Rabu, 26 November 2008

Silaturahim, Pertamina Ajak PBNU Kerja Sama

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Ahmad Bambang didampingi sejumlah pejabat PT Pertamina lainnya, berkunjung ke Kantor PBNU pada Senin (11/4) malam.

Silaturahim, Pertamina Ajak PBNU Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturahim, Pertamina Ajak PBNU Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturahim, Pertamina Ajak PBNU Kerja Sama

Bambang dan rombongan yang disambut Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan maksud kunjungan silaturahim tersebut untuk menjajaki kemungkinan kerja sama yang bisa dijalin antara PT Pertamina dan PBNU.

“Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari rencana kerja sama yang pernah dicetuskan sebelumnya,” ungkap Bambang. Ia mengatakan, PT Pertamina menyadari bahwa pengembangan bisnis membutuhkan lahan.

Ribath Nurul Hidayah

“Kami tahu lokasi dan warga NU banyak, tersebar di seluruh Indonesia. Kemudian, kebutuhan akan pertambangan di Indonesia itu penting. Kerja sama perlu dilakukan untuk menutupi kebutuhan Pertamina,” lanjut Bambang.

Bambang berharap, sinergi yang baik akan terjalin di antara dua pihak. Bambang mengatakan keprihatinannya, selama ini Indonesia sering melakukan impor sejumlah barang tambang. Padahal, di Indonesia banyak tersedia barang tambang yang bisa diolah. Misalnya, Indonesia masih melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan aspal, meski sebenarnya bisa diolah dari batu bara muda yang juga tersedia di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

“Indonesia bisa menyiapkan cadangan nasional,” tegas pria kelahiran 5 Juli 1962, lulusan Sarjana Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung (1986) dan Program Magister Manajemen Industri, Universitas Indonesia (1999) ini.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Ketua LWPNU H Mardini, Bendum PBNU Bina Suhendra, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Robikin Endang, Isfah A. Aziz, Sekjen ISNU M. Kholid Syeirazi, Syaiful Bahri Muhammad, Marwan Zainudin, M Lukman Hakim (LWPNU), H Munsorun Mulya (LWPNU), dan Wasekjen PBNU Suwadi D. Pranoto.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak PBNU mengenai tawaran kerja sama tersebut. Pihak PBNU masih mempelajari berkas rancangan kerja sama yang diajukan Pertamina.

Ketum PBNU Said Aqil Siroj di antaranya menegaskan bahwa NU berisi ulama-ulama yang nasionalis. Artinya ulama selain taat dalam urusan ibadah, juga peduli pada urusan tanah air dan kepentingan bangsa. Kang Said mengatakan bahwa ulama dan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari adalah ulama, pembela dan pejuang tanah air.

“Mencintai dan membela tanah air adalah bagian dari iman,” terang Kang Said. (Kendi Setiawan/Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan Ribath Nurul Hidayah

Senin, 17 November 2008

Tertarik Jadi Pilot Antarkan Siswa Madrasah Ini Ikuti Olimpiade Sains Penerbangan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Karena terngiang akan cita-citanya menjadi penerbang atau pilot, Siswa MAN 1 Kota Bekasi Ghozy El Fatih (17) mencari informasi apapun tentang pilot. Setelah berselancar kian kemari di dunia maya, Fatih akhirnya menemukan info tentang olimpiade sains penerbangan.

Atas restu Tati Kurniati, sang ibu, anaknya yang kini duduk di kelas XI Jurusan IPA Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Bekasi ini pun langsung mendaftar. “Anak saya cita-citanya jadi pilot. Ikut lomba ini pun dia cari info sendiri di internet, bukan surat resmi ke MAN 1. Mohon doanya semoga berhasil,” ujar Tati kepada Ribath Nurul Hidayah.

Tertarik Jadi Pilot Antarkan Siswa Madrasah Ini Ikuti Olimpiade Sains Penerbangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tertarik Jadi Pilot Antarkan Siswa Madrasah Ini Ikuti Olimpiade Sains Penerbangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tertarik Jadi Pilot Antarkan Siswa Madrasah Ini Ikuti Olimpiade Sains Penerbangan

Tentang cita-cita Fatih menjadi penerbang saat masih balita, lanjut dia, sebenarnya sempat batal lantaran lajang kelahiran Bekasi, 12 Mei 1999 ini takut ketinggian. “Tapi, tahun lalu kok mulai teringat lagi cita-citanya,” ungkap Tati.

Ditanya siapa yang mengenalkan tentang pilot, dengan berkelakar Tati mengatakan, “Ibunya lah.” Adapun ia dan suami, Ahmad Yusuf, sengaja menyekolahkan Fatih di MAN agar memahami ilmu agama.

