Selasa, 26 Desember 2017

KH Ma’ruf Amin: Boleh Jadi TKW Asal Aman

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa seorang perempuan boleh saja menjadi TKW dan bekerja di luar negeri asal terjamin keamanan, kehormatan dan keselamatannya.

“Boleh saja kerja di luar negeri, asal mereka harus mendapat perlindungan, terjaga kehormatannya termasuk mendapatkan haknya seperti gaji,” ungkapnya dalam acara “Halaqah Ulama dalam Upaya Pencegahan dan Perlindungan Korban Trafficking terhadap Perempuan dan Anak” yang diselenggarakan oleh Fatayat NU di Jakarta, Senin.

Halaqah ini merupakan bagian dari upaya untuk mencari masukan terhadap hukum trafficking yang merupakan salah satu masalah yang dibahas dalam munas alim ulama NU di Surabaya, 28-30 Juli lalu. Karena keterbatasan waktu, akhirnya masalah ini diserahkan ke PBNU untuk dibahas di Jakarta.

KH Ma’ruf Amin: Boleh Jadi TKW Asal Aman (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma’ruf Amin: Boleh Jadi TKW Asal Aman (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma’ruf Amin: Boleh Jadi TKW Asal Aman

Makruf Amin menjelaskan bahwa keputusan hukum yang akan dibuat ini untuk memberi pegangan dalam sosialisasi gerakan anti trafficking yang sudah dilaksanakan oleh kalangan NU, terutama Fatayat NU yang sudah lama bergerak dalam upaya pencegahan dan perlindungannya.

Sosialisasi kepada masyarakat menjadi sangat penting karena banyak orang yang belum faham arti dan makna trafficking sehingga secara tak sadar mereka terjun didalamnya. Sebelumnya Fatayat NU telah menyelenggarakan sosialisasi ini di berbagai kota dengan melibatkan pesantren sebagai partnernya.

Ribath Nurul Hidayah

Indonesia disinyalir merupakan sumber perdagangan perempuan dan anak. Diperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 700 ribu – 1 juta orang per tahun. Lebih dari 80 persen dari korban tersebut adalah perempuan dan anak-anak. 52 persen dieksploitasi sebagai pekerja rumah tangga dan 17.1 % dipaksa melacur.

 

Diakuinya bahwa masalah trafficking merupakan bagian dari masalah sosial akibat kemiskinan yang melanda masyarakat. Tingkat pendidikan yang rendah dan kemiskinan menyebabkan mudahnya mereka tertipu oleh para calo atau agen pencari TKI. Kejahatan ini sudah tersistem dengan rapi yang juga melibatkan oknum aparat pemerintah mulai tingkat RT dan RW dengan pemalsuan KTP dan akte lahir agar sesuai dengan umur dan syarat yang ditentukan.

Upaya untuk memberi perlindungan kepada buruh migran saat ini juga sedang dilakukan melalui UU yang saat ini draftnya sudah masuk ke DPR RI.

Sementara itu Ketua Umum Fatayat NU Maria Ulfa Anshor mengungkapkan bahwa Fatayat melalui jaringannya sampai dengan tingkat kecamatan dan desa akan melakukan aksi bersama untuk melakukan penyuluhan melalui komunitas waspada trafficking. Gerakan ini akan melibatkan tokoh masyarakat, guru, polisi dan relawan.

Ribath Nurul Hidayah

“Kejahatan ini sudah mencapai lintas negara. Kebanyakan korbannya adalah orang desa dan kita tahu sendiri bahwa yang tinggal di desa adalah warga NU,” tuturnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Santri Berjuang Membangun Kesetaraan

Pada 22 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo mengesahkan tanggal tersebut sebagai Hari Santri. Kita patut bersyukur atas apresiasi dari pemerintah pada peran yang dijalankan oleh kelompok santri dalam berbagai bidang kehidupan. Santri merupakan kelompok masyarakat yang paling gigih dalam menentang penjajahan Belanda dengan melakukan berbagai perlawanan yang tersebar di berbagai daerah. Kini pun, santri mengawal perjalanan bangsa agar tetap pada jalurnya di tengah-tengah ancaman radikalisme.

Di tengah gencarnya upaya membangun dan memperbaiki pendidikan di Indonesia, yang ditunjukkan dengan alokasi anggaran sebesar 20 persen untuk sektor pendidikan dalam UUD 1945, dunia pesantren, khususnya pesantren salaf, luput dari perhatian. Alokasi dana untuk madrasah pun jauh lebih kecil dibandingkan dengan sekolah umum. Belajar di pesantren seolah tidak layak mendapat dukungan negara untuk perbaikan kualitas sebagaimana sistem pendidikan sekolah. Tidak ada dana biaya operasional pesantren seperti biaya operasional sekolah (BOS) yang diberikan kepada setiap murid di sekolah. Tidak ada alokasi beasiswa bagi santri yang sedang mondok. Tidak ada dana sertifikasi bagi para ustadz yang mengajar di pesantren, dan para santri harus tinggal di asrama ala kadarnya. Semuanya dilakukan secara swadaya dengan semangat tafaqquh fiddin.

Santri Berjuang Membangun Kesetaraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Berjuang Membangun Kesetaraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Berjuang Membangun Kesetaraan

Sesungguhnya santri juga pelajar, hanya fokusnya saja yang beda karena yang dipelajari adalah ilmu-ilmu agama. Bidang ini juga tak kalah pentingnya bagi kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Mereka membina masyarakat setelah pulang dari pesantren. Mereka dididik untuk memiliki karakter dan akan mendidik masyarakat agar berkarakter. Begitulah proses pendidikan berlangsung dari generasi ke generasi sampai akhirnya menjadi sebuah ciri Muslim Nusantara yang khas. Tak ada ceritanya tawuran di kalangan santri. Mereka sangat menghormati guru dan orang tua, serta menyayangi yang muda. Pendidikan karakter yang digember-gemborkan di sekolah belakangan ini, toh masih sangat jauh dari standar yang berlaku di lingkungan pesantren. Toh, dengan peran yang sedemikian besar, pesantren belum mendapatkan banyak perhatian.

Akibat minimnya dukungan bagi pesantren, proses belajar mengajar dilakukan secara sederhana, apa adanya. Tetapi hal ini tak mengurangi semangat untuk belajar. Jika ada dukungan fasilitas yang lebih memadai, tentu hasilnya akan luar biasa. Akhirnya, para pengasuh pesantren, harus mati-matian untuk mencari dana buat operasional pesantren. Tak mungkin pula menarik iuran yang memadai kepada santri karena rata-rata dari mereka berlatar belakang keluarga sederhana dengan pendapatan terbatas. Tak ada pula komersialisasi pesantren sebagaimana terjadi di sekolah yang kini menunjukkan gejala yang semakin memprihatinkan. Pendidikan di pesantren didasari niat luhur untuk mendidik manusia menjadi lebih beradab.

Ribath Nurul Hidayah

Peringatan hari santri yang kini sudah berlangsung untuk kedua kalinya, tak boleh sekadar upacara seremonial bahwa eksistensi santri sudah diakui negara. Tak boleh bangga hanya karena banyak yang ikut upacara atau karena para pejabat yang datang. Hal itu penting, tetapi ada yang lebih penting: peringatan Hari Santri adalah titik awal untuk memperjuangkan hak-hak santri sebagai pelajar sebagaimana yang diperoleh dalam sistem pendidikan sekolah. Kirab Hari Santri yang mengambil titik awal di Banyuwangi, Jawa Timur, yang kemudian menyinggahi puluhan kota sebelum akhirnya berakhir di Jakarta diharapkan tidak sekadar menunjukkan besarnya jumlah massa santri, tetapi harus mampu membangun kesadaran dari pemerintah daerah yang dilewati oleh rombongan kirab tersebut untuk lebih memperhatikan para santri dalam proses belajar mengajar di pesantren.

Salah satu kendala dalam pemberdayaan santri adalah belum adanya payung hukum yang memberi dukungan atau melegalkan alokasi anggaran untuk pesantren. Upaya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menginisiasi Rancangan Undang-Undang Pendidikan Pesantren dan Madrasah layak diapresiasi dan didukung. Dengan adanya payung hukum, maka hak-hak pelajar santri akan diakui secara formal dalam pembuatan kebijakan negara. Sungguh menyenangkan membayangkan para santri bisa belajar di pesantren dengan fasilitas yang memadai. Sungguh bahagia melihat? para ustadz mengajar tidak sekadar didasarkan untuk mengabdi dengan bayaran ala kadarnya. Jika mereka juga mendapatkan dana sertifikasi atas pengabdiannya dalam mengajar, mereka bisa hidup lebih layak, bisa membeli kitab-kitab terbaru sebagai bahan rujukan atau bisa meneruskan pendidikan yang lebih tinggi untuk peningkatan kapasitas intelektualnya.

