah takkan menerima uang pembelian kerai itu. Ia akhirnya putar akal. “Ya dah, lu taro sono aja. Jangan kemana-mana dulu. Gua ada bekal buat lubawa pulang ke rumah,” kata KH. Muhammad Na‘im dengan sedikit berlari ke dalam rumah.

Hasbullah akhirnya pulang dengan senang karena dapat memberikan sesuatu kepada seorang guru yang sangat disegani baik karena ilmu agama maupun ilmu silatnya. Ia membawa sebuah bungkusan berisi aneka kue basah yang kemudian diserahkan kepada istrinya.

Alangkah terkejutnya Hasbullah saat istrinya teriak menemukan duit di dalam bungkusan kue. “Yah, gua dah kata kagak usah dibayar tuh kerai, eh Guru Mad Na‘im selipin tuh duit di sini,” kata pegawai kejaksaan yang membolos hanya untuk mengantarkan pesanan guru terkulai lemas di balai panjangnya.Riwayat Singkat

KH Muhammad Na’im merupakan kiai dan aktivis NU yang lahir pada 1912. Ia adalah putra H. Na‘im, seorang juara (jawara Betawi) yang sangat disegani di Jakarta Selatan. Ia pun sempat mempelajari beberapa jurus silat. Tetapi perhatiannya lebih berat kepada pelajaran agama.

Pada tahung 1932, ia bermukim di Mekah. Dengan tekun ia menyerap ilmu agama dari guru-guru di sana. Pelajaran di Mekah adalah pendidikan lanjutannya setelah mengaji kitab kepada Guru Mughni, Kuningan dan Guru Makmun, menantu Guru Mughni.

Pulang mukim, ia cukup akrab dengan kiai NU lainnya; KH Abdul Wahid Hasyim, KH Idham Cholid, KH Syaifuddin Zuhri, KH Tohir Rohili, KH Mursyidi, KH Ahmad Syaikhu dan lain-lain. Posisinya sebagai salah satu pengurus Syuriah NU DKI Jakarta membuat ia sering menghadiri muktamar-muktamar NU di berbagai daerah.

Pada tahun 1949, bersama KH. Abdur Razaq Makmun (putra Guru Makmun), KH. Jumhur, ia menghadiri Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta. Pada kesempatan itu bersama Kiai Abdul Wahid Hasyim, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Ahmad Dahlan ia menjadi saksi atas deklarasi Pemerintah Republik Indonesia Serikat.

Kiai Haji Muhammad Na’im meninggal dunia pada 13 Mei 1973 setelah dirawat empat hari di RSCM Jakarta karena mengidap penyakit Jantung. Seminggu sebelum wafat ia masih sempat meresmikan pembangunan mushola Baitun Na’im di daerah Pedurenan Jakarta Selatan. Kiai Muhammad Na’im dimakamkan di komplek Masjid Annur, jalan KH. Muhammad Na’im, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Alhafidz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama, Khutbah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 03 Juli 2014

Gara-gara Waswas

Ketika waktu dzuhur tiba, Kiai Utsman bergegas menuju masjid. Sebelum melaksanakan shalat dzuhur, ia melakukan shalat sunnah terlebih dahulu.

Ketika muadzdzin mengumandangkan iqamah, Kiai Utsman pun langsung menuju “pengimaman” untuk memimpin shalat dzuhur.

Gara-gara Waswas (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara Waswas (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara Waswas

Ushalli ...” terdengar suara berbisik Kiai Utsman ketika akan melaksanakan shalat. Lalu beliau pun bertakbir “Allahu Akbar”.

Karena dalam shalat dhuhur, fatihah dan surat yang dibaca oleh imam dilakukan secara berbisik, maka suasana masjid pun terasa hening dan khusyuk.

Ribath Nurul Hidayah

Keheningan masjid terusik oleh suara seorang makmum, yang kebetulan memiliki penyakit wawas. Dengan suara agak keras, dengan maksud untuk mematahkan waswasnya si makmum melafadzkan “ushalli fardhodh-dhuhri ...... mak-mu-man ...... (karena was-was, diulang lagi) .... mak-mu-man (beberapa kali)”

Ribath Nurul Hidayah

Kontan saja, suara makmum yang was was itu mengganggu kekhusyukan yang lain, lebih-lebih bagi Kiai Utsman, yang kebetulan tepat di depan makmum yang was was itu. Karena terus disebut “mak-mu-man” ia pun terpaksa membatalkan shalatnya, menoleh ke belakang, dan membentak sang makmum “Ada apa dengan emakku, he?”