Olimpiade Sains Penerbangan akan digelar di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara (PPSDM Hubud) Komplek Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang, Selasa, 19 April 2016 lusa.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagaimana dirilis dalam portal PPSDM Hubud, Olimpiade Sains Penerbangan tingkat nasional tahun 2016 ini diselenggarakan PPSDM Hubud Kementerian Perhubungan dalam rangka meningkatkan kecintaan pada budaya iptek bidang penerbangan di lingkungan generasi muda, khususnya siswa SMA/MA/SMK dan sederajat.

Hingga penutupan pendaftaran pada Jumat (15/4) petang, terdapat 236 siswa dari berbagai kota di Jawa dan Sumatera terdaftar sebagai peserta. Dari jumlah tersebut, hanya 13 anak dari madrasah. Selain Fatih (MAN 1 Bekasi), ada enam siswa MAN 1 Bogor, empat siswa MA Daar el-Qolam, dan dua siswa MAN 13 Jakarta. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 15 November 2008

Pemuka Kristen Sesalkan Penodaan Islam di Batu

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Para pemuka agama Kristen menyatakan penyesalannya atas penodaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh sebuah kelompok yang terjadi di Batu Malang. Aksi pelecehan tersebut disebarkan dalam sebuah VCD yang kini mulai beredar di Batu dan sekitarnya.

Dalam pernyataan lembaga geraja tingkat nasional terhadap isu SARA di Malang. Para pimpinan geraja menyatakan penyesalannya sehubungan terjadinya peristiwa di Batu-Malang yang benuansa SARA, karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 dan tidak sejalan dengan semangat kerukunan antar umat beragama yang kini sedang dibangun dalam kehidupan masyarakat majemuk Indonesia.

Selanjutnya pimpinan geraja-geraja di Indonesia menyatakan bahwa kegiatan yang dilakukan di Batu-Malang tidak berada dalam koordinasi pimpinan gereja-geraja di Indonesia.

Pemuka Kristen Sesalkan Penodaan Islam di Batu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuka Kristen Sesalkan Penodaan Islam di Batu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuka Kristen Sesalkan Penodaan Islam di Batu

Pimpinan gereja-geraja di Indonesia mengharapkan agar peristiwa tersebut tidak mencederai hubungan antara umat beragama di Indonesia dalam upaya bersama untuk memberi kontribusi bagi kehidupan bangsa, dan meminta pejabat berwenang untuk memproses mereka yang terlibat, secara hukum.

Peryataan tersebut diungkapkan dalam kunjungan para pemuka geraja ke PBNU dan ditandatangani oleh Ketua Umum Persatuan Gereja-Geraja Indonesia Pdt. Dr. AA. Yewangoe, Wakil Sekum Persekutuan Gereja Lembaga Injili Indonesia Pdt. Ing Dahlan Setiawan dan Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia Pdt. Suhandoko Wirhaspati, Kamis, 5 April 2005.

Ribath Nurul Hidayah

Baik fihak geraja maupun PBNU berharap agar masalah tersebut tidak berubah menjadi masalah nasional. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi telah meminta fihak keamanan di Malang dan NU di Batu untuk menganbil tindakan antisipasi agar masalah ini tidak membesar.

“Kami takut masalah ini menjadi besar karena saat ini informasi bisa menyebar dengan cepat,” tutur Yewangoe.

Ditambahkannya bahwa tindakan sekelompok orang radikal tersebut sangat tidak dapat dibenarkan. “Untuk menunjukkan keluhuran agama, tidak boleh dengan melecehkan agama lain. Untuk menegangi tidak dengan mematikan lilin orang lain,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh KH Hasyim Muzadi. “Pemeluk agama yang sholeh tidak akan merusak agama lainnya. Karena itu, pembuat provokasi ini harus ditindak,” paparnya.

Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang tersebut menuturkan jika dua kelompok agama yang radikal bertemu, mereka bisa menimbulkan pertentangan dan anarkisme yang akan mendorong umat pada tindakan kekerasan. “Karena itu polisi harus bertindak agar kesalahan ini tidak ditimpakan pada umat,” tandasnya.

World Conference on Religion and Peace tersebut meminta agar masing-masing agama bisa menakan terjadinya radikalisme dimasing-masing agama. Ia juga meminta agar dakwah dilakukan dengan memperhatikan budaya yang Indonesiawi.

“Jangan sampai kalau umat Islam ada masalah, lapornya ke Arab Saudi, demikian juga kalau Kristen ada masalah, lapornya ke Amerika. Nanti situasinya malah semakin ruwet,” katanya.

Karena itu proses dialog antar para pemimpin agama dan saling menjaga kerukunan menjadi sangat penting dalam menjaga perdamaian dan menghindari konflik SARA di Indonesia. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 10 Juni 2008

Akidah Islam Perlu Standarisasi

Pati, Ribath Nurul Hidayah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) perlu membuat standarisasi akidah Islam, karena terlalu bebasnya arus informasi dan komunikasi yang diterima masyarakat.

Menurut Ketua MUI KH. MA Sahal Mahfudh, di Pati, Minggu, saat memberikan ceramah dalam Musda VII MUI di Kabupaten Pati, Minggu, bebasnya arus informasi itu merupakan pendorong utama bergesernya nilai-nilai syariah Islam di Indonesia, sehingga perlu standarisasi melalui jalur pendidikan.

Akidah Islam Perlu Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Akidah Islam Perlu Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Akidah Islam Perlu Standarisasi

"Kurikulum yang berbeda-beda di masing-masing daerah perlu disatukan kembali," katanya.

Ia mengatakan, upaya tersebut merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyelamatkan Akidah Islam, sehingga perlu juga diusulkan ke forum MUI pusat.

Standarisasi kurikulum pendidikan tidak mudah dilakukan, karena ada dua lembaga yang menangani tentang pendidikan, yaitu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag).

Selaiun itu, Kyai Sahal yang juga rais aam PBNU tersebut menambahkan dalam pengelolaan pendidikan keduanya tidak saling sinkron, bahkan terdapat perbedaan mencolok, sehingga terkesan masing-masing departemen berjalan sendiri-sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

"Upaya mencari penyelesaian masalah pendidikan agama antara dua departemen tersebut memang sulit menemukan solusi tepat, meski di tingkat kabinet sudah ada titik temu," katanya. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 11 April 2008

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Menanggapi adanya penilaian tentang menurunnya kitab kuning yang diajarkan di pesantren, Rais Syuriyah PBNU KH Masykuri Abdillah menilai kondisi itu harus dipilah-pilah. Yang pertama adalah dari sisi jumlah siswa dan sistem.?

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem

“Saya mendapatkan infomasi bahwa sejumlah pesantren besar ada juga yang tidak menerapkan secara ketat kemampuan anak Aliyah misalnya, untuk membaca kitab kuning. Ini alasannya karena yang diterima masuk ada yang dari SMP, ada dari Tsanawiyah Negeri yang tidak punya latar belakang kitab kuning. Ini sangat disayangkan. Alasannya kalau tidak menerima siswa dari sekolah negeri atau siswa di luar pesantren, akan kurang siswanya. Itu yang menyedihkan,” kata Masykuri kepada Ribath Nurul Hidayah, Rabu (13/4).?

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai, sebenarnya akan lebih baik apabila pesantren menerapkan dua kurikulum, yaitu kurikulum yang tetap mempertahankan karakteristik pesantren, dan kurikulum umum untuk mengakomodir siswa yang tidak berasal dari pesantren.

"Penerapan dua kurikulum itu juga sudah sejak dulu dilakukan di beberapa pesantren. Misalnya Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak yang sejak tahun 1970-an sudah membuka Tsanawiyah pesantren, di samping kurikulum umum. Bila ini diterapkan di banyak pesantren, akan menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan pengajaran dan kemampuan membaca kitab kuning," jelas pria kelahiran Kendal Jawa Tengah 58 tahun lalu ini.

Pemilahan kedua adalah dari sisi kitab yang dibaca. Masykuri menganggap sebenarnya dari dulu juga tidak banyak, terutama yang diajarkan di pesantren kepada santri. Jika ada kitab lebih banyak itu yang dibaca oleh kiainya agar mempunyai wawasan yang luas dalam mengajar santri. Masykuri percaya saat ini jumlah pembaca kitab kuning dan jumlah kitab kuning yang dipelajari masih banyak.

Ribath Nurul Hidayah

Terkait rencana Menag yang akan mengafirmasi pesantren untuk lebih aktif lagi mengajarkan kitab kuning, Masykuri berpendapat hal itu sebagai sesuatu yang memang harus dilakukan, termasuk menyediakan buku-bukunya.

Menurut pria yang juga mantan salah satu Ketua PBNU ini, yang juga penting dikenalkan adalah adanya kitab putih. Dalam kitab putih yang dalam penulisannya sudah ada titik koma, ditulis oleh para penulis pada zaman sekarang. Kitab putih sangat baik diajarkan karena di dalamnya ada argumentasi yang lebih meyakinkan, ada kutipan dari Al-Quran dan hadits, sesuatu yang kadang tidak ada dalam kitab kuning yang langsung menguraikan pendapat ulama.?

“Sehingga kitab kuning dan kitab putih, perlu dibaca semuanya,” tandas Masykuri.? (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 20 Maret 2008

Pagar Nusa Usulkan Pencak Silat Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Aizzuddin mengusulkan agar pencak silat diajarkan di seluruh sekolah di Indonesia. Alasannya, olah raga bela diri ini adalah keterampilan asli Indonesia dan harus dilestarikan oleh bangsa Indonesia sendiri.

Pria yang akrab disapa Gus Aiz ini mengatakan, di antara kekuatan negara kecil seperti Jepang yang pernah menjajah bangsa-bangsa lain dan sekarang menguasai teknologi di dunia belajar bela diri yang diwajibkan pembelajarannya sejak sekolah dasar.

Pagar Nusa Usulkan Pencak Silat Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Usulkan Pencak Silat Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Usulkan Pencak Silat Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah

Guz Aiz menyampaikan hal itu dalam acara pembukaan Kejuaraan Daerah (Kejurda) ke-2 di kompleks Pondok Pesantren Az-Zuhri, Ketileng, Semarang selama tiga hari, Sabtu sampai Senin (11-13/1).

Ribath Nurul Hidayah

“Pencak Silat adalah warisan asli bangsa kita. Dulu dipakai para ulama dan para pahlawan untuk berjuang merebut kemerdekaan. Harus dilestarikan dan dijadikan pelajaran wajib di seluruh sekolah di Indonesia. Kita tiru Jepang dari sisi baiknya,” ujarnya berapi-api disambut tepuk tangan hadirin.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah Abu Hafsin Umar menyampaikan, pihaknya telah menyetujui usulan Pagar Nusa, agar diajarkan sebagai olahraga wajib di seluruh sekolah NU, baik sekolah resmi milik Lembaga Pendidikan Maarif NU, maupun yang dinaungi NU.

Kerjuda II ini diikuti 236 atlet wiralaga dan 23 kontingen Seni Jurus, baik putri maupun putra. Mereka utusan dari 23 Pimpinan Cabang IPS NU Pagar Nusa se-Jateng. Para atltet akan memperebutkan piala kategori tanding remaja Pa dan Pi, Dewasa Pa dan Pi, seni beregu, serta seni ganda. (Mohammad Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 26 Februari 2008

Ketika Seorang Prof Diakali Anak Kecil

Penduduk Mesir pribumi banyak dikenal sebagai orang cerdik dalam bersiasat. Diperkirakan karena di antara mereka banyak yang mempunyai garis keturunan Bani Israil. Di antara kecerdikannya ini dirasakan pula oleh Prof. Nizar Ali yang sekarang menjabat sebagai Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag.

Dahulu, dalam salah satu kunjungannya ke Mesir, Prof Nizar ingin berziarah ke makam Syekh Zaki Ibrahim. Seorang penganut ajaran tasawuf, pemuka tarekat Syadziliyyah yang sangat disegani. 

Ketika Seorang Prof Diakali Anak Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Seorang Prof Diakali Anak Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Seorang Prof Diakali Anak Kecil

Karena belum tahu lokasi makam, Prof Nizar bertanya kepada salah satu anak kecil. 

"Dik, makam Syekh Zaki Ibrahim terletak di mana ya?" tanyanya dengan bahasa Arab.

Tak segera menjawab, si anak kecil ini berlagak seperti simsar (makelar). Ia mengajukan satu syarat. Untuk menunjukkan arah yang diminta Prof Nizar, anak kecil ini meminta uang sejumlah 10 pounds atau setara sekitar Rp.25.000,-.

Ribath Nurul Hidayah

Khawatir dibohongi, Nizar memberikan pertanyaan untuk memastikan bahwa ia tidak akan ditipu anak-anak?

"Benar ya kau tunjukkan mana makamnya? 

Ribath Nurul Hidayah

Anak kecil ini pun mengiyakan dengan serius, namun ia meminta uang segera dibayar di depan terlebih dahulu. 

Setelah diterimakan dengan baik, si anak memandu para orang tua dari luar negeri Mesir ini. Ia berjalan di bagian depan. 

Yang mengagetkan bagi Nizar adalah ternyata ketika anak itu baru berjalan beberapa langkah ke depan dengan menapaki jalan yang menurun, anak itu pun dengan enteng menunjuk makam yang dimaksud oleh Prof Nizar. 

"Itu," katanya ringan sambil melempar senyum indahnya, tanda bahagia mendapat upah lumayan. 

Sangat jauh dari angan. Bayangan Prof Nizar, dengan uang 10 pounds mereka akan ditunjukkan di lokasi yang cukup jauh. Tapi ternyata hanya beberapa langkah ke depan saja. Perasaanya geli. Bukan menyesali uang yang telah ia berikan, tapi kecerdikan orang Mesir ini memang cukup jitu. Ia seolah diakali oleh anak-anak, meskipun cara mereka mengakali dengan model demikian itu sah-sah saja. (Ahmad Mundzir) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja Ribath Nurul Hidayah