Ribath Nurul Hidayah

Jika pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai model Islam yang pas di era globalisasi atau menjadikan Indonesia sebagai rujukan Islam dunia sebagaimana yang belakangan didengung-dengungkan, tentu dukungan bagi pesantren yang merupakan inti dari Islam di Indonesia harus dilakukan secara penuh. Untuk melahirkan ahli-ahli agama kelas dunia, yang pandangannya diakui, dihormati dan menjadi rujukan dalam berperilaku sebagai Muslim yang baik tak cukup dengan pujian bahwa pesantren telah berbuat banyak bagi negeri ini. Perlu dukungan kitab dan buku-buku yang memadai untuk belajar dengan baik, perlu para ulama yang mumpuni agar potensi santri bisa terasah secara maksimal. Tanpa dukungan yang memadai, cita-cita itu hanya omong kosong belaka. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba Ribath Nurul Hidayah

Senin, 25 Desember 2017

Habib Luthfi Terima Tim Anjangsana Pascasarjana STAINU Jakarta

Pekalongan,? Ribath Nurul Hidayah. Setelah menelusuri situs dan sejumlah laku Islam Nusantara di Purwakarta dan Cirebon, Tim Anjangsana Islam Nusantara STAINU Jakarta tiba di Pekalongan, Senin (23/1) malam. Mereka diterima langsung oleh Habib Luthfi bin Yahya di kediamannya.

Bersama warga lain yang sedang sowan ke Habib Luhtfi, rombongan Tim Anjangsana yang terdiri dari para akademisi Islam Nusantara tersebut secara teratur mencium tangan Habib Luthfi. Senyum tokoh Tarekat dunia itu mengembang, tak terlihat lelah sedikit pun di wajahnya meskipun malam makin larut.

Habib Luthfi Terima Tim Anjangsana Pascasarjana STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Terima Tim Anjangsana Pascasarjana STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Terima Tim Anjangsana Pascasarjana STAINU Jakarta

Obrolan dibuka oleh Dr Zastrouw Ngatawi. Rombongan yang terdiri dari 17 orang ini nampak khusyuk mendengarkan nasihat dan wejangan Habib Luhtfi. Malam makin larut, tetapi tamu yang berkunjung tidak berkurang. Sesekali obrolan Tim Anjangsana diselingi sejumlah tamu yang membawa air untuk didoakan oleh Habib Luhtfi.

Kepada Tim Anjangsana, Habib Luthfi memberikan beberapa keterangan terkait sanad keilmuan dan sejarah Islam di Nusantara yang selama ini berkembang dan menjadi kajian serius di Pascasarjana STAINU Jakarta.

Menurut Habib Luthfi, sejarah bangsa sendiri mempunyai peran penting dalam membangun dan memperkuat nasionalisme. Kelemahan bangsa Indonesia, mereka kurang memahami dan mempelajari sejarahnya sendiri secara tuntas.

Ribath Nurul Hidayah

“Solusi dari berbagai persoalan bangsa selama ini akan nampak luas jika memahami sejarah sehingga setiap masalah bisa diselesaikan dengan baik,” tutur Habib Luthfi sambil sesekali menyeruput tehnya.

Ulama yang dekat dengan semua kalangan ini menegaskan bahwa Islam Nusantara penting dipahami untuk membangkitkan nasionalisme.?

Ribath Nurul Hidayah

“Jadi bukan nasionalisme untuk agama, tetapi agama untuk nasionalisme,” jelas Habib Luthfi.

Dia memberikan arahan kepada Tim Anjangsana untuk ziarah ke makam Habib Hasyim di sekitar Komplek Makam Sapuro Pekalongan. Karena Habib Hasyim merupakan salah satu ulama yang memberikan petunjuk kepada KH Hasyim Asy’ari dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU) selain Mbah Cholil Bangkalan.

Habib Luthfi juga memberikan ijazah shalawat ukhuwah kepada rombongan. Ijazah shalawat ini untuk menyatukan hati pemimpin dan umatnya serta pemerintah dan rakyatnya. Ijazah ini juga untuk menolak berbagai kemungkinan jahat di antara mereka sehingga bangsa dan negara akan tetap kuat dalam satu-kesatuan.? (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Pahlawan, Santri Ribath Nurul Hidayah

Ahmad Tohari: Sarjana Kurang Baca, Sarjana Pas-pasan

Banyumas, Ribath Nurul Hidayah - Orang pintar memiliki harga yang tinggi. Untuk meraih harga yang tinggi, seseorang harus rajin membaca. Suka membaca adalah syarat orang menjadi pintar.

Demikian diungkapkan oleh sastrawan Ahmad Tohari dalam acara Gerakan Budaya Baca Masyarakat Banyumas (Gebyarmas) yang diadakan oleh Fokus Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM) Kabupaten Banyumas, di Kampus IAIN Purwokerto, Jawa Tengah, Ahad (7/5).

Ahmad Tohari: Sarjana Kurang Baca, Sarjana Pas-pasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari: Sarjana Kurang Baca, Sarjana Pas-pasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari: Sarjana Kurang Baca, Sarjana Pas-pasan

"Menteri luar negeri pertama Indonesia, Agus Salim. Dia bukan dari kalangan sekolah tinggi, tapi menguasai tujuh bahasa, belajar secara otodidak," kata pria asal Jatilawang, Kabupaten Banyumas ini.

Ahmad Tohari mengajak masyarakat untuk gemar membaca agar berpengetahuan luas. Sebab kurangnya pengetahuan, menurutnya, merupakan salah satu faktor orang kecil harganya.

Ribath Nurul Hidayah

"Kalau kurang membaca, meski dia sarjana, pasti jadi sarjana yang pas-pasan, harganya umum atau rata-rata," lanjutnya.

Selain itu, Ahmad Tohari juga menyoroti orang yang berpenghasilan pas-pasan tapi maniak rokok. "Seandainya uangnya buat membeli buku, itu investasi pengetahuan, memodali ilmu pengetahuan," tadasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Tohari juga berpesan kepada generasi muda untuk menggunakan teknologi informasi yang telah maju sebagi alat untuk melakukan pengembangan diri. Sedangkan bagi orang tua diharapkan bisa mencukupi kebutuhan bacaan anak-anak mulai sejak dini. (Kifayatul Akhyar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Pahlawan, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 24 Desember 2017

PMII: Jaga Ekologi Papua!

Jayapura, Ribath Nurul Hidayah. Sepuluh tahun pasca otonomi khusus diberlakukan di Papua, geliat pembangunan di Bumi Cendrawasih itu mulai terlihat dengan banyaknya pembangunan sejumlah pasar modern, dan pengembangan infrastruktur transportasi dan gedung-gedung.

Terkait dengan denyut pertumbuhan di Papua, Ketua Pengurus Besar PMII Bidang Kajian Pengembang SDA (KPSDA) Aidil Azhari mengingatkan bahwa industrialisasi di Papua harus memperhatikan ekologi dan kebutuhan masyarakat.?

PMII: Jaga Ekologi Papua! (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Jaga Ekologi Papua! (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Jaga Ekologi Papua!

Aidil mengatakan hal tersebut pada salah satu sesi dialog kebangsaan di acara Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Hotel Sentani, Jaya Pura, Kamis (13/12).

“Kembangkan saja pertanian dan perikanan. Jangan pertambangan. Perhatikan kondisi ekologi. Jayapura sebagai sentral Propinsi Papua jangan sampai rusak sementara masyarakatnya tak sejahtera,” tandasnya.?

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga mengingatkan tentang dampak industrialisasi pada ketimpangan ekonomi masyarakat yang bakal melahirkan konflik baru di Papua. karenanya, Pemerintah dan kalangan industri menurutnya harus fokus pada peningkatan SDM lokal Papua.

Redaktur ? ? ? : Hamzah Sahal

Ribath Nurul Hidayah

Kontributor ? : Abdel Malik

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu Ribath Nurul Hidayah

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Lembaga Kajian dan Penerbitan (LKaP) PMII Rayon Abdurrahman Wahid Komisariat Walisongo Semarang menggenjot nalar kritis anggota melalui Sekolah Kader angkatan ke-4) di Pondok Pesantren Sabilul Huda Desa Wisata Kandri, Gunung Pati Kota Semarang (21-27/2).

Kegiatan bertema “Konstruksi Nalar Kritis Kader Guna Mentradisikan Laku Ilmiah” ini dibatasi 25 peserta, supaya lebih kondusif dan efektif. Peserta diberikan materi seputar filsafat dan ilmu sosial.

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader

Materi tersebut di antaranya, pengantar filsafat, filsafat modern, filsafat islam, filsafat pendidikan hingga filsafat sosial. Berbagai materi filsafat dan ilmu sosial tersebut disampaikan diantaranya oleh Dr. Tedi Kholiludin dari Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, kemudian Dr. Ilyas Supena Dosen Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kegiatan ini peserta Sekolah Kader juga diajak berdiskusi terkait materi yang telah diberikan lewat Focus Group Discussion (FGD). Ini memberikan kesempatan para peserta untuk dapat bertukar pikiran dan saling berdialektika terkait pemahaman mereka terhadap materi yang mereka dapatkan.

Dengan mengusung visi intelektual, Endah Kartika Ratnasari selaku direktur LkaP mengatakan, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi nalar kritis kader ke depannya, sesuai dengan tema yang kita usung.

Ribath Nurul Hidayah

Senada dengan Endah, Abdul Ghofar, ketua panitia, mengatakan, tujuan Sekolah Kader adalah upaya utuk menciptakan nalar berpikir ilmiah bagi kader-kader PMII. “Kami berharap tradisi berpikir kritis dapat diimplementasikan dalam laku sehari-hari alumni Sekolah ini”, imbuhnya

Agenda ini didukung penuh berbagai pihak terkait. Diantaranya dosen IAIN Walisongo yaitu DR. Mahfud Junaedi yang juga menjadi pemateri di Sekolah Kader menuturkan bahwa kegiatan seperti ini harus rutin dilaksanakan. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para kader PMII untuk dapat berpikir kritis dan ilmiah. “Jangan sampai kuliah mengganggu kegiatan seperti ini. Kegiatan kuliah lancar, agenda seperti ini juga lancar,” tambahnya.

Dalam sekolah ini peserta tidak hanya diajak membaca, diskusi dan menulis. Para peserta juga diberikan tugas untuk  turun basis ke masyarakat sekitar untuk melakukan mapping persoalan sosial yang ada di wilyah Desa Kandri, turun basis ini bagian dari implementasi salah satu materi pada Sekolah Kader yaitu aplikasi filsafat sosial.

Agenda Sekolah yang dilaksanakan LKaP PMII Abdurrahman Wahid ini menurut salah satu peserta yakni, Baihaqi sangat bermanfaat. Dia sangat tertarik belajar filsafat. “Saya juga salut dengan panitia pelaksana yang begitu peduli dan tanggap akan kebutuhan peserta”, tambahnya.

Syafii, sebagai Ketua PMII Rayon Abdurrahman Wahid berharap kader-kader PMII ke depannya dapat menjadi lebih cerdas, kritis, berwawasan dan mampu memberi solusi atas permasalahan masyarakat.

Agenda yang sarat akan nilai intelektual ini tidak selesai begutu saja. Akan tetapi  ada rencana tindak lanjut untuk terus mengawal alumni Sekolah Kader ini. Adapun kegiatan sebagai follow up Sekolah Kader ini diantaranya Sekolah Nalar Kader, Diskusi Filsafat dan Pelatihan menulis.(Ria, Esty/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Muslim Kamboja fokus memberdayakan umatnya melalui bidang pendidikan. Selain belajar di universitas dalam negeri, mereka mengirim anak mudanya untuk menimba ilmu di luar negeri seperti Malaysia dan Indonesia. 

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

Demikian disampakain Nos Sles, atau dalam bahasa Indonesia bisa dipanggil Nuh Saleh. Ia adalah Director of Deparatment of Education and Human Resources Departemen di lembaga umat Islam Kamboja yaitu Cambodian Muslim Development Foundation.

Ribath Nurul Hidayah

Nos Sles mengatakan, Muslim Kamboja sudah memiliki lima lembaga pendidikan. Satu didirikan Muslim kamboja sendiri, sisanya bantuan dari luar negeri.  

Ribath Nurul Hidayah

“Selama ini, yang banyak memberikan bantuan dalam pendidikan adalah Malaysia dan negara-negara Timur Tengah,” ucap Nos Sles, diungkapkan seorang penerjemah, di kantor redaksi Ribath Nurul Hidayah, gedung PBNU, Jakarta, Jumat, (5/10). 

Menurut Nos Sles, Indonesia adalah negara Muslim terbesar dan bertetangga dengan Kamboja, “Sangat mungkin bekerjasama dalam pendidikan.” 

Karena itulah, mewakili Muslim Kamboja, ia berkunjung ke beberapa lembaga pendidikan di Indonesia. Di antaranya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulllah Jakarta. 

Ia berharap, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia bisa memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Muslim Kamboja. 

Nos Sles mengaku baru pertama kali mewakili lembaganya berkeliling ke Indonesia, “Persoalannya adalah biaya perjalanan. Muslim Kamboja masih hidup di bawah garis kemiskinan. Rata-rata adalah petani, dan sebagian menjual kue kecil-kecilan,” jelasnya. 

Lebih jauh, Nos Sles menceritakan umat Muslim di Kamboja. “Kami minoritas, sekitar 4 persen dari 14 juta penduduk Kamboja. Tersebar di masing-masing provinsi, dan muslim terbesar di daerah Campa.”

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Tokoh, Kiai Ribath Nurul Hidayah