Sabtu, 13 Desember 2008

Kisah Peggy Melati Sukma Hijrah ke Dunia Dakwah

Perth, Ribath Nurul Hidayah. Peggy Melati Sukma cukup populer di dunia sinetron sejak tahun 90-an. Ia dikenal juga sebagai foto model, presenter televis hingga event organizer acara-acara besar di Indonesia. Artis kelahiran Cirebon terkenal dengan celotehannya“pusiiiinnng deh”.

Peggy memiliki segudang keberhasilan dan prestasi yang sangat gemilang di dunia hiburan dan bisnis. Sejumlah perusahaan pun dipegangnya. Tak banyak tahu artis ibu kota tersebut kini sudah menjalani dunia baru yang jauh dari dunia yang digeluti sebelumnya.

Kisah Peggy Melati Sukma Hijrah ke Dunia Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Peggy Melati Sukma Hijrah ke Dunia Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Peggy Melati Sukma Hijrah ke Dunia Dakwah

Ia memaparkan kisah perjalanan menju dunia baru tersebut saat bersilaturrahmi dengan para muslimah di Perth, Western Australia pada Senin, 17 November 2014 lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Peggy Melati Sukma memang saat ini lebih dikenal dengan dunia dakwah Islam. Penampilannya jauh berbeda dengan penampilannya saat masih aktif di dunia entertainment membuat para muslimah di Perth memiliki antusias yang tinggi untuk hadir dalam acara Talk Show yang diselenggarakan Nahdathul Ulama, Western Australia.

Ribath Nurul Hidayah

Peggy yang hari itu hadir dengan balutan pakaian muslimah syar’i warna abu-abu terlihat cantik dan segar, walaupun malamnya baru tiba di Perth dan langsung mengisi sebuah pengajian yang diadakan komunitas Muslim Indonesia yang ada di Perth.

Dalam Talk Show tersebut, Peggy memulai kisahnya dengan menceritakan kehidupannya selama berkecimpung di dunia entertainment selama 21 tahun. Kehidupan yang dia isi dengan kerja keras membuahkan keberhasilan. Selain sebagai artis dan model papan atas, Peggy juga memimpin beberapa perusahaan yang sangat sukses. Beberapa kali juga terpilih untuk menjadi duta negara untuk event-event internasional.

Kegiatan sosial juga tak luput dari aktivitasnya, banyak yayasan sosial yang ia santuni sepanjang perjalanan karirnya.  Sebagai pelaku bisnis, segala bentuk bisnis ia lakukan mulai dari bisnis yang halal hingga yang haram.

Dia mengisahkan bagaimana kegigihannya mulai mengambil sekolah khusus di Manchester untuk memproduksi alkohol, sampai dia bisa membuka bisnis bar di sebuah kawasan di Jakarta yang seharusnya tidak bisa dilakukan. Tapi seorang Peggy bisa melakukan karena dalam mencapai keinginannya semua selalu dia lakukan walaupun harus melanggar aturan agama.

Semua pencapaian itu ternyata selalu menyisakan suatu ruang dalam hatinya, sebuah kegelisahan yang tak berujung. Kegelisahan yang semakin hari semakin tinggi ditambah permasalahan hidup yang seperti tidak ada penyelesaiannya akhirnya menggiringnya pada sebuah titik balik untuk berhijrah, bersyahadah kembali, mengenal kembali Rabb-nya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslimah.

Peggy menjelaskan semuanya dimulai dengan menjalankan perintah Allah SWT dalam ayat yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW, yaitu Iqro, bacalah. Iqro bismi robbika lladzii kholaq, bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Kehidupan Peggy semasa kecil penuh dengan perjuangan kedua orang tuanya, ayahnya yang bekerja sebagai pegawai dengan penghasilan pas-pasan memaksa ibunya untuk menerapkan gaya hidup yang sangat sederhana, tetapi sang ibu dan ayah selalu menanamkan pendidikan agama yang sangat kuat kepada anak-anak mereka.

Setelah berusia 12 tahun Peggy memulai karirnya sebagai foto model. Berkat kedisiplinan dirinya, karirnya cepat melonjak, kerja dengan profesionalisme yang tinggi selalu menjadi mottonya, sehingga kesuksesan pun dengan mudah dicapai. Kesuksesan ini mencapai puncaknya ketika ia akhirnya menikah dengan rekan kerjanya di salah satu perusahaan tempat dia bekerja.

Merasa sempurna dalam hidup, dan merasa kesempurnaan itu karena hasil kerja kerasnya membuat Peggy merasa sombong. Setelah tiga tahun menjalani kehidupan berumah tangga persoalan mulai timbul, Peggy mengatasi persoalan ini dengan tambah bekerja keras. Terkadang sampai 24 jam dia bekerja sampai-sampai butuh tiga sip asisten yang harus selalu siap apabila ia butuhkan.

Tapi Allah SWT tidak tidur. Allah SWT menyapa Peggy lewat pemasalahan hidup yang amat sangat rumit, mulai dari permasalahan rumah tangga, permasalahan dalam perusahaan yang dia pimpin sampai jatuhnya bisnis-bisnis yang dia jalani dan mengalami kerugian yang sangat besar.

Seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula, sapaan Allah SWT yang sangat menyentaknya adalah kesehatan yang selama ini Allah SWT anugerahkan dan diagunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai aturan Islam, Allah SWT ambil. Allah SWT beri Peggy penyakit yang pengobatannya memakan waktu yang lama. Dari persoalan-persoalan yang dia hadapi satu per satu orang orang yang awalnya dekat dan terlihat mendukungnya menjauh bahkan ada beberapa yang mengkhianatinya.

Dalam kesendirian itu, seorang Peggy masih merasa sombong, bertekad bangkit dari semua kejadian, sampai suatu hari dengan niat bangkit dia datang ke kantor, mengatur segala strategi untuk “menyelesaikan persoalan hidupnya” termasuk masalah rumah tangganya.

Selama beberapa hari dia tidak meninggalkan kantornya untuk membuat sebuah peta strategi penyelesaian masalah. Semua rencana yang ada dalam peta strategi itu dialakukan, tapi lagi-lagi Allah SWT berkehandak lain. Tidak ada satu pun strategi yang dia lakukan berhasil bahkan makin membuatnya terpuruk.

Sampai suatu hari ketika dia benar-benar merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, akhirnya perlahan-lahan dia membuka Kitabullah, dan mulai membacanya. Ayat pertama yang terbaca saat itu adalah Qur’an Surat Ibrahim (14) ayat 1.

“Alif Laam Raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan ijin Tuhan (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa, Maha terpuji.”

Dari sinilah akhirnya terbuka pintu hidayah Allah SWT, tersadar bahwa selama ini jalan yang dia lalui adalah jalan kegelapan. Namun, memulai hijrah bukan suatu jalan yang mudah, jalan ini tentunya penuh rintangan. Tapi Peggy selalu berpikir, lebih cepat lebih baik, lebih Islami lebih baik. Mulailah dia mempelajari agama yang selama ini sudah menjadi predikatnya sejak lahir tetapi sudah lama tidak dia jalankan dalam kehidupannya.

Peggy memulai poses hijrahnya dengan menjalan kanapa yang Allah SWTsukai, salah satunya yang sangat penting adalah berbakti pada orang tua, kedua orang tua yang selama ini menanamkan nilai-nilai aqidah dan akhlaq, terutama ibunya yang selama ini bersabar terus menasihatinya untuk berjalan di jalan Islam, tak pernah putus, walau penuh dengan argumentasi dan pertengkaran karena pertentangan ibunya selama ini atas apa yang ia lakukan.

Peggy juga melakukan ibadah-ibadah lain yang selama ini dia tinggalkan, shalat dengan khusyuk, shaum wajib bahkan sunnah Daud ia lakukan. Hal lain yang sangat penting ia lakukan dalam menjalani proses hijrahnya adalah meninggalkan apa-apa yang dia cintai, yaitu pekerjaannya.

Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk Peggy keluar dari lingkaran bisnis yang selama ini dia bina, keluar dari salah satu team work bukanlah hal mudah, tapi juga karena pertolongan Allah SWTlah semua berjalan dengan mulus tanpa hambatan apa pun. Dan akhirnya Peggy pun memutuskan untuk menutup aurat secara total pada bulan Mei 2012 dan menggunakan pakaian muslimah yang syar’i.

Setelah proses hijrah ini berjalan, satu per satu Allah SWT selesaikan permasalahan hidupnya, sehingga dia pun tersadar bahwa Islam adalah jalan hidup, Islam adalah agama yang sangat logis, sehingga ia pun tersadar bahwa lebih Islami lebih baik, lebih cepat lebih baik.

Sekarang seorang Peggy menjadikan dirinya sebagai karyawan Allah SWT, seorang pendekar syiar. Ia mendedikasikan dirinya untuk berdakwah, dengan bantuan adik-adiknya sebagai tim dakwahnya yang mengatur urusan administrasi. Peggy saat ini juga aktif dalam sebuah organisasi yang membantu anak-anak yatim piatu dan kaum ibu yang mengalami kesulitan dalam proses melahirkan di Gaza, Palestine.

Proses hijrah seorang Peggy Melati Sukma memberikan banyak hikmah dan inspirasi untuk muslimah di Perth. Tidak sedikit yang menitikan air mata haru mendengarkan kisahnya.

Pada hari itu, di akhir penuturannya, saat ini ia serahkan hidupnya kepada Allah SWT yang Maha Pengatur, dengan terus berikhtiar untuk menjadi hamba Allah SWT yang semakin baik. Ia juga mengatakan untuk terus mengingatkan dirinya untuk siap melepaskan apa yang dimiliki serta menyikapi apa yang telah Allah SWTcatatkan dalam Lauh Mahfuz.

“Apa yang ada di dunia akan hilang, tapi Allah SWT tidak akan hilang.”

Semoga Allah SWT menjaga Teh Peggy dan semoga Allah SWT terus memberikan hikmah dan hidayah-Nya, dan Allah SWT berikan kekuatan untuk selalu istqomah sampai nanti ajal menjemput kelak. Amiin Allahumma amiin. (Ocha/Alw)

Kisah Peggy Melati Sukma Hijrah ke Dunia Dakwah

Perth, Ribath Nurul Hidayah

Peggy Melati Sukma cukup populer di dunia sinetron sejak tahun 90-an. Ia dikenal juga sebagai foto model, presenter televis hingga event organizer acara-acara besar di Indonesia. Artis kelahiran Cirebon terkenal dengan celotehannya“pusiiiinnng deh”.

 

Peggy memiliki segudang keberhasilan dan prestasi yang sangat gemilang di dunia hiburan dan bisnis. Sejumlah perusahaan pun dipegangnya. Tak banyak tahu artis ibu kota tersebut kini sudah menjalani dunia baru yang jauh dari dunia yang digeluti sebelumnya.

 

Ia memaparkan kisah perjalanan menju dunia baru tersebut saat bersilaturrahmi dengan para muslimah di Perth, Western Australia pada Senin, 17 November 2014 lalu.

 

Peggy Melati Sukma memang saat ini lebih dikenal dengan dunia dakwah Islam. Penampilannya jauh berbeda dengan penampilannya saat masih aktif di dunia entertainment membuat para muslimah di Perth memiliki antusias yang tinggi untuk hadir dalam acara Talk Show yang diselenggarakan Nahdathul Ulama, Western Australia.

 

Peggy yang hari itu hadir dengan balutan pakaian muslimah syar’i warna abu-abu terlihat cantik dan segar, walaupun malamnya baru tiba di Perth dan langsung mengisi sebuah pengajian yang diadakan komunitas Muslim Indonesia yang ada di Perth.

 

Dalam Talk Show tersebut, Peggy memulai kisahnya dengan menceritakan kehidupannya selama berkecimpung di dunia entertainment selama 21 tahun. Kehidupan yang dia isi dengan kerja keras membuahkan keberhasilan. Selain sebagai artis dan model papan atas, Peggy juga memimpin beberapa perusahaan yang sangat sukses. Beberapa kali juga terpilih untuk menjadi duta negara untuk event-event internasional.

 

Kegiatan sosial juga tak luput dari aktivitasnya, banyak yayasan sosial yang ia santuni sepanjang perjalanan karirnya.  Sebagai pelaku bisnis, segala bentuk bisnis ia lakukan mulai dari bisnis yang halal hingga yang haram.

 

Dia mengisahkan bagaimana kegigihannya mulai mengambil sekolah khusus di Manchester untuk memproduksi alkohol, sampai dia bisa membuka bisnis bar di sebuah kawasan di Jakarta yang seharusnya tidak bisa dilakukan. Tapi seorang Peggy bisa melakukan karena dalam mencapai keinginannya semua selalu dia lakukan walaupun harus melanggar aturan agama.

 

Semua pencapaian itu ternyata selalu menyisakan suatu ruang dalam hatinya, sebuah kegelisahan yang tak berujung. Kegelisahan yang semakin hari semakin tinggi ditambah permasalahan hidup yang seperti tidak ada penyelesaiannya akhirnya menggiringnya pada sebuah titik balik untuk berhijrah, bersyahadah kembali, mengenal kembali Rabb-nya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslimah.

 

Peggy menjelaskan semuanya dimulai dengan menjalankan perintah Allah SWT dalam ayat yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW, yaitu Iqro, bacalah. Iqro bismi robbika lladzii kholaq, bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

 

Kehidupan Peggy semasa kecil penuh dengan perjuangan kedua orang tuanya, ayahnya yang bekerja sebagai pegawai dengan penghasilan pas-pasan memaksa ibunya untuk menerapkan gaya hidup yang sangat sederhana, tetapi sang ibu dan ayah selalu menanamkan pendidikan agama yang sangat kuat kepada anak-anak mereka.

 

Setelah berusia 12 tahun Peggy memulai karirnya sebagai foto model. Berkat kedisiplinan dirinya, karirnya cepat melonjak, kerja dengan profesionalisme yang tinggi selalu menjadi mottonya, sehingga kesuksesan pun dengan mudah dicapai. Kesuksesan ini mencapai puncaknya ketika ia akhirnya menikah dengan rekan kerjanya di salah satu perusahaan tempat dia bekerja.

 

Merasa sempurna dalam hidup, dan merasa kesempurnaan itu karena hasil kerja kerasnya membuat Peggy merasa sombong. Setelah tiga tahun menjalani kehidupan berumah tangga persoalan mulai timbul, Peggy mengatasi persoalan ini dengan tambah bekerja keras. Terkadang sampai 24 jam dia bekerja sampai-sampai butuh tiga sip asisten yang harus selalu siap apabila ia butuhkan.

 

Tapi Allah SWT tidak tidur. Allah SWT menyapa Peggy lewat pemasalahan hidup yang amat sangat rumit, mulai dari permasalahan rumah tangga, permasalahan dalam perusahaan yang dia pimpin sampai jatuhnya bisnis-bisnis yang dia jalani dan mengalami kerugian yang sangat besar.

 

Seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula, sapaan Allah SWT yang sangat menyentaknya adalah kesehatan yang selama ini Allah SWT anugerahkan dan diagunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai aturan Islam, Allah SWT ambil. Allah SWT beri Peggy penyakit yang pengobatannya memakan waktu yang lama. Dari persoalan-persoalan yang dia hadapi satu per satu orang orang yang awalnya dekat dan terlihat mendukungnya menjauh bahkan ada beberapa yang mengkhianatinya.

 

Dalam kesendirian itu, seorang Peggy masih merasa sombong, bertekad bangkit dari semua kejadian, sampai suatu hari dengan niat bangkit dia datang ke kantor, mengatur segala strategi untuk “menyelesaikan persoalan hidupnya” termasuk masalah rumah tangganya.

 

Selama beberapa hari dia tidak meninggalkan kantornya untuk membuat sebuah peta strategi penyelesaian masalah. Semua rencana yang ada dalam peta strategi itu dialakukan, tapi lagi-lagi Allah SWT berkehandak lain. Tidak ada satu pun strategi yang dia lakukan berhasil bahkan makin membuatnya terpuruk.

 

Sampai suatu hari ketika dia benar-benar merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, akhirnya perlahan-lahan dia membuka Kitabullah, dan mulai membacanya. Ayat pertama yang terbaca saat itu adalah Qur’an Surat Ibrahim (14) ayat 1.

 

“Alif Laam Raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan ijin Tuhan (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa, Maha terpuji.”

 

Dari sinilah akhirnya terbuka pintu hidayah Allah SWT, tersadar bahwa selama ini jalan yang dia lalui adalah jalan kegelapan. Namun, memulai hijrah bukan suatu jalan yang mudah, jalan ini tentunya penuh rintangan. Tapi Peggy selalu berpikir, lebih cepat lebih baik, lebih Islami lebih baik. Mulailah dia mempelajari agama yang selama ini sudah menjadi predikatnya sejak lahir tetapi sudah lama tidak dia jalankan dalam kehidupannya.

 

Peggy memulai poses hijrahnya dengan menjalan kanapa yang Allah SWTsukai, salah satunya yang sangat penting adalah berbakti pada orang tua, kedua orang tua yang selama ini menanamkan nilai-nilai aqidah dan akhlaq, terutama ibunya yang selama ini bersabar terus menasihatinya untuk berjalan di jalan Islam, tak pernah putus, walau penuh dengan argumentasi dan pertengkaran karena pertentangan ibunya selama ini atas apa yang ia lakukan.

 

Peggy juga melakukan ibadah-ibadah lain yang selama ini dia tinggalkan, shalat dengan khusyuk, shaum wajib bahkan sunnah Daud ia lakukan. Hal lain yang sangat penting ia lakukan dalam menjalani proses hijrahnya adalah meninggalkan apa-apa yang dia cintai, yaitu pekerjaannya.

 

Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk Peggy keluar dari lingkaran bisnis yang selama ini dia bina, keluar dari salah satu team work bukanlah hal mudah, tapi juga karena pertolongan Allah SWTlah semua berjalan dengan mulus tanpa hambatan apa pun. Dan akhirnya Peggy pun memutuskan untuk menutup aurat secara total pada bulan Mei 2012 dan menggunakan pakaian muslimah yang syar’i.

 

Setelah proses hijrah ini berjalan, satu per satu Allah SWT selesaikan permasalahan hidupnya, sehingga dia pun tersadar bahwa Islam adalah jalan hidup, Islam adalah agama yang sangat logis, sehingga ia pun tersadar bahwa lebih Islami lebih baik, lebih cepat lebih baik.

 

Sekarang seorang Peggy menjadikan dirinya sebagai karyawan Allah SWT, seorang pendekar syiar. Ia mendedikasikan dirinya untuk berdakwah, dengan bantuan adik-adiknya sebagai tim dakwahnya yang mengatur urusan administrasi. Peggy saat ini juga aktif dalam sebuah organisasi yang membantu anak-anak yatim piatu dan kaum ibu yang mengalami kesulitan dalam proses melahirkan di Gaza, Palestine.

 

Proses hijrah seorang Peggy Melati Sukma memberikan banyak hikmah dan inspirasi untuk muslimah di Perth. Tidak sedikit yang menitikan air mata haru mendengarkan kisahnya.

 

Pada hari itu, di akhir penuturannya, saat ini ia serahkan hidupnya kepada Allah SWT yang Maha Pengatur, dengan terus berikhtiar untuk menjadi hamba Allah SWT yang semakin baik. Ia juga mengatakan untuk terus mengingatkan dirinya untuk siap melepaskan apa yang dimiliki serta menyikapi apa yang telah Allah SWTcatatkan dalam Lauh Mahfuz.

 

“Apa yang ada di dunia akan hilang, tapi Allah SWT tidak akan hilang.”

 

Semoga Allah SWT menjaga Teh Peggy dan semoga Allah SWT terus memberikan hikmah dan hidayah-Nya, dan Allah SWT berikan kekuatan untuk selalu istqomah sampai nanti ajal menjemput kelak. Amiin Allahumma amiin. (Ocha/Alw)

 

 

 

 

 

 

 



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 09 Desember 2008

Keserasian Gender di Rumah, Kesetaraan Gender di Kehidupan Sosial

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi mengingatkan agar kaum perempuan di lingkungan NU bisa menempatkan diri dengan baik. Keserasian gender harus dikembangkan dalam kehidupan rumah tangga sedangkan kesetaraan gender harus dikembangkan dalam kehidupan sosial.

Hal tersebut dituturkannya dalam acara harlah ke-61 Muslimat NU, Kamis (29/3), di Istora Senayan Jakarta. “Kalau dalam kehidupan rumah tangga dikembangkan kesetaraan gender, nanti yang timbul egoisme masing-masing fihak,” tuturnya.

Keserasian Gender di Rumah, Kesetaraan Gender di Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Keserasian Gender di Rumah, Kesetaraan Gender di Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Keserasian Gender di Rumah, Kesetaraan Gender di Kehidupan Sosial

“Perempuan itu pakaiannya laki-laki dan laki-laki itu pakaiannya perempuan, mereka saling menyelimuti,” tandasnya memberikan pengandaian dihadapan 15 ribu anggota Muslimat NU yang memadati Istora.

Sementara itu dalam kehidupan sosial atau pekerjaan, perempuan berhak untuk berkembang dan meniti karir seperti laki-laki sehingga mereka dapat mencapai level tertinggi sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Dikatakan oleh pengasuh ponpes Mahasiswa Al Hikam ini Muslimat NU dalam mengembangkan ajaran dakwahnya harus mengikuti cara berfikir para ulama NU. “Harus jelas yang mengajar siapa dan runutannya kemana. Kita belajar dari Imam Syafii bukan dari Imam Samudra, dari Abu Bakar Siddiq, bukan Abu Bakar Baasyir,” tambahnya.

Kiai Hasyim merasa prihatin dengan perkembangan pemikiran Islam saat ini. Banyak pemikir Islam yang “genit” yang hanya menjadi kepanjangan tangan orang lain. “NU bukan mengadopsi pemikiran asing yang malah membentur-benturkan. NU juga tidak memusuhi Barat, tapi NU menjembatani keduanya,” tegasnya. (mkf)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 26 November 2008

Silaturahim, Pertamina Ajak PBNU Kerja Sama

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Ahmad Bambang didampingi sejumlah pejabat PT Pertamina lainnya, berkunjung ke Kantor PBNU pada Senin (11/4) malam.

Silaturahim, Pertamina Ajak PBNU Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturahim, Pertamina Ajak PBNU Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturahim, Pertamina Ajak PBNU Kerja Sama

Bambang dan rombongan yang disambut Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan maksud kunjungan silaturahim tersebut untuk menjajaki kemungkinan kerja sama yang bisa dijalin antara PT Pertamina dan PBNU.

“Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari rencana kerja sama yang pernah dicetuskan sebelumnya,” ungkap Bambang. Ia mengatakan, PT Pertamina menyadari bahwa pengembangan bisnis membutuhkan lahan.

Ribath Nurul Hidayah

“Kami tahu lokasi dan warga NU banyak, tersebar di seluruh Indonesia. Kemudian, kebutuhan akan pertambangan di Indonesia itu penting. Kerja sama perlu dilakukan untuk menutupi kebutuhan Pertamina,” lanjut Bambang.

Bambang berharap, sinergi yang baik akan terjalin di antara dua pihak. Bambang mengatakan keprihatinannya, selama ini Indonesia sering melakukan impor sejumlah barang tambang. Padahal, di Indonesia banyak tersedia barang tambang yang bisa diolah. Misalnya, Indonesia masih melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan aspal, meski sebenarnya bisa diolah dari batu bara muda yang juga tersedia di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

“Indonesia bisa menyiapkan cadangan nasional,” tegas pria kelahiran 5 Juli 1962, lulusan Sarjana Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung (1986) dan Program Magister Manajemen Industri, Universitas Indonesia (1999) ini.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Ketua LWPNU H Mardini, Bendum PBNU Bina Suhendra, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Robikin Endang, Isfah A. Aziz, Sekjen ISNU M. Kholid Syeirazi, Syaiful Bahri Muhammad, Marwan Zainudin, M Lukman Hakim (LWPNU), H Munsorun Mulya (LWPNU), dan Wasekjen PBNU Suwadi D. Pranoto.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak PBNU mengenai tawaran kerja sama tersebut. Pihak PBNU masih mempelajari berkas rancangan kerja sama yang diajukan Pertamina.

Ketum PBNU Said Aqil Siroj di antaranya menegaskan bahwa NU berisi ulama-ulama yang nasionalis. Artinya ulama selain taat dalam urusan ibadah, juga peduli pada urusan tanah air dan kepentingan bangsa. Kang Said mengatakan bahwa ulama dan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari adalah ulama, pembela dan pejuang tanah air.

“Mencintai dan membela tanah air adalah bagian dari iman,” terang Kang Said. (Kendi Setiawan/Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan Ribath Nurul Hidayah

Senin, 17 November 2008

Tertarik Jadi Pilot Antarkan Siswa Madrasah Ini Ikuti Olimpiade Sains Penerbangan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Karena terngiang akan cita-citanya menjadi penerbang atau pilot, Siswa MAN 1 Kota Bekasi Ghozy El Fatih (17) mencari informasi apapun tentang pilot. Setelah berselancar kian kemari di dunia maya, Fatih akhirnya menemukan info tentang olimpiade sains penerbangan.

Atas restu Tati Kurniati, sang ibu, anaknya yang kini duduk di kelas XI Jurusan IPA Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Bekasi ini pun langsung mendaftar. “Anak saya cita-citanya jadi pilot. Ikut lomba ini pun dia cari info sendiri di internet, bukan surat resmi ke MAN 1. Mohon doanya semoga berhasil,” ujar Tati kepada Ribath Nurul Hidayah.

Tertarik Jadi Pilot Antarkan Siswa Madrasah Ini Ikuti Olimpiade Sains Penerbangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tertarik Jadi Pilot Antarkan Siswa Madrasah Ini Ikuti Olimpiade Sains Penerbangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tertarik Jadi Pilot Antarkan Siswa Madrasah Ini Ikuti Olimpiade Sains Penerbangan

Tentang cita-cita Fatih menjadi penerbang saat masih balita, lanjut dia, sebenarnya sempat batal lantaran lajang kelahiran Bekasi, 12 Mei 1999 ini takut ketinggian. “Tapi, tahun lalu kok mulai teringat lagi cita-citanya,” ungkap Tati.

Ditanya siapa yang mengenalkan tentang pilot, dengan berkelakar Tati mengatakan, “Ibunya lah.” Adapun ia dan suami, Ahmad Yusuf, sengaja menyekolahkan Fatih di MAN agar memahami ilmu agama.

Olimpiade Sains Penerbangan akan digelar di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara (PPSDM Hubud) Komplek Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang, Selasa, 19 April 2016 lusa.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagaimana dirilis dalam portal PPSDM Hubud, Olimpiade Sains Penerbangan tingkat nasional tahun 2016 ini diselenggarakan PPSDM Hubud Kementerian Perhubungan dalam rangka meningkatkan kecintaan pada budaya iptek bidang penerbangan di lingkungan generasi muda, khususnya siswa SMA/MA/SMK dan sederajat.

Hingga penutupan pendaftaran pada Jumat (15/4) petang, terdapat 236 siswa dari berbagai kota di Jawa dan Sumatera terdaftar sebagai peserta. Dari jumlah tersebut, hanya 13 anak dari madrasah. Selain Fatih (MAN 1 Bekasi), ada enam siswa MAN 1 Bogor, empat siswa MA Daar el-Qolam, dan dua siswa MAN 13 Jakarta. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 15 November 2008

Pemuka Kristen Sesalkan Penodaan Islam di Batu

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Para pemuka agama Kristen menyatakan penyesalannya atas penodaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh sebuah kelompok yang terjadi di Batu Malang. Aksi pelecehan tersebut disebarkan dalam sebuah VCD yang kini mulai beredar di Batu dan sekitarnya.

Dalam pernyataan lembaga geraja tingkat nasional terhadap isu SARA di Malang. Para pimpinan geraja menyatakan penyesalannya sehubungan terjadinya peristiwa di Batu-Malang yang benuansa SARA, karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 dan tidak sejalan dengan semangat kerukunan antar umat beragama yang kini sedang dibangun dalam kehidupan masyarakat majemuk Indonesia.

Selanjutnya pimpinan geraja-geraja di Indonesia menyatakan bahwa kegiatan yang dilakukan di Batu-Malang tidak berada dalam koordinasi pimpinan gereja-geraja di Indonesia.

Pemuka Kristen Sesalkan Penodaan Islam di Batu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuka Kristen Sesalkan Penodaan Islam di Batu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuka Kristen Sesalkan Penodaan Islam di Batu

Pimpinan gereja-geraja di Indonesia mengharapkan agar peristiwa tersebut tidak mencederai hubungan antara umat beragama di Indonesia dalam upaya bersama untuk memberi kontribusi bagi kehidupan bangsa, dan meminta pejabat berwenang untuk memproses mereka yang terlibat, secara hukum.

Peryataan tersebut diungkapkan dalam kunjungan para pemuka geraja ke PBNU dan ditandatangani oleh Ketua Umum Persatuan Gereja-Geraja Indonesia Pdt. Dr. AA. Yewangoe, Wakil Sekum Persekutuan Gereja Lembaga Injili Indonesia Pdt. Ing Dahlan Setiawan dan Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia Pdt. Suhandoko Wirhaspati, Kamis, 5 April 2005.

Ribath Nurul Hidayah

Baik fihak geraja maupun PBNU berharap agar masalah tersebut tidak berubah menjadi masalah nasional. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi telah meminta fihak keamanan di Malang dan NU di Batu untuk menganbil tindakan antisipasi agar masalah ini tidak membesar.

“Kami takut masalah ini menjadi besar karena saat ini informasi bisa menyebar dengan cepat,” tutur Yewangoe.

Ditambahkannya bahwa tindakan sekelompok orang radikal tersebut sangat tidak dapat dibenarkan. “Untuk menunjukkan keluhuran agama, tidak boleh dengan melecehkan agama lain. Untuk menegangi tidak dengan mematikan lilin orang lain,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh KH Hasyim Muzadi. “Pemeluk agama yang sholeh tidak akan merusak agama lainnya. Karena itu, pembuat provokasi ini harus ditindak,” paparnya.

Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang tersebut menuturkan jika dua kelompok agama yang radikal bertemu, mereka bisa menimbulkan pertentangan dan anarkisme yang akan mendorong umat pada tindakan kekerasan. “Karena itu polisi harus bertindak agar kesalahan ini tidak ditimpakan pada umat,” tandasnya.

World Conference on Religion and Peace tersebut meminta agar masing-masing agama bisa menakan terjadinya radikalisme dimasing-masing agama. Ia juga meminta agar dakwah dilakukan dengan memperhatikan budaya yang Indonesiawi.

“Jangan sampai kalau umat Islam ada masalah, lapornya ke Arab Saudi, demikian juga kalau Kristen ada masalah, lapornya ke Amerika. Nanti situasinya malah semakin ruwet,” katanya.

Karena itu proses dialog antar para pemimpin agama dan saling menjaga kerukunan menjadi sangat penting dalam menjaga perdamaian dan menghindari konflik SARA di Indonesia. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 10 Juni 2008

Akidah Islam Perlu Standarisasi

Pati, Ribath Nurul Hidayah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) perlu membuat standarisasi akidah Islam, karena terlalu bebasnya arus informasi dan komunikasi yang diterima masyarakat.