Riuh rendahlah suasana masjid, dengan perasaan yang bercampur baur yang dialami oleh para makmum yang juga terpaksa membatalkan shalatnya. (Muhammad Nuh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Santri, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 29 Juni 2014

GP Ansor Kubu Raya Gelar PKD Perdana

Kubu Raya, Ribath Nurul Hidayah. Sebanyak 50 pemuda mengikuti Pelatihan Kader Dasar sebagai kaderisasi jenjang dasar di tubuh GP Ansor. Selama tiga hari, Jumat-Ahad (28-31/8), mereka terlibat secara aktif dalam kegiatan kaderisasi di madrasah Miftahul Huda desa Sungai Malaye yang diadakan untuk pertama kali oleh GP Ansor Kubu Raya, Kalbar.

GP Ansor Kubu Raya Gelar PKD Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kubu Raya Gelar PKD Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kubu Raya Gelar PKD Perdana

Tampak hadir dalam pembukaan PKD ini ialah Pengurus NU Kubu Raya, Romawi Martien dari PP GP Ansor, Ketua GP Ansor Kalbar Nurdin, Ketua GP Ansor Mempawah Rajuini, Sekda Kubu Raya, Kepala Dinas Kemenag Kubu Raya, PMII Kubu Raya, serta para ulama Kubu Raya.

Selain dari Kubu Raya, peserta PKD juga berasal dari kabupaten Landak, Mempawah, Kota Pontianak, kata Ketua GP Ansor Kubu Raya Junaidi.

Ribath Nurul Hidayah

Junaidi mengharapkan peserta PKD kali ini meneguhkan diri sebagai pelanjut perjuangan ulama terdahulu.

Sementara Nurdin mengingatkan warga NU di Kalbar agar tidak terlena dengan kebesaran warga NU di Indonesia. “Meskipun NU sangat besar dibandingkan organisasi lainnya, hanyak kaderisasi yang bisa dijadikan ukuran kebesaran NU. Karenanya, kaderisasi sangat penting untuk digerakan setiap pengurus daerah.” (Firman/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Santri Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 10 Juni 2014

Kader KMNU dari 12 Kampus Siap Ramaikan Ajang NU-santara

Bogor, Ribath Nurul Hidayah. Sekitar 250 kader KMNU dari 12 perguruan tinggi negeri di Indonesia dan Malaysia siap meramaikan acara Nahdlatul Ulama-Science and Cultural Art Olympiade (NU-santara) pada 16-18 Oktober 2015 di Bogor, Jawa Barat. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dijadwalkan hadir dalam kegiatan berskala nasional ini.

Kader KMNU dari 12 Kampus Siap Ramaikan Ajang NU-santara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader KMNU dari 12 Kampus Siap Ramaikan Ajang NU-santara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader KMNU dari 12 Kampus Siap Ramaikan Ajang NU-santara

Keduabelas perguruan tinggi yang dimaksud antara lain Universitas Lampung? (Unila), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia? (UI), Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN), Universitas Padjadjaran? (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi? Bandung (ITB), Univesitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri? Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas? Diponegoro (Undip),? dan International Islamic University Malaysia (IIUM).

Rangkaian acara terdiri? dari lomba hadrah dan esai. Selain? itu digelar pula? Pelatihan Nasional yang meliputi pendidikan ke-NU-an dan Ke-KMNU-an, administrasi keuangan, teknologi informasi, jurnalistik, dan? NU-Training. Forum Pembina KMNU Nasional serta Seminar Kebangsaan dan? Kontemplasi Budaya juga turut digelar dalam memeriahkan acara? Nusantara 2015.

Ribath Nurul Hidayah

Kiki dari bagian kesekretariatan mengatakan, antusiasme para kader KMNU sangat tinggi. Hal ini menunjukkan kader KMNU cukup militan? untuk belajar dan berlomba pada perhelatan NU-santara kali ini. “Kami selaku? panitia akan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik guna menyambut? kader-kader tebaik KMNU,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Puguh, koordinator acara, menambahkan, seminar? kebangsaan dan kontemplasi budaya akan dihadiri oleh? Menteri Pemuda? dan Olahraga Imam Nahrowi, KH D Zawawi Imran, dan mantan ketua Lesbumi Sastro al-Ngatawi.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mewadahi dan? memfasilitasi pemikiran-pemikiran ilmiah para mahasiswa Nahdlatul? Ulama, potensi non-akademik bidang keagamaan dan pelestarian tradisi, serta sebagai bentuk apresiasi? terhadap prestasi para mahasiswa? Nahdlatul Ulama,” ujarnya. (Irfan Sofyan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah