Kamis, 23 Oktober 2014

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia

Beijing, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memenuhi undangan dari Komunitas Muslim Tiongkok. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama rombongan disambut hangat Kepala Direktori Urusan Agama Pemerintah Tiongkok Wung Zuoan di kantornya di Beijing, Rabu (20/4)

Wung Zuoan mengaku sangat tertarik dengan Islam di Indonesia khususnya NU. "Kami salut dengan perkembangan Islam di Indonesia yang dikenal sebagai Islam yang ramah, toleran dan moderat. Tentunya NU sebagai ormas Islam terbesar mempunyai peranan yang sangat penting. Kami sangat tertarik untuk belajar dari Islam di Indonesia dan juga kepada NU," pungkasnya.

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia

"Hubungan Islam Tiongkok dan Indonesia yang telah lama bersentuhan diawali ketika datangnya Laksamana Cheng Ho ke Nusantara dengan membawa pasukan Muslim, yang kemudian membangun kota Semarang," kata Kang Said, sapaan akrab ketum PBNU.

Ribath Nurul Hidayah

PBNU mendorong agama Islam dapat berkembang pesat di Tiongkok. Menurutnya, ada persamaan pandangan antara Indonesia dan Tiongkok bahwa Islam agama yang damai, model Islam seperti ini yang harus dijaga dan dilestarikan.

Ribath Nurul Hidayah

Kang Said juga menyinggung soal munculnya ekstremisme. Fenomena tersebut, katanya, menyebar ke mana-mana dan mesti diwaspadai seberapa pun kecilnya. “Dan salah satu cara agar Islam tetap moderat dan tidak ekstrim adalah dengan jalan pendidikan," jelas Kang Said

KH Said Aqil Siroj juga berharap konflik berdarah yang terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman tidak sampai merembet ke Indonesia dan Tiongkok. Ia berdoa agar kerusuhan itu segera berakhir. “Mungkin kita merasa perlu adanya tukar menukar pandangan seperti ini, untuk menyamakan persepsi, demi terwujudnya Islam yang damai, moderat, toleran, antiradikalisme dan terorisme," tuturnya

Dalam kesempatan ini PBNU mengundang ulama Tiongkok untuk hadir dalam acara International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diinisiasi PBNU. Forum internasional ini akan diadakan 5-9 Mei 2016 di Jakarta Convention Center (JCC). Rencananya, acara tersebut akan dihadiri oleh sekitar 100 pemimpin negara dan organisasi Islam dari seluruh dunia serta para pengurus NU dari tingkat wilayah. (Junaidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 02 September 2014

Masjid Membina ke-Kita-an

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi berpendapat, masjid adalah tempat pembelajaran dan pembinaan umat. Juga tempat melebur ke-ana-an (ke-aku-an) dalam ke-nahnu-an (ke-kita-an).

“Dengan nahnu, kita akan kuat!” katanya saat membuka Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) para Imam, khotib, ta’mir masjid Pengurus Cabang LTMNU Kabupaten Banyuwangi, bertempat di aula Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy, Ahad, (24/2).  

Masjid Membina ke-Kita-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Membina ke-Kita-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Membina ke-Kita-an

Ia kemudian mengutip salah satu bait Al-fiyah ibn Malik, Lirofi wa nasbi wajarina shalah, Ka’rif bina fainnana nilnal minah. Nahnu itu ketika disuruh rafa’, nasab, dan jar, tetap kuat.  

Ribath Nurul Hidayah

“NU rapuh, karana kenahnuannya masih labil dan membentuk kenahnuan sendiri,” tambahnya.  

Kiai kelahiran Purwokerto 1954 juga mengatakan, di masjid pula, umat belajar mengikuti aturan main dalam jamaah (organisasi).

Siapapun imam, makmum harus mengikuti, ruku, sujudnya imam. Bahkan jika imam itu jabatannya lebih rendah dari makmum. “Tidak ada kekuatan, tanpa berjamaah,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Rapimda bertema “Wujudkan masjid sebagai  pusat pemberdayaan umat” tersebut, difasilitasi PP LTMNU dan PT Sinde Budi Sentosa.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 September 2014

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid

Masjid bagi umat Islam tidak hanya sebatas tempat beribadah, tetapi juga berfungsi untuk tempat belajar agama, sosialisasi, musyawarah, dan kegiatan sosial lainnya. Pada masa Rasul pun masjid digunakan untuk berbagai kepentingan selama tidak melanggar aturan syariat. Banyak hadits mengisahkan bahwa masjid dijadikan tempat tinggal, belajar, dan diskusi oleh sebagian sahabat.

Kendati masjid multifungsi, namun perlu diingat bahwa fungsi utama masjid adalah sebagai tempat beribadah. Adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang berada di masjid menghormati fungsi utama masjid ini dengan cara menjaga adab dan tidak melakukan hal-hal lain yang dapat menganggu kenyaman orang beribadah.

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid

Pada sebagian masjid misalnya, seringkali setelah shalat berjamaah ataupun sebelum shalat, sebagian orang mengobrol dan berdiskusi di dalam masjid. Obrolan mereka pun tidak hanya berkaitan dengan urusan agama atau ibadah, tetapi juga membahas persoalan dunia dan terkadang mereka pun bergurau dan tertawa.?

Imam An-Nawawi dalam Al-Majemuk Syarahul Muhadzdzab mengatakan:

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dibolehkan membicarakan sesuatu yang diperbolehkan (mubah) di dalam masjid, baik urusan dunia maupun maupun urusan mubah lainnya, meskipun pembicaraan tersebut mengundang ketawa, selama masih terkait dengan perkara mubah. Pendapat ini didasarkan pada hadits riwayat Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah SAW tidak beranjak dari tempat shalatnya pada waktu shubuh sampai terbit matahari. Beliau baru beranjak dari tempat shalat setelah matahari terbit. Jabir berkata, ‘Ketika itu mereka membicarakan banyak hal termasuk persoalan yang terjadi pada masa Jahiliyyah sehingga membuat mereka tertawa dan tersenyum’.”

Merujuk pada hadits riwayat Jabir ini, Imam An-Nawawi membolehkan mengobrol dan berdiskusi di dalam masjid, walaupun membahas persoalan dunia atau permasalahan yang tidak berhubungan langsung dengan ibadah. Tidak hanya itu, tertawa dan tersenyum secukupnya pun dibolehkan ketika berada di dalam masjid. Meskipun dibolehkan, tentu selayaknya seorang Muslim tetap menjaga etika dan adab di dalam masjid.

Di antara adab yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai membicarakan perkara maksiat dan dosa, ataupun sesuatu yang mengundang kemudharatan, dan tidak tertawa keras-keras ketika bergurau agar tidak menganggu kenyaman orang lain beribadah. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 Agustus 2014

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3)

Madinah, Ribath Nurul Hidayah. Sejurus kemudian semuanya hening, tanpa suara. Seorang demi seorang, kerumunan mulai mengundurkan diri. Orang-orang mulai kembali ke jalanan beton ketika, mungkin beberapa anggaota keluarga jenazah yang baru saja dikubur, mulai menghitung-hitung dan menandai lokasi makam baru tersebut. Beberapa di antara mereka menunjuk-nunjuk dan menghitung jendela hotel terdekat tertentu yang posisinya lurus dengan makam tersebut. Sebagian yang lainnya menghitung celah dan urutan makam dari jalan beton.   

Setelah puas mengitung, beberapa orang naik ke jalan berbeton dan kembali terjadi kerumunan berjubel di dalam gelap. Ya kondisi gelap, meski sebenarnya mata sudah mulai terbiassa dengan kegelapan. Lampu dua mobil yang berada di jalan rupanya telah dimatikan. Tinggal sebuah lampu yang diletakkan pada tiang di dekat liang pemakaman. Lampu ini tetap menyala, mungkin untuk menolong para pelayat agar tidak terperosok ke lubang-lubang lain di sekitar lubang yang baru saja ditimbuni tadi.

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3)

Ya, pihak pengelola makam memang telah menyiapkan banyak lubang di beberapa blok, sebelum ada orang meninggal. Sangat mungkin penyiapan banyak lobang ini dikarenakan hampir setiap waktu sholat, terutama di Musim haji, selalu ada jenazah yang di kubur di pemakaman baqi ini. Seperti juga para pekerja cleaning service di Masjid Nabawi yang bukan dari warga negara Arab Saudi, maka demikian pun untuk pekerjaan penggali makam ini, nampak di bawah sorot lampu, kebanyakan mereka berwajah dan kulit muka seperti orang-orang Bangladesh. Merekalah yang sangat mungkin mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penggalian makam ini.

Ribath Nurul Hidayah

Tentu ini berbeda dengan budaya orang Jawa yang akan mengatakannya sebagai "Ngalup" (seolah mendoakan kematian pada seseorang), jika kita siapkan lobang pemakamannya sebelum yang bersangkutan meninggal dunia. Sekedar catatan, orang Cina juga memiliki budaya menyiapkan lobang lahat bagi keluarga yang masih hidup. Rupanya, karena menghindari lubang-lubang yang ditutup dengan kayu triplek inilah, para peziarah berjalan zig-zag ketika turun tari jalan beton tadi.

Saya pun akhirnya penasaran, ada apa di tengah kerumunan berjubel dalam gelap tersebut. Setelah berusaha mendekat, maka semuanya menjadi jelas. Ternyata para pelayat sedang antri berpeluk-pelukan bergantian dengan keluarga yang kini berbaris di jalanan beton. Para pelayat yang sudah berpelukan dan saling mengucapkan pesan kesabaran segera meninggalkan lokasi, dan kembali berjalan pulang.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah memperhatikan agak lama, rupanya banyak pula orang yang sekedar bersalaman. Mungkin mereka tidak saling kenal, bahkan mungkin juga orang yang tidak kenal siapa jenazah yang baru saja dikuburkan dan siapa keluarganya, mungkin kira-kira seperti saya. Maka saya pun segera mengambil sikap yang sama. masuk ke dalam antrian dan bersalaman dengan keluarga. Ya sekedar bersalaman, saya juga tidak pernah mengenal siapa yang baru saja turut saya iringkan untuk dikebumikan dan siapa pula keluarganya.

Dalam perjalanan pulang seusai bersalaman, saya mencoba mengamati sekeliling. Bagaimana sebenarnya kondisi Makam yang sangat terkenal ini. Makam yang memeluk nyaman mereka yang telah sejak pertama dimakamkan. Menurut ceritanya, orang yang pertama dimakamkan di sini adalah ‘Utsman bin Mazh‘un, seorang sahabat dari kalangan Muhajirun yang terkenal saleh dan hidup sederhana, yang meninggal dunia pada 5 H/626 M. Sedangkan Ibrahim, putra pasangan suami-istri Rasul Saw. dan Mariyah Al-Qibthiyyah yang berasal dari Mesir, adalah orang kedua yang dimakamkan di sini.

Di makam ini pula terdapat makam para istri Rasul Saw: Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq, Saudah binti Zam‘ah, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah binti Abu Umayyah, Juwairiyah binti Al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dan Shafiyyah binti Huyai. Sedangkan keluarga beliau yang dikebumikan di sini, selain putra-putri beliau, antara lain Abbas bin Abdul Muththalib, Hasan bin Ali, dan Ali Zainal Abidin.

Sementara di antara para sahabat yang dimakamkan di sini ialah Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas‘ud, Abdurrahman bin Auf, dan Saad bin Abu Waqqash. Di antara Imam empat mazhab, hanya Malik bin Anas yang dimakamkan di sini.

Namun jangan pernah Anda membayangkan dapat melihat nisan-nisan mereka semua, bahkan salah satu di antara nissan mereka. Kini sejauh mata memandang di seluruh tanah makam seluas 174.962 meter persegi dengan dikitari dinding setinggi empat meter sepanjang 1.724 meter ini, hanya ada gundukan dengan sepasang nisan dari batu, tanpa nama.

Sekarang ini siapa pun yang meninggal di Madinah dimakamkan di sini termasuk jamaah umrah dan haji dari berbagai negara. Tetap dengan ketentuan yang sama, hanya ada nisan dari batu, sekali lagi tanpa nama. (min/bersambung/Laporan Langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi)  Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Agustus 2014

Mengenal Ketua Pertama Muslimat NU, Nyai Chadijah Dahlan

Tak banyak yang tahu siapa perempuan yang menjadi Ketua Muslimat NU pertama. Dialah, Chadijah Dahlan, perempuan kelahiran? tahun 1912 di Pasuruan itu berkesempatan menjadi pemimpin Muslimat NU perdana. Kepemimpinannya dimulai saat Muslimat NU lahir di Kota Purwokerto, Jawa Tengah tepatnya tahun 1946. Kala itu, Muslimat NU memproklamirkan kelahirannya dan menjadi titik awal kebangkitan perempuan NU dalam berorganisasi.

Nyai Chodijah memimpin ketika Muslimat NU masih bernama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM). Artinya, saat itu Muslimat tak lain lembaga organik yang menjadi bagian dari NU. Muslimat NU baru menjadi badan otonom setelah mendapat pengakuan dari forum Muktamar ke-19 NU di Palembang tahun 1952. Sayangnya, pemberian otonomi itu tak sempat disaksikan Nyai Chadijah yang wafat pada 1948 atau dua tahun masa kepemimpinan di Muslimat NU.

Mengenal Ketua Pertama Muslimat NU, Nyai Chadijah Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Ketua Pertama Muslimat NU, Nyai Chadijah Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Ketua Pertama Muslimat NU, Nyai Chadijah Dahlan

Nya Chodijah tumbuh di Pasuruan yang dikenal dengan daerah santri. Pemikirannya tergolong merdeka dan sangat maju untuk ukuran zamannya. Terutama menyangkut permasalahan peran serta perempuan dalam organisasi yang kala itu dinilai termarginalkan.

Ribath Nurul Hidayah

Pokok pemikiran tentang ketidakadilan terhadap perempuan tercantum jelas dalam tulisan pendahuluan (mukaddimah) yang ditulisnya sebagai Ketua Muslimat NU pertama yang juga masuk dalam peraturan Chususi NU bagian Muslimat NU. Dengan tegas, Nyai Chadijah menyuarakan peran perempuan yang dianggap subordinat dan inferior. Karena itu dia memotivasi perempuan-perempuan turut serta tumbuh maju bersama kaum laki-laki.

Ribath Nurul Hidayah

“Memang rupanya soal perempuan kurang sekali dipedulikan, bukan saja anggapan umum demikian, tetapi pemimpin-pemimpin juga masih kurang memperhatikan kaum wanita itu. Sikap demikian itu salah belaka dan harus dilenyapkan...”



Dia juga dengan tegas menyatakan:“Anggapan-anggapan orang yang mengatakan bahwa kaum wanita itu harus tinggal di dapur saja ternyata keliru dan berbahaya sekali bagi kemajuan pergaulan hidup manusia.”

Pemikiran-pemikiran itu sebagai bentuk jiwa organisatoris yang dimiliki Nyai Chadijah. Dia belajar semangat berorganisasi dari didikan suaminya Muhamad Dahlan yang saat itu juga sebagai Ketua Thanfidizah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU). Suaminya pulalah yang turut serta menyuarakan pentingnya organisasi perempuan NU sebagai wadah tanggung jawab perempuan NU untuk berdakwah turut mengembangkan Islam. Dalam sejarahnya, KH Muhamad Dahlan tercatat sebagai sosok pria utama di balik kelahiran Muslimat NU.

Sejak terbentuknya Muslimat NU, sebagaimana PBNU yang berpusat di Surabaya, Muslimat NU juga dipusatkan di Kota Pahlawan. Baru ketika terjadi revolusi tanggal 10 November, karena pertimbangan banyak hal saat itu, Kantor Pusat PBNU dan juga Muslimat dipindahkan ke Pasuruan yang tak lain adalah? tempat domisili Nyai Chadijah. Pasca revolusi 10/November terjadi Clash I yang membuat KH Muhamad Dahlan dan keluarga pindah ke Madiun. Bersamaan itu pula, Kantor PBNU dan Muslimat NU dipindah ke kota itu. Namun, tak selang beberapa waktu terjadi pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Muso dan memakan korban para ulama dan kaum muslimin. Tepat sebulan pasca terjadi pemberontakan, Nyai Chadijah Dahlan pulang ke hadirat Allah.

Berdasarkan riwayat hidupnya, Nyai Chadijah Dahlan merupakan tokoh Muslimat pertama yang memberikan pidato resmi sejak Muslimat menjadi organisasi dalam forum kongres pertama di Purwokerto. Bahkan, pidatonya dijadikan salah satu masukan dalam penyusunan peraturan Chususi NU bagian Muslimat. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News Ribath Nurul Hidayah

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus PC IPNU Kota Surabaya menyatakan keberatan atas hasil Raperda Pansus Pengendalian dan Pengawasan Penjualan Minuman Beralokohol DPRD Kota Surabaya yang mengizinkan penjualan minuman beralkohol di pasar swalayan yang ada di Surabaya. Mereka meminta DPRD agar meninjau kembali Perda yang memperbolehkan penjualan minuman keras itu di Kota Surabaya.

“Semestinya Pemkot Surabaya dan DPRD melarang peredaran minuman keras itu di minimarket, supermarket dan hypermarket. Karena tempat-tempat itu juga dikunjungi oleh anak-anak. Jangan sampai mereka juga berasumsi bahwa minuman itu boleh untuk dikonsumsi karena dijual secara bebas dan umum,” kata Ketua IPNU Kota Surabaya Agus Setiawan.

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket

Pasalnya anggota dewan tidak mungkin memberikan jaminan atas kemungkinan akses minuman keras itu oleh anak-anak di bawah umur. Berapa pun kadar kandungan alkhoholnya, ujar Agus.

Sementara Wakil Ketua IPNU Kota Surabaya M Najih mengatakan bahwa semestinya keadaan Surabaya sekarang yang melarang penjualan minuman keras di minimarket dan sejenisnya dipertahankan.

Ribath Nurul Hidayah

DPRD dan Pemkot Surabaya lebih baik fokus terhadap hal lain yang lebih penting dan memiliki manfaat bagi masyarakat seperti masalah Pengambilalihan kewenangan SMA dan SMK dari tingkat kabupaten/kota ke tingkat provinsi yang mengakibatkan biaya pendidikan di SMA/SMK di Surabaya mulai tahun depan tak lagi gratis.

Ia juga menjelaskan, semestinya DPRD dan Pemkot melindungi masyarakatnya dari hal-hal yang akan membahayakan kesehatan dan jiwa mereka. Jadi dengan regulasi perizinan penjualan miras ini berarti mereka membiarkan dan tidak melindungi masyarakatnya dari hal-hal yang akan membahayakan mereka khususnya para pelajar.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah merelaksasi Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 04/PDN/PER/4/2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A yang memberi keleluasaan bagi kepala daerah untuk menentukan lokasi penjualanan miras termasuk di minimarket. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 19 Agustus 2014

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar

Waykanan, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda Ansor, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan sejumlah ustadz di kabupaten Waykanan bersiap memasuki sekolah guna mengaji bersama pelajar setempat. Mereka telah melakukan pertemuan dengan sejumlah sekolah di Waykanan.

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar

"Kami menjajaki kemungkinan tersebut, berbincang dengan sejumlah guru, kepala sekolah juga ustadz dan mendapat respon positif bahwa mengaji di sekolah ialah suatu yang mungkin," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Ahad (13/9).

Mengaji, demikian penggiat Gusdurian Lampung itu menambahkan, bukan persoalan tempatnya, apalagi konsumsinya, namun bagaimana ketersampaiannya.

Ribath Nurul Hidayah

"Pengajian di sekolah-sekolah akan kami sambangi melibatkan pelajar untuk ikut tampil, membaca kitab suci Al-Quran, puisi hingga menyanyi sesuai tema diangkat. Hal itu bertujuan agar pelajar mendapat ruang berkreativitas," ujar pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu menjelaskan.

Ribath Nurul Hidayah

Pengajian akan digelar di sejumlah sekolah tersebut maksimal berdurasi 90 menit dan di luar atau selepas jam pelajaran. Tema diangkat sesuai dengan keyakinan NU, seperti NKRI harga mati, Pancasila Jaya hingga kewirausahaan. Nama program ini, kata Gatot yang merupakan alumni Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) III Yayasan Satunama Yogyakarta itu menambahkan, ialah Maslahat (Mengaji Bersama Pelajar Indonesia Hebat).

"Kami akan menyambangi SMA sederajat terlebih dahulu, sudah ada dua sekolah yang siap untuk bekerja sama pada September ini. Tema-tema kebangsaan, kemanusiaan dan kewirausahaan akan kami usung sembari mengampanyekan peningkatan pendidikan, menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri melalui Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau BPUN Yayasan Mata Air," papar Gatot lagi.

Perihal pemilihan nama Maslahat untuk program itu, Gatot menyatakan NU memang harus bergerak memberi manfaat bagi hidup dan kehidupan.

"Kita harus memotivasi diri, jika kita, bangsa Indonesia, memiliki pelajar-pelajar hebat, mempunyai generasi bangsa yang tangguh. Inilah tugas kemanusiaan, tugas kebangsaan NU," ujar alumni Pendidikan Kader Penggerak NU itu pula.

Adapun modal untuk merealisasikan program itu, Gatot mengatakan ada puluhan miliar. "Saya mengamini pemikiran Bob Sadino. Satu dengkul tidak mungkin dilepas dengan harga Rp500 juta, karena itu, dengan dua dengkul setiap aktivis atau warga NU telah memiliki modal Rp1 miliar. Warga NU harus menggerakkan dengkulnya mewujudkan harapan kemanusiaan dan kebangsaan para pendiri NU dan Indonesia, cita-cita itu hanya akan tercapai dengan bergerak, bukan berwacana," demikian Gatot Arifianto. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Kyai, Internasional Ribath Nurul Hidayah