Menurut Ketua MUI KH. MA Sahal Mahfudh, di Pati, Minggu, saat memberikan ceramah dalam Musda VII MUI di Kabupaten Pati, Minggu, bebasnya arus informasi itu merupakan pendorong utama bergesernya nilai-nilai syariah Islam di Indonesia, sehingga perlu standarisasi melalui jalur pendidikan.

Akidah Islam Perlu Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Akidah Islam Perlu Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Akidah Islam Perlu Standarisasi

"Kurikulum yang berbeda-beda di masing-masing daerah perlu disatukan kembali," katanya.

Ia mengatakan, upaya tersebut merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyelamatkan Akidah Islam, sehingga perlu juga diusulkan ke forum MUI pusat.

Standarisasi kurikulum pendidikan tidak mudah dilakukan, karena ada dua lembaga yang menangani tentang pendidikan, yaitu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag).

Selaiun itu, Kyai Sahal yang juga rais aam PBNU tersebut menambahkan dalam pengelolaan pendidikan keduanya tidak saling sinkron, bahkan terdapat perbedaan mencolok, sehingga terkesan masing-masing departemen berjalan sendiri-sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

"Upaya mencari penyelesaian masalah pendidikan agama antara dua departemen tersebut memang sulit menemukan solusi tepat, meski di tingkat kabinet sudah ada titik temu," katanya. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 11 April 2008

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Menanggapi adanya penilaian tentang menurunnya kitab kuning yang diajarkan di pesantren, Rais Syuriyah PBNU KH Masykuri Abdillah menilai kondisi itu harus dipilah-pilah. Yang pertama adalah dari sisi jumlah siswa dan sistem.?

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem

“Saya mendapatkan infomasi bahwa sejumlah pesantren besar ada juga yang tidak menerapkan secara ketat kemampuan anak Aliyah misalnya, untuk membaca kitab kuning. Ini alasannya karena yang diterima masuk ada yang dari SMP, ada dari Tsanawiyah Negeri yang tidak punya latar belakang kitab kuning. Ini sangat disayangkan. Alasannya kalau tidak menerima siswa dari sekolah negeri atau siswa di luar pesantren, akan kurang siswanya. Itu yang menyedihkan,” kata Masykuri kepada Ribath Nurul Hidayah, Rabu (13/4).?

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai, sebenarnya akan lebih baik apabila pesantren menerapkan dua kurikulum, yaitu kurikulum yang tetap mempertahankan karakteristik pesantren, dan kurikulum umum untuk mengakomodir siswa yang tidak berasal dari pesantren.

"Penerapan dua kurikulum itu juga sudah sejak dulu dilakukan di beberapa pesantren. Misalnya Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak yang sejak tahun 1970-an sudah membuka Tsanawiyah pesantren, di samping kurikulum umum. Bila ini diterapkan di banyak pesantren, akan menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan pengajaran dan kemampuan membaca kitab kuning," jelas pria kelahiran Kendal Jawa Tengah 58 tahun lalu ini.

Pemilahan kedua adalah dari sisi kitab yang dibaca. Masykuri menganggap sebenarnya dari dulu juga tidak banyak, terutama yang diajarkan di pesantren kepada santri. Jika ada kitab lebih banyak itu yang dibaca oleh kiainya agar mempunyai wawasan yang luas dalam mengajar santri. Masykuri percaya saat ini jumlah pembaca kitab kuning dan jumlah kitab kuning yang dipelajari masih banyak.

Ribath Nurul Hidayah

Terkait rencana Menag yang akan mengafirmasi pesantren untuk lebih aktif lagi mengajarkan kitab kuning, Masykuri berpendapat hal itu sebagai sesuatu yang memang harus dilakukan, termasuk menyediakan buku-bukunya.

Menurut pria yang juga mantan salah satu Ketua PBNU ini, yang juga penting dikenalkan adalah adanya kitab putih. Dalam kitab putih yang dalam penulisannya sudah ada titik koma, ditulis oleh para penulis pada zaman sekarang. Kitab putih sangat baik diajarkan karena di dalamnya ada argumentasi yang lebih meyakinkan, ada kutipan dari Al-Quran dan hadits, sesuatu yang kadang tidak ada dalam kitab kuning yang langsung menguraikan pendapat ulama.?

“Sehingga kitab kuning dan kitab putih, perlu dibaca semuanya,” tandas Masykuri.? (